Disclaimer: bolehkah aku memiliki persona series? nggak. persona itu milik ATLUS. ya ialah..-__-
summary: Souji dkk bertemu kembali dengan berandalan yang waktu itu menyerang mereka. Tapi benarkah dia masih berandalan? Sementara Souji juga bertemu kembali dengan anak yang menarik perhatiannya, siapakah dia?
Persona 4 Fanfiction © AiNeko-chan
::
FRIENDSHIP & LOVE
::
CHAPTER 6
"Yukiko and Yosuke's Decision"
Inaba, 2011
Dojima residence
"Sudah jam 10 malam… Otousan belum juga pulang.." desah seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua, matanya masih terfokus pada jam dinding yang tergantung di ruang tamu rumah kecil tersebut. "Apa Otousan lupa, kemarin kan dia janji mau pulang cepat.." lanjutnya dengan wajah kecewa.
Souji yang dari tadi berada di samping sepupunya yang bernama Nanako itu menepuk pundak gadis kecil tersebut, untuk menenangkannya.
"Dojima-san tidak mungkin lupa janjinya, Nanako. Mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum pulang. Aku yakin tidak lama lagi dia akan pulang." katanya seraya tersenyum lembut dan mengelus rambut coklat Nanako.
Nanako sempat tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Oniisan kesayangannya itu, sebelum dia mendengar suara pintu depan dibuka, dan suara seseorang yang familiar baginya,
"Aku pulang.."
"Otousan!" seru Nanako sambil berlari ke arah orang yang tak lain adalah Ryotaro Dojima, Ayahnya.
"Maaf Otousan telat, Nanako. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dan—" Nanako memotong ucapan Dojima, "Aku sudah tahu kok, Otousan punya pekerjaan yang harus diselesaikan kan? Oniisan yang memberitahuku!" serunya senang.
Dojima tersenyum mendengar kata-kata anaknya. Sepertinya Souji benar-benar bisa menjadi kakak yang baik.
Setelah meminta Souji untuk membuatkan segelas kopi untuknya, (Ya, Souji sepertinya sedikit merangkap sebagai pembantu di rumah itu, namun Ia menghiraukan fakta itu.) Dojima langsung mendaratkan tubuhnya di sofa. Ia mencoba mencari remote TV selama beberapa saat – yang ternyata ada bawah badannya .
Ia segera mengganti channel dari TV yang ada di depannya menjadi Headline News.
"Pemirsa, Akhirnya pemilihan presiden di Indonesia berakhir dengan pasangan Megawati-Prabowo sebagai pemenangnya dengan selisih nilai 1 dengan SBY-Boediono. Sungguh hasil yang tidak terduga! Bagaimanakah nasib Negara Indonesia selanjutnya?! Apakah akan sama dengan masa pemerintahannya pada tahun 2000?! Kita tunggu kelanjutannya dalam konferensi pers dengan Ibu Megawati sore ini! Jangan lewatkan atau anda akan kehilangan kesempatan untuk mendengar ceramah penuh kesalahan dari Megawa—"
Dojima mengganti channel dengan sweatdrop, kenapa jadi berita Pemilu Indonesia? Padahal ini kan 2011, dan Ia tidak ingat pernah memasang TV kabel di rumahnya. Yah, ulah siapa lagi kalau bukan author gaje. Dojima mengganti- ganti channel dan akhirnya menemukan berita tentang kota Inaba yang cukup realistis,
"Berikutnya,dari Kota Inaba, razia terhadap preman terus gencar dilakukan polisi. Pada siang hari ini, segerombolan preman dan kelompok gangster tertangkap basah sedang berkelahi atau tawuran di wilayah sepi dekat Shopping district. Berdasarkan barang bukti yang ada, perkelahian mereka dipicu karena perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda."
Oke, bagian terakhirnya ganyambung. Jangan pedulikan kegajean author.
"Hm? Otousan, apa Otousan juga ikut menangkap penjahat-penjahat itu?" tanya Nanako sambil menunjuk gambar preman-preman yang sedang ditangkap oleh polisi di TV.
"Tidak. Aku hanya memberi perintah dari markas. Yang menangkapi mereka itu anak buahku." jawab Dojima dengan senyum simpul, bangga karena anaknya sedikit tertarik dengan berita televisi seperti ini. Ia akan jadi polisi yang hebat di masa depan, pikirnya.
Sementara Souji, yang telah meletakkan secangkir kopi untuk Dojima di atas meja, ikut memperhatikan beberapa wajah preman yang ada di layar TV dengan serius. Entah kenapa, Ia merasa sangat familiar dengan wajah-wajah yang ditampilkan di televisi. Ada yang berambut sok punk, dicat merah ala alay, dibuat model berandalan, dan—
"Salah seorang yang diduga kuat sebagai pemimpin mereka kini sedang ditahan untuk diinterogasi di Kantor Polisi…"
Layar TV kembali menampakkan foto seorang laki-laki kekar berambut putih yang memiliki luka jahitan di atas sebelah alisnya. Wajah laki-laki itu tampak di-blur, namun Souji masih dapat mengenalinya, dan itu membuat lelaki berambut abu-abu itu sedikit terkejut,
Orang itu, pemimpin geng yang tempo hari menyerang dirinya dan Yukiko.
Souji berjalan menyusuri lorong 1F floor di sekolahnya, menuju Ruang Guru, sambil membawa tumpukan kertas dan buku di tangannya.
"Si King Moron itu ada-ada saja sih, hanya karena dia tidak menyukaiku, lantas tugas yang mestinya dikerjakan ketua atau pengurus kelas jadi aku yang mengerjakan? Lagipula kalau cuma kerjaan segini, kenapa ngga dia aja?"keluhnya kesal. Dalam hati, tentu saja. Ia tidak mau merusak citranya yang cool di mata teman- temannya. Sungguh munafik.
Ketika sampai di Ruang Guru, Souji bergegas masuk dan mencari-cari meja King Moron di dalam.
"Tatsumi! Harus kuperingatkan berapa kali baru kau mengerti?!" seruan seorang guru mengagetkan Souji.
Spontan, lelaki berambut abu-abu itu menengok ke arah suara tersebut berasal dan mendapati seorang guru sedang berhadapan dengan lelaki kekar berambut putih yang tampak lebih tinggi darinya.
"Berisik! Kenapa aku harus menurut padamu?!"bantah pria itu, membuat guru yang ada di hadapannya terlihat naik darah.
"Beraninya bicara begitu! Kau tahu, selama dua tahun ini aku sudah bosan terus mendengar laporan kenakalanmu! Harusnya kau sudah lama kami keluarkan dari Sekolah ini, hanya saja kami kasihan melihat kondisi keluargamu yang tanpa Ayah, harusnya kau tahu diri!" ucap Guru itu lagi tanpa perasaan.
Mendengar perkataan gurunya, pria tadi bangun dari posisi duduknya, menghadap wajah si guru dan berkata dengan nada mengancam,
"Kau bilang apa tadi, kasihan?! Keluargaku?! Heh, MEMANGNYA KAU TAHU APA SOAL KELUARGAKU,HAH?!" bentak pria itu kalap. Ia hampir saja mencengkram kerah baju guru tersebut dan meninju wajahnya, jika saja tidak dihentikan oleh guru-guru lainnya.
Souji bengong melihatnya,
"Tidak kusangka, ada anak seperti itu di sekolahku—" ,batinnya.
"Hei, rambut mangkok! Apa yang kau lakukan bengong disana?! Cepat bawa kerjaanku kesini!" suara Morooka yang cempreng membuat Souji tersadar dari lamunannya dan segera berjalan menuju wali kelasnya dengan tampang ilfil.
"Tunggu—kok rasanya aku pernah liat anak tadi entah dimana… Apa cuma perasaanku saja ya.."pikir Souji sekilas sebelum meninggalkan Ruang Guru yang sekarang tampak rusuh.
"Satonaka, Amagi. Hari ini mau pulang bareng lagi?" ajak Souji tiba- tiba, segera setelah bel pulang berbunyi.
Yukiko dan Chie tampak sedikit kaget. Pasalnya, ini pertamakalinya Souji yang inisiatif mengajak mereka pulang bersama. Yukiko menyikut Chie, memberi isyarat untuk menyanggupi ajakan itu. Dan mereka, menerimanya. Tentu saja.
Souji tersenyum melihat reaksi Chie dan Yukiko yang tampak malu-malu kucing. Ia kemudian mengambil tasnya dan berjalan di samping mereka bertiga—plus Yosuke—.
"Ah,ngomong-ngomong..kalian lihat berita kemarin,di headline news?" Yosuke memulai topik pembicaraan.
"Hm? Ah, ya. Pemilu Indonesia dimenangkan Megawati kan? Apa kau penggemarnya?" jawab Souji malas.
"Bukaaan! Peduli amat sama Pemilu Indonesia! Lagipula kenapa kau bisa nonton yang seperti itu sih, Sou? " Yosuke sweatdrop.
"Ah! Itu ya, Chris John menang dari Bruce Lee dengan skor 5-0!" gantian Chie yang menjawab penuh semangat.
"Hah? Apaan tuh? Bukaaan! Aduh,masa pada nggak tau sih?!" Yosuke makin sweatdrop.
"Oh, jangan-jangan itu ya—! Sinetron TeRDAMPaR lagi seru-serunya tuh—!" kali ini Yukiko yang menjawab penuh semangat.
"A-amagi san, kau suka sinetron kayak gitu? Err—whatever, kalian semua salah! Itu lho,maksudku— tentang preman-preman yang ditangkap di dekat Samegawa River kemarin sore!"
"Hn, Itu toh.." jawab Souji dingin. Yosuke hanya merengut kesal karena ucapannya seolah tidak dianggap oleh sahabatnya itu.
"Oh—preman-preman itu 'toh.. Ah, iya, aku nonton. Untunglah, jadi orang-orang mesum itu nggak bisa seenaknya lagi di wilayah-wilayah dekat sini!" cetus Yukiko, menyunggingkan senyum puas.
"Mesum? Me-memang apa yang mereka lakukan padamu, Amagi?" sahut yosuke—sambil membayangkan yang macam-macam—dengan wajah yang sama mesumnya,
Spontan, Yukiko menampar keras wajah Yosuke.
"AGH!! Kenapa tahu-tahu kau menamparku, Amagi?! Apa salahku?!" Yosuke memegang pipinya yang terasa panas.
"Ehh-uhh, Ma-maaf.. refleks…." Yukiko menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum sweatdrop.
"Eh—ngomong-ngomong, soal gangster.. Katanya anggota geng itu ada yang sekolahnya disini ya? kelas 1, kalau tidak salah." Sela Chie, yang dibalas dengan tampang terkejut Yukiko dan Yosuke dan seruan "APA?!"
Mendengar itu,Souji merasa seperti telah mengingat sesuatu. Benar juga. Ketua geng yang kemarin menyerangnya—berbadan kekar, berambut putih, dan suka berteriak dengan bahasa yang kasar—rasanya dia pernah bertemu dengannya lagi baru-baru ini.
Tiba-tiba,Souji tersentak. "Kalau tidak salah, siswa yang di Ruang Guru tadi juga berambut putih dan berambut kekar, dengan suara dan bahasa kasar yang familiar..",pikir Souji. Telat, dasar bego.
Tunggu, kalau begitu apa berarti, berarti laki-laki mengerikan yang dilihatnya di Ruang Guru tadi itu ornag yang sama dengan Ketua Geng itu? Kenapa Souji tidak menyadarinya dengan cepat? Karena semalam mukanya di blur di televisi? Tapi—
"Seta-kun!" suara seseorang yang familiar seketika membuyarkan lamunannya.
Souji, yang menyadari bahwa itu suara Yukiko segera menengok ke arah gadis itu dengan pikiran yang masih tidak fokus, "A-amagi-san, ada apa?"
"Coba lihat kesana, orang itu—" Yukiko menunjuk lelaki kekar yang ada di depan gerbang SMU Yasogami sedang bersama dengan seseorang—sepertinya laki-laki—yang lebih kecil darinya.
'Ah! Laki-laki di Ruang Guru tadi! Benar, dia Ketua Geng yang waktu itu menyerangku dan Ama— eh..?'
"Bukankah itu—ketua geng yang waktu itu menyerang kita?! Kenapa dia bisa ada disini?!" Yukiko tampak ketakutan,
Hening.
"Seta-kun..?" panggilnya lagi, heran karena Souji tidak langsung menjawabnya.
Souji tetap tidak menjawab. Yukiko dapat melihat, mata Souji terus tertuju pada kedua orang yang tadi Ia tunjuk. Bukan kepada laki-laki kekar yang dimaksud, namun pada lelaki kecil yang ada di sampingnya.
Pemilik badan kecil dengan rambut berwarna biru gelap serta kulit yang putih, dengan aksesori topi berwarna kontras yang menambahkan kesan misterius lelaki tersebut.
'Anak yang waktu itu..' pikir Souji dengan wajah yang kini berubah merah.
"…Souji, Amagi-san.." ucap Yosuke dengan wajah—yang tampak—kesal.
"Ya?" jawab Souji dan Yukiko hampir berbarengan.
"Sebenarnya— APA YANG KITA LAKUKAN DISINI SEKARANG?!" kata cowok berambut coklat itu lagi, dengan intonasi kesal.
Sekarang, mereka berempat sedang berada di balik sebuah tiang listrik. Beberapa meter di depan mereka, dapat terlihat pria kekar berambut putih dengan seorang lelaki pendek bertopi biru di sebelahnya.
Singkatnya, mereka sedang mengintip kegiatan kedua orang tersebut.
"Sshh..kecilkan suaramu,Yosuke. Bisa-bisa mereka sadar kalau kita intip.." kata Souji dengan berbisik. Yosuke hanya manyun.
"Siapa sih dia, Yukiko? Buat apa kita ngintipin mereka kayak gini?" tanya Chie yang sebenarnya juga penasaran.
"Ng—gimana ya.. Susah jelasinnya… Dia—ketua geng yang pernah menyerangku.." jawab Yukiko singkat—namun sudah cukup untuk membuat pasangan stupid lovebirds di belakangnya terkejut dengan tampang yang seakan ingin berkata "APA?!" sekeras-kerasnya, jika saja tidak diperingatkan oleh Souji dengan death glare nya.
"E-Ehh.. Pantas saja,rasanya tadi malam aku lihat wajah orang itu di TV, jadi—dia anggota geng yang katanya juga sekolah di SMU kita ya?" Chie mengangguk-angguk tanda mengerti dengan keadaan.
"Oke, soal itu aku mengerti. Tapi siapa laki-laki kecil di sebelahnya?" Yosuke unjuk bicara juga, tapi tidak ada yang menanggapi karena terlalu serius dengan kedua orang di depan mereka. Lagi-lagi, Yosuke hanya manyun.
"Jadi—apa maumu?!" tanya si pria kekar tiba-tiba. Souji dkk dapat mendengarnya karena suaranya cukup keras.
"Apa maksudmu? Apa kau mencurigaiku, Tatsumi-kun?" jawab lelaki kecil di sebelahnya dengan nada yang sangat tenang.
"Tentu saja! Maksudku—aku baru kali ini melihat wajahmu, tapi tiba-tiba kau minta pulang bersamaku!" bentak si pria kekar, membuat empat orang di balik tiang itu tampak sedikit terkejut.
"He? Belum pernah kenal, tapi langsung ngajak pulang bareng? Ja-jangan-jangan lelaki kecil itu tertarik dengan si ketua geng?" Chie tampak shock.
"Apa? Tidak mungkin! Dia gay? Padahal laki-laki berambut biru itu cukup imut.." sahut Yukiko, tampak tak kalah shock dari Chie.
Souji yang mendengar perkataan kedua gadis itu, hanya diam. Dalam hatinya ia juga cukup—bahkan sangat shock. Namun ia memilih tetap cool dan berkonsentrasi supaya bisa mendengar suara lelaki bertopi biru yang bisa dibilang cukup kecil. Plus, Ia harus menjaga image coolnya di depan teman-temannya kan? Kembali dengan Souji si munafik.
Si lelaki kecil tertawa,"Maaf. Aku lupa mengenalkan diri. Kurasa itu tidak sopan, ya? Baiklah. Namaku Shirogane Naoto, Detektif." kata lelaki kecil itu dengan senyum—yang menurut Souji— sangat manis.
"Na-naoto Shirogane?! Aaah! Aku kenal dia! Anak itu sudah berkali-kali muncul di TV sebagai Detektif handal yang dapat menyelesaikan segala kasus dengan mudah! Detective Prince Naoto Shirogane!" Yosuke tampak bersemangat.
"Ha? Detective—apa? Pince? Eh? " tanya Chie dengan tampang cengo.
"Aduuh, dasar katro! Makanya, sering nonton TV dong!"cibir Yosuke. Chie hanya membalas dengan menginjak kaki Yosuke.
"Sssh. Kalian berdua, bisa diam tidak?" Souji mengirim tatapan death glare ke arah dua orang yang tampaknya akan kembali adu mulut, membuat pasangan stupid lovebirds itu berhenti bertengkar dan bersikap hormat dalam sekejap karena takut.
"S-Seta-kun… Rasanya, kau beda dari biasanya,ya?" Yukiko melirik Souji. Yang dilirik tidak menjawab, wajahnya tetap datar dan terfokus pada percakapan kedua orang yang berada cukup jauh di depannya. Dalam hati, tentu saja dia sedang berusaha mengingat informasi yang barusan dikatakan Yosuke dalam otaknya. Jadi dia benar-benar Detective Prince yang itu, huh..
"Lalu,apa alasanmu tiba-tiba datang padaku?" suara Pria kekar tadi kembali memutuskan percakapan di antara keempat orang tersebut dan membuat mereka kembali focus menguping.
Lelaki kecil yang bernama Naoto itu membetulkan posisi topinya, sebelum tersenyum simpul lagi.
"Aku hanya tertarik padamu." ucapnya, singkat, padat, dan sangat bisa disalah artikan.
Mendengar itu, Yosuke hanya mangap. Chie tampak terkejut dengan tampang masih cengo, dan Yukiko menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sedangkan Souji? Wajahnya tetap tampak datar, namun jauh di dalam hati, rasanya seperti ada petir yang menyambarnya ratusan kali.
Singkatnya, Souji yang paling shock di antara mereka berempat.
Sedangkan Pria kekar tadi? Wajahnya berubah jadi semerah kepiting rebus. Tidak lagi terlihat kekasarannya sebagai ketua geng.
"Ka-kau.. tertarik.. padaku?" katanya ragu.
Naoto hanya mengangguk. Senyum manis di wajahnya masih terlihat, walaupun sudah sedikit tertutup oleh sikapnya yang cool.
"Kalau bisa, aku ingin setelah ini kita bisa bertemu lagi, di suatu tempat." katanya lagi.
Wajah si Pria kekar semakin berubah merah, sementara agak jauh di belakang mereka, Souji tidak dapat menahan emosinya yang sudah memuncak. Rasa shock menguasai tubuh dan pikirannya, sehingga tanpa peduli keadaan, dia berteriak,
"APA?! TIDAK—!! TIDAK MUNGKIN!!!" serunya ala sinetron, dengan efek slow motion, zoom in, dan— Oke, author terlalu banyak nonton sinetron Indosiar.
Tentu saja, seketika Naoto dan Pria kekar tadi langsung menoleh ke arah mereka berempat yang masih berada di belakang tiang listrik.
Chie dan Yukiko cengo. Sedangkan Yosuke malah merengut. (karena Souji melarangnya berteriak,padahal dia sendiri begitu) Souji masih diam di tempat dengan wajah pucat.
"Si-siapa kalian?! Kenapa kalian bisa ada disitu?!" ucap si Pria kekar dengan intonasi curiga. Wajahnya masih terlihat merah.
"Ehh—errr—ka-kami.. Kami cuma sekedar numpang lewat! Bu-bukannya kami ingin mengintip momen indah kalian! Sungguh, kami hanya—!!" kata Yosuke terbata-bata. Maksudnya ngeles, tapi ucapan itu malah memperburuk suasana. Yah, berapa sih IQ seorang Hanamura Yosuke? (*author dibantai Yosuke*)
"Mengintip? Jadi daritadi kalian mengintip kami dari balik situ?!" kata si kekar dengan wajah merah, kini karena marah.
"Hi-hieee!! Bu-bukan!! Aduh, gimana nih Satonaka?! Kita ketahuan!!" seru Yosuke bodoh.
"Da-dasar bodoh!! Jangan ngomong gitu, dia jadi tau kan!!" sahut Chie tak kalah bodoh.
"Ssh, Chie! Hanamura-kun! Bicara begitu sama saja memberitahu dia rencana kita kan?!" Yukiko makin ngaco, berkata begitu dengan suara keras.
Souji masih diam di tempat dengan tatapan kosong.
Si pria kekar tampaknya tak dapat menahan amarahnya lagi. Seketika, Ia berlari ke arah keempat orang itu sambil berteriak dengan kata-kata yang tak pantas ditiru anak di bawah umur.
"Hi-hieeeeeeeee!!!!!!!"
Keempat orang itu langsung kabur secepat kilat. Karena Souji masih shock, terpaksa Yosuke menggandeng tangannya dan membawanya kabur sejauh mungkin ke tempat dimana hanya ada mereka, dan bisa berbuat sebebas-bebasnya. (loh?)
"DASAR BANGSAT!!! KEMBALI KESINI!!!" teriakan si Pria kekar masih dapat terdengar walaupun mereka berempat telah lari cukup jauh darinya.
"Hh, hh.. S-Sudah aman kan?" kata Chie terengah-engah. Kini mereka sedang berada di dekat Samegawa River. Tanpa sadar, mereka sudah kabur cukup jauh dari tempat tadi.
"Hh.. Ya, sepertinya si ketua geng itu tidak mengejar.." balas Yukiko sambil melihat sekeliling. "Benar-benar menyeramkan." tambahnya pelan.
"Fuh…hh… Lagipula, kenapa kau harus berteriak sekeras itu sih, Sou? Padahal kau yang menyuruh kita untuk diam!"protes Yosuke pada Souji yang kini ada dalam pelukan—ralat, gandengannya.
"Ma-maaf, aku terlalu shock." ucap Souji yang sudah sadar dari shock-nya.
"Hh, tapi aku dapat mengerti perasaanmu. Baru pertamakali aku lihat orang gay secara langsung.. Apalagi si kekar itu—tak kusangka dia gay.. Lihat saja, wajahnya memerah saat mendengar si Detektif bilang dia tertarik padanya atau semacam itulah Dan Detektif itu, padahal dia populer di kalangan gadi, tapi ternyata dia gay? Euh, come on..." desis Yosuke sambil bersandar pada pohon di sebelahnya.
"Tapi, kenapa Detektif seperti Shirogane-san itu bisa tahu soal Pria yang sekolah di SMU kita, ya? Bahkan sampai.. ehm, tertarik padanya. Padahal setahuku Shirogane-san jarang bekerja di Inaba." komentar Yukiko sambil merapikan rambutnya yang berantakan terkena angin.
"Cinta tidak mengenal perbedaan, Yukiko." jawab Chie sambil menghela nafas. Entah apa maksudnya.
"Yang penting, sudah jam segini. Kayaknya mendingan kita pulang deh.." sela Yosuke. Ia melihat jam tangannya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 16.45.
"Benar juga. Okaasan bisa marah kalau aku tidak cepat pulang. Kalau begitu, aku duluan ya! Sampai besok!" ujar Yukiko sambil berlari menuju jalan ke rumahnya, yang dibalas dengan lambaian tangan ketiga temannya sebelum mereka memutuskan untuk bubar.
"Oniisan, kau terlihat lelah. Ada apa?" ucapan yang keluar dari bibir mungil adik sepupunya membuyarkan lamunan Souji seketika, saat Ia sedang bengong di atas sofa keluarga di Rumah Doujima itu.
"Eh—err, aku tidak apa-apa. Cuma … sedikit capek, ahaha. " jawab Souji, berusaha terlihat natural agar adik sepupunya tidak mengkhawatirkannya.
"Kalau begitu tidurlah lebih awal, Oniisan. Aku yang akan bukakan pintu kalau Otousan sudah pulang nanti," kata Nanako polos dengan senyum yang tak kalah polosnya.
Souji tersenyum dan mengelus pelan rambut gadis kecil itu. Sesuai yang disarankan oleh anak itu, Souji segera menuju kamarnya. Sepertinya dia memang butuh istirahat.
"Hh—hari ini terlalu banyak kejadian. Anak itu, siapa namanya? Naoto—Shirogane , ya? Kenapa aku bisa bertemu lagi dengannya ya?" batin lelaki itu sambil berbaring di atas futon yang telah digelarnya.
"Kenapa setiap melihat dia—jantungku jadi berdebar lebih cepat ya? Dan saat melihat dia tersenyum.. Wajahku jadi terasa panas. Jangan-jangan aku.." Sambil memikirkan itu, tanpa ia sadari, wajahnya berubah merah.
"AAAH! TIDAK!! AKU BUKAN GAY!!!" bantah Souji sambil menepuk pipinya.
"Aku pasti hanya berdebar-debar karena wajahnya cantik untuk ukuran laki-laki! Ya! pasti itu! Huff… tenang, Souji.. pikirkan yang lain… Ah,ya.. laki-laki ketua geng itu.. Siapa namanya ya? Aku hanya tahu marganya…Tatsumi,ya?" pikirnya lagi. Yah, harap maklum, Souji akan berubah sangat out of character jika Ia sedang berdebat dengan dirinya sendiri.
"Kenapa aku bisa tidak mengenalinya ya,saat pertama ketemu.. Padahal Amagi-san saja bisa langsung mengenalinya sebagai ketua geng yang tempo hari menyerangnya.. Rasanya..dia sudah tidak memiliki aura berandalan lagi..? Nada bicaranya juga— walaupun masih kasar,tapi terdengar seperti dia berusaha lebih terlihat sopan.. Ah, apa cuma perasaanku saja,ya?"
Souji terus berpikir hal yang sebenarnya tidak begitu penting.
"Tapi,kalau dia masih berandalan , kenapa sepulang sekolah dia tidak berkumpul dengan teman-temannya? Malah menyanggupi ajakan Shirogane untuk pulang bersama. Err.. Bisa aja sih karena terpengaruh wajah manisnya, tapi—"
Terdengar suara pintu depan yang dibuka,
"Tadaima." Suara bapak-bapak,
"Otousan! Okaeri!" dan itu, suara Nanako.
Souji tersadar dari alam pikirnya. "Rupanya Dojima-san sudah pulang.",batinnya sambil beranjak keluar kamar. "Sebaiknya aku tanya pada Dojima-san saja.. lama-lama jadi penasaran juga.."
"Oniisan! Sudah merasa baikan?" tanya Nanako begitu Souji turun dari kamarnya di lantai 2. Souji hanya tersenyum mendengar ucapan adik sepupunya yang tampak begitu mengkhawatirkannya,
"Aku sudah tidak apa-apa kok, Nanako." ucapnya sambil berjalan menuju meja makan, tempat Dojima sedang duduk dan meneguk kopinya.
"Dojima-san, boleh aku tanya sesuatu?" Dojima menengok ke arah Souji dan melakukan isyarat mata seperti 'Soal apa?'.
" Soal.. berandalan yang bernama Tatsumi. Apa Dojima-san tahu?"katanya sambil mendudukkan diri di atas kursi yang berhadapan dengan Dojima.
"Tatsumi? Ah—anak itu.. Oh iya, bukannya dia ketua geng sepeda motor yang pernah menyerangmu dan temanmu itu? Ada apa, tiba-tiba tanya hal seperti itu?" Dojima meletakkan cangkir kopi yang daritadi dipegangnya ke atas meja.
Souji menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, aku hanya penasaran. Umm.. Apa dia—masih berandalan?"
Dojima tampak bingung dengan pertanyaan Souji. "Maksudmu?"
"Hari ini, aku bertemu dengannya lagi. Rasanya.. dari nada bicaranya, sepertinya Ia beda dengan Tatsumi yang dulu menyerangku dan Amagi-san. Sepertinya, dia sedikit—berubah?" jawab Souji.
Dojime terdiam. Sepertinya dia sedikit mengerti dengan maksud Souji. Setelah meneguk kopinya sekali lagi, Ia unjuk bicara.
"Sebenarnya, alasanku melepaskannya saat interogasi kemarin malam juga itu.." gumamnya.
"Memang kami menduganya sebagai pelopor pesta preman-preman itu, tapi saat interogasi dia terus menegaskan bahwa bukan dia pelakunya. Jika dalam interogasi sebelum-sebelumnya dia bersikap menentang dengan menghajar anggota kepolisian, kali ini dia hanya duduk diam dan membantah dengan mulut tanpa kekerasan." lanjut lelaki itu.
"Lagipula, dilihat dari sikapnya, sepertinya dia tidak berbohong—jadi kali itu saja kami melepaskannya." ucapnya mengakhiri penjelasan.
"Jadi—kesimpulannya, apa dia bukan berandalan lagi?"
"Belum bisa disimpulkan apa dia sudah berniat berhenti jadi berandalan atau tidak. Yang pasti, polisi masih harus terus mengawasinya."
Souji terdiam, seperti berpikir.
"Siapa nama lengkap anak itu?" tanyanya lagi.
Dojima ikut terdiam, sebelum menjawab,
"Kanji Tatsumi."
"Souji,maaf! Hari ini aku nggak bisa pulang bareng !" seru Yosuke tiba-tiba saat istirahat siang, Ia sedang makan siang dengan Yosuke di atas atap.
"Hm? Oh, Ya sudah." jawab Souji seolah tidak peduli.
Air muka Yosuke berubah kesal,
"Oooh gitu ya, jadi bagimu ngga masalah aku ada atau nggak.." sungutnya. "Setidaknya tanyakan sesuatu kek.. Alasanku kek, apa kek.. dasar tidak setia kawan!" lanjutnya sambil menggembungkan pipi. Ah, jika saja mereka benar-benar pasangan, mungkin Souji akan berpikir tindakan Yosuke saat itu sangat manis dan sangat uke. Sayangnya, tidak. Oke, author cuma ngarep.
Souji hanya tertawa melihat sikap Yosuke, "Hahaha. Iya,cuma bercanda. Memang ada apa? " lanjut cowok bermata abu-abu itu sambil sesekali melahap sandwich di tangannya.
Raut muka Yosuke berubah ceria kembali, benar-benar seperti anak kecil. Setelah meneguk air dari botol minuman di sampingnya, Ia akhirnya menjawab,
"Hari ini aku ada pelajaran tambahan. Si King Moron itu yang menyuruhku, gara-gara nilai raporku semester yang lalu banyak angka merahnya.."
"Makanya jangan nyontek terus kalo ada PR."
Setelah mendengar kata-kata Souji, Yosuke merengut—lagi—. Souji lagi-lagi tertawa jahil. Sepertinya Ia mulai menikmati hobi barunya— menjahili Yosuke.
Bel sekolah sudah berdering tiga kali. Dan tidak seperti biasanya, Souji berjalan sambil merenung di depan gerbang sekolah. Chie juga ikut pelajaran tambahan, dan Yukiko ada urusan di penginapannya, jadi dia pulang cepat. Sehingga, saat ini Souji pulang sendirian. Gadis- gadis penggemarnya sepertinya terlalu malu untuk mengajaknya pulang bareng saat itu.
"Bosan.." gumamnya sambil melihat ke atas.
Langit biru tak berawan. Matahari juga tidak bersinar terlalu terik siang itu. Saat yang tepat untuk jalan-jalan sepulang sekolah,
"Mungkin aku mampir dulu ke Samegawa River, sudah lama juga tidak bertemu Kuroda-san.." pikir lelaki itu, sambil terus melangkahkan kakinya menuju Samegawa River.
Samegawa River
Souji melihat ke arah bagian Riverbed. Tidak terlihat sosok seorang nenek dengan pakaian serba hitam, Hisanai Kuroda itu.
"Oh iya, ini kan bukan libur sekolah. Pantas saja Kuroda-san tidak datang. Kenapa aku bisa lupa?" pikirnya, menyadari kebodohannya dan menggerutu sendiri. Sejak kapan dia jadi sepelupa ini sih?
Souji baru saja akan melangkahkan kakinya untuk kembali ke rumah pamannya, sebelum dia melihat sesosok lelaki dengan seragam Yasogami Highschool di pinggir sungai.
Penasaran, Souji berjalan mendekati lelaki tersebut. Siapa tahu dia orang yang Souji kenal kan?
Setelah cukup dekat dengannya, Souji tersentak. Laki-laki itu, yang dia bicarakan dengan pamannya tadi malam, laki-laki besar berambut putih keabu-abuan dengan bekas luka jahitan di dahi bagian kirinya.
"Kanji.. Tatsumi?" spontan,Souji menyebut nama laki-laki tersebut, membuat laki-laki yang dipanggil Kanji itu menengok ke arah Souji dengan tatapan heran.
"Siapa kau?" tanyanya.
Souji berkeringat dingin, berpikir kenapa dengan bodohnya ia menyebut nama laki-laki mengerikan ini. Ah,itu sudah tidak penting. Sekarang apa yang harus ia jawab untuk menghindari pukulan dari laki-laki besar di depannya ini?!
"O-oh. Err, bukan siapa-siapa kok. A.. ahaha.." jawabnya gelagapan, tidak tahu mau mengatakan apa-apa, dan tidak juga menjaga image coolnya. Hal yang Ia pikirkan saat ini hanya, bagaimana cara keluar dari situasi yang akan jadi mengerikan ini?
Kanji terdiam sesaat (baca: bingung) dan memperhatikan Souji lekat-lekat, dari atas ke bawah, sebelum otaknya akhirnya dapat mengingat identitas lelaki berambut abu-abu tersebut.
"Hei! Aku mengenalmu! Kau 'kan salah satu dari orang-orang brengsek yang membuntutiku kemarin!" ucapnya kemudian.
"Mati aku." pikir Souji sambil menutup matanya , mengira sesaat lagi sebuah pukulan akan didaratkan ke wajah atau tubuhnya. Ia terlalu takut untuk kabur, bisa-bisa lelaki itu malah memukulinya lebih keras. Atau lebih buruk lagi, menjadikannya makanan ikan untuk ikan-ikan di sungai Samegawa yang kelaparan. Oke, Souji terlalu banyak membaca komik sepertinya.
Namun, bukan itu yang terjadi. Souji membuka matanya perlahan dan mendapati Kanji yang sedang terdiam menatap sungai, memandang aliran air lekat-lekat.
"Kau pasti mengira aku akan memukulmu 'kan?" ujarnya.
Souji yang masih kaget, hanya menganggukkan kepalanya.
"Tenang saja. Aku takkan melakukan itu, untuk saat ini." katanya lirih. Matanya masih tetap menatap sungai bening di depannya.
Souji memperhatikan raut wajah Kanji Tatsumi yang tampak sedih.
" Sudah kuduga. Dia beda dengan Tatsumi yang dulu," batinnya.
Lagi-lagi, jiwa heroiknya yang selalu muncul di saat tidak penting— kembali muncul, dan Ia berkata sambil menepuk pelan punggung Kanji, sangat SKSD.
"Tatsumi, kalau boleh tahu, ada masalah apa?"
"Ha?"
Kanji heran. Dia baru bertemu Souji beberapa kali, dan belum dekat dengannya. Selain itu, karena kejadian kemarin mereka bisa saja jadi musuh. Lantas, kenapa Souji bisa dengan santainya menanyakan masalah yang sedang dihadapi Kanji?
"Well, kau bisa menceritakannya padaku, kalau kau mau." ucap Souji sekali lagi.
Wajah Kanji sedikit memerah karena malu seolah diperlakukan seperti anak kecil. Tapi dia berusaha menutupinya dengan membalik badan secepat mungkin dan berkata dengan nada yang kasar,
"Bu-bukan urusanmu!"
Souji terdiam dan menghela nafas. Ternyata sekeren apapun kata-kata Souji, memang mustahil untuk mengenal Kanji lebih jauh hanya dengan kata-kata macam itu.
"Apa kau ingat, malam itu.. Kau dan gengmu menyerang seorang lelaki berambut abu-abu dan seorang gadis yang memakai yukata, di pinggir sungai ini?"
Kanji tersentak. Benar juga, waktu itu.. lelaki berambut abu-abu yang ia serang, berwajah sama dengan laki-laki yang berada di sampingnya saat ini.
"Te-terus kenapa?! Kau mau balas dendam padaku?!" tudingnya kasar.
"Tidak. Aku hanya berpikir,"
"Ha?"
"..Bahwa kau berbeda dari kau yang waktu itu menyerangku.." gumamnya.
Kanji lagi-lagi tersentak, "Orang ini.. mengatakan hal seperti itu dengan wajah yang tenang,seolah dia sudah mengenalku sebelumnya" batinnya heran.
"..Benar 'kan?" lanjut Souji sambil tersenyum, "Kalau kau masih Tatsumi yang dulu, begitu aku mengatakan hal yang sok tahu seperti tadi, kau pasti sudah memukulku saat itu juga."
Ucapan Souji yang terakhir membuat Kanji sedikit tersentuh. Namun hal itu ia tutupi dengan mencengkram erat kerah baju Souji. "Be-berisik!!"
Walaupun tangan Kanji sudah terlihat bersiap untuk memukul Souji, wajah lelaki bermata abu-abu itu tetap terlihat tenang, seolah percaya sepenuhnya pada lelaki besar yang tengah mencengkram kerah bajunya.
"Ada apa?" gumamnya tenang.
Melihat ekspresi wajah Souji tersebut, Kanji berdecak kesal dan melepaskan cengkramannya.
"Cih." decaknya sebelum berjalan menjauhi Souji yang tampak membetulkan kerah bajunya kembali dengan wajah tenang,seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sifat heroiknya memang hebat, mengubah ke-OOC-annya tadi menjadi sebegini keren. Apa author yang ngaco? Dua-duanya.-_-
Kanji berjalan di jalanan dekat rumahnya saat hari sudah menjelang malam. Ia masih kesal dengan kejadian yang dia alami bersama lelaki aneh berambut abu-abu yang ditemuinya di Samegawa River sepulang sekolah tadi ,sehingga sebelum pulang ia mampir ke Game Center di stasiun,untuk melepas stress.
"Sudah jam segini rupanya. Ma pasti langsung marah begitu aku pulang nanti." decaknya sambil melihat jam di tangan kirinya.
"COPEEET!! TOLOONG!! " teriakan seorang wanita membuyarkan lamunan Kanji. Ia sempat melihat sekeliling dengan wajah penasaran sebelum menemukan seorang wanita kantoran yang tampak kepayahan mengejar dua orang lelaki yang naik sepeda motor sambil membawa sebuah tas berwarna emas.
"Hehehe.. Kami minta sedikit uangmu ya, nona!" ,ujar salah seorang dari mereka. Pencopet. Melihat itu, tanpa pikir panjang Kanji segera mengejar dua orang copet tersebut, mencoba menangkap mereka.
"Tunggu! Kembalikan tas wanita itu! Dasar pengecut!" teriaknya sambil berusaha mengimbangi kecepatan sepeda motor di depannya.
Kedua lelaki yang masih berboncengan di atas sepeda motor itu saling berpandangan, sebelum mengeluarkan tawa yang membuat Kanji heran,
"Heh. Coba saja kalau bisa, Bos." ucapan salah seorang diantara mereka membuat Kanji kaget, walaupun tidak membuatnya mengurangi kecepatannya yang sudah mencapai 90km/jam (?).
Apa dia pernah mengenal kedua orang ini sebelumnya?
Saat mereka sampai di sebuah gang yang cukup sepi, kedua copet itu menghentikan motornya dan berhadap-hadapan dengan Kanji yang tampak mulai kelelahan.
"Apa kau lupa pada kami, bos Kanji?" kata salah seorang yang berambut kuning.
Kanji mencoba memperhatikan mereka lekat-lekat. Cahaya bulan purnama malam itu membuatnya dapat melihat jelas wajah kedua orang di depannya. Yang satu berambut coklat gelap dengan bibir yang tebal, sedangkan yang satunya berambut kuning dengan kacamata besar menghias wajahnya.
"Kuroki..Togano?" ucap Kanji dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Tepat. Ternyata kau masih ingat dengan mantan anak buahmu." jawab orang yang dipanggil Kuroki.
"Apa yang kalian lakukan? Selama ini kalian tidak pernah melakukan tindakan seperti mencopet atau mencuri kan?! Kenapa—"
"Itu kan dulu, waktu kami masih jadi anak buahmu. Sekarang di bawah pimpinan bos Juumonji, kami bisa lebih bebas melakukan hal yang kami inginkan." balas salah seorang lagi yang dipanggil Togano.
"Kalau kau ingin menghentikan kami, coba gunakan kekuatanmu. Dengan dua lawan satu,tentunya kami menang dalam hal jumlah kan, Bos Kanji?"sahut Kuroki sambil mengeluarkan pisau yang ada di balik kantung jasnya.
"Cih."decak Kanji sambil memasang kuda-kuda bertarungnya. Togano juga sudah tampak siap dengan pemukul baseball di tangannya.
Perkelahian dimulai saat Kuroki melaju ke arah Kanji, bersiap menusukkan pisau di tangannya, namun ditahan oleh Kanji dengan memelintir tangan Kuroki, menyebabkan Lelaki itu menjatuhkan pisau yang dipegannya disertai erangan kesakitan.
Melihat itu, Togano tidak tinggal diam. Ia mengayunkan pemukulnya ke arah punggung Kanji yang lengah, namun lagi-lagi dapat ditangkis oleh Kanji,walaupun pemukul itu sempat mengenai pundaknya. Dengan sigap, Ia memukul perut Togano, menyebabkan lelaki itu terjatuh ke tanah sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
Dalam hitungan menit, Kanji berhasil memenangkan pertarungan. Ia mengambil pemukul Togano yang barusan dijatuhkannya ke tanah dan berkata sambil mendekati Kuroki dan Togano yang masih mengerang kesakitan di atas tanah,
"Kalian tidak bisa menang dariku, walau menggunakan alat-alat seperti ini."ujarnya pelan, membuat Kuroki dan Togano menatapnya dengan tatapan kesal,
"Si—sialan…"
Kanji mengeluarkan senyuman dingin, "Sekarang diam dan ikut aku ke kantor poli—"
"3 ORANG YANG DISANA! ANGKAT TANGAN!" suara teriakan tegas disertai bunyi sirene mengagetkan ketiga orang tersebut.
"Gawat! Itu polisi! Sial! Wanita tadi—! Pasti dia yang menelpon polisi!" Kuroki yang pertama menyadari kedatangan orang-orang berseragam hitam-putih dan mobil-mobil dengan warna yang sama itu. Di antara polisi- polisi tersebut, tampak seorang wanita dengan baju kantoran berwarna coklat muda.
Wanita yang tadi ditolong Kanji.
"Ya! Mereka yang mencuri tas saya,Pak! Laki-laki berambut putih itu,pasti pemimpin mereka! Aku mendengar barusan kedua orang itu memanggilnya 'bos'!" pengakuan dari wanita tersebut membuat salah satu polisi yang sepertinya pemimpin mereka – membuang rokok di mulutnya dan menatap Kanji dengan wajah dingin,
"Heh. Tatsumi, kukira kau sudah berubah. Ternyata, masih sama seperti dulu, eh? Kalian bertiga, ikut kami ke kantor polisi." ujar Dojima sambil mengisyaratkan anak buahnya untuk meringkus ketiga orang tersebut.
:: TBC ::
(A/N):
Yaaaaaaay! XDD Finally, chapter 7 is up!! Maaf updatenya kelamaan~ :p soalnyaa..selain disibukkan oleh urusan pelajaran kelas 9, aku juga lagi kehabisan ide karena ga hafal social link-nya Kanji. -_-
Ada yang mau kasihtau ga, sebenernya Ayahnya Kanji kmana sih?! Apa emang gapernah dikasihtau? O_o pokoknya kayaknya chapter berikutnya bener2 lama karena aku stuck di bagian itu, tapi jika anda semua berminat membantu, saya akan sangat berterimakasih. ^w^ (halah)
Teruuus, soal berita gaje soal pemilu Indonesia,kenapa saya bikin yang menang Megawati? Terus terang karena aku ga suka Mega,jadi iseng aja bikin disini. Kalo dia yang mimpin,gimana jadinya nih Indonesia?! -__-, banzai SBY-boediono! (lah kok jadi kampanye?! halah pemilu udah selesai ini.) *ehhh piss..piss buat pendukung Mega. Pendapat orang kan beda-beda hehehe. Iya tidaaak? (Iyaaa)*
Di chapter ini,sifat Souji berubah-ubah. OOC banget..ahaha,gomen..tapi udah kukasih deskripsi kayak gini, "sifat kepahlawanan Souji muncul..", artinya sifat Souji bakal langsung berubah jadi kayak leader sejati, sifat aslinya macem-macem,kadang lebay dan kadang penakut. hwahahahaha,Souji punya banyak kepribadiaaan~~ *dibantai Souji*
Dan soal nama-nama berandalan di chapter ini,ada yang tau itu saya ambil dari anime apa?*smirk(?)*
Ohya,buat para reviewer yang mengira akhirnya Souji jadian sama Naoto, belum tentu juga lho~ tergantung otak aneh si author gajhe ini. Kekeke.. *digampar*, Soalnya saya juga suka pairing Souji x Yukiko,jadi..soal akhirnya masih belum bisa diprediksikan (?). Nantikan saja dalam chapter2 berikut! *sok promosi, dibantai*
Bah,kebanyakan ngoceh nih. Maaf kalo chapter ini kepanjangan dan penuh kejadian nggak penting...Soalnya ini penting buat pendeskrepsian (?). Gomeeen~~! DX
Anyway, Special thanks to: 'T-800' MacTavish, WindPurpleDragon, Tetsuwa Shuujin, Hihazuki, Cyrille-ve, lalapyon, Iwanishi Nana, TenCircle, Plotte Gee, dan Shizuka Shirakawa,
,yang sudah menyempatkan diri untuk membaca dan mereview ffic gaje saya.=3
Well, See ya' next chapter! ^^
Oh, And...review please? *kitty(?) eyes*,
kritik dan saran juga,kalau ada yang aneh dalam fic saya. (kayaknya semuanya deh..-__-)
