"Two Love for One Heart"
#
#
Rate : T
Genre : Romance, Drama
Disclaimer Masashi Kishimoto
Warning! Absurd story,Story from me,Typo,Gaje, Mainstrem, etc
NO BASH!
NO SILENT READERS!
REVIEW PLEASE ^_^
#
#
#
Summary :
Namikaze Naruto dan Namikaze Menma—Saudara kembar dengan sifat yang saling berlawanan. Jatuh cinta pada gadis yang sama—Haruno Sakura. Namun tak bisa bagi Sakura untuk menerima dua cinta di dalam hatinya yang hanya ada satu. Cinta yang berasal dari dua laki-laki yang berbeda dengan kelebihan juga kekurangan mereka masing-masing.
#
#
#
CHAPTER 7
#
#
Berisik. Satu kata yang dapat menggambarkan suasana kelas Sakura di pagi hari ini. Sakura tak menyangka kalau kelasnya memiliki suasana berisik seperti ini. Padahal ia kan berada di kelas yang penuh dengan anak pintar. Tapi ternyata itu tak menjamin ketenangan kelas ini. Sakura pun hanya bisa mendengarkan musik melalui earphone yang tersambung ke HP nya. Ia butuh ketenangan. Pikirannya masih kacau. Padahal beberapa hari telah berlalu sejak pertengkaran antara dirinya dan Naruto. Kini jarak di antara mereka pun semakin lebar. Bahkan mereka sekarang bersikap layaknya orang asing yang tak pernah kenal satu sama lain. Walau begitu, hubungan antara Sakura dan Menma masih seperti biasa. Karena Sakura tidak ingin melibatkan Menma yang tak salah apa-apa ke dalam pertengkarannya dengan Naruto.
"Hei, ada apa denganmu, Forehead? Belakangan ini kau sering melamun sambil mendengarkan musik" tanya sahabatnya—Ino.
Dengan malas, ia mendongakkan kepalanya—berusaha menatap Ino yang berdiri di depan mejanya. "Aku tak apa-apa" jawabnya bohong. Ia hanya tak ingin membuat Ino khawatir. Walau kenyataannya kini Ino malah bertambah khawatir setelah mendengar jawaban Sakura.
"Ayolah, Forehead! Kau tak bisa membohongiku. Aku telah mengenalmu cukup lama. Jadi ceritakan masalahmu padaku" tutur Ino sambil mematikan musik yang tengah diputar di HP Sakura.
"Hah~" Sakura menghembuskan nafas panjang. Memang tak ada yang bisa ia sembunyikan dari sahabat cantiknya ini.
"Akan kuceritakan semuanya. Tapi berjanjilah untuk tidak terkejut" ujar Sakura dan Ino pun mengangguk antusias. Ia bahkan telah memasang posisi yang nyaman untuk mendengar cerita Sakura. Yaitu duduk di lantai dengan bertumpu pada lututnya. Sedangkan kepala dan tangannya ia letakkan ke atas meja Sakura.
Sakura pun mulai menceritakan semuanya—dari awal liburan musim panas. Ino mendengarkannya dengan seksama. Tanpa berniat untuk menyelanya. Tapi pada akhirnya ia pun menyela cerita Sakura ketika gadis berambut merah muda itu menceritakan tentang pernyataan cinta Menma. Sebuah seruan dari Ino pun terdengar begitu keras hingga menarik perhatian satu kelas. "Hah?! Si Menma itu menya—hmmmppp!" belum sempat Ino melanjutkan kata-katanya, Sakura telah lebih dahulu membekap mulutnya. Kemudian Sakura tersenyum pada teman satu kelasnya—menandakan kalau semuanya baik-baik saja—dan mereka pun kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
"Sudah kubilangkan, jangan terkejut. Bahkan sampai berseru sekeras itu. Kau ingin seluruh dunia mengetahuinya?" omel Sakura.
Ino pun meluncurkan senyum tanpa dosanya. "Gomen, aku hanya tidak menyangka saja. Orang dingin semacam Menma bisa melakukan hal itu"
"Aku juga tidak menyangka. Tapi itu kenyataannya" tutur Sakura.
"He-eh, menarik, ya..." komentar Ino dengan mata yang terlihat sedang mencari sesuatu.
"Kau sedang apa?" tanya Sakura yang merasa aneh dengan sikap sahabatnya.
"Mencari Menma. Tapi sepertinya dia belum datang" jawabnya.
Sakura pun menaikkan salah satu alisnya—bingung. "Untuk apa kau mencarinya?"
"Aku ingin menggodanya. Aku kan sudah punya senjata mematikan untuknya. Aku tidak sabar melihat ekspresinya nanti" tutur Ino dengan senyum licik.
Sakura pun hanya dapat menatap Ino datar. Ia benar-benar tak mengerti dengan pemikiran sahabatnya ini. "Lebih baik jangan kau lakukan, deh" saran Sakura.
Ino pun tertawa pelan melihat reaksi Sakura. "Aku hanya bercanda, Forehead. Jadi, setelah itu apa yang terjadi?" tanya Ino. Sakura pun kembali menceritakannya sampai pertengkaran antara dirinya dan Naruto.
Setelah Sakura selesai bercerita, Ino mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti suatu hal. "Hmmm, jadi entah kenapa Naruto tahu mengenai pernyataan Menma yang tak terduga itu. Lalu dia memiliki pemikiran bodoh yang membuat dirinya bertengkar denganmu dan jarak di antara kalian semakin melebar. Begitu, kan?"
Sakura menganggukkan kepalanya. "Kurang lebih begitu" jawabnya.
"Pantas saja belakangan ini aku tak pernah melihat si baka itu kemari sambil meneriakkan namamu seperti biasanya" komentar Ino dan Sakura hanya dapat diam saja.
"Lalu?" tanya Ino yang tak Sakura mengerti.
"Lalu apa? Ceritanya sudah selesai. Kau mau aku cerita tentang apa lagi?" Sakura sama sekali tak mengerti.
Ino pun tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu maksudku. Aku bertanya tentang perasaanmu. Bagaimana dengan dirimu? Siapa yang kau suka di antara Namikaze bersaudara itu?"
Sakura pun menundukkan kepalanya—malu—dan menggumam pelan, "Naruto".
"Apa?" Ino tak mendengarnya jelas karena Sakura mengatakannya dengan suara yang terlalu pelan.
"Naruto, Ino" ulangnya sedikit keras. Namun Ino masih terdengar tak jelas di telinga Ino.
"Apa?"
Sakura pun menatap Ino kesal. Karena ia harus mengulanginya lagi. Padahal ini cukup memalukan baginya. "Na-ru-to, Ino-pig" Sakura pun memberi penekanan di setiap suku kata yang terdapat pada nama Naruto agar Ino dapat mendengarnya dengan jelas.
"Heeeehhhh?!" Ino terkejut setengah mati dan kembali menarik perhatian anak satu kelas.
"Sssstttt! Kecilkan suaramu, Pig!" perintah Sakura.
Ino pun membekap mulutnya sendiri. "Gomen" ucapnya dan kini gilirannya yang tersenyum pada teman satu kelasnya. Mereka pun kembali lagi pada kegiatan mereka.
"Ku kira yang kau sukai itu Menma. Tapi ternyata malah si rambut pirang itu" komentar Ino.
"Kau sama saja seperti Naruto. Memangnya aku terlihat menyukai Menma, ya?" gerutu Sakura.
"Tidak terlihat begitu, sih... Hanya saja ku pikir kau menyukai laki-laki yang seperti Menma. Secara dia kan pintar, keren, diam-diam perhatian padamu, pokoknya dia itu seperti pangeran" Ino terlihat begitu menghayati ketika mendeskripsikan Menma.
"Sedangkan Naruto itu baka, walau dia juga keren, sih... Tapi dia itu sangat-sangat menyebalkan" Ino terlihat kesal ketika mendeskripsikan Naruto. Mungkin karena ia teringat mengenai Naruto yang sangat suka menjahilinya.
Sakura pun memasang pose berpikir. "Yang kau katakan itu memang benar. Naruto itu memanglah baka dan sangat menyebalkan. Tapi dia memiliki kehangatan"
"Kehangatan?" Ino tak mengerti.
"Ya, kehangatan. Kehangatan yang tak ku rasakan ketika aku berada di dekat Menma. Walau Menma sama-sama memperhatikanku dan mempedulikanku seperti Naruto. Tapi aku hanya merasakan kehangatan ketika berada di dekat Naruto. Aku sendiri tak mengerti" jelas Sakura.
"Tapi kau kecewa dengan sikap Naruto, kan? dan jika memang kau mencintai Naruto, kenapa tidak nyatakan saja dan tolak pernyataan cinta Menma?" tanya Ino.
"Aku memang kecewa dengan sikap Naruto dan aku memang mencintainya. Tapi aku masih belum yakin. Aku masih bingung dengan semuanya" jawab Sakura.
Ino memutar bola matanya malas. "Sakura, jika kau terus seperti ini, yang akan menjadi korbannya adalah Menma. Kau harus segera meyakinkan perasaanmu dan putuskan pilihan yang ingin kau ambil. Percayalah, apapun keputusan yang kau ambil, aku akan mendukungnya. Asalkan itu hal yang tepat" tutur Ino.
Sakura tersenyum lembut. "Ya, aku akan segera memutuskannya. Lagipula aku tidak ingin menggantungkan Menma terlalu lama. Arigatou, Ino, sudah mau mendengar ceritaku"
Ino pun segera berdiri. "Itulah gunanya sahabat, bukan?" ujarnya dan Sakura hanya tersenyum.
"Wah, akhirnya Menma datang juga!" seru Ino ketika Menma baru saja masuk ke dalam kelas.
"Yo, Menma! Kenapa kau terlambat?" tanya Ino.
"Tanyakan saja pada si Baka-Naruto itu" jawab Menma sambil mendudukan dirinya ke atas kursinya.
Ino pun mengangguk mengerti. "Seperti biasa"
"Hei, Menma! Kau tahu, aku punya senjata mematikan untukmu, lho!" seru Ino dengan senyum liciknya. Sakura yang tahu maksud Ino pun berusaha mencegahnya. Tapi Ino segera menghentikan Sakura dengan membekap Sakura.
Menma pun menaikkan salah satu alisnya—bingung. "Senjata mematikan? Apa maksudmu?" tanya Menma.
"Kau mau tahu?" Ino mulai menggodanya.
"Ck!" Menma berdecak kesal, kemudian ia pun menjawab, "Ya".
"Aku tahu mengenai... Sudahlah, kau tak perlu tahu. Lagipula sebentar lagi kelas akan segera dimulai" ujar Ino sambil melepaskan bekapannya pada mulut Sakura. Kemudian ia pergi meninggalkan Sakura dan juga Menma.
"Ada apa dengannya?" tanya Menma pada Sakura.
Sakura hanya mengangkat bahunya—pura-pura tidak tahu. "Entahlah. Dia biasa aneh seperti, itu, kan?"
"Benar. Tidak perlu dipikirkan" ujar Menma sambil menyiapkan buku dan alat tulis untuk memulai pelajaran. Sedangkan Sakura masih menatap kesal Ino dan gadis pirang itu membalas dengan senyum tanpa dosa juga jari yang membentuk lambang 'peace'.
~:~:~:~:~:2Lfor1H:~:~:~:~:~
Pelajaran telah dimulai. Pelajaran pertama di pagi hari ini adalah matematika dengan Iruka sebagai gurunya. Kelas yang tadinya ramai pun kini menjadi hening. Semua murid diam memperhatikan penjelasan Iruka. Begitu pula dengan Sakura. Ia sangat serius memperhatikan pelajaran Iruka. Karena matematika adalah pelajaran yang paling ia sukai. Tapi ia sedikit terganggu dengan suara rintihan kecil. Mungkin teman-temannya tidak mendengarnya. Tapi ia bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Karena suara itu berasal dari samping kanannya.
Sakura pun menolehkan kepalanya ke samping kanannya—mencoba mencari tahu asal suara rintihan itu. Betapa terkejutnya ia ketika ternyata suara itu berasal dari Menma yang memang berada tepat di samping kanannya. Terlihat oleh emerald nya, sosok Menma yang sedang kesakitan. Keringat dingin membasahi dahinya. Sedangkan tangan kanannya meremas dadanya. Ia pun terlihat seperti kesulitan bernafas. Sakura pun jadi khawatir.
"Menma, kau kenapa?" tanya Sakura dengan berbisik—agar tak mengganggu siswa lain.
Dengan berusaha sekuat tenaga, Menma menatap Sakura dan tersenyum singkat. "Aku tak apa-apa" jawabnya.
"Benar? Tapi kau berkeringat sangat banyak" Sakura tak langsung percaya.
"Aku...hanya kelelahan. Kau tak perlu...khawatir" Menma terus berkilah. Tapi jelas terlihat kalau dia kesulitan untuk berbicara.
"Baiklah jika begitu. Tapi, jika kau sakit, cepat katakan padaku atau Iruka-sensei" ujar Sakura yang masih khawatir.
Menma pun hanya dapat tersenyum dan mengeluarkan sebuah deheman kecil. "Hm"
Pelajaran terus berlanjut. Tanpa ada yang menyadari kalau kini keadaan Menma semakin memburuk. Sakura pun kini tengah terfokus kepada pelajaran dan tak memperhatikan keadaan Menma. Hingga akhirnya sebuah rintihan kecil kembali mengganggunya. Segera ia lihat keadaan Menma. Dan kini ia pun tak bisa menahan diri lagi untuk tidak melaporkannya kepada Iruka. Karena Menma terlihat begitu kacau.
"Sensei!" Sakura mengangkat tangannya.
Iruka pun menghentikan penjelasannya dan menatap Sakura. "Ada apa, Haruno-san?" tanya Iruka.
Sebelum Sakura menjawab pertanyaan Iruka, ia sempatkan waktu sebentar untuk menatap Menma melalui ujung matanya. Terlihat Menma yang menggelengkan kepalanya pelan—meminta Sakura untuk tidak melaporkannya. Tapi Sakura tetap bersikeras. "Sensei, sepertinya Menma sedang sa—...!" belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, sebuah kejadian tak terduga mengejutkannya.
BRAKKK!
Menma tumbang. Tubuhnya jatuh ke atas lantai. Namun ia tidaklah pingsan. Walau begitu, kini keringat dingin semakin deras membanjiri seluruh tubuhnya. Nafasnya semakin memburu. Remasan tangannya pada dadanya pun semakin menguat. Ia tampak sangat kesakitan. Seluruh penghuni kelas dibuat terkejut dengan keadaan Menma yang sangat tiba-tiba ini. Apalagi Sakura. Ia segera turun dari kursinya dan meletakan kepala Menma kepangkuannya. Ia sekarang merasa kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya ia lebih cepat melaporkan keadaan Menma kepada Iruka. Dengan begitu keadaan Menma tidak akan semakin parah seperti sekarang.
"Tak bisakah kalian membawanya ke UKS?" tanya Sakura yang panik kepada teman-teman sekelasnya. Sedangkan teman-teman sekelas Sakura hanya saling menatap satu sama lain.
"Tolong beberapa anak laki-laki membawa Menma ke UKS" perintah Iruka dan barulah beberapa anak laki-laki bergerak menggendong Menma.
Sakura pun ikut pergi ke ruang UKS. Ia sangat khawatir dengan keadaan Menma. Bahkan ia sampai lupa meminta izin kepada Iruka yang notabene guru yang kini sedang mengajar kelasnya. Pikirannya menjadi semakin kacau sekarang. Walau kini yang ia pikirkan hanyalah keadaan Menma. Tak ada yang lain lagi.
Setelah melewati beberapa ruangan, akhirnya sampai juga mereka—Sakura dan teman-temannya yang membawa Menma—di ruang UKS. Kurenai yang sedang menjaga UKS pun terkejut dengan kedatangan mereka. Apalagi ia melihat Menma yang terlihat menahan sakit. "Apa yang terjadi pada Namikaze-kun?" tanya Kurenai.
"Aku juga tidak tahu, sensei. Tiba-tiba saja ia kesakitan seperti itu" jelas Sakura.
"Ya sudah, ayo, cepat letakan dia ke kasur. Biar sensei ambilkan obatnya" tutur Kurenai sambil melangkahkan kakinya pergi keluar ruang UKS. Namun ini membuat Sakura merasa bingung. Bukankah ini ruang UKS? Harusnya obatnya berada di sini. Tapi kenapa Kurenai ingin mengambil obat di luar ruang UKS? Inilah yang membuat Sakura bingung dan tak mengerti. Tapi ia tak mengungkapkannya. Karena hanya keadaan Menma yang paling penting sekarang.
"Haruno, kami akan kembali ke kelas. Bagaimana denganmu?" tanya salah seorang teman kelasnya setelah meletakan Menma ke atas kasur.
"Aku tetap di sini" jawab Sakura disertai senyumnya.
"Kalau begitu kami pergi ke kelas duluan" ujar salah seorang temannya tadi.
Belum sempat teman-teman Sakura keluar dari ruang UKS, Sakura telah menghentikan langkah mereka. "Chotto matte"
"Hm? Ada apa?" tanya temannya.
"Bisa tolong izinkan kepada Iruka-sensei mengenai diriku yang tetap ingin berada di sini?" tanya Sakura.
"Tenang saja. Akan kami izinkan" jawab mereka.
"Arigatou" ujar Sakura senang. Dia pun duduk di sebuah kursi yang terletak di dekat kasur tempat Menma berbaring. Tangannya membelai pelan rambut hitam Menma. Mencoba untuk merasakan rasa sakit yang Menma derita saat ini. Karena sejak tadi keadaan Menma tak kunjung membaik. Ia jadi semakin khawatir.
"Sakura, aku...tak apa-apa. Kau bisa...kembali...ke kelas...dan mengikuti...pelajaran...yang kau sukai...itu" tutur Menma dengan susah payah.
Sakura pun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku akan tetap di sini dan menemanimu. Jadi lebih baik sekarang kau tidur saja. Dengan begitu mungkin rasa sakit yang kau rasakan akan berkurang" tutur Sakura sambil meluncurkan senyum terbaiknya. Walau senyum itu sebenarnya hanyalah senyum yang ia paksakan. Ia tak bisa tersenyum tulus seperti biasanya dalam keadaan ini. Karena dia terlalu khawatir.
"Aku...tidak ingin..tidur. Ba-bagaimana jika...aku tidak..bisa..melihatmu lagi?" tanya Menma dengan senyum yang menahan rasa sakit.
Sakura terkejut dengan apa yang Menma katakan. Apa maksudnya? Sakura tak mengerti. "Apa yang kau katakan? Hal itu tidak akan terjadi, kan?"
"Itu—..." belum selesai Menma berbicara, Sakura telah menyelanya.
"Sudah, berhenti berbicara. Aku akan segera memanggil Kurenai -sensei. Sedangkan kamu berusaha untuk tidur dan tak perlu memikirkan apapun, Ok?"
"Hm" hanya itu balasan dari Menma. Ia kini hanya dapat menurut saja. Karena ia tidak akan sanggup berdebat dengan gadis keras kepala itu dalam kondisinya yang sekarang.
Sakura pun tersenyum singkat sebelum akhirnya meninggalkan Menma seorang diri di UKS. Ia segera melangkahkan kakinya pergi mencari Kurenai. Sudah cukup lama Kurenai pergi mengambil obat. Tapi sampai sekarang ia belum kembali. Oleh karena itu Sakura memutuskan untuk mencari Kurenai. Memang, ia tidak tahu harus mencari gurunya itu kemana. Tapi ada kemungkinan kalau gurunya berada di ruang guru. Jadi ia pun pergi ke ruang guru.
Belum sampai ia ke ruang guru, ia telah melihat Kurenai yang tengah berdiri di depan toilet wanita. Gurunya itu terlihat sedang menelfon seseorang. Ini semakin membuatnya tak mengerti. Bukankah harusnya gurunya itu sekarang sedang mencari obat? Tapi kenapa ia malah berdiri di depan toilet wanita sambil menelfon seseorang?
Melihat semua keanehan itu, Sakura pun berjalan pelan mendekati Kurenai. Tanpa sengaja, telinganya mendengar pembicaraan antara Kurenai dengan seseorang di telfon. "Jadi apa yang harus saya lakukan Namikaze-san?"
"Baiklah, saya akan segera membawa Namikaze-kun ke rumah sakit. Mmm, etto, apa penyakit Namikaze-kun itu parah?" tanya Kurenai di telfon dan ini membuat Sakura semakin tertarik untuk mendengarkan lebih banyak.
"Begitu. Apa dia masih memiliki kesempatan untuk hidup?" tanya Kurenai lagi. Sakura cukup terkejut dengan pertanyaan gurunya tersebut. Ia jadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi.
Sebenarnya penyakit apa yang diderita oleh Menma? Selama ini dia tidak mengetahuinya. Padahal ia sudah cukup lama mengenal Menma. Tapi pemuda itu tak pernah memberitahunya apa-apa mengenai penyakit itu. Naruto pun tak pernah mengatakan sesuatu yang menyangkut hal itu. Apa penyakitnya sangat parah hingga ia tak diberitahu? Tapi selama ini Menma terlihat baik-baik saja. Walau Menma pernah mengatakan padanya mengenai tubuhnya yang lemah. Ia juga pernah melihat Menma merasa kesakitan. Tapi itu hanya sebentar. Jadi ia tak terlalu menghiraukannya. Ia tak tahu kalau itu akan menjadi separah ini.
"Saya mengerti. Saya berharap akan ada jantung yang cocok untuk Namikaze-kun" ujar Kurenai sebelum ia mengakhiri panggilannya.
Sakura sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tak mengerti semuanya. Kenapa Menma perlu jantung yang cocok untuknya? Ia benar-benar tak mengerti dan rasanya ia tak ingin mengerti.
"Lho, Haruno-san? Apa yang sedang kau lakukan di sana?" tanya Kurenai yang baru saja menyadari keberadaan Sakura.
Sakura pun menjadi salah tingkah sendiri. Ia terkejut karena Kurenai menyadari keberadaannya. "Mmm, aku mencari Kurenai-sensei" jawab Sakura pada akhirnya.
"Oh, soal obatnya, ya! Ini! berikan pada Namikaze-kun. Sensei ada keperluan sebentar. Mungkin obat ini tidak akan menyembuhkan penyakitnya. Tapi paling tidak bisa mengurangi rasa sakitnya. Beri dia 2 tablet, ya!" tutur Kurenai sambil memberikan satu bungkus obat berbentuk tablet.
Sakura pun mengambil obat itu. "Memang sensei ada keperluan apa?" tanyanya.
"Sensei harus menyiapkan kendaraan untuk membawa Namikaze-kun ke rumah sakit. Kalau begitu, tolong, ya!" jawab Kurenai sambil berlari pergi.
"Chotto matte, Sensei!" cegah Sakura sebelum Kurenai terlalu jauh darinya.
Mendengar ucapan Sakura, Kurenai pun menghentikan langkahnya dan menatap Sakura. "Ada apa?" tanyanya.
Sakura terdiam sebentar sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Sensei, tolong beritahu aku mengenai penyakit yang diderita Menma" pinta Sakura dengan emerald yang menatap serius Kurenai—menuntut untuk diberi jawaban yang jujur.
Awalnya Kurenai merasa terkejut. Namun beberapa detik kemudian ia kembali tenang dan tersenyum kecut. "Kenapa kau tidak tanya saja pada Namikaze-kun sendiri?"
Setelah mengatakan hal itu, Kurenai kembali berlari pergi. Meninggalkan Sakura dalam pemikirannya yang tak ada ujungnya itu. Semuanya bertambah runyam. Banyak hal yang Sakura tak mengerti di sini. Tapi ia tak ingin memikirkannya dulu. Karena ia harus segera memberikan obat itu kepada Menma. Paling tidak rasa sakit Menma akan berkurang. Ia juga sudah tidak tega melihat Menma kesulitan bernafas seperti itu.
"Menma, bangunlah dan minum obat ini" ujar Sakura ketika ia telah tiba di tempat Menma berada. Yaitu ruang UKS.
Menma membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit. Memperlihatkan sapphire nya yang terlihat kelelahan. Keringat dingin masih mengalir deras. Tapi ia kini lebih tenang dan tak terlalu terlihat kesakitan seperti tadi.
Karena akan meminum obat, Menma pun mengganti posisinya menjadi duduk. "Arigatou" ujarnya sebelum menerima 2 tablet obat dari Sakura.
Sakura pun hanya tersenyum dan memberikan segelas air kepada Menma. Segera Menma minum air itu sampai habis setelah ia memasukkan 2 tablet obat itu ke dalam mulutnya. "Bagaimana? apa sudah merasa lebih baik?" tanya Sakura.
"Efek obat tidak akan secepat itu.." komentar Menma yang membuat Sakura malu sendiri.
"Tapi aku sudah merasa lebih baik, kok" lanjut Menma dengan sebuah senyum lembut di wajahnya. Sakura cukup terkesima melihat senyum yang begitu lembut itu menghias wajah Menma. Entah kenapa ia merasa ada kehangatan di dalamnya. Ini pertama kalinya ia merasakan kehangatan itu bukan dari Naruto, melainkan dari Menma.
"Oh iya! Aku sampai lupa!" seru Sakura untuk menyadarkan dirinya sendiri yang terlalu terkesima.
"Lupa apa?" tanya Menma bingung.
"Aku harus membuka jasmu. Juga melepaskan dasimu dan sedikit kancing kemejamu. Karena kau berkeringat dingin banyak sekali" tutur Sakura sebelum melepaskan jas Menma lalu melepaskan dasi yang Menma pakai. Tak lupa ia pun melepas beberapa kancing kemeja Menma. Semua itu membuat muka Menma menjadi semerah tomat segar.
"Eh, Menma? Apa sekarang kau jadi demam?" tanya Sakura begitu polosnya ketika melihat muka Menma yang semerah tomat segar itu.
Menma pun segera memalingkan mukanya. "Tidak"
"Tapi mukamu merah, lho" ujar Sakura sambil berusaha melihat muka Menma.
"Mu-mungkin karena kepanasan" kilah Menma.
Sakura pun memiringkan kepalanya—bingung. "Tapi bukankah aku sudah membuka jasmu dan melepas beberapa kancing kemejamu? Seharusnya kau sudah tidak kepanasan"
"A-aku tidak apa-apa" ujar Menma sebelum ia kembali pada posisi tidur dan menarik selimutnya sampai menutupi sekujur tubuhnya. Sakura merasa bingung dengan sikap Menma yang tiba-tiba ini. Tapi pada akhirnya ia hanya tersenyum. Karena sikap Menma ini sangat langka dan terkesan lucu.
Sayangnya senyum Sakura tak bertahan lama. Itu karena Sakura mengingat sesuatu. "Ne, Menma! Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Sakura.
"Hm" jawab Menma.
"Sebenarnya, penyakit apa yang kau derita?" tanya Sakura 'to the point', sebab ia tak mau terus tenggelam dalam ketidaktahuan.
Menma pun dengan perlahan menurunkan selimut yang menutupi kepalanya. Dia terkejut dengan pertanyaan Sakura. "Bukan penyakit parah" jawabnya bohong.
"Bohong" tuduh Sakura tepat sasaran.
"Aku tidak bo—..." Belum sempat Menma menyelesaikan kalimatnya, Sakura telah menyelanya.
"Kamu berbohong Menma!"
Menma terkejut mendengar seruan Sakura itu. Dia pun hendak mengatakan sesuatu, tapi ia urungkan niatnya itu ketika melihat Sakura seperti ingin mengatakan sesuatu. "Tadi aku mendengar pembicaraan Kurenai-sensei di telfon. Ia berbicara dengan seseorang yang ia panggil 'Namikaze-san'. Itu berarti dia sedang berbicara dengan ayah atau ibumu..."
Menma tak berniat menyelanya. "Lalu sepertinya ayah atau ibumu menyuruh Kurenai-sensei untuk membawamu ke rumah sakit. Itu berarti penyakitmu cukup parah. Aku juga mendengar Kurenai-sensei bertanya mengenai kesempatan hidupmu..."
"Dia juga mengatakan sesuatu tentang jantung yang cocok untukmu. Apa dengan semua yang ku ketahui itu kau tetap tak ingin memberitahuku mengenai penyakitmu dengan jujur?" tanya Sakura.
Menma pun menatap emerald Sakura. "Apa jika aku memberitahumu, kau akan mengasihaniku?" tanya Menma dengan sapphire yang menyendu.
Dia cukup terkejut dengan pertanyaan Menma. Tapi pada detik berikutnya ia hanya dapat menundukkan kepalanya. "Itu..." Sakura tak tau harus berbicara apa. Ia kehabisan kata-kata.
Melihat Sakura yang kebingungan membuat seringai di wajah Menma mengembang. "Aku hanya bercanda. Tak perlu dipikirkan" ujarnya. Sakura sedikit kesal mendengarnya. Dia pun ingin meluncurkan protesnya. Namun belum sempat ia protes, Menma telah menyelanya terlebih dahulu.
"Aku memiliki jantung yang lemah. Itulah penyakitku"
Sakura sangat terkejut mendengar perkataan Menma yang terlalu tiba-tiba itu. Dia memang tadi menanyakannya, tapi jika Menma mengatakannya seperti itu bagaimana dia tidak terkejut, kan? "Penyakit seperti itu, kenapa kau tidak memberitahukannya padaku? Bukankah penyakit itu bisa merenggut nyawamu?" pada akhirnya Sakura pun membuka mulutnya.
Menma hanya tersenyum kecut sebelum menjawab pertanyaan Sakura. "Memang bisa merenggut nyawaku dan mungkin saja sekarang waktuku tak banyak. Tapi aku ingin tetap dilihat orang sebagai orang normal sebelum penyakit itu merenggut nyawaku. Oleh karena itu aku tak memberitaumu atau teman-temanku. Hanya keluarga dan pihak sekolah yang tahu"
"Tapi bukankah ada banyak pengobatan yang mungkin saja bisa menyembuhkanmu?" tanya Sakura.
"Ya, itu benar. Aku pun telah mencoba menggunakan semua pengobatan itu. Tapi tak ada yang berhasil. Itu hanya menunda kematianku. Hanya ada 2 pilihan jika aku ingin tetap hidup" jawab Menma sambil melihat langit-langit ruang UKS.
"2 pilihan? Apa itu?"
Menma tertawa kecil. "Memang seberapa banyak yang ingin kau ketahui?"
Lagi-lagi dia dibuat terkejut oleh perkataan Menma. Dan lagi-lagi dia hanya dapat menundukkan kepalanya sebelum menjawab. "Sebanyak yang bisa ku ketahui. Karena aku ingin lebih dekat denganmu. Dengan kalian berdua. Kau dan Naruto. Karena kalian telah berhasil menggapaiku. Membuatku bisa lebih menikmati hidup. Tapi kalian berdua tak membiarkanku untuk menggapai kalian. Rasanya itu curang sekali"
"Aku tak tahu masalah apa yang tengah dihadapi oleh Naruto hingga ia menjauh dariku. Aku juga tak tahu mengenai penyakitmu. Aku jadi ingin tau, sebenarnya seberapa jauh jarak antara diriku dengan kalian?" oceh Sakura yang membuat Menma menyadari kalau ternyata dirinya dan Naruto telah banyak menyusahkan Sakura.
"Menggunakan jantung buatan atau melakukan transplantasi jantung" ujar Menma tiba-tiba.
"Eh?" Sakura terkejut. Karena lagi-lagi Menma mengatakannya dengan sangat tiba-tiba.
"Kau tadi bertanya tentang 2 pilihan itu, kan? nah, itu jawabannya" jelas Menma dan barulah Sakura mengerti.
"Jika memang ada pilihan seperti itu, kenapa kau tidak melakukannya?" tanya Sakura.
"Aku tidak ingin menggunakan jantung buatan" jawab Menma.
"Jika itu bisa membuatmu bertahan hidup, kenapa tidak?" Sakura bertanya lagi.
Mau tak mau, Menma pun menjawabnya, "Bukankah tadi aku sudah mengatakannya padamu. Aku ingin hidup normal. Apa menggunakan jantung buatan itu normal?"
"Kalau begitu kau bisa melakukan transplantasi jantung" saran Sakura.
"Ya, aku ingin melakukan itu. Tapi mencari jantung yang cocok itu sulit. Kalau pun ada yang cocok, orang itu masih hidup. Mana mungkin aku mengambil nyawa orang untuk diriku sendiri" balas Menma.
"Kata kamu ada yang cocok dan orang itu masih hidup. Siapa yang kau maksud?" tanya Sakura penasaran.
"Naruto" jawab Menma singkat. Tapi mampu membuat Sakura sangat terkejut. ia bahkan sampai tak bisa berkata apapun lagi. Naruto? Apa hanya Naruto?
Melihat perubahan ekspresi Sakura, Menma pun menyeringai kecil. "Tenang saja. Aku tak mungkin meminta Naruto untuk memberikan jantungnya padaku" ujar Menma.
"Hm. Aku tahu, kok"
Setelah kata-kata itu keluar dari bibir Sakura, suasana pun menjadi hening. Tak ada salah satu di antara mereka yang berniat untuk memecahkan keheningan. Hingga akhirnya bel pertanda istirahat pun berbunyi. Barulah setelah bel itu selesai berbunyi, Menma kembali membuka mulutnya. "Sudah saatnya istirahat, ya. Berarti dia akan segera datang kemari"
Sakura pun bingung dibuatnya. "Dia?"
"Ya, dia.."
SREKKK!
"Menma, ku dengar kau sa—..!" BUGH!
Sebuah bantal melayang ke wajah Naruto ketika pemuda itu baru saja menggeser pintu ruang UKS dan berseru keras. Pelakunya? Sudah pasti Sakura, kan?
"Berisik! Menma sedang sakit!" omel Sakura setelah bantal yang ia lempar berhasil mengenai wajah Naruto.
"Ck! Kenapa kau melempar bantal padaku, Sakura-chan?" tanya Naruto kesal sambil mengambil bantal yang baru saja Sakura lempar.
"Eh? Mungkin refleks karena kau yang tiba-tiba masuk dan membuat keributan" jawab Sakura seadanya. Karena ia sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba saja ia bisa bersikap seperti biasa dan melemparkan bantal itu kepada Naruto. Padahal beberapa hari yang lalu ia baru saja bertengkar dengannya.
"Tapi sepertinya refleks itu hanya berlaku kepadaku, ya?" Naruto pun melangkah masuk.
"Mmm" Sakura hanya dapat memalingkan mukanya. Karena perkataan Naruto itu mungkin ada benarnya. Tapi ia tak bisa mengatakannya.
"Tanpa kau mengatakannya pun, aku sudah tahu"
Naruto pun mengabaikan Sakura dan kembali terfokus kepada Menma. "Apa kau kesulitan bernafas lagi?"
"Hm. Tapi aku sudah merasa lebih baik" jawab Menma.
"Jangan bersikap sok kuat disaat seperti ini. Bukankah itu sudah ke tiga kalinya kau sesak nafas dalam seminggu ini?" Naruto menatap serius Menma.
"Kau sendiri, kenapa bersikap seolah kau adalah pahlawan tapi kenyataannya kau seperti pengecut" tutur Menma dengan nada dingin dan menusuk.
"Apa maksudmu?" tanya Naruto dengan nada kesal.
Menma tak langsung menjawabnya. Ia lebih memilih untuk memberi isyarat kepada Naruto mengenai Sakura daripada menjawabnya sekarang. Naruto pun mengerti apa maksud Menma. "Sakura-chan, gomen, bisakah kau tinggalkan kami berdua?" tanya Naruto.
Sakura yang tak mengerti apa-apa pun hanya dapat mengangguk pelan dan pergi meninggalkan Namikaze bersaudara itu berdua. Dia sekarang lebih memilih untuk kembali ke kelasnya. Walau ia telah terlambat untuk mengikuti pelajaran matematika yang ia sukai. Karena jelas, pelajaran itu telah berakhir. Yah, namun sebenarnya ia sendiri pun pasti tak akan dapat berkonsentrasi belajar dalam keadaan seperti ini. Masalahnya dengan Naruto saja belum berakhir dan sekarang penyakit Menma menambah beban pikirannya. Ia jadi bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Terlebih ia belum memberi Menma jawaban. Pertengakaran dirinya dengan Naruto dan keadaan Menma semakin membuat hatinya bimbang dalam menentukan pilihanya.
~:~:~:~:~:2Lfor1H:~:~:~:~:~
Sakura telah keluar dari ruang UKS dan kini hanya tinggal Naruto dan Menma saja. Suasana canggung dan menakutkan pun menyelimuti mereka berdua. Naruto yang serius menatap Menma dan Menma yang tidak peduli. Benar-benar suasana yang tak menyenangkan. Hingga akhirnya Naruto membuka mulutnya.
"Jadi apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Naruto.
"Kau sangat mengerti perkataanku" jawab Menma yang malah semakin membuat Naruto bingung.
"Aku benar-benar tak mengerti dengan perkataanmu" tutur Naruto.
Menma pun menatap serius Naruto. "Aku mendengarnya. Pertengkaranmu dan Sakura"
Pada awalnya Naruto terkejut mendengarnya. Namun detik berikutnya ia hanya menyeringai. "Jadi kau mendengar semuanya, ya"
"Hm"
"Bodoh, ya, diriku. Melakukan hal yang sama sekali bukan seperti sifatku" curhat Naruto sambil mendudukan dirinya ke atas kursi.
"Kau baru sadar kalau kau ini bodoh?" tanya Menma.
Naruto tertawa kecil. "Ya, ya, aku sadar kalau aku memang sangatlah bodoh"
"Naruto" panggil Menma.
"Hm?"
"Seperti yang kau ketahui, aku mencintai Sakura" ujar Menma tiba-tiba. Naruto pun sangat terkejut dengan penyataan Menma yang tiba-tiba ini. Ia memang sudah mengatahui hal ini. Tapi rasanya lebih menyakitkan mendengarnya secara langsung dari Menma.
"Kenapa tiba-tiba kau mengatakan itu?" tanya naruto.
"Aku ingin kau pun jujur padaku. Apa kau mencintai Sakura?" pertanyaan Menma meluncur bagai peluru yang langsung mengenai jantung Naruto dan membuatnya terhenti seketika.
"Tidak" jawab Naruto bohong. Tapi Menma menyadari hal itu. Dia pun segera bangkit dari posisi tidurnya dan meraih kerah baju Naruto.
"Berhenti melakukan hal yang bukan sifatmu. Di mataku kau menjadi semakin seperti orang bodoh. O, bukan. Di mataku sekarang, kau tak lebih dari pengecut!" rupanya Menma terpancing amarah.
Naruto ikut terpancing amarah. Dia pun melepaskan cengkraman tangan Menma dari kerah bajunya. "Tak masalah bagiku bila dianggap bodoh ataupun pengecut! Jika itu semua bisa memberimu kebahagian, kenapa tidak? Hanya ini yang dapat kulakukan!"
"Cih!" Menma berdecih kesal. Ia menjadi sangat kesal sekarang. Tapi ia berusaha bersabar. "Kebahagianku hanya dapat ku raih dengan tanganku sendiri. Bukan dari tangan orang lain! Dan berhentilah bersikap layaknya pahlawan! Memangnya aku tidak sadar kalau kau juga mencintai Sakura?!"
"Ya! Aku memang mencintai Sakura-chan! Aku sangat mencintainya! Aku bahkan ingin sekali menjadikannya milikku!" Kini giliran Naruto yang mencengkram kerah baju Menma dengan kuat.
Namun perlahan-lahan cengkraman Naruto melemah dan dia hanya memegang pundak Menma. "Tapi paling tidak biarkan aku merelakannya untuk menjadi milikmu. Karena aku tak bisa memberikan jantungku untukmu"
"Bukan kau yang tak bisa, tapi aku yang menolak jantungmu. Karena aku tak bisa merenggut nyawa saudara kembarku sendiri. Lagipula apa kau tak memikirkan perasaan orang tua kita? Salah satu anak mereka berhasil hidup, tapi anak yang lain meninggal dunia. Tak akan ada yang senang dengan hal itu" tutur Menma dan Naruto pun kembali duduk.
"Ck! Pada akhirnya kau pun bertindak seperti pahlawan. Tapi kau tak terlihat bodoh. Malah sebaliknya. Kau benar-benar terlihat keren. Ini sama sekali tidak adil" Naruto menatap Menma lembut dan tersenyum.
Entah kenapa Menma merasakan kehangatan dari mata dan senyum itu. Apa ini yang membuat Sakura lebih memilih Naruto daripada dirinya? Dia pun kini hanya dapat menyeringai dan menundukkan kepalanya. "Tapi di mataku, kau lah yang terlihat keren"
"Apa-apaan itu?" Naruto mendengus—mengejek.
"Kembali lah ke sifat aslimu. Berjuanglah untuk mendapatkan Sakura" tutur Menma.
"Eh?" Naruto menatap Menma tak percaya.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Sakura. Jadi, ayo, kita berjuang bersama untuk mendapatkan Sakura" ujar Menma yang semakin membuat Naruto merasa tak percaya. Karena ia tak pernah melihat Menma seperti ini. Rupanya Menma memiliki banyak sisi yang tidak ia ketahui. Tapi kini ia mengetahuinya dan itu membuatnya merasa senang.
"Siapa yang akan mendapatkannya tidaklah masalah" lanjut Menma.
Naruto tertawa kecil. "Gawat, kau terlihat sangat keren. Aku sampai tidak bisa menolaknya. Lagipula, aku sudah lelah bersikap seperti pengecut. Itu sama sekali bukan diriku. Aku lebih suka menjadi pejuang" tutur Naruto dan Menma menanggapinya dengan sebuah senyum tulus.
"Aku tidak akan mengalah, lho" ujar Naruto.
"Memangnya aku berniat seperti itu? Tentu tidak, kan?" balas Menma dan Naruto hanya tertawa. Tapi tiba-tiba saja ia menepuk jidatnya.
"Aku lupa! Aku kan berniat mengantarmu ke rumah sakit. Karena mesin mobil Kurenai-sensei sepertinya sedang rusak. Jadi dia sekarang sedang pergi memperbaikinya" seru Naruto.
Menma pun menyeringai—mengejek. "Baka"
~:~:~:~:~:To be Continued:~:~:~:~:~
Yooooo, minna! O genki desu ka?
Shizu menepati janji Shizu untuk update hari ini... horeeee
Bagaimana cerita di atas? Bagus, nggak? Bagus, ya! Bagus, ya! Bilang bagus, nggak?! #nodongin pistol (readers : *ambil HP, telfon polisi*) Shizu bercanda, kok... #senyum semanis mungkin
Oh iya! Mengenai penyakit Menma itu, kalian tidak akan terlalu terkejut jika menyadari pancingan-pancingan Shizu di chapter-chapter sebelumnya. Karena Shizu sudah memberi beberapa tanda yang mengarah ke sini. Walau nggak terlalu banyak. Selain itu, Shizu mau menginformasikan kalau chapter depan 'mungkin' adalah chapter terakhir! YEEEE! Jadi jangan lewatin, ya...
kalian sudah penasaran lanjutannya, kan? Jadi Jumat depan kalian harus segera beli kuota—buat yang nggak punya kuota—terus nyalakan internetnya ketika malam—Shizu biasa update malam—Dan baca, deh... semoga nanti nggak ngecewain deh, akhirannya...
OK! Sekian curhat Shizu yang penting—bagi Shizu. sekarang tibalah saatnya balas-balas review! Hore!
Nagase Arisa Iya, tuh..rumit masalahnya... arigatou, Shizu akan berjuang! Paijo Payah tapi alesannya beneran, lho..tapi kalau emang mengganggu, gomen... sebentar lagi tamat, kok.. ara dipa Iya, keren banget... Guest belum nih.. Sakuranya masih bimbang.. Harukaze Kenjou udah lanjut, nih... Aiko iya, rumit... arigatou Nofita817 udah lanjut, kok... Writer fic Iya, Shizu akan terus bersemangat melanjutkannya... arigatou.. Dulahan sekarang tahu, kan, alasan Naruto jadi seperti itu... tapi sekarang dia udah kembali jadi pejuang cinta, lho... Aion sun rise iya, tambah rumit.. Alvin Wilson Arigatou! Shizu tetap semangat, kok! Ryutocchi udah lanjut... Guest udah lanjut, nih...
Selesai, deh... OK! Sampai jumpa di chapter depan! Jaa! Mata ashita!
=0=0=0=0=ARIGATOU=0=0=0=0=
=0=0=0=0=SAYOUNARA=0=0=0=0=
