I Hate You / I Love You
Chapter 6
Desclaimer: Masashi Kishimoto.
Warning: Alur Flash, OOC, Typo(s), etc.
Rated: M
.
PLEASE, DON'T LIKE DON'T READ
PLEASE, DON'T LIKE DON'T READ
PLEASE, DON'T LIKE DON'T READ
PLEASE, DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
Enjoy…
.
I Hate You / I Love You
.
.
3 Bulan kemudian
.
International Konoha Hospital.
.
Seperti biasa, ketika Sakura tengah membereskan meja kerjanya karena waktu sudah menunjukan jam pulang terdengar suara pintu ruangannya diketuk.
Sakura mau tak mau sudah hafal siapa yang mengetuk pintu ruangannya, yang jelas bukan sahabat baiknya Ino karena ia sudah pulang satu jam lebih dulu daripada dirinya.
"Sasori." Sakura tersenyum mendapati seseorang dibalik pintu ruangannya, seseorang yang sama, yang selalu mengetuk pintu ruangannya setiap jam pulang semenjak ia kembali bekerja.
"Kita pulang bersama?" ajak Sasori seperti biasa.
"Maaf, kali ini sepertinya tidak bisa, aku harus belanja beberapa bahan makanan dulu di Minimarket." tolak Sakura halus.
Sasori memasang raut kecewa dan mencoba untuk menawarkan diri menemani Sakura berbelanja meski sedikit memaksa.
Namun Sakura tetap saja menolak dengan sopan.
"Baiklah, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungiku." dengan anggukan kecil dan senyuman dari Sakura, pria yang baru menyandang status Duda seminggu yang lalu itu pun berlalu pergi.
Sakura menghela napas ketika melihat punggung Sasori telah menghilang di tikungan koridor Rumah Sakit.
Selalu begini, pria itu selalu saja berada didekatnya jika mereka mendapatkan Shift yang sama, mengajaknya makan siang dan makan malam bersama juga tak jarang mengajak Sakura pulang bersama.
Sakura sebenarnya tak ingin menerima, tapi paksaan dan tatapan memohon dari pria tersebut benar-benar membuatnya tak kuasa menolak.
Dan Sakura sadar betul apa yang ia lakukan salah, bagaimanapun keadaan rumah tangganya ia tetap saja seorang wanita yang sudah bersuami bahkan sekarang sedang berbadan dua.
Terlihat sering bersama seorang pria yang bukan suaminya sungguh bukanlah hal yang baik. tapi tak dapat dipungkiri bahwa ia merasa sedikit nyaman berada didekat Sasori karena selama ini ia selalu jadi teman curhat setianya selain Ino sahabat kentalnya tentu saja, apalagi sekarang ia sering sendirian di Rumah mengingat sang suami kini sedang sibuk dengan pekerjaannya dan mengharuskannya meninggalkan Sakura minimal seminggu sekali, minggu ketiga bulan ini saja jika dihitung-hitung total Sasuke hanya lima hari beristirahat di Rumah, jadi tentu saja ia senang bisa mendapat seorang teman yang baik di Rumah Sakit, yang bisa diajak ngobrol kesana kemari selain sahabat baiknya Ino.
Meski jujur ia merasa sedikit takut jika suatu saat Sasuke memergoki mereka berdua.
Seperti waktu itu, yang berujung pada dirinya dan sang calon bayi yang hampir celaka.
Takut?
Sakura menggelengkan kepalanya.
Untuk apa dia takut, Sasuke hanya seorang suami yang tak pernah dicintainya, pernikahan mereka hanyalah sebuah status belaka yang bahkan Sakura sendiri yakin tak akan –dan tak ingin- bertahan lama.
Jadi ia berhak dekat dengan siapapun termasuk dengan Sasori.
Dan dengan dagu yang terangkat ia kemudian melenggang santai meninggalkan Rumah Sakit.
.
.
.
Sepasang sepatu yang nampak familiar tergeletak di raknya ketika Sakura sampai di Apartment, tak perlu repot-repot untuk mencari tahu –dan mengucapkan salam- ia segera melangkah menuju dapur untuk menaruh barang belanjaannya.
Sasuke sedang duduk di ruang Tv dengan sebuah Laptop yang menyala di atas meja juga beberapa tumpuk dokumen disana, ia masih terlihat tampan meski hanya dengan celana rumahan berbahan ringan dan kaos putih ketat berlengan pendek –membuat bentuk tubuh tegapnya tercetak jelas disana-, sebuah kacamata minus yang bertengger dihidung mancungnya menambah nilai plus akan ketampanannya.
Ia memperhatikan Sakura yang nampak kepayahan membawa tiga kantung plastik besar sendirian.
Dilihatnya sang Isteri sedang memasukan berbagai macam sayuran dan daging kedalam kulkas sambil sesekali bersandar pada meja Pantry, mengusap perutnya yang sekarang terlihat membuncit dikarenakan usia kehamilannya yang telah menginjak empat bulan.
Sasuke melepas kacamatanya dan bangkit menghampiri sang Isteri.
"Istirahatlah." titahnya seraya mengambil sekantung Pasta beku dari tangan sang Isteri.
Sakura menurut dan meninggalkan Sasuke menuju ke kamar setelah sebelumnya memberi tatapan sinis pada sang Suami.
1 jam kemudian Sakura keluar dari kamar dengan memakai Longdress tidurnya, barang belanjaannya sudah dirapikan sang Suami yang kemudian kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Sedikit lega mengetahui Sasuke sudah pulang karena sudah lima hari ia di tinggal sendirian.
Sekarang setidaknya ia tidak merasa sendirian lagi disini meski entah untuk berapa lama.
"Aku sudah memesan makanan diluar jadi kau tak perlu memasak makan malam." Sasuke bersuara ketika dilihatnya gelagat sang Isteri hendak menuju dapur, Sakura menghentikan langkahnya, berbalik dan memilih untuk duduk di sofa ruang Tv bersebrangan dengan Sasuke.
.
.
Hening.
.
.
.
Hanya ada suara ketikan jari Sasuke pada Laptop-nya dan suara Tv yang dikecilkan.
Sasuke begitu serius berkutat dengan pekerjaannya meski sesekali terlihat jengkel karena kacamata yang dipakainya hampir selalu merosot –maklum meja di ruang Tv memang jauh rendah-, membuat Sakura mau tak mau tersenyum kecil melihatnya.
Entahlah, usia kehamilan yang semakin bertambah membuatnya sedikit lunak terhadap Sasuke, meski terkadang mereka masih sering bertengkar atau lebih tepatnya Sakura yang mengajak bertengkar.
–Ini memang karena hormon kehamilan, batin Sakura meyakinkan untuk kesekian kalinya.
.
.
Kriiiing…..
.
Dering telepon dinding yang berada di samping pintu kaca menuju balkon menginterupsi keheningan mereka berdua.
Sasuke menahan Sakura untuk mengangkat telepon.
.
'Moshi-moshi Sakura?' suara maskulin seorang laki-laki terdengar ketika Sasuke mengangkat gagang telepon.
Sakura mengernyitkan dahinya heran.
'Ini aku, Sasori.'
Jantung pria tersebut bergemuruh mengetahui siapa si penelepon, hatinya terasa perih terbakar cemburu.
Tanpa berkata apa-apa lagi ia segera melepaskan gagang teleponnya dan berjalan menghampiri Sakura yang terlihat keheranan.
"Temanmu." ujar Sasuke singkat pada Sakura dan kembali duduk di sofa.
Sakura yang bingung menatap perubahan raut wajah Sasuke segera bangkit menuju telepon, gagangnya terlihat menggantung hampir menyentuh lantai.
"Halo." Sakura membuka suara.
'Sakura,'
Ahh–
"Sasori."
–Itulah yang membuat Sasuke terlihat begitu kesal.
Tanpa memperdulikan Sasuke yang terlihat kesal Sakura mulai mengobrol dengan Sasori lewat telepon, membuat Sasuke ingin sekali melempar sesuatu.
Sasuke bukannya tak tahu tentang kedekatan sang Isteri dengan pria Duda tersebut meski beberapa bulan terakhir ini ia selalu sibuk bekerja dan mengharuskannya keluar Kota bahkan keluar Negeri.
Ia harus berterima kasih pada Karin, karena berkat bantuan Sekretaris sekaligus teman baiknya itu ia dapat mengetahui keadaan sang Isteri.
Yah, Karin menyewa seseorang untuk memata-matai kegiatan sehari-hari Sakura sementara Sasuke dinas keluar.
Dan hasilnya?
Selalu bisa membuat Sasuke memecahkan setidaknya tiga gelas cangkir kopi dimanapun ia berada, membuat Karin sekarang mengganti cangkir-cangkir kopi tersebut dengan gelas plastik setiap kali Sasuke meminum kopi meski sempat mendapat protes keras dari pria tersebut.
Sebenarnya juga sudah sejak awal Sasuke ingin mendatangi Sasori untuk menghajarnya habis-habisan karena sudah berani mendekati Sakura, namun Karin selalu melarangnya.
"Tunggu waktu yang tepat, lagipula tak ada yang terlihat mencurigakan dari sikap pria itu."
Kata-kata Karin terngiang di ingatannya.
"Tunggu sampai ia berbuat ulah."
–Tapi sampai kapan, batin Sasuke kesal.
Mengetahui pria tersebut selalu mencari kesempatan untuk bersama sang Isteri saja sudah membuatnya panas, apalagi yang harus ia tunggu? Kalau ia tak segera bertindak, Sakura bisa saja benar-benar akan jatuh kedalam pelukan pria brengsek itu, pikirnya.
.
.
.
"Kalian tampak akrab." ujar Sasuke tiba-tiba, membuyarkan keheningan makan malam mereka.
Sakura masih terlihat asyik meneruskan makannya, sama sekali tak mengindahkan perkataan Suaminya.
Melihat itu Sasuke berdehem pelan.
"Seharusnya kau jangan terlalu akrab dengan pria itu." lanjut Sasuke.
"…"
"Aku tak suk-"
TAKK..
Sakura meletakkan sumpitnya dengan kasar ke atas meja.
"Bukan urusanmu!" Mood makannya benar-benar sudah hilang sekarang.
"Aku mengajakmu bicara baik-baik Sakura." ucap Sasuke kalem, mencoba bersabar walau sejujurnya ia tak bisa menahan diri sekarang.
"Aku bilang bukan urusanmu!" Sakura menatap Sasuke garang yang juga sedang menatap dirinya.
"…"
"Kau tak berhak melarangku dekat dengan siapapun." lanjutnya.
"Aku tak melarangmu–"
"Aku bilang aku tak perduli!" Sakura memotong perkataan Sasuke.
Sasuke diam tak bereaksi, matanya hanya menatap dalam Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Status Suami-Isteri tak akan pernah mengubah apapun yang sudah ada, kau tetap orang asing untukku!" Sakura masih menatap Sasuke garang, matanya terlihat sudah memerah dan berkaca-kaca.
"….."
"ORANG YANG AMAT KU BENCI DAN KAU HARUS SELALU INGAT ITU!"
DEG!
Dengan teriakan terakhirnya Sakura segera pergi dari sana meninggalkan Sasuke yang termangu mencerna ucapan sang Isteri.
Sekelumit perasaan menusuk bagai dihujam pedang tak kasat mata menghampirinya.
Dadanya bergemuruh sakit mendengar kalimat terakhir Sakura.
Kedua tangannya yang berada diatas meja mengepal keras hingga membuat buku jari-jarinya terlihat memucat.
–Damn, batinnya geram.
Oksigen seolah tersedot habis disekitarnya, membuat pria tampan itu nampak kesusahan untuk sekedar menarik napas.
"U…uhk."
Sesak sekali.
Satu tarikan napas terasa begitu menyulitkannya.
Tangan kanannya senantiasa mencengkram penuh-penuh kaos di dadanya sementara tangan kirinya meremas kuat helaian Raven yang menjuntai lemas dengan frustasi.
Kalimat terakhir Sakura benar-benar bergerilya dipikirannya.
.
.
.
"Status Suami-Isteri tak akan mengubah apapun yang sudah ada, kau tetap orang asing untukku."
.
.
.
"ORANG YANG AMAT KU BENCI DAN KAU HARUS SELALU INGAT ITU!"
.
.
.
Tesss…
.
.
Setetes cairan bening mengalir dari sudut matanya.
Keluar sudah sisi lain dari dirinya.
Runtuh sudah tembok pertahanan diri yang selama ini mati-matian dibangun olehnya.
Karena bagaimanapun dinginnya ia diluar, ia juga hanyalah seorang manusia biasa yang masih memiliki hati.
.
–Shit!
.
-I Hate You / I Love You-
.
Pagi datang terasa begitu cepat.
Sakura menggeliat pelan sebelum akhirnya membuka mata.
Masih terlihat sangat jelas jejak-jejak airmata disana.
Kepalanya menoleh kesamping tempat tidurnya.
Kosong.
Kenyataan bahwa suaminya tidak tidur bersama dikamar membuat perasaan entah apa hinggap mengerubungi.
.
.
Sakura telah siap berangkat ke Rumah Sakit pagi ini.
Wajahnya nampak lebih segar meski matanya masih terlihat membengkak karena menangis semalaman.
Dirinya telah siap membuka pintu keluar ketika terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dilihatnya Sasuke sudah rapi dengan celana Jeans dan kaos biru mudanya.
"Aku antar." Sakura mengernyit mendapati nada suara Sasuke berubah padanya.
Sasuke pagi ini terlihat sangat berbeda dari biasanya, entah itu hanya perasaan Sakura saja atau memang bahasa tubuh dan raut wajah Sasuke kembali seperti saat mereka sekolah dulu.
Tatapan setajam elang dan dingin dengan aura gelap menguar disekitarnya.
"Tak perlu." jawab Sakura setelah menemukan kembali kesadarannya, mencoba untuk tidak memperdulikan perubahan yang terjadi pada Suaminya itu.
Sasuke menatap tajam Sakura dengan pandangan yang sangat sulit diartikan, membuat Sakura kembali mengernyit heran melihatnya.
Ia kenapa?
"Aku berangkat bersama teman." Sakura mencoba untuk memberi alasan (yang tentu saja alasan bohong) tanpa memperdulikan dampak yang terjadi pada Sasuke mengingat sang Suami pasti tahu siapa yang dimaksud Teman oleh dirinya.
"Sasori, eh?" Sasuke menyeringai.
Sakura diam memasang wajah tak perduli meski entah kenapa hatinya mulai gelisah sekarang.
"Apa susahnya menjauh dari pria brengsek itu?" dengan nada suara yang lebih dingin Sasuke masih setia memandang tajam Sakura yang hendak membuka pintu.
"Siapa yang kau maksud brengsek?" tanggap Sakura cepat seraya menolehkan kepalanya tanpa membalikan tubuhnya.
Memandang Sasuke tajam, nampak tak terima teman baiknya dihina.
"Oh, jadi kau sudah berani membelanya sekarang?" Sasuke mendengus, seringainya terlihat makin lebar.
"Karena dia tak seperti yang kau bayangkan," jawab Sakura dengan pandangan sengit, "dan aku sedang malas bertengkar denganmu sekarang, aku pergi!" lanjutnya.
.
Grebb!
Tangan kiri Sakura ditahan Sasuke, pria itu membalikan tubuh sang Isteri, membuat mereka serta merta saling berhadapan.
"Apa maumu?" desis Sakura berusaha melepaskan cengkraman tangan Sasuke pada pergelangannya.
"Kau jelas tahu apa mauku." Sasuke menatap Sakura tajam, cengkraman tangannya semakin mengerat.
"Dia temanku." ujar Sakura dingin, mencoba menahan ringisan akibat pergelangan tangannya yang terasa sakit.
Mereka saling menatap dengan pandangan sedingin es.
"Kau menyukainya, eh?" pertanyaan Sasuke membuat Sakura mengernyit, suaminya ini sudah berpikiran yang tidak-tidak terlampau jauh rupanya.
Jelas-jelas mereka hanya berteman, itulah yang dipikirkan Sakura.
Tak ada kata apapun yang terlontar dari mulut sang Isteri membuat pria itu memasang raut wajah kesal dan kecewa.
Isterinya tak menyangkal, pikirnya.
"Seharusnya kau tahu diri!" desis Sasuke sambil mengencangkan kembali cengkramannya pada tangan Sakura.
Deg!
"Aku tentu tahu diri, Uchiha!" seakan mendapatkan kembali kekuatannya Sakura membentaknya keras seraya menyentakan tangannya, matanya menatap nyalang Sasuke tanpa memperdulikan rasa sakit yang mendera pergelangan tangannya yang sudah terlepas dari cengkraman Sasuke.
Ia tak habis pikir mengapa Suaminya tega berkata seperti itu padanya, ia tentu merasa sangat tersinggung, kata-kata Suaminya seakan memojokan dirinya, menganggap dirinya wanita rendahan tak tahu diri yang berselingkuh.
"Apa yang aku tahu tak seperti apa yang kau katakan dan berhenti memanggilku Uchiha!" pertahanan Sasuke lepas, ia balas membentak Sakura jauh lebih keras, sedangkan Sakura nampak terlihat Syok, ini pertama kalinya sang Suami ikut marah, biasanya Sasuke selalu mengalah apabila mereka sedang bertengkar.
Kali ini nampaknya sang Suami benar-benar ingin melepaskan semuanya.
Dan apa yang dimaksud dengan ia tahu disini sedangkan ia sendiri sering pergi keluar meninggalkan rumah?
Instingnya akhir-akhir ini yang merasa selalu diperhatikan mungkinkah karena ia dimata-matai oleh orang suruhan Sasuke?
"Jadi begitu ya?," Sakura memandang sinis Sasuke, "perasaanku yang merasa selalu diperhatikan akhir-akhir ini jadi karena kau." lanjut wanita hamil tersebut, Sasuke tak menjawab, perubahan terlihat diraut wajah tampannya.
"Tolong, berhenti memanggilku Uchiha," Sasuke merendahkan nada suaranya, tak memperdulikan pertanyaan dari Isterinya, "hormati aku sebagai suamimu, Uchiha Sakura." lanjut Sasuke dengan penekanan pada nama Sakura.
Sakura sedikit tersentil, semenjak menikah Sakura memang tak pernah sudi memanggil nama kecilnya, ia hanya mau memanggil nama kecil Sasuke saat mereka sedang berkumpul dengan keluarga mereka.
Sasuke sendiri sebenarnya merasa sangat kesal setengah mati mengetahui sang Isteri dengan entengnya memanggil nama pria brengsek itu dengan nama kecilnya, benar-benar membuat hati si calon Ayah itu makin meradang.
"dan kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya." Sasuke menatap Sakura dengan lebih lembut.
"Bukan urusanmu."
"….."
"Ku katakan pun kau tak akan percaya." dengan segera Sakura melangkahkan kakinya cepat menuju pintu dan membukanya, namun lagi-lagi Sasuke kembali berhasil menangkap pergelangan tangan kirinya.
"Lepaskan, aku ing–"
Mata Sakura membelalak , pasalnya sang Suami dengan cepat membalikan tubuhnya dan menarik Sakura kedalam dekapannya, perut buncit Sakura sama sekali tak menghalangi Sasuke untuk mendekap wanita itu erat meski ia sedikit berhati-hati.
Deg!
Jantung Sakura bergemuruh ketika Sasuke secara tiba-tiba menempelkan bibirnya pada bibir tipis sang Isteri.
Deg!
Deg!
Deg!
Tubuh Sakura bagai tersengat aliran listrik, membuatnya entah kenapa tak dapat bergerak barang sedikitpun sekarang, bahkan untuk memejamkan matanya pun ia tak mampu.
Dengan lembut Sasuke meletakan tangan kiri Sakura yang berada digenggamannya pada dada bidang miliknya tepat dimana detak jantungnya berada, mencengkram lembut tangan sang Isteri yang berada diatasnya, memberi pernyataan tak kasat mata bahwa ia begitu sangat mencintai wanita itu meski rasanya amat sangat sakit.
Sedang tangan kirinya mengambil lembut tangan Sakura yang terkulai lemas disamping tubuh mungilnya, menuntun tangan itu untuk berpegang pada pinggang kokoh miliknya yang anehnya Sakura tak dapat menolak sama sekali.
Badan si calon Ibu muda itu masih terasa kaku, sensasi aneh membuat jantungnya bergemuruh hebat, apalagi posisi mereka yang masih berciuman dengan mata tak tertutup seperti ini, matanya masih membelalak menatap sang suami yang juga sedang memandang dirinya tak berkedip sedikitpun.
Sakura bisa merasakan bibir sang Suami yang terasa begitu dingin meski tubuh suaminya terasa hangat.
Deg!
Deg!
Deg!
Mereka masih saling menatap dengan mempertahankan posisi seperti itu, sama sekali tak menyadari bahwa suara detak jantung mereka yang bergemuruh terdengar saling beradu dalam tempo yang sangat cepat.
Deg!
Deg!
Dengan perlahan tangan kiri Sasuke naik mengelus pipi Sakura setelah kemudian merayap memegang belakang leher sang Isteri.
Sakura tersentak melihat setetes muara bening jatuh dari sudut mata kiri Suaminya seiring terpejamnya mata tersebut, Sakura dapat merasakan Sasuke mulai menciumnya lebih dalam.
Perasaan sesak hinggap ketika mendapati setetes muara bening kembali turun dari sudut mata Suaminya.
Sasuke yang ia kenal adalah seorang pria dingin kini memperliharkan sisi sensitive-nya.
Sasuke makin mengeratkan pegangan dilehernya dan makin memperdalam ciumannya.
Sensai aneh yang entah apa menjalar memenuhi rongga dada Sakura, ia jelas menyangkal penuh-penuh sensasi memabukan yang ditawarkan Suaminya.
Namun sesaat kemudian tanpa sadar ia ikut memejamkan matanya, tangan kiri yang memang sudah bertengger didada bidang suaminya terlihat mencengkram lebih kencang–
–dan lebih kencang.
.
.
.
.
.
Ino yang sudah lama mengenal Sakura sebagai sahabat baiknya tentu saja langsung tahu jika ada sesuatu yang salah pada diri sang sahabat.
Termasuk sekarang ini.
Seharian ini Ino melihat Sakura cenderung pendiam dan tak banyak bicara, wajahnya terlihat tak bersemangat bahkan ketika sedang memeriksa beberapa pasiennya, padahal yang ia tahu sahabatnya sangat menyukai anak-anak dan selalu nampak antusias jika bertemu dengan para pasien mungilnya.
Keyakinan Ino semakin menjadi tatkala beberapa kali memergoki Sakura yang melamun ketika berjalan hingga lupa letak ruangannya berada, pula ketika melihat kedua mata Sakura sedikit gelap dan membengkak.
Jelas, memang ada yang salah dengan sahabatnya hari ini.
Maka disinilah mereka sekarang, di sudut kantin lantai tiga Rumah Sakit yang nampak sepi, Ino mengajak –lebih tepatnya menyeret- Sakura untuk memaksa sekedar memberitahu setidaknya alasan mengapa ia begitu berbeda hari ini.
Penolakan mati-matian Sakura tak menyurutkan sedikitpun niat Ino untuk mengoreksi informasi langsung dari dirinya.
Menyerah, Sakura pun dengan terpaksa menceritakan kejadian sebelum ia berangkat ke Rumah Sakit pagi tadi, sekaligus kejadian semalam.
Sebenarnya Sakura bukannya merasa keberatan untuk bercerita pada Ino mengingat mereka adalah sahabat baik yang sudah saling mengetahui kehidupan masing-masing.
Tapi jujur saja tadinya ia berniat untuk menyimpannya terlebih dahulu, tapi sepertinya gagal mengingat wajahnya memang tak bisa menyembunyikan sesuatu.
-Wajahku terlalu transparan, batinnya sambil memegang pipi.
Sementara Sakura bercerita Ino terlihat menganga dan tak berkedip ataupun menyela barang sedikitpun, Indera pendengeran dan penglihatannya benar-benar fokus pada Sakura, mendengarkan apa-apa saja yang keluar dari mulut sang sahabat, meskipun hanya intinya saja namun ia sudah bisa membayangkan jalan cerita Sakura.
"Jadi," Ino menemukan kembali suara ketika melihat Sakura telah selesai bercerita, " setelah tersadar kau menampar dan mendorongnya hingga jatuh setelah itu pergi berlalu begitu saja?" lanjut wanita cantik tersebut.
Mendengar kalimat Ino yang gamblang seperti itu Sakura jadi merasa seperti telah melakukan sesuatu hal yang sangat kejam sekali.
Tapi tetap membenarkan dengan anggukan kecilnya.
"Err…boleh ku simpulkan sesuatu atas ceritamu tadi Sweetheart?" Ino kembali membuka suara.
"Tak perlu," Seloroh Sakura, "Aku tahu apa yang ingin kau katakan Dear." lanjutnya cuek.
"Haissshh.. kau ini, memangnya apa yang mau ku katakan? sesuatu yang menyebalkan bagimu begitu." ujar Ino pura-pura tersinggung.
"Tepat sekali." jawab Sakura singkat yang langsung mendapat delikan kesal dari Aquamarine Ino sesaat kemudian terlihat mengikik tertahan, membuat Sakura mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Ku rasa kau belum menyadari atau tepatnya tak mau menyadari bahwa kau sudah mulai membuka hatimu lagi untuknya, Forehead." Ino menatap Sakura lembut.
"….."
"Karena dari ceritamu tadi tentang, emm.. yah, kau tahulah maksudku." Ino membuat pola berciuman dengan kedua tangannya, membuat Sakura membelalak dengan rona merah terpampang manis diwajah cantik si calon Ibu tersebut. Ino kembali mengikik.
"Well, walaupun berakhir dengan tidak elit tapi aku rasa kau memang sudah tak sekeras dulu padanya." rona diwajah Sakura semakin menggelap.
Ia tak tahu yang dikatakan Ino benar atau tidak karena ia sendiri tak mengerti apa yang ia rasakan sekarang.
Disatu sisi ia begitu membenci Sasuke tapi disisi lain ia merasa ada suatu gelombang perasaan aneh entah apa itu.
"Ku rasa ini karena Hormon ku semenjak hamil Pig, makanya aku sedikit lunak padanya."
Ino memutar matanya.
-Masa? aku tak yakin, batinnya sedikit jengkel.
Sahabatnya yang satu ini memang terkenal keras kepala dan agak sedikit er… Munafik mungkin, atau memang ia masih belum menyadarinya.
Ahh, memikirkannya saja sudah membuat ia pusing sendiri.
"Terserahlah apa katamu yang jelas kau harus mencoba untuk melunakan hatimu dan menerimanya sayang, dengan begitu aku yakin kau akan bisa mencintainya kembali seperti dulu, ingat kalian akan segera memiliki bayi." Ino menasihati.
"Itulah yang kutakutkan Pig, aku takut terjatuh lagi, perlakuannya beberapa tahun lalu sudah cukup membuatku Trauma dan muak pada suatu hal yang berkaitan dengan perasaan." ujar Sakura sedikit lesu.
Ino menatap Sakura sedikit perihatin, ia masih ingat betul kejadian dulu saat mereka masih sama-sama duduk dibangku sekolah.
Bagaimana Sakura berusaha mati-matian menyembunyikan perasaan sukanya pada Sasuke, mentransformasikan rasa sukanya menjadi cinta yang tak pernah mampu ia ungkapkan, sampai pada akhirnya Sasuke meminta Sakura menjadi kekasihnya yang ternyata hanya untuk menjadikan gadis (saat itu) tersebut sebagai bahan taruhan atas mobil mewah kepunyaan laki-laki tersebut yang disita temannya.
Ia sungguh mengerti perasaan sakit yang dialami Sakura karena perasaannya memang tak main-main saat itu.
Tapi tidakkah itu sedikit keterlaluan jika sampai sekarang Sakura masih menyimpan sakit hatinya padahal jelas-jelas kini semua sudah berbeda.
Ino menghela napas frustasi.
"Bagaimana dengan Sasori?" tanyanya kemudian.
"Bagaimana apanya?" Sakura balik bertanya, bingung sendiri mengapa tiba-tiba nama Sasori disebut.
"Apa Sasuke tahu kau semakin dekat dengan pria itu?"
Sakura terdiam sebentar.
"Sepertinya."
"….."
"Kecurigaanku yang akhir-akhir ini merasa seperti sedang diawasi sepertinya benar karena tadi dia mengatakan bahwa apa yang ia ketahui tak seperti apa yang aku katakan."
Ino berpikir sejenak.
"Well, harusnya kau memang jangan terlalu dekat dengannya Forehead sayang."
"Aku sudah dengar itu." gerutu Sakura yang tak ditanggapi Ino.
"Kau tahu suamimu bisa melakukan apapun." Ino menatap Sakura agak Horror.
"Tapi kami hanya berteman, aku memang merasa sedikit nyaman didekatnya tapi itu tak lebih dari sekedar perasaan nyaman sebagai seorang teman, Dear." Sakura meyakinkan Ino.
"Aku percaya kau tak akan terjerat, tapi Sasori? aku tak yakin, aku merasa ia mempunyai maksud." Ino menatap Sakura serius.
"Kisahmu sudah rumit dan aku tak ingin kau mengambil resiko dengan melibatkan orang ketiga Sweet."
Sakura membelalakan matanya.
"Apa maksudmu! itu tak mungkin Ino, selama ini tak ada yang aneh dari gelagatnya."
Ino memutar bola matanya jengah, Sakura benar-benar menyukai berteman dengan Sasori, terbukti dari pembelaannya.
"Yeah, terserahlah." selorohnya malas.
"Kali ini kau menang dariku, aku lelah berdebat denganmu." Sakura memasang tampang cemberut.
"Daripada itu, bagaimana keadaan si kecil?" Ino mengerling pada perut buncit Sakura.
"Ahh…" Sakura reflek mengusap perutnya.
"Dia baik-baik saja." raut wajahnya terlihat senang.
"Lalu bagaimana? kau jadi berhenti bekerja mulai bulan depan?" tanya Ino penasaran.
"Yah, mau bagaimana lagi, aku tak bisa mengambil cuti sedangkan aku baru bekerja disini sayang, lagipula Ibu mertuaku bersikeras menyuruhku istirahat dirumah dan aku memang ingin fokus mengurusnya."ujarnya sambil menunduk menatap sayang perutnya.
"Kau menyesal?–"
"….."
"–maksudku, berhenti padahal kau baru memulai karir menjadi Dokter."
Sakura tersenyum lembut menatap Ino.
"Awalnya ya, tapi kemudian aku berpikir untuk apa menyesal jika harus berkorban untuk anakku sendiri, lagipula berhenti bukan berarti aku tak bisa berkarir lagi nanti bukan?"
Ino tersenyum seraya menepuk-nepuk salah satu tangan Sakura yang berada diatas meja.
"Inilah yang ku suka darimu Sweetheart, kau begitu dewasa dan ku harap kau juga bisa menerapkannya pada rumah tanggamu." mereka saling melempar senyum kemudian.
.
.
.
Tak ada tanda-tanda keberadaan sang suami ketika Sakura sampai di Apartment, meski sepatu dan tas kerja pria tersebut masih tergeletak manis ditempatnya.
-Ia tak kerja, batin Sakura ketika melihat sepasang sepatu perginya tak berada di rak sepatu.
Langkah wanita tersebut terlihat lemas.
Ia segera mendudukan dirinya di Sofa.
Semenjak hamil, berat badannya yang agak bertambah membuat ia sering merasa kelelahan, napasnya sedikit terengah.
–di Rumah Sakit hari ini benar-benar hari yang melelahkan,batin wanita hamil tersebut.
Tanpa memperdulikan dirinya yang belum membersihkan diri dan berganti pakaian ia mulai melemaskan tubuhnya.
Pandangannya menggelap seiring dengan napasnya yang mulai teratur, ia tidur.
.
.
.
Naruto terlihat termenung mendengar cerita sahabat kentalnya, Sasuke.
Sejujurnya ia tak bisa memberikan solusi tepat untuk masalah yang dihadapi sahabatnya karena memang ia baru satu bulan menjalani rumah tangga bersama Hyuuga Hinata, dan tentu saja ia tak mengharapkan rumah tangganya serunyam itu hanya untuk sekedar ikut merasakan kegalauan sang sahabat.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menepuk pundak Sasuke, menyemangati sahabat kentalnya itu barang sedikit.
"Well, walau bagaimanapun aku mengerti Teme." ujarnya sambil menatap Sasuke prihatin, Sasuke terlihat nampak asyik memainkan gelas Tequilanya.
Naruto menghela napas.
Memang rumit jika harus menjalani rumah tangga yang seperti ini dan ia tak bisa bayangkan bila ia yang berada di posisi Sasuke, tentu sekali lagi ia tak mau mengharapkannya.
"Tapi sebaiknya sekarang kau pulang sekarang, sobat." Naruto menepuk sekali bahu Sasuke.
"….."
"Bukan maksudku untuk mengusirmu dari rumahku," ujarnya, "hanya saja bukankah lebih baik kau pulang mengingat akhir-akhir ini kau sangat sibuk hingga jarang di rumah." lanjut Naruto, kadangkala ia bisa menjadi sangat dewasa jika teman-temannya membutuhkan dirinya sebagai teman curhat.
"Biar bagaimanapun Sakura pasti merasa kesepian kalau kau tak ada dan saranku, ajak ia pergi ke tempat-tempat romantis mengingat kau belum pernah mengajaknya pergi semenjak kalian menikah kan? tak ada ruginya menunjukan sekali lagi padanya bahwa kau benar-benar mencintainya." jelas Naruto panjang lebar tak lupa dengan cengiran rubah khasnya.
Sasuke menoleh menatap sang sahabat.
Benar juga!.
Selama mereka menikah ia memang belum pernah mengajak Sakura pergi, mungkin dengan acara berlibur berdua bisa membuat hubungan mereka semakin membaik.
Sasuke sangat mengharapkan itu meski ia tahu butuh kekuatan ekstra pastinya untuk membujuk sang Isteri agar mau berlibur dengannya.
Dengan anggukan terakhir dan senyuman amat tipisnya ia pamit pulang, mereka saling mendekatkan tinjunya kemudian.
"Sama-sama Teme." seloroh Naruto tertawa ketika mereka sudah berada di beranda rumah Naruto, dilihatnya Sasuke sudah menjauh dengan mobilnya.
Yah, Naruto sangat mengerti sifat Sasuke yang salah satunya tak pernah mengucapkan kata terima kasih (kecuali sedang bersama klien, mau tak mau pria Stoic itu harus berusaha mati-matian terlihat ramah).
Dengan senyum terakhirnya seraya menatap jejak ban mobil Sasuke, ia berdoa, berharap rumah tangga dua sahabatnya tak berakhir di meja hijau.
–Semoga, batinnya.
.
.
.
Sakura terbangun dari tidurnya ketika dirasakan perutnya berkedut, sebuah pergerakan kecil.
Ia tersenyum, "Maaf ya sayang, Ibu terlalu memaksakan diri padahal ada dirimu bersama Ibu." ujarnya lirih seraya mengusap lembut perutnya.
Mengingat ia belum membersihkan diri wanita musim semi tersebut segera bangkit dari sofa dengan perlahan menuju kamar mandi sebelum memasak makan malam.
.
.
Aroma harum masakan menyapa indera penciuman Sasuke ketika ia pulang ke Apartmentnya.
Ia dapat melihat sang isteri sedang sibuk dengan wajan dan spatulanya. rupanya sang isteri sudah tidak mengalami mual lagi dengan bau menyengat masakan, terbukti sekarang ia nampak baik-baik saja ketika memasak makanan yang pastinya terdapat banyak bumbu jika dicium dari baunya yang agak tajam.
"Tadaima." gumam Sasuke dengan suara kecil meskipun begitu masih cukup terdengar oleh Sakura yang hanya dijawab gumaman tak berarti.
Sasuke yang biasanya duduk dulu di sofa ruang tv jika baru pulang dari luar entah kenapa lebih memilih untuk melenggang masuk ke kamar.
.
.
.
TBC
.
Maaf ya minna aku br bisa update sekarang (pede kyk ditungguin aja.. *ngikz) kegiatan didunia nyata bnr2 ga bisa ditinggal, plus gara2 mandorin tukang krn renovasi rmh n lagi seneng2nya bereksperimen(?) sm rmh sendiri sm suami jadi males pegang laptop. *nyengirkuda.. jadi maaf banget kalau ada yg kurang2 gimana gitu(?) ya minna. :'(
Aku jg ngerasa chapter ini TBC nya ga enak bgt tp mang lagi ga bisa mikir apa2 lg, chapter ini mikirnya bnr2 lg mentok bgt, klau dipaksain lagi bakalan ngebul otakku kali. :'(
aku juga belum bisa ngedit chap2 sebelumnya, mgkin nanti pas deket2 ending.. ehehehe!
Aku ga bisa ngomong apa2 lg, pokoknya makasih n maaf banget kalau kurang memuaskan n kurang sempurna ya minna. *Bungkuk2
Aku Cuma manusia biasa yang jauh dari kata sempurna, krn kesempurnaan yg sesungguhnya adalah milik Tuhan.
.
Thanks to:
Allah SWT
N semua Reviewers Chapter 4 dan 5 yg ga bs aku bales satu persatu.
(Diva-hime, ruchie, Lope2SasuSaku, Laura Jasmine, SUKA INI, All Guest, OMFG, Leesoel, Haruno Cherry, Yocan, evacupuu, Ruukaga Ann, Anka-chan, Dew, Nadya Harvard, hanazono yuri, Aika Yuki-chan, Iya Baka-san, Hayama Ayumu, Legolas, Jitan88, eet gitu, Kiki RyuEunTeuk, Baby kim, Mako-chan, Arioschan, Uchihana Rin, Grengas Snap, Poetri-chan, Deshe Lusi, Retno Uchiharuno, Farberaws, Fylin-chan, Neerval Li, Pita chan, Baby blue pink, Canthy Meilanda, eL-yumiichann, eonniisoo , aish chan, Nina317elf, sasusaku kira, sami haruchi 2, Pha chan, ucichii, YesaChan, Salsalala, me, Senayuki-chan, Intan, Namikaze farid, Chioque, sakuraBELONGtoSASUKE, Azu, Shuriken89, Trafalgar law 04, Namikazevi, Mikyo, Kim keyna, Sakakibara mei, Aya chan, Shikuarichido, Cakumi, Kithara blue, Dorki Taeyeonnie, sh6, Cherry Saraichi, Nyimi chan, Arisa inihara, Dhian chan, Chyntia Hatake chan, Yoruchan kuchiki, miyank, US2H, Sandra difita, Tsurugi De Lelouchi, Anggraini, Aikuromi, alint 2709, Arisa, Uchihyu chan, CherrySakusasu.)
Dan Jgn lupa ..
R
E
V
I
E
W
11 APRIL 2013
