Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei.

Warning : AU and maybe OOC

Genre : Romace and Humor (?) never mean it to be a comedy anyway…

Chara : KibaIno

Chapter 7, minna!

Again, again, I want to reply the review!XD

#zoroute : tau tuh si ino! Agak lemot dia. Maklum,,otaknya masih Pentium model lama XD

#shana-chan : err… di chapter ini belum muncul juga sih si mantan. :3

#thaa : maaf yah kurang kilat, lagi banyak kerjaan nih… *sambil nunggu lain kali baca fic2 saya yang lain aja….*promosi aktif* XD

#Uzumaki Cool : ehehehe,,double gomen,,satu karena gak bisa kilat, dua karena mantannya ino belum juga muncul di sini…:P

# HeRy : soal Hinata,,untuk chapter ni baru muncul nama. Tapi nanti dia pasti muncul koq ^^ n soal Kiba si sixpack bodeh…hemhh..*ngelus dagu dan menyeringai* ditampung dulu yah masukannya… makasihhh…

#Moe chan : ada, ada! Ada banget malah… XD

# Nicha Fhia : aduh,,maaf yah gak bisa kilat2 banget… T.T

# vaneela : ino ama sesshoumaru? Hemh…looks promising! :p soal flower lady,,maaf yah masih tersendat…ehehehe…

#lenka : sexy gimana nih maksudnya?

#Kiba Ino Lovers : huwaa! Maafkan keterlambatan saya dalam mengupdate *sujud* Ini udah diupdate, jangan marah lagi ya…:3 eh, ini te Nicha Fhia? Lemot mode :on.

Seperti biasa, saya juga mau ucapin thank you yang sebesar-besarnya buat minna-san yang masih setia membaca, masih mau ngasih ripiu, masih mau menunggu update-an fic ini, ngasih masukan dan semangat buat saya mengupdate, yang udah ngefave juga. Makasih banyaaaakkk! *membungkuk hormat*

Nah, cukup deh banyak omongnya saya.

It's time to…

Enjoy the story!:3

Note : all story will be taken from Ino's POV


GAME MASTER

.

.

Sekali lagi kakiku menapak di Hokage's Game, game center yang paling 'disukai' oleh guru game-ku, Kiba. Sejenak, aku hanya bisa terdiam sambil melihat ke kanan kiri saat ia menyapa beberapa orang di sana.

Kegiatanku itu terhenti saat lenganku ditarik oleh Kiba dan tubuhku diposisikan untuk berdiri di sebelahnya, bukan lagi di belakangnya.

"Nah! Ini anaknya! Yang mau bertanding ama orang itu!" ujar Kiba sambil melepaskan lenganku.

"Hee? Jadi kau mantannya si Teme yang menantangnya adu game? Berani juga kau?" ujar seorang cowok berambut kuning jabrik dan berperawakan agak nakal. Di kedua belah pipinya terdapat masing-masing 3 garis yang sepertinya adalah tanda lahir.

Aku mendelik marah ke arah Kiba. "Kenapa kau harus bilang-bilang sih?"

Seperti biasa, cowok itu hanya menyeringai. Tapi seringai kali ini tampak seperti mengejekku.

"Supaya mereka bisa membantumu saat aku nggak bisa!" jawabnya kemudian.

"Nah! Jadi sebelum mulai main, gimana kalau kuperkenalkan kau dengan beberapa 'penghuni' tetap game center ini?" lanjutnya lagi.

Aku hanya bisa mengangkat bahu sekilas.

"Oke! Pertama, ini Namikaze Naruto!" lanjut Kiba sambil menunjuk pada si cowok berambut kuning tadi.

"Yo!" ujar cowok itu sambil nyengir dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Aku menggangguk kecil sebelum kemudian menyebutkan nama lengkapku.

"Meskipun dia ini cowok yang agak bodoh tapi berkat kerja kerasnya dia bisa masuk final delapan dalam turnamen kemaren!" ujar Kiba selanjutnya, memberi keterangan mengenai sosok yang baru kukenal ini.

"Heh, Kiba! Jangan ngomong seenaknya dong! Image-ku bisa rusak nih!" protes cowok bernama Naruto itu dengan ributnya. Kiba sendiri hanya menyeringai dan nggak mengacuhkan protes Naruto.

Selanjutnya, Kiba langsung menyambar tanganku dan mulai mengajakku berkeliling game center. Satu per satu gamer yang ada di sana ia perkenalkan padaku-tentu saja selama ia mengenal para gamer tersebut. Ia bahkan memperkenalkanku pada pemilik game center ini, Sarutobi-jiisan.

Di luar dugaan, orang-orang di game center ini sangat ramah. Pantas saja Kiba betah di sini. Lalu aku sendiri? Yah… Kurasa aku juga jadi cukup menyukai suasana di tempat ini.

"Orang-orang yang baik!" ujarku sedikit berbisik pada Kiba.

"Begitulah! Beda ama situasi di game center mantanmu itu kan?" jawab Kiba sambil menggiringku secara nggak langsung ke game yang akan kami mainkan nanti.

"Bisa nggak sedikit-sedikit nggak menyinggung soal mantanku?" jawabku sinis.

Kiba berbalik dan melihat ke arahku. Wajahnya menyiratkan kebingungan dan aku balik memandangnya dengan tatapan menantang. Dia kemudian mengangkat tangannya dan kemudian mengacak-acak rambutku dengan kasar.

"Hei! Aku sudah setengah mati merapikan rambutku tau!" protesku sambil mendepak tangannya dari atas kepalaku. Kiba sih hanya tertawa saja sebelum ia mendorongku untuk duduk di atas kursi di depan game 'Go! Ninja!' itu.

"Siap untuk main?" tanyanya kemudian sambil memasukkan koin. Ia kemudian menginstruksikanku untuk memencet tombol-tombolnya hingga sampai ke bagian di mana aku harus memilih karakterku. Tentu saja, sesuai perkataanku kemarin, aku memilih karakter cewek dengan elemen tanah.

"Pertama, coba lawan yang paling mudah yah?"

"Terserah!" jawabku. "Atur saja!"

"Ok! Ini.. dan ini!"

Setelah semua siap, kini saatnya aku bermain. Dan yah… Seperti sebelum ini juga, karena aku belum terbiasa dengan tombol-tombolnya, aku kalah setelah mengurangi Health Point lawan sedikit.

Dengan dua koin, aku bisa bermain 2 stage. Syaratnya, aku harus menang 2 kali dalam first stage baru bisa lanjut ke second stage. Satu stage ada 2 ronde. Kecuali seri, jadi 3 ronde. Seandainya kalah 2 kali dalam first stage, ya sudah! Hilang sudah kesempatan untuk lanjut ke second stage. Permainan berakhir begitu saja. Rugi bukan?

Tapi itulah yang terjadi padaku. Aku kalah 2 kali langsung dalam first stage! Hahaha! Menyedihkan!

Kiba kemudian meninggalkan setumpuk koin di atas body game itu. Dia sendiri berkata kalau dia akan berkeliling untuk bermain dan aku disuruhnya berlatih sehingga setidaknya aku bisa menang walaupun hanya satu kali. Aku menggerakkan tanganku seolah mengusirnya. Mungkin gara-gara itu ya, ia sekali lagi mengacak-acak bagian atas rambutku? Bener-bener deh! Dia tuli apa? Sudah kubilang kalau aku sudah susah payah menata rambutku! Huh!

Singkatnya, aku pun meneruskan permainanku itu setelah merapikan sedikit rambutku hanya dengan bantuan tangan rampingku. Sebenarnya untuk bisa main nggak perlu merapikan rambut dulu sih. Tapi apa boleh buat, aku merasa nggak prima kalau nggak terlihat modis. Eits, jangan protes! Setiap orang bebas berpendapat kan?

Baiklah, kembali ke game yang tengah kumainkan ini. Entah koordinasi motorikku yang jelek atau memang game ini yang susah? Singkatnya, dalam 3 kali percobaan, yang berarti sudah menghabiskan 6 koin, aku hanya bisa menang 1 kali! Nice, huh?

"Ternyata benar-benar parah ya?" ujar sebuah suara yang rasanya baru kudengar tadi. Begitu aku menoleh ke samping kiriku, aku melihat cowok itu-Namikaze Naruto.

"Well.. Sorry aja, aku bukan gamer!" jawabku sambil mengangkat bahu dan mengambil dua koin lagi untuk kumasukkan ke dalam mesinnya. Lawan bicaraku itu hanya mengangguk penuh pengertian.

"Ngomong-ngomong…" ujarnya dengan suara pelan, ".. Sejak kapan kau dekat dengan Kiba?"

Pertanyaannya langsung membuatku menepak sebuah tombol yang salah. Permainanpun dimulai dengan tokoh yang salah. Aku meringis. Ah! Rugi 2 koin! Dan semua gara-gara si cowok rambut jabrik ini!

"Aku nggak merasa dekat dengannya!" jawabku tak acuh dengan alis yang sedikit mengernyit.

"Hahaha! Rahasia ya? Baiklah, aku nggak tanya-tanya lagi deh! Biar jadi rahasia kalian berdua saja!"

"Aku nggak.."

Belum sempat aku menjawab, dia kembali memotongnya. Aku hanya mendecak pelan saat ia nggak memberikanku kesempatan untuk menyangkal pernyataannya.

"Yang jelas, aku merasa bersyukur melihatmu bersamanya! Karena itu artinya ia sudah benar-benar bisa melupakan Hina-chan! Kukira selama ini dia hanya berpura-pura bisa melupakannya! Jadi aku agak.."

"Tunggu, tunggu!"

Kali ini giliranku yang memotongnya. Untung dia bisa berhenti ngomong juga sehingga aku bisa mendapat kesempatan untuk mengajukan kebingunganku.

"Hina-chan siapa?" tanyaku kemudian.

Naruto mengerjabkan matanya dengan ekspresi heran yang tampak jelas.

"Hyuuga Hinata?" jawabnya yang malah terdengar seperti bertanya.

"Siapa?" tanyaku lagi.

"Kiba nggak cerita padamu?"

Aku terdiam sesaat, mencoba mengingat-ingat di mana aku pernah mendengar nama 'Hyuuga' itu! Rasanya… Oh!

"Mantannya?" tanyaku sembari menyipitkan mataku.

Naruto mengangguk dengan mantap.

"Jadi menurutmu Kiba-kun masih memikirkan Hyuuga-san itu?" tanyaku lagi sambil memutar kursiku hingga berhadapan dengan Naruto sekarang.

"Entahlah. Ini cuma feeling-ku. Itupun.. Sebelum melihatmu bersamanya!" jawab Naruto sambil menyeringai dan meletakkan sebelah tangannya ke body game yang ada di sebelah kanannya. "Sekarang aku lega! Sepertinya Kiba sudah benar-benar bisa melupakan Hina-chan! Dan itu pasti karena keberadaanmu di sisinya!"

"Jangan sembarangan mengambil kesimpulan!" ujarku akhirnya setelah tadi kubiarkan hening. Wajar, aku sedikit kaget saat ia mengatakan berkat akulah Kiba bisa melupakan mantannya. Halo? Kiba dan mantannya sudah putus sejak kapan memang? Sementara aku dan Kiba baru saja bertemu sebentar! Kalaupun ia sudah melupakan mantannya, itu bukan karena aku. Sekali lagi, BUKAN karena aku!

"Eh? Kenapa memang? Kalian pacaran kan?"

"Pac-.. Siapa yang pacarnya, hah?" semburku saat cowok bermata sapphire itu mengatakan hal omong kosong dengan mudahnya. Jujur, aku kesal saat ia mengatakan itu. Tapi nggak bisa kupungkiri kalau wajahku sedikit memanas saat tuduhan itu dialamatkan padaku.

"Lho? Bukannya kalian pacaran? Dan karena si Teme itu kembali mengganggumu, kau menantangnya main game dengan perjanjian kalau dia kalah, dia harus berhenti mengganggumu?" jawabnya dengan tatapan yang polos.

Mendengar penuturannya, mulutku sampai nggak bisa menutup.

"Salah ya?" tanyanya sambil nyengir dan menggaruk-garuk pipi.

"SALAH! Kau dapat informasi sengaco itu dari mana sih?"

"Eh? Tadi Kiba baru bilang pada-…"

Aku nggak mendengar kelanjutan kata-katanya dan langsung saja aku beranjak berdiri dari tempatku untuk mencari cowok berambut coklat yang sudah seenaknya saja menyebarkan gosip! Keenakan sekali dia? Siapa yang pacarnya hah? Aku? Yang benar saja! Dia bahkan belum menembakku!

"Inuzuka Kiba!" panggilku sembari menarik baju bagian belakangnya agar dia melihat ke arahku. "Omong kosong macam apa yang kau katakan pada teman-temanmu, hah?"

"Hah?"

Dia malah balik bertanya padaku.

"Kenapa si Namikaze itu berkata kalau kita pacaran dan bahwa aku menantang mantanku agar ia nggak menggangguku lagi?" ujarku dengan suara yang cukup keras ditambah poseku yang tengah melipat tangan di depan dada, menunjukkan kalau aku keberatan dengan gosip yang disebarkannya. Gosip yang sama sekali berbeda dari kenyataan.

Kuabaikan beberapa pasang mata yang tampak curi-curi lihat ke arah kami. Masa bodoh mereka mau berpikir apa. Yang kupedulikan hanya jawaban macam apa yang akan diberikan cowok maniak game, plus maniak anjing, di hadapanku ini.

Kulihat Kiba mengernyitkan alisnya hingga dahinya sedikit berkerut.

"Siapa yang bilang gitu?"

"Kau nggak dengar aku bilang apa tadi? Namikaze! Temanmu tadi!" jawabku gemas. Kurasa, suaraku meninggi lagi satu oktaf. Akibatnya, penonton kami pun bertambah banyak. Ingatkan aku untuk menarik biaya pertunjukkan nanti!

"Maksudku," ujarnya masih dengan tampang kebingungan sekligus sedikit kesal karena aku mulai lagi berteriak-teriak padanya, "Kenapa sampai Naruto bisa mengira kita pacaran? Siapa yang bilang seperti itu padanya?"

"Mana kutahu! Dia bilang kau yang bilang padanya!"

"Haaaahh? Mana mungkin?" jawabnya dengan ekspresi sedikit gusar. "Hoi, Naruto! Gosip apa yang kau sebar, hah?" teriak Kiba saat cowok rambut kuning jabrik itu muncul untuk melihat adu mulut di antara kami. Kejengkelan sedikit tersirat dalam nada suara Kiba kali itu.

Naruto sendiri hanya menyeringai dengan bodohnya.

"Maaf, sepertinya aku salah tangkap tadi! Aku udah tanya ama Shino setelah Yamanaka-san pergi dan ternyata kejadiannya amat sangat berbeda ya? Hahahaha!"

Aku mengerjab-ngerjabkan mata. Kulirik Kiba dan ia tampak memasang ekspresi yang sama, sama-sama bingung, sebelum ia menoleh ke arahku. Ia kemudian menaikkan sebelah alisnya seolah hendak bertanya apa aku sudah mengerti di mana letak kesalahpahamanku. Aku-pun hanya bisa menyeringai sekilas sebelum aku beranjak kembali ke tempatku bermain tanpa mengucapkan sepatah kata-pun lagi padanya.

Saat melihat ke cermin sekilas, aku bisa melihat rona merah di wajahku. Kami-sama! Entah sudah berapa kali aku mempermalukan diriku sendiri di game center ini! Aaarrghh!

Dengan spontan, aku langsung menjatuhkan kepalaku dengan pelan ke bagian datar dari body game 'Go! Ninja!'. Aku hanya bisa berharap agar kejadian tadi bisa hilang saat rona merah di wajahku hilang. Tapi udah kejadian sih! Andai waktu bisa berputar kembali!

Sepertinya aku benar-benar harus membiasakan diri untuk berpikir ulang sebelum bertindak! Yeah! Harusnya aku konfirmasi pelan-pelan pada Naruto sebelum aku melabrak Kiba seperti tadi. Oh, Kami-sama! Kenapa kau berikan sifat impulsif ini padaku?

Puk!

Mendadak, sesuatu terasa menyentuh kepalaku.

Aku langsung mengangkat kepalaku.

"Kiba-kun," seruku perlahan.

"Udah selesai kan salah pahamnya?" tanya cowok yang berkulit sedikit tan itu sambil mengangkat tangannya dari kepalaku.

"Uh.. Gomen!" ujarku akhirnya. Kini aku kembali duduk dengan tegak. Kiba mengambil tempat duduk di sebelahku.

"Yah.. Naruto emang selalu begitu! Daya tangkepnya lemah! Alias telmi!" ujar Kiba sambil memutar kursinya dan menghadap ke arah layar. Ia kemudian mulai memasukkan beberapa koin dan memencet-mencet tombolnya. "Dan kau menanggapinya dengan serius. Sampai marah-marah segala! Konyol!"

Setelah mengucapkan kata terakhirnya, kulihat Kiba sedikit tersenyum. Senyumnya terkesan sinis di mataku. Tapi entahlah? Mana kutahu apa yang ia pikirkan.

"Huh! Maaf saja kalau aku begini!" ujarku sambil berbalik menghadap layar dan kembali memasukkan dua koin ke dalam lubang yang ada di bagian bawah mesin game tersebut.

"Harusnya kau tau kalau aku nggak mungkin menciptakan gosip aneh begitu!" ujar Kiba lagi dengan tatapan yang masih mengarah pada layar.

"Aku-.."

Ucapanku langsung dipotong Kiba.

"Karena aku tahu seberapa besar kau mengharapkan untuk bisa kembali pada mantanmu!"

DEG!

"Jadi mana mungkin kan aku menyebar gosip nggak masuk akal begitu? Apa untungnya bagiku?"

DEG!

Kedua kalimat terakhirnya membuat jantungku merasa seperti ditusuk. Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya jadi nggak menyenangkan. Pikiranku nggak lagi fokus pada game di hadapanku. Padahal koin sudah kumasukkan dan game tinggal kumainkan. Tapi jari-jariku enggan bergerak dan hanya bertengger dengan nyamannya di atas pahaku.

"Y-ya!" jawabku setelah bersusah payah untuk membuka mulut, memberi tanggapan. "Benar juga ya! Aku memang terlalu impulsif! Aku juga heran! Hahaha!"

Apa yang kutertawakan? Sama sekali nggak ada yang lucu padahal!

Dari sudut mataku aku bisa melihat kalau tangan Kiba berhenti bergerak. Dan kini ia.. Memandangku?

Aku pun memaksakan diri untuk menoleh ke arahnya. Benar saja! Mata kami langsung beradu pandang saat itu. Aku langsung merasakan suatu keheningan yang agak canggung. Nggak ada tanda-tanda bahwa Kiba akan memulai pembicaraan. Aku pun nggak ada niat untuk berkata-kata.

Suara dering handphone kemudian seolah mengejutkan kami berdua. Aku spontan memegang tas tempatku meletakkan handphone. Tapi tunggu! Itu bukan dering handphone-ku! Jadi pasti punya Kiba.

Kiba mengambil handphone dari sakunya, melihat siapa sang penelepon sebelum ia berdiri dari kursinya dan perlahan menjauh dariku.

"Moshi-moshi? Hinata?"

Aku terbelalak mendengar nama itu. Hinata yang ia sebut tadi itu Hyuuga Hinata? Nama mantannya? Si Hina-chan yang dipanggil Naruto itu?

Untuk sejenak, pikiranku terasa kosong dan aku hanya bisa mendengar saat samar-samar Kiba meneriakkan nama Naruto.

Aku menggigit bibir bawahku sedikit sebelum aku memencet-mencet tombol di body game itu sambil berusaha melenyapkan kegalauan yang mendadak saja kurasakan.

Sekejab saja, aku sudah kembali bermain. Tanpa sadar. Ya. Tanpa sadar. Kubiarkan jemariku bergerak sesuka mereka. Walaupun tatapanku mengarah pada layar, tapi kukira pandanganku nggak sepenuhnya melihat apa yang terjadi di depanku.

Saat aku sadar, yang kulihat hanyalah tulisan 'YOU WIN! Stage 2, READY!' di layarku. Harusnya aku senang. Ini kali pertamanya aku beranjak ke stage 2. Tapi yang kulakukan malah menghela nafas.

"Ck! Apa sih yang kupikirkan?" tanyaku pada diriku sendiri.

Memang kenapa kalau Kiba menerima telepon dari mantannya?

Bukan hal yang aneh koq!

"Lalu kenapa perasaanku jadi nggak enak begini?" gumamku sambil menggenggam erat kain di sekitar dadaku.

.

Cemburu.

.

Mataku terbelalak dengan sempurna.

Cemburu?

Cem-bu-ru?

Aku, Yamanaka Ino, cemburu?

.

Aku berusaha menertawakan pikiran bodohku itu.

Yang benar saja! Aku bertemu Kiba bahkan belum sampai seminggu! Memang akhir-akhir ini kebersamaan kami cukup intens. Tapi apa itu bisa jadi alasan untukku… Mencemburui mantan pacarnya?

Hei!

Kiba siapamu, Ino?

Dia bukan siapa-siapa!

Kalau begitu, kenapa kau bisa merasa cemburu pada mantannya?

Karena Kiba masih dekat dengan mantannya?

Dan memang kenapa kalau Kiba masih dekat dengan mantannya?

.

.

Mungkin aku cuma iri karena aku sendiri nggak lagi sedekat dulu dengan mantanku setelah kami berpisah?

Itukah jawabannya?

Terdengar memaksa bukan?

.

.

Aku menghentikan pembicaraan yang terjadi di dalam benakku tersebut. Aku mengatur nafasku kembali sementara aku berusaha keras menyingkirkan semua pemikiran aneh yang mendadak menginvasi otakku. Segala hal mengenai kecemburuan tadi hanyalah ilusi. Aku nggak mungkin merasakan perasaan semacam itu.

"Aku nggak mungkin menyukai Kiba!" ujar batinku meyakinkan.

"Oi, Ino!"

DEG!

Jantungku kembali berdetak lebih kencang. Kali ini murni karena kaget.

Ng… Mungkin?

"Apa?" jawabku sambil berpura-pura kembali fokus pada game di hadapanku.

"Mau makan dulu nggak? Udah jem segini!"

"Nggak! Kau aja sana!" jawabku sambil menggerakkan stick game itu dengan cukup cepat. Walaupun aku sebenarnya nggak tahu apa yang tengah kulakukan.

"Baiklah kalau gitu… Ng?"

Mendadak ia terdiam.

Apa?

Kenapa?

Aku tetap menggerakkan tanganku dan menatap layar meskipun fokusku nggak berada di situ. Aku penasaran dengan 'mendadak diam'-nya Kiba sampai-sampai aku nggak menyadari bahwa permainanku sudah selesai.

'YOU WIN!'

Lagi-lagi tulisan itu-lah yang muncul di layar. Oke! Mungkin aku lebih berbakat memainkan game ini saat aku sedang nggak sadar! Seseorang tolong bikin aku nggak sadar saat pertandingan nanti!

"Wow! Sejak kapan kau menguasai jurus rahasianya?" ujar Kiba dengan penuh kekaguman yang sekaligus memecahkan lamunanku dan menarikku kembali ke alam sadar.

"H-hah?"

"Jurus yang tadi! Itu kan jurus rahasia karaktermu! Jurus final yang bisa langsung membuat lawan nggak berkutik!" jelasnya sambil tersenyum lebar.

Sekali lagi kurasakan wajahku memanas saat melihat senyumnya.

Damn!

Sepertinya gara-gara pikiran-pikiran aneh yang mendadak muncul tadi, aku jadi bereaksi seperti ini saat melihatnya. Padahal Kiba sendiri nggak melakukan sesuatu yang spesial! Ia hanya memujiku permainanku! Hanya itu!

Ayolah Ino! Berhenti berpikiran yang aneh-aneh!

"Ng? Ada apa?" tanyanya dengan ekspresi keheranan saat aku masih asyik memandanginya.

Dan suaranya tadi malah membuat jantungku kembali berdebar dengan wajah yang sedikit memanas. Spontan, aku pun langsung menggeleng dan mengalihkan pandanganku ke arah lain.

"Hah? Kau kenapa sih Ino-chan?"

Aku kenapa?

Aku juga mau tanya!

Aku kenapa?

"Kau sakit?"

"Nggak," jawabku perlahan.

Ya! Aku nggak sakit! Aku merasa sehat! Tapi…

Lagi-lagi!

Saat melihatnya, sekarang otomatis jantungku berdebar dengan kecepatan yang di atas rata-rata!

Oh, tidak!

Kami-sama!

Jangan bilang kalau aku…

Mulai jatuh cinta pada Kiba?

***TBC***


Nah lho! Udah chapter 7 tapi mantan si Ino malah belum nongol-nongol *malah muncul Naruto*. Ahaha.. tapi Sukie yakin, kalian dah pada tau siapa mantannya Ino. Jadi sebenernya nggak ditongolin buru-buru juga gakpapa kan?ahahahay!XD

Yaah,seperti biasa, minna-san.

I still need your review, please! :3

I'll be waiting!

Regards,

SUKie-Fox