Kazoku by Shara Sherenia

Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!

A/N: Huyuh...setelah UN lewat akhirnya update fanfic! XD Enjoy lah! Males saya! -ditendang-


Chapter 7: Divorce

Malam yang tenang di kediaman Seta. Souji sedang membaca koran hari itu ditemani segelas kopi panas. Akira sedang menonton film drama polisi anak-anak di pangkuan Naoto yang hari itu sedang bebas tugas. Saat itulah ketenangan itu diganggu oleh bunyi bel pintu rumah mereka yang tak diharapkan.

"Biar Akira yang lihat!" kata bocah itu sambil melompat turun dari pangkuan ibunya dan berlari meraih intercom rumahnya. Ia mengangkat ganggang teleponnya sambil melihat monitor. "Siapa ya?"

"Ah...Akira-chan?" sebuah suara serak-serak basah terdengar. Tak lama, tampak wajah sepupu kesayangan Akira di layar monitor intercom. "Ini Metis-neechan...bisa tolong bukakan pintunya?"

"Oh ya...tentu, Neechan!"

Akira berlari-lari kecil ke arah pintu, berharap mendapat pelukan hangat dari Metis seperti biasanya kalau gadis itu berkunjung ke rumah. Namun, saat ia membukakan pintu, yang ia temukan adalah raut wajah sedih dan air mata yang bertengger di kedua matanya. Hening sejenak, sebelum Akira memberanikan diri memanggil namanya.

"...Metis-neechan? Kenapa?"

Ia tak tahan lagi. Metis jatuh berlutut dan langsung memeluk adik sepupunya itu. Akira, yang tidak tahu apa yang harus ia lakukan, hanya bisa diam di tempat dan bertanya, "Neechan? Neechan kenapa?"

"Akira-chan...aku...Ayah dan Ibu..." gumam Metis disela sedu sedannya.

"Akira? Kok Metis tidak dipersilahkan ma—" Naoto terkesiap melihat pemandangan itu. "Astaga! Metis! Ada apa? Kenapa menangis?"

"Ada apa sih?" Souji yang penasaran ikut berjalan ke arah pintu masuk dan ikut terkejut. "Me-Metis? Kenapa kau? ...Ah yang penting masuk dulu! Jangan sampai bikin ribut di luar begitu!"


Setelah dihidangkan secangkir cokelat panas dan dihibur oleh Akira, Metis merasa sedikit tenang. Matanya memerah karena menangis dan hidungnya agak meler. Akira masih mengelus punggungnya untuk menenangkannya. Naoto dan Souji duduk di seberang mereka berdua.

"Ahem," Souji berdeham sok, "Jadi...kenapa kau tiba-tiba datang ke sini? Kau langsung ke sini kan?" tanya pria itu penuh selidik, karena Metis masih memakai seragam Gekkoukan miliknya.

"Uh..." Metis melirik ke lantai rumah tersebut. Ia masih ragu apakah ia harus menceritakan tentang apa yang terjadi di rumahnya saat ia pulang tadi. Tapi pada akhirnya toh ia harus menceritakannya pada mereka, karena hanya mereka yang bisa ia andalkan untuk menyelesaikan masalah ini. "Tadi...ketika aku pulang ke rumah..."


Flashback

Metis, yang baru saja pulang dari kegiatan klub dan diantar Chijiro sampai di depan tikungan dekat rumahnya, berjalan ringan menuju rumahnya, sambil membayangkan makan malam hari ini. Saat ia akan memutar kenop pintu rumahnya, tiba-tiba saja...

"JADI KAMU LEBIH MEMILIH JALAN CERAI!?"

Metis tersentak. Ia langsung merasa cemas. Mendorong pintu rumah agar terbuka sedikit, ia dapat mendengarkan lebih jelas pembicaraan kedua orang tuanya di dalam sekaligus melihat pertengkaran di antara keduanya. Aigis berdiri di hadapan Minato, raut wajahnya tampak kesal, kontras dengan ketenangan tanpa akhir yang menghiasi wajah suaminya.

"Minato...tak kusangka kamu begitu dingin...!" Aigis geram.

"Tidak...aku tidak begitu!" bantah Minato tak mau kalah. "Maksudku...lebih baik begini kan? Daripada terus berada di jalan kesengsaraan..."

"Meski begitu, di dalam kesengsaraan itu ada kebahagiaan karena berada di dekat orang yang disayangi! Kenapa kau tidak mau mengerti itu?"

"Aigis! Aku mengerti hal itu! Aku merasakan apa yang kamu rasakan, tapi...tapi tidak bisa begini terus, bukan?"

"Sudahlah!" potong Aigis cepat. "Kalau maumu begitu...berarti kita memang tidak bisa saling mengerti lagi. Kalau kau memilih perceraian...terserah saja!"

Metis membelalakan matanya. Kedua orang tuanya akan bercerai? Tapi kenapa? Sebenarnya ada masalah apa? Dan kenapa mereka tidak menyelesaikannya dengan baik, malah bertengkar seperti ini? Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam hati gadis itu, namun tak sanggup ia utarakan karena ia mengkhawatirkan konsekwensinya. Akhirnya ditengah kebimbangan dan kesedihan, ia memutuskan untuk pergi ke rumah Souji, berharap Naoto dapat membantunya.

End of Flashback


Naoto dan Souji terkejut mendengar apa yang diceritakan Metis. Mereka saling pandang. Tak sekalipun mereka mengira bahwa Minato, yang selalu berkepala dingin, bijak, dan berwibawa itu akan bertengkar dengan Aigis, istrinya tercinta yang terkenal sangat pengertian dan sehati dengan pria yang ia cintai tersebut. Akira, yang tidak mengerti apa yang terjadi hanya bisa terdiam dan mengamati ekspresi cemas kedua orang tuanya sementara Metis berharap mereka dapat memecahkan masalahnya ini.

"Jadi...aku mohon, Obasan, Ojisan...bantu aku membujuk mereka agar rujuk lagi!" pinta gadis itu memelas.

"Ah...aku...aku bingung, rasanya tidak mungkin mereka bisa bertengkar begitu..." Naoto melipat tangannya. Sel abu-abu dalam kepalanya mulai bekerja, berpikir dengan segala logika dan kemungkinan yang ada. Namun nihil. Ia tetap tidak bisa mempercayai kenyataan itu.

"Bagaimana kalau kita telpon saja? Kurasa itu akan lebih baik..." usul Souji.

"Tapi...bagaimana kalau kita malah memperkeruh suasana? Bisa makin gawat..."

Sementara pasangan detektif dan jaksa itu dibuat bingung oleh fakta yang ada, bel rumah tersebut berbunyi sekali lagi. Akira turun dari sofanya dan melongok ke intercom sekali lagi. "Siapa ya?"

"Eh...ini Chijiro, Iori Chijiro."

Metis tersentak. Ia bangkit dari tempat duduknya dan melihat intercom. Itu memang Chijiro. "Chi-Chijiro? Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" tanyanya heran.

"Well...aku ditelepon Sensei, katanya kau belum pulang juga...terus daritadi aku mencari ke sana-kemari, karena kamu tidak ada di mana-mana, aku langsung mengandalkan insting dan well...aku datang ke sini," sahut Chijiro enteng. "Ayo pulang, Sensei mengkhawatirkanmu."

Gadis itu menggigit bibir bawahnya, dan dengan kepastian, ia menjawab, "Aku tidak akan pulang."

"E-eh? Kenapa?"

"Aku tidak akan pulang sebelum mereka berdua rujuk! Bilang itu pada Ayah!" serunya sambil berjalan menjauh dari intercom, meninggalkan Akira yang berdiri kebingungan di dekat sana dan Chijiro yang melongo heran di depan gerbang kediaman Seta.

Souji menghela napas panjang. Ia menepuk pundak istrinya dan berkata, "Sudah malam. Sebaiknya kau istirahat, Metis. Biar Naoto mengantarkanmu ke kamar tamu di lantai 2."

"Ah! Akira hari ini mau tidur dengan Metis-Neechan boleh?" tanya bocah berambut biru itu riang.

"Tentu. Sudah waktunya kamu tidur kan? Ayo sana, ikut Mama dan Neechan."

"Hore!!"

Dengan itu, Naoto membawa Metis dan Akira ke lantai 2, menuju kamar tamu, meskipun wanita itu tahu bahwa sesungguhnya suaminya ingin membiarkan Chijiro masuk ke ruang tamu dan membicarakan tentang masalah ini dengan pemuda satu itu. Souji membukakan pintu dan mengijinkan Chijiro masuk ke ruang tamu, di mana sang jaksa menceritakan apa yang terjadi pada Metis hari ini. Tampaknya sang kekasih pun tak tahu bahwa pelatih kendonya sedang bermasalah dengan istrinya itu.

"Aku tak tahu...aku tidak pernah mendengar Sensei mengeluh tentang hal itu, padahal Sensei selalu cerita padaku apa yang terjadi," jelas Chijiro.

"Begitu?" Souji memegang dagunya, berusaha keras berpikir. "Aku dan Naoto juga sebenarnya heran apa yang terjadi pada mereka sehingga mereka berdua bertengkar tiba-tiba seperti itu...sampai keluar kata 'cerai' segala..."

Chijiro mengangkat bahu. "Oh, biar kutelepon Sensei! Siapa tahu beliau bisa menjelaskan apa yang mereka ributkan sebenarnya!"

"Ide bagus. Cepat."


Sementara itu, di kediaman Arisato, suasananya agak ribut. Aigis berjalan mondar-mandir ke sana kemari di jalan di depan rumahnya, mencemaskan putrinya yang tak kunjung pulang ke rumah. Minato tengah berbicara pada Junpei dan Fuuka, orang tua Chijiro (rumah kedua keluarga ini berdekatan sih...), yang ikut mencari Metis dengan bantuan koneksi mereka.

"Nihil, sudah kutelepon ke orang-orang yang mengenalnya tapi tak ada satupun yang tahu di mana dia," kata Fuuka.

"Aku juga sudah mencari ke daerah sini tapi tak menemukan apa-apa," tambah Junpei. "Apa mau minta bantuan Mitsuru dan Akihiko?"

"Tidak, tidak usah...aku tidak mau merepotkan mereka hanya karena Metis menghilang..." sahut Minato.

Tiba-tiba, ponsel Minato berbunyi. Layarnya menunjukkan nama Chijiro. Ia menekan tombol jawab dan menempelkan ponselnya ke telinga. Aigis, Junpei dan Fuuka segera mendekat dan menajamkan pendengaran mereka untuk mengetahui apa yang akan dikatakan Chijiro.

"Halo? Chijiro? Sudah ada kabar tentang Metis?" tanya Minato bertubi-tubi.

"Eh iya, Sensei...ini aku. Dan aku sudah menemukan Metis, tapi...dia tidak mau pulang," sahut Chijiro dari ujung telepon lainnya.

"Tidak mau? Kenapa?"

"Err...begini...dia mendengar Sensei bertengkar dengan istri Sensei...dan katanya...kalian mau bercerai?"

Aigis dan Minato melongo. "Hah? Maksudnya?" keduanya spontan bertanya.

"Yeee...justru aku yang bertanya, kan? Kalau aku tahu maksudnya aku tidak akan menelpon dan segera menyeret Metis pulang!"

Pria berambut biru itu menutup mulut ponselnya dengan sebelah tangan dan mengernyit memandang istri dan sahabatnya yang ikut bingung. "Eh...cerai? Memang kalian berdua akan bercerai?" tanya Fuuka heran.

"Tidak...kami baik-baik saja kok," jawab Aigis.

"Eh tapi tunggu...Aigis, tadi waktu kita bertengkar tentang jalan cerita drama sore itu...kau bilang 'cerai' kan?" Minato coba mengingat-ingat.

Wanita berambut pirang itu mengangguk. "Iya...aku tidak setuju kalau jalan ceritanya si tokoh utama bercerai dengan pasangannya sementara kau setuju, iya kan?"

Sang pelatih kendo menepuk jidatnya. "Rupanya dia mendengarkan itu!" keluhnya. Ia mengangkat teleponnya lagi dan berkata, "Chijiro, sekarang kau dan Metis ada di mana? Aku dan Aigis akan ke sana untuk menjelaskan masalah sebenarnya."

"Hah? Eee...aku ada di rumah adik Sensei, di kediaman Seta. Tapi sepertinya Metis sudah tidur...masih mau tetap datang atau bagaimana?"

"Sudah tidur ya...ya sudah, bilang pada Souji aku dan Aigis akan ke sana besok pagi-pagi sekali. Setelah itu kau pulang saja, Fuuka dan Junpei mencemaskanmu."

"Baiklah."

Dan panggilan terputus. Minato menghela napas panjang. Setidaknya kini ia tahu bahwa Metis tidak berada dalam bahaya. Ia berbalik menghadap Aigis dan berkata, "Dia ada di rumah Naoto. Lebih baik kita biarkan saja sekarang dan jemput dia besok sambil menjelaskan apa yang terjadi."

"Baiklah..." sahut Aigis pasrah.

"Maaf sudah merepotkan kalian, Junpei, Fuuka. Lebih baik kalian kembali, kurasa sebentar lagi Chijiro akan pulang ke rumah."

"Haha! Tidak apa, Minato. Apapun untuk menolong sahabatku lah!" Junpei nyengir lebar sambil menepuk pundak pria berambut biru itu.

"Kalau begitu, selamat malam, Minato, Aigis," ujar Fuuka dengan senyumnya yang biasa, sebelum berjalan kembali ke rumahnya bersama dengan Junpei.


Keesokan harinya, keempat orang di keluarga Seta bangun dan menikmati sarapan bersama. Metis sudah ceria kembali. Ia bahkan berceloteh ria dengan adik sepupu kesayangannya itu. Naoto dan Souji merasa sedikit lega. Setidaknya keponakan mereka satu itu akan bisa menemui orang tuanya dengan lebih tenang, tidak seperti kemarin malam. Baru saja mereka berpikir seperti itu, bel rumah sudah berbunyi.

"Biar aku saja," kata Souji sambil berdiri dari kursinya.

Ia berjalan ke arah pintu depan dan membukakannya. Minato dan Aigis berdiri di sana, dengan wajah tenang seperti biasanya. Souji mempersilahkan mereka masuk dalam diam menuju ruang tamu. Metis tersentak ketika melihat kedua orang tuanya ada di sana.

"A-Ayah! Ibu! Kenapa kalian ada di sini?!" seru gadis itu kaget.

"Kami datang untuk menjemputmu, sekaligus menjelaskan masalah 'perceraian' yang kamu dengar kemarin itu," sahut Minato tenang.

Metis menggigit bibir bawahnya. Ia takut. Takut kalau yang ia dengar kemarin memang benar. Ia takut berpisah dengan salah satu dari mereka. Di tengah kebimbangan tersebut, Akira meraih tangan kakak sepupunya itu dan tersenyum penuh kehangatan, memberikan keberanian padanya. Dengan ragu, Metis berjalan ke arah Minato dan Aigis, di mana kedua keluarga tersebut berkumpul untuk mendiskusikan masalah ini.

"Uhm..." Metis memulai dengan ragu. "Aku...aku tidak ingin Ayah dan Ibu bercerai!" katanya tegas. "Aku tidak tahu apa masalahnya, tapi apa tidak bisa kalian berdua membicarakannya dengan baik-baik dan...well, tidak mengarah ke arah perceraian?"

Minato berwajah kaku seperti biasa, sementara Aigis terkikik geli, membuat putrinya sendiri dan keluarga adik iparnya bingung. "A-Aigis? Kenapa kau tertawa?" tanya Souji heran.

"Sepertinya kau sudah salah paham, Metis," wanita berambut pirang itu tertawa. "Kami memang bertengkar, tapi kami tidak akan bercerai."

"Bohong!" Metis menyela omongan ibunya. "Aku dengar dengan jelas Ibu mengatakan kata 'cerai'!"

Aigis semakin tertawa. "Metis...kami tidak membicarakan hal itu...kami meributkan masalah jalan cerita drama sore favorit kami! Kau tahu, kan? Yang tokoh utamanya terlibat kisah cinta yang membingungkan itu?"

Metis mengernyit. "Yang biasanya tayang jam 4 sore itu?" tanyanya.

Minato mengangguk. "Jadi...di episode kemarin, tokoh utamanya itu berniat bercerai dari pasangannya. Aku berpendapat bahwa itu keputusan yang baik, sementara Aigis lebih memilih mereka tetap bersama dan...well, kami berebat tentang itu. Tak kusangka kau mendengarnya dan malah salah mengira..."

Metis, Naoto dan Souji melongo. Akira diam saja, karena tidak mengerti apa maksud mereka. Gadis berambut pirang itu menepuk jidatnya. "Ya ampun! Jadi selama ini aku salah mengira, begitu?" tanyanya.

"Ya ampun...kupikir kenapa..." Naoto mengeluh kesal.

"Minato...kuharap kau bertindak lebih dewasa...masa' hanya karena drama sore kau bertengkar dengan istrimu?" Souji menggelengkan kepalanya.

"Enak saja! Masalah ini serius, tahu!" bantah sepasang suami istri itu kompak.

Putri mereka hanya tertawa. "Hahahaha! Dasar kalian berdua ini..." Metis tersenyum. "Yah, setidaknya, aku tahu bahwa kalian tidak bercerai...hehehe..."

"Baguslah...kalau begitu, ayo pulang," Minato beranjak dari sofa.

"Lho, sudah mau pulang? Cepatnya..." Naoto agak kaget.

"Yah...kami merasa segan bertamu pagu-pagi begini," Aigis mengangkat bahu. "Lagipula...Metis sudah merepotkan kalian...maafkan kami."

Souji menggelengkan kepalanya. "Tidak apa. Akira malah senang ada yang menemani tidur. Kalian bebas kok bertamu...karena kita kan satu keluarga," jelas sang jaksa dengan senyum hangat.

Minato tersenyum dan ikut mengangguk. "Tentu saja," jawabnya pelan.

"Uhm...baiklah! Kurasa aku harus ikut pulang...aku harus pergi sekolah, hehehe..." Metis tertawa kecil. Ia menghampiri adik sepupunya dan mengecup keningnya dengan cepat. "Akira-chan, Neechan pulang dulu yah! Ojisan, Obasan, maaf sudah merepotkan."

"Iya! Kapan-kapan Neechan main lagi yah!" kata Akira sambil mengantar keluarga Arisato itu ke depan teras rumah.

Metis mengangguk sambil tertawa. Ketika mereka akhirnya hilang dari depan rumah keluarga Seta, Akira melihat Papa Souji dan Mama Naoto-nya yang, seperti biasa, berdiri bersandingan.

"Uhm..." bocah berambut biru itu terus memandangi kedua orang tuanya.

"Kenapa kau memandangi kami seperti itu, Akira?" Naoto mengernyit heran.

"Papa sama Mama...nggak akan pernah bercerai kan?"

Pasangan itu melongo sebelum tertawa terbahak-bahak. Akira Cuma bisa mengernyit heran melihat reaksi orang tuanya. Souji, masih tetap tertawa, mengelus rambut putra semata wayangnya dengan gemas.

"Yah...mana mungkin lah, Akira...biar bagaimanapun, Papa akan tetap mencintai Mama-mu ini kok."

Mendengar hal itu, Naoto langsung bersemu merah dan sedikit menyikut Souji, mengisyaratkan agar pria itu berhenti mengatakan hal gombal macam itu. Akira tersenyum lega dan mengangguk. "Iya yah! Tidak mungkin Papa Mama bercerai! Hehehe..."

"Hmf...sudahlah...ayo kita masuk ke dalam dan menyelesaikan sarapannya..." ujar Naoto.

"Oke deh!"


A/n: SUMPAH, AKU BUTUH IDEEEEEEEEEEE!!!! *inget adegan Mr. Krab ma Spongebob? lolz* Ga tau mo ngelanjutin fic ini gimana lagi...hiks...apa aku complete aja yah? T_T Readers, kalo punya ide plot untuk chapter berikutnya, silahkan usul lewat layanan review!!! Bantuan anda meringankan beban author! *digeplak karena niru iklan dimanaa gitu...* REVIEW!!! *ditonjok karena maksa*

EDIT: Chapter berikutnya sudah dapet idenya...thanks to shiroganerinkun for the idea! Tapi bagi yang mo nyumbang ide masih diterima juga kok! X3333