Law & Order

Chapter Six; Unknown Feeling

A Fanfiction Made by murakami-y

Main Pairing: Vkook/TaeKook; Top! Taehyung x Bottom! Jungkook

.

Enjoy~

.

.

Seiring berjalannya detik berubah menjadi menit dan akhirnya berubah menjadi hari lalu menjadi bulan, perkembangan akan selalu terjadi. Begitu pula dengan perkembangan dari tugas akhir kedua mahasiswa berbeda jurusan dan berbeda materi—sangat berbeda. Telah disetujui oleh pihak dosen dan universitas, keduanya melanjutkannya untuk mencapai penyelesaian. Semakin berkembangnya tugas mereka, semakin sering keduanya berkumpul bahkan hanya untuk berteduh karena panas atau hujan.

—Dan semakin dekat mereka dalam berbagi informasi.

"Kau… berbeda dua tahun denganku? Dan kau lebih tua?"

Sang mahasiswa kedokteran hanya menatap sang mahasiswa hukum dengan tangannya membuka kaleng kopinya, menyesapnya lalu meletakkannya lagi ke atas meja. Ia menampilkan pose khasnya yaitu—membuat huruf V dengan telunjuk dan jari tengahnya lalu meletakkannya pada bawah matanya agar matanya terletak diantara kedua jari tersebut. Lidahnya ia sengaja keluarkan sedikit membuatnya terlihat semakin jahil.

Reaksi tersebut hanya membuat lawan bicaranya semakin pucat, mata kirinya berdenyut tak ingin menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Jadi selama ini alien tersebut ternyata lebih tua dibandingkan dirinya sekalipun dan lebih tua berarti ia harus memanggilnya—hyung? Tidak, Jungkook tak ingin melakukannya. Tak mungkin ia memberikan panggilan penuh hormat itu terhadap seseorang yang sama sekali tak dihormatinya. Membayangkannya memanggil 'hyung' saja membuatnya mual.

"Jika kau ingin mual, kau bisa melakukannya. Namaku memiliki 'hyung' di dalamnya, jadi selama ini kau memanggilku aku mendengarmu seperti memanggilku 'Tae hyung'. Ditambah memanggilku dengan nada manja, good times." Jelas Taehyung tersenyum senang mengingat setiap kali Jungkook memanggilnya, "Atau mungkin kau bisa memanggilku 'Taehyung sunbae'. It's a double kill. Aku mendapatkan 'hyung' dan 'sunbae' di saat yang bersamaan."

Membayangkan bagaimana bibir plum Jungkook memanggilnya dengan dua panggilan hormat tersebut membuatnya tertawa seperti seorang pria tua mesum yang melihat siswi SMU memakai rok sangat pendek sampai menunjukkan bokongnya. Tak menyadari Jungkook telah berada di belakangnya sambil tersenyum jahat—dengan tangan siap menumpahkan isi minuman berkarbonasinya ke atas kepala Taehyung. Niatnya hanya untuk menakuti namun tak melihat tanda-tanda berhenti dari orang yang bersangkutan maka—

Jungkook menumpahkan cairan manis itu ke kepala Taehyung.

Cairan berwarna cokelat muda itu mengotori kemeja putih milik Taehyung, menghasilkan noda yang akan sulit hilang. Sebenarnya ada rasa senang karena minuman itu dingin dan keadaan panas seperti ini sangat cocok untuknya—selain fakta bahwa tubuhnya akan lengket setelahnya. Tetap permasalahannya adalah—kemejanya memiliki harga yang sangat mahal dan juga cairan tersebut sampai pada lantai apartemen Jungkook.

"Bereskan sisanya." Ucap Jungkook singkat seraya melemparkan botol kosong tersebut.

Diperlakukan bagai sampah telah menjadi keseharian Taehyung jadi ia tak begitu marah. Ketika tersangka hendak pergi, tangannya menarik lengan Jungkook dan menindihnya sehingga sekarang peuda manis itu pun terkena getahnya. Kedua bola mata hitam tersebut menyipit merasakan rasa lengket pada tubuhnya, namun kembali melebar saat napas hangat mengenai hidungnya. Bertemu langsung dengan warna hazel.

Pipinya tiba-tiba memanas membuat rona merah muda muncul pada kulit putih tersebut, detakan jantungnya memacu cepat—bisa saja terdengar terutama dalam jarak sedekat ini. Hubungan mereka dapat dikatakan lebih sehat dibandingkan saat bersama Yugyeom, terakhir kalinya mereka melakukan kegiatan seksual adalah—entah, mungkin saat melakukannya pertama kali. Ini pertama kalinya si pemuda manis tak menginginkan seks yang begitu banyak, meskipun tak terhitung berapa banyak momen mereka dapat melakukannya.

Dan ini pertama kalinya Jungkook benar-benar tersipu karena jarak seseorang dengan bibirnya. Meskipun telah melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Detak jantungnya sama sekali tak membuat keadaan semakin baik, wajahnya sekarang memerah sempurna. Dapat disimpulkan—seorang Jeon Jungkook merasa sangat malu.

Tak kuasa dengan rasa panas pada wajahnya, ditambah suhu udara yang memang panas tangannya mendorong keras Taehyung. Lalu segera kabur menuju kamar mandi, meninggalkan Taehyung yang juga—berwajah merah. Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bibirnya berusaha menahan teriakan karena—ayolah, siapa yang tak akan merasa senang ketika melihat reaksi tersebut dari seseorang yang disukaimu? Bahkan putri es saja akan meleleh melihat wajah cantik nan manis itu tersipu malu.

Itu pertanda 'kan?

.

.

"Ikut melihatmu membedah mayat?"

Wajah manis itu terangkat setelah berapa lama memandang layar laptopnya, ditemani buku tebal di sisi kirinya dan buku catatan di sebelah kirinya. Seperti biasa mereka akan selalu bersama terutama ketika mahasiswa hukum mengerjakan skripsinya, karena memang pada awalnya mereka harus saling megerti bidang masing-masing dan satu-satunya cara adalah dengan membiarkan satu sama lain ikut dalam mencari referensi. Sebagai mahasiswa yang lebih mementingkan praktek tentu saja cara mencari referensinya berbeda dengan mahasiswa hukum yang berbasis teori, maka akan lebih mudah menunjukkannya dibandingkan menjelaskannya.

Selama ini Jungkook hanya mendapatkan pengetahuan mengenai tubuh manusia yang di luar apa yang diketahuinya, bahkan ia baru mengetahui ternyata tulang tidak hanya ada beberapa melainkan ratusan dan setiap ruasnya memiliki nama yang khas. Juga beberapa bagaimana obat-obatan dapat membuat warna darah atau organ berubah. Ini akan menjadi pertama kalinya mengikuti Taehyung yang benar-benar menunjukkan mayat.

"Karena itu mayatku aku akan menunjukkan bagaimana bagian dalam kejantanan." Ujar Taehyung dengan nada antusias—berbeda dengan lawan bicaranya yang malah memucat.

"Mayatmu?" tanya Jungkook.

"Benar. Mayatku. Mahasiswa kedokteran dapat meminta mayat sebagai bahan dari skripsi mereka dan itu diperbolehkan lelaki maupun perempuan atau bahkan keduanya. Tetapi mayat sebenarnya dikhususkan untuk jurusan forensik karena kita memang mengurusi mayat. Kedokteran umum atau bedah biasanya akan mengikuti profesor mereka untuk mengikuti praktik yang juga diawasi oleh pihak universitas." Jelas Taehyung sambil memainkan pulpen di tangannya.

Jungkook terpana dengan bagaimana perbedaan keduanya. Yang ia butuhkan hanya buku dan buku, selain buku mungkin berita namun itu bisa didapatkan melewati internet. Berbeda sekali dengan mahasiswa kedokteran, pantas saja biaya administrasi mereka lebih mahal—jauh lebih mahal dibandingkan jurusan lain. Meskipun itu mayat sekalipun, tetaplah itu dibeli dengan uang dan pasti harganya mahal bukan?

Tapi menunjukkan bagian dalam kejantanan? Sepertinya ia akan menolaknya. Menonton orang dimutilasi dalam film saja membuatnya jijik bagaimana dengan bagian dalam kejantanan? Sepertinya dia akan muntah di tempatnya.

"Bagaimana dengan menunjukkanku sesuatu yang lain—selain kejantanan?" tanyanya.

"Jika begitu, bagaimana dengan kelenjar prostat?" tawar Taehyung.

Dokter mesum—pikir Jungkook.

"Bagaimana dengan yang berhubungan dengan skripsimu, Kim Taehyung?"

Terlihat memikirkan perkataan Jungkook, memasang pose berpikirnya yang telah menjadi hal yang unik darinya. Pemuda manis itu hanya menghela napas kemudian melanjutkan mengetik pada laptopnya, membaca kembali catatan beserta referensi yang telah didapatkannya. Sekarang tak lupa untuk memasang earphone-nya untuk mendengarkan lagu dari ponselnya. Dan setelah terkena ampasnya berkali-kali Taehyung telah mengerti—jangan mengganggu Jungkook ketika mendengarkan lagu, tidak ada yang lebih dibencinya daripada saat ia mendengarkan lagu.

Taehyung hanya memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu. Ingatannya tak salah bukan? Jungkook benar-benar tersipu ketika ia menindihnya. Pipinya saat itu benar-benar memerah. Jika seorang Jungkook tersipu itu hanya berarti satu hal—

Jungkook mulai menyukainya.

Teringat isi surat misterius dari pemuda itu mengatakan bahwa ia hanya dapat membaca sisa surat tersebut setelah Jungkook menyukainya, seharusnya tujuan itu telah tersampaikan namun insting Taehyung mengatakan keinginan mendiang sahabat Jungkook tidak bermaksud hanya sampai titik itu. Pasti ada sesuatu yang dimaksudnya. Tetapi apakah itu?

Apa sampai pada titik Jungkook menyatakan rasa sukanya?

Apa keduanya harus resmi menjadi pasangan?

Perintah-nya terlalu ambigu membuat Taehyung mencurigai apa sisa suratnya akan cukup jelas meskipun mengatakan bahwa ia akan menjelaskan semuanya. Di bayangannya Yugyeom bagaikan seorang troll yang siap menghancurkan harapannya sendiri, walau cukup tak mungkin. Mengingat fakta serapi apa rencana yang telah dibuatnya. Saking rapinya seolah Yugyeom dapat melihat masa depan yang pasti.

Fakta—Kim Taehyung sampai saat ini tak pernah merasakan yang namanya sulit mendapatkan cintanya. Bahkan tak pernah ia merasakan perasaan sekuat ini. Untuk mendapatkan teman malamnya yang perlu dilakukannya hanya menarikan jari telunjuknya pada dagu mereka sembari memasang senyuman tampannya. Semuanya—dalam arti, semuanya akan basah hanya dengan dua hal kecil tersebut. Tetapi tidak, mendapatkan Jungkook untuk bermalam dengannya saja Taehyung harus melakukan banyak hal dimulai dari terkena hukuman bersama sampai harus memasukkan benda tajam ke dalam dada sahabatnya. Dia telah melakukan hampir semuanya hanya untuk mendapatkan lubang surgawi Jungkook.

Selain memberitahukan kenyataan yang membawanya bertemu dengannya.

.

.

Keesokan harinya, betapa terkejutnya orang-orang terutama dalam daerah sains melihat kedatangan seorang Jeon Jungkook di dalam daerah mereka. Telah dikenal selama empat tahun membenci segala hal yang berhubungan dengan sains, reaksi beberapa orang bahkan ada yang memotretnya dan sepertinya akan memasukkannya ke dalam berita minggu ini. Terutama di sampingnya mahasiswa terkenal yang telah dianggap merepresentasikan seluruh materi sains berbincang akrab dengannya.

Meskipun dikatakan berbincang akrab pun kurang tepat karena Jungkook selalu menjawabnya dengan seadanya. Mayoritas pembicaraan mereka Jungkook tak pernah bertanya balik, sekalinya ia bertanya balik adalah ketika bertanya bagaimana Taehyung menguasai bahasa inggris sebaik itu ditambah dapat mengerti buku dengan bahasa inggris yang berat. Dan jawaban yang diterimanya membuatnya mengerti bahwa tidak ada satu pun manusia yang jenius sejak lahir.

"Sepertinya sekarang kalian berdua telah menjadi dekat sampai Taehyung ingin membawamu kemari, Jungkook-ah." Suara berat dan dalam terdengar di belakang mereka.

Keduanya spontan melihat ke belakang melihat Yoongi membawa tas ransel pada tangan kanannya. Hebatnya Yoongi sampai tak dapat terdeteksi oleh mereka. Mata sipit nan tajamnya menatap Taehyung dan Jungkook bergantian sampai terhenti hanya menatap si kelinci. Tatapan tajam dingin membuatnya sedikit merasa takut—Jungkook memang sejak awal sedikit takut dengan mahasiswa informatika itu.

"Berniat membaginya denganku, Taehyung? Bagaimana semalam dengan mahasiswa informatika, hm?" Yoongi memberikan seringai samar, "Belum terkekang oleh status bukan? Meskipun aku lebih pendek daripadamu, bahkan singa pun akan tunduk kepada—"

"Tidak perlu."

Sebuah hukum mengatakan jika dalam situasi ini biasanya si dominan yang akan membela pasangannya namun hukum alam tak akan berlaku untuk Jeon Jungkook. Meskipun pemuda itu yang akan mendesah keras di ranjangnya, ia dapat membela dirinya sendiri—bersedia membuka mulutnya untuk menolak tegas ajakan vulgar tersebut. Tak membutuhkan bahkan gerakan tangan dari Taehyung.

Pertama kali melihat itu, kedua pemuda yang melihatnya tentunya terkejut bukan main. Yoongi mungkin masih dapat menguasai ekspresi wajahnya tetapi tidak untuk Taehyung. Jungkook menarik lengan baju mahasiswa kedokteran itu, meninggalkan si mahasiswa informatika yang masih terdiam tapi sempat melirik mereka berdua. Mata sipitnya melebar dan bibirnya membentuk seringai lebar—wajahnya terlihat kacau dan menyeramkan. Untungnya ekspresi itu hanya terbentuk selama beberapa detik dan tidak ada yang melihatnya—meski ada orang yang melihatnya mereka tak akan mengatakan apapun malah akan segera menjauh.

Menjauh dari Yoongi, jari Jungkook melepaskan lengan pakaian Taehyung seraya berbalik. Dokter muda itu masih menunjukkan raut terkejut membuat si pemuda manis kebingungan.

"Tidak perlu terkejut seperti itu juga. Aku memang tak menginginkan Suga." Ucap Jungkook.

Yoongi dan Yugyeom tak pernah jauh berbeda jika dipikirkan dalam-dalam. Keduanya selalu merencanakan semuanya dan berjalan sesuai dengan rencana mereka. Yoongi mengambil kesempatan di awal untuk memberikan kesan bahwa 'Suga' merupakan nama panggilannya maka jika seseorang memanggilnya dengan nama itu tidak akan terjadi kecurigaan. Padahal nama panggilan itu dikhususkan untuk sekumpulan orang dan menyebalkannya—jika sekumpulan orang itu mendengar Jungkook memanggilnya dengan panggilan itu, pemuda manis itu akan dianggap dia sama dengan mereka.

Kucing licik.

Dan kucing licik itu mengerti penuh Taehyung tak dapat menghentikan Jungkook memanggilnya dengan 'Suga', jika ia mengatakan untuk tak memanggilnya dengan nama itu senjatanya malah akan menyerang balik dirinya. Jungkook akan menanyakannya—dengan detail dan hati Taehyung belum siap untuk mengatakannya.

Wajahnya diangkat, menatap wajah pemuda manis itu. Ah—masih sama persis. Sekarang bukan waktunya untuk terlihat gelisah, Taehyung harus memasang wajah seperti biasanya kembali.

"Kita bisa terlambat." Ucapnya singkat.

Jungkook hanya mengangguk tanda mengerti apa yang dimaksud oleh dokter muda itu. Mengikuti langkah kakinya. Memasuki gedung fakultas kedokteran dengan ratusan pasang mata yang menatapinya. Berada dalam daerah kedokteran forensik dan khusus berada dalam daerah dimana penyimpanan berada kemudian seorang pemuda mendatanginya namun Taehyung hanya berkata beberapa kata sebelum pemuda itu pergi lagi. Taehyung mengatakan bahwa orang-orang seperti adalah yang menyiapkan mayat untuk dibawa menuju ruang bedah karena memang bukan para dokter yang membawanya.

"Karena kau tidak akan begitu dekat dengan mayat tak perlu memakai pakaian khusus, tapi tetap gunakan sarung tangan dan masker." Ucap Taehyung setelah memasuki ruangan khusus untuk mengenakan pakaian khusus.

Menerima sepasang sarung tangan karet steril juga masker yang baru dikeluarkan dari plastik khusus. Saking berbedanya dengan apa yang dijual di pasaran, setiap pasang sarung tangan dan masker dikemas satu per satu tanpa digabungkan dengan benda lainnya. Masker yang masih tersimpan dalam plastik tersusun rapi dalam lemari begitu pula dengan sarung tangan. Mencuci tangannya dahulu baru menggunakan sarung tangan—terasa sangat asing pada kulit Jungkook. Karena ini pertama kalinya ia menggunakan sarung tangan karet seperti ini dan terasa sedikit berbeda dengan apa yang dilihatnya di jalanan umum.

Dirinya hanya menunggu Taehyung yang katanya sedang mengurusi beberapa hal, obsidian hitamnya mengitari seluruh ruangan kecil tersebut. Rasanya cukup menakutkan juga. Mengingat letak ruangan ini tepat bersebalahan dengan ruang penyimpanan mayat malah membuat suasana semakin mencekam. Meskipun Jungkook bukanlah tipe orang yang mempercayai makhluk halus atau hal mistis lainnya, tetap saja beberapa cerita seram dari ibunya yang diceritakan ketika ia masih kecil.

"Kook? Tenang saja tidak akan ada hantu yang menakutimu. Itu hanya mitos, arwah disini semuanya baik. Lagipula kita sedang mencari tahu mengapa mereka mati. Well, seharusnya mencari tahu mengapa mereka mati." Suara Taehyung semakin terdengarnya langkah kaki bergema semakin keras suaranya.

Ketika Taehyung sampai pada ruangan yang sama dengan Jungkook, jas putih melekat pada tubuhnya dengan bagian belakangnya terjatuh bebas. Jas putih yang sama dengan saat Jungkook menganggap dokter mesum itu cukup tampan dan memang telah tetulis dalam hukum tak tertulis bahwa Taehyung menggunakan kain tersebut hanya membuat ketampanan dan tampang jeniusnya mencuat berkali-kali lipat. Satu detik kemudian ingatan saat dirinya hampir terlena dalam candu sentuhan dari dokter muda tersebut berputar ulang—pipinya memanas. Pipinya benar-benar memanas—mengapa kejadian itu yang malah membuatnya malu?

"Baiklah, mari kutunjukkan bagaimana mayat yang sebenarnya, Jeon Jungkook."

Keduanya memasuki ruangan forensik, untungnya hari ini tak banyak yang menggunakan ruangan tersebut sehingga hanya Taehyung yang menggunakannya. Yang pertama Jungkook sadari adalah bagaimana suhu ruangan tersebut termasuk dalam kategori dingin mungkin untuk kepentingan mayat. Mendekati meja autopsi dimana selimut putih menutupi sesuatu di bawahnya. Pemuda yang bertanggung jawab menyuruhnya memakai maskernya baru membuka kain penutup tersebut.

Pertama kalinya melihat mayat merupakan pengalaman tak tergantikan—menurut Jungkook. Beruntung sekali yang dilihatnya pertama kali tidak memiliki luka yang mengenaskan, hanya sebuah lubang pada dahinya dan masih memiliki warna darah pada sekitar lubang tersebut. Sementara alis Jungkook bertekuk tak nyaman dokter muda itu hanya mengelus kepala mayat pria tersebut dengan lembut. Meskipun samar namun dalam keadaan sunyi seperti ini dan hanya ada dua makhluk hidup yang mengeluarkan bunyi bernapas, Jungkook dapat mendengarnya—

"It's okay. I'll find how you get killed so you can rest peacefully."

Dilantunkan dengan kelembutan melebihi permen kapas beserta tatapan mata yang hangat. Bagaikan melantunkan lagu pengantar tidur untuk seorang bayi. Suara yang menenangkan itu bahkan dapat sampai kepada benda mati di sekelilingnya, termasuk Jungkook sekalipun meski ia tahu kalimat tersebut tak ditujukan kepadanya. Sekalipun terlihat tak waras karena berbincang dengan mayat, mahasiswa hukum sepertinya—yang tidak mempercayai hal mistis—sekalipun mengerti apa maksud dari kata-kata tersebut.

Hanya satu detik yang dibutuhkan Taehyung untuk kembali menunjukkan ekspresi seperti biasanya.

"Siapa di—beliau?" tanya Jungkook menatap serius wajah pria itu.

"Tidak tahu. Sepertinya beliau imigran gelap dari negara lain. Melihat dari struktur wajahnya kemungkinan berasal dari Meksiko. Database pusat tidak ada yang menerimanya sehingga pemerintah Korea Selatan mengambilnya sebagai mayat simpanan." Jelas Taehyung dengan jarinya menunjukkan daerah pada pria tersebut yang menjadi keunikan setiap warga negara, "Jika beliau telah dalam keadaan tulang akan terlihat lebih jelas. Meskipun kita terlihat berbeda, sebagai warga Korea Selatan kita memiliki struktur tulang yang sama. Terutama pada wajah, hanya otot kita yang membuatnya berbeda."

Jungkook hanya pernah mendengarnya sekali bahwa dengan berkembangnya medis sekarang bahkan mayat pun berharga. Terutama mayat seorang manusia—memiliki banyak organ yang dapat dijual dengan harga tinggi bahkan kulitnya pun dapat menjadi implan untuk manusia di luar sana yang menambakan kecantikan tanpa batas. Oleh sebab itu jika dipikirkan ulang, banyak sekali orang yang mendapatka uang gelap dari bisnis mayat ini. Semua negara berbondong-bondong memajukan pengetahuan sains mereka dan tak akan sudi memberikan aset untuk bahan percobaan oleh negara lain.

Tak diduganya ternyata pengetahuan dari berita dapat membuatnya mengerti beberapa hal.

"Ingin melihat bagaimana pandangannya, Kook?" tawar Taehyung seraya menaik-turunkan alisnya.

Menerima tawaran tersebut, kedua jari Taehyung menarik ke atas kelopak mata kanan mayat tersebut.

Kosong.

Tak ada refleks melihat ke arah lain atau apa. Hanya diam di tempat. Pandangannya kosong sepenuhnya, menunjukkan tidak ada apapun di dalam wadah tersebut. Mata merupakan pancaran kehidupan itu memang benar bahkan tanpa diberitahu oleh Taehyung bahwa pria itu adalah mayat mungkin Jungkook akan tahu bahwa tak ada nyawa di dalam pria itu. Seperti itukah mata seorang mayat.

"Ya, beliau tidak bunuh diri. Itu berita bagus."

"Darimana kau mengetahuinya?" tanya Jungkook menekuk alisnya bingung.

"Pandangannya masih tidak berubah saat pertama kali kulihat. Kaget. Berarti beliau tak menduga dirinya akan mati pada saat itu dan karena tidak ada luka lain selain luka tembak pada kepalanya juga lukanya tidak sesuai dengan kriteria mulut senapan tepat berada di dahinya maka aku mengambil kesimpulan bahwa beliau ditembak." Jelas Taehyung menunjukkan bola mata mayat itu dengan jarinya, "Lagipula—saat kau ingin bunuh diri dengan menembakkan pelurunya di dahimu pasti akan berada dalam jarak yang dekat."

Menjelaskan bagaimana jarak peluru ditembakkan dapat membuat luka yang berbeda-beda sebenarnya—cukup menarik. Jungkook tak mengerti mengapa kedokteran forensik terkadang dianggap lebih rendah dibandingkan kedokteran lainnya, padahal baginya secara materi forensik lebih berat dibandingkan lainnya. Mereka mempelajari berbagai materi sains yang lain dan harus memiliki pengetahuan yang luas karena bahkan pengetahuan yang dimiliki Taehyung bukanlah pengetahuan yang tertulis pada buku melainkan memang mengetahuinya dari media lain.

Mungkin satu-satunya perbedaan kedokteran forensik dengan lainnya hanya dalam segi material dan juga tujuan. Forensik tak diajarkan untuk menyembuhkan tetapi pada tahun awalnya tetap diberikan materi mengenai dasar-dasar mengenai kedokteran medis, tetapi tidak sampai pada titik mereka mengerti cara membedah otak tanpa membuat orangnya meninggal. Berbeda sekali dengan jurusan hukum. Ternyata menyamaratakan kedua jurusan yang berbanding terbalik memang kesalahan besar.

Terus menjelaskan betapa menariknya seorang mayat tanpa luka yang begitu mengenaskan, tak terasa keduanya telah beberapa jam berada disana. Taehyung menjelaskan dengan mata berbinar antusias dan Jungkook pun sama antusiasnya namun tidak menunjukkannya terlalu banyak tapi terus bertanya mengenai banyak hal telah menunjukkan antusiasnya. Mungkin Taehyung terlihat seperti dokter gila yang menyukai mayat tapi Jungkook tahu mengapa ia begitu senang menjelaskannya adalah karena Jungkook akhirnya mengerti dan mulai sekarang tak akan menjelekkan jurusan sains apapun.

—Percayalah, itu merupakan kebahagiaan bagi Taehyung.

.

.

Sementara Taehyung sibuk mengerjakan data untuk skripsi yang telah didapatkannya—mungkin lebih tepatnya mencatat ke dalam buku catatannya karena entah mengapa meskipun teknologi telah membantunya untuk merekamnya saja ia tetap memilih untuk mencatat dengan tangannya. Omong-omong, Taehyung dan Jungkook termasuk ke dalam mahasiswa dengan tulisan tangan paling terbaca dan terbagus karena keduanya jarang sekali menggunakan perekam suara atau menggunakan sarana ketikan sehingga rata-rata semua catatan mereka ditulis dengan tangan mereka sendiri.

Jungkook hanya memperhatikan bagaimana tangan mahasiswa kedokteran itu bergerak dengan mulus, hanya terhenti untuk melihat kembali catatan kasar pada beberapa lembar kertas lalu melanjutkan untuk kembali menuliskannya dengan rapi. Saking rapinya bahkan untuk mahasiswa non-sains seperti Jungkook dapat cukup mengerti apa yang ada di dalamnya.

"Hei, Jungkook."

Telah menjadi insting manusia jika nama mereka terpanggil maka kegiatan apapun yang tengah dilakukannya akan terhenti, begitu pula dengan melamun. Obisidian hitam itu menatap wajah pemuda itu dari samping, menunggu untuk mendengarkan apa maksud namanya dipanggil. Sejenak melirik bagaimana ujung pulpen yang digenggam oleh pemuda itu terlihat bergetar begitu pula dengan tangannya.

"Mengapa kau ingin memasuki jurusan hukum?" Menyelesaikan pertanyaannya barulah ia menghadap pemuda yang ditanyainya.

Pandangan yang terpancar dari netra hazel mengatakan bahwa pertanyaan itu merupakan pertanyaan serius. Tidak dimaksudkan untuk memecahkan keheningan diantara mereka—sangat serius. Menangkap aura keseriusan di dalamnya tak mungkin Jungkook akan menjawab dengan jawaban tak serius—namun alasan sebenarnya ia ingin menjawab dengan tak serius adalah karena menjawabnya dengan jawaban jujur hanya akan membuatnya teringat beberapa hal menyebalkan beberapa tahun lalu.

Taehyung mengerti dari gerakan bola mata itu bahwa jawaban jujurnya pasti telah menyebabkan sesuatu jika tidak, Jungkook tak akan segan untuk menjawabnya bukan?

"Lupaka—"

"Ingin mengubah hukum dunia."

Terkejut. Mungkin itulah yang dirasakan oleh Taehyung.

"Lucu sekali bukan? Semua dosen disini diam-diam menertawakanku setelah mengatakan alasan utamaku memasuki jurusan ini." Tawa pahit meluncur keluar dari bibirnya, "Karena keinginan itu terdengar seperti anak-anak yang ingin menjadi superhero. Bahkan aku sendiri sekarang berpikir bahwa keinginan itu tak akan tersampaikan, bagaimana caranya aku mengubah hukum utama dalam dunia ini jika bahkan aku tak dapat melindungi perasaan Yugyeom? Kupikir dengan mengubah hukum utama yang menggerakkan seluruh hukum di dunia ini, meski itu hanya satu menit kedamaian maka aku akan mengorbankan apapun."

Taehyung terkesiap terutama setelah mendengarkan kata-kata terakhir kumpulan kalimat tersebut, dilengkapi dengan wajah mahasiswa hukum itu menatap ke bawah menolak untuk menatap ke atas. Rasanya menyedihkan sekali—sampai tubuhnya bergerak sendiri untuk memeluk pemuda itu dengan erat. Lebih erat dari semua pelukan yang pernah diberikannya.

Wajah Jungkook membeku—tentunya karena terkejut dan karena berapa banyak kejadian setiap kali kontak fisik ini terjadi akan berujung kepada dirinya dilecehkan membuatnya malah menjadi dalam posisi siap menendang selangkangan Taehyung.

"Kau—Kau tak perlu mengorbankan apapun. Akulah yang akan mengorbankan semuanya." Ucap Taehyung dengan suara yang anehnya—parau.

Jika Jungkook bukanlah seseorang yang seperti itu mungkin kalimat selanjutnya tidak akan keluar dan tercatat dalam sejarah—

"Mengapa?"

Ingin sekali Taehyung kembali pada masa lalu meskipun hanya beberapa detik untuk membunuh dirinya yang telah bodohnya mengatakan sesuatu seceroboh itu. Bagaimana mungkin ia melupakan bagaimana seorang Jeon Jungkook tak akan menyadari tindakan tersebut? Jungkook terlalu sensitif terhadap semua kata yang diucapkan oleh orang lain sampai membuatnya mengetahui bahwa Yugyeom selama ini mencintainya.

Tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya Jungkook menjauhkan diri dari tubuh Taehyung, berusaha menatap wajah yang tiba-tiba menjadi pucat.

"Hei, tatap aku, Taehyung."

Kedua tangan lembutnya menangkup pipi Taehyung dan memaksanya untuk menatap obsidian hitam miliknya. Untuk pertama kalinya ia melihat seorang Kim Taehyung memasang wajah pucat dan seperti benar-benar putus asa—jangan lupakan melakukan kesalahan fatal.

Mata hazel-nya berusaha fokus menatap wajah manis Jungkook. Perasaan bersalah yang telah ditahannya sejak lama tiba-tiba muncul dan mendominasi seluruh tubuhnya. Rasanya menyakitkan. Merasakan bagaimana permukaan kulit pada tangan Jungkook bersentuhan langsung dengan kulit pipinya, lubang hitam langsung menatapnya dengan khawatir dan suara yang berusaha agar membuatnya tetap fokus untuk menatapnya.

Rasanya bagaikan ditimpa oleh jutaan batu besar dan menghancurkan tubuhnya.

Wajahnya persis—yah, apa yang kau pikirkan Kim Taehyung? Jungkook adalah putranya. Tentu saja mereka akan mirip.

Putra yang telah kehilangan banyak hal. Keluarganya satu-satu pergi meninggalkannya. Harga dirinya membuatnya tak ingin memohon bantuan dari orang lain dan itu terbawa sampai sekarang. Kehilangan satu-satunya wanita yang telah bersamanya sejak kecil tanpa mengetahui bahwa Taehyung-lah penyebabnya. Penyebab semua perubahan dalam kehidupan Jungkook.

Jangan katakan.

Mungkin inilah saatnya—untuk mengatakan kenyataan yang selama ini disembunyikannya.

Kim Taehyung!

Bahkan air matanya tak dapat terbendung oleh pelupuk matanya lagi.

"—Akulah yang telah membunuh ibumu, Jungkook."

Menutup mata karena takut untuk melihat reaksi dari perkataannya. Jungkook tak akan menganggapnya itu sebagai candaan—mereka sudah terlalu dekat untuk mengetahui manakah bagi mereka candaan dan bukan. Mengapa dirinya yang harus menangis? Seharusnya keluarga korban yang menangis, lantas mengapa malah dokter yang telah lalai pada saat itu—menangis?

"Maafkan aku… Maafkan…!"

Tangan bergetarnya berusaha memegang tangan yang masih setia menangkup pipinya. Berusaha untuk melepaskan dari pipinya karena tak kuat untuk menahan suara tangisannya namun entah mengapa seluruh tubuhnya menjadi lemah sampai hanya untuk melepaskan tangan. Wajahnya kusut oleh air mata dan ingus dari lubang hidungnya. Setiap kata 'maaf' yang keluar dari bibirnya terdengar serak bahkan terkadang terputus-putus karena mayoritas dari suara yang dikeluarkannya hanyalah suara berusaha untuk menahan suara menangisnya.

Namun anehnya, seharusnya siapapun itu bahkan Jungkook sekalipun akan segera menjauh bahkan memarahi Taehyung tapi tidak—ia malah membawa kepala Taehyung untuk bersandar pada pundaknya. Tak memedulikan sebasah apa kemeja putih favoritnya, karena rasa kasihan terlalu mendominasi. Membiarkan Taehyung menangis pada pundaknya sembari mengelus kepalanya dengan lembut lalu berbisik dengan suara semanis cokelatnya,

"There, there. Everything is going to be okay."

Itu sebenarnya sama sekali tak membantu untuk Taehyung karena hanya kenangan ketika dirinya dipeluk oleh wanita itu muncul. Lengannya memeluk erat tubuh Jungkook seolah ia benar-benar bergantung kepadanya.

"A-Andaikan aku menyadarinya... Semua ini tak akan terjadi…!"

Jungkook hanya menganggukan kepala kepada setiap kalimat yang Taehyung keluarkan. Entah mengapa sama sekali tidak ada kekesalan di dalam hatinya, mungkin karena ia mengerti sebanyak apa penderitaan Taehyung selama ini. Bertemu dengan keluarga seseorang yang tak sengaja kau bunuh itu bagaikan ditusuk oleh ribuan jarum pada dadamu. Dan bagaimana keduanya menjadi dekat itu pasti merupakan penderitaan untuk Taehyung.

Dapat dirasakannya pundaknya mulai terasa basah tetapi tak mengindahkannya terlalu banyak. Jungkook hanya menunggu—awalnya begitu. Namun ketika suara tangisan itu perlahan-lahan berhenti dan dipikirnya Taehyung akan segera menjauh karena merasa malu telah menangis seperti perempuan malah berganti dengan pelukan mengendur dan—suara napas stabil. Juga, dengkuran?

Taehyung benar-benar tertidur tepat setelah menangis?!

"Jenius apapun yang dimilikinya tetap saja ia adalah anak kecil."

Suara yang pernah didengarnya membuatnya mendongak ke arah pintu, dimana seorang pria muda pernah dilihatnya berdiri dengan tangan bersilang di dadanya. Rambut cokelatnya telah dikenalnya ditambah pundak lebar yang telah dicatat oleh otaknya tak mungkin Jungkook melupakannya. Pria itu mendekat dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku jas putihnya memperhatikan bagaimana Jungkook dan Taehyung seperti sesuatu yang terlalu cocok untuk dipisahkan.

"Tapi, masalah utamanya adalah—mengapa kau sama sekali tak terlihat marah, Jeon Jungkook?"

Jungkook berterimakasih tak perlu menanyakan kembali sejak kapan Seokjin berada disana, namun kurang terus terang apa pria itu? Menanyakannya langsung setelah ia baru menerima informasi tersebut. Tetapi jika dipikirkan dengan logis reaksi Jungkook terlalu tidak manusiawi, siapapun itu akan setidaknya marah mendengar keluarga mereka dibunuh.

"Aku hanya berpikir bahwa semua rasa bersalah miliknya sia-sia karena aku tak merasa hidupku menderita sejak ibuku meninggal. Oleh karena itu aku tidak merasakan amarah apapun." Jelas Jungkook singkat, padat dan jelas.

"Kau tidak akan membawanya ke polisi?" tanya Seokjin penuh selidik.

"Hanya berdasarkan pernyataannya? Apapun yang terjadi disana pastilah semua telah ditutupi entah oleh siapa jika tidak, sebuah ketidakmungkinan dokter mesum ini dapat berada disini. Aku tak ingin tahu apa yang terjadi disana tapi ibuku meninggal karena kehabisan darah dan itu adalah titik. Itu yang telah kupercayai selama tiga tahun dan keterlibatan Taehyung di dalamnya tak akan mengubahnya." Jungkook mengatakannya dengan fasih tanpa terdapat nada bingung atau ragu—telah diharapkan dari mahasiswa hukum terbaik.

"Kembali perintah diriku untuk marah jika hidupku itu tinggal di sudut jalan, kesusahan hidup dan setiap hari bagaikan neraka." Ucap Jungkook dengan mata tajam dan dingin, menatap langsung Seokjin tanpa takut karena dalam ucapannya tidak menunjukkan sopan santun kepada yang lebih tua.

Mata cokelat tua Seokjin membulat sempuna. Tak lama kemudian malah berubah menjadi mata berbinar karena air mata. Jungkook merasa panik telah membuat seorang profesor yang dipastikan jauh lebih tua dibandingkan dirinya menangis namun ia tak dapat bergerak karena kepala Taehyung masih berada di pundaknya sehingga hanya dapat berkeringat dingin.

Kenapa semua orang menangis hari ini?!

"S-Selama ini aku memikirkan bagaimana reaksimu dan memikirkan bagaimana kau meninggalkan Taehyung itu sangat menyeramkan. Karena mungkin Taehyung memang jenius tapi tetaplah dia itu anak kecil yang rapuh." Seokjin menyeka air matanya, "Thank you."

Pemuda manis itu menatap wajah tertidur Taehyung, selama ini belum sekalipun ia melihat wajah Taehyung dalam keadaan tak sigap untuk menerima keadaan darurat seperti ini. Setiap kali ia terlihat tertidur dan Jungkook memperhatikannya ia akan membuka matanya lalu langsung menatap obsidian hitam tersebut. Seperti selama ini Taehyung tak ingin menunjukkan sisi lemahnya sampai tidak tertidur dengan benar setiap bermalam di apartemen Jungkook.

Perkataan Seokjin memang benar, wajah tertidurnya terlihat seperti anak kecil yang kelelahan. Entah mengapa melihatnya membuat Jungkook menjadi gemas akan betapa manisnya dokter muda itu. Memang wajah tertidur akan selalu terlihat manis jika itu orang yang telah—

Menarik perhatian.

Selama ini pemuda manis itu baru menyadari bahwa mahasiswa kedokteran itu telah menarik perhatiannya. Teringat banyaknya beberapa kali kejadian dimana ia ingin menanyakan banyak hal seperti bagaimana masa lalu Taehyung dan lainnya—namun harga diri menahannya dan malah membuatnya beranggap bahwa perasaan itu hanyalah sesuatu yang sementara. Tetapi sekarang ia dapat membelakangi harga dirinya. Untuk kali ini.

"Ceritakan kepadaku. Masa lalu Taehyung. Alasan mengapa dia dapat menjadi seseorang yang bertemu dengan ibuku."

Kegigihan terpancar dari lubang hitam milik seorang Jeon Jungkook. Tak mungkin melihat kegigihan sekuat itu dan Seokjin akan melarikan diri dengan alasan tak dapat menceritakannya. Pria itu memilih untuk duduk di meja tepat di samping Jungkook, melepaskan jas putihnya lalu melipatnya dengan rapi.

"Tidak ada yang spesial dari Taehyung kecil. Hanya saja orangtua kami memaksa agar kedua putranya memasuki kedokteran. Aku pada saat itu telah memasuki universitas dan masuk ke dalam fakultas kedokteran namun saat itu Taehyung masih dalam masa sekolahnya. Aku—sebagai kakaknya melawan kedua orangtua kami meskipun pada akhirnya sia-sia karena dia memaksakan diri memasuki jurusan yang sama denganku. Disinilah semuanya menjadi rumit. Kuyakin mahasiswa terbaik disini dapat mengerti."

Jungkook hanya mengangguk singkat. Siap mendengar semua hal rumit milik Kim Taehyung.

"Sebenarnya Taehyung telah diresmikan menjadi dokter di Amerika Serikat dengan kata lain—telah lulus. Tetapi dengan keluarga kami yang hancur karena banyaknya penggunaan uang gelap dan menghasilkan banyak hutang, Taehyung dibantu oleh temanku untuk mendapatkan banyak uang dengan waktu singkat. Lalu aku kembali ke Korea Selatan untuk mengajar disini. Dengan posisiku yang mudah untuk membawa Taehyung dari Amerika Serikat kesini, maka aku pun membawanya dengan mengundangnya atas nama universitas ini. Lalu, dengan bantuan seseorang kelulusan Taehyung dipalsukan bahkan dianggap ditelan oleh bumi. Dalam catatan pada detik ini dalam universitas ini Taehyung merupakan mahasiswa kedokteran jurusan forensik." Jelas Seokjin menuliskan sesuatu dengan jarinya di meja meskipun tak ada yang muncul.

"Siapapun itu yang menghapus datanya itu bukan hanya satu orang pastinya. Meskipun mayoritas data kita disimpan dalam bentuk digital tetapi untuk mengenai kelulusan akan selalu disimpan dalam bentuk fisik. Dan itu akan disebarluaskan kepada seluruh negara agar hal seperti yang dilakukan Taehyung tak terjadi. Bagaimanapun siapapun itu merupakan seseorang dari negara ini." Jungkook ikut berbicara dengan nada datar dan cara penyampaiannya mengatakan jelas mengenai pengetahuan dan kemampuan menangkap informasinya.

"Maaf, aku tidak dapat menyebutkan namanya." Seokjin merengut sedih.

"Tidak perlu menyebutkan namanya, aku tidak memerlukannya. Dari ceritamu secara singkat hal yang menyebabkan semua ini bukanlah berasal dari masa kecilnya melainkan dari bantuan dari temanmu itu dan karena kau tak menceritakannya kepadaku hanya ada dua kemungkinan, kau tak berada disana atau tak bisa memberitahukannya." Ucap Jungkook panjang dengan mata menatap ke arah lain.

Seokjin mengagumi penampilan Jungkook sekarang. Aura yang membuatnya menjadikannya mahasiswa terbaik dalam satu universitas terlihat jelas. Pandangannya serius, tajam dan penuh selidik seperti sedang menyelidiki dan memperkirakan semua yang telah diceritakan oleh Seokjin. Dapat terlihat bagaimana matanya bergerak ke kiri dan kanan seolah memindai sesuatu padahal itu merupakan ingatannya—memindai ulang semua pengalamannya termasuk kata-kata, ekspresi Taehyung—semuanya.

Memasangkan satu per satu pecahan puzzle dalam ingatannya membuat gambaran lalu terangkai menjadi sebuah cerita. Membaca ulang cerita yang telah dirangkainya, mulai mengerti dalam semua teka-teki di dalamnya.

Satu-satunya teka-teki yang belum terselesaikan hanyalah—

Gerakan pada bahunya memecahkan jalan pikirannya, sesuatu yang lembut bergerak dan ketika Jungkook menatap ke bawah dilihatnya netra hazel sembab memantulkan bayangannya.

Perasaan pada dadanya itu—apa?

.

.

To Be Continued

Author's Note:

MAAFKAN~ ku sudah janji bakal ada naenanya tapi malah tidak ada. Setidaknya ada bonus trisam untuk kalian semua yang butuh NC-nya

Wayulu, dipikir ga bakal secepat ini ya Taehyung nyatain yang sebenernya~

Chapter selanjutnya (mungkin) bakal lebih pendek dari biasanya karena dengan chapter selanjutnya maka part pertama untuk law & order akan selesai~ bukan end kok cuman seperti sejenis… penjelasannya chapter selanjutnya oke?

Chapter depan bakal ada fluffnya lho akhirnya ya? Setelah berapa lamanya ff ini penuh dengan penderitaan dan emosi negatif

Seperti biasa ada beberapa paragraf no edit jadi maafkan ya~

Terimakasih atas semua dukungan kalian semua~ mungkin nanti kapan-kapan ku bakal double update dengan ucapan terimakasih atas semua reviewnya atau nanti kubales deh disana. Mungkin.

Kalau begitu mari kita bertemu di chapter selanjutnya~ dengan twi*piiip*~

M.Y