Imperfect Angel (Remake novel karya Nureesh Vhalega)

HunKai Fanfiction

Sehun X Kai

GS!Kai

Warning! Genderswitch, typo(s), DLDR!

.

.

.

.

.

Kompromi

Suara gaduh yang berasal dari dapur berhasil menyentak Sehun keluar dari keseriusannya bermain game. Sehun mematikan iPad-nya, bersiap menyaksikan pertunjukan rutin yang selalu dilakukan Jongin sepulangnya dari kantor.

Hari ini genap tiga minggu mereka menikah-bukan berarti Sehun menghitungnya, Sehun hanya mengingatnya-dan setiap hari sejak mereka menikah Jongin selalu menghabiskan waktunya di kantor. Setelah malam berubah larut, gadis itu akan pulang dengan wajah lelah juga tubuh yang nyaris ambruk.

Karena itu tidak mengherankan setiap kali bergerak Jongin akan menimbulkan keributan. Dan Sehun sangat suka melihatnya. Dalam diam. Bersama senyum yang tak mampu diukir wajahnya, namun perlahan mewarnai binar matanya. Kembali terdengar suara benda yang jatuh, disusul pekik kesal Jongin.

Tak lama kemudian ponsel Jongin berdering dan gadis itu mengatur napas sebelum menjawabnya. Sehun berusaha tidak mendengar percakapan Jongin, namun pada akhirnya Sehun mengerti inti percakapan itu. Tidak sulit mengingat Jongin sudah berurusan dengan hal yang sama, masalah pembangunan sebuah perumahan elit dengan taman rekreasi eksklusif di dalamnya.

Proyek itu adalah proyek terbesar Jongin yang pertama dengan jabatannya sebagai CEO, sehingga bebannya menjadi dua kali lipat lebih berat. Jongin menaiki tangga, yang Sehun asumsikan menuju kamarnya, namun tak lama kemudian gadis itu kembali turun. Kini dengan tangan yang dipenuhi berbagai berkas. Sehun mengerutkan kening, lalu membuka suara tanpa berpikir lagi.

"Kau akan pergi?" tanya Sehun. "Ya. Aku harus kembali ke kantor," jawab Jongin tanpa menghentikan kesibukannya memeriksa isi tas. "Ini sudah larut malam," sahut Sehun. "Beritahu aku sesuatu yang tidak aku tahu," balas Jongin. Suaranya keluar lebih tajam dari yang diinginkannya, namun Jongin tidak peduli. Ia sudah memiliki cukup banyak masalah.

"Mungkin kau tidak tahu bahwa manusia memiliki batas. Kau tidak bisa bekerja dua puluh empat jam sehari. Ini sudah larut. Kau bisa kembali ke kantor besok pagi."

"Dan mungkin kau tidak tahu bahwa tidak semua orang bisa bersantai tanpa memikirkan bagaimana harus hidup. Aku tidak bisa bersikap acuh sepertimu. Tidak setelah segala hal yang aku lakukan untuk mencapai posisi ini." Keheningan merebak setelahnya. Jongin tetap berdiri dengan tatapan tajam, sementara Sehun masih duduk di sofa dengan sebelah alis terangkat.

Bertentangan dengan Jongin yang memasang ekspresi kaku, Sehun justru menunjukkan wajah heran. Sehun menolak menjadi yang pertama memecah keheningan, namun ia sama sekali tidak menyangka ucapan Jongin selanjutnya akan membuatnya kehilangan ketenangan.

Jongin berkata, "Kau tidak akan pernah mengerti tentang tanggung jawab. Kau tidak tahu beban yang berada di bahuku. Karena kau hanya sibuk membuat dunia impian di layar kaca. Kau tidak tahu seperti apa hidup sesungguhnya." Tidak tahu? Seketika ingatan Sehun terlempar pada keluarganya. Pada segala sesuatu yang ia kira akan ia miliki selamanya.

Segala sesuatu yang paling berharga baginya, namun terpaksa harus ia lepaskan atas satu alasan tak terbantahkan. Dan itulah hidup sesungguhnya. Dalam satu gerakan cepat Sehun berdiri dan menghampiri Jongin. Berbagai emosi melintasi wajahnya, namun Sehun tidak membiarkan Jongin membacanya, karena Sehun membalas ucapan Jongin dengan telak.

"Setidaknya aku mampu hidup dengan menjual impian itu. Aku tidak perlu mengorbankan segalanya. Karena pada intinya, kita berdua sama saja. Sama-sama seorang pelayan yang selalu mengikuti keinginan klien. Perbedaan antara kau dan aku hanya setipis benang, aku merasa bahagia, tidak tersiksa selama prosesnya. Sedangkan kau harus hidup dalam neraka yang kau ciptakan sendiri."

Jongin terpaku. Tak lagi mampu memikirkan sesuatu untuk membalas Sehun. Karena jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Jongin menyadari kebenaran ucapan Sehun itu. Hanya saja Jongin tidak mengira perasaan yang mengikuti kesadaran itu akan begitu menyakitkan.

OoOoOoO

Enam hari berlalu dengan ketegangan maksimal antara Sehun dan Jongin. Jika sebelumnya interaksi mereka terbatas pada tatapan mata dan anggukan kepala yang singkat, kini mereka menguranginya hingga ke tahap tidak memedulikan satu sama lain.

Pernah sekali waktu, Jongin menjatuhkan berkas-berkas setinggi gunung yang dibawanya ketika menuruni tangga, namun Sehun hanya terus melangkah tanpa melirik Jongin sedikit pun. Dan kemarahan Jongin yang berada di puncak semakin memaksa Jongin untuk menambah ketinggiannya hingga menjadi super marah.

Jongin tahu tindakannya kekanakan, namun Jongin tidak bisa melupakan perkataan Sehun saat itu. Jongin enggan untuk mengakuinya, karena Jongin tahu Sehun benar. Itulah tepatnya yang membuat Jongin menjadi seorang pengecut, dan hanya semakin menambah rasa pahit dalam hati Jongin. Sejak perdebatan itu, Jongin merasa hidupnya semakin berat dan tidak menyenangkan.

Sungguh lucu, bukan? Seseorang yang hampir tidak dikenalnya berhasil memengaruhi hidupnya hingga sedemikian rupa. Dirinya, Kim Jongin, yang selalu memegang kendali penuh atas hidupnya kini mulai mempertanyakan banyak hal hanya karena kehadiran seorang Oh Sehun. Hal serupa juga dirasakan oleh Sehun.

Ia berusaha mempertahankan aksi diamnya, namun kebiasaannya untuk memperhatikan Jongin tidak bersedia absen. Sehun mendapati dirinya semakin khawatir, karena Jongin semakin sibuk dan terlihat semakin tertekan belakangan ini.

Sehun mencoba mengesampingkan rasa ingin ikut campurnya-karena Jongin dengan jelas menyiratkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan Sehun- namun Sehun tidak bisa melakukannya. Hari ini adalah hari ke enam perang dingin mereka, dan Sehun menyerah. Sehun berhenti berusaha meredam keinginannya untuk bersikap peduli.

Mengikuti nalurinya yang telah terasah dalam melindungi seseorang, sampailah Sehun pada tempatnya saat ini. Pada sebuah kursi di halaman belakang rumah Kim Jiwon, dengan sebuah papan catur di hadapannya. Senja telah beranjak menuju langit kelam, sementara Sehun memperhatikan setiap langkah yang dilakukan dengan hati- hati.

Sehun harus mengakui kehebatan pria paruh baya di hadapannya itu, karena sungguh tidak mudah mengalahkannya. Setiap langkah yang dibuat pria itu penuh perhitungan dan jika Sehun tidak hati-hati, ia akan kalah dan menghilangkan kesempatan emasnya untuk mencapai kesepakatan itu.

"Aku tidak menyangka anak muda sepertimu bisa menandingiku yang menghabiskan seumur hidup untuk memainkan permainan ini," ucap Jiwon. Sehun mengulas bibirnya membentuk senyum sopan seraya memindahkan pionnya.

Berdoa sepenuh hati agar seluruh usahanya mempelajari permainan catur selama dua hari penuh-hingga mengorbankan waktu tidurnya juga waktu tidur para sepupu iparnya yang baru-tidak akan menguap sia-sia. Selama sesaat tak ada suara apa pun, hingga beberapa menit kemudian, Sehun mendapatkan kesempatan untuk menutup permainan dengan satu langkah mematikan.

Sehun berhasil memenangkan permainan. Refleks, Sehun mengepalkan tangannya dan menggumamkan kata "yes!" dengan semangat yang menggebu. Mengundang tawa geli dari Kim Jiwon, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya tertawa setelah kalah dari permainan catur yang amat dibanggakannya.

Jiwon menyandarkan tubuhnya, lalu berkata, "Kau benar- benar anak muda yang sangat menarik. Aku senang telah menerima tantanganmu hari ini. Sudah lama aku tidak bermain seperti ini. Kau mengingatkanku pada semangatku dulu ketika aku masih muda. Sesuai dengan kesepakatan awal kita, aku akan menyutujui rancangan bangunan yang diajukan oleh istrimu."

Sehun menjabat tangan dan tersenyum dengan tulus. Tak lama kemudian Sehun pamit undur diri, masih dengan senyum gembira yang tak bisa disembunyikan wajahnya. Sehun sudah membayangkan ekspresi Himchan dan Daehyun yang pasti bangga karena telah berhasil mengajarkan permainan catur itu dalam waktu singkat.

Sehun mengingatkan dirinya untuk mentraktir kedua sepupu iparnya itu ketika mereka bertemu nanti. Baru saja Sehun membalikkan tubuh, suara kembali memanggilnya. "Oh Sehun." Sehun membalikkan tubuh. "Terima kasih," ucap Kim Jiwon.

Sekali lagi, Sehun hanya tersenyum. Ia melambaikan tangan, lalu kembali melanjutkan langkah. Sehun tahu permainan catur tadi sangat menyenangkan dan mereka berdua menikmatinya, terlepas dari hasil akhirnya. Jika saja bisa, Sehun juga ingin mengucapkan terima kasih pada Kim Jiwon karena telah memberi Sehun kesempatan untuk membuktikan dirinya juga taruhan konyolnya.

Namun Sehun tahu hatinya masih belum sanggup mengambil langkah sejauh itu. Sehun berharap senyumnya sudah cukup untuk menutupi lubang yang tercipta karena ketidakmampuan mulutnya untuk mengucapkan terima kasih.

Satu hal yang tidak Sehun ketahui adalah alasan ucapan terima kasih Kim Jiwon itu sama sekali tidak berhubungan dengan permainan catur yang baru saja mereka lakukan. Ucapan itu ditujukan untuk usaha yang telah Sehun lakukan demi Jongin. Sehun mengingatkan Kim Jiwon pada dirinya dulu, ketika ia rela melakukan apa pun demi mendiang istri tercintanya.

Pada awalnya, Kim Jiwon mengira pernikahan Sehun dan Jongin hanyalah sebuah parade demi keuntungan perusahaan semata. Karena siapa yang akan menikah dengan terburu-buru hanya setelah tiga bulan menjalin hubungan? Namun Kim Jiwon harus menarik ucapannya sendiri. Ia mendapatkan bukti nyata bahwa Sehun sungguh peduli pada Jongin.

Taruhan mereka pun dilakukan bukan karena Sehun ingin perusahaan Jongin mendapat keuntungan. Namun, karena Sehun ingin Jongin mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya sebagai CEO yang baru. Kim Jiwon dapat melihatnya, ketulusan juga kepedulian Sehun.

Kim Jiwon bahkan dapat merasakan kehangatan yang telah lama menghilang bersama dengan perginya cinta dalam hidupnya. Itulah alasan Kim Jiwon mengucapkan terima kasih. Di usianya yang telah menginjak 63 tahun, setelah kepergian istrinya hampir satu dekade yang lalu, akhirnya ia mendapatkan kembali satu kesempatan untuk melihat sebuah ketulusan.

Dan karena itu, Kim Jiwon berharap Oh Sehun tidak akan merasakan kehilangan yang sama seperti dirinya.

oOoOoOo

Jongin memasuki kantornya pagi itu tanpa prasangka apa pun. Benaknya telah penuh terisi dengan segala hal yang harus dikerjakannya, hingga Jongin hampir berhasil melupakan perang dingin antara dirinya dan Sehun yang sudah genap berlangsung selama satu minggu.

Jongin baru saja duduk di kursinya ketika pintu kantornya diketuk dan memunculkan sosok Sana serta seorang pria paruh baya di belakangnya. Jongin terbelalak ketika menyadari bahwa pria itu adalah Kim Jiwon. Jongin segera berdiri menyambut, lalu mereka duduk berhadapan di sofa yang terletak di sebelah kanan ruangan.

Kim Jiwon tidak melakukan basa-basi, karena pria itu langsung mengatakan maksud dari kedatangannya.

"Aku datang pagi ini untuk memberitahu bahwa aku telah menyetujui rancangan yang kau ajukan. Setelah ini aku akan memberikan tanggung jawab terhadap cucuku, Yuju, untuk menyelesaikan detail dari rancanganmu. Sekadar memastikan semuanya berjalan sesuai ekspektasiku. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan proyek ini akan sukses," ucap Kim Jiwon.

Jongin kehilangan kata selama beberapa saat, tak menyangka dewi keberuntungan tengah memihak padanya. Segala hal yang ia perjuangkan akhirnya membuahkan hasil. Kini, semuanya benar-benar berjalan sempurna. Jongin telah mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya, sekaligus membalaskan dendamnya terhadap Baekhyun.

Jongin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, lalu menanyakan beberapa detail lain yang langsung dijawab Kim Jiwon tanpa ragu. Tak lama kemudian Kim Jiwon pamit undur diri. Jongin mengantar hingga ke pintu ruang kantornya. Ketika sekali lagi Jongin mengucapkan terima kasih, Kim Jiwon membalasnya dengan satu kalimat yang sungguh mengejutkan Jongin.

Satu kalimat yang tak pernah Jongin bayangkan akan didengarnya. "Berterima kasihlah pada suamimu, karena kepeduliannya yang begitu besar terhadapmu berhasil membuatku mengambil keputusan ini," ujar Kim Jiwon dengan seulas senyum tipis yang sarat makna. Jongin mematung sepenuhnya.

Hanya mampu menatap punggung pria paruh baya yang terus berjalan menjauhinya. Dengan pikiran yang tak lagi sanggup memikirkan hal lain, selain sepasang mata berwarna biru- kehijauan yang sudah satu minggu diabaikannya secara sempurna. Bagaimana mungkin di tengah perang dingin mereka, Sehun justru melakukan hal yang paling penting untuk Jongin?

Mengapa Sehun melakukannya? Dan kini, yang paling utama, apa yang harus dilakukan Jongin? "Jongin," panggil Sana seraya menghampiri Jongin. Jongin tersentak mendengarnya. Melihat ekspresi Sana yang kini dipenuhi senyum, Jongin tahu bahwa Sana juga mendengar apa yang Kim Jiwon katakan.

"Pergilah. Kau harus berterima kasih padanya," ucap Sana bersemangat. Jongin mengerjap, lalu bertanya, "Apa kau terlibat dalam hal ini? Apa yang sebenarnya Sehun lakukan?"

"Sehun ingin membantumu. Karena itu aku memberikan data-data Kim Jiwon padanya. Setelah itu Sehun menghubungi Himchan dan Daehyun, dan hal selanjutnya yang kutahu adalah ia menantang Kim Jiwon untuk bermain catur," jawab Sana. "Bermain catur?" gumam Jongin bingung. Sana mengangguk.

"Himchan dan Daehyun mengajarinya selama dua hari penuh. Kemudian Sehun pergi ke rumah Kim Jiwon dan bermain catur dengannya," jelas Sana. Kini Jongim mengerti. Alasan dibalik kepergian Sehun selama tiga hari penuh itu ternyata berhubungan dengan dirinya. Sehun menghabiskan waktunya demi Jongin, yang bahkan tak menganggapnya ada selama satu minggu ini.

Tanpa membuang waktu, Jongin segera berbalik memasuki kantornya untuk mengambil tas serta kunci mobilnya. Ketika melewati Sana, sepupunya itu berseru akan mengosongkan jadwalnya hingga makan siang. Jongin hanya membalasnya dengan satu lambaian tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam lift.

Satu jam kemudian, Jongin menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya. Ia segera melangkah memasuki rumah dengan langkah panjang dan cepat. Begitu masuk ke rumah dan menemukan Sehun sedang berjalan keluar dapur, Jongin langsung melemparkan dirinya kepada Sehun. Jongin memeluk Sehun dengan erat sebelum mengucapkan terima kasih dengan begitu bahagia.

"Terima kasih," ucap Jongin seraya mendongak menatap Sehun.

ooOOOoo

Selama sesaat Sehun kehilangan kemampuannya untuk merespons. Segalanya terjadi begitu cepat, Jongin memeluknya kemudian mengucapkan terima kasih dengan wajah dipenuhi senyum. Senyum tulus pertama yang pernah Sehun lihat dalam wajah Jongin.

Sehun terkesima melihatnya. Sehun hampir melakukan sesuatu yang bodoh-mencium bibir berkilau Jongin, misalnya-jika saja Daehyun tidak memecahkan keheningan di antara mereka. "Maaf menganggu kalian, namun aku harus minum sekarang juga. Kalian bisa meneruskan adegan pelukan itu di mana pun selain jalan menuju dapur," ucap Daehyun datar.

Jongin langsung menarik tangannya dan mundur dengan kepala menunduk. Semburat merah mewarnai wajahnya dengan begitu jelas, seakan menegaskan pemikiran Sehun bahwa pelukan tadi benar-benar tulus dilakukan Jongin. Bukan hanya untuk drama mereka.

"Oh, ayolah, Jongin. Jangan malu. Lanjutkan adegan mesra kalian. Aku penasaran ke mana hal itu akan berlanjut. Anggap saja kami tidak ada," tambah Himchan dengan seringai menggoda di wajahnya. Jonginmenatap Himchan dan Daehyun dengan kening berkerut, lalu bertanya, "Apa yang kalian lakukan di sini?"

"Menghabiskan persediaan makananmu," jawab Himchan dengan mulut penuh, entah makanan apa yang dimakannya. Daehyun mengangkat bahu, tetap sibuk dengan gelas berisi air putihnya. Jongin mengalihkan pandangannya pada Sehun, yang hanya membalasnya dengan senyum salah tingkah. Tiba-tiba Jongin merasa jantungnya berdebar resah.

Ia teringat sikap spontannya tadi, yang langsung memeluk Sehun begitu saja. Entah apa yang merasukinya. "Aku akan kembali ke kantor," ucap Jongin seraya membalikkan tubuh, namun gerakannya terhenti oleh tangan Sehun. "Apa yang kau katakan tadi?" tanya Sehun. Ia sudah mendengarnya, namun ia sama sekali tidak keberatan untuk mendengarnya satu kali lagi.

"Aku mengucapkan terima kasih. Karena kau sudah membantuku untuk meyakinkan Kim Jiwon," jawab Jongin pelan. Sehun membalasnya dengan seulas senyum. Gadis di hadapannya sudah kembali menjadi Jongin yang tak tersentuh. Sikap spontannya itu sudah menguap, menghilang entah ke mana. Tiba- tiba saja Sehun ingin melihatnya lagi.

Sehun merasa-selama sesaat-ketika Jongin tersenyum padanya sebebas itu, segalanya menjadi penuh dengan kemungkinan. Sehun tak lagi merasa kesepian. Dan Sehun baru menyadarinya, Sehun membutuhkan teman. "Bisakah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Sehun lirih. Tak ingin kedua sepupu barunya mencuri dengar.

Jongin mengerjap, kemudian mengangguk. "Jadilah temanku," pinta Sehun. Jongin memandang wajah penuh harap Sehun tanpa mampu berpaling. Permintaan Sehun terdengar begitu tulus. Jongin tenggelam bersama pikirannya, tahu bahwa permintaan sederhana itu merupakan jeritan terdalam yang dimiliki Sehun.

Saat ini, pria yang berdiri di hadapan Jongin bukanlah Oh Sehun sang sutradara terkenal yang mendekap segala kesempurnaan. Melainkan Oh Sehun yang telah kehilangan seluruh bagian terpenting dalam hidupnya, Oh Sehun yang tak memiliki siapapun selain dirinya sendiri. Maka dengan satu anggukan kepala, Jongin menyanggupi permintaan Sehun.

Jongin mengulurkan kedua tangannya, sementara Sehun menyambutnya dalam rengkuhan hangat. Dan mereka menyepakati kompromi itu dengan satu pelukan tulus juga jantung yang berdegup tak menentu.

.

To Be Continued

.

Yeaay ini sudah saya lanjuut~~~

Sekian~~

Dont forget to review yaw :*

Bye!