"Disini kau rupanya."
Tetsuya menengok kebelakang mendapati Kagami yang sedang berdiri memandanginya.
Melihat mata Tetsuya yang sepertinya bengkak dan basah, Kagami reflek mendekat. berjongkok dihadapannya "O-oi? Kau menangis?" hari sudah gelap jadi Kagami tidak bisa melihat dengan jelas, tapi ia yakin melihat kilauan dikedua manik aquamarine tersebut.
Tetsuya membuang muka, mengelap wajahnya dengan kaos yang ia pakai, "Tidak, i-ini hanya kelilipan."
"Hah?! Alasan bodoh macam apa itu? Jelas-jelas kau menangis!"
"Tidak, kau salah, Kagami-kun."
"Iya!
"Tidak."
"Iya!"
"Tidak."
Kagami menghela nafas, "Haah~ terserah kau sajalah, susah berdebat dengan orang yang keras kepala." Ia akhirnya ikut duduk di sebelah Tetsuya.
"Tidak."
"Berhenti!"
Keduanya sempat diam beberapa detik, kemudian Kagami memulai obrolan.
"Aku tak berminat dengan orang yang tidak becus bermain basket." Tetsuya mendengarkan, "Tapi permainanmu yang tadi lumayan juga."
"Terimakasih.."
"Kiseki no Sedai itu, memangnya sekuat apa? kalau aku menantang mereka sekarang, menurutmu bagaimana?"
"Sama saja bunuh diri."
Jawaban singkat Tetsuya sukses menohok hati Kagami, "O-Oi—"
"Kelima orang pemain berbakat itu, memutuskan untuk melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Tapi meskipun berbeda sekolah, kelima orang itu tetap akan jadi yang terhebat."
"Hee—Menarik sekali, aku jadi bersemangat."
Tetsuya memandang heran Kagami
"Sudah kuputuskan, akan kukalahkan mereka dan menjadi pemain terbaik di Jepang!"
"Kurasa itu musahil."
"Aku tidak tau kau punya bakat terpendam atau tidak tapi menurut pengamatanku, kau yang sekarang tidak akan bisa disejajarkan dengan mereka. Kau tidak bisa melakukannya sendirian." Tetsuya bangkit, berdiri dihadapan Kagami.
"Aku juga sudah memutuskan. Aku adalah bayangan, tapi semakin terang cahaya bayangannya akan semakin gelap. Dan akan semakin menonjolkan terangnya cahaya tersebut."
"Aku akan menjadi bayangan bagi dirimu sang Cahaya, dan menjadikanmu sebagai pemain terbaik di Jepang."
"Boleh juga, lakukan sesukamu."
"Aku akan berjuang."
Satu lagi, tugasnya bertambah.
.
.
From You to You
KnB milik Fujimaki-sensei, desu~
Cerita ini barulah milik saya '-'/
.
.
Langkah kakinya terhenti disebuah bangunan sekolah berlabel 'Seirin'
"Ah, jadi ini rupanya? Sekolah baru memang hebat, masih bersih dan terawat."
Ia memasukkan kedua tangannya pada saku celananya, kemudian berjalan santai memasuki Seirin.
"Ne, orang itu keren, ya?"
"Tinggi.. E-eh?! jangan-jangan dia.."
"Model terkenal itu!"
Ada lengkungan tipis dibibirnya, Ia tidak peduli dengan ocehan siswa-siswi yang membicarakannya. Kise ingin cepat-cepat melihat siapa lawan mereka untuk latih tanding besok, berhubung ini pertandingan pertamanya saat memasuki SMA. Sedikit banyak, Kise antusias.
Ia mempercepat langkahnya. Semakin cepat, sampai ditempat sepi ia mulai berlari. Khawatir para fansnya akan mengganggunya.
Kise sudah sampai didepan gym, dari luar saja ia dapat mendengar suara pantulan bola, segera ia memasukinya.
Untuk sesaat ia mengamati permainan mereka.
Biasa saja, tidak ada yang istimewa.
Sampai sesuatu menarik perhatian Kise. Itu—adalah surai aquamarine yang menyembul diantara para pemain. Menajamkan inderanya lagi, Kise baru menyadari dan bisa melihat jelas siapa orang itu.
Matanya melebar, "Tetsuyacchi.." mengucek kedua matanya untuk memastikan sekali lagi, siapa tau ia hanya berhalusinasi karena rasa rindunya pada orang itu. Tapi figur itu tidak berubah, tetap sama. Yang ini bukan khayalannya!
Suara pluit dapat terdengar nyaring, sepertinya pertandingan telah selesai.
Orang itu—berdiri dengan nafas yang memburu, sambil sesekali menyela keringat didahinya.
"T-Tetsuya..cchi?" pelan, Kise maju selangkah, "Tetsuyacchi!" yang ini dengan suara yang cukup keras
Yang dipanggil menoleh, membuat bibir Kise membentuk senyum lebar.
Ia berlari, dengan efek yang sedikit di dramatisir. Melambaikan tangannya kearah Tetsuya dengan wajah berseri-seri, bahkan ada background bunga sakura yang bermekaran disekitarnya.
Sudah dekat, Kise baru ingin melompat memeluk makhluk dihadapanya, tapi buru-buru Tetsuya menghindar kesamping. Membuat Kise—yang sudah melompat—berakhir mencium lantai gym.
"Hidoii, Tetsuyacchi!" masih dengan posisi berbaring, Kise menangis—yang terkesan dibuat-buat.
Sementara anggota basket Seirin disekitarnya mencoba menahan tawa mereka. Jarang-jarang, kan, ada tontonan model terkenal nyungsep didepan mereka dengan tidak elitnya, only in Seirin.
Tetsuya mengulurkan tangannya, yang langsung dibalas oleh Kise.
"Hisashi buri, desu. Dan, Gomen soal yang baru—
Kise langsung memeluk Tetsuya, pelan-pelan, tidak seperti pelukan maut biasanya. Tetsuya bisa merasakan pundaknya basah. Kise pasti sedang menangis sekarang ini, dan sepertinya tidak dibuat-dibuat.
"Tetsuyacchi! Kemana saja kau selama ini? Aku.. Aku rindu sekali pada Tetsuyacchi!"
Sedikit ragu, tangan Tetsuya perlahan mulai memeluk kembali tubuh tinggi kakaknya ini.
Setelah tontonan seorang model yang mencium lantai, sekarang mereka disuguhi opera sabun.
Apa yang dilakukakan Kise Ryouta disini? Dan, apa hubungan Tetsuya dan Kise?!
Kise melepas pelukannya, sudah sedikit tenang, ia mengusap wajahnya, menghilangkan sisa air mata disana. Kemudian dalam sekejap wajah cerianya kembali lagi.
"A-ada urusan apa kau disini?" Hyuuga membuka suara.
"Mmm. Yah, karena lawan kami selanjutnya Seirin, jadi aku datang untuk menyampaikan salam." Kise tersenyum ramah, kemudian merangkul pundak Tetsuya disamingnya, "Dan hal yang tidak terduga terjadi, aku bertemu Tetsuyacchi disini."
"Etto.. kalau boleh tau apa hubungan kalian?" giliran Aida yang bertanya.
"Tentu saja—
"Bukan apa-apa." jawaban spontan Tetsuya dengan wajah super datarnya sukses menohok hati Kise. Seakan ada panah imajiner yang mendadak menusuk tepat dijantungnya. Rasanya Kise ingin mati saja.
"Bercanda."
"Candaanmu tidak lucu sama sekali, Tetsuyacchi!" apalagi mengatakannya dengan wajah seperti itu. Hampir saja Kise ingin gantung diri di ring basket karena tidak diakui.
Tetsuya menutup mulutnya dengan tangannya, kemudian tertawa kecil, "Aku hanya senang menggoda Kise-kun, apa itu salah?"
Kise face-palm.
Menyadari sesuatu yang mengarah kepadanya, buru-buru ia mengangkat tangannya untuk menangkap sesuatu itu.
"Huh? Apa-apaan ini? Kau bisa mengenai Tetsuyacchi, tahu!"
Sang pelempar adalah Kagami Taiga,
"Kagami-kun!" Aida dan Hyuuga
"Maaf menganggu reuni kecil kalian. Tapi mana mungkin kau kemari hanya untuk mengucapkan salam, bukan? Ayo bertanding denganku sebentar, Ikemen-kun."
"Haah? Memangnya siapa yang berfikiran begitu? Hmm.. Oke baiklah, lagipula aku harus memberimu pelajaran."
Dimulailah pertandingan antara mereka berdua, Kise melepas jas seragamnya dan menitipinya pada Tetsuya.
"Dasar, mereka itu.." Aida bergumam pelan,
"Mungkin ini bisa gawat." Disampingnya, Tetsuya tiba-tiba berucap.
Kise berdiri dihadapan Kagami, bola ditangannya masih memantul-mantul. Sementara Kagami masih fokus dengan lawan dihadapannya.
Dengan cepat Kise mendribble melewati samping kiri Kagami. Kagami tak tinggal diam, sebisa mungkin ia mengejarnya tapi kalah-cepat.
Di depan ring, Kagami dapat mendahului Kise, tapi buru-buru Kise memutar—seperti gaya yang Kagami lakukan saat latihan tadi—kemudian melakukan dunk.
"Dia itu bisa meniru gerakan yang baru dilihatnya." Kuroko
Aida memfokuskan matanya pada Kise, "Benar juga, apalagi levelnya jauh diatas Kagami.."
"Mustahil! Dia melakukannya sama seperti aku. Jangan seenaknya!"
Kagami ikut melompat, mencegah dunk tersebut agar tidak berhasil, tapi tenaganya kalah kuat dengan Kise, Kise berhasil menekan masuk bola tersebut hingga akhirnya bola itu mencelos memasuki ring.
"Dia lebih cepat dan lebih kuat dariku.." Kagami jatuh terduduk dilantai.
"Inikah Kiseki no Sedai itu.. Hei Tetsuya, temanmu itu terlalu hebat.." Furihata berdecak kagum pada pertandingan yang barusaja terjadi.
"Aku tidak kenal orang itu." Jawab Kuroko yang masih memerhatikan.
Kerutan samar terlihat di dahi Furihata, "Hah?"
"Sebenarnya, aku juga meremehkan dia tadi, tak kusangka hanya dalam beberapa bulan.. mereka sudah berkembang lebih pesat dari yang kuperkirakan."
Kalau begini bisa gawat.
Bila ia disandingkan dengan Kise yang sekarang..
"Huh? Hanya segini saja ya kemampuanmu. Setelah dikecewakan seperti ini, mana bisa aku langsung pulang hanya dengan mengucapkan salam."
"Berikan Tetsuyacchi."
"Mari kita bermain bersama seperti dulu. Dari kecil aku sudah mengagumi permainan Tetsuyacchi! Sangat disayangkan kalau kau membuang-buang bakatmu disini. Yang lain juga akan khawatir bila kau tetap disini. Makanya, ikutlah denganku, pulang ke rumah dan pindah ke Kaijo, bagaimana?"
"Hah?! A-apa maksudmu? Mengambil Tetsuya.. pulang kerumah? Apa hubungan kalian ini.." Aida Riko.
Tetsuya berbalik menghadap anggota Seirin, "Mohon maafkan ketidaksopanan kakakku, Pelatih. Ia memang seperti itu." Tetsuya membungkuk, "Dan kalau boleh, bisa aku meminta waktu untuk berbicara berdua dengannya?"
"Ah, iya, tidak apa-apa. Umm, silahkan saja jika ingin berbicara dengan kakakmu. E-eh?! T-tunggu dulu! K-kakak? Kise Ryouta ini kakakmu?!"
"Kalian bersaudara?! Bagaimana bisa?!"
"Ceritanya panjang. Lain kali akan aku jelaskan."
Tetsuya berjalan menuju Kise, kemudian menarik telinganya, "Kalau begitu aku permisi sebentar." Menyeret Kise keluar dengan langkah cepat.
"Ittai, Tetsuyacchi!"
.
.
.
Setelah menyeret Kise cukup jauh, Tetsuya akhirnya melepaskan tarikannya. Sementara Kise mengusap-usap telinganya yang sekarang memerah.
Tetsuya maju beberapa langkah, berdiri memebelakangi Kise. "Bagaimana kabar yang lainnya, Kise-kun?"
"Mereka baik-baik saja. Akashicchi di Kyoto, Murasakibaracchi di Akita, sekarang hanya Aku, Midorimacchi dan Aominecchi yang tinggal di Tokyo."
"Hmm.. syukurlah kalau begitu."
"Soal tawaranku yang barusan—
Tetsuya buru-buru berbalik menghadap Kise, "Aku merasa terhormat mendengar permintaanmu—" membungkukan tubuhnya dalam-dalam, "Tapi maaf, Aku harus menolak permintaanmu."
"C-cara menolak macam apa itu?! Jangan bercanda, Tetsuyacchi. Selain itu kau tidak seperti dirimu. bukankah menang adalah segalanya. Lagipula, kenapa kau tidak pergi kesekolah yang lebih kuat?"
Tetsuya memicingkan matanya, sedikit. Merasa terganggu dengan kalimat terakhir Kise. "Aku tidak bercanda, Kise-kun. Memangnya seperti apa 'diriku' yang sebenarnya ini yang Kise-kun tahu?"
Kise menahan nafas, merasakan perubahan atmosfir tidak enak, sepertinya perkataannya barusan sudah merusak mood adiknya. Bisa gawat kalau Tetsuya sampai marah.
Melihat ekspresi Kise yang seperti itu membuat Tetsuya sedikit tersadar. Ia terlalu terbawa suasana.
Tetsuya menghela nafas, ekspresi wajahnya kembali datar seperti biasanya, "Aku sudah berubah sejak 'saat itu', apalagi aku sudah berjanji dengan Kagami-kun. Kami berdua akan mengalahkan Kiseki no Sedai."
"H-hal seperti itu—
"Tidak mungkin, benar?" melanjutkan, bibirnya membentuk lengkungan sedikit, "Tapi aku akan berusaha, kali ini aku akan serius. Jadi, Kise-kun dan yang lainnya harus melawanku dengan serius juga." Karna kalau mereka menanggapi permintaan Tetsuya dengan main-main, dan sengaja kalah ketika bertanding, itu—sama saja usahanya selama ini sia-sia.
"Huh? Yang benar saja.. tapi, jika itu permintaanmu, aku akan menyanggupinya. Dan soal pulang ke rumah—"
"Yang itu, aku juga harus menolaknya. Aku ingin belajar hidup mandiri, maafkan aku, Kise-kun."
Ditolak dua kali seperti ini.. apalagi oleh orang itu. Rasanya nanti Kise akan menghabiskan waktunya menangis semalaman ditempat tidur.
Dalam hidupnya Kise tidak pernah ditolak, malahan ia yang sering menolak para gadis yang menembaknya.
Mungkin ini yang namanya Karma? Diam-diam ia tersenyum getir.
"Yang lain khawatir padamu, tahu. Saat kau menghilang waktu itu, apalagi keadaanmu belum membaik." Kise mencoba mengalihkan pembicaraan dari topik awal, "Apa alasanmu pergi, Tetsuyacchi?"
"Aku tahu. Dan aku tidak bisa menjawabnya, informasi rahasia."
"E-eh?! mana bisa begitu, Tetsuyacchi! K-kalau, begitu saat ini kau tinggal dimana?"
"Informasi rahasia."
"Lagi?! Mou~ berhenti mempermainkanku, Tetsuyacchi! Tidak lucu tahu."
"Maafkan aku, Kise-kun. Aku benar-benar tidak bisa menjawabnya, informasi rahasia." Entah sudah keberapa kali Tetsuya meminta maaf.
Untuk dua pertanyaan Kise yang tadi, Tetsuya benar-benar tidak bisa menjawabnya. Akashi juga pernah menanyainya pertanyaan yang sama, tapi tentu Tetsuya menolak menjawabnya.
Kise maju, memperpendek jarak mereka. Sudah lelah permintaan dan pertanyaannya yang tidak digubris.
"Bagaimana kehidupanmu selama ini? Tidak kesepian? Makan berapa kali sehari? Tetsuyacchi makin kurus dan pucat saja.." membelai pipi Tetsuya pelan.
"Ah!" Kise merogoh saku celananya, mengambil dompet dan mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit, menyodorkannya ke Tetsuya, "Ini ada sedikit untuk membeli beberapa kebutuhanmu. Beli vitamin dan makanan yang bergizi, untuk membeli kebutuhan yang lain juga, kalau kurang—" menyodorkan dompetnya juga, didalamnya terdapat beberapa atm dan karu kredit, "Ambil saja semuanya. Ini semua hasil pekerjaanku sebagai model, tidak apa-apa, ambil saja, Tetsuyacchi."
Tetsuya mendorong tangan Kise pelan, "Aku tidak bisa menerimanya. Ini uang hasil kerja keras Kise-kun, sebaiknya kau gunakan untuk kebutuhanmu sendiri. Aku baik-baik saja. Aku tidak kesepian. Aku makan tiga kali sehari, dan aku juga bekerja part time selama ini." Setengah kenyataan dan setengah kebohongan.
"Tidak apa-apa, Tetsuyacchi! Aku masih punya simpanannya dirumah. Kalau untuk Tetsuyacchi aku tidak keberatan sama sekali—"
"Kise-kun, simpan kembali uangmu atau aku marah?" ancaman Tetsuya membuat Kise langsung menaruh kembali dompetnya disaku celananya.
"Sudah hampir malam, sebaiknya Kise-kun pulang. Aku juga ingin pulang."
Sudah ditolak beberapakali, diusir pula. Ini memang hari sial Kise.
Kise ingat pagi sebelum berangkat sekolah Midorima mengingatkannya kalau hari ini Gemini berada diperingkat paling bawah. Seharusnya ia membawa lucky item yang disarankan Midorima, bahkan bila lucky itemnya hari ini adalah celana dalam wanita berwarna merah muda.
Gawat, Kise harus cepat-cepat pulang, sebelum emosinya pecah.
"Tunggu, Kise-kun." Tetsuya menahan tangan Kise yang baru ingin berbalik pergi, "Bagaimana kalau kita buat perjanjian."
"E-eh? perjanjian apa, Tetsuyacchi?"
"Besok Seirin dan Kaijo ada latih tanding, kan?" Kise mengangguk pelan. "Kalau besok Kise-kun menang, aku akan turuti semua permintaan dan menjawab pertanyaan Kise-kun tadi."
Sorot mata Kise-kun yang barusan sayu berubah berkilauan dalam sekejap.
"Tapi sebagai balasannya, bila Seirin yang menang, turuti satu permintaanku."
"Apa itu?"
Tetsuya menaruh telunjuknya dibibirnya, "Informasi rahasia."
.
.
.
Suara bel pintu dapat terdengar, membuat Midorima yang sedang menyiapkan makan malam didapur terganggu. Padahal di ruang tamu ada Aomine, kenapa ia tidak membukakannya? Dasar malas.
Ia gantung celemek bergambar kataknya, kemudian berjalan ke depan untuk membuka pintu.
Pintu dibuka, tapi Midorima hampir terjungkang lantaran si tamu ini langsung menyerangnya—bukan, lebih tepatnya memeluknya.
"HUAAA MIDORIMACCHI!"
"Ada apa, Kise?" Biar Midorima tebak, bila si pirang merengek seperti ini gara-gara ditolak seorang perempuan, maka Midorima tanpa ragu akan langsung menendangnya keluar.
"Aku.. AKU DITOLAK—" baru dibicarakan. Midorima mengambil ancang-ancang—"—Tetsuyacchi!"
Midorima mematung. Ia tidak salah dengar, kan? Kise bilang Tetsuya? Tetsuya yang itu?
"Tetsuyacchi menolakku!"
"Tetsuya?! dimana kau bertemu dengannya?!"
Midorima mencengkram kedua bahu Kise, sementara Kise masih mengusap-usap matanya yang berair.
"Seirin. Aku mengajaknya pulang dan pindah ke Kaijo, tapi dia langsung menolakku."
Jadi, Tetsuya akhirnya muncul. Seperti yang dikatakan Akashi.
"Oi oi, ada apa ribut-ribut seperti ini?" sambil menguap lebar-lebar, Aomine muncul dibelakang Midorima.
Gantian, giliran Aomine yang menjadi sasaran. Buru-buru Kise melompat ke Aomine.
"AOMINECCHI, BAGAIMANA INI?!"
"Hah? Apanya yang bagaimana?"
"Tetsuyacchi menolakku! Bila aku tidak bisa menikah nanti, Aominecchi menikahlah denganku!"
"T-Tetsu kembali?! Ditolak bagaimana? Jelaskan yang benar, bodoh!" Aomine mencoba lepas dari pelukan maut orang dihadapannya, "Dan apa-apaan?! Aku masih STRAIGHT, lepaskan!"
Masih kukuh menempel di Aomine, Kise berbalik menatap Midorima dengan mata yang berkilau, seperti anak anjing, "Midorimacchi.."
"Tidak akan." Dijawab langsung oleh Midorima.
"Hidoii~ kalian.. setidaknya hibur aku!"
"Hentikan tangis buayamu itu, Kise! Dan lebih baik kita masuk. Jelaskan maksud perkataanmu itu."
Aomine sudah kembali seperti biasa. Kise mulai tenang. Mereka masuk kedalam, dengan Aomine yang menyeret Kise.
Sementara Midorima masih berdiri ditempat semula.
Ia mencari sesuatu disaku celananya. Mengeluarkan handphone. Jari-jari yang terbungkus perban itu mengetik sesuatu, kemudian menempalkan ponselnya ditelinganya.
"Moshi-moshi. Ada perlu apa, Shintarou?"
"Akashi, Tetsuya.."
"Hmm?"
"Tetsuya sudah kembali."
"Souka? Seperti dugaanku. Jangan lupa dengan pesanku waktu itu—"
"Jangan segan-segan padanya, kan?"
.
.
.
Setelah menekan tombol end call, Akashi meletakkan smartphonenya diatas meja—tepatnya disamping papan shogi dihadapannya. Ia sedang bermain Shogi saat Midorima menghubunginya barusan. Sendirian, dikamarnya.
Bibir itu—entah sejak kapan melengkung keatas, tersenyum atau menyeringai?
"Nah, sekarang tunjukan pada kakakmu ini, keberanian dan kekuatan yang kau katakan itu, Tetsuya sayang."
.
.
.
Chapter 6: Show Me, END.
.
.
.
A/N : Halo! Setelah bergulat dengan diri sendiri selama dua minggu ini, akhirnya ini ff kelanjut juga. Dua minggu kemarin itu masa-masa sulit. Rasanya kalo punya ide tapi gak bisa dikeluarkan dalam bentuk tulisan itu gimana sih? /rasanyapengenlompatdarigenteng/ T_T Bahkan sempet mikir, 'Daripada pusing, mending udahin aja lah!' :'v
Sebelumnya terimakasih atas kesediaan kalian untuk membaca ff ini dan juga atas kritik dan sarannya. Maklum, Yukari disini masih sangat newbie dan dalam tahap belajar, jadi terimakasih untuk koreksinya ^^. Yukari emang ga bisa buat bahasa yang 'wah' (males mikir, :'v) tapi yang penting kalian ngerti sama yg Yukari tulis disini :'D
Guest: Anda penasaran? Sama Auhornya juga :'D Erucchin: Wah wah wah.. itu pertanyaan spoiler :'D jadi.. akan dijawab seiring chapter berlanjut :'p /ngeles/ dwinurhalifah9: Sudah :D akakurofans: halo! Terimakasih udah mampir ^^ ini sudah dilanjut, dan terimakasih juga udah suka ^^ macaroon waffle: memang, penyesalan selalu datang belakangan. Kalau datang duluan namanya pendaftaran, kan? /abaikanini!/ terimaksih atas koreksinya! Ngetiknya buru-buru jadi gasempet cek ulang u,u Asahina Yuuhi: Arigatooo karna udah suka ^^ yap, update tergantung ide yang didapet '-'/ Hanna Byun276: Ohoho.. soal itu.. ya? Nanti di usahakan selip-selip dikit diantara chapternya (kalosempet) soal yang mampir dimimpi.. Itu.. udah buat, bener, udah jadi malah ._. based from song 'Last Night, Good Night' (semacem songfict, mungkin?) Tapi.. itu buat dessert nya nanti :p ngerti, kan? Guest: Ahh, masa sampe nangis? :o Yukari juga.. sedikit ._. I-itu.. liat endingnya nanti! Cerita ini, belum ketauan endingnya seperti apa /plak/ shittyboy: seperti biasa, komenmu selalu yang terpanjang /butilike!/ :'D Ahaha, iya! Untuk suatu alasan lupa nyelipin kata tbc diakhir chapter :'v maafkan keteledoran ini! /inget, abis ngetik dan ngepost chapter kemaren langsng tidur dan ga ngecek kebawah lagi/ Ah.. saya bertanya2, aneh ga ya kalo kagami-nya dijadiin begitu? ._. quotesnya boleh nemu, kebetulan pas ngetik, lagi cek bbm ada orang pake dp begituan, alhasil ambil itu quotes /cocoklahsamayglagidiketik/ seperti yg udah di bilang ke Hanna-san (nama penname org yg kamu maksud), udah ada, tapi untuk dessert :'3 DAAAN.. terimaksih atas ocehanmu, (y) Caesar704: Saa.. jawabannya ada diatas langit *sambilnunjuklangit* /plak!abaikan/ Um.. itu, muri, desu (gamungkin) ._. white skylark: Ahh iya, gapapa. Udah baca juga udah sukur :'D Ohoho terimakasih :D Um.. soal EYD itu.. sumimasen, kurang memperhatikan /danemangbelumngertibanget/ jadi harap maklum :') Ternyata lagunya terkenal juga :D Iyaaa! Itu saya seneng banget sama lagunya! Apalagi pas liat videoclip versi AkaKuro, plus yg nyanyi juga AkaKuro /cumamirip/ dan ada sub nya juga, itu.. bikin terharu sampe netesin air mata :"""" berhubung Author AKAKURO freak :'D yaps, doakan saja agar idenya ngalir, biar ceritanya ga sampe discontinued :') Shimotsuki Mika: Memang, salah Tetsuya, jadi biar dia yg nerima akibat atas kesalahannya sendiri, seperti judulnya 'From You to You' /plakkkk!abaikan/kaganyambung _ BABY L Soo: Sebenernya masih ada dua flashback lagi, Cuma bingung mau nyempilinnya :'v lisettekizakura: Haha terimakasih _ yang ini udah cukup panjang, kan? '-'/
Satu lagi, saya kadang ketawa past liat review, ada dua orang yg review dengan nama 'Guest' dan itu.. masalahnya gabisa bedainnya! _ :'D
Chapter ini.. ah sudahlah. Masih belum mood nulis soalnya :'v
Next chapter, Misi dimulai '-'/
Akhir kata, kritik, saran, dan ide sangat diterima '-'/
.
.
-OMAKE-
"Ohayou~" Kise Ryouta—dengan wajah cerianya- seperti biasa menyapa kedua saudaranya yang sudah berada dimeja makan lebih dulu, Aomine dan Midorima.
Keduanya, asik dengan makanannya, mengabaikan Kise yang bibirnya sudah maju beberapa centi karna tidak dinotice. Ini sudah biasa.
Akhirnya mereka bertiga menikmati makanan mereka. Yang terdengar hanya kunyahan kasar Aomine dan suara sendok dan garpu yang sedang beradu. Semua diam.
"Kise." Midorima buka suara. Wajahnya terlihat serius, sepertinya ada hal penting yang ingin ia bicarakan.
"Nani, Midorimacchi?"
"(Menurut Oha-Asa) Hari ini dan besok, Gemini berada diperingkat terbawah. Aku menyarankan kau membawa lucky itemmu, tidak perlu repot-repot mencarinya, aku sudah menyiapkannya. T-tapi ini bukan berarti aku peduli padamu!"
Kise mendadak menghentikan aktifitas makannya. Matanya berkilau-kilau sekarang.
Midorimacchi perhatian sekali padaku!
Midorima merogoh-rogoh isi tas sekolahnya, mencari-cari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dia cari. Tanpa ia sadari pipinya sedikit merona.
Ia angkat sesuatu itu dengan dua tangannya tinggi-tinggi.
Ketika Aomine melihat apa yang dipegang Midorima, sontak ia yang sedang meminum air menyemprotkannya dan mengenai wajah Kise (Kise duduk disampingnya, tepatnya antara Aomine dan Midorima).
Kise speechless, tidak menyadari seragamnya sudah basah. Masih menatap horror benda yang dipegang Midorima.
Apa itu? Celana dalam wanita berwarna merah muda dengan motif bunga sakura, dan renda-renda disekitar lingkar pinggulnya.
Itu terlalu.. menyilaukan.
"J-jangan khawatir. Aku sudah menyesuaikannya dengan ukuranmu."
"M-Maksudmu aku harus memakainya?!"
Midorima mengangguk ragu, sementara rona merah masih menghiasi pipinya.
"Oi, Midorima, aku tidak tau kau punya fetish dengan pakaian dalam wanita. Dan cara kau memilihnya itu.. terkesan sangat feminim sekali. seharusnya kau meminta saran padaku, akan kusarankan model yang lebih hot dan moe daripada itu!"
"A-apa maksudmu, Aominecchi?! Mou~ kalian berdua dasar Hentai!"
