Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Our Family © Haruno Aoi

Warning: AU, OC, OOC, TYPO(S)

Author's Note: Saya ucapkan terima kasih banyak kepada reviewers dan readers fic saya yang berjudul Our Twins, Our Hero, Our Baby, Our Son, Our Home, Our Pain, dan Our Babies. Saya juga sangat berterima kasih kepada kalian yang bersedia memberikan review untuk fic Our Family ini.

Okelah, langsung saja…

.

.

.

-II- Our Family -II-

.

.

.

Dengan bantuan ibu mertuanya, Hinata mempersiapkan segala sesuatu untuk perayaan ulang tahun Sasuke dan Hinaka yang lahir pada tanggal yang sama—dua puluh tiga Juli. Ia tidak bisa lagi memberikan kejutan untuk Sasuke lantaran suaminya itu secara otomatis mengingat tanggal lahir sendiri jika membicarakan tentang ulang tahun Hinaka. Sekarang Hinata hanya berdua saja dengan Mikoto, sementara Sasuke sedang bekerja. Begitu pun dengan si kembar dan Hinaka yang masih sekolah. Tetapi, Sasuke janji akan pulang lebih awal untuk membantu menghias ruang keluarga.

Rencananya, sepulang sekolah Hinaka akan mengundang teman-teman sekelasnya ke rumah untuk merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh. Untuk kakek dan para paman-bibinya, kemungkinan besar akan datang sebelum ia pulang.

Hinata membuat kue, sedangkan ibunya memasak hidangan. Selain cake, ia juga membuat kue kering. Seperti biasa, kue keju favorit keluarganya tidak boleh ketinggalan. Dan kali ini ditambah kue cokelat bertabur potongan kacang. Untuk kue tar, ia hias dengan tomat ungu yang ia dapatkan dari Sakura. Lain daripada itu, ia juga diberi sekeranjang tomat ceri dan jeruk keprok yang ranum. Keluarga Namikaze yang gemar berkebun itu memang sedang panen tomat dan jeruk. Ia pun bisa membuat jus dengan adanya buah-buahan kaya vitamin tersebut. Pasti anak-anak akan suka.

Ia memandang kue ulang tahun buatannya dengan tatapan puas disertai senyum ceria. Memang tidak seindah birthday cake buatan toko. Hanya kue bundar sederhana berlapis krim putih dengan irisan tomat ungu yang ditata melingkar di atasnya. Namun, dapat dipastikan kalau cita rasanya mampu menandingi kue tar mahal buatan bakery terkenal. Ia menyisihkan kue itu, lalu mengembalikan fokusnya pada kue cokelat yang sebentar lagi siap diangkat dari oven.

Tangannya hampir meraih gagang oven ketika perutnya terasa nyeri. Ibunya yang tengah memotong daging langsung menghampirinya begitu mendapati gelagatnya yang aneh.

"Sakit, Okaasan…" lirihnya yang masih memegangi perutnya.

"Kami-sama… kamu pasti kelelahan…" Pelan-pelan Mikoto mendudukkan Hinata di kursi makan. Ia menduduki kursi di sebelahnya dan mengelus lembut perut Hinata. "Sebaiknya kamu istirahat di kamar saja. Biar aku yang mengerjakan semuanya. Lagipula sebentar lagi Sasuke pulang dan bisa membantuku."

Hinata tidak bisa membantah ibu mertuanya. Pasti Sasuke juga murka bila melihatnya terlalu memaksakan diri. Ia mengangguk lemah sembari melepaskan celemek ungu mudanya. Pelan-pelan ia berdiri, lalu beranjak ke kamar tidurnya dengan langkah sempit. Mungkin nyeri di perutnya akan segera hilang jika ia rebahan. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada calon anaknya. Kalaupun yang dicemaskannya menjadi kenyataan, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

.

.

.

Hinata disambut wajah gelisah Sasuke ketika ia membuka mata. Ia mengerjapkan matanya yang masih terasa lengket, kemudian melihat jam dinding.

"Kami-sama… kenapa sudah jam segini?"

Sasuke menahannya yang hendak bangkit dari posisi berbaringnya. Ia kembali melihat jam berbentuk lingkaran yang menggantung di dinding. Ternyata indra penglihatnya masih bekerja dengan sangat baik. Sekarang memang sudah lewat dari jam makan malam. Bagaimana dengan pesta ulang tahun Hinaka?

"Kau tidur seperti orang pingsan. Malahan kau seperti mati rasa saat dokter memeriksamu." Sasuke berbicara dengan suara pelan. Ia tampak begitu resah meskipun Hinata sudah terbangun dari tidurnya yang terlampau nyenyak. "Kau harus bedrest sampai beberapa hari ke depan. Mungkin bisa lebih dari sebulan kalau kau membangkang."

"Pestanya?" Hinata merasa sangat bersalah karena tidak bisa mendampingi Hinaka di hari istimewa ini.

"Kau terlambat kalau ingin bergabung di pesta. Teman-teman Hinaka sudah pulang." Sasuke sedikit bergurau agar Hinata berhenti menunjukkan tampang sedihnya. "Masa sih kau tidak mendengar ribut-ribut dari luar kamar? Padahal dokter kandunganmu tidak menyuntikkan bius."

Hinata memberengut sebelum terkekeh dan memukul lengan Sasuke dengan kepalan tangannya. Sasuke berlagak kesakitan dan mengelus bekas pukulan Hinata yang sebenarnya sama sekali tak bertenaga.

"Aku ngantuk sekali, tahu!"

"Masa?"

"Mengajakku ribut, ya…?" Hinata kembali memukuli Sasuke dengan tangannya yang mengepal. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan Sasuke benar-benar kesakitan saat ia mencubiti pria itu bertubi-tubi. Ia lalu tertawa pelan melihat roman muka Sasuke mulai tampak cerah.

"Ternyata kau ini memang masih kekanak-kanakan. Padahal sebentar lagi kau menjadi ibu dari empat anak."

"Biarin!" Pipi Hinata bersemu merah mendengar ledekan suaminya yang sungguh tepat sasaran.

"Hei, hei…" Sasuke semakin kewalahan menghadapi serangan Hinata. Ia jadi heran karena wanita lemah lembut seperti Hinata ternyata mempunyai banyak tenaga ekstra walaupun masih terbaring lunglai. "… anak-anak dan Okaan bisa terbangun karena ulahmu. Mereka juga butuh banyak istirahat sepertimu…"

"Memangnya pukulan dan cubitanku bisa mengeluarkan suara keras yang sanggup membangunkan mereka?" Kini paha Sasuke yang menjadi samsak Hinata. "Sasuke-kun memang menyebalkan!" Ia merengut lagi. Semakin Sasuke pura-pura kapok, ia kian menambah cubitannya. Dan digoda sedemikian rupa malah membuatnya gemas pada Sasuke. Terlebih karena senyum Sasuke yang kerap tersungging sejak beberapa saat yang lalu.

Puas melakukan kekerasan dalam rumah tangga, Hinata berbaring miring membelakangi Sasuke dan menaikkan selimutnya sebatas leher.

"Kau akan tidur lagi? Tidak makan dulu?" Cukup lama tidak mendengar sahutan, Sasuke mendengus. Ia hampir berdiri tatkala sebelah lengannya ditahan oleh Hinata.

"Sepertinya kami memang lapar," ujar Hinata dengan bibir sedikit mengerucut.

Sasuke menahan tawa. Sebagai gantinya, ia hanya tersenyum miring. "Akan ku ambilkan —"

Hinata menggeleng. "Gendong aku ke ruang tengah, terus suapi aku sambil nonton TV…" pintanya yang menyerupai rengekan.

Tanpa diminta dua kali, Sasuke menuruti permintaan Hinata. Sungguh jarang istrinya itu bertingkah manja seperti ini, dan ia tidak akan melewatkannya begitu saja.

.

.

.

Pagi harinya Hinata tidak tampak di dapur. Sebagai gantinya ada Mikoto yang membantu Sasuke menyajikan sarapan serta menyiapkan bento untuk si kembar dan Hinaka. Mereka mengerti setelah Sasuke mengungkapkan perintah dokter kepada Hinata. Kekhawatiran yang mereka rasakan pun nyaris lenyap sesudah mendengar penjelasan Sasuke mengenai kondisi kesehatan Hinata dan calon anggota baru keluarga mereka.

Selama Hinata diwajibkan bedrest, Sasuke mengusahakan untuk berada di rumah sepanjang hari. Ia tidak mungkin menyuruh ibunya merawat Hinata sementara ia bekerja. Ia tahu kalau ibunya tidak akan keberatan dimintai tolong, namun ia sendirilah yang mesti menemani Hinata. Selain bertujuan melayani segala kebutuhan dan keinginan Hinata, ia juga harus memastikan bahwa istrinya itu tidak turun dari tempat tidur dan berkeliaran ke setiap sudut rumah. Ia tahu benar kalau Hinata tidak bisa diam.

Jikalau tanda tangannya dibutuhkan dalam suatu dokumen penting perusahaan, ia sudah memerintahkan sekretarisnya untuk datang ke rumahnya. Ia baru akan pergi ke kantor bila kehadirannya benar-benar dibutuhkan.

"Jangan terburu-buru, aku akan mengantarkan kalian ke sekolah," kata Sasuke sembari meletakkan segelas susu untuk masing-masing anaknya.

"Kami akan bawa sepeda," ujar Hinaka mewakili dua kakaknya. Wajahnya yang bulat terlihat berseri-seri. Ia sudah tidak sabar mengayuh sepeda merah jambunya—hadiah dari papanya untuk ulang tahunnya kemarin. Mamanya juga membelikan helm serta pelindung siku dan lutut dengan warna senada untuk perlengkapan bersepedanya. Ia tidak khawatir akan terjatuh karena bukan untuk pertama kalinya ia naik sepeda. Meski biasanya hanya dibonceng Yuki, ia sudah belajar mengendarai sepeda dari Keiko.

Sasuke tidak menentang keinginan anak-anaknya karena Keiko juga biasa bersepeda ke sekolah. Jadi, ada yang menemani Hinaka dalam perjalanan pulang jika Yukiko dan Yuki diwajibkan hadir dalam ekskul sore hari selepas kegiatan belajar mengajar. Hinaka juga bisa berangkat bersama Keiko kalau si kembar harus pergi terlebih dahulu untuk mengikuti kegiatan klub di pagi hari.

"Kalau begitu, hati-hati," nasihat Sasuke. "Perhatikan rambu dan kaca spion." Mungkin sedikit berlebihan, tetapi ia memang memasang dua kaca spion kecil di sepeda mini Hinaka yang untungnya sudah tidak beroda empat.

"Siap, Bos—ups, Papa!"

Sasuke tersenyum tipis melihat tingkah lucu Hinaka. Mikoto dan Yukiko pun turut tertawa pelan.

Sedangkan Yuki menyantap makanannya tanpa bersuara. Ia bahkan seolah berada di dunianya sendiri. Suara tawa di sekitarnya bagaikan angin lalu. Sejak papanya melarang hubungannya dengan Himeka, ia memang lebih pendiam dari biasanya. Ia juga merasa bersalah pada Himeka yang ia jahati semenjak itu. Dari mengabaikan Himeka, sampai menunjukkan muka masam ketika keduanya berpapasan.

"Aku duluan," pamit Yuki tanpa menyentuh susunya sedikit pun. Ia langsung beranjak ke kamar mamanya setelah memberikan kecupan ringan di kedua pipi neneknya.

Mikoto tidak bisa berpura-pura tidak menangkap kekakuan di antara Sasuke dan Yuki. Walau Sasuke hanya bungkam menerima perlakuan dingin Yuki, ia tahu kalau putra semata wayangnya itu sangat terluka hatinya. Hinata sudah menceritakan semuanya. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri jika mengingat ketegasan Sasuke terhadap Yuki disebabkan oleh hubungan terlarangnya dengan Fugaku di masa lalu.

Sasuke adalah korban. Orang tuanya yang berdosa, namun ia yang mesti memikul semua konsekuensi dari kesalahan itu. Dari dulu, ialah yang menerima sindiran dan tatapan sinis kerabatnya. Sejak ia belum bisa membedakan antara yang baik dan buruk, ia sudah dihadapkan dengan penolakan dari klan Uchiha. Ia harus sembunyi-sembunyi bila ingin memanggil ayahnya sebagaimana mestinya. Ia yang selalu disalahkan dan dibenci oleh Itachi. Ia juga yang dihujat oleh kakek dari pihak ayahnya. Dan sekarang, ia jugalah yang menanggung kebencian putranya. Adilkah…?

Mikoto tidak bisa menahan air mata yang mendesak jatuh. Semestinya Sasuke sudah berbahagia sekarang.

Sebelum ada yang menyadari tangisannya, ia bergegas mencuci piring di wastafel agar bisa membelakangi meja makan.

.

.

.

Sekolah masih cukup sepi ketika Yuki tiba. Sejauh mata memandang hanya ada kegiatan klub sepak bola dan bisbol di lapangan masing-masing. Ia bisa menangkap sosok Kei yang berambut cerah di antara kesebelasan SMP. Pemuda itu memang selalu bersemangat. Kalau Kei menjadi bagian dari tim inti sepak bola SMP, Rei menjadi cadangan di tim basket. Kemarin Rei bilang akan ikut latihan pagi klub basket karena kegiatan bela diri lebih sering diadakan sore hari. Agaknya sekarang tim basket SMP juga sedang berlatih di lapangan tertutup. Ia sendiri sedang tidak ada kegiatan di klub sadou.

Ia berjalan menuju kelasnya dengan langkah pendek-pendek dan setengah diseret. Akhir-akhir ini ia datang ke sekolah seakan-akan untuk sekadar mengisi daftar presensi. Ia sungguh kehilangan semangat belajar. Meski raganya berada di sekolah, pikirannya selalu melayang entah ke mana. Beruntung ia masih bisa menangkap sedikit materi pelajaran, sehingga tidak terlalu memalukan jika ia dipanggil ke muka kelas untuk mengerjakan soal di papan setelah ketahuan melamun.

BRAK!

Refleks Yuki menoleh ke arah sumber suara. Langkahnya terhenti mendapati Himeka memungut bibit-bibit yang sepertinya terjatuh di tengah perjalanan menuju taman bunga sekolah. Ia baru ingat kalau biasanya ia datang lebih pagi di hari itu untuk memerhatikan Himeka yang tengah mengikuti kegiatan klub berkebun. Rasanya sangat menyenangkan melihat Himeka sedang merawat bermacam-macam bunga.

Ia hampir mendekat ketika melihat Himeka dicela oleh seorang senior yang sok hebat. Bukannya membantu, ketua klub itu malah membiarkan Himeka mengangkat sendiri papan berisi banyak bibit yang tampaknya berat tersebut.

"Yuu…" gumam Himeka saat bertemu pandang dengan Yuki. Senyum simpul terkembang di wajahnya karena Yuki tidak langsung menghindar seperti biasanya. Tanpa disangkanya Yuki berjalan mendekatinya. Senyumnya lebih lebar dari sebelumnya hingga ia tidak lagi merasakan beban di kedua tangannya.

Waktu seolah berjalan melambat saat papan kayu itu meluncur jatuh akibat tampikan Yuki. Usahanya beberapa waktu lalu seperti tidak ada gunanya saat mata bulatnya menangkap calon bunga itu telah rata dengan tanah.

"Dasar lemah," desis Yuki tajam.

Takut-takut ia membalas tatapan nyalang Yuki. Matanya tampak berembun menahan air mata yang sudah menumpuk. Yuki tidak mungkin tega merusak calon tanaman yang bagaikan bayi jika manusia. Ia belum sepenuhnya percaya bahwa pemuda di hadapannya adalah Yuki.

"Enyah saja kau."

Himeka masih terpaku di tempat saat Yuki berbalik meninggalkannya. Tatapannya kosong hingga tangisnya pecah memburamkan penglihatannya. Ia makin terisak-isak karena Yuki tidak kembali dan mengatakan kalau ucapannya tadi hanya gurauan.

.

.

.

Sore itu Yukiko pulang dengan berurai air mata. Tidak biasanya juga Yukiko tidak mengganti seragam bela dirinya dengan seragam sekolah sebelum ia pulang. Sasuke tidak bisa tinggal diam melihat putri kesayangannya tampak begitu berantakan. Apalagi ia tahu kalau Rei yang mengantarkan Yukiko. Ia tidak akan memaafkan Rei jika pemuda itu terbukti sebagai penyebab tangisan anak sulungnya.

"Siapa yang membuat Yuko menangis?"

Bukannya menjawab pertanyaan papanya, Yukiko malah berlari menuju kamar orang tuanya dengan tas yang ditahan di belakang pinggang. Ternyata papanya mengikuti langkah lebarnya, dan ia cepat-cepat mengunci pintu. Papanya menyuruhnya membukakan kuncinya sembari memanggil namanya berulang kali, sementara ia mencoba mengabaikannya dan menghampiri mamanya yang terbangun akibat debaman pintu.

"Mama…" Tangis Yukiko kembali pecah. Ia bersimpuh di lantai dan memeluk mamanya yang masih terbaring di atas tempat tidur. Sambil tersedu-sedu, ia membisikkan sesuatu di telinga mamanya.

"Mens?"

Yukiko malah meraung-raung karena mamanya tidak mengerti perasaannya. Ia merasa sangat malu sekaligus takut. Ini adalah yang pertama baginya. Dan ia cemas kalau suara pelan mamanya bisa terdengar oleh papanya yang memiliki pendengaran tajam—yang mungkin saat ini masih berada di depan pintu.

"Tidak apa-apa," kata Hinata menenangkan sambil membelai kepala Yukiko yang terkulai di ranjang. Ia tersenyum lembut seraya menyeka air mata yang membasahi wajah Yukiko. "Itu bagian dari pubertas," imbuhnya.

"Tapi aku malu, Ma…"

"Kenapa harus malu? Kan normal, Sayang…"

Yukiko menangis lagi. Padahal sejatinya ia bukanlah remaja putri yang cengeng. Hinata jadi merasa cemas.

"Apa perut Yuko terasa nyeri?"

Yukiko menggeleng cepat, dan kembali mewek. "Rei tahu, Ma…" cicitnya. "Rei yang pertama kali melihatnya. Aku malu sekali, Ma…"

Hinata malah tertawa pelan sebelum mendudukkan dirinya dengan perlahan. Ia kemudian membawa Yukiko ke dalam dekapannya yang hangat.

"Pasti Rei akan cepat lupa. Sudah, sudah, jangan menangis lagi…"

"Tapi ingatan Rei sangat kuat, Ma…" Yukiko terisak dan membalas pelukan mamanya. Ia tidak mendengar balasan dari mamanya lagi. Namun belaian konstan di punggungnya memberikan ketenangan yang luar biasa hingga ia berhenti menangis dan merasa jauh lebih tenang.

"Sepertinya masih ada sisa pembalut yang Mama beli sebelum hamil. Yuko pakai itu dulu, nanti biar dibelikan yang baru sama Papa—"

Serta merta Yukiko melepaskan pelukannya. "Kenapa Papa?" pekiknya frustrasi.

"Biasanya kan Mama juga belanja sama Papa…"

Mau tidak mau Yukiko menuruti perkataan mamanya. Sembari cemberut, ia mengambil sesuatu yang dibutuhkannya sebelum mengendap ke kamarnya di lantai dua. Jangan sampai papanya memergokinya seperti Rei yang membuatnya mati kutu hingga berasa ingin membenamkan wajahnya di bantal untuk selama-lamanya.

Ia mengambil pakaian ganti dengan cekatan, lalu kembali ke lantai satu untuk mandi. Ia bisa bernapas lega setelah masuk kamar mandi tanpa rintangan berarti. Tadi ia hanya berpapasan dengan Yuki yang bahkan tidak melirik ke arahnya. Namun, yang sekarang menjadi prioritasnya adalah membersihkan diri sebelum membantu papanya memasak makan malam.

.

.

.

Begitu masuk dapur, Yukiko disambut senyum misterius papanya. Perasaannya tidak enak. Sepertinya papanya sudah tahu semuanya.

"Menarche?"

Papanya berbicara dengan suara lirih, namun cukup keras untuk menampar gendang telinganya. Ia berlagak tidak dengar dan mulai mencuci sayur-mayur yang baru saja dikeluarkan papanya dari kulkas.

"Berarti kamu sudah bisa hamil. Hati-hati dengan temanmu yang bernama Rei itu—"

Tanpa kata Yukiko memukuli papanya menggunakan kepalan tangannya. "Papa mengajakku berantem, ya…?" pekiknya. Matanya mulai berair lantaran masih merasa malu pada papanya.

"Astaga… kamu memang anak Hinata…" gumam Sasuke. Sesaat kemudian ia terlihat gelagapan meski Yukiko sudah berhenti meninjunya. Masalahnya, Yukiko tiba-tiba menangis. Ragu-ragu ia membawa Yukiko dalam pelukannya dan membelai kepala si sulung itu dengan sayang. "Cup, cup…" katanya menenangkan, tetapi malah berbuah tinju di perutnya.

.

.

.

Sudah seminggu sejak Himeka pindah ke rumah ibunya di Osaka. Ia jadi sakit-sakitan, padahal baru tiga kali ia datang ke sekolahnya yang baru. Kata dokter, ia hanya kelelahan dikarenakan perjalanan dari Tokyo ke Osaka. Sungguh diagnosis yang kurang tepat karena sebelumnya ia baik-baik saja. Tidak hanya sekali ini ia melakukan perjalanan ke Osaka yang bisa ditempuh dalam kisaran waktu satu sampai tiga jam jika menggunakan jasa penerbangan.

Yang benar, belakangan ini ia terlalu banyak pikiran. Tidak hanya lantaran hubungannya dengan Yuki yang memburuk, namun akibat tekanan dari teman-teman barunya. Ia yang pendiam dan cenderung pemalu memang mudah menjadi sasaran ijime di sekolah barunya. Semakin ia tidak mau melawan, mereka kian menggencetnya. Bahkan jam tangan kesayangannya yang merupakan salah satu hadiah ulang tahun dari ayahnya harus merasakan injakan kaki kotor mereka. Dan sekarang penunjuk waktu itu berakhir di lacinya setelah ia memungutinya yang sudah terpisah menjadi beberapa bagian.

Ia memang tidak pandai bergaul. Di sekolahnya yang dulu ia bisa berteman dengan Kei dan Rei karena ada si kembar yang merupakan sepupunya. Kalau tidak satu sekolah dengan Yukiko dan Yuki, mungkin nasibnya juga sama dengan saat ini.

"Aku ingin homeschooling saja…" igau Himeka yang masih demam. "Aku tidak mau pergi ke sekolah…"

"Iya, Sayang…" balas ibunya seraya menciumi wajah panasnya dengan sayang. "Yang penting Himeka sembuh dulu…"

Wanita berambut panjang itu kembali mengukur panas Himeka. Ia menggigit bibir bawahnya melihat termometer yang dipegangnya. Ia takut kalau Himeka sampai kejang-kejang andaikata suhu tubuh putri semata wayangnya itu meningkat sedikit lagi.

Ia menerka kalau sakit Himeka juga disebabkan oleh sang ayah. Lebih tepatnya karena kerinduan mendalam yang dirasakan Himeka kepada ayahnya. Biasanya Himeka memang tidak bisa lama-lama berada jauh dari ayahnya. Itu sebabnya ia rela jika Himeka lebih memilih tinggal bersama ayahnya ketika ia harus pulang ke Osaka. Ia pun sudah meminta ayah Himeka untuk menyusul ke sini. Mungkin karena terlalu sibuk sampai-sampai pria itu selalu menunda-nunda keberangkatan sejak ia menelepon untuk pertama kalinya.

.

.

.

Selesai…

.

.

.

Terima Kasih

August 11, 2012

CnC? RnR?

Apdet cepat karena hari ini spesial, hoho. Kalau di fic ini ada momen bertanggal 23 Juli, kenyataannya sekarang juga tanggal 23 Romadhon—tanggal lahir saya yang lain. Sedangkan tanggal lahir yang tercantum di akte sama dengan Hinata—hanya beda bulan. Dearest Sasuke 2307, saya 2703. Maksa banget ya? Haha.

Oh ya, tomat ungu atau indigo rose memang ada lho. Maaf untuk yang tidak suka dengan bahasa blak-blakan di fic ini.

Terima kasih banyak untuk para pembaca dan pereview chapter sebelumnya:

Ryuusuke, Minji-d'BlackJack (kalau ingin tahu masa lalu yang dimaksud oleh Sasuke, baca Marriage Simulation, hehe, oh ya untuk panggilan yang terlalu formal kayak gitu juga pernah disinggung Miss Japanese yang intinya lebay jika menggunakannya, tapi ingin saja pakai itu untuk keluarga Sabaku yang lebih kaya dari Uchiha, haha :D), Miya-hime Nakashinki (Sasu emang jail, hehe, Gaara gombalnya cuma ke Ino doang itupun kalau berduaan karena malu ketahuan Rei, haha :D), NaraUchiha'malfoy (Gaara emang tidak mau gombalin Ino di depan Rei, demi kewibawaannya, haha :D), n (sebenarnya sepupuan boleh nikah kok, Sasu hanya tidak ingin kejadian di masa lalu dalam keluarga Uchiha terulang, dan untuk penname tidak akan diganti karena sudah nyaman, hehe, hanya saja kemarin itu memberikan alasan kenapa punya nama pena Haruno Aoi :D), Lyla Lonyx, WidiwMin (untuk alasan Sasuke tidak setuju dengan hubungan YuuHime, sudah disebutin sebelumnya :D), Hyou Hyouichiffer (betul betul, YuuHime memang saling menyukai, alasan Sasu tidak setuju memang tepat seperti dugaanmu, hehe, berarti tinggal Marriage Simulation ya, haha :D), Yuiki Nagi-chan (betul banget, Sasu memang tidak mau ada FugaMiko kedua :D), Neerval-Li (Gaara grogi karena ada Rei sih, padahal biasanya mulus-mulus saja kalau cuma sama Ino, haha :D), Ryu (ibu ItaSasu memang beda, yang jelas Itachi bukan anak Mikoto di sini :D), Ruru (tidak apa-apa :D), lavender hime chan (iya, tak terasa udah nelantarin cukup lama, hehe :D), Kertas Biru (Kekkon Sagi juga sudah dilanjut kok :D), SasyaTazkiya Lawliet (Sasu memang selalu jail sama anak-anaknya, dan tepat untuk alasan Sasu tidak setuju dengan hubungan YuuHime :D), Ren QueenUchiha (untuk makan, saya ini pemakan segala kok, haha :D), Hyuuga Himeka-chan (Sasu tidak mau kalau ada FugaMiko kedua :D), Aiiko Aiiyhumi (dan saran diterima, hehe :D), White YhuRi (hai, salam kenal juga :D), Saqee-chan (sebenarnya tidak masalah meskipun sepupu, Sasu hanya teringat hubungannya dulu dengan Itachi yang membuatnya tidak mengharapkan adanya FugaMiko kedua :D), Steffany012 (ini sudah lanjut :D)

Sekali lagi terima kasih banyak dan sampai jumpa… ^^