Pairing : KyuMin / Kyuhyun-Sungmin
Rate : M untuk chapter kedepannya
Genre : Sci-fi, Romance
Warning : Miss Typo(s), GS (Gender Switch)
Disclaimer : Ini adalah Remake dari novel berjudul sama milik Sherrilyn Kenyon.
.
.
.
Bagian 5
Sungmin meregangkan persendiannya yang kaku. Ia berharap bisa menyuguhkan penampilan yang layak malam ini, tapi ia meragukannya. Ia tidak bisa tidur pulas selama empat malam terakhir. Setiap kali ia berusaha untuk beristirahat, mimpi buruk tentang kematian ibunya menggangu, diiringi dengan kenangan akan laser yang melukai tubuhnya sendiri.
"Bunuh mereka berdua!"
Apa bisa ia menghapuskan kata-kata dingin dan tak berperasaan itu dari kepalanya? Ia diterapi selama bertahun-tahun setelah penyerangan itu agar ia bisa tidur semalaman. Diterapi selama bertahun-tahun untuk mengubur kenangan-kenangan tentang darah dan rasa takut.
Dua tahun supaya ia bisa ke kamar kecil sendiri.
Setahun kemudian barulah ia bisa menutup pintu ruangan atau bilik selagi berada di dalamnya.
Walaupun ayahnya sudah memburu dan membunuh orang-orang yang bertanggung jawab dan membayar operasi plastik yang mahal guna menghilangkan bekas-bekas luka yang Sungmin miliki karena penyerangan tersebut, itu belum cukup.
Hari itu hidup selamanya di dalam diri Sungmin.
Tapi pada hari ketika ia genap berusia enam belas tahun dan nyaris ditembak di restoran favoritnya selagi ia merayakan ulang tahun, ia menutuskan bahwa ia sudah muak hidup dalam kengerian.
Tidak, ia tidak dapat menghentikan binatang-binatang yang mencoba membunuhnya. Ia tidak memiliki kendali atas ketamakan ataupun tindakan mereka.
Yang dapat ia lakukan hanyalah mengendalikan diri.
Ia tidak mau menjalani hari dengan takut lagi, mengurung diri ditempat yang aman. Mereka sudah merenggut ibunya darinya, tapi mereka tidak akan merenggut kewarasan ataupun kebebasannya. Ia tidak akan memberi kekuasaan itu kepada mereka. Meskipun bekas-bekas luka di dalam dirinya masih ada, ia akan berdiri tegak melawan iblis-iblis itu.
Selalu.
Tidak ada yang boleh membuatnya merasa lemah dan tak berdaya lagi. Tidak seorang pun. Ia tidak mau seperti ibunya atau anak-anak bangsawan lain yang hanya bisa keluar dari kamar mereka yang terlindungi dengan pengawasan ketat. Ia akan menjadi orang normal dan menjalani hidupnya sesuai dengan keinginannya. Persetan dengan binatang-binatang itu.
Namun bicara memang mudah. Melaksanakannya yang sulit, dan itu menjadi perjuangan yang harus ia lalui setiap harinya.
Hari ini lebih sulit dari biasanya. Setiap suara membuat Sungmin tersentak. Setiap bayangan membuatnya tersentak. Ia tidak suka seperti ini. Tapi terlepas dari seluruh keberaniannya, ia tahu yang sebenarnya. Tidak ada tempat yang cukup terjamin agar mereka tidak bisa mendatanginya kalau mereka mau...
'Nikmati segalanya.' Itulah mantra Sungmin karena setiap tarikan napasnya bisa menjadi yang terakhir.
Sambil menghela napas lelah, ia mengamati bayangannya, mencari cela pada kostumnya. Pakaian ketat merah berpayet melekat di tubuhnya, membuatnya menyesali banyaknya permen yang ia makan tadi siang sebagai upaya untuk menceriakan suasana hatinya.
Ia masih merana, hanya saja sekarang diperparah dengan bokong yang besar.
Tapi setidaknya memar-memarnya sudah hampir hilang. Ia agak kaget media tidak menanyainya tentang wajahnya yang lebam. Kemungkinan besar memar-memarnya tersembunyi di balik riasannya. Bahkan mereka mungkin tidak menyadarinya.
Sungmin mencibir kepada dirinya sendiri lalu kembali berjalan mondar mandir dengan gugup.
Rasa kesepian meliputinya selagi ia memandang ke sekeliling ruangan kecil yang kosong. Ayahnya mengira kepergiannya akan menenangkan Sungmin. Sepertinya semua orang berpikir kalau Sungmin lebih suka sendiri sebelum tampil, padahal yang sebenarnya jauh berbeda. Ia paling membutuhkan teman selama beberapa menit sebelum menari. Mendengar suara orang lain saja sudah bisa mengurangi kecemasan yang menyiksanya.
'Bagaimana kalau aku jatuh? Melupakan suatu gerakan?
'Bagaimana kalau kostumku sobek?'
'Jangan sampai aku mempermalukan diriku sendiri...'
Keraguan dan ketakutan seperti itu tidak akan pernah sirna. "Pasti kau mengira sekarang aku sudah terbiasa dengan ini."
Tapi tidak. Agaknya semua tidak pernah bertambah mudah. Setiap pertunjukan bertambah berat dan rasa takutnya akan kegagalan dan ditertawakan tak kunjung reda. Bagian yang terburuk adalah kesadaran bahwa semua penari di perusahaan menginginkan kegagalannya. Para penari akan tertawa jika ia melakukan kesalahan atau yang akan bersorak-sorai jika ia di permalukan.
Malah, separuh dari mereka bersedia menyewa seorang pembunuh kalau mereka tidak akan ditangkap karenanya.
Mengapa orang harus sekejam itu? Dalam hidupnya belum pernah sekali pun Sungmin bergembira di atas kesakitan orang lain, apalagi penderitaan mereka.
Mengigiti kuku ibu jarinya, ia terus berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Sewaktu berada di dekat pintu ia mendengar suara pengawal-pengawal ayahnya di lorong depan.
"Kau tahu aku melamar bukan untuk omong kosong semacam ini. Aku ini prajurit, bukan pengasuh wanita jalang kaya yang tidak pernah betah dirumah. Sialan, kuharap seseorang berusaha membunuhnya hanya untuk mengusir kebosananku."
Pengawal yang satu lagi tertawa. "Aku tau cara yang lebih baik untuk mengakhiri kebosananmu."
"Apa maksudmu?"
"Bayangkan saja mendapat tugas menginap di tempat tinggalnya. Aku iri pada Youngshin dan Seunghoon."
"Ya, aku ingin menunjukan kejantananku pada wanita mungil itu."
Muak mendengar obrolan mereka, Sungmin menyebrangi ruangan dan membongkar tasnya di atas meja. Meneluarkan pistol blaster kecilya, ia memastikan senjata itu terisi penuh.
"Dasar bajingan," sungut Sungmin pelan, terkejut mendengar kata-kata mereka. Ia tidak cengeng dan walaupun ia bisa menjadi wanita jalang kalu keadaan memaksa, ia selalu bersikap sopan dan penuh hormat kepada mereka.
Mengapa mereka begitu kejam kepadanya?
Saat ini, Sungmin tidak tahu siapa yang lebih ia percayai, Probekein atau prajurit ayahnya yang kasar. Apa pun jawabannya, ia tidak mau mempertaruhkan keselamatannya.
Setelah memasukkan senjatanya lagi, Sungmin kembali berjalan mondar-mandir. Waktu untuk memulai pertunjukan sudah hampir tiba. Asisten sutradara akan datang sebentar lagi untuk memandunya keluar. Ia bisa mendengar orkestra melakukan pemanasan, membuat suara gaduh yang membahana hingga ke ruangannya.
Ada suara yang sayup-sayup terdengar dari lorong, tapi musik mengatasinya. Berasumsi kalau itu si asisten yang sedang berusaha melewati pengawak-pengawalnya, ia berjalan ke pintu.
Selagi ia mendekat, bayangan yang tinggi menaungi Sungmin.
Napasnya tertahan sementara Sungmin membeku ngeri. Tidak... ia aman di sini. Pertunjukannya bukan hanya dijaga oleh petugas keamanan yang seperti biasa, anak buah ayahnya juga tersebar di seluruh penjuru tempat ini. Tidak ada yang bisa menyelinap masuk. Ia hanya membayangkan fakta bahwa bayangan itu menyerupai pria raksasa.
Paranoianyalah yang membuatnya takut. Tidak lebih. Tidak kurang.
Tidak ada siapa-siapa disini.
Tapi kengerian yang tak berdasar masih menyelimutinya. Ia tidak mau membalikkan badannya, tapi tetap melakukannya, lalu berharap ia mendengarkan dirinya sendiri.
Mata hitang yang dingin menatap Sungmin dari wajah manusia tampan yang tidak memancarkan belas kasihan. Senyum maniak terulas di bibir pria itu memberitahu Sungmin bahwa ia senang membayangkan dirinya menyakiti Sungmin.
Sungmin melihat tasnya di meja di sebelah pria itu. Apa ia bisa mengambil pistol blasternya?
Seolah bisa membaca pikiran Sungmin, pria itu melirik tasnya. Dengan mengibaskan tangan, ia menjatuhkannya ke lantai. Sungmin melangkah, lalu membeku saat psitol blasternya mendarat di kaki pria itu denga suara berdentam yang berat dan mengerikan.
Pria itu tertawa keji dan memungut pistol blaster itu dengan tangannya yang bercakar besar.
Sungmin berlari ke pintu, hanya untuk ditangkap dan didorong menjauh oleh pria itu. Ia berguling di lantai, lalu berdiri−keindahan milik seorang penari. Ia bisa menyeimbangkan dan meliukkan tubuhnya dengan baik.
"Pengawal!" teriak Sungmin, tahu prajurit-prajurit ayahnya yang ada diluar akan datang menyelamatkannya.
Mendecakkan lidah, si pembunuh menggelengkan kepalanya. "Mereka tidak bisa mendengarmu, Manis. Mereka sudah mati."
Kata-kata itu membahana di telinga Sungmin sementara kenangan lama melintas... pengawal-pengawal ibunya diledakkan hingga berkeping-keping sementara Sungmin dan ibunya diseret menuju kendaraan yang sudah menunggu. Bau darah dan pengalaman pertamanya dengan kengerian yang sesungguhnya.
Napas Sungmin menjadi cepat dan tidak beraturan. Ia belum mati... Menoleh ke pintu, ia tahu pintu itu merupakan satu-satunya jalan keluar yang ia miliki.
Ia melempar sebuah kursi kepada si pembunuh dan berlari.
Tangan Sungmin menyentuh kenop pintu yang dingin. Ia mencengkramnya seperti tali penyelamat, tapi sebelum ia bisa membukanya, serangan dilayangkan ke punggungnya dan menghempaskannya.
Linglung, Sungmin ambruk ke lantai.
Sungmin berusaha mati-matian untuk berteriak lagi, tapi paru-parunya tidak mampu berbuat apa-apa karena udara dingin dan kasar berderak di dadanya. Ia cepat-cepat begeser di lantai untuk menambah jarak di antara mereka sambil memikirkan cara lain untuk keluar dari ruangan.
'Tidak ada...'
Tidak, tunggu...
Jendela. Pasti pria itu masuk ke ruangan ini menggunakan jendela.
Sungmin mendongkak untuk melihatnya.
Jendelanya masih terbuka.
'Kau bisa menggapainya.' Itulah satu-satunya harapan yang Sungmin miliki. Cepat-cepat berdiri, ia berlari, ingin melompat dan meraih jendela.
Sebelum Sungmin melakukannya, si pembunuh saudah mencengkram lehernya dan menghempaskannya ke meja rias. Botol-botol parfum dan peralatan rias pecah, menusuk punggung Sungmin, mengoyak kulitnya sementara pria itu mempererat cengkramannya. Air mata frustasi dan kesakitan merebak di mata Sungmin ketika ia memandang wajah pembunuh yang tidak berperasaan.
Sungmin menendang-nendang dan meninju saat melawan si pembunuh dengan segenap kemampuannya. Tapi itu tidak cukup.
Si pembunuh menempelkan pistol blaster ke pipi Sungmin, tawa kejinya membahana di telinga Sungmin selagi ia menantikan suara ledakan final yang akan mengakhiri nyawanya.
.
.
.
TBC
Terimakasih untuk yang sudah membaca chapter sebelumnya^^ Terutama untuk yang sudah repot-repot mereview, terimakasih banyak!
Oh ya sekalian saya mau tanya pendapatnya nih. Kalau saya buat ff baru mending Gender Switch atau Shonen Ai/Yaoi/Boy X Boy aja? Mohon bantuan masukannya ya^^
