Baerryriana
Present
.
Amaranth
.
A story about two person that can't give a love to each other
.
.
Mungkin, kisah tak selamanya berakhir indah. Mungkin tak selamanya kedua tokoh berakhir memandang senja dengan senyum mengembang. Mungkin tak seluruh kisah dapat membuat keduanya saling berangkulan.
Mungkin ada diantara sekian kisah yang berakhir dengan tragisnya. Atau minimal mampu membuat salah satu pihak menggila.
Yang Chanyeol tak sangka adalah ketika akhir pilu itu menghampiri kisahnya. Dia berakhir mencinta dalam kesendirian. Berakhir merelakan. Berakhir tabah menghadapi tiap detik yang hinggap.
Pernah satu masa Baekhyun melontarkan satu tanya yang dia kira canda. Namun sekarang. Canda itu nyata.
"Kapan kau akan berhenti mengatakan hal bodoh itu, Chan?"
Tanya itu mampir di satu senja kala keduanya beriringan pulang di tepi trotoar.
"Hal bodoh apa?"
"Kalau kau menyukaiku,"
Ooh sekarang Chanyeol ingat kenapa tanya itu terucap lisan. Satu jam yang lalu, senior Luhan kebetulan berpapasan dengan keduanya yang tengah membeli jajanan di salah satu kaki lima. Godaan pun tak luput diucapkan Luhan saat melihat Chanyeol dan Baekhyun terlalu dekat yang membuat Chanyeol reflek mengucap jika dia menyukai Baekhyun.
Dan itu bukan kali pertama Chanyeol mengakuinya.
"Emm.. Mungkin nanti,"
"Kapan?"
"Saat kau menjadi milikku,"
"Konyol. Itu tidak mungkin,"
Lalu satu pukulan di bahu mengiringi penolakan Baekhyun yang membuat Chanyeol tertawa.
Kala itu Chanyeol menyangka semuanya akan selalu seindah itu. Saling mengejek, saling memperhatikan, serta kadang saling mengelak akan perasaan. Nyatanya Baekhyun sungguhan menolak. Bukan hanya sekadar basa-basi.
.
.
Laju mobil itu sengaja dibuat sepelan mungkin. Menunjukkan bahwa sang pengendara tengah mengulur waktu sebanyak mungkin. Bahkan berulang kali dia menghela napas. Namun bukannya semakin baik, justru semakin sesak.
Chanyeol merasa perjalanannya kali ini seperti dia akan menjemput ajal. Seakan tiap detik yang terlewat memberinya satu duri untuk ditanam.
Sakit. Sesak. Ingin benar-benar mati saja.
Hingga saat kendaraan itu masuk ke pelataran parkir tempat pernikahan berlangsung, Chanyeol semakin merasa jantungnya teremas, napasnya tercekat, jiwanya terangkat.
Jika boleh Chanyeol berkata, aku yakin dia akan menyampaikan ini padamu.
"Datang ke pernikahan orang yang kau cinta adalah definisi nyata dari bunuh diri yang sesungguhnya,"
Ketika akhirnya dia dapat berdiri tegak di sisi mobilnya, Chanyeol teringat akan kilas memori yang membuatnya tersenyum getir.
Saat itu Sehun baru pulang dari salah satu tugas dinasnya. Sengaja mampir ke apartemen Chanyeol untuk memberinya kabar.
"Kemarin aku bertemu Baekhyun,"
"Kau sudah memberitahuku lewat pesan,"
"Tapi aku lupa menyampaikan pesannya,"
"Tentang apa?"
"Tentang kau yang harus berhenti,"
Saat itu Chanyeol hanya mampu tersenyum dan menjawab dengan tenang.
"Beri tahu Baekhyun. Aku akan berhenti jika penantianku ditukar dengan pernikahan,"
Sekarang Chanyeol menyesal. Mengapa dia dulu tak menjelaskan pernikahan macam apa yang dia maksud? Mengapa dulu tak dia sampaikan saja jika dia ingin Baekhyun berakhir bersamanya?
Kini Baekhyun benar-benar mewujudkan inginnya. Dia menukar penantian Chanyeol dengan sebuah pernikahan. Pernikahan antara Baekhyun dengan gadis bermarga Park.
Bukan pernikahan dengan seorang lelaki bermarga Park. Lebih jelas lagi, bukan dengan seorang lelaki dengan nama Park Chanyeol.
Jujur Chanyeol ingin memuji siapapun yang mendekorasi gedung ini. Tatanannya begitu apik dan mewah. Chanyeol kagum.
Banyak orang yang datang. Mereka menyebar ke setiap sudut. Saling berbincang satu dengan lainnya. Sangat berbeda dengan Chanyeol yang berdiri dengan enggan. Menatap lurus pada tokoh utama yang tengah sibuk menebar senyum bahagianya.
Satu tepuk menyapa bahu kala dia tengah meneliti pasangan dari orang yang dicinta. Sehun menyapanya. Memberi segelas alkohol yang memang sudah tersedia.
"Kau tahu, Sehun?"
Sehun memandangnya tepat di retina.
"Aku tak tahu mana yang benar. Aku kalah dan dipaksa berhenti atau aku berhenti karena telah kalah,"
"Keduanya sama. Berakhir merelakan,"
"Yahh. Kau benar. Coba aku tahu lebih dulu jika dia tak menyukaiku,"
"Dan apa yang akan kau lakukan jika hal itu terjadi?"
Chanyeol menatap Baekhyun yang tengah berjalan ke arah keduanya. Menaruh gelas saat salah satu pelayan kebetulan lewat lalu menyembunyikan kedua tangan sambil terus menatap lekat.
"Setidaknya aku akan menghindar dari dramanya,"
Sehun ikut berdiri tegap begitu Baekhyun sampai dihadapannya. Bertanya basa-basi tentang jamuan dan mencoba mengabaikan pandangan mematikan yang Chanyeol tampilkan.
"Aku senang kau datang,"
Senyumnya begitu bersinar. Jelas sekali jika dia bahagia. Tapi bukan karena hadirnya Chanyeol.
"Mana mungkin aku melewatkan senyum bahagiamu,"
Sayangnya Chanyeol masih sama. Mudah terpesona pada senyum Baekhyun.
"Selamat atas pernikahanmu, Baek,"
Chanyeol bukan sedang basa-basi. Dia hanya sedang mencoba tegar. Hanya berlatih merelakan.
"Terimakasih. Tetaplah disini sampai acara selesai,"
"Dan terus menahan sesak di tengah pernikahan orang yang kucintai? Maaf, Baek. Tapi aku tak sekuat itu,"
Entah. Tapi Sehun merasa aura di sekitarnya berubah menjadi gelap dan dadanya ikut sesak. Tahu betul seberapa sakit Chanyeol.
"Aku harus pergi, Byun. Aku masih punya banyak urusan. Sekali lagi, selamat,"
Lalu Chanyeol berlalu. Terlalu tak acuh hingga siapapun tahu. Lelaki itu tengah menahan pilu.
"Dia berhenti,"
Sehun menatap Baekhyun yang masih terus memandang lurus kepergian Chanyeol.
"Lebih tepatnya, akhirnya aku tahu cara membuatnya berhenti,"
Sehun melihatnya. Satu tetes yang luruh dan buru-buru dihapus.
Bukan hanya Chanyeol yang pilu. Sepertinya Baekhyun juga menyimpan luka.
.
.
.
