Previous Chapter :

"Wow, barang apa yang kau tawarkan?" Mata Kiba langsung berbinar.

Sasuke melemparkan handycam kepadanya.

"Cih, handycam?" Shino mendengus.

"Bukan itu yang kutawarkan..." Sasuke menyeringai, menanggapi tatapan meremehkan yang dikeluarkan Shino di balik kacamatanya. "Lihat isinya, edit sedikit dan sebarkan. Umumkan ke satu sekolah seberapa murahan si Hinata Hyuuga itu."

Mereka bertiga terdiam.

"Rekaman... Hinata?"

.

.

Di suatu ruangan, ada senggalan nafasnya terdengar memburu—kuat, dan membuat paru-parunya kembang kempis tak beraturan.

Satu per satu, buliran keringat dingin mengalir dari pori-pori wajah dan juga seluruh permukaan tubuhnya.

Tes.

Setitik air bening terjatuh. Tapi itu bukanlah keringat, melainkan air mata.

Tes.

Tes.

Dimulai dari kedua sudut mata, air matanya mengalir lewati pipi ke dagu, dan barulah pecah ketika menghantam lantai.

Trek.

Kemudian, sesuatu yang dari tadi ia pegang terlepas dari tangannya.

Hinata mengangkat tangannya yang bergetar, lalu meremas kencang-kencang helaian indigo panjangnya yang terlihat kusut.

Lalu, ia pun jatuh terduduk. Menangisi keadaannya sekarang.

Terutama saat melihat ada dua buah garis yang terpampang di benda tersebut—yang adalah sebuah test pack.

"A-Aku hamil..."

.

.

.

HANDYCAM

Sanpacchi's Fanfiction 2011

Naruto is Masashi Kishimoto's | NaruHina & SasuHina | Fanfiction-net

Genre : Romance, Angst, Tragedy. | Warning : AU, OOC, Typos, Mature Themes, etc. | Jika ada kesamaan ide harap dimaklumi.

MATURE CONTENT—YOU HAVE BEEN WARNED!

.

.

Handycam no VII. Apa Ini Adalah Akhir?

.

.

Setelah sekian lama absen tanpa keterangan, secara tidak disangka Hinata kembali memperlihatkan dirinya di Konoha High School. Dengan sepatu flat hitam yang terseret, ia berjalan memasuki gerbang. Tatapannya kosong, seakan tidak mempunyai semangat hidup.

Sewaktu ia memasuki gedung, perlahan bisikan demi bisikan terdengar ketika Hinata melewati siswa-siswi yang lain. Tapi Hinata sama sekali tidak heran ataupun merespons—menoleh pun tidak. Karena, pikirannya sudah dipenuhi oleh kecemasannya tersendiri.

Oleh sebab itu, ia harus ke kelas dan bertemu langsung dengan Naruto.

Ia ingin meminta pertanggungjawaban atas janin yang telah dikandungnya selama ini...

.

.

: handycam | sanpacchi :

.

.

"Eh, katanya si Hyuuga itu sudah masuk loh."

"Demi apa? Kok dia berani sih?"

"Iya! Kalau aku jadi dia, aku tidak akan pernah mau ke sekolah lagi."

Di dalam kelas, Naruto yang baru saja menaruh tasnya ke meja langsung menoleh. Tentu karena secara tidak sengaja mendengarkan obrolan dari siswi yang menggerombol di depan kelas.

"Hm, aku juga. Terutama karena 'video'nya telah kesebar ke satu sekolah, kan? Ck, gila aja."

"Video mesum Hyuuga, ya?"

"Iya. Tapi memangnya di video itu dia lagi sama siapa saja sih?"

"Entahlah, muka pasangannya tidak kelihatan. Tapi katanya sama dua orang yang berbeda."

"Ck, ck. Tidak diurusin sama guru bimbingan konseling gitu, ya? Padahal dulu kukira dia anak baik-baik."

Di tempat duduknya, Naruto menghela nafas.

Ya, ia tau tentang semua itu. Ternyata Sasuke benar-benar menyebarkannya ke satu sekolah. Awalnya Naruto sempat marah karena tidak menyangka atas perbuatan Sasuke yang keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Video sudah tersebar, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Tapi Naruto tetap tidak bisa tenang. Masalahnya dari dua video itu, hanya Hinata lah yang teramat sangat dirugikan. Karena sebelum disebar, video-video itu telah di-edit—wajah maupun suara Naruto dan Sasuke diburamkan. Tapi Hinata tidak. Gadis itu sangat terlihat jelas di dalam rekaman. Dimulai dari tubuh, wajah, suara dan organ-organ intimnya.

Gerah dengan apa yang dibicarakan di kelas, Naruto pun bangkit dari tempat duduknya dan berdiri. Ia segera meraih pintu agar dapat keluar dari kelas.

Sreek.

Pintu terbuka. Saat Naruto baru saja akan melangkah, dirinya tertahan karena merasa ada seseorang yang berada tepat di hadapannya. Lalu Naruto melihat ke depan, ia terbelalak.

Itu Hinata, Hinata Hyuuga—gadis yang sampai sekarang masih berstatus sebagai kekasihnya.

Hinata tidak sedang menatapnya—karena ia sedang sengaja menghindari kontak mata darinya. Tapi Naruto nyatanya juga sama. Pria tersebut terlalu merasa berat untuk melihat kedua mata indah itu lagi.

Menyadari ada Hinata, tiba-tiba saja salah satu siswa di dalam kelas berseru dan menunjuknya. "Dia datang! Si diam-diam menghanyutkan datang!"

Sedetik kemudian, Naruto langsung melangkah maju dan menutup pintu kelas. Sebelum ada yang menyoraki Hinata dengan gunjingan, cepat-cepat Naruto menggenggam pergelangan tangan Hinata—yang kini terasa lebih kurus—ke sebuah tempat di lantai empat.

Setelah Naruto berhenti di sebuah pojokan lantai empat, ia berbalik dan memandangnya. Mereka berdua terlarut oleh keheningan. Naruto menunggu Hinata mengatakan sesuatu, namun Hinata sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan bersuara.

"Aku tidak tau... kenapa di hari ini banyak sekali orang yang seperti menghinaku..."

Hinata menunduk dan Naruto meliriknya dengan pandangan sedih. "Lupakan. Jangan pikirkan mereka."

"Ya..." Hinata menaikan pandangannya, sehingga lavendernya bertemu dengan si pemilik iris sapphire. "Karena aku ke sini hanya ingin bertemu denganmu."

Naruto terdiam. Tapi karena wajah Hinata seolah-olah menunggunya, ia pun mencoba menjawab. "Hinata, aku—"

"Aku ke sini mau memberitahukan sesuatu." Hinata memulai. "Kuharap kau mau mendengarkannya."

Naruto menunggu kalimat Hinata yang selanjutnya. Ia tidak tau apa yang akan Hinata katakan, tapi tampaknya itu bukanlah berita yang baik.

"Aku hamil."

"A-Apa?" Naruto tersentak. Kalimat Hinata membuatnya nyaris tidak percaya.

"Ini sudah minggu keenam."

Naruto menarik nafas, suaranya nyaris seperti desisan. Ia pun memejamkan kedua matanya. "Bagaimana bisa?"

"Aku... tidak tau." Hinata menggeleng lemah. "Tapi ini adalah kenyataannya, Naruto..."

"..."

"To-Tolong... bertanggung jawab sesuai janjimu..." Suaranya bergetar.

"..."

"A-Aku tidak tau harus berbuat apa..."

Naruto kembali membuka kelopak matanya. "Apa kau yakin itu adalah bayi... dariku?"

Kedua mata Hinata mengerjap, bibirnya sedikit bergetar saat ia akan menjawab Naruto. "Ke-Kenapa Naruto-kun berpikir seperti itu?"

"Tetap saja ada kemungkinan... kalau itu adalah bayi Sasuke juga, kan?"

"Tidak..." Suara Hinata meninggi. "Aku minta pertanggungjawaban... hanya darimu."

Mati-matian Hinata menahan tangisannya yang hendak keluar. Ia sama sekali tidak menyangka Naruto akan mengingatkannya kepada kejadian itu—bersama Sasuke.

"Tapi dua bulan yang lalu... kau itu dengan Sasuke... b-bukan denganku. Aku..." Suara Naruto memelan, ia tidak kuat melanjutkan.

"Aku tidak mau yang lain, sekalipun Sasuke."

"..."

"Aku ha-hanya mencintaimu, Naruto."

"Sudahlah." Suara Naruto terdengar serak. Ia berusaha menggerakan kedua kakinya agar dapat membawanya kembali ke kelas. "Lagi pula tidak mungkin kau hamil. Kita hanya melakukannya sekali."

Namun setelah selangkah, tangan Naruto ditahan oleh Hinata. Ditatapnya Hinata yang lebih pendek belasan senti darinya.

"Na-Naru..." Lirihnya. "A-Aku benar-benar hamil! Aku sendiri juga tidak mau mendapatkannya! A-Aku takut!" Mendadak air mata mengalir pelan melewati permukaan pipi mulus milik Hinata. "Karena itu aku ingin kau bersamaku... menghadapi ini..."

Menggunakan telapak tangan, Naruto mengusap wajah dan juga poninya sendiri sehingga sampai tersisir ke belakang. "Tidak bisa, Hinata... kita masih SMA."

"Ta-Tapi... k-kau pernah bi-bilang padaku akan bertanggung jawab jika ini terjadi—"

"Lupakan." Sebelum Hinata melanjutkan kalimatnya, Naruto menyela.

Hinata tidak mau menyerah, walaupun hatinya terasa perih, ia terus bersikeras.

"Dulu saat kita melakukannya, kau pernah mengatakannya padaku! A-Aku sangat mengingat janjimu!"

Naruto memalingkan wajah.

"Tidak! Tidak mungkin kau lupa!"

Tidak mungkin... kan?

"Iya, aku pernah mengatakannya." Naruto memejamkan matanya rapat-rapat, lalu ia berdesis. "Tapi, aku berbohong."

Sebuah isakan terdengar dari Hinata. "Tidak! Aku masih ingat keyakinanmu saat mengutarakannya padaku, Naruto—!"

"Semua yang kukatakan padamu adalah kebohongan!" Naruto meninggikan suaranya, membuat Hinata tersentak. "Kulakukan semua itu semata-mata untuk membujukmu! Aku ingin mendapatkan tubuhmu, karena itu... aku melakukannya!"

Susah payah Hinata menahan rasa sesak di dadanya atas segala ketakutan yang sekarang sudah menjadi kenyataan ini. Ditatapnya wajah Naruto. Tubuh mereka memang saling berhadapan, namun Naruto sangat terlihat seperti sedang mengindari tatapan matanya.

"Ja-Jadi... hal itu benar?" Hinata berbisik.

"Kau me-mencintai Sakura... dan hanya menjadikanku pelampiasan?"

Lagi-lagi Naruto tidak menjawab. Sampai akhirnya Hinata memberanikan diri untuk menarik seragam Naruto agar pria itu memandangnya.

"La-Lalu... kenapa harus aku?"

"..."

"Kenapa tidak orang lain?"

"..."

"Kenapa harus aku yang kau jadikan pelampiasan!?" Teriaknya. "Naruto, jawab aku!"

"Iya..."

Sontak, jawaban itu membuat tubuh Hinata kaku.

"Maaf."

Itulah jawabannya. Jawaban yang jujur—bukan lagi ditutupi oleh kebohongan ataupun sekedar basa-basi belaka.

Di detik itu, Hinata merasa hatinya patah.

Jadi... benar, kan?

Dia benar-benar sebuah pelampiasan.

Sebuah barang tak berharga... yang setelah 'dipakai' bisa 'dibuang'.

"Aku memilihmu karena aku tau kau mencintaiku." Berat bagi pria itu untuk melanjutkan kata-katanya, tapi sekarang Naruto ingin membuka semua rahasia tentang ini. Ia tidak mau lagi menyembunyikan sesuatu dari Hinata. "Itu alasannya."

Naruto tau, bahkan sangat tau kekecewaan yang dirasakan oleh Hinata lewat tatapan matanya. Sebenarnya, Naruto merasa bersalah. Dia merasa hina. Tapi waktu tidak bisa berputar. Penyesalan memang selalu datang terakhir.

"Aku... terlalu tidak pantas untukmu. Aku sudah menyakitimu sampai seperti ini..."

Secara perlahan disentuhnya permukaan pipi Hinata, lalu Naruto memberanikan diri untuk menghadapkan wajah Hinata kepadanya.

Melihat pandangan Hinata yang kosong, Naruto memejamkan matanya kuat-kuat lalu menghela nafas panjang. "Aku terlalu membuatmu menderita..."

Hinata sama sekali tidak mengubah ekspresinya.

"Lebih baik hubungan ini kita akhiri."

Hanya ada bola mata lavender itu yang semakin menjatuhkan tetesan air matanya.

Karena tidak ada suara, Naruto berbalik. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, kedua tangan Hinata mendadak menahannya dengan cara memeluk Naruto dari belakang.

"Jangan!" Tangisannya tak lagi bisa tertahan. "Tidak mau! Aku masih sangat mencintaimu!"

Naruto masih tidak berpaling. Bukan karena tidak mau menjawab Hinata, ia hanya tidak bisa melihat Hinata yang seperti ini.

"Aku tidak peduli kau mencintai Sakura—asalkan kau tetap bersamaku!"

"Aku juga tidak peduli kau bersama Sakura—asalkan aku masih bisa berbicara denganmu!"

"Aku tidak peduli kau bersama Sakura, Naruto!"

Naruto menunduk, lalu menyentuh tangan Hinata yang ada di perutnya. "Hinata... aku tidak bisa."

Lalu ia melanjutkan. Ia harus jujur—walau ini akan menyakitkan untuk Hinata.

"Dari awal aku tidak mencintaimu."

"Ti-Tidak... Tidak apa..." Pelukannya semakin mengerat. "Aku rela... Aku rela diduakan..."

Naruto melepaskan pegangan tangan Hinata agar ia dapat kembali menghadap Hinata. Dipandanginya wajah gadis itu yang kini memerah menahan emosi.

Lalu ia menggerakan tangannya untuk menyentuh puncak kepala Hinata, lalu membelainya perlahan. Ia turunkan sentuhan, dan mencoba untuk membelai pipinya.

Pipi gadis itu merah dan panas. Bekas air mata memenuhi wajahnya sehingga terlihat lengket. Selain itu, dapat dilihat oleh Naruto bahwa Hinata terus berusaha menggigit bibir bawahnya agar tidak terlalu sering mengeluarkan isakan.

Lalu Naruto menunduk agar dapat menyentuhkan kening mereka.

Dan ia kecup hidung Hinata secara perlahan dan lembut.

"Aku menyayangimu. Tapi aku mencintai Sakura."

Disadari olehnya—bahkan sangat disadari olehnya—bahwa remasan Hinata pada seragamnya semakin mengerat.

"Maafkan aku."

.

.

: handycam | sanpacchi :

.

.

Sesudah Naruto ke kelas dan bel mulainya pelajaran berdering, tinggal Hinata-lah yang tersisa di koridor lantai empat ini—tentu karena siswa-siswi lain sedang berada di kelasnya masing-masing. Hinata memejamkan kedua matanya yang lelah akibat menangis. Lalu ia mencoba menghela nafas. Ia terbatuk, tampaknya suaranya semakin serak.

Dengan pandangan lelah, Hinata mencoba menggerakan tubuhnya agar ia dapat berjalan ke ujung koridor. Ia harus menemukan tangga penghubung sehingga ia dapat turun lantai bawah.

Ia ingin pulang. Ia ingin pergi dari sekolah ini.

Pertamanya, Hinata berjalan lurus. Tapi sebelum ia benar-benar sampai ke tangga, terdengarlah sebuah suara yang membuatnya berhenti melangkah.

Suara yang menyerupai erangan. Dan ia jamin itu suara yang diputar dari komputer—atau sejenisnya.

'Nhhh... ahhh.'

Hinata tersentak, dalam seketika tubuhnya merinding.

Entah kenapa, itu sangat mirip dengan suaranya.

Hinata pun terdiam sebentar. Mungkin saja itu suara orang lain—yang hanya sekedar persis dengan suaranya. Hinata pun melanjutkan perjalanannya.

'Ahhh! Naru!'

'Naru! Naruto-kun—ahhnnn!'

Suara yang kian mengeras itu kini membuat jantung Hinata nyaris tak berdetak lagi.

Ia terkejut.

Itu benar-benar suaranya, dan sangat mirip dengan gaya pengucapannya ketika ia bercinta denga Naruto di beberapa minggu yang lalu.

Dengan kedua mata yang masih sembab, Hinata langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari daerah di mana suara tadi berasal. Dan ia menemukannya. Ternyata suara itu dari sebuah ruangan—yang pintunya tidak ditutup—bertuliskan cinematography, semacam klub perfilman.

'Na-Naruto-kun!'

Suara tadi kembali terdengar.

Walaupun koridor lantai empat selalu tidak berpenghuni jika waktu pembelajaran dimulai, Hinata tetap takut jika suara tadi dapat terdengar ke mana-mana. Karena itu, tanpa berpikir lagi Hinata memasuki ruangan gelap tersebut dan segera menguncinya dari dalam.

Saat Hinata memutar badannya dan memeriksa keadaan sekitar, ia melihat studio kosong yang proyektor LCD-nya—yang digantung di langit-langit ruangan—menayangkan sebuah rekaman video di tembok berlapis layar putih.

Dan ketika ia melihat video yang adalah rekaman percintaannya dengan Naruto, Hinata terkejut bukan main.

"Ke-Kenapa bisa ada rekaman ini?" Ia berdesis cemas.

Dia pun segera berlari menuju komputer yang menyala, lalu mematikannya—berharap itulah yang mengatur LCD, sehingga video itu akan juga berhenti menayangkan scene tidak senonoh itu. Tapi, nyatanya tidak. Video masih berlanjut. Hinata panik. Karena ruangan begitu gelap gulita, akhirnya Hinata berusaha mencari saklar terlebih dahulu di tembok.

Ctik.

Dan ketika cahaya lampu membanjiri ruangan, terlihatlah sesosok pria yang nyatanya sudah sedari tadi terduduk di deretan kursi penonton. Ia memperhatikan Hinata, dan kemudian menyeringai.

Itu Sasuke.

Saat mata mereka bertemu, Hinata merakan bulu kuduknya meremang. Kilasan demi kilasan tentang peristiwa mengerikannya di perpustakaan—bersama Sasuke—terulang di benaknya, membuat dirinya semakin tidak bisa berpikir jernih karena stress.

Semuanya terlalu mengerikan untuk diingat.

Dengan deru nafas yang tidak beraturan, Hinata menundukkan kepalanya.

"M-Ma-matikan videonya." Dengan suara ragu, Hinata berteriak. Punggungnya sengaja ia dempetkan ke tembok, agar menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak mendadak jatuh.

"Aku sedang menonton, lalu kau datang dan menyuruhku agar mematikannya?" Lalu ia tatap mata lavender Hinata yang kini mengeluarkan air mata. "Kau terlalu seenaknya."

"M-Matikan!"

"Lebih baik kau duduk dan menyaksikan ulang video percintaanmu dengan Naruto—yang tak akan terulang itu. "

"Tidak!" Hinata berteriak histeris, kedua matanya terpejam dan setetes air mata mulai mengalir di pipinya yang memerah.

Satu yang sedang Hinata pikirkan, ia ingin menghilang dari dunia ini sekarang juga.

Sambil mendengus geli, Sasuke bangkit dari bangkunya dan berjalan mendekati Hinata. Sadar-sadar, Sasuke telah menarik dirinya. Hinata meronta, tapi tidak bisa. Lalu, beberapa detik kemudian Hinata merasakan dirinya dipaksa duduk di salah satu bagku penonton.

Dengan sisa kekuatan yang ada, Hinata mencoba berdiri. Tapi hal itu ditahan Sasuke, sehingga ia terjatuh ke pangkuannya. Jelas saja ia tidak suka dengan posisi tersebut, apalagi ketika Sasuke menahannya ke mana-mana dengan cara melingkarkan salah satu tangannya ke perut Hinata.

"L-Lepaskan..." Lirihnya lemas.

Sasuke tidak menjawab apa-apa. Jujur saja, ia menahan Hinata hanya karena ia ingin bersama gadis itu. Mereka pun terdiam di posisi itu selama beberapa belas detik.

Sampai akhirnya, Hinata berada di ambang tenaganya. Ia tidak bisa lagi bergerak dan melawan. Ia sudah terlalu lelah akibat semua beban mental yang dibebankan kepadanya. Hinata pun terkulai lemas dan membiarkan tubuhnya berada di atas Sasuke. Tapi tentu saja Sasuke masih dapat merasakan tubuh Hinata yang bergetar karena ketakutan.

Setelah tidak melihat reaksi apa-apa dari Hinata, akhirnya Sasuke berbisik tepat di telinganya. "Aku cuma mau mengajakmu menonton dan berbicara empat mata. Jadi lebih baik kau mengikuti acaraku."

Hanya mendepatkan jawaban dari Hinata berupa deru nafasnya yang tidak teratur, Sasuke menyenderkan dagunya ke pundak serta leher Hinata. Mata onyx-nya masih terus menatap rekaman antara Naruto dan Hinata yang terputar di layar.

"Mau kuceritakan semua hal yang terjadi pada Naruto—sampai-sampai kau diperalat olehnya, hn?"

Tanpa jawaban dari Hinata, Sasuke melanjutkan. "Dia menjadikanmu kekasih, karena aku telah bersama Sakura." Sasuke tertawa, singkat namun menghina. "Dia cemburu. Karena itu ia butuh seseorang untuk melampiaskan kecemburuannya."

"Lalu orang itu adalah kau. Kau lah pelampiasannya." Merasa pejaman mata Hinata semakin rapat, Sasuke mencengkram kedua pipi Hinata dengan salah satu tangannya dan memaksa gadis itu untuk menghadap lurus ke rekaman video. "Lalu dia pun melakukan ini karena aku mengancam akan menyentuh Sakura—apabila ia tidak menyetubuhimu. Dan inilah bukti yang Naruto berikan kepadaku."

"—!"

"Mungkin bagimu ini adalah cinta, tapi sebenarnya Naruto melakukannya demi Sakura seorang."

Mengalirlah lagi sebuah air mata dari kedua mata Hinata yang masih tertutup.

"Dan apa kau masih ingat kejadian indah di perpustakaan?"

"Kau tidak heran kenapa Naruto mau-mau saja merekam kejadian kita? Asal kau tau, itu juga karena aku iming-imingkan dia dengan Sakura—lagi." Sasuke tersenyum, lalu matanya kembali memperhatikan layar. "Hal yang dilakukan Naruto, semua untuk Sakura—karena seperti yang kau tau, Naruto sangat mencintai Sakura."

"Sedangkan kau hanya pelampiasannya. Berkali-kali ulangi, kau cuma pelampiasan kotor dari Naruto."

Sasuke tertawa mengejek.

"Menyedihkan, hn?"

Diputarnya tubuh Hinata yang lemas—bagaikan tubuh tanpa raga—agar posisi gadis itu kini menghadapnya. Dia pandangi wajah Hinata yang terlihat kacau. Iris lavendernya memang menyorotkan tatapan kosong, tapi kedua mata itu menangis. Sasuke tau Hinata sedang berusaha mati-matian tidak mendengarnya, tapi pria berambut raven itu dapat menjamin bahwa semua kalimatnya terserap baik oleh otak Hinata.

"Mungkin saat ini Naruto sedang tertawa jika mengingat-ingat seberapa mudahnya kau memberikan tubuhmu ini kepadanya."

Sasuke menaikkan salah satu sudut bibirnya.

"Dan yang terpenting Naruto lah yang membuat rekamanmu dengan mudahnya tersebar luas." Sasuke tersenyum di sela kebohongannya, membiarkan Hinata terkejut sendirian.

Apa karena itukah banyak yang menghinanya?

"Reputasimu jatuh. Kau bukan lagi primadona sekolah ini. Kini, kau hanyalah seorang jalang di balik semua sikap anggunmu—karena ada bukti kalau kaulah yang meminta Naruto menyentuhmu." Intonasi suara Sasuke terdengar lebih ditekan.

"Tu-Tunggu..." Lirih Hinata. "K-Kau bilang... Naruto yang menyebarkan rekamannya? Ke siapa?"

"Ke siapa?" Sasuke mengulang pertanyaannya dengan nada meremehkan. "Tentu saja ke aku, dan... semuanya—bahkan ke warga satu sekolah."

"Tidak mungkin! K-Kau pasti b-bohong!"

"Kau itu tidak mengenal sifat asli Naruto, sedangkan aku mengenalnya." Ia tersenyum sinis. Tentu saja dalam hati Sasuke tertawa melihat Hinata yang begitu mudah mempercayainya—padahal dirinya sendirilah yang menyebarkan rekaman itu ke mana-mana.

"Bohong..." Suara Hinata memelas, getar, rasa kecewa terus menyelimuti hatinya.

"Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang penting, ada satu hal lagi yang harus kukatakan padamu..."

"..."

"Apa kau tau kenapa akhir-akhir ini sifat Naruto berubah menjadi tidak peduli kepadamu?" Sasuke berbisik kepada Hinata. Ia memberi jeda sebentar untuk membiarkannya berpikir. "Karena aku sudah putus dengan Sakura—hadiah dari kemauannya merekam percintaanku denganmu."

Hinata menggigit bibirnya.

Sudah...

Cukup.

"Dan Naruto sedang fokus-fokusnya ke Sakura."

"Hiks..."

"Dan tidak lama lagi, hubungan kalian akan berakhir..."

"Uhk, hiks..."

"Kemudian Naruto dan Sakura akan keluar menjadi pemenangnya."

Hanya tangisan Hinata yang kini terdengar.

"Lihat Naruto-mu di rekaman itu, Hinata..."

"Tidak..."

"Apa di sana wajah Naruto memancarkan kebahagiaan? Tidak, kan?"

Hinata menggeleng. Itu bukan jawaban, melainkan tanda ia sudah tidak tahan terus dituntut oleh kalimat-kalimat si bungsu Uchiha.

"Sasuke-kun, ku-kumohon..." Pintanya dengan suara lirih, tidak bisa lagi menahan kesedihannya.

"Dan apa dia pernah salah menyebutkan namamu menjadi 'Sakura'?"

"—!"

Kedua mata Hinata terbuka lebar. Tiba-tiba saja, ia kembali mengingat salah satu kejadian yang persis seperti apa yang Sasuke katakan.

Naruto... pernah salah menyebutkan namanya.

Dulu, sewaktu mereka selesai bercinta...

.

'Terimakasih, Sa—'

'Si-Siapa?'

'Ada apa dengan nada suaramu? Kan aku mau bilang 'sayang'. Jangan curiga seperti itu...'

'Iya...'

.

Jadi hal itu benar...?

Apa sebelumnya ia akan menyebutkan 'Sakura'?

Dan saat bercinta... apa jangan-jangan Naruto membayangkan dirinya adalah Sakura?

"Dari reaksimu, sepertinya pernah." Sasuke menyeringai. "Tapi tenang saja, rekaman kita mempunyai nilai lebihnya sendiri." Lalu Sasuke menyentuhkan permukaan bibirnya ke sisi samping leher Hinata dan mengecupnya pelan.

"Tidak..." Hinata menahan kepala Sasuke agar tidak terlalu menekannya. "Aku tidak mau!"

Bukh!

Mendadak Hinata mendorong dada Sasuke, sehingga ia bisa langsung berlari menuju pintu keluar. Ia abaikan rekaman yang masih menunjukan reka ulang percintaannya dengan Naruto. Hinata telah memilih untuk tidak peduli lagi.

Dengan cepat ia mengayunkan kedua kakinya, sampai akhirnya ia dapat keluar sekolah dan menghela nafas lega. Dia sempatkan dirinya untuk berjalan dan menormalkan nafasnya yang terengah-engah. Lalu dia menoleh ke samping, tepat ke arah taman.

Ia ingat...

Dulu di mana ia masih aktif menjadi anggota klub kebumian, Naruto menyapanya.

Ia ingat masa-masa itu. Terutama saat Naruto menyebutkan namanya. Hinata. Naruto yang menyebutkannya.

Ia ingat betapa bahagianya dirinya saat dipanggil oleh pujaan hatinya di hari itu. Dan di saat itu juga ia ditembak oleh Naruto.

Tapi itu semua... hanya karena Naruto yang cemburu bahwa Sakura sudah menjadi milik Sasuke.

Kemudian, Hinata merasakan air matanya berjatuhan lagi.

Dia pikir, momen itu adalah sesuatu yang paling membuatnya bahagia. Tapi nyatanya tidak saat ia sudah mengetahui apa di balik semua itu.

Di sela lamunannya, tiba-tiba saja ada dua tangan yang melingkari perutnya dari belakang. Sontak saja Hinata terkejut dan menepisnya. Cepat-cepat ia berputar arah, dan melihat siapa yang telah menyentuhnya seperti itu.

"Hai, Hinata... lagi sendirian?"

Itu Kiba—sahabat Naruto dan juga Sasuke—yang kini menyapanya sambil tersenyum mengejek. Tampaknya mereka baru saja membolos jam pelajaran. Melihat juga ada Shikamaru dan Shino di belakang Kiba, Hinata memundurkan langkahnya. Ia Takut.

"Tidak bersama Naruto, eh? Atau kau memang sedang berburu cowok lagi untuk kau jadikan objek video mesummu lagi?" Kiba tertawa.

Hinata terdiam dan mengingat semua kalimat yang tadi diutarakan oleh Sasuke kepadanya.

"Kenapa kaget seperti itu?" Kiba terkekeh. "Kami semua—yang ada di sekolah ini—pun sudah tau betapa indahnya dirimu saat bercinta."

"A-Apa maksud kalian?"

Jangan bilang... apa yang dikatakan oleh Sasuke itu benar? Dan Naruto lah yang menyebarkan video percintaan mereka ke seluruh warga sekolah?

Detak jantung Hinata berdetak tak nyaman.

"Ya, tentu saja." Jawab mereka. "Aku juga ingin coba dong. Ayo bercinta dengan kami bertiga. Tunjukan kalau kau bukan hanya hebat dengan dua orang berbeda saja!" Kiba-tertawa keras-keras, sedangkan Hinata langsung berlari menerobos Shikamaru dan Shino agar dapat keluar dari lingkungan sekolah.

Dan di saat itu juga, ingin rasanya Hinata hilang dari permukaan bumi ini.

. . .

Kembali lagi ke ruangan cinematography, Sasuke masih ada di sana. Tidak peduli dengan pintu ruangan yang menganga lebar, pria itu masih tetap tenang di kursi sambil menonton video yang sempat dilihatnya bersama Hinata.

Lalu ia mengambil sebuah remote dan menekan sebuah tombol dari sana. Tergantilah rekaman tadi menjadi rekaman dirinya dan Hinata. Kini tatapan Sasuke menajam. Bukannya menonton, pria itu malah seperti sedang berpikir.

Ia menyadari bahwa suara desahan Hinata di rekaman pertama dan kedua sangatlah berbeda. Video itu memang berisi percintaan mereka, hanya saja... jika dilihat dari erangan, senyum, gekstur tubuh sampai klimaks, rasanya Sasuke sama sekali tidak menemukan persamaan.

Ditekannya tombol lagi, sehingga rekaman menunjukan rekaman Naruto dan Hinata.

Wajah Hinata yang bahagia, respons yang sangat penuh kasih sayang, dan desahan indah.

'Na-Naruto-kun...'

'Ahhhnn, Naru...'

Semua itu... lain jika Hinata bersamanya.

Kesal, akhirnya Sasuke segera berdiri. Diambilnya sebuah kursi dan ia lemparkannya ke proyektor LCD di ruangan itu. Karena hantaman tersebut, LCD terjauh ke lantai dan pecah—sampai-sampai layar yang sempat menayangkan rekaman kotor tersebut menjadi polos.

"TSCH, BRENGSEK!"

.

.

: handycam | sanpacchi :

.

.

Sesampainya di rumah, Hinata memang sudah tidak menangis lagi. Tapi, meski demikian tubuhnya tetap tegang dan bergetar tidak nyaman. Keringat dingin masih setia membasahi seluruh permukaan kulitnya yang kian lama semakin memucat.

Perlahan ia melepaskan sepatu dan meletakannya ke atas rak.

Tapi baru saja berjalan beberapa langkah memasuki rumahnya. Mendadak ia terpaksa berhenti oleh satu hal. Sekarang, di depannya ada Hiashi Hyuuga—ayah dari Hinata—yang sedang menyilangkan kedua tangannya di dada. Raut wajahnya keras dan alisnya bertaut. Tanpa berpikir lama, Hinata dapat menyimpulkan bahwa ayahnya sedang marah.

Dengan kepala yang tertunduk, Hinata mencoba melangkah lagi. Menepis segala dugaannya atas tatapan sinis sang ayah yang ditunjukan kepadanya. Namun, saat Hinata akan melewati Hiashi, sebuah kalimat milik suara bariton itu membuatnya tersentak.

"Masih berani-beraninya kau menginjakan kaki di rumah ini?"

"O-Otousama?"

Hinata terkejut. Lalu dilihatnya Hanabi yang mengintip dari balik pintu geser ruang tamu.

"A-Ada apa?"

Hiashi mendengus sinis. Ditatapnya manik mata anak sulungnya sampai Hinata menunduk seketika. Takut.

Dilemparkannya sebuah amplop coklat yang tampaknya berisikan sesuatu. Dan ketika map itu menyentuh tatami, tercecerlah beberapa foto yang langsung membuat Hinata membelalakan matanya.

Itu fotonya yang sedang disetubuhi. Ada yang bersama Naruto, dan juga Sasuke. Tapi wajah keduanya tidak disorot di sana—sengaja diburamkan. Dan hanya ada gambar Hinata, dari ujung rambut sampai kaki yang tidak dilapisi oleh sehelai pakaian.

"Apa ini? Jelaskan padaku sekarang juga."

Suara sinis namun menekan milik Hiashi membuatnya membeku. Ia tidak dapat bergerak, dan nyaris tidak bisa bernafas karena tidak bisa melawan keterkejutan ini.

"I-I-Itu—"

PLAK!

Terdengar suara orang yang terjatuh di atas tatami. Itu Hinata.

"Otousama!" Hanabi yang terkejut langsung belari, berniat mendatangi Hinata. Tapi Hiashi menghentikannya.

"Diam di sana, Hanabi!"

Dengan mata yang sudah panas karena ingin menangis lagi, Hinata memegangi pipinya yang sakit.

Tatapan Hiashi kembali berpindah kepadanya. "Dasar jahanam! Apa kau tau ini adalah aib besar yang dapat mencoreng nama keluarga!?"

Hinata memalingkan wajah, menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca dari ayahnya.

"O-Otousama... maafkan aku..." Bersama suara bergetar ia meminta maaf. Tapi Hiashi sudah keburu menarik tangannya, mengabaikan Hanabi—adik dari Hinata yang masih kecil—yang terus mencoba untuk menenangkan amarah sang ayah.

"Tidak ada kata maaf untukmu!"

Hanabi dapat melihat jelas Hiashi yang sedang menyeret kakaknya—Hinata—ke kamar.

BLAM!

"Kau dihukum! Renungilah segala perbuatanmu itu!"

Sesudah ia menutup pintu dengan sebuah bantingan, Hinata menangis. Ia berusaha membenarkan posisinya menjadi terduduk, lalu ia tabrakan punggungnya ke papan pintu. Nafasnya terengah, tubuhnya keringatan, dan air mata terus saja keluar dari kedua matanya.

Hinata yang masih menangis itu membenturkan kepala bagian belakangnya ke pintu, berkali-kali. Lalu dengan kedua tangan ia menutup wajahnya.

"Naruto-kun..." Isaknya. "Hiks, N-Na-Naruto-kun..."

"Kenapa...?"

Ia coba untuk kembali melihat lurus ke depan, membiarkan pandangannya mengenai sebuah jendela kamar yang terbuka lebar.

"Kenapa kamu tega... memanfaatkanku?"

"Kenapa kamu tega membiarkan Sa-Sasuke m-me-menyetubuhiku?"

Hinata menangis, kali ini intonasinya lebih keras. Seakan orang yang sedang menuntut sesuatu.

"Dan ke-kenapa... kamu menyebarkan video itu!?"

"Padahal..." Ia berdiri, lalu berlari ke arah jendela. "Padahal aku sangat mencintaimu!"

"Tapi kenapa kau melakukan ini semua padaku!?" Ia berteriak histeris. "Kenapa—!?"

Mendadak Hinata melompat dari jendela secara begitu saja, tidak peduli lagi dengan segalanya.

Awalnya ia hanya merasa melayang dengan begitu lambat, sampai akhirnya ia bisa melihat sendiri bagaimana lekuk rumahnya bergerak—sama seperti berdiri di lift yang sedang turun dengan posisi terbalik. Terus saja begitu... sampai akhirnya Hinata merasakan punggungnya terlebih dahulu menyentuh tanah luar rumah yang sudah dilapisi oleh bata berwarna putih.

Dapat ia rasakan bagaimana rasanya jatuh dari lantai dua. Semuanya terasa singkat. Awalnya Hinata hanya merasakan rasa lega yang teramat sangat. Lalu, mendadak rasa sakit yang begitu tajam seakan menusuk-nusuk tubuh serta kepalanya.

Sedetik kemudian, teriakan orang-orang—yang mungkin pelayan keluarga Hyuuga—terdengar. Lalu semuanya buram.

Apa... dengan ini semuanya akan selesai?

.

.

THE END

.

.

Sansan's Note :

Berhubung udah tamat, pasti yang belom tau film Shutter pada kesel—abis kebanyakan pada pengen ending bahagia sih, entah itu bakalan NH ataupun SH. Tapi bukan salahku ya, aku udah nge-warning di chap satu. Lagian genre ini ANGST. Ngga suka angsty dan masih tetep bersikukuh mau happy ending? Hmm :)

Nih,ya... kukasih tau. Shutter itu film hantu. Yang kuceritain di sini cuma kayak flashback kenapa hantu cewek itu bisa ngehantuin si cowok dan temen-temennya. Tapi aku kan Hinata Fans juga, aku pengen ngebuat ending Hinata bahagia di fict ini. Jadi bakalan beda sama film-nya yang asli, cuman tetep kumasukin unsur misteri di 'sekuel'-nya nanti.

.

.

Super Thanks to :

Ligaara no igay, lavender hime-chan, SakuraNomiya, semangka, Mizuki Kana, hiks, Kezia-sama, Twingwing RuRaKe, suka snsd, Devilovi oni, Lollytha-chan, Hakkuna Matata, musume, uchihyuu nagisa, seobb, sasuhina-caem, Sakigane, Yui-chan, Hilda9Achillius9Fitra, Ran murasaki NH, Hime no Rika, Hyuna Tsuchida Ichi Chibby, mongkichii, Desy Cassiotaku, Putri, that's-not-my-name, fuschia, Wana LightNight, semutbeenhere, Shizukayuki Rosecchi, Kertas Biru, Chappy Siegrain Fernandes 09, Fuyu algreat, pissed, naruto lover, Marineblau12, daisuke, jdkjvhlsd, OraRi HinaRa, love sasuhina, Lolipoph, lupalope, Sora Bee, Fujisaki Fuun, Islahur Nana Hyuuga, dark eye, Guest, Mamoka, LadyRuru, Aphro, aida, Mikun, Moku-chan, Hyuna Toki, sujiru, souljagirl, Zaoldyeck13, Hanyo Dark, hyuga, gece, Guest, Guest, Guest, zora'NH'chae, sasukebastard, Guest, Guest, hinata kesepian.

.

.

Frequently Asked Questions :

Sasuke-nya kasar, kasihan Hinata. Iyaa. Video apa yang disebarin? Yang NaruHina atau SasuHina? Dua-duanya. Sebenernya aku ngga suka Hinata disiksa, tapi kalo Sasuke yang nyiksa, aku suka. Kalau aku sih bakalan suka-suka aja, asal happy ending (dan berhubung ini sad ending, aku benci fict buatan sendiri). Siapa ayah dari anak Hinata? Di Handycam 2. Di chap 7 nanti apa reaksi Hinata pas ketemu Sasuke dan Naruto? Seperti cerita di atas. Kok Sasuke nyuruh rekaman mesumnya disebarin? Apa dia ngga malu? Kan udah di-edit. Sasuke kenapa jahat sama Hinata? Ada dendam, atau murni karena dia pengen Hinata jadi miliknya? Karena Sasuke... apa, ya :) Jangan buat Hinata menderita lagi.Iya, ini fict terakhirku yang sad ending kok (kayaknya). Menurutku Sasuke menyukai Hinata! Hehe. Jadi pengen ngeliat Sasuke di-rape dan di-BDSM-in sama Naruto! Wkwk. Buat NaruSasu sengsara dong. Pengennya sih ada di scene Handycam 2. Sebel sama lemon-nya SasuHina. Soalnya Sasuke-nya maksa dan Hinata kayak ngga menikmati gitu. Justru aku malah suka scene yang gitu. Request lemon SasuHina romance/humor. Gomen... kayaknya aku ngga bisa menuhin sekarang. Tapi suatu saat nanti, kalau aku punya ide, aku pasti buat SasuHina romance/drama :) Semoga Sasuke, Sakura, dan Naruto mati mengenaskan. No comment deh. Kenapa Shino, Kiba dan Shikamaru yang dipakai jadi tokoh antagonis sampingan? Karena... aku ngga tau lagi mesti siapa. Kalo Love in Boarding lancar, kenapa ngga update-update. Karena fict in-progress-ku banyak yang belum selesai, jadi ngetiknya mesti keliling-keliling. Pengen ngeliat Hinata marah sama Sasuke dan Naruto. Kayaknya di sini ngga ada scene itu. Aku ngga suka kalau Hinata sama pecundang seperti Naruto. Bagiku, orang bodoh macam Naruto tidak pantas bahagia. Di fict-ku yang ini, mungkin Naruto bodoh. Tapi di animanga, Naruto bukan pecundang dan kurasa dialah tokoh yang paling pantas bahagia :) Semua orang yang ngarep SasuHina bakal bersatu di sini pada bego. SasuHina emang ngga bersatu di Handycam 1, tapi ngga ada salahnya berharap, kan? Siapa tau aku membuat mereka bersatu di Handycam 2 :) Kau membuat Hinata sebagai pelacur, dan kau membuat Naruto sebagai pengecut. Tolong ya, sekali lagi kukatakan, ini angst. Aku ngga bermaksud membuat Hinata sebagai pelacur ataupun Naruto sebagai pengecut. Kalaupun kelihatannya seperti itu, semuanya demi cerita. Author nyuruh jangan salahkan Author dan Naruto, dan salahkan Sasuke aja? Mau lari dari tanggung jawab, hah? Oke, tau arti kata bercanda? Aku sendiri udah sadar kok betapa buruknya aku membawakan cerita ini. Dan sekarang aku sudah nyesel dan ngga akan buat fict angst lagi. Dah.

.

.

I'll pleased if you enter your comment

Mind to Review?

.

.

SANSANKYU