Disclaimer:
Hetalia © Himaruya Hidekaz
Genre: Romance/Drama/Family/Friendship
Warning: OOC, OCMale!Indonesia, sho-ai, typos
Summary : Perjuangan Indonesia sebagai pekerja keras agak mata duitan karena hidup susah dan merasa bertanggung jawab untuk masa depan keluarganya, yakni sang ibu tiri Ukraina dan kedua adik tirinya, Singapura dan Taiwan, setelah meninggalnya sang ayah.
Perhatian : Cerita ini fiksi, hanya untuk hiburan belaka. Alur cerita dan penokohan di dalamnya hanya imajinasi penulis. Jika ada personifikasi yang jadi pelayan, raja, bangsawan, petani, direktur, karyawan atau bahkan sudah mati tidak ada hubungannya dengan negara aslinya.
xXx
Alternate Universe Hetalia : Indonesia Story
xXx
~Ch 6 : Prussia dan Kanada~
"Haah! Aku bosan!" teriak Prussia sambil selonjoran di kursi direktur yang kosong. Sepertinya Prussia benar-benar disuruh jaga kantor sedangkan Jerman sedang keluar. Semoga Prussia tidak menghancurkan kantor untuk mengatasi kebosanannya.
"Aha! Sebaiknya aku beli makan saja, tidak mungkin aku seharian di sini tanpa makan," Prussia bergegas menuju pintu keluar.
Tepat di meja kecil di dekat pintu keluar ia menemukan dua kotak bertuliskan 'jatah makan siang dan malam Prussia,' tak lupa di sebelahnya terdapat cemilan dan dua botol bir. Prussia lesu dan sedih, menyadari bahwa dia benar-benar dilarang keluar kantor. Jerman paham kebiasaan Prussia, sekali keluar susah pulangnya.
*tok tok tok*
Prussia membukakan pintu, "iya siapa?"
"Aku Kanada," jawab Kanada tersenyum manis.
"K-kanada? Kenapa ke sini?" Prussia senyum-senyum karena didatangi kekasihnya. Benar-benar kejutan!
"Tidak, aku hanya ingin mampir. Apa kau sibuk?"
"Tidak, sekarang malah kantor sedang libur."
"Benarkah? Tidak biasanya kantormu libur, padahal belum akhir pekan."
"Iya, pekerjaan sedang tidak banyak. Jerman sekarang sedang ada pertemuan."
Lalu Prussia mempersilahkan masuk. Masa tamu diluar terus tapi Prussia juga modus mau berduaan di kantor.
"Bagaimana pekerjaanmu di istana?"
"Lumayan, keponakanku belajar dengan tekun dan pekerjaan lain lancar-lancar saja. Tapi..."
"Tapi? Ada apa?" tanya Prussia.
"Aku sebenarnya ingin membantu persiapan pesta tapi saat bicara ke orang-orang mereka seperti tidak menganggap aku ada. Apa aku begitu tidak dapat diandalkan?" Kanada mulai curhat, tiba-tiba beruang putih di pelukannya terbangun.
"Siapa?" ucap beruang itu.
"Aku Kanada," jawab Kanada dengan mata berkaca-kaca. 'Kenapa semua orang yang ngobrol dengannya selalu diawali kata 'siapa?' pikir Kanada.
"Kanada!" ucap Prussia tiba-tiba.
"I-iya," jawab Kanada karena kaget.
"Seharusnya Kanada tidak terlalu mempermasalahkan itu. Biarkan saja mereka! Bukannya masih ada aku yang mengingatmu dan menganggap keberadaanmu?! Emm, d-dan teman atau keluargamu juga!" ucap Prussia memelan di bagian akhir dengan wajah memerah. Ruangan langsung hening seketika, Kanada masih diam membeku mendengar ucapan Prussia.
"A-aku buatkan minum dulu," Prussia langsung beranjak dari kursinya. Kanada mengangguk mengiyakan menurut saja. Prussia langsung berjalan menuju dapur, ruangan kantor yang sangat jarang dia datangi karena tempat Hungaria bekerja.
"Agak kaget tapi aku langsung lupa dengan sedihku tadi. Dia baik sekali kan, Kumakichi?" ucap Kanada pelan sambil memeluk erat beruang putihnya yang entah kapan tertidur lagi.
Sedikit bosan karena Prussia belum kembali, Kanada beranjak dari tempat duduknya.
"Gila! Beneran aku tadi ngomong begitu?! Tapi sebagai kekasih aku harus memberi dorongan padanya," ucap Prussia dengan muka yang lebih merah.
Kanada yang tak sengaja mendengar gumaman Prussia dari luar dapur hanya bisa tersenyum senang, bahwa Prussia benar-benar peduli padanya. Ia langsung kembali ke ruang tamu.
Tak lama kemudian Prussia kembali dari dapur. Wajahnya masih merah masih malu dengan kejadian tadi. Kanada yang tanggap langsung mengajak ngobrol seperti biasa.
"Kau tahu akan ada pesta sebentar lagi?" ucap Kanada kepada Prussia yang sedang menyuguhkan secangkir teh.
"Pesta? Oh, iya, pesta tahunan ulang tahun pangeran dan hari jadi sang raja dan ratu kan? Aku dengar tahun ini akan dibuat lebih meriah," jawab Prussia.
"Iya, aku bermaksud mengundangmu ke pesta itu secara langsung," ucap Kanada pelan, "aku tahu nantinya akan ada pengumuman yang disebar diseluruh penjuru kota, tapi aku ingin mengundangmu secara khusus," lanjut Kanada, wajahnya memerah, pelukannya ke beruang putihnya makin erat, dia benar-benar gugup saat mengatakan itu.
"Tentu saja," Prussia meraih tangan Kanada, lalu mengecup punggung tangannya, "aku akan datang," lanjut Prussia menatap langsung ke arah mata Kanada.
Kanada mengangguk pelan, saat ini raut wajahnya terlihat lebih bahagia. Prussia menyentuh pipi Kanada yang mulai merona, mendekat dan memberikan kecupan di kening. Kanada membalas dengan memeluknya.
~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~
"Hmm, bagaimana sebaiknya?" gumam Hungaria sambil memandangi tulisannya.
"Ini tidak benar!" teriak Hungaria di meja kerjanya.
"Kenapa masih ada yang kurang pas? Padahal tinggal ending, tidak ada ide, tidak ada inspirasi!" rupanya Hungaria sedang mengerjakan cerpen untuk majalahnya.
"Aku harus cepat! Besok harus di buat cetakannya!" Hungaria langsung meraih berkas corat-coretnya tadi lalu bergegas keluar bermaksud mencari inspirasi di luar untuk ceritanya.
"Ah, Hungaria," Hungaria langsung menoleh merasa dipanggil.
"Ayah dan Ibu. Mau kemana?" tanya Hungaria kepada orang tuanya yang sudah berpakaian lengkap untuk keluar.
"Tolong jaga toko ya, kami mau belanja."
Hungaria kaget bagai tersambar petir di siang bolong. Bagaimana nasib ceritanya yang sudah mepet deadline?
"Mm, haruskah?" kedua orang tuanya hanya menjawab dengan tatapan tajam ke Hungaria dan mengangguk. Menunjukkan bahwa tugas jaga toko tidak bisa diganggu gugat.
Hungaria segera berpikir, mungkin tak apa menunggui toko toh hanya diam, dia masih bisa mengerjakan artikelnya. Tapi saat ini dia sedang tidak ada ide cerita, mau diam sampai besok juga tak akan selesai. Hungaria masih bingung tapi mau tak mau harus menuruti orang tuanya.
"Permisi!" Suara terdengar dari depan toko. Hungaria dan kedua orang tuanya pergi melihat pelanggan yang datang. Ternyata toko mereka kedatangan tamu penting. Beliau direktur dari koran ternama ibukota, partner bisnis mereka sejak lama.
"Oh, Tuan selamat datang! Ada apa sampai datang ke sini?" tanya ayah Hungaria yang senang kedatangan si tamu penting. Sedangkan ibu Hungaria langsung menuju dapur untuk menyiapkan teh.
"Iya, ada hal yang ingin kubicarakan tentang detail pesananku kemarin," ucap si tamu lalu menoleh ke arah Hungaria , "Hungaria, kau sudah besar ya, kau jarang main ke rumah paman. Rumania jadi agak pendiam di rumah karena kau jarang main."
Iya, beliau adalah ayah Rumania, teman masa kecil Hungaria.
Hungaria hanya tertawa garing, bingung mau jawab apa, karena kesibukan dan lain-lain entah sudah sejak kapan dia menghentikan kebiasaan mainnya seperti saat masih kecil.
Lalu ayah Hungaria mempersilahkan tamunya ke ruang kerja untuk membahas pesanannya. Mungkin ada hubungannya dengan acara pesta besar yang akan diadakan dalam waktu dekat. Austria yang memberitahu Hungaria tentang acara pesta tersebut.
Melihat urusan pesanan itu akan makan waktu lama, kesempatan bagi Hungaria keluar rumah sejenak.
"Ibu, ayah masih lama kan? Aku mau keluar sebentar."
"Ok, tapi maksimal satu jam, sebelum itu kau harus sudah kembali!"
"Iya ibu," jawab Hungaria singkat langsung meraih jaket dan tasnya lalu keluar rumah lewat pintu samping. Sang ibu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap putrinya.
Baru menapakkan kaki keluar rumah, Hungaria melihat Moldova, adik Rumania yang sedang berlarian, bermain mengejar kupu-kupu.
"Moldova?"
"Kak Hungaria," Moldova berlari mendekat.
"Kau kesini dengan ayahmu saja?" Moldova menggeleng.
"Dengan kakak juga," mendengar jawaban Moldova, Hungaria langsung memintanya menunjukkan tempat Rumania menunggu ayahnya.
"Kakak!" teriak Moldova ke arah Rumania yang sudah bosan menunggui kereta.
"Moldova, jangan pergi jauh-jauh! Bagaimana kalau-" perkataannya terhenti setelah melihat sosok Hungaria yang berjalan di belakang adiknya.
"Kebetulan Rumania, aku mau minta tolong," ucap Hungaria dengan senyum manis tapi mengerikan di mata Rumania.
'Hi!' teriak Rumania dalam hati, "Yah, a-aku tidak bisa janji."
"Aku mohon," ucap Hungaria masih dengan senyum mengerikan, Rumania mau tidak mau harus menurut seperti saat masih anak-anak, karena Hungaria sangat kuat saat masih bocah.
"O-OK, akan kuusahakan," jawab Rumania.
"Sebelum aku kembali ayahmu tidak boleh pulang," ucap Hungaria.
"Bagaimana caranya?" tanya Rumania setelah mendengar permintaan aneh Hungaria.
"Pikirkan sendiri! Aku buru-buru," jawab Hungaria berlari menjauh. Rumania tidak sempat mengejar. Kasihan Rumania. Sang adik, Moldova hanya bisa mengelus-elus punggung kakaknya.
Hungaria langsung berjalan cepat menuju taman kota, dia perlu pemandangan indah atau tempat umum. Dia sedang diburu waktu sambil berharap jalan-jalannya yang dadakan bisa mendatangkan ide.
Tak lama berjalan Hungaria sudah di dekat kantor tempat kerjanya. Mungkin gara-gara kebiasaan jadi lewat jalan ini. Namun saat Hungaria melihat Kanada keluar dari gedung kantor bersama Prussia, dia reflek sembunyi. Saat ini juga idenya mengalir seperti hujan yang tiba-tiba turun membasahi otaknya yang kering akan inspirasi, dengan cekatan dia langsung mencatat ide-ide itu dalam berkasnya, sedangkan tangan satunya menahan mimisan karena dia lupa bawa tisu.
~Bersambung~
~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~
Akhirnya saya kembali, sudah sebulan (lebih) tidak update. Maaf kalo para pembaca lama nunggunya.
Hayo, ngapain itu Kanada dan Prussia berduaan? Tapi ada beruang putihnya Kanada, si Kumakichi, eemm atau Kumajiro, jadi bukan berduaan saja.
Kurang romantis? He he mungkin jika kedepannya ada scene romantis akan saya usahakan lebih dari ini. Chapter 6 ini sudah tidak bisa saya otak-atik lagi jadi begini deh hasilnya.
Mungkin Rumania OOC banget karena kurang riset. Ga sempat jadinya hasil karakternya suka-suka author.
Terimakasih yang sudah review di cerita sebelumnya :
Untuk Random person; aku juga NethIndo shiper! Berhari-hari saat masih baru di Fanfiction saya cuma mencari pair itu, jadi ingat betapa gilanya waktu itu^^, sekarang juga masih;
Lalu untuk m93; terimakasih sarannya! Baru baca sinopsisnya tapi dalam waktu dekat pasti saya nonton movie nya, biar dapat inspirasi.
Meskipun tidak menjanjikan update cepat tapi ternyata sulit untuk update sesuai jadwal, padahal kerangka cerita sudah ada tapi mood nulis tiba-tiba hilang, membuat saya lupa mau dibawa ke mana, eits... maksudnya suasana dalam cerita atau cara penjelasan yang dipakai mau ceria dengan sedikit humor atau suram dan sebagainya.
Ditambah lagi otak saya penuh dengan cerita-cerita tambahan agar beberapa potongan cerita bisa saling nyambung, membuat saya harus merombak chapter lanjutan yang sudah selesai atau bahkan menambah chapter lagi. Huff! Takut chapternya nanti terlalu banyak T^T
Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa reviewnya^^
Sampai bertemu di cerita selanjutnya^^
