- Denial -

Jung Hoseok x Kim Taehyung

And other cast

Warning! It's Boyslove, Boy x Boy!

HopeV!

...

::Chapter 6

-Denial-

Taehyung berjalan sendirian dikoridor sekolah. Taehyung berjalan sambil menunduk mengamati sepatunya yang entah mengapa menjadi lebih menarik daripada pemandangan teman – temannya yang berlalu lalang didepannya. Taehyung berpikir bahwa tidak ada yang peduli padanya –atau sebenarnya banyak, hanya saja Taehyung terlalu malas berurusan dengan mereka.

Tapi tunggu, bukan itu yang sedang menganggu pikiran Taehyung. Objek sebenarnya adalah seorang Jung Hoseok. Taehyung masih tidak habis pikir, bagaimana dengan mudahnya Hoseok berbicara seperti itu padanya. Apa katanya ?

"atas dasar cinta, Kim Taehyung. Dan aku yakin kau tidak akan cepat melupakan ucapanmu semalam" Kalimat itu terus saja berputar dikepala Taehyung seperti biang lala di taman bermain –bikin pusing.

Taehyung masuk kedalam kelasnya dan disambut dengan suara berisik dari kedua teman seperpopokannya, siapa lagi, Jungkook dan Jimin.

"Hei, Tae.. kau ini kenapa ? pagi – pagi sudah seperti baju baru diangkat dari jemuran, kusut sekali" Jimin menggeser bangku yang didudukinya kesamping Taehyung.

"Hei bocah... Tidak tahu ya kalau tuan muda Taehyung ini sedang gundah gulana, sudah jangan tanya macam – macam.. Tapi omong – omong Tae, aku juga penasaran sih.. Heh.. kenapa memukulku, dasar bocah sinting" Jungkook yang duduk diatas meja didepan Jimin memekik ketika Jimin memukulnya dengan gulungan buku.

Taehyung tidak menjawab pertanyaan teman – temannya dan lebih memilih menjatuhkan kepalanya keatas meja.

"Taehyung, pleaseee..." ini Jimin yang berbicara.

"Aku tidak tahu, hanya bingung. Dan aku tidak tahu apa yang membuatku bingung" ujar Taehyung pelan. Sebenarnya, BOHONG. Taehyung tidak sepenuhnya bingung tentang apa yang dipikirkannya. Taehyung hanya merasa, otaknya sedikit bermasalah.

"kau ini seperti orang yang sedang patah hati saja, Tae. Lesu lelah letih.. Jangan begitu, cerita saja pada kami, siapa tahu kami bisa membantumu.. Meskipun aku sendiri tidak yakin kalau itu akan berhasil.. Aduuh Jungkook.." sekarang Jungkook yang memukul Jimin, karena ucapan Jimin itu Taehyung jadi semakin menenggelamkan kepalanya diantara lengan – lengannya.

"Bangunkan aku jika bel istirahat pertama berbunyi, aku butuh tidur" Taehyung memejamkan matanya, mencoba mengalihkan pikirannya dan tidur.

-Denial-

-Kim Taehyung

"Taehyung, bangun. Mau ikut ke kantin tidak ? sudah waktunya jam makan siang" suara Jungkook membangunkanku. Ugh.. punggungku pegal.. tidur dengan posisi seperti ini ternyata tidak menyenangkan. Omong – omong ini sudah jam makan siang, ya ? eh ? jadi istirahat pertama sudah lewat ? dan aku benar – benar tidur ? Sialan, mereka tidak membangunkanku.

"Hey, Tae. Ikut tidak ?" aku mengucek mataku pelan lalu berdiri dari tempat dudukku.

"Kalian kenapa tidak membangunkanku saat jam istirahat pertama ? Hell, ini sudah waktunya makan siang, pantas saja punggungku rasanya.. ugh" gumamku pelan sembari meregangkan otot punggungku.

"Siapa bilang kami tidak membangunkanmu ? kau saja yang tidur seperti orang mati. Kau ini kenapa, sejak pagi sudah aneh, eh tapi kalau dipikir – pikir lagi, kau memang selalu aneh, sih" aku melotot mendengar ucapan Jimin, kemudian aku menendang tulang keringnya dan dia mengaduh sakit. Rasakan!

"Yaa! Kenapa menendangku, sih ?"

"Anggap saja sebagai tanda terimakasihku, Jimin" aku melenggang pergi dan menarik lengan Jungkook menuju kantin dan Jimin segera berlari menyusulku dan Jungkook.

Jungkook dan Jimin mengoceh sepanjang koridor dan aku tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Sial, tiba – tiba aku teringat lagi tentang omongan Hoseok kemarin. ggaahhh.. kenapa lagi – lagi aku ingat itu sih ? memangnya apa pentingnya jika dia bicara seperti itu padaku ? lagipula siapa yang peduli ? aku tidak ped– baik, aku memang sedikit peduli dan itu benar – benar menganggu. Bisa tidak kata – kata itu hilang dari pikiranku, aku tidak mau uring – uringan seperti ini. Memangnya dia siapa berani menganggu pikiranku ? Ggaahh.. ini semua gara – gara Hani noona yang mendadak ikut Ibu dan melupakan tanggung jawabnya untuk mengurusku, Hani noona sia–

"TAEHYUNG AWAS?!"

BANG!

–lan. Belum sempat aku selesai mengumpati kakak perempuanku, aku sudah duduk terjatuh kebelakang dan dahiku sudah berdenyut nyeri karena berciuman dengan tiang sialan didepanku. Sekarang aku percaya, bahwa mengumpati saudara sendiri, terlebih lagi itu kakakmu, itu adalah dosa besar.

"Ugh.. kepalaku.." aku memegangi kepalaku yang berdenyut nyeri. Sialan, siapa yang berani – beraninya meletakkan tiang sialan itu disini ? dan sialnya anak – anak lain yang tidak sengaja berada disekitarku mulai tertawa dan berbisik – bisik didepanku. Heh, aku masih bisa mendengar kalian, dasar sialan.

"Kau tidak apa – apa Tae ?" Jungkook dan Jimin membantuku berdiri.

"Siapa yang berani meletakkan tiang sialan itu disini ? tidak tahu ya kalau ini koridor ?" kesalku.

"Ehmm.. Taehyung ? kau salah jalan, harusnya kau berbelok kekanan, untung saja kau tidak masuk keselokan itu.. pffftt" sialan, Jimin sekarang ikut – ikutan menertawaiku. Aku melihat sekelilingku dan benar, ugh... sial! Aku bergegas pergi menuju kantin dan tidak menghiraukan tawa Jungkook dan Jimin yang membuatku semakin sebal.

"Tae.. sebenarnya, kau ini kenapa ?"

'benar, Jungkook.. Aku ini kenapa ? aku sendiri tidak tahu' batinku.

"Taehyung, kau baik – baik saja ?" aku masih tidak menjawab pertanyaan mereka.

'tidak.. aku tidak baik – baik saja, apa kalian buta ? hah' batinku lagi.

"Serius Tae, kalau kau tidak mau bicara lebih baik kau kembali kekelas dan cari nyawamu, siapa tahu nyawamu masih tertinggal dikelas" aku mendengus sebal mendengar Jungkook yang asal bicara.

"Arrghh.. Hoseok Sialan !" teriakku kesal. Jungkook dan Jimin saling pandang sambil mengerutkan dahinya dan tiba – tiba tersenyum jahil kearahku. Eh ? memangnya aku tadi bicara apa ?

"Oh.. jadi itu yang membuatmu aneh sejak pagi, Kim Taehyung ?"

"A-apa ? tidak... Memangnya aku b-bicara apa ?" sialan, tatapan mesum Jimin itu membuatku jijik.

"Well, sekarang aku tahu kenapa kau menolak mentah – mentah perasaan Irene padamu"

"huh ?" aku mengerutkan dahiku.

"Kalau kau sudah tidak suka dada wanita, bilang saja Tae. Kami juga sudah tidak terlalu berminat dengan dada besar dan montok.. aduuhh!" aku melempar Jimin dengan sekotak jus yang masih belum kubuka.

"Jadi tuan muda yang dingin ini sedang jatuh cinta ? aduuhh.. manisnya" Jungkook menatapku dengan mata berbinar, dan serius, saat ini juga aku ingin melemparkan mereka berdua kedalam dasar neraka.

"pergi saja ke neraka, dasar manusia – manusia mesum" kesalku.

"Sudah, tidak usah malu – malu seperti itu, kami tahu kok, jadi tidak per– eh.. Taehyung aku hanya bercanda" Jimin menarik lenganku ketika aku hendak berdiri dan pergi dari hadapan makhluk – makhluk menyebalkan ini.

"Baiklah, sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas i– baik, kita tidak akan membahas hal itu, sama sekali?!" ujar Jimin ketika aku menatapnya dengan tatapan membunuh.

.

.

Aku masih mengusap dahiku yang memerah akibat berciuman dengan tiang saat akan menuju kekantin. Hari ini aku benar – benar kacau. Aku tidur sampai jam makan siang, terantuk tiang, hingga terkena omelan Mrs. Jenny saat pelajaran matematika. Benar – benar menyebalkan.

Aku berhenti tepat didepan gerbang sekolah ketika melihat mobil hitam metalik sudah terparkir tenang didepan sekolah. Aku menarik syalku hingga menutupi hidung dan berjalan ikut bergerombol dengan entah anak kelas berapa aku tidak tahu. Yang pasti aku harus menghindari orang itu.

"Taehyung, aku disini. Kau salah jalan" Sial ! kenapa dia tahu ? aku kan sudah menyamar.

"Kim Taehyung" teriaknya lagi dan aku menghentikan langkah kakiku. Aku mendengus pasrah dan berjalan kearah mobil hitam metalik itu.

"Jangan meragukan mata editor, Taehyung" Hoseok mengusap kepalaku dan tidak sengaja dia menyentuh bagian kepalaku yang masih terasa sakit akibat terantuk tiang hingga aku meringis pelan.

"Eh ? ini kenapa ? kau tidak apa – apa ?" tanyanya ketika menyibak poniku dan menekan bekas memerah didahiku. Sialan! Memang, karena ulah siapa aku jadi seperti ini ?

"Arg.. jangan disentuh bodoh, dan aku tidak apa – apa" jawabku sambil menepis tangannya.

"ada yang melukaimu ?"

"tidak"

"lalu ?"

"aku bilang aku tidak apa – apa?!" kesalku sambil berjalan masuk kedalam mobil dan membanting pintu mobil. Pasti dia akan menertawaiku jika aku bicara mengenai aku yang terantuk tiang karena kepikiran dengan ucapa– karena aku baru bangun tidur. Ya, aku terantuk tiang karena aku baru bangun tidur.

-Denial-

-Jung Hoseok

"Jadi siapa dia ?" suara dari seberang telepon membuyarkan lamunanku.

"Siapa bagaimana ? kan sudah kubilang, dia itu anaknya Mrs. Kim, bosku diperusahaan tempatku bekerja" aku mendengus pelan.

"Hoseok ?"

"kau ini kenapa sih hyung? tidak percaya padaku ?" sekarang giliran terdengar orang menghela nafas dari telepon.

"jadi kenapa dia bisa bersamamu kalau dia itu anaknya bosmu ?"

"Bosku meminta tolong padaku untuk menjaganya selama bosku ada di Paris"

"Heh, yang benar saja, memang kau ini babysitter ?"

"Memangnya kenapa ? aku juga tidak keberatan lagi pula aku juga menyukai–" kalimatku terputus saat aku menyadari apa yang hampir saja kukatakan.

"Kau apa ?" tanyanya kaget.

"Menyukai pekerjaan tambahan ini, lagi pula dengan ini aku juga mendapat cuti panjang plus gaji tambahan"

"Jung Hoseok ?" suara kakakku –Yoongi terdengar begitu dingin. Aku tahu, dia menuntut kejelasan dariku.

"Aku menyukainya.."

"Hoseok.. kau!"

"Kan sudah kubilang, hyung. Aku tidak suka dengan wanita itu, dia itu wanita yang–"

Tuutt.. ttuut... tuut

Sialan.. aku belum selesai bicara sudah main tutup telepon seenaknya. Omong – omong yang menelpon tadi, itu kakakku, Jung Yoongi. Aku tidak habis pikir, wanita itu pasti bicara macam – macam pada Yoongi hyung. Mana mungkin Yoongi hyung tahu jika dia sekarang berada di Belanda ? yang benar saja. Aku melempar ponselku keatas meja kayu CoffeeSmith tempatku menunggu Namjoon. Ah, sial! Kemana si Namjoon, dia yang menghubungiku dan mengajakku bertemu di CoffeeSmith tapi bocah itu yang tidak datang. Awas saja nanti.

"Hoi Hoseok. Lama menunggu ?" aku mendengus sebal mendengar suara Namjoon.

"Baru saja aku ingin pulang" ketusku.

"Hey.. santai saja dude. Kau tahu aku ini orang sibuk, jadi banyak urusan yang harus kuselesaikan dulu"

"Orang sibuk kepalamu, jika mengurusi taruhan itu termasuk sibuk maka kau benar – benar harus dijebloskan kepenjara, Namjoon"

"Manusia cerdas sepertiku tidak akan pernah menginjakkan kaki dilantai kantor polisi, asal kau tahu"

"Yaa yaa.. terserah, sekarang cepat katakan, apa yang ingin kau bicarakan ?" Aku menyeruput kopi panas yang sudah lama kupesan dan menatap tidak minat pada Namjoon.

"ini tentang pacarmu" aku mengerutkan alisku bingung. Pacar ? siapa ? aku tidak punya pacar.

"Maksudmu ?"

"ck.. kau ini pura – pura bodoh ya ? semoga tuhan mengabulkan dan menjadikanmu benar – benar bodoh." Aku melotot ketika mendengar Namjoon semakin ngawur berbicara.

"Serius, jangan membuatku semakin kesal. Sudah cukup Yoongi hyung saja yang membuatku ingin membanting vas bunga kelantai, jadi kau jangan ikut – ikutan membuatku ingin melemparmu ke Antartika."

"Wooho.. Hari ini kau tidak seperti Jung Hoseok yang selalu tenang, ya ? ada apa ?"

"Namjoon !"

"Oke – oke.. Ini tentang Kim Nana"

Aku mendengus sebal ketika mendengar nama itu disebut, dan Hei! Dia itu bukan pacarku. Enak saja bilang wanita kurang kerjaan itu pacarku.

Setelah Namjoon mengoceh panjang lebar yang tidak jelas arahnya, aku hanya bisa mengaris bawahi kalimat terakhir yang paling membuatku marah. 'Kim Nana menemui Ibu untuk mempercepat tanggal pernikahannya'

BRAKK!

Aku memukul meja kayu didepanku dan membuat orang – orang yang berada didalam CoffeeSmith menatap heran kearahku. Siapa peduli.

"Woow, Hoseok. Santai dulu, aku tahu kau tidak mau menikah dengan wanita yang kau sebut brengsek itu, well sebenarnya aku agak kesal karena kau menyebut sepupuku brengsek, tapi aku juga setuju karena dia memang benar – benar brengsek. Kita bisa menyusun rencana untuk membatalkan semuanya." Ujar Namjoon.

"Namjoon.. Kau tahu aku bukan tipikal pria yang suka dengan adegan - adegan perjodohan menjijikkan dan sementara kau paham dengan sifat Ibuku yang keras kepala. Jadi aku ingin minta bantuanmu, kau urusi Kim Nana dan aku akan bicara pada Ibu" Namjoon mengangguk dan aku memijit pelipisku yang tiba – tiba terasa pening. Sialan, wanita itu membuat hari cutiku –yang seharusnya kugunakan untuk melunakkan Taehyung jadi berantakan.

Aku melirik jam tanganku kemudian beranjak dari tempat dudukku. Taehyung pulang sekolah sekitar setengah jam lagi dan aku harus bergegas menjemputnya. Bagaimanapun Taehyung adalah prioritasku sekarang.

"Namjoon, aku harus menjemput Taehyung, kita bertemu lagi nanti. Kesabaranku sudah habis karena tingkah sepupumu yang menyebalkan itu. Untung aku masih ingat dia sepupumu. Bye" Namjoon hanya mengangguk dan ikut beranjak berdiri.

"Aku juga harus pergi, ada beberapa urusan yang belum selesai kutangani"

GAAAHH! Bocah ini, taruhan saja dikata urusan penting. Penting dari sisi mananya ? penting dari hongkong ?!

.

.

Aku sudah tiba didepan gedung sekolah Taehyung. Beberapa siswa barusaja membuka gerbang untuk pulang kerumah dan aku berdiri bersandar kemobil sambil menunggu Taehyung keluar. Mataku terpaku ketika mendapati seorang bocah kurus berambut coklat tua yang berjalan dengan gerombolan anak laki – laki keluar dari gerbang sekolah. Itu Taehyung.

"Taehyung, aku disini. Kau salah jalan" teriakku saat kulihat Taehyung berjalan kearah yang berlawanan dengan arah apartemen maupun rumahnya.

"Kim Taehyung" panggilku sekali lagi dan dia berhenti kemudian berbalik berjalan menuju kearahku, huh, dia pasti menghindariku. Dia tidak bisa menghindar dariku, harusnya dia sadar itu.

"Jangan meragukan mata editor, Taehyung" aku mengusap puncak kepalanya pelan tapi tiba – tiba Taehyung meringis pelan. Aku mengerutkan dahiku, lalu menyibak poni halusnya yang menutupi dahi. Aku terkejut ketika melihat memar merah didahinya, dia terluka.

Taehyung menepis tanganku dan bersikeras mengatakan bahwa dia tidak apa – apa. Hah! Dasar tuan muda bodoh, anak kecilpun tahu kalau dia itu terluka.

"aku bilang aku tidak apa – apa?!" Taehyung berteriak kesal dan membanting pintu mobil. Seketika aku tersenyum samar. Jadi dia sudah tidak menolak untuk kuantar jemput dan satu mobil denganku. Ugh.. tingkahnya menggemaskan sekali. Tidak salah jika aku benar – benar jatuh cinta pada bocah itu.

Aku masih fokus mengemudi dan Taehyung juga tidak berbicara sepatah katapun. Wajahnya tertekuk kesal, dan dahinya mengerut berkali – kali.

"Kulitmu akan cepat keriput jika terus menerus mengerutkan dahimu seperti itu, berhenti melakukan hal itu" Taehyung tidak menjawab kemudian beralih menatap keluar jendela mobil, menumpu dagunya dengan lengan dan menempelkan sisi keningnya pada kaca mobil.

Sepertinya percuma berbicara dengan bocah keras kepala ini, jadi biarkan saja dia memulai proses pengeriputan kulit wajahnya. Tenang, aku tidak akan pindah kehati yang lain, kok, tuan muda.

Aku melihat restoran Jepang didekat kompleks apartemen masih buka jadi aku memarkirkan mobil dan mengajak Taehyung untuk turun. Bukannya modus atau apa, tapi hari ini aku benar – benar malas untuk memasak karena suatu hal, jadi aku memutuskan untuk makan direstoran Jepang ini.

"Kenapa berhenti disini ?" Oh, masih bisa berbicara ternyata, kukira Taehyung sedang hemat suara.

"Kita akan makan disini, Taehyung."

"Aku tidak mau, makan saja sendiri." aku mendengus pelan mendengar Taehyung.

"Kau harus ikut, karena hari ini aku sedang tidak dalam keadaan mood yang baik untuk memasak" ujarku pelan.

"Memangnya siapa yang menyuruhmu memasak ? itu kemauanmu sendiri, kan ?"

"Tae.." panggilku pelan. Duh, ya Tuhan. Beri Jung Hoseok yang baik hati ini kesabaran lebih.

"Tae aku lapar, dan jangan membuatku semakin lapar" Taehyung menatapku dengan tatapan dinginnya. Aku menghela nafas pelan. Sudah berapa kali hari ini aku menghela nafas seperti orang yang tidak punya harapan hidup ? lebih dari dua puluh kali, asal kalian tahu!

"Aku tidak ma–" aku mencium bibir Taehyung sebelum dia benar – benar mengeluarkan protesnya dan membuatku semakin gemas padanya. Taehyung hanya diam dan matanya yang sipit membulat lucu.

Taehyung memukul kepalaku keras ketika aku mengigit bibir bawahnya dan menerobos menyapa lidahnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN, DASAR MESUM?!" teriaknya. Aku mendengus pelan –lagi lagi.

"Aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini kepadamu jika kau benar – benar tidak bisa diajak kompromi, Tae. Aku lapar dan aku sebisa mungkin menghindari perdebatan denganmu karena hari ini aku sedikit kacau." Ujarku pelan sambil memijat pelipisku pelan.

Beberapa detik kemudian aku terkejut karena mendengar pintu mobil dibanting keras, kulihat Taehyung sudah berjalan dan masuk lebih dulu kedalam restoran. Aku masih mengamatinya dari dalam mobil, beberapa saat kemudian Taehyung kembali berdiri diambang pintu sambil menatap tajam kearahku seolah berkata 'cepat kemari sebelum aku berubah pikiran'.

Aku tersenyum dan mengangkat ibu jariku kearah Taehyung, kemudian bergegas turun dari mobil menyusul Taehyung.

"Jadi aku harus menciummu dulu supaya kau bisa menurut padaku, Tae ? Baiklah, aku akan dengan senang hati melakukannya. Kupastikan kurang dari sepuluh hari ini kau akan jadi milikku, Kim Taehyung" gumamku pelan.

"Jika tidak ada lalat penganggu yang ingin merusak usahaku, sih"

-To Be Continue-

:: a/n

Haloohaa.. chapter 6 datang dengan selamat. Gimana gimana ? membosankan ya ? maapkeun karena otak sikki lagi macet heuhue.. as always, sikki mau berterimakasih kepada kalian semua yang udah sempet baca, review, fav dan follow.. Sikki cinta kalian.. hihi.. review lagi dong, biar sikki semangat ngetik lagii.. udah super fast update masa sikki ga dikasih bonus review /apa..

Btw, curcol dikit.. itu yang bagian om hoseok bilang 'jangan ragukan mata editor' itu sikki keinget sama quote editor senior sikki pas sikki masih kerja distudio dulu.. Gatau kenapa tiba – tiba inget gitu aja sih :v jadi kebablasan di tulis.. kkk... oiyaa.. kutunggu masukan dari kalian, harus gimana selanjutnya Tae ke Hoseok...

Oki doki... sampai jumpa next chapter yaaaaa... phaiphai