Kesunyian kini sedang melanda sebuah kamar yang di dalamnya terdapat tiga sosok yang salah satunya memiliki perwujudan spesies lain. Ketiga sosok itu kini saling duduk berdampingan-dampingan di pinggiran kasur, dan salah satunya kini sedang memeluk erat lengan dari satu-satunya makhluk bergender laki-laki di sana.

"Gabriel, kau masih belum menjawab pertanyaanku."

Sosok yang diseru terlihat tidak peduli, dan terus saja tersenyum. "Lalu?"

Azriel terdiam. Kemudian dia alihkan tatapannya ke arah kanan, dimana di samping kanannya ada Grayfia yang ternyata juga balas menatapnya. Kedua makhluk itu saling tatap sejenak, sebelum pada akhirnya Grayfia mengangkat kedua bahunya, membuat Azriel menghela nafas.

"Oh, benar juga, aku belum sempat memberi jitakan."

Tepat setelah mendengar hal itu, cepat-cepat Gabriel melepaskan pagutannya pada lengan kiri Azriel. Gadis malaikat itu segera menyeret tubuhnya ke ujung ranjang, tempat kini dimana dia meringkuk dan memasang wajah penuh ketakutan.

Saat Azriel menoleh ke arah gadis itu, dia melihat kalau saat ini Gabriel sedang mendekap tubuhnya sendiri, seperti seorang gadis yang ingin diperkosa.

"J-Jangan, Onii-sama."

Azriel terdiam. Entah kenapa ia merasa kalau dirinya seperti menjadi penjahat di sini, hei dia ini malaikat, makhluk suci yang bernaung di Surga. Lalu kenapa dia kini diperlakukan seperti om-om pedopil? Setua itukah dia?

Saat Azriel mengalikan pandangannya ke arah Grayfia, wanita iblis itu membuang mukanya ke arah lain sembari mengedikkan bahu.

[Second Life: Azriel]

Disclaime: I don't own anything

Warning: Just Spin-off, Just Fiction (not real), not for education, Short Fic, Violence, OC (Main Chara).

Summary: Membahas tentang kehidupan satu-satunya Malaikat yang paling disegani di Surga. Sejarah dimana ia memulai perjalanan dari awal ia membuka mata dan menghembuskan nafas, sampai ia hidup untuk sekarang ini.

Azriel Present

[...]

(Arc I: Civil War of Three Faction)

"Gabriel, perkenalkan ini adalah klienku, namanya adalah Grayfia."

Dengan wajah sedikit tertekuk, Gabriel menjabat tangan Grayfia dengan setengah hati. Namun wanita iblis dengan rambut keperakan itu tetap memasang wajah khas boneka miliknya, membuat sebuah urat kecil mencuat di pelipis Gabriel.

"Salam kenal, Grayfia-san."

"Mohon bantuannya, Gabriel-sama."

Kedua makhluk berbeda spesies yang memiliki gender sama itu terus saja menjabat tangan, sampai-sampai aura kehitaman menguar di sekeliling tubuh Gabriel. Namun aura negatif itu segera pudar saat sebuah bogeman tangan mendarat tepat di puncak kepala gadis malaikat itu, Gabriel pun meringis, ia gosok-gosokkan telapak tangannya pada daerah kepalanya yang kini terdapat benjolan.

Gabriel mengalihkan perhatiannya ke arah sang pemilik tangan, yang dimana tidak terdapat sebuah ekspresi di wajahnya. "Onii-sama, kenapa kau menjitakku sih?" wajah Gabriel kini memelas, memberi tanda agar malaikat yang ia panggil dengan sebutan 'Onii-sama' itu memberi perhatian.

Namun, apa yang didapat gadis itu malah wajah yang masih tak memiliki sebuah ekspresi. "Apa kau tak ingin menjadi malaikat lagi setelah banyak mengeluarkan aura negatif seperti itu? Jika iya, itu terserah padamu."

Gabriel langsung memanyunkan bibirnya sembari membuang muka, membuat Azriel hanya bisa menghela nafas.

Malaikat yang memiliki julukan Tangan Kiri Tuhan itu kemudian duduk di pinggiran kasur, menatap kedua makhluk yang memiliki gender berbeda darinya dengan sorot mata yang menajam. "Jadi, apa kau ada perlu sampai kaudatang ke sini, Gabriel?"

Gabriel menggeleng. "Aku hanya disuruh oleh Michael-niisama untuk menyampaikan permohonan kepadamu, apakah Onii-sama memang tidak berniat untuk ikut terjun ke dalam pertempuran nanti?"

Kedua sepasang mata yang berbeda warna irisnya tersebut terus saling melempar sorotan, sampai pada akhirnya iris merah Azriel tertutupi oleh kelopak matanya. "Sudah kubilang, jika Tuhan tidak menyuruhku untuk ikut, maka aku tidak akan ikut." Malaikat dengan gender laki-laki itu menghela nafas pelan, kemudian dia melanjutkan. "Perlu kau ketahui, memusnahkan kedua ras itu adalah perkara mudah, namun menilik semua itu, aku adalah satu-satunya makhluk yang harus memikirkan bagaimana cara menjaga keseimbangan dunia ini."

Mendengar jawaban itu, Gabriel harus dipaksa untuk membuang jauh-jauh wajah seriusnya yang kini sudah digantikan dengan senyuman yang teramat manis. "Baiklah, jika Onii-sama sudah berkata seperti itu, apa boleh buat? Namun selepas itu..." senyuman manis itu kini berubah menjadi sebuah seringaian, "...Aku sangat merindukanmu, Onii-sama!" gadis malaikat itu tiba-tiba saja merentangkan kedua tangannya dan berniat meloncat ke arah Azriel, sembari memanyunkan bibirnya meminta cium.

Namun bibir manyun itu berhenti memotong jarak ketika sebuah telapak tangan kini meraup wajah sang pemilik, membuat Azriel yang kini sudah membuka kedua matanya mendengus.

"Anu, Azriel-sama, bolehkah saya menanyakan sesuatu?" mendapatkan sebuah anggukan sebagai jawaban, Grayfia melanjutkan. "Apakah Anda benar-benar pergi ke Meikai kemarin? Jika iya, bagaimana keadaan Sirzechs-sama?"

Sebelum menjawab, Azriel terlebih dahulu melepaskan cengkraman tangannya pada wajah Gabriel, dan membuat gadis malaikat itu menarik nafas dalam-dalam seperti orang yang kena asma.

"Sejujurnya, keadaannya sangat buruk, andai aku tidak datang dia pasti sudah terus berteriak karena menerima siksaan."

Mata Grayfia terbelalak, "Lalu, bagaimana sekarang?!"

Satu tangan Azriel letakkan pada bahu Grayfia, "Tenanglah, kini dia sudah bisa melanjutkan rencana yang sudah ia susun."

[...]

-Underworld-

Seorang prajurit dengan sebuah tombak besi di tangannya mendekati salah satu prajurit lain yang berdiri tepat di samping sebuah pintu masuk.

"Giliranmu istirahat." Ujar prajurit yang baru datang tersebut, dan dia mendapatkan sebuah seringaian sebagai tanggapan.

"Kau pasti akan terus tersenyum ketika mendengar teriakan nista dari penghianat itu." Prajurit yang tadi berjaga itupun pergi, tak menyadari bahwa prajurit yang menggantikannya sedang tersenyum di balik helm besinya.

Prajurit yang kini sedang berjaga itu sebenarnya adalah Sirzechs, dengan gaya rambut, warna rambut, dan warna iris mata yang baru. Dengan ilusi yang dibuat oleh Azriel pada wajahnya, dia tidak sedikitpun dicurigai sebagai prajurit, dan dia bisa dengan perlahan menjalankan operasi melengserkan jajaran Maou yang saat ini menduduki singgah sana raja.

Arrgh~!

Lolongan dari ruang penyiksaan ia dengar, dan atas bodohnya ketidaktahuan para penjagal itu membuat Sirzechs tersenyum. Sungguh, dirinya benar-benar terhibur sekarang, melihat bagaimana tidak becusnya para bawahan Maou yang bahkan tidak menyadari kalau yang mereka siksa merupakan sebuah replika yang terbuat dari sebuah teknik.

Sekeras apapun kau menyiksanya, sehebat apapun kau membunuhnya, tetap saja itu adalah raga tanpa nyawa, yang bisa terus berteriak, melolong, dan juga berdarah-darah, namun tidak akan pernah bisa menghilang selama orang yang membuat tidak berkehendak demikian.

Jujur saja, jika Sirzechs yang berada di sisi mereka, mungkin saja kebodohan dan ketidaktahuan yang mereka alami juga menimpanya. Bagaimana tidak, dari semua sudut raga, aura kehidupan, serta aura yang menandakan kalau dirinya adalah ras iblis, semuanya dengan sempurna dicopy dalam satu kedipan mata. Membuat dirinya yang sebenarnya menjadi seorang buronan, kini bebas berkeliaran seperti anjing liar, yang perlahan-lahan akan menjatuhkan singa yang kini menduduki puncak rantai makanan.

Arrgh~!

Teriakan itu kembali terdengar.

Dan senyuman Sirzehcs kian melebar.

[...]

"...Jadi, seperti itulah. Kini Sirzechs sedang bersenang-senang di dalam sebuah kerajaan, sambil menikmati bagaimana indahnya suara lolongan kloning yang kubuat."

Grayfia hanya bisa terperangah mendengar penjelasan santai dari malaikat yang paling menakjubkan yang baru ia temui ini.

"Onii-sama, bisakah kaubuatkan aku sebuah kloningan dari dirimu?" Gabriel kemudian memeluk tubuhnya sendiri, bertujuan untuk mengungkapkan apa yang kini berada di benaknya. "Supaya aku bisa memelukmu selamanya."

Andai Azriel tidak mengenal Gabriel sejak lama, dia pasti sudah mengira kalau gadis malaikat itu memang sudah benar-benar gila. Azriel menghela nafas, entah sudah yang berapa kali hari ini. "Gabriel, kau harus segera kembali ke Surga. Kau harus ikut membantu mempersiapkan apapun yang kurang di sana, jika kau terlalu lama pergi Michael pasti mengkhawatirkanmu."

...

Di sisi lain, Michael bisa menghembuskan nafas lega. "Ahh, untung Gabriel pergi, jadi aku bisa mempersiapkan apapun dengan lebih cepat."

...

Azriel melirik ke arah lain, '...Tapi firasatku mengatakan kalau Michael tidak membutuhkan Gabriel di sana.'

"Baiklah, kalau begitu." Gabriel tersenyum. "Aku akan pulang, sampai jumpa lagi, Onii-sama."

[...]

Dalam keheningan kamar ini, Grayfia bahkan tak bisa membuka suaranya saat melihat keadaan malaikat yang kini duduk di sebelahnya. Wanita iblis itu bahkan tak bisa menggambarkan apa yang dirasakan malaikat yang memiliki julukan Tangan Kiri Tuhan tersebut sekarang, di setiap sudut sorot matanya kini hanya ada sebuah kekelaman dan kekosongan, tak sedikitpun menggambarkan kalau dirinya adalah seorang malaikat.

Perang Besar telah terjadi beberapa jam yang lalu, kegugupan Grayfia akan keselamatan kekasihnya menjadi sebuah taruhan. Namun semua itu musnah ketika sebuah konversi sihir komunikasi tiba-tiba saja muncul pada salah satu telinga malaikat yang menunggu kabar selesainya perang tersebut, memberikan sebuah berita yang bahkan bisa menggoyahkan hati dingin malaikat yang paling disegani di Surga, berita yang bahkan merubah ekspresi datar nan dingin yang kini menjadi lebih kelam.

"Onii-sama! Tuhan telah..."

Bahkan Grayfia masih dapat mendengar kalimat itu dalam kepalanya, terngiang-ngiang bagai trauma paling menyakitkan yang kini sudah membekas dalam hatinya. Grayfia dapat melihat tubuh yang mengeras saat berita itu baru saja sampai, ia tahu kalau Azriel juga pasti merasakan shock yang bahkan bisa mengguncang setiap inci relung hatinya.

Kini malaikat itu sedang terpaku, berdiam diri sambil menatap kosong salah satu sudut dinding yang bahkan tak berhiaskan apa-apa. "Grayfia... tolong katakan kalau semua ini bukanlah mimpi."

Grayfia membuka mulutnya, berniat untuk menjawab. Namun semua itu ia hentikan tatkala dirinya melihat kalau kedua mata merah malaikat di sampingnya ini sudah bercucuran air mata. Grayfia mengerti betul bagaimana rasa sakit hati jika ditinggalkan seseorang yang berharga, dan kehilangan Tuhan ini sama seperti kehilangan sosok Ayah bagi malaikat dengan nama Azriel ini.

Namun ia tidak bisa menyangkal sebuah kenyataan, semuanya sudah terlanjur, semuanya sudah terjadi. "Semua ini... bukanlah sebuah mimpi."

Dan pada detik itu juga, Grayfia harus dibuat meringis ketika tubuhnya terpental dengan keras dan menghantam dinding di bawah jendela.

"HAAAAHH...!"

Dengan takut Grayfia melihat kalau sosok Azriel yang kini mencengkram rambut dengan kedua tangannya dengan sangat hebat, malaikat itu terus berteriak dan terus meledakkan energi suci yang membuat nafasnya kini tercekat. Namun selepas itu, Grayfia merasakan kesedihan yang amat sangat saat melihat bagaimana raut wajah malaikat yang sudah beberapa hari menjadi penjaganya. Ini adalah pertama kalinya dia melihat bahwa sekuat apapun, sehebat apapun malaikat yang bahkan jarang sekali menunjukkan ekspresinya itu, hatinya tetaplah suci, seperti hati malaikat lain.

Rapuh dan mudah sekali hancur.

Jujur saja, Grayfia masih lebih suka melihat wajah tampan itu menjadi datar daripada seperti sekarang. Dan biarpun kini kulitnya terasa seperti terbakar, dia masih tetap nekat meraup kepala tertunduk itu dalam dekapan hangat tubuhnya.

Grayfia bisa sedikit tersenyum ketika apa yang ia lakukan meraup sebuah hasil dimana kini getaran di tubuh malaikat yang sudah berkenan menjadi penjaganya itu kian berkurang. Mereka tetap mempertahankan posisi itu selama kurang dari dua menit, ketika pada akhirnya kepala Azriel bergerak dan dengan reflek Grayfia melepaskannya.

Mereka berdua terdiam dan saling tatap, sebelum akhirnya tubuh Grayfia mengeras saat bibir milik Azriel menyentuh keningnya yang tertutupi oleh poni.

"Terima kasih."

Grayfia hanya bisa terpaku di tempat untuk memproses apa yang baru saja ia timpa, tak menghiraukan Azriel yang kini sudah berdiri dan berjalan melewatinya. Masih dengar pikiran yang berkecamuk, Grayfia akhirnya menatap malaikat yang tiba-tiba sudah memakai armor bertempurnya yang semakin membuat karismanya sebagai seorang malaikat terkuat terpancar.

"Grayfia, aku akan pergi ke medan pertempuran."

[...]

Semua yang kini berada di medan perang terdiam melihat bagaimana Sang Pencipta lenyap tak bersisa, hanya menyisahkan dua benda yang dimana itu adalah perwujudan dari dua Naga Surgawi yang tadi datang merusuh. Namun kesunyian itu pecah ketika sebuah tawa meledak dari keempat sosok Maou yang menjadi pemimpin bagi ras iblis.

Tawa mereka berempat kemudian diikuti oleh tawa bawahan mereka, semakin keras dan semakin keras, membuat medan pertempuran itu hanya diisikan oleh tawa para iblis. Kedua ras lain kini hanya bisa terdiam, termenung dalam ketidakpercayaan bahwasanya sosok yang paling mereka hormati sebagai penghuni dan mantan penghuni Surga telah tiada.

Banyak dari kedua ras itu yang bahkan menangis, yang terisak, yang berteriak karena kesedihan yang mereka rasakan. Begitu halnya dengan Gabriel, yang kini sudah jatuh terduduk dan menangis dalam keheningan. Namun apapun yang kini bergejolak dalam kepalanya tak lebih dari sebuah sampah, karena meskipun kesedihan telah berhasil menggoyahkan batinnya, masih ada sosok yang harus ia hubungi sekarang.

Ia aktifkan konversi sihir komunikasi, kemudian dia berbicara. "Onii-sama! Tuhan telah tiada!" Gabriel bukannya berteriak karena marah, dia hanya secara tidak sadar berteriak karena dia tidak bisa mengendalikan apa yang ia miliki sekarang.

Medan perang itu terus saja terisi oleh tawa selama beberapa menit, sampai pada akhirnya salah satu Maou memberikan sebuah perintah.

"SEMUANYA! INI ADALAH KESEMPATAN YANG KITA MILIKI, KEMENANGAN ADALAH MILIK BANGSA KITA!"

Semua prajurit menyahut lantang, membuat senyum di bibir Maou itu kian berkembang.

"SERANG!"

Tak sampai maju dua meter, semua bangsa iblis langsung saja berhenti melaju saat mereka mendengar suara lonceng yang entah kenapa kini menggema di medan peperangan tersebut. Bahkan para Maou juga bertanya-tanya tentang apa yang kini mereka dengar.

Suara dentingan lonceng gereja itu semakin lama semakin keras terdengar, membuat suasana di medan pertempuran itu semakin dibuat gelisah. Seperti sebuah tanda dari karma atas tiadanya Sang Pencipta, mengiringi setiap doa pada-Nya.

Tapi entah kenapa Gabriel sangat merasa akrab dengan suara lonceng ini, membawa kehangatan, membawa ketenangan saat dirinya sedang merasa hancur berantakan. Semua itu kemudian terbukti, dimana disaat pasukan yang harus ia pimpin kini terbelah menjadi dua barisan, memberi jalan pada sosok yang paling ia sayang, sosok yang selalu ia rindukan, sosok yang selalu bisa ia andalkan, dan sosok yang paling... ia cintai.

"Onii-sama..." bibir itu kian merekah saat kedua mata dengan iris merah menatapnya datar, namun dari tatapan itu selalu terbesit sebuah rasa sayang yang amat sangat besar.

Gabriel tanpa ragu menyambut sebuah uluran tangan, dia kemudian berdiri dengan sebuah senyuman dan air mata yang mengalir. "Mou~, kenapa kau lama sekali sih?"

Azriel yang tak kuasa lagi melihat air mata itu segera mengalihkan tatapannya ke depan, namun sebelum kembali melangkah dia terlebih dahulu berkata, "Maaf."

Malaikat yang memiliki surai putih itu kini sudah berada di depan semua jajaran malaikat, dia kini menatap ribuan makhluk dari dua ras yang berbeda.

"Wahai para makhluk rendahan, sebagaimana aku adalah Tangan Kiri Tuhan, akulah yang akan memberi perintah!" Azriel langsung merentangkan semua sayapnya yang tadi sayu, menunjukkan sebagaimana tingkatan kepada mereka supaya mereka sadar akan apa yang akan mereka hadapi. "Akan aku beri dua pilihan sebelum aku menghukum siapa yang membangkang. Kalian pilih tunduk atau melawan?"

Semua malaikat yang berada di belakang Azriel langsung memasang posisi hormat layaknya ksatria. Begitu halnya dengan kaum malaikat jatuh yang dengan satu perintah dari Azazel, mereka meniru apa yang saat ini dilakukan oleh para malaikat.

Tatapan datar yang sebenarnya penuh akan hasrat amarah itu kemudian tertuju pada satu koloni kaum yang masih tetap berdiri tegak, membuat kedua mata merah itu terpicing. "Iblis?"

Salah seorang Maou yang memiliki nama belakang Leviathan mendecih, "MEMANGNYA SIAPA KAU, BERANI MENYURUH-NYURUH KAMI?!" dan pada detik itu juga, dia merasakan sebuah sensasi aneh di belakang tubuhnya. Dan saat dia memutar kepalanya untuk melirik, dia hanya bisa menemukan sepasang mata merah yang menyala bagai api Neraka.

"Memangnya kaupikir siapa aku?"

Denan satu tebasan singkat, kepala iblis itu langsung terlepas dari tubuhnya. Ketiga rekannya yang sama-sama menjadi Maou langsung mengarahkan tatapan bengis mereka ke arah malaikat yang dengan sangat mudah memenggal kepala teman mereka itu, ketiga raja iblis sama-sama menggeram murka, sebelum pada akhirnya mulut mereka melontarkan cacian.

"BRENGSEK!"

"SIALAN!"

"BIADAP!"

Mereka pada dasarnya sudah siap melenyapkan satu malaikat itu, namun apapun yang kini mereka lakukan hanya berujung kesia-siaan saat mereka menyadari kalau ada yang salah dengan tubuh mereka yang tiba-tiba saja membatu di tempat.

"A-Ada apa ini?!" Raja iblis yang memiliki nama belakang Lucifer melihat tubuhnya sendiri, sebelum pada akhirnya mengangkat kepalanya kembali untuk melihat malaikat yang menjadi targetnya. "Apa yang kaulakukan, brengsek?!"

Azriel terdiam. Dia hanya menatap datar sang Maou beberapa saat lebih ekstra, sebelum pada akhirnya mendekatinya. "Yang brengsek di sini itu adalah kau, makhluk menjijikkan yang menertawakan kepergian Tuhan setelah Dia mengorbankan apa yang Dia miliki untuk menyelamatkan kalian dari keganasan dua Naga Surgawi." Jeda sejenak, "SEHARUSNYA KAU SADAR!"

Satu pedang langsung menembus tulang tengkorak sang Maou tanpa ampun, membuat semua yang menyaksikannya hanya bisa memasang tatapan ketidakpercayaan.

Azriel mencabut satu pedang dari tiga pedang yang tersisa, kemudian dia melirik dua sisa pemimpin kaum iblis yang kini sudah kehilangan warna tubuh mereka. "Kalian adalah adalah pelopor terjadinya peperangan ini. Kalian membuat kerusuhan dengan kaum malaikat jatuh yang sebenarnya tidak pernah melakukan apapun pada kalian. Kalian dengan sengaja membunuh salah seorang malaikat untuk memancing amarah para penghuni Surga. Kalian adalah penyebab perang yang pada akhirnya membuat Tuhan tiada." Azriel kini sudah berdiri tepat di hadapan kedua Maou yang tersisa, "DAN KARENA KALIANLAH AKU MURKA!"

To be Continued...

.

A/N: Apapun yang terjadi, Azriel adalah seorang malaikat yang tak seperti malaikat lainnya. Dimana jika biasanya malaikat harus menyembunyikan ekspresi negatifnya dalam senyum kepalsuan, dan Azriel tak harus melakukan hal merepotkan seperti itu.

Lalu, darimana Azriel tahu kalau dua Naga Surgawi datang ke medan pertempuran tersebut sedangkan ia masih berada di Bumi? Jawabannya mudah, dia melihat dari ingatan Gabriel saat dia memberikan uluran tangan pada gadis malaikat itu.

Satu chap lagi pada Arc I ini akan selesai, kemudian dua chapter depan sudah akan memasuki Arc II.

Apakah yang akan dibahas pada Arc kedua?

Temukan jawabannya di hati Dedek Airi :v Lolz.

Akhir kata, Salam Lolicon.