LIFE of Jisoo pt. 7
.
.
BarbieLuKai
.
.
Warning : potongan smut yang tidak memuaskan
~HAPPY READING~
.
.
.
.
Joshua menatap namja berambut hitam di atasnya, matanya sangat mengintimidasi sampai-sampai ia rela melakukan apa saja demi orang ini.
"Mingyu tidak menyentuhmu kan?"
"T-tidak.." Joshua mengigit bibir, menahan rasa sakit yang menjalar ke sekitar tubuh. Entah apa yang merasuki Wonwoo sekarang, yang jelas ketakutan Joshua benar-benar terjadi. Dia tidak tahu bagaimana Wonwoo bisa membongkar pintu kamarnya yang terkunci, dia juga tidak tahu kenapa mau menyerahkan semua untuknya.
Wonwoo menghela napas, jemarinya menelusuri lekuk tubuh Joshua sambil mengagumi ekspresi namja yang lebih tua itu. Hanya dia yang boleh menyentuh Joshua, dia tidak mau lagi Mingyu memanfaatkan dirinya, apalagi Joshua yang tidak tahu apa-apa tentang bocah SMA itu. Jadi, disinilah dia, berhubungan dengan Joshua.
"Won, sakit.."
Namja bermata rubah itu mengecup kening Joshua lama, "Tenang, hyung, ini tidak akan lama,"
Joshua tidak memikirkan apa-apa selain warna putih yang mendominasi pikirannya sekarang.
.
.
.
.
Jun mengetuk pintu kamar Joshua pelan-pelan, dan terkejut saat Wonwoo membuka pintu dengan ekspresi datar. "Won, kau sedang apa di kamar Jisoo hyung?" tanyanya begitu kaget. Pasalnya, Wonwoo sekarang hanya memakai celana pendek dan rambut hitam yang berantakan. "Jisoo hyung mana?"
"Tidur."
Si Cina menatap temannya, "Kau…" ia menelan saliva susah payah, berusaha mencari kata-kata yang pas.
"Menandainya? Iya." Jawab Wonwoo tidak begitu acuh. Jun bagaikan tersengat listrik, pupus sudah harapannya mendekati Joshua karena Wonwoo sudah berhubungannya duluan. "Wae? Ada apa kau memanggilnya?"
Jun menggeleng, "Jeonghan hyung menyuruh makan," ia berjalan menjauhi kamar Joshua menuju kamarnya. Wonwoo yang heran akan sikap Jun, hanya mengangkat bahu dan melangkah ke arah hyungnya yang sedang tertidur pulas.
"Hyung, ireona, kau tidak lapar?"
Joshua memalingkan wajah, tidak ingin diganggu, tapi Wonwoo menyerang wajahnya dengan kecupan-kecupan manis sehingga tak ada kesempatan untuk tidur lagi.
"Ungh, kau masih di sini?"
Wonwoo tersenyum lembut, "Kau ingin aku pergi?"
Joshua menggeleng, tapi perasaannya remuk karena wajah Wonwoo dibayangi oleh wajah Mingyu dan Jun. AAAAHH! Dia kan sudah ditandai Wonwoo, kenapa dia jadi nggak ikhlas gini?! "Won, kenapa kau melakukannya?"
"Karena aku suka hyung?"
"Won, tapi, aku belum bisa milih," Joshua mengigit bibir, hatinya dilanda rasa kebimbangan yang besar, Wonwoo hanya menatapnya tidak mengerti sehingga ia mengunci bibirnya rapat agar tidak memberitahukan perasaan yang sebenarnya. "kau pergilah duluan, aku akan menyusul,"
Namja bermata rubah itu tampak kecewa melihat sikap Joshua, ia mengangguk dan pergi dari kamarnya, meninggalkan Joshua yang menatap dinding dengan perasaan berkecamuk. Kenapa dia mau saja saat Wonwoo melakukannya? Kenapa dia tidak menolak? Kenapa dia jadi menyesal? Bukannya ini memang keinginan dia? Joshua merasa pening seketika, ia memejamkan mata kembali, mengulang adegan demi adegan hubungannya dengan Wonwoo.
Ah. Joshua jadi tidak ingin bertemu siapa-siapa untuk sementara. Apalagi tiba-tiba di benaknya, ekspresi Mingyu yang dingin muncul menghantuinya. AAAAAHHHH.
.
.
.
.
Seungcheol menatap satu-satu penghuni atas, ia merasa janggal, kemudian ia melirik Jeonghan yang makan tanpa peduli.
"Han, di mana Jisoo?"
Pertanyaan Seungcheol tidak terlalu nyaring, tapi semua orang peka. Mereka menghentikan gerakan, dan memandang Seungcheol yang bingung. Mingyu terlihat kaku, Wonwoo terlihat tidak ingin menatap siapa-siapa, dan Jun tampak lesu.
Jeonghan mengangkat bahu, "Bukankah aku sudah menyuruh Jun untuk memanggilnya?"
Tatapan mengarah ke Jun, si Cina tak bisa bergerak, ia berusaha mencari alasan. "Jisoo hyung bilang dia sedang tidak enak badan,"
"Aneh, padahal tadi siang dia baik-baik saja," balas Jeonghan curiga, ia memandang ke Mingyu, "tadi sore kau mencarinya kan, Gyu?"
Mingyu mengangguk seperti robot, Wonwoo yang di sebelahnya melirik, tak ada kata yang diutarakan siswa kelas 2 itu, membuat Jeonghan tambah curiga. Kenapa tiga orang itu terlihat ingin saling membunuh satu sama lain?
Jaebum angkat bicara, "Lanjutkan saja makan kalian! Jisoo bisa turun untuk makan,"
Penghuni atas melanjutkan makan malam mereka sambil memikirkan Joshua yang tidak ada di tengah-tengah mereka. Bisa-bisanya pemanis kos-kosan itu sakit. Jeonghan berniat untuk mendatanginya, ingin mencari tahu apa penyebab ketiga adik-adiknya yang tinggi itu saling bermusuhan.
Apa ini karena Joshua?
.
.
.
.
Jeonghan mengetuk pintu kamar teman seumurnya, mendengar suara lirih Joshua bertanya, ia menjawab dengan lembut. "Ini Jeonghan,"
"Masuklah, tidak dikunci,"
Namja berambut sebahu tersebut masuk seraya membawa makan malam dan segelas air, ia menatap miris Joshua yang berbaring dengan wajah pucat tertutupi selimut. "Kau sakit, Soo?"
Joshua hanya mengangguk pelan, malas berbicara. Namun, ia tidak menolak saat Jeonghan menyuapi, ia bahkan tidak ingin berdebat karena perutnya tak bisa diajak kompromi.
"Apa yang terjadi?" tanya Jeonghan tiba-tiba. Joshua memandangnya tidak mengerti. "Wonwoo, Jun, dan Mingyu terlihat ingin membunuh orang, aku curiga ini pasti karenamu,"
'Terus saja salahkan aku.' Batin Joshua mengepalkan tangan kuat-kuat. Jeonghan yang melihat perubahan wajah, langsung melanjutkan, "aku tidak menyalahkanmu, Soo. Aku hanya tanya ada apa,"
"Tidak ada," jawab Joshua membuka suara. Dia melemahkan kepalan dan tak sadar menyandarkan punggungnya di kepala kasur. Jeonghan menyuapi makan malam kembali tanpa berbicara apa-apa.
Tapi, keheningan di kamar Joshua benar-benar membunuh namja cantik itu, ia menarik napas untuk menceritakan sesuatu. "Aku tahu kau bingung karena sikap Mingyu yang aneh dan spontan seperti itu,"
Jantung Joshua berdetak kencang, ia menantikan hal ini. Hal di mana semua rasa penasarannya terjawab. Dia tidak menjawab maka dari itu Jeonghan melanjutkan kembali.
"Mingyu, sewaktu berumur 14 tahun pindah dari Korea karena kakaknya, Kim Taeyong tidak sanggup melihatnya menjadi korban seksual ayah mereka. Tapi, Mingyu tidak mau tinggal dengan Taeyong karena sudah keburu membencinya, jadi Taeyong menitipkan padaku saat mereka datang ke kos-kosan ini,"
Joshua masih setia mendengarkan tanpa menyela, tatapan mata Ibu dari penghuni atas tersebut terlihat sedih dan iba disaat bersamaan.
"Awalnya, dia hanya diam selama tinggal di sini, tapi perubahan drastis Kim Mingyu dimulai ketika dia tak sengaja memperkosa salah satu penghuni," Joshua mengigit bibir dalam kuat-kuat, berusaha bersikap tidak kaget, padahal kagetnya setengah mati.
"Dan penghuni itu, kekasihnya Junwoo, namanya Kim Youngsoo."
Ternyata benar. Mingyu memang pernah berhubungan dengan seseorang yang bernama Youngsoo. Joshua tak tahu harus merespon apa selain membulatkan mata karena ia bisa memastikan apa yang terjadi setelah Mingyu memperkosa Youngsoo. Kekasihnya Lee Junwoo!
"Youngsoo pindah dan tidak pernah kembali lagi, sejak saat itu Junwoo menutup diri dan melakukan pembalasan pada semua orang yang pernah di'pakai' Mingyu, biar setimpal dia bilang."
Termasuk dirinya.
Tunggu dulu- kan Joshua belum pernah di'pakai'. Apaan sih -_-
Jeonghan menghela napas, "Aku dan Seungcheol sudah berusaha menghentikan Mingyu, tapi ia akan mengamuk kalau tidak memuaskan hasrat seksualnya. Jadi, Wonwoo yang sukarela menjadi bonekanya,"
Joshua merasa sebuah batu mencekik kerongkongan, ia mengambil gelas yang dibawa Jeonghan dan meminumnya sampai tandas. Setelah meyakinkan tenggorokan tidak kering, ia berdeham membuka suara, "Siapa yang pernah jadi boneka Mingyu?"
"Jihoon, Seungkwan, Bambam, Youngjae, Minghao, Soonyoung, dan Wonwoo. Dia pernah ingin melakukannya denganku tapi Seungcheol sudah menghantamnya ke dinding,"
Ouch, Seungcheol.. Joshua bergidik dalam hati. Kenapa mereka tidak berusaha melepaskan diri dari kukungan bocah itu? duh.
"Semenjak kau ada di sini, Mingyu lebih bisa menahan diri,"
'Jangan bilang aku penyembuhnya' pikir Joshua berusaha menahan diri untuk memutar mata. Cih, tipikal sinetron.
"Bagaimana Jihoon bisa lepas? Atau Seungkwan, Bambam, Youngjae? Oh, Minghao dan Soonyoung?" begitu banyak pertanyaan yang diluncurkan Joshua sampai-sampai Jeonghan menyuapkan kembali nasi yang hampir dingin ke mulutnya. Namja manis itu mengerucutkan bibir seraya mengunyah, di saat seperti ini dia jadi rindu orangtuanya.
"Seungcheol melindungi mereka dengan mengancam Mingyu. Dia akan memasukkannya ke rumah sakit jiwa kalau masih menyentuh yang lain, tapi karena Mingyu masih SMP, Seungcheol tak jadi melakukannya dan Wonwoo maju untuk menjadi bonekanya," jawab Jeonghan mengangguk. Joshua menahan napas.
SMP.
Bayangkan anak SMP begitu!
Saat Joshua SMP, dia sangat cupu dan menurut pada orangtua. Tidak pernah membantah bahkan tidak pernah menonton film porno. Apalagi melakukannya. Ini pun baru pertama kali, bersama Wonwoo. AAAAAHHHHH. Mengingat kejadian tadi sore, rasanya Joshua ingin mengubur diri saja dalam-dalam dan tak mau kembali ke permukaan. Dia memang mau memaksa Wonwoo tapi kenapa dia juga mau mencoba lagi dengan Mingyu atau Jun?! Ah, Seokmin tadi sore juga mendebarkan hati. AAAAAAAHHHH DIAAAAMMM!
"Jisoo-ya gwaenchana?" tanya Jeonghan ketika Joshua sudah terisak pelan. Apa ceritanya menyeramkan jadi Joshua sampai menangis begitu? 'Aduh bagaimana ini?' Jeonghan malah panik lalu menarik temannya ke pelukan. Joshua terus menangis sampai-sampai kaos si Eomma basah.
"Jeonghan hiks aku bingung hiks harus memilih siapa…"
"Maksudmu?"
"Hiks, tadi sore, hiks, Wonwoo hiks datang hiks.. dia hiks dia hiks berhubungan hiks denganku hiks.. hueeeeeeeeeeeee.." cerita Joshua di sela-sela tangisannya, Jeonghan seperti ditiban batu dari atas, ia hanya diam dengan mata melebar setelah tahu apa yang terjadi pada penghuni baru mereka.
Wonwoo. Berhubungan. Joshua. Ah. Ini informasi yang sulit dicerna akal sehat.
Joshua terus menumpahkan semua kegalauan dan kebimbangan hatinya, dimulai dari sikap Mingyu di hari pertama, ke-gentle -an Wonwoo, keramahan Jun, kebahagiaan penghuni atas saat menyambutnya. Bahkan soal Lee Junwoo yang menyebalkan itu.
"Aku tidak tahu apa-apa karena kalian begitu ambigu, tapi Mingyu benar-benar membuat bingung setengah mati setelah ia berhenti menganggu, huaaaaaaaa!"
"Tenang, Jisoo, tenanglah sedikit.." kemudian Jeonghan mengusap air mata Jisoo, duh, kalau Jeonghan punya anak perempuan seperti Jisoo yang manisnya nggak ketulungan padahal sedang menangis gini, ia pasti akan menyayanginya sampai tidak ingin anaknya terluka. Namja berambut sebahu tersebut tersenyum lembut, menenangkan hati, "perasaanmu pada Wonwoo itu hanya sebatas kagum, sedangkan pada Jun, ia hanya melakukan hal yang semestinya dia lakukan kalau kau lagi sedih, makanya kau suka,"
"Bagaimana dengan Seokmin?"
Jeonghan terkekeh kecil, "Seokmin cuma bocah kelas 2 yang belum pernah merasakan cinta, jadi santai saja kalau ia menggodamu lagi,"
"Mingyu?" Joshua bertanya pelan. Jeonghan mengusak surai cokelatnya.
"Kalau tentang Mingyu, cukup kau yang merasakannya, oke? Aku sudah menyadarkan perasaanmu tentang Wonwoo, Jun dan Seokmin,"
"S-seungcheol?"
"Ada apa lagi dengannya?" tanya Jeonghan tampak terkejut. Jangan bilang kalau mahasiswa ITB itu juga mengambil kesempatan pada Joshua. Melihat ekspresi horror Jeonghan, Joshua tak kuasa menahan tawa.
"Santai saja, Seungcheol tidak melakukan apa-apa kok. Kau beruntung sekali mendapatnya," Joshua memang iri pada Jeonghan yang berpacaran dengan Seungcheol, apalagi bisa melakukan hal-hal menyenangkan *dalam tanda kutip* bersama.
Jeonghan mendengus, "Yap, bagimu beruntung, bagiku buntung,"
Joshua memanyunkan bibir, "Kalau kau tidak mau dengannya lagi, aku siap menjadi pengganti," cengiran manis terpatri di wajahnya.
PLETAK
Sebuah sendok mendarat di kepala si Amerika sehingga ia menjerit kesakitan.
"Langkahi dulu mayat Mingyu dan aku, baru kau bisa bersama Seungcheol, tsk, pergilah tidur! Besok kau kuliah, kan?" Jeonghan beranjak berdiri dan membenahi peralatan makan yang ia bawa, Joshua masuk kembali dalam selimut dan mengangguk, "besok, biar aku saja yang mengantar mereka, kau pergi sendiri tidak akan mati kan?"
Namja bermarga Hong itu memeletkan lidah. Jeonghan tertawa kecil.
"Selamat tidur, Soo! Semoga mimpi Mingyu!"
"JEONGHAAAANNN!"
Yap, setidaknya Joshua akan mendapat mimpi bagus malam ini.
.
.
.
.
"Apa dia baik-baik saja?"
Jeonghan baru saja menutup pintu kamar Joshua dan tiba-tiba dia sudah dikerubungi seperti gula di antara semut-semut lapar. Entah bagaimana wajahnya sekarang, yang jelas tatapan demi tatapan dilayangkan padanya yang tak kunjung menjawab.
"Hyung, apa Jisoo hyung baik-baik saja?" Seokmin angkat bicara. Jeonghan menghela napas.
"Ne, dia baik. Kenapa kalian masih keliaran? Berniat menguping ya?"
Beberapa kepala menggeleng kuat-kuat, mereka tidak menguping, tapi rasa penasaran yang tinggi membuat mereka mengintip apa yang sedang Jeonghan lakukan di kamar Joshua. Eomma mereka ini tidak mengambil kesempatan juga kan? Hm..
"Sudah sana ke kamar! Kalian besok sekolah!" usir namja berambut sebahu itu melotot. Ada yang masih diam di tempat, ada juga yang sudah bubar. Jeonghan menyipitkan mata saat melihat Mingyu yang membatu, pandangannya kosong. "Gyu, pergi ke kamar."
"Boleh aku menemui Jisoo hyung?" tanya Mingyu terlihat canggung, Jeonghan menaikkan satu alis.
"Biasanya juga kau langsung masuk, tumben minta izin,"
Tanpa babibubebo, sosok jangkung berambut abu-abu tersebut menerobos Jeonghan yang berdiri di depan pintu. Bantingan benda kayu hampir membuat si Emak terjengkal, sambil mengutuk dalam hati, ia membawa langkah sambil memegangi piring dan gelas yang sudah kosong.
"Dasar Mingyu." rutuknya dalam hati.
.
.
.
.
Joshua mengintip dari balik selimut ketika didengarnya pintu kamar terbuka dan tertutup keras. Si rambut abu-abu yang familiar mendekat ke kasur membuat kepalanya pening sesaat.
Mingyu menghembuskan napas panjang, ia tahu Joshua tidak tidur, toh mata kucingnya masih terbuka meskipun ada selimut yang menutupi sedikit. Dia duduk di sebelah penghuni baru tersebut dan menaruh tangan di perut Joshua yang tertutup kain.
"Hyung.."
Joshua tidak menjawab, ia masih menatap Mingyu lekat. Dia butuh air.
"Hyung, maafkan aku.."
Dia tidak mengerti kenapa Mingyu harus minta maaf. Tapi, biarlah dia minta maaf, artinya dia sadar apa yang sudah dilakukannya kemarin merupakan kesalahan besar. Namja berambut cokelat itu mengigit bibir, masih menatap Mingyu. Kini bocah kelas 2 SMA berbadan besar tersebut beringsut mendekati dan memeluk tubuh kurusnya. Joshua merona merah walaupun selimut menutupi tiga perempat wajah.
"Maafkan aku tidak bisa menjagamu,"
Menjaga? Hell, Kim Mingyu mana pernah menjaga ataupun bersikap lembut seperti Wonwoo. Pfft.
"Hyung, tolong bicara.."
Joshua berdeham sedikit, "N-ne.." kenapa dia tergagap? Aduh, ini hanya Kim Mingyu, Josh. Bukan petinggi kerajaan.
Mingyu tersenyum, senyumnya sangat menggemaskan tapi tampan (?) bukan seringaian menyebalkan atau smirk yang menjengkelkan setengah mati. Bukan cengiran kuda seperti Seokmin, atau senyum kecil Wonwoo, atau senyum semua namja di kos-kosan. Senyum Mingyu sangat tulus dan menenangkan hati secara bersamaan.
'Apaan sih, Josh!' ia hampir menghantamkan kepala ke dinding.
"Hyung jangan sedih lagi, ne?" Mingyu menyodorkan kelingking. Joshua menatapnya tak mengerti. Melihat sikap hyung-nya yang lemot, Mingyu malah memaksa kelingking Joshua untuk mengait padanya, "aduh hyung, artinya hyung harus janji jangan sedih mulu,"
"Aku tidak sedih!" kilah Joshua mengerucutkan bibir, ia tidak tahu apa efek bibirnya pada Mingyu, ia hanya heran melihat mata Mingyu berubah gelap dan penuh nafsu? "G-gyu, kau sehat?"
Mingyu tidak menjawab, ia menatap Joshua intens.
Dan Joshua baru saja menyadari kalau sikap imutnya membawa petaka.
Yap, dua kali dalam sehari. Sepertinya, dia harus minta izin tidak masuk kuliah pada Taeyong.
.
.
.
.
Keesokan harinya, saat matahari menyinari pagi di hari Sabtu. Joshua masih uring-uringan di kasur. Ditambah seorang dengan tubuh dua kali lipat darinya, membuat kasur sesak seketika. Dia tidak bisa bergerak, punggungnya menyentuh dinding karena sempit.
"G-gyu! Kau tidak sekolah?" Joshua meringis pelan dan berusaha menendang Mingyu dengan kakinya.
Jangan tanya seperti apa tadi malam. Joshua ingin nangis saja rasanya.
"Huhuhu.. appo.." rintih Joshua bergerak perlahan, ia kesal karena Mingyu tidak mengindahkan rintihannya, ia menendang sekali lagi bokong bocah tersebut hingga terjerembab dari kasur.
Mingyu tersadar dan kaget mendapati tubuh bagian bawahnya sudah menamplok di lantai. Dia membuka mata dan mendapati wajah Joshua yang kesal tapi menggemaskan. "Oh, hyung. Kau sudah bangun?"
"Aku tidak bisa tidur, brengsek!" umpat Joshua menghembuskan napas kasar, kemudian sedetik berikutnya ia memohon ampun pada Tuhan karena mengumpat di pagi hari. "Tuhan, maafkan Jisoo di pagi hari," ia menatap Mingyu, "maaf ya Gyu.."
"Duh, seharusnya aku yang minta maf, hyung.." Mingyu beranjak bangun untuk berdiri, Joshua tidak sanggup melihat adik kost-annya tanpa busana, jadi ia menyembunyikan diri dalam selimut. "hyung, kenapa kau sembunyi?"
"Jangan sok polos, Mingyu." geram Joshua masih dalam selimut. Sementara Mingyu sudah kembali menjadi Mingyu yang dulu, yang tengil bukan main, ia tertawa keras lalu menghempaskan diri lagi. Namja manis itu menjerit.
"YAK! MINGYU!"
"Istriku imut sekali, satu ronde ya Sayang.." goda Mingyu sambil memajukan bibirnya, Joshua bergulat di bawah kukungan si jangkung, ia berusaha keras untuk menyentak Mingyu agar tidak berbuat macam-macam. "ayolah sayang.."
"MINGGIIIIIIRRRRR! UGGHH!"
"Kurang keras, Jisoo. Ayo keraskan lagi,"
"MING- SAK- UGHH!"
Tuhan, tolong Joshua. Dia tidak mau satu kos-kosan mendengar teriakan dan jeritannya. Bisa mati kutu ntar.
Mingyu menyusupkan tangan di dalam selimut Joshua, menyeringai saat menyentuh area sensitif hyung-nya dengan lembut sehingga Joshua mulai mengeraskan rintihannya.
BRAK
Keduanya berhenti seperti ketangkapan basah. Jeonghan dan Seungcheol menatap Mingyu berang. Sementara yang ditatap hanya menyengir tanpa dosa, meninggalkan Joshua berwajah merah dan bernapas tersengal-sengal.
Dalam sekali hentakan, Seungcheol sudah menyeret Mingyu keluar dari kamar penghuni baru seraya menjewer telinganya. Mingyu menjerit-jerit minta ampun dan menutupi wajah. Takut dihantam ke dinding lagi kayak kemarin. Seungcheol sangat ganas kalau sudah marah, bahkan Mingyu yang lebih besar dari dia saja masih takut.
Jeonghan menghela napas, ia mendekati Joshua yang kembali normal. "Jadi, bagaimana malam kalian?"
"Diam, Jeong." Joshua menggerutu pelan, sebenarnya dia senang karena Mingyu mau berbaikkan, tapi pout Joshua mengubah Mingyu ke kepribadian yang liar. Jadilah malam mereka yang liar pula. Hiyy, Joshua tidak ingin membahas ataupun mengingatnya kembali. "aku di rumah saja ya…"
"Hmm, apa kau akan turun untuk sarapan?" tanya Jeonghan beranjak dari kasur. Joshua mengangguk.
"Setelah membersihkan, ya kau tahulah,"
Jeonghan menahan tawa, "Jangan lupa tidurkan dulu yang itu!" tunjuknya ke daerah yang paling dihindari Joshua. Melihat ejekan dari temannya, si Amerika melempar guling dan menyembunyikan adiknya. Tawa Jeonghan masih terdengar meskipun ia sudah di luar kamar. Membuat Joshua ingin menghantam dirinya ke dinding.
Ugh, kenapa dia mau saja sih?!
.
.
To Be Continued
.
.
Halo~
Ada yang masih nungguin?
Terima kasih kepada reader maupun silent reader yang menyempatkan diri menunggu dan membaca ff ini~
/deep bow/
cerita ini tidak akan terbit jika bukan karena komentar kalian :)
Gamsahamnida ^^
Oh iya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan
Semoga ibadahnya tahun ini bisa menjadi lebih baik w
Amin~
Ditunggu review selanjutnya^^ /cium reader satu-satu/ /ditendang/
XD
