Chapter 7 : Latihan Sang Raja bersama Sang Jendral.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

Selamat Membaca :)

.

Matahari sudah menampakan dirinya ketika dua insan itu tengah asyik dalam obrolan mereka. Tak lama berselang Sakura datang dan bergabung bersama mereka. Hinata terkejut melihat kedatangan sang putri yang beberapa menit lalu Naruto memeluknya begitu saja. Ada perasaan tidak enak menguasai hatinya melihat bagaimana Putri Sakura yang menyukai rajanya saat ini.

'Baka, untung saja Naruto-kun melepaskan pelukannya kalau tidak bagaimana aku bisa menjelaskan pada Sakura. Hah~ apakah aku harus bernafas lega atau tidak? Perasaanku menjadi tidak enak. Gomen Sakura' batin Hinata seraya terus menatap kearah Sakura yang kini sudah duduk disamping Naruto.

"Kalian bangun pagi sekali. Sedang apa disini?" tanya Sakura.

Hinata mencoba bersikap normal meskipun senyum yang ia sunggingkan terlihat begitu canggung.

"Kami hanya sedang mengobrol saja" balas Naruto akhirnya.

Suasana disana terlihat sangat tidak nyaman bagi Hinata. Bagaimana tidak, Naruto yang duduk ditengah-tengah kedua itu semakin terlihat jelas cinta segitiga yang mereka alami. Shikamaru yang melihat kearah mereka pun mencoba untuk menahan tawa mengetahui perasaan yang dimiliki masing-masing dari mereka.

'Hahaha, benar-benar cinta mereka sedang diuji' batinnya dan berjalan mendekati mereka.

"Ohayo mina" sapanya dan dibalas senyuman oleh semuanya "oh ya, Yang Mulia hari ini kita akan melakukan apa?" lanjut Shikamaru bertanya.

"Aku ingin berlatih mengasah kekuatanku karna Hinata juga masih dalam tahap penyembuhan lukanya mungkin kita akan mencari penginapan disekitar sini"

"Lebih baik Yang Mulia tinggal dulu disini" ucap nenek Chiyo yang datang kearah mereka.

Semua mata menatap kedatangannya "boleh juga sekalian mengawasi kau untuk tidak kabur nanti akan aku bawa kehadapan Menma dan jelaskan semuanya" balas Naruto sinis seraya beranjak darisana membawa pedang Hinata.

Nenek Chiyo hanya terdiam, dia tidak membalas apapun karna pada dasarnya dialah yang bersalah. Hinata,Sakura dan Shikamaru juga tidak ada yang bersuara. Setelah Naruto pergi darisana mereka bertiga juga mulai menyusul.

.

Naruto sekarang sudah berada didalam hutan. Mencari tempat yang sesuai untuknya berlatih pedang. Udara yang segar pagi itu membuatnya merasa nyaman, dia pun duduk dan bersandar pada pohon besar sebelum memulai latihannya.

"Sudah lama aku tidak bersantai seperti ini. Ternyata udara didalam hutan sangat segar, ditambah hangatnya sang surya membuatku kembali mengantuk. Tou-san Kaa-san apa yang harus Naru lakukan untuk membuat Menma sadar bahwa tindakannya itu salah? Aku sudah tidak lagi menyalahkan kalian mengenai keberadaan Menma. Sekarang aku mengetahui bagaimana rasanya ketika dia tidak sempat melihat kalian berdua. Gomen Menma aku bukanlah saudara yang baik" gumam Naruto seraya menengadah keatas langit seolah tengah berbicara dengan kedua orangtuanya.

Semilir angin sejuk membelai wajahnya. Ia pun menutup kedua mata terbuai dengan kenyamanan alam. Niatnya untuk latihan pedang hilang entah kemana.

Tidak lama setelah itu seseorang datang mendekat dan duduk disampingnya.

"Bukankah Naruto-kun akan berlatih menggunakan pedang?"

Mendengar seseorang bertanya disampingnya, Naruto kembali membuka kedua matanya "eh Hinata, iya tadinya sih aku ingin latihan tapi setelah datang kesini kantuk kembali menyerangku. Hehehe" kekehnya menahan malu.

Hinata tersenyum kearahnya "sudah ku duga kau akan seperti itu. Baiklah sekarang ayo latihan dan aku akan melihat perkembanganmu" suruh Hinata.

"Baiklah-baiklah. Tapi sebelum itu kemana perginya Sakura dan Shikamaru?" tanya balik Naruto saat tidak melihat 2 orang yang ia kenal.

"Mereka berdua mencari sarapan untuk kita" balas Hinata.

Tanpa berkata-kata lagi Naruto pun langsung memulai latihannya dengan pemanasan terlebih dulu. Dan setelah itu, perlahan-lahan dia mulai mengayunkan pedangnya.

Hinata yang mengawasi Naruto latihan tersenyum melihatnya. Rona merah tanpa ia sadari hadir dipipi putihnya. Debaran jantungnya berdetak sangat cepat saat Naruto dengan cekatan menebas-nebaskan pedang dengan cahaya sang surya menyorotinya. Menambah kegagahan dan karisma Naruto.

'Tidak, sepertinya hatiku telah kembali dicuri. Ehh memangnya aku mempunyai hati berapa banyak? Aaahhhh Hinata baka seharusnya kau tidak kembali jatuh cinta'

Disaat Hinata tengah tenggelam memikirkan perasaannya Naruto mengawasi dia yang sedang senyum-senyum sendiri dengan menangkup kedua pipinya.

"Hei, Hinata kau kenapa?"

"EH" hinata terperanjat kaget sekaligus malu melihat tatapan heran yang dilayangkan oleh Naruto padanya "a….ano a…aku aku_"

"Ahh sudahlah mungkin kau terpesonakan melihatku?"

Blush! Wajah Hinata memerah, benar apa yang dikatakan Naruto barusan bahwa ia terpesona melihatnya "Ka…kau ada-ada saja" elaknya malu.

"Hahahahah" Naruto tertawa melihat Hinata malu-malu seperti itu.

Tak berapa lama kemudian Sakura dan Shikamaru datang kearah mereka.

"Kalian berdua ayo kita sarapan dulu" ajak Sakura dan duduk di samping Hinata.

Hinata dan Naruto yang melihat kedatangan mereka berdua tersenyum senang karna sarapan mereka sudah datang.

Mereka berempat pun mulai menikmati sarapan seadanya. Tidak semewah yang selalu Naruto santap saat di istana.

"Gomennasai Yang Mulia, saya hanya bisa membawakan anda roti saja" ujar Shikamaru setelah mereka selesai sarapan.

Naruto tersenyum kearah Shikamaru "tidak apa-apa. Apapun yang kau bawakan pasti aku akan memakannya"

"Yang Mulia~" balas Shikamaru terharu "aku akan pastikan bahwa kita akan kembali ke istana dan merebut kembali kekuasaan anda" lanjutnya lagi.

Naruto mengangguk sebagai jawaban.

Sarapan mereka pun berakhir. Naruto kembali berlatih menggunakan pedangnya bersama Shikamaru yang meminjam pedang nenek Chiyo.

Sedangkan Sakura dan Hinata masih duduk dibawah pohon seraya melihat mereka.

Diam-diam Sakura memperhatikan Hinata yang terlihat senang menatap kearah Naruto dengan rona merah masih bertengger dipipinya.

'Sampai kapan kau akan memendam perasaanmu itu sendirian Hinata?' batin Sakura 'dan apa yang harus aku lakukan?'

'Aku tidak boleh terlalu mencintainya. Bagaimana bisa aku mencintai Naruto sedangkan seseorang yang ia sukai ada disampingku sekarang dan tentu Sakura juga menyukainya. Aku harus segera mengenyahkan perasaan ini' batin Hinata lagi.

Sedangkan ditempat lain….

Menma tengah berlatih bersama dengan pengikutnya, Dia menyiapkan diri jika sewaktu-waktu Naruto akan datang kembali dan membalasnya. Sebelum itu terjadi dia terus saja melatih kekuatannya.

'Aku tidak akan menyerahkan istana ini lagi padamu' batinnya disela-sela latihan.

Kemurkaan yang tercetak jelas diwajahnya menjelaskan bahwa dia benar-benar sangat membenci saudara kembarnya itu. Bertahan-tahun Menma hidup dalam kebohongan dan tidak sedikit pun harta peninggalan kedua orangtuanya yang diwariskan untuknya.

'Kau harus merasakan bagaimana susahnya hidup serba kekurangan'

.

.

.

3 bulan sudah mereka menghabiskan waktu bersama di kediaman wanita tua bernama Chiyo. Naruto mau tidak mau harus tinggal disana sementara waktu untuk mengasah kekuatannya. Setiap hari dia berlatih dengan Hinata. Kini luka Hinata sudah mulai sembuh. Ia pun mulai melatih kekuatannya kembali yang terasa kaku akibat istirahat dalam pemulihan luka yang dilakukan Deidara waktu itu.

Sekarang Naruto dan Hinata berlatih pedang bersama-sama. Tidak hanya pedang saja bahkan Naruto dilatih oleh Hinata menggunakan panah, bela diri agar darah siluman yang mengenainya waktu itu bisa ia kendalikan dengan baik. Tidak hanya Naruto saja bahkan Sakura dan Shikamaru pun dilatih oleh Hinata.

Setiap kali Naruto mengayunkan pedangnya darahnya mendesir panas. Itulah efek dari darah siluman rubah yang mengenainya.

"Baiklah Naruto-kun kau bisa menyerangku sekarang" ucap Hinata ditengah-tengah latihan.

"Tapi Hinata aku tidak bisa menyerangmu begitu saja" tolaknya halus.

"Tidak apa-apa. Anggap saja aku adalah musuhmu, jangan sungkan-sungkan terhadapku" ujar Hinata lagi.

"Baiklah"

Akhirnya Naruto mulai mengacungkan pedangnya kearah Hinata. Dia pun berlari sekuat tenaga untuk menerjangnya.

"Khhiyaaa, kau bersiaplah Hinata"

Hinata tersenyum melihat Naruto seperti itu "sepertinya kau sudah berubah"

Trangg! Pedang mereka saling beradu.

Lavender bertemu dengan blue sapphire. Seketika waktu seolah berhenti disana. Ditengah-tengah pedang mereka yang saling mengacung dan beradu tatapan mereka terkunci pada satu sama lain. Nafas mereka terdengar tenang, angin menerbangkan rambut mereka.

Hinta maupun Naruto terhipnotis dengan keindahan yang terpancar dari masing-masing mata mereka. Namun sedetik kemudian seringaian hadir diwajah Hinata.

Trangg! Hinata menangkis pedang Naruto dan berhasil lepas dari genggamannya "kau jangan terpaku seperti itu" kata Hinata berhasil melepaskan tatapan itu.

'Gawat, jika hal itu berlangsung lama aku takut debaran jantungku bisa terdengar' batinnya yang sampai saat ini tidak bsia menghilangkan perasaan itu.

"Kau licik Hinata. Kau berhasil membuatku lengah" sesalnya seraya memungut pedangnya kembali.

"Hahaha itu salahmu sendiri kenapa tidak mengelaknya"

Naruto mengerucutkan bibrnya kesal "hm kau Hinata. Rasakan ini" kembali Naruto menerjangnya dan Hinata berhasil mengelak.

Mereka kembali melajutkan latihannya. Tanpa sadar jika tidak jauh dari mereka sepasang mata emerald mengawasi mereka sedari tadi. Senyum kecut hadir dibibirnya melihat tawa raja dan jendral itu terlihat bahagia. Dia pun berjalan meninggalkan mereka berdua.

.

Malam kembali menjelang, langit sudah berubah menjadi gelap. Bintang satu persatu mulai bermunculan. Naruto dan Hinata mulai mengistirahatkan tubuh lelah mereka sehabis seharian berlatih. Hinata tidur bersama dengan Sakura begitupun dengan Naruto yang tidur bersama Shikamaru. Tanpa sepengetahuan Hinata, Sakura selalu melihat gerak-geriknya terhadap Naruto. Begitupun sebaliknya Sakura juga memperhatikan Naruto terhadap Hinata.

'Aku sudah menyimpulkannya'

Dan tanpa Sakura ketahui juga Hinata yang sedang berbaring membelakanginya tengah tersenyum teringat akan kejadin tadi sore saat mereka berlatih. Tatapan yang membuat dia tidak ingin melepaskannya kembali teringat. Namun buru-buru Hinata mengenyahkan pikiran itu.

Tak berbeda jauh dari Hinata, Naruto yang tengah terbaring juga memikirkan hal yang sama. Tapi bedanya dia tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Setiap hari berlatih bersama dengan Hinata didalam hatinya telah tumbuh perasaan yang tidak ia menerti. Perasaan itu tumbuh seiring berjalannya waktu.

Dia terus saja memikirkan hal itu sampai pada akhinya katuk pun datang melanda dan ia jatuh tertidur.

Jam masih menunjukan pukul 03:00 dini hari. Hinata terbangun dari tidurnya dan berjalan hendak ke kamar mandi.

Ketika Hinata akan kembali kekamar, lavendernya menangkap nenek Chiyo tengah berdiam diri dibalkon. Hinata menyipitkan mata melihat kearah sana 'Apakah itu Chiyo obaa-san? Sedang apa disana? Bukankah ini masih jam 3?' pikir Hinata bingung.

Ia pun akhirnya melangkahkan kaki untuk menghampirinya.

Nenek Chiyo terkejut melihat seseorang datang dan duduk disampingnya "Eh, Hinata-san" ujarnya.

Hinata tersenyum "kenapa obaa-san ada disini, tidak tidur? Inikan masih pagi"

"Obaa-san tidak bisa tidur lagi" balasnya disertai senyuman hangat.

Mereka berdua terdiam, menikmati suasana hening pagi itu.

"Hinata-san apakah kau sudah lama tinggal bersama dengan Uzumaki-sama?" tanya nenek Chiyo kemudian.

"Eum" Hinata mengangguk "iya aku sudah hidup bersamanya lebih dari 12 tahun karna dulu Otou-san menjadi seorang jendaral di Istana Uzumaki"

"Ternyata sudah lama sekali. Apakah kau putri dari Hyuuga Hiashi?"

"Iya, Obaa-san kenal dengan Tou-san?"

Wanita tua itu mengangguk "Beliau sangat kuat dan baik hati. Gomennasai akibat ulahku orangtuamu meninggal" ujarnya membuat Hinata membulatkan mata. Ia jadi teringat tentang cerita yang waktu itu Naruto beritahukan padanya mengenai kebangkitan siluman rubah.

"A…ahh sudahlah Obaa-san kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri"

"Itu memang benar Hinata-san, tetapi semua itu adalah kesalahanku. Dan aku benar-benar menyesal"

Hening, Hinata tidak lagi menjawab ucapannya hingga ia pun berkata "apakah Obaa-san benar-benar menyesalinya?" nenek Chiyo mengangguk "jika benar seperti itu aku harap kau menjelaskan fakta yang sebenarnya kepada Menma. Tebuslah apa yang sudah kau sesali. Kalau begitu aku kembali masuk"

Sepeninggalan Hinata, wanita tua itu terdiam mendengar perkataan Hinata barusan "Benar apa kata anda Hinata-san. Aku harus menebus apa yang sudah aku lakukan selama ini" bisiknya lirih.

.

Hari ini seperti biasa Hinata dan Naruto kembali berlatih bersama. Shikamaru tertegun melihat perkembangan sang raja dalam menggunakan pedang. Dia sudah lihai dan pandai dalam membaca setiap gerakan Hinata yang melawannya. Begitu pun dengan Sakura, dia juga tidak menyangka jika Naruto sudah berkembang dengan cepat. Mereka berdua tengah beristirahat sehabis latihan. Namun berbeda dengan Naruto dia terus saja berlatih tanpa mengenal lelah.

"Yang Mulia benar-benar hebat. Kemampuannya hampir menandingi sang jendaral. Aku bahkan masih kesulitan mengayunkan pedang" ujar Shikamaru.

"Eum, aku pun sama" balas Sakura sekenanya.

Naruto dan Hinata selesai berlatih. Mereka berjalan kearah Sakura dan Shikamaru.

"Naruto-kun, kau sudah lihai berpedang. Sekarang kita sudah tidak khawatir lagi jika sewaktu-waktu datang orang jahat yang akan melawan kita" ucap Hinata disela-sela istirahatnya.

"Hehehe arigato Hinata. Ini berkat kamu yang terus melatihku"

Hinata menggeleng "tidak, kemampuan Naruto-kunlah yang membuatmu bisa seperti ini"

Senyuman demi senyuman serta tatapan yang dilayangkan oleh mereka membuat Sakura merasakan tidak enak didalam hatinya. Seakan ada perasaan tidak rela jika senyuman Naruto diberikan pada Hinata.

"Okhok… okhok" batuknya berhasil mengalihkan Naruto.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto memegang pundak Sakura.

Hinata yang melihat itu langsung tersadar 'eh, aku lupa bahwa ada Sakura. Aku yakin dia akan berpikir macam-macam. Apa yang harus aku lakukan? Baka, kaukan sudah berniat untuk melupakan perasaan ini. Hah~ bagaimana bisa lupa, jika setiap latihan aku selalu bersamanya. Rasa nyaman ini semakin menjadi-jadi dan aku ingin…. Memilikinya. Ehh apa yang aku pikirkannnnnnnnnn' batinnya berkecambuk.

"Hyuga-sama, anda tidak apa-apa?" tanya Shikamaru bingung melihat Hinata yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Eh…." Hinata terpekik "a…aku baik-baik saja ko hehehe" gugupnya malu.

Shikamaru hanya ber'oh' ria saja. Tatapan Hinata kembali melihat kearah pasangan yang sekarang pergi meninggalkannya dengan Shikamaru.

"Aku mengantarkan Sakura dulu ya" ujar Naruto dan setelah itu mereka hilang dalam pandangan Hinata.

Tidak lama setelah mereka pergi Hinata menghela nafas berat. Ia pun bersandar pada pohon untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sampai ia pun kembali tersentak kaget dengan ucapan yang Shikamaru lontarkan.

"Hyuga-sama, apakah anda menyukai Yang Mulia?"

Hinata terperanjat, langsung menatp kearah mata Shikamaru "a….apa yang kau bicarakan?"

"Pertanyaanku sudah jelaskan?"

Hinata memalingkan wajahnya yang sudah merona 'apakah sejelas itu? Eh tunggu jika memang jelas apakah Sakura menyadarinya juga? Bagaimana ini ap_'

"Jika anda memang benar-benar menyukainya, aku harap anda harus bersabar dengan ketidakpekaan yang beliau miliki" lanjut Shikamaru membuyarkan lamunannya.

Wnaita itu menunduk mengerti dengan apa yang barusan ia dengar. Benar yang dikatakan oleh Shikamaru bahwa Naruto memang tidak peka terhadap apapun yang ada disekitarnya. Ditambah lagi sekarang ada Sakura dalam kehidupannya di bandingkan dengan Hinata pasti dia tidak ada apa-apanya hanya sebatas jendral dan juga teman masa kecil.

"Iya aku mengerti apa yang kau ucapkan. Tenang saja aku berniat untuk melupakan perasaan ini. Jadi sampai saat itu tiba kau harus merahasiakan perasaanku ini"

"Baiklah"

.

Di tempat lain, Sakura dan Naruto tengah terdiam disebuah kuil yang ditemukan oleh mereka. Mereka duduk diam berdampingan. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Sakura masih menetralkan debaran jantungnya yang terus memompa hebat.

"Naruto-kun"

"Iya, eh_" jawabnya dengan kaget. Sejak kapan Sakura memanggilnya dengan suffix 'kun' dan hanya Hinatalah yang memanggilnya seperti itu. Pikir Naruto bingung, tapi dia tidak terlalu memikirkan hal itu "ada apa Sakura?" lanjutnya lagi.

Sakura menatap kedalam matanya seakan dia mengatakan bahwa dirinya telah benar-benar jatuh cinta pada Naruto.

Naruto yang bingung dengan tatapan yang dilayangkan Sakura begitu lama. Dia tidak mengerti dengannya. Hingga….

"Saku_" cup! Ciuman singkat yang dilakukan oleh Sakura membuat Naruto tertegun dengan kedua mata terbelalak. Dia tidak mengerti, pikirannya buntu tak bisa memikirkan apapun.

Sakura kembali menatapnya dengan rona merah bertengger dipipi putihnya "aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu sekarang. Apakah kamu mengerti dengan ciuman yang baru saja aku berikan?" Naruto menggeleng "aku mencintaimu Naruto-kun" lanjutnya lagi. Dan entah kenapa dia mengangguk.

Brugh! Sakura memeluknya erat. Naruto masih terdiam tidak bisa berkata apa-apa sampai akhirnya dia tersadar dengan yang dilakukan Sakura dan anggukan kepalanya.

'Ehh…. Apa yang sudah terjadi? Sa….sakura mencintaiku? Eehhhh….' Pikirannya bingung. Ditatapnya Sakura yang berada dalam pelukannya seraya menutup kedua matanya 'Sakura, apa yang harus aku lakukan sekarang?'

Semua itu terjadi begitu cepat. Naruto tidak bisa melakukan apapun. Perlahan-lahan kedua tangannya terangkat membalas pelukan itu. Tanpa ia ketahui Sakura tersenyum 'syukurlah Naruto-kun'

.

Setelah kejadian tadi siang, Naruto merasa sedikit canggung dengan Sakura. Namun berbeda dengan wanita itu, dia senang merasa jika Naruto membalas perasaannya. Hanya dengan anggukan kepala yang dilakaukan Naruto telah membuat Sakura sebahagia itu. Hinata yang melihatnya senyum-senyum sendiri bingung dengan kelakuan bangsawan yang satu itu.

"Sakura kau tidak apa-apa?" tanya Hinata datang mendekat dibalkon kediaman nenek Chiyo.

"Eh Hinata. Aku sedang merasa bahagia"

"Benarkah? Apa yang membuatmu sebahagia ini?"

"Aku tadi menyatakan perasaanku pada Naruto-kun dan kau tahu dia menganggukan kepalanya. Bukankah itu berarti dia menerimaku. Hahaha aku senang sekali"

Deg… prang! Seketika hatinya pecah, terurai membuat luka baru disana. Sakit, sangat sakit. Itulah yang dirasakan Hinata setelah mendengar pernyataan Sakura barusan.

'Seharusnya…. Seharusnya aku tidak mendengar apapun darinya'

Hinata terdiam seraya menunduk menyembunyikan luka yang datang menghantamnya, kedua tangannya mengepal kuat "oh baguslah kalau begitu aku turut senang. Em, kalau begitu aku masuk dulu" ujarnya mencoba untuk terlihat biasa. Sedangkan Sakura, dia hanya tersenyum bahagia tidak perduli dengan perasaan Hinata.

Plas! Kakinya tidak berhenti berlari untuk kembali masuk kedalam hutan. Setelah mendengar perkataan Sakura yang terasa menyakitkan baginya Hinata pergi kehutan dengan membawa pedangnya.

Set! Set! Set! Hinata mulai mengayun-ngayunkan pedangnya. Gerakannya sangat lincah tidak seperti biasa. Sehabis lari dari kediaman nenek Chiyo Hinata langsung berlatih menggunakan pedang.

Jam sudah menunjukan pukul 05:00 sore, tetapi ia masih berada di hutan dan melanjutkan latihannya tanpa Naruto. Ya, itu adalah kebiasaan Hinata. Jika ia dalam masalah ataupun sakit hati latihan berat yang mampu menyalurkan rasa gelisahnya. Namun sepertinya sekarang cara seperti itu sudah tidak mempan lagi.

Tes! Tes! Byurr!

Hujan turun dengan deras, hanya dengan sedetik saja tanah sudah menjadi basah. Dibawah guyuran air hujan Hinata tidak berhenti melakukan latihannya. Nafasnya naik turun, terasa sesak yang amat besar didadanya. Tapi ia tidak bisa menghentikannya.

Perlahan-lahan matanya mulai memerah, air mata bercampur dengan air hujan. Meraasakan sakit dihati yang begitu mendalam.

Brugh! Kakinya menyerah sudah tidak bisa menopang berat tubuhnya sendiri. Hinata bertumpu pada pedang yang ditancapkan ditanah. Hujan terus saja mengguyur dirinya membuat ia basah kuyup. Namun Hinata seperti tidak merasakan apapun, hanya ada rasa sakit saat ini.

Hinata menangis dalam diam, air mata tidak berhenti mengalir. Lama ia dalam posisi seperti itu sampai Hinata merasakan dirinya tidak terguyur air hujan lagi. Ia mendongak melihat siapa gerangan orang yang datang kesana.

Seketika Hinata membeku ditempat. Orang yang paling ingin ia hindari sekarang justru malah ada didepannya.

"Na….naruto-kun?" lirihnya lemah.

"Hinata kau tidak melihat hujan lebat sekarang. Ayo kembali" ajaknya seraya menarik tangan Hinata.

Plas! Hinata melepaskan tangan Naruto "aku bisa sendiri" ujarnya dingin.

Mereka berdua berjalan dibawah payung bersama. Debaran jantungnya semakin meningkat saat situasi seperti ini.

"Kenapa kamu berlatih lagi? Bukankah tadi siang sudah cukup?" tanya Naruto penasaran.

Lama Hinata tidak menjawab pertanyaannya sampai Naruto menyentaknya "HINATA"

"A…..ah gomennasai. Aku hanya sedang menikmati latihannya saja" kilahnya.

"Seharusnya kau sudah kembali sebelum hujan turun. Kenapa masih ada disana? Apakah kau mau sakit lagi? Apakah kau…" pertanyaan demi pertanyaan dilayangkan oleh Naruto hingga membuat Hinata muak sendiri dengan kelakuannya yang seolah-olah memperhatikan dia tapi pada kenyataannya dia telah bersama dengan Sakura.

"CUKUP YANG MULIA, ANDA TIDAK PERLU MENANYAI APAPUN LAGI PADAKU" teriak Hinata dan berlari meninggalkan Naruto yang bingung disana.

.

.

Keesokan harinya mereka berempat ditambah dengan nenek Chiyo mulai berkumpul bersama. Ada sesuatu hal yang perlu Naruto katakan pada mereka.

"3 bulan sudah terlewati. Selama itu pula aku telah melatih kemampuanku. Hari ini aku sudah bertekad untuk kembali ke istana dan menjelaskan yang sebenenarnya pada Menma. Untuk itu aku perlu bantuan kalian semua. Aku yakin dengan kekuatan yang sudah kita asah bersama-sama kita akan bisa melawannya. Dan aku harap obaa-san bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya" ucap Naruto.

"Baik" semua menjawab dengan sigap kecuali nenek Chiyo yang masih mempersiapkan dirinya "baik saya akan mencoba menjelaskannya" balas nenek Chiyo.

Hari itu juga mereka berlima mulai berangkat menuju Istana Uzumaki. Hingga sekarang Hinata masih berdiam diri terhadap Naruto. Ia masih tidak sanggup untuk mentapnya ditambah dengan kejadian kamarin saat Hinata berteriak dan meninggalkan Naruto begitu saja.

'Baiklah mulai sekarang aku hanya akan melindungi sang raja saja'

Tbc…..

.

Arigato gozaimasu sudah membaca fic ini ^^v jika suka silahkan reviews ya :D jaa sampai jumpa lagi ^^v ^^/

.

Balasan reviews :

uzuhyu hinaru : hehehe bisa jadi bisa jadi nanti di pikirkan :D udah lanjut semoga suka ^^ arigato sudah ngereviews ^^v

ranmiablue : hehe sama-sama maksih juga udah baca^^ itu sudah pasti :)) arigato sudah ngereviews ^^v

Tsukasa : hahaha boleh boleh :D wkwk ga papa ko bagus juga makasih ya atas sarannya :D dan oh ya Tsukasa-san cowo toh kirain cewe heheh gomennasai :D arigato sudah ngereviews ^^v