Galerians, in.

A/N: Apdet ini jadi agak lama karena hamba menggabung setidaknya dua chapter sekalian. Maaf.

Hamba adalah penulis yang suka memberi character depth bahkan untuk karakter-karakter minor yang hanya muncul sebentar di manga aslinya. Lihat saja apa maksud hamba di chapter ini. Once again, this is a parallel universe fic.

Oh iya, bagi yang kesusahan membayangkan penampilan karakter-karakter sesuai deskripsi di fic ini, silakan lihat gambar yang hamba jadikan referensi (Ada di profile).

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Goes Working

Part 6

(The Truth is Revealed?! This is Not About Mission, This is a Big Brother's Pride!)

Beberapa helaian rambut coklat terbang menyapu angin ketika sebatang pisau kunai menyambit rumpunnya yang lebat dan jabrik. Sang pemilik, yang kini merunduk dengan satu kaki terlipat dan dan satunya lagi terentang, menghembuskan satu dari sekian banyak napas lega yang sudah berulang kali terlepas dari celah bibirnya dalam tempo satu jam ini.

Hembusan napas itu tertahan ketika sang pemilik, seorang remaja yang mengenakan hoodie biru muda, celana jins abu-abu dan sepatu kets hitam, kembali merasakan sesuatu mendekatinya dari suatu arah. Tanpa melihat atau menoleh, ia memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri dan mengangkat tangan kanannya sehingga objek yang tadi siap menembus kulit sekarang melayang melewati ketiaknya tanpa berhasil menciptakan luka.

Semua ini ia lakukan dengan selembar kain hitam yang terikat di kepala dan menutupi matanya.

Sesuatu dalam diri laki-laki yang masih belum selesai masa pubertasnya itu kembali membunyikan alarm bahaya, dan kali ini ia dapat merasakan bahwa siapapun penyerangnya telah memutuskan bahwa waktu main-main telah selesai dan melancarkan serangan bertubi-tubi yang datang dari segala arah.

Pemuda itu mengukur dan menimbang keadaannya. Kalau menilik kecepatan dan kelincahan yang ia miliki, dia masih punya kesempatan untuk menghindar walaupun benda yang memburunya bisa mencapai setengah kecepatan peluru yang meletus, tapi itu kalau dia cuma dihadapkan dengan objek tunggal. Melawan 10 objek yang menyerangnya dari beberapa sudut dengan kecepatan yang sama, sebaik apapun dia mencoba mengelak maka pada akhirnya nanti tubuhnya pasti akan berlobang juga. Dengan satu tarikan napas cepat, mau tak mau remaja itu harus mencampakkan strategi menghindar dan berpaling ke satu-satunya strategi dengan kesempatan terbesar dalam menjamin keselamatannya... tapi juga mengandung resiko paling tinggi.

Masih dengan posisi merunduk, remaja itu merentangkan tangan kanannya dengan satu gerakan cepat dan membuat setengah kepalan dengan melipat jarinya, dan ia mulai bergerak.

Pisau melayang pertama tiba-tiba kehilangan kecepatan ketika benda itu terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Belasan milidetik kemudian dan pisau kedua sudah ada di antara jari tengah dan jari manis.

Pemuda itu merentangkan tangan kirinya dan membuat setengah kepalan yang sama saat merasakan dua pisau yang melesat ke arahnya akan sampai dalam waktu bersamaan. Pisau ketiga dan keempat kini berhenti menjadi ancaman.

Tanpa punya kesempatan untuk menjatuhkan pisau-pisau yang sudah ada dalam jepitan jarinya, pemuda itu terus bergerak, otaknya dengan cepat menghitung bagian tangan yang mana yang masih bebas dan memerintah tubuh untuk bermanuver sesuai dengan informasi itu.

Sekarang, delapan pisau telah mengisi semua celah jarinya, membuat pemuda itu kehabisan ruang untuk menangkal dua pisau terakhir. Napasnya tertahan, mengetahui bahwa dua pisau itu sampai dalam waktu bersamaan, dilempar sejejer dan menuju ke kepalanya. Setelah sebuah renungan yang amat sangat singkat (0,5 detik), ia menjatuhkan putusan dan membuka mulutnya.

Satu dentingan benda keras terdengar, dan kini dua pisau terakhir sudah terjepit di antara giginya.

Belum sempat pemuda itu menghembuskan napas lega, suara tepukan tangan tertangkap oleh telinganya. Setelah sekali lagi memastikan kalau ia tidak akan dilempari dengan pisau lagi, pemuda itu berdiri tegak dan menjatuhkan sepuluh pisau yang sudah ia tangkal ke tanah.

"Bagus sekali, Tsuna! Kau masih hidup!" suara yang familier milik orang yang melatihnya terdengar. "Kau kreatif juga, menangkap kunai dengan gigi. Kalau aku sih pasti langsung menghindar tuh."

Pemuda itu melepaskan penutup matanya dan tersenyum masam. "Dapat pujian karena aku tidak mati... kayaknya hidupku makin tidak normal saja."

"Oi, senang sedikit kenapa?" sang pelatih, seorang remaja bertubuh tinggi dengan tanda lahir yang berbentuk kumis kucing di wajahnya, mendekati Tsuna sambil tersenyum lebar. "Paling tidak sekarang kan kau sudah tidak perlu latihan seperti ini lagi."

"Yah, benar juga sih..." sahut Tsuna sambil melirik puluhan (kuulangi lagi, PULUHAN) kunai yang bertebaran di sekeliling tempatnya berdiri sekarang. "...Rasanya susah untuk percaya aku masih hidup setelah latihan seperti itu."

"Namanya juga latihan level Jounin. Biasanya mereka saja pasti luka-luka kalau sudah mendapat latihan ini."

"Apa?! Level Jounin?! Latihan ini seberbahaya itu?!" Tsuna membelalak tak percaya ke arah orang yang melatihnya. "Kenapa aku baru tahu sekarang?!"

Si pelatih melirik muridnya dengan tatapan bingung. "Tapi kau kan nggak pernah nanya."

Tsuna mangap-mangap seperti ikan, kehabisan kata-kata. "Ahh, brengsek..." ia mengusap wajahnya yang berkeringat. "Aku lupa kalau kau memang tidak tahu logika, Naruto-san..."

"Oi, apa maksudnya tuh?"

"Maksudku adalah, kalau sudah tahu berbahaya, kenapa kau masih juga memberiku latihan ini?!" teriak Tsuna kesal. "...Tunggu, jangan jawab itu, ganti pertanyaan." Tsuna menarik napas lagi. "Kalau sudah tahu berbahaya, kenapa aku nggak boleh pakai Api Langit?!"

"Karena kalau begitu, latihan ini nggak ada artinya. Kalau tahu kamu sih, paling semua kunai itu kau lelehkan kan?"

Tsuna buang muka dengan wajah sedikit merona.

"...Tuh kan bener."

"T-tapi itu normal kan?! Memakai kemampuanku untuk bertarung itu hal yang normal kan?!"

"Iya bener, tapi kau lupa kalau sedang bertarung itu kau tidak hanya harus menyerang dan bertahan, tapi juga menghindar?" kata Naruto sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. "Walaupun secara teknis Api Langitmu memang tidak menghabiskan tenaga, tetap saja kau bakal boros energi kalau hanya bisa menyerang dan bertahan."

"Oke, aku mengerti, tapi itu tidak menjelaskan kenapa aku harus pemakai penutup mata."

"Karena hanya dengan begitu kita bisa tahu apakah tujuan latihan ini sudah dipenuhi atau belum."

"Ah, benar juga. Sampai hari ini kau masih belum menjelaskan apa tujuan latihan ini."

Naruto hanya tersenyum tipis. "Tidak usah buru-buru. " Naruto menunjuk ke arah tepian tanah kosong tempat mereka sedang berdiri sambil melempar sebuah botol air pada Tsuna. "Minum dulu gih. Kau sedang dehidrasi ringan. Lagipula penjelasan ini bakal sedikit panjang jadi kusarankan kita duduk di tempat teduh dulu."

Tsuna mengangguk patuh sambil mengikuti Naruto yang sudah mendahuluinya. Setelah duduk dan minum beberapa teguk air yang kepalanya menjadi jauh lebih jernih, ia menatap Naruto dan menunggu.

"Tsuna, kau tahu soal Vongola Chou Chokkan (Intuisi Hiper)?"

Belasan detik berlalu sebelum Tsuna menggeleng pelan setelah mengobrak-abrik ingatan dan pengetahuannya dengan sia-sia.

Naruto mencubit dagunya sambil berusaha memikirkan penjelasan paling sederhana. "Baiklah, kau tahu Spiderman?" melihat anggukan Tsuna, Naruto segera melanjutkan. "Ingat soal Spider Sense?"

"Itu yang bikin Spiderman bisa merasakan bahaya kan? Apa hubungannya?"

"Memang sedikit beda, tapi kegunaan Vongola Chou Chokkan kurang lebih sama seperti itu. Hanya jauh lebih hebat lagi." kata Naruto sambil menyandarkan tubuhnya ke pohon. "Chou Chokkan adalah kemampuan khusus yang bisa membuat seseorang mendeteksi bahaya, merasakan niat jahat seseorang, bahkan sampai mengetahui apa yang ada dalam benak orang lain. Dalam pertarungan, kemampuan ini bisa membuat penggunanya bisa merasakan bahaya, mengetahui serangan datang dari mana, bahkan waktu yang diperlukan sampai serangan itu bisa mencapai tubuhnya."

"Jadi..." mata Tsuna melebar saat ia berhasil mencapai kesimpulan. "Latihan kita seminggu ini..."

"Yep. Latihan ini dimaksudkan untuk membuatmu bisa memakai kemampuan itu dengan lebih baik." sahut Naruto. "Chou Chokkan adalah sebuah kemampuan yang diturunkan secara genetik dan hanya bisa ditemukan dalam Vongola Famiglia, tapi hanya segelintir orang yang memiliki kemampuan ini. Bahkan, menurut Reborn tak pernah ada keturunan Vongola yang bisa menyamai level Vongola Primo dalam soal penggunaan Chou Chokkan." Naruto menoleh ke arah Tsuna. "Atau tepatnya, tak pernah sampai dia bertemu kau."

Tsuna memiringkan kepalanya, sebuah tanda tanya muncul di samping kepalanya. "Jadi... aku juga bisa memakai Vongola Chou Chokkan?"

Naruto menggepok kepala Tsuna. "Yep, dan potensimu bahkan jauh lebih besar daripada Vongola Nono yang tersohor sebagai pemakai Chou Chokkan terkuat kedua setelah Vongola Primo. Kau pikir untuk apa lagi kau harus berlatih?"

"Tapi kalau begitu... kenapa aku tidak boleh pakai Api Langit?"

"Karena kau memang tidak perlu Api Langit untuk memakai Chou Chokkan," tandas Naruto. "Intuisi adalah kemampuan pasif yang bekerja di bawah alam sadar. Cara kerjanya hampir sama seperti insting, hanya aktif saat dibutuhkan. Yah, memang kalau kau memakai Api Langit maka Chou Chokkan juga akan lebih kuat, tapi untuk melatihnya kau harus dalam keadaan normal. Coba pikir deh, memangnya kau bisa merasakan bahaya atau tahu serangan akan datang darimana sebaik sekarang sebelum kau menerima latihanku?"

Tsuna bahkan tak perlu berpikir untuk menjawab pertanyaan itu, makanya dia langsung menggeleng. "Tapi aku masih tidak percaya aku punya kemampuan sehebat itu..."

"Mau lihat buktinya?" Naruto nyengir lebar, lalu tanpa peringatan ia melempar sebuah kunai secepat yang ia bisa ke arah Tsuna yang duduk tidak seberapa jauh darinya.

Senyum Naruto makin lebar saat melihat kunai itu gagal melukai targetnya, karena kini benda itu sudah terjepit di antara jari Tsuna.

"Naruto-san! Kalau niat melukaiku tolong kasih peringatan dulu dong!"

"Ho, dari mana kau tahu aku berniat melempar kunai itu?" raut wajah Naruto dipenuhi kepuasan saat melihat Tsuna tersadar dengan apa yang baru ia lakukan. "Nah, itu buktinya. Aku tidak mengatakan atau menunjukkan apapun, tapi kau bisa tahu niatku dan berhasil menangkap kunai itu. Seminggu yang lalu, dengan jarak segini, kau tidak akan sempat mengelak kalau diserang mendadak."

Tsuna terdiam saat ia menyadari betapa besar kemajuan yang ia dapatkan karena sudah dilatih oleh Naruto... dan hanya dalam tempo satu minggu. Ia mengakui, walaupun figur kakaknya itu sering bertingkah konyol dan tidak karuan, dia adalah seorang guru yang sangat baik dalam hal melatih. "Bagaimana dengan Negi? Sudah ada kemajuan?"

Tanpa menjawab, shinobi itu membentuk sebuah segel untuk menghilang salah satu Kagebunshin yang ia tempatkan di area latihan Negi sebagai supervisi latihan bocah itu. Setelah informasi ia dapatkan, wajahnya tiba-tiba agak memucat. "...Untung kita latihannya di tengah-tengah hutan."

"Hah?" Tsuna menoleh bingung. "Kenapa? Ada apa?"

Naruto berdiri dan mulai berjalan ke suatu arah. "Lebih baik kau lihat sendiri. Ayo."

Saat mereka mencapai tujuan, reaksi yang ditunjukkan kedua pemuda itu beda-beda. Tsuna ternganga lebar sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling tanpa berusaha menyembunyikan sinar takjub di matanya. Sedangkan Naruto... hanya sweatdrop.

"Nii-san!" suara anak kecil menyapa kedua remaja itu, datang dari seorang anak berambut merah yang berlari menghampiri mereka dengan senyum lebar di wajahnya. "Bagaimana?! Aku hebat kan?!"

"Kau memang hebat, Negi," sahut Naruto sambil mengacak-acak rambut bocah itu, tak menggubris Tsuna yang masih saja meleng kesana kemari sambil terus ternganga. "Tapi Negi, kau ingat tidak berapa jumlah pohon yang kusebutkan minggu kemarin?"

Negi menggaruk pipinya. "Emm..."

"Satu, oke? Cuma satu." Naruto sekali lagi melihat ke alam yang hancur di sekelilingnya. "KENAPA KAU MALAH MERUBUHKAN 20 POHON?!"

"Ehh, ituu..." Negi melihat ke arah lain. "Ehh... karena aku sedang senang?" dan dia mendapat satu gebokan di kepala.

"Senang sih senang, tapi ini mah namanya bikin kerusuhan!"

"Ehh, eheheh... ups?"

"JANGAN CUMA BILANG "UPS", BEGO!"

~•~

Kakinya menapak bumi dengan langkah-langkah gontai yang tak menyimpan tenaga, menyusuri tanah gersang yang kering, berlapiskan hanya debu dan bebatuan. Kakinya yang tak beralas menapak permukaan batu yang tajam, namun laki-laki itu terus berjalan seakan tak peduli pada rasa sakit yang ia rasakan. Kedua mata biru langitnya terbuka dan sinarnya kosong seakan tak melihat apa-apa, menerawang ke depan ke suatu tempat yang belum bisa dipandang namun ia tahu akan segera nampak.

Kekosongan mengelilinginya dalam sunyi dan dingin, di tempat di mana tak ada angin berhembus dan debu yang terbang. Kesunyian yang begitu kental dan tebal membuat suara kakinya yang menyapu tanah terdengar jauh lebih nyaring dari seharusnya, membuatnya merasa begitu kesepian. Begitu kesepian.

Di tempat yang tak bisa diraih cahaya ini, langit hanya merupakan lapisan hitam yang tak berawan, tak berbintang, tak berbulan. Pendar kebiruan terlihat di cakrawala, sebuah warna muram yang hanya memberikannya keputusasaan dan kesedihan.

Tapi dia terus berjalan. Terus melangkah maju ke depan walaupun ia tahu hal macam yang akan ia temukan.

Ia tak tahu sudah berapa lama ia berjalan. Mungkin belasan jam? Atau sudah belasan hari? Tapi pemuda itu tak menyerah, ia terus memaksa kakinya melangkah karena ia tahu kalau tempat ini takkan memanggilnya tanpa sebuah tujuan. Dan perlahan-lahan, ia mulai bisa melihat bintik-bintik di kejauhan.

Setelah langkahnya hitungan mencapai entah keberapa ribu, objek-objek yang semula hanya berupa bintik di kejauhan itu mulai berubah menjadi bentuk-bentuk yang membuat hatinya serasa dikuras. Kristal-kristal dengan permukaan tak beraturan namun cukup transparan sampai isinya bisa terlihat jika seseorang memusatkan cukup perhatian.

Satu pandangan ke dalam kristal-kristal itu cukup untuk membuat sang pemuda jatuh ke tanah dan hampir memuntahkan isi perutnya yang sebenarnya kosong.

Wajah. Puluhan wajah yang pucat dan dingin dan tak bernyawa, terkurung di dalam kristal seperti orang yang dihukum dalam keabadian dan tak dibiarkan kembali ke tanah sebagaimana mereka semula diciptakan.

Dan datanglah hal yang semakin membuat sang pemuda semakin tak mampu menahan agar isi perutnya tidak tumpah keluar.

"AAHHH!"

"Aku tidak mau mati! Aku masih mau hidup!"

"Jangan! Tolong jangan lakukan ini!"

"Tolong! KUMOHON, SESEORANG TOLONG AKU!"

"Kenapa ini terjadi...?!"

Ratusan suara yang berbeda menyerangnya dari berbagai arah, meneriakkan jeritan keputusasaan, rintih ketakutan, dan isak kesedihan. Pemuda itu menutup telinganya dan melolong sekuat tenaga, namun suara-suara itu terus memburunya tanpa ampun, membakar dan mencabik jiwanya dalam siksaan yang tak bisa digambarkan kata-kata.

Penderitaan pemuda itu baru berhenti ketika telinganya menangkap sebuah suara, terisak pelan seperti anak kecil yang baru kehilangan mainannya, satu suara yang ia kenal baik. Setelah dengan usaha keras berdiri dan memastikan kakinya tak goyah, pemuda itu kembali melanjutkan perjalanannya, berusaha menenggelamkan semua lolongan lain dan berkonsentrasi pada suara isakan kecil itu.

Dia tak tahu sudah berapa lama ia berjalan menyusuri hutan kristal yang seakan tak berujung itu, mencari sebuah suara di antara semua jeritan penuh penderitaan yang tidak jarang terasa seperti menyerap energi dari seisi tubuhnya. Namun usahanya tak kenal menyerah akhirnya membuahkan hasil, karena di ujung pandangannya mulai terlihat sebuah petak kosong di antara bongkahan-bongkahan kristal.

Di sana duduk seorang bocah kecil, tangisannya membuat tubuhnya gemetaran dan rambut pirangnya yang berantakan berayun-ayun. Tapi ketika ia mendengar suara orang mendekat, anak itu mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

Naruto tak tahu harus merasakan apa saat dia menatap dua mata biru langit yang serupa matanya sendiri.

Ketika anak itu mengangkat tangannya dan menunjuk ke suatu arah, Naruto langsung tahu alasan mengapa dia dipanggil ke tempat ini. Setelah menutup mata dan menarik napasnya beberapa kali untuk mengumpulkan setidaknya sedikit keberanian, Naruto berpaling ke arah yang ditunjuk anak itu dan membuka matanya.

Hatinya membeku saat melihat Inari berdiri tak seberapa jauh darinya, satu tangannya sudah ditelan oleh bongkahan kristal yang memenuhi tempatnya berdiri sekarang.

~•~

"...!"

Dengan napas yang tersengal dan mata melebar ngeri, Naruto terbangun dari tidurnya. Dia sama sekali tak menyangka akan melihat hal ini ketika dia memutuskan untuk tidur siang.

Tubuhnya yang hanya dibalut baju kaos hitam berlengan panjang basah kuyup oleh keringat yang terasa lengket dan tidak enak di badan, napas-napasnya yang tak beraturan diiringi oleh tetesan keringat yang berjatuhan dari ujung dagunya. Namun otak Naruto bahkan belum sempat memproses kondisi tubuhnya sendiri saat rasa terkejut, takut, dan trauma yang berasal dari mimpinya kembali menyerang tanpa ampun, membuat pemuda itu harus menutup mulut dengan kedua tangan ketika makanan yang belum sempat dicerna oleh lambung dan cairan empedu yang pahit hampir meledak dari kerongkongannya.

Tapi sekarang dia tak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri. Setelah dengan paksa menelan kembali apapun yang sudah sampai ke tengah kerongkongannya sampai kedua matanya berair, Naruto segera berdiri dan berlari keluar kamar, melompati seluruh anak tangga sekaligus, dan bergegas menuju pintu dapur tanpa mempedulikan sengatan di kakinya.

"Oh, Nii-san...! Cepat duduk, Tsunami-neesan sudah hampir selesai memasak!" suara riang Negi adalah yang pertama terdengar telinga Naruto setibanya di ruangan itu. Tapi senyum lebar yang terpasang di wajah anak sepuluh tahun itu mulai berkurang ketika melihat raut seram yang terpasang di wajah kakaknya. "...Nii-san?"

"MANA INARI?!" teriak Naruto, mengejutkan semua orang dan menghancurkan suasana santai di ruangan itu.

"Naruto?" Tazuna yang duduk di samping Negi mau tak mau mulai merasa khawatir. Dia mungkin baru kenal remaja itu hanya beberapa hari silam, tapi itu sudah cukup baginya untuk mengetahui kelakuan Naruto sekarang adalah sebuah indikasi bahwa ada sesuatu yang salah... SANGAT salah. "A-ada apa? Ada apa dengan Inari?"

Tsuna yang jauh lebih tanggap karena latihannya selama seminggu di bawah figur kakaknya itu segera berdiri, mengacuhkan pandangan bingung yang dilempar oleh ketiga orang lain di dalam ruangan itu ketika wajahnya berubah sangat serius. "Inari bilang kalau dia mau main bola dengan teman-teman satu sekolahnya." ia memandang Tazuna dan bertanya dengan nada suara yang sama sekali tidak mengizinkan bantahan. "Tazuna-san, di mana Inari biasa bermain?"

Tazuna, yang mulai menyadari keseriusan situasi ini, berusaha menjawab walau suaranya terbata-bata. "D-di lapangan bola di pinggir kota."

Wajah Naruto semakin bertambah panik saat ia memutar otaknya. "Kapan biasanya dia pulang?!"

"H-harusnya, jam segini dia sudah di rumah..." kali ini jawaban datang dari Tsunami yang sudah lama mengalihkan perhatian dari masakannya. "L-Lagipula, Inari bilang kalau tahu jalan pintas melalui hutan supaya dia bisa sampai rumah lebih cepat dan-"

Pekikan pelan terdengar dari Tsunami ketika udara di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi jauh lebih berat dan menyesakkan napas. Dengan mata yang melebar ketakutan, ia mengangkat wajah untuk menatap penyebabnya, dan ia harus menutup mulutnya agar tak menjerit ketakutan saat melihat ekspresi paling menyeramkan yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.

"Tsuna," suara itu terdengar begitu tenang... tapi itu semua hanyalah kepalsuan karena di dalam suara itu ada sebuah nafsu membunuh yang begitu pekat sampai-sampai semua orang lain di ruangan itu merasa bisa melihat rembesannya di udara. "Ikuti aku. Jangan pakai kekuatan apapun sampai kau yakin tidak ada orang yang bisa melihatmu. Dan kau, Negi, jangan tinggalkan rumah. Jangan buka pintu untuk siapapun kecuali aku dan Tsuna. Kalian mengerti?"

Tsuna dan Negi hanya bisa menganggukkan kepala mereka karena kedua orang itu tak yakin apakah mereka bisa mengeluarkan suara di bawah tekanan udara yang membuat kepala mereka pusing dan napas mereka sesak itu. Mereka bahkan tak bisa bereaksi ketika shinobi pirang di depan mereka tiba-tiba sudah menghilang dari depan pintu.

Tekanan udara perlahan kembali normal, membuat keempat orang yang tersisa di dapur rumah Tazuna itu bisa melepaskan udara yang sejak tadi terperangkap di dalam paru-paru mereka secara bersamaan. Negi yang pada akhirnya mengerti kenapa kakaknya yang paling tua berlaku demikian segera menatap Tsuna dengan wajah yang mulai memucat. "Tsuna-niisan..."

Tsuna menarik satu napas panjang demi menenangkan detak jantungnya yang semakin tidak beraturan sembari merogoh kantong celananya untuk memastikan kalau sarung tangan kepercayaannya masih ada di dalam sana. "Negi, kau dengar apa yang dikatakan Naruto-san. Jangan tinggalkan rumah. Jangan sampai lengah, dan jangan biarkan Tazuna-san dan Tsunami-oneesan dalam bahaya. Mengerti?"

Tsuna menatap Negi tajam-tajam agar anak itu tahu bahwa dia sama sekali tidak bercanda. Tapi tangan seseorang yang mencengkeram lengannya membuat perhatian remaja 14 tahun teralih, ke arah Tsunami yang menatapnya dengan ketakutan dan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Tsunami-oneesan..."

"Anakku...!" perempuan itu memekik dengan bibir yang gemetaran. "Ada apa dengan anakku...?!"

Tsuna meraih tangan wanita yang shock itu dan meremasnya pelan. "Jangan khawatir, Nee-san." Ia melirik pintu dapur yang terbuka seakan masih bisa melihat siapa yang berdiri di situ hanya belasan detik sebelumnya. "Aku tahu wajah itu. Dan kuberitahu padamu, kalau Naruto-san sudah memasang wajah seperti itu, setan atau iblis sekalipun akan berpikir dua kali sebelum menghadapinya."

Tsuna mengedarkan pandangannya ke semua orang di dalam dapur itu. "Kalau itu masih belum cukup, maka kupertaruhkan nyawa dan namaku sebagai Vongola Decimo. Demi nama Langit, aku bersumpah Inari akan pulang kembali ke rumah ini."

Dan dengan itu ia keluar dari rumah dan berlari secepat yang ia bisa, suara debam pintu terdengar sayup-sayup di belakangnya.

~•~

Sebenarnya, Zouri tak pernah menginginkan hal ini. Dia tak pernah ingin menjadi samurai, dia tak pernah ingin belajar menggunakan pedang, dia tak ingin menggunakan ilmu pedangnya untuk melukai orang lain... dan yang paling utama, dia tak pernah ingin bekerja untuk Gato.

Namun dia bisa berkata apa? Keluarganya yang sangat kolot dalam soal tradisi memaksa hampir setiap generasinya untuk menjadi seorang samurai walaupun jaman sudah tak memerlukan mereka lagi. Apa gunanya pedang kalau peluru dan senjata api sudah diciptakan? Apa gunanya memiliki jiwa bushido kalau dunia jaman sekarang sudah hampir tak mengenal apa yang namanya harga diri karena semuanya mementingkan uang?

Uang. Ya, di dunia jaman sekarang hampir semuanya memerlukan uang. Orang-orang yang mengatakan bahwa uang tak bisa membeli kebahagiaan adalah orang-orang yang hipokrit, karena mereka tak tahu bagaimana rasanya menjadi orang miskin. Mereka tak tahu bagaimana rasanya ketika satu keluarga harus berbagi bubur yang direbus dari semangkuk nasi dan garam. Mereka tak tahu bagaimana rasanya ketika harus memakai baju bekas yang sudah bolong di sana-sini. Mereka tak tahu bagaimana rasanya ketika semua teman adikmu mencemoohnya karena kau tak punya uang bahkan untuk membelikannya bahkan satu buku pelajaran.

Mereka tak tahu bagaimana rasanya melihat keluargamu meninggal satu persatu karena tertular penyakit mematikan dan tak bisa membayar pengobatan.

Sejak hari itu, hari di mana dia harus mengubur ayah, ibu, dan adik perempuannya dengan tangannya sendiri, Zouri bersumpah untuk membuang jiwa bushidonya dan terus bertahan hidup, tak peduli apapun yang harus dia lakukan.

Dan sekarang, di sinilah dia, mengejar seorang anak kecil karena bosnya menginginkan seorang tawanan yang bisa dijadikan "aset" untuk perundingan dengan si bapak tua yang memimpin pembangunan jembatan yang akan menghubungkan kota Nami dengan pulau utama. Dan beruntungnya mereka, anak kecil pertama yang mereka temukan ternyata adalah cucu si pak tua itu sendiri.

Ingin rasanya Zouri mendengus, dia mungkin bukan orang yang paling pintar, tapi itu bukan berarti dia bodoh. Dia sudah mendengar kabar-kabar tak mengenakkan sejak mulai bekerja untuk Gato, dan sedikit penyelidikan yang ia lakukan membuat Zouri tahu alasan sebenarnya mengapa Gato ingin menculik seorang anak kecil. Perlu hampir seluruh kekuatan mental Zouri pada saat itu untuk tidak mencabut pedangnya dan memenggal kepala pengusaha yang telah berani memanfaatkannya demi memenuhi nafsu bejatnya sendiri itu.

Zouri tiba-tiba tersentak dari renungannya ketika ia mendengar suara anak kecil menjerit kesakitan, dan dia tak perlu waktu lama untuk menemukan asalnya. Tersandar ke batang sebuah pohon, bocah kecil yang mereka kejar kini menangis sambil memegangi tangan kanannya, di mana sebuah luka memanjang masih mengucurkan darah segar dan mengotori baju anak itu. Ekspresi Zouri mengeras dengan tiba-tiba ketika melihat darah yang masih menetes dari ujung pedang rekannya.

"Ohh, Zouri, lama sekali kau. Aku sudah tidak sabar untuk-" samurai bertato dengan nama Waraji dan merupakan salah satu bodyguard Gato itu tak melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba sisi tajam pedang sang rekan sudah menempel ke lehernya. "Zouri? Sedang apa kau?"

"Kenapa kau melukai anak ini?" desis Zouri.

"Kenapa? Memangnya aku perlu alasan?" Waraji menjawab sekenanya. "Gato menyuruh kita mencari anak kecil sebagai tawanan, tapi dia tidak pernah bilang kalau kita harus membawanya utuh-utuh." Waraji melirik Inari dengan tatapan seorang pemangsa. "Dan kulit anak kecil sepertinya begitu halus dan mulus... aku tak tahan kalau tidak menyayatnya paling tidak sekali."

Zouri kembali menekankan pedangnya ke leher Waraji sampai mengeluarkan darah sebagai peringatan pada samurai maniak itu. Ia menatap rekannya tajam-tajam, hanya untuk dibalas dengan sengiran tanpa penyesalan. Merasa tindakannya sia-sia, Zouri menyarungkan pedangnya kembali sambil berjalan menghampiri si bocah yang gemetaran, namun tidak sebelum melemparkan satu kalimat pada Waraji. "Kau benar-benar membuatku jijik."

Zouri tidak melihat apa respon Waraji karena sekarang perhatiannya terpusat pada Inari yang terluka. Hatinya terasa seperti diiris sesuatu saat melihat rasa takut di mata anak itu ketika ia meraih tangannya. "Jangan melawan." Zouri berkata pelan sebelum memeriksa luka sayatan di tangan Inari. Syukurlah, setidaknya tebasan Waraji tidak terlalu dalam sampai bisa membahayakan nyawa anak ini.

Samurai itu meraih lengan bajunya dan merobeknya dengan satu tarikan, sebelum kembali merobeknya secara vertikal. Dengan kain itu, ia mulai bekerja membalut luka Inari, hati-hati agar tidak mengikatnya terlalu kuat hingga menghambat peredaran darah tapi cukup untuk menghentikan pendarahan.

"Oi, Zouri, kenapa juga kau harus membalut lukanya? Kenapa tidak dibiarkan saja, atau yang lebih bagus, ditambahin lagi lukanya?"

"Karena kalau dia mati, tak ada gunanya dia dijadikan tawanan," Zouri menghembuskan napas kesal. "Lagipula, aku bukan kau. Aku tidak belajar ilmu pedang hanya agar aku bisa memotong tubuh orang."

"Bah, membosankan. Apa asyiknya punya pedang kalau tidak digunakan?" Waraji tersenyum sinis pada Zouri. "Lagipula, kau lupa kalau kau sendiri yang dulu mengeksekusi ayah anak ini?"

Si bocah yang dari tadi hanya menunduk sambil terus menangis mengangkat wajahnya setelah mendengar itu. Wajahnya yang masih belia dan polos dipenuhi oleh kebencian mendalam sampai-sampai kedua samurai yang menghadapinya terkejut karena tak menyangka seorang anak kecil bisa membuat ekspresi semacam itu.

"Kau yang membunuh Otou-chan..." Inari mendesis dengan gigi gemeretak menahan marah. "KAU YANG MEMBUNUH OTOU-CHAN!" ia berlari dan mulai memukuli Zouri dengan segenap tenaganya.

"Zouri!" Waraji bersiap mencabut pedangnya untuk menebas anak kurang ajar itu, tapi berhenti saat melihat rekan sesama samurai itu mengangkat tangannya.

"Jangan ikut campur! Biar kuurus sendiri!"

Namun walau sudah berkata demikian, samurai bertopi hitam itu sama sekali tidak memberikan perlawanan dan terus membiarkan Inari memukulinya. Peristiwa itu terus berlangsung beberapa lama, sampai Zouri sudah duduk tersandar di sebuah batang pohon selagi Inari menduduki perutnya dan terus melayangkan tinju ke wajahnya walaupun kedua tangan yang kecil itu bahkan tak punya cukup tenaga untuk membuat memar di wajah sang samurai. Tidak butuh waktu lama untuk bocah yang usianya tidak sampai sepuluh tahun itu kehabisan napas dan tenaga, membuat pukulannya tak lebih dari tepukan ringan.

"Kau sudah puas, bocah?" tanya Zouri sambil meludah sedikit darah ke samping.

"...Kenapa...?" tetesan demi tetesan air mata terus berjatuhan dari wajah Inari yang tak henti mengayunkan tinjunya walau ia sudah tak bertenaga. "Kenapa kau membunuh Otou-chan...? Dia salah apa pada kalian...?"

"Aku membunuhnya karena seperti itulah perintah bosku. Tidak kurang, tidak lebih."

Inari terus terisak. "Ini tidak adil... Kenapa orang baik seperti Otou-chan harus mati dan orang jahat seperti kalian terus hidup...?"

Zouri harus menutup matanya rapat-rapat ketika kata-kata anak kecil itu memberi efek yang jauh lebih hebat dari perkiraannya. Ketika matanya terbuka lagi, ia berdiri sambil mengangkat tubuh Inari dan memanggulnya. "Dunia ini tak pernah adil, nak. Jadikan itu sebagai pelajaran."

Samurai itu memutar tubuh dan sudah bersiap untuk melakukan perjalanan kembali ke markas ketika hatinya tiba-tiba diisi oleh firasat buruk. Walaupun instingnya sudah memberi pertanda bahaya, Zouri sama sekali tak sempat memberi reaksi ketika sekelebat bayangan rambut pirang muncul di pandangannya dan sebuah pukulan mendarat di perutnya.

"Ahg...!" saluran napas samurai itu terhambat sejenak, membuat posisinya oleng dan tak mampu berbuat apa-apa ketika penyerangnya merebut tubuh Inari dari panggulannya. Dengan wajah mengernyit menahan sakit, ia melihat bahwa kini kumpulan orang di tengah hutan itu telah bertambah satu: seorang lelaki remaja berambut pirang yang mengenakan kaos hitam berlengan panjang.

"N-Naruto-oniichan...?" bisik Inari pelan. "Onii-chan...!"

"Yo, Inari. Sori telat." Naruto menurunkan bocah itu dan berlutut di depannya, mata birunya bergerak kesana kemari untuk mengamati kondisi sang anak. Terlihat olehnya kalau tangan kanan Inari dibalut oleh kain yang masih merembeskan cairan merah. Satu pandangan ke arah dua samurai yang ada di sana sudah cukup bagi Naruto untuk tahu siapa yang sudah melakukan hal itu pada Inari.

"Naruto-oniichan, dia...! Dia yang...!"

"Aku tahu," jawab Naruto segera sembari melempar tatapan dingin ke Zouri. Tapi ekspresinya itu hanya bertahan sebentar, karena sebuah senyum sudah terpasang di wajahnya ketika ia menghadap Inari lagi. "Nah, sekarang kau jalan ke arah sana ya. Jangan berhenti sampai kau bertemu Tsuna, oke?"

"Eh? Tapi, Onii-chan..." Inari melirik orang yang mulai dianggapnya kakak sendiri itu dengan cemas.

"Tenang saja," sahut Naruto singkat sambil berdiri membelakangi Inari. "Biar aku yang mengurus ini. Cepat pergi sana."

Inari melempar satu lirikan lagi ke arah pemuda berkaos hitam itu sebelum berbalik dan mulai berjalan ke arah yang ditunjukkan Naruto. Dia tak pernah sekalipun sempat melihat bagaimana kemampuan Naruto yang sebenarnya, tapi entah kenapa ia yakin bisa mempercayai kakaknya itu.

"Oi, oi, Zouri, bagaimana ini? Tawanan kita kabur tuh," si samurai bertato berkata dengan sedikit kekesalan tersimpan dalam suaranya.

Yang diajak bicara sendiri tidak menjawab, dia sendiri terlalu sibuk karena mencoba membuat keputusan apakah dia harus tetap berusaha menyelesaikan tugasnya... atau kabur saja sekalian. Laki-laki di depannya, walaupun kalau dilihat dari postur tubuh dan raut muka pasti hanya masih remaja, entah mengapa membuatnya sangat ketakutan. Dia masih ingat betul kapan pertama kali ia pernah merasa takut ini, dan kalau firasatnya benar, maka pemuda di depannya ini mungkin sama, atau malah lebih berbahaya daripada Zabuza.

Ketika perhatian Zouri masih teralihkan oleh pergolakan batin, rekannya yang sudah tak sabar mengambil kuda-kuda dan merendahkan tubuhnya sambil menggenggam gagang pedangnya erat-erat dalam posisi awal Iaiken. Ia baru tersadar saat semuanya sudah terlambat.

"Tunggu, Waraji...! Jangan-"

SING!

Senyum maniak yang terpasang di wajah Waraji berubah semakin lebar ketika dia melihat cipratan darah melayang di udara. Tetapi dahinya segera berkerut saat ia sadar kalau sang lawan sama sekali tidak terluka.

Lalu matanya jatuh ke kunai yang ada di genggaman pemuda pirang itu.

Suara berkelentang terdengar di telinga ketiga orang yang sedang berdiri di tengah hutan itu. Wajah Waraji berkeriut bingung saat menemukan kalau asal suara itu adalah pedangnya sendiri, yang kini sudah teronggok di rerumputan. Tapi rasa terkejut saat itu tidak akan bisa tertandingi dengan apapun yang ia rasakan saat melihat empat benda lain yang ada di samping pedangnya...

Paras Waraji berubah pucat pasi saat ia mengangkat tangan kirinya, tangan yang selalu ia pakai untuk menggenggam gagang pedang... karena kini tangan itu hanya tinggal memiliki ibu jari.

"AAHHH!" samurai bayaran itu melolong panjang, matanya tak bisa berpaling dari jari-jari puntungnya yang mulai mencurahkan darah. "BRENGSE-"

Waraji bahkan tak sempat menyelesaikan umpatannya ketika ia melihat sang lawan berkelebat memburunya. Gerakan yang terlalu cepat itu membuatnya tak punya kesempatan untuk bereaksi. Suara derak nyaring adalah satu-satunya indikasi yang bisa Waraji dapatkan ketika sebuah kaki menghantam dadanya, mematahkan hampir setengah tulang-tulang rusuknya, dan mementalkannya ke permukaan sebuah batang pohon.

Otak samurai bertato itu kembali tak diberi waktu untuk benar-benar mengidentifikasi rasa sakit yang dihasilkan oleh jarinya yang puntung atau dadanya yang rusak ketika rasa sakit yang lain tiba-tiba menyerang syarafnya. Tangannya yang sudah kehilangan empat jari tiba-tiba saja terpaku ke pohon oleh 5 kunai yang tersebar di sepanjang lengannya, memaksa Waraji untuk kembali melepaskan lolongan malang yang panjang dan menyedihkan.

Campuran dari shock, rasa sakit, dan trauma yang tak tercapai nalar membuat otak Waraji kelebihan muatan dan akhirnya hilang kesadaran.

Rasa gugup, takut, dan panik sekaligus membuat peredaran napas Zouri semakin cepat dan tak beraturan. Keringat dingin yang tak berhenti mengucur dari sekujur tubuhnya membuatnya merasa tak nyaman, dan semua itu disebabkan hanya oleh peristiwa yang memakan waktu tidak sampai satu menit di depannya.

Ketika mata biru langit itu jatuh kepadanya, Zouri langsung tahu bahwa tak peduli seperti apapun instingnya berteriak agar dia berbalik dan kabur sekarang juga, samurai itu takkan bisa mengelak dari jerat takdir yang sudah siap memasung lehernya.

Napas yang berhamburan berubah menjadi beraturan, tubuhnya yang tegang berubah menjadi santai. Tangannya yang gemetaran kini tenang, dengan perlahan terangkat untuk menggenggam sebuah gagang pedang.

Dan dia maju menyerbu, tak menggubris fakta bahwa dia mungkin sedang berjalan menuju akhir hidupnya. Karena daripada bersikap seperti pengecut yang harus diseret ke medan perang, samurai itu lebih memilih bertatap muka dan merangkul kematian seperti layaknya sahabat yang lama tak jumpa.

~•~

Sekujur tubuhnya dibaluri oleh luka, dan napasnya yang putus-putus adalah pertanda bahwa tenaganya sudah lama terkuras habis. Kedua tangannya terkulai lemah di samping badan, tak mampu bahkan walau hanya untuk mengangkat sebuah pedang, tak peduli walaupun pedang itu sendiri kini sudah terbelah sampai hanya tersisa sepertiga dari panjang aslinya.

Bibirnya yang mulai pucat kembali dicemari oleh warna merah yang tersembur dari kerongkongannya, membuat sekujur mulutnya dipenuhi oleh rasa besi yang membuatnya jijik dan ingin muntah. Kesadarannya yang kian susah dipertahankan dan matanya yang semakin kabur membuat samurai itu tahu kalau akhir umurnya sudah sangat dekat.

Tapi yang membuatnya bingung, adalah mengapa sang lawan tidak menghabisinya juga. Alih-alih membunuhnya, pemuda itu sekarang malah hanya berdiri di depannya tanpa berbuat apa-apa dengan kunai yang sudah membelah pedangnya menjadi tiga.

"Hei..." Zouri membuka suara. "Kenapa kau belum membunuhku juga...?"

Sang shinobi di depannya hanya diam untuk sesaat, wajahnya yang berkeriut memancarkan gejolak batin seakan-akan pemuda itu sedang berusaha memutuskan sesuatu.

"Kenapa aku harus membunuhmu?"

"H-Hah...?" saking terkejutnya, Zouri bahkan hampir lupa untuk menarik napas. "Kau masih bertanya kenapa? Kau tahu sendiri kalau aku bekerja untuk Gato! Aku juga sudah membuat anak itu kehilangan ayahnya!"

"Oh, tidak usah bersikap bodoh di depanku. Aku tahu kalau eksekusi itu direncanakan oleh Kaiza sendiri, dan kau yang membantunya."

Kali ini Zouri benar-benar dipaksa membisu. Otaknya tak mampu mengolah kata-kata seperti program komputer yang mengalami crash karena salah satu rahasia yang paling dijaganya kini telah terbongkar.

"Apa? Kau lupa kalau aku seorang ninja?" tanya Naruto dengan nada sedikit tersinggung. "Begini-begini aku cukup yakin dalam kemampuanku mencari informasi. Dan aku sendiri cukup kaget saat tahu berapa banyak data yang kudapat hanya dengan sedikit samaran dan kata-kata yang tepat."

"K-kau tahu...?"

Naruto mengerutkan dahinya. "Kau bicara soal fakta bahwa rencana awal Gato adalah membunuh hampir setengah populasi kota Nami sebelum mengisolasi pulau ini, atau sangkaanku bahwa kau yang membeberkan rencana itu pada Kaiza?" raut wajah Naruto berubah sedikit saat melihat perubahan ekspresi Zouri. "Ho, jadi tebakanku memang benar. Memang kau yang memberitahu Kaiza."

"Sekarang, beritahu aku semua yang kau tahu."

Zouri membiarkan ada jeda sejenak di antara mereka sebelum memutuskan bahwa sekarang adalah gilirannya untuk bicara. Toh dia sudah hampir mati, jadi sudah tidak ada gunanya menyimpan rahasia. Setelah menarik satu napas panjang dan memperbaiki posisinya agar bisa sedikit lebih nyaman berbicara, ia mereka ulang peristiwa di malam dua tahun silam.

...

"APA?!" Kaiza meraung geram. "Dia mau menyerang kota ini?!"

"Ya." Zouri menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang. "Tengah malam ini."

"Brengsek...!" sang nelayan mengumpat keras. Tak ada suara yang keluar dari kedua pria di ruangan itu selama beberapa saat. "...Kami harus melawan."

"Oi."

"Benar, kami harus melawan. Gato mungkin saja sudah mengumpulkan bandit dan segala macam penjahat, tapi aku yakin kami menang jumlah." Kaiza berputar dan mulai berjalan ke pintu. "Aku harus memberitahu semuanya dan mulai bersiap-siap..."

"OI!" suara teriakan Zouri membuat langkah Kaiza terhenti. Nelayan itu dipaksa berbalik ketika samurai bertopi hitam itu menarik bahunya dengan paksa dan mencekal kerah bajunya. "Apa kau tidak dengar semua yang sudah kukatakan...?! Saat aku mengatakan kalau Gato sudah melakukan persiapan, dia tidak hanya mengumpulkan pasukan! Kau kira kalian yang hanya bekerja sebagai nelayan bisa melawan ratusan orang yang punya senjata tajam, pistol, dan peledak, hah?!"

"Kalau soal senjata api, kami juga punya kesatuan polisi-"

"Yang hanya punya sekitar 30 pistol! Yang persediaan pelurunya sudah hampir kosong karena disabotase oleh orang suruhan Gato! Yang markasnya sudah ditanami 10 bom dan siap diratakan ke tanah kapan saja!" potong Zouri kasar. "Jangan bersikap bodoh di depanku karena aku tahu kau punya otak! Kalau kalian melawan, maka aku jamin saat matahari terbenam besok takkan ada lagi pria yang tersisa di pulau ini, tua atau muda! Dan semua wanita yang tersisa akan dipaksa jadi budak nafsu semua bandit bayaran Gato! Mereka semua akan dipermalukan, dilecehkan, diperkosa, dan diperlakukan seperti binatang!"

Setelah berteriak begitu panjang, napas Zouri mulai tersengal dan ia jatuh terhenyak ke tempat duduk semula. Wajahnya yang sudah pucat kini berkeriut seperti orang yang menahan rasa jijik luar biasa. "...Semua anak yang tersisa akan dikirim ke rumah pribadi Gato, dan percayalah padaku, mereka akan dipaksa memenuhi semua nafsu bejat yang ada di otak monyet jahanam itu."

"A-apa...?"

"Semuanya tidak akan selamat. Termasuk istri dan anakmu."

Wajah Kaiza yang semula terisi oleh tekad untuk melawan, tekad untuk mempertahankan tempat yang sudah ia anggap sebagai rumah dan begitu ia cintai ini, digantikan oleh keputusasaan. Kakinya kehilangan tenaga dan pria itu jatuh terduduk ke tanah, menutupi wajahnya dengan tangan dan mulai terisak pelan.

Zouri sendiri menutup matanya rapat-rapat dan menggigit bibirnya sampai berdarah. Suara tangisan seorang pria dewasa yang sudah tahu asam garam kehidupan adalah salah satu hal paling memilukan yang pernah ia dengar. Ia ingin mengutuk Tuhan yang sudah memberi takdir yang begitu pedih pada orang-orang yang tak bersalah ini dan karena sudah menciptakan makhluk tak berhati seperti Gato, namun di atas itu semua, ia ingin mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa.

"...Oi," Zouri buka suara, siap mengatakan apa yang sudah ada dalam kepalanya ketika dia memutuskan untuk menemui Kaiza. "Kau harus kabur dari pulau ini."

"H-hah...?"

Zouri menghembuskan napas berat sebelum berdiri dan berjalan ke arah Kaiza. Ia menggenggam lengan pria itu dan dengan kasar memaksanya berdiri sebelum menariknya ke pintu. "Bawa keluargamu dan lari. Terserah kau mau pergi ke mana, yang penting tinggalkan pulau ini."

Kaiza menepis tangan Zouri. "Maksudmu aku harus kabur sendirian dan meninggalkan semua penduduk kota ini?! Kau pikir aku bisa melakukan hal seperti itu?!"

"Lalu apa lagi yang bisa kau lakukan, hah?!" hardik Zouri. "Semua bandit suruhan Gato sudah siap dan hanya tinggal menunggu tengah malam! Kau pikir mereka tidak akan tahu kalau seisi kota tiba-tiba mencoba kabur?! Kau pikir itu sudah cukup untuk mengubah keadaan?!"

"Tapi kalau aku kabur, bagaimana dengan nasib mereka semua?!"

"Kau tak punya pilihan! Kau bisa memilih kabur, atau memilih tetap di sini hanya untuk mati sia-sia, dan takkan ada siapapun yang bisa menyelamatkan istri dan anakmu dari hal-hal bejat yang akan mereka lakukan!" Zouri balas berteriak dengan panas. "Kecuali kau punya rencana yang lebih baik, turuti saja kata-kataku!"

Alih-alih mencoba mendebat atau menuruti perintah Zouri, Kaiza malah menutup matanya rapat-rapat dan tenggelam dalam renungan. Saat mata nelayan itu terbuka kembali, sorot matanya menunjukkan sebuah tekad... dan sebuah keputusan. "...Ada cara lain."

"Hah...?"

"Dengarkan aku..."

Belum sampai lima menit berselang, ekspresi Zouri telah berubah menjadi kemarahan dan ketidakpercayaan hebat. Dengan satu gerakan, ia melayangkan tinjunya ke pipi Kaiza sambil berteriak, "APA KAU SUDAH GILA?!"

Kaiza tidak menjawab. Pria itu bahkan tidak berbuat apa-apa pada pipinya yang memerah dan sudut bibirnya yang mengalirkan darah. Tapi cahaya yang ada di mata lelaki itu sama sekali tak meredup, menandakan bahwa dia tak berniat untuk merubah keputusannya.

Melihat ketenangan yang dipancarkan oleh Kaiza, sang samurai meraih kerah nelayan itu lagi dan menariknya sampai berdiri. "Kau sadar hal macam apa yang baru kaukatakan?! Apa kau tidak sayang nyawa?!"

"Kau bertanya apa aku punya rencana yang lebih baik, dan inilah jawabanku." Kaiza menjawab tanpa sedikitpun keraguan. "Setidaknya, dengan ini, hanya akan ada satu korban."

Zouri melepaskan kerah pria di depannya itu. "...Bagaimana dengan istri dan anakmu?"

"Kalau informasimu bisa kupercaya, maka paling tidak aku bisa menghindarkan mereka berdua dari nasib yang lebih buruk dengan melakukan ini."

"Kau tahu sendiri kan kalau rencanamu ini gagal, maka kau tidak hanya kehilangan satu-satunya kesempatan melindungi keluargamu, kau juga akan mati sia-sia."

Kaiza sekali lagi menutup matanya sambil menarik napas dalam-dalam. "...Aku tahu." nelayan itu membuka matanya dan menatap Zouri lurus-lurus. "Tapi aku yakin kau akan membantuku kan?"

"...Kenapa kau berpikir begitu?"

"Tidak tahu," jawab Kaiza jujur. "Mungkin karena kau membocorkan rencana Gato walaupun kau tahu apa yang bisa terjadi kalau kau melakukannya. Atau mungkin karena walaupun kau adalah bawahan Gato, aku merasa aku bisa percaya padamu."

...

"Rencana Kaiza berhasil. Korban yang jatuh di jangka dua tahun ini jauh, jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan apa yang akan terjadi jika Gato benar-benar melaksanakan rencana awalnya."

Jujur, Naruto tak tahu ia harus berkata apa saat ini. Dia memang sudah memperkirakan skenario semacam itu, tapi benar-benar mendengar ceritanya dalam kenyataan tetap saja membuatnya bungkam. Otaknya sekarang sedang berpicu seperti sebuah sepeda motor di puncak kecepatan mesinnya.

"...Kenapa?" setelah beberapa lama, barulah Naruto menemukan satu pertanyaan yang paling mencuat dari puluhan kalimat yang tercetus oleh pikirannya. "Walaupun rencana itu berhasil, tapi kalian tahu kalau itu sama sekali tidak memperbaiki keadaan kan? Kau lihat sendiri apa yang kumaksud. Hampir semua penduduk kota ini sudah kehilangan harapan. Mereka kehilangan tekad dan keberanian untuk memperjuangkan kesejahteraan dan kedamaian yang harusnya mereka capai dengan tangan mereka sendiri."

"Rencana itu tak pernah bertujuan untuk mencegah Gato dari mengambil alih kota ini," jawab Zouri singkat, untuk kesekian kalinya membuat Naruto terkejut. "Bukannya sudah kukatakan apa yang akan terjadi kalau mereka melawan? Kau kira tekad dan keberanian sudah cukup untuk melindungi mereka dari pedang? Atau peluru? Atau peledak?" Zouri mendebat sengit. "Rencana kami mungkin sudah membuat penduduk kota ini menderita, tapi kami berdua percaya, bahwa selama mereka terus bertahan hidup, maka suatu saat akan datang sebuah kesempatan untuk mengenyahkan Gato tanpa harus mengorbankan begitu banyak orang yang tak bersalah. Suatu saat, akan datang sebuah kesempatan dimana mereka bisa meraih kembali tekad dan keberanian, dan merebut kembali kota ini dari tangan Gato."

"...Lalu?" tanya Naruto. "Sampai kapan mereka harus menderita seperti ini? Kesempatan apa yang sebenarnya kalian tunggu?" Naruto tersadar. "...Jembatan yang sedang dibangun Tazuna?

"Tebakan bagus, tapi baru setengah tepat," jawab Zouri lugas. "Karena jembatan itu hanyalah kesempatan untuk membebaskan seluruh kota Nami dari garis kemiskinan yang sudah terlalu lama menjerat kota ini. Tidak, kesempatan yang kumaksud bukan jembatan itu. Kesempatan yang kami tunggu adalah sesuatu yang bisa membersihkan masalah ini dari akarnya: Gato." Zouri mengangkat wajahnya, menatap Naruto lurus-lurus, lalu kembali membuka mulutnya yang masih basah oleh darah. "Dan aku percaya, kesempatan yang kami tunggu-tunggu itu sekarang sedang berdiri di depanku."

Zouri menunggu, dan menunggu... dan menunggu. Pemuda remaja di depannya seperti orang yang beku di dalam satu waktu, tak berubah posisi, tak bergerak, tak berucap. Satu-satunya hal yang memberitahunya kalau pemuda itu masih hidup hanyalah suara napasnya yang masih terhembus pelan dan dadanya yang naik turun. Lalu pemuda itu bereaksi.

...hanya saja, ia tak menyangka akan mendengar tawa terbahak-bahak.

"Ahahahaha...! Ahah...hah..." mendengar tawa yang tak disangka-sangka itu membuat Zouri mulai berpikir kalau shinobi di depannya tiba-tiba hilang kewarasan. "Kau tahu, ketika aku menerima misi ini, aku tak pernah tahu misi level C bisa berubah menjadi level S hanya dalam satu setengah minggu. Lagipula, kurasa hanya aku satu-satunya Genin dalam sejarah Konoha yang pernah berpartisipasi dalam misi level S." Ia terkekeh sekali lagi. "Awas saja kalau Baa-chan tidak menaikkan upahku kalau aku sudah pulang nanti."

"Jadi?" Zouri bertanya untuk memastikan.

"Serahkan padaku," sahut Naruto tegas. "Lagipula, aku punya urusan pribadi dengan Gato."

Mendengar pernyataan itu, napas sang samurai yang berikutnya terhembus dengan sedikit lebih lega. Paling tidak, janji yang dulu ia buat pada Kaiza sudah hampir mencapai titik akhir. Ia sudah siap merebahkan tubuhnya dan merangkul kematian ketika tiba-tiba suara Naruto mencapai gendang telinganya.

"Oi, minum ini," Zouri melihat sebuah benda melayang di udara yang ia tangkap dengan tangannya yang tidak memegang pedang. Saat genggamannya terbuka, ia melihat sebuah pil sebesar kelereng dengan warna hijau tua. "Pil khusus buatan klan Nara itu bisa mempercepat proses penyembuhan alami tubuh sampai beberapa kali lipat. Tapi ingat, sesudah meminumnya, maka kau akan pingsan setidaknya selama satu atau dua jam."

Mata Zouri membelalak tak percaya pada pil di genggamannya dan yang akan menyelamatkan nyawanya itu. "K-kenapa... kau memberiku pil ini?"

"Buat main gundu. Ya karena kau luka parah lah, bego."

"B-bukan itu..." Zouri terbata. "Kenapa kau mau menyelamatkanku? Kau lupa kalau aku adalah musuh?"

"Musuh?" Naruto mengangkat alisnya. "Kau sudah membantu kota ini menghindari pembunuhan masal, dan kau masih menganggap kalau aku harus memusuhimu? Kau gila ya?" shinobi itu tersenyum. "Lagipula, kau sama sekali bukan orang jahat. Kau cuma bekerja untuk orang yang salah, itu saja." Naruto tersenyum lebar. Shinobi itu berbalik dan melompat pergi, tapi tidak sebelum menambahkan satu kalimat lagi. "Yah, kalau bukan karena alasan itu, kita bilang saja karena aku senang bisa bertemu dan melawan seorang samurai yang masih menjunjung tinggi nilai bushido."

Naruto menghilang dari pandangan Zouri setelah beberapa lompatan. Samurai itu sendiri kini terhenyak, merasakan bagaimana kalimat-kalimat terakhir yang terlepas dari mulut sang shinobi pirang mempengaruhi perasaannya jauh lebih dalam dari yang ia kira.

"Bushido... ya?" tanpa terasa, air mata mengalir di wajahnya. Samurai itu mendongak, menatap langit yang cerah dan awan yang berkelana di atasnya. "Kelihatannya ajaranmu benar-benar membekas padaku, Otou-san..."

~•~

Setelah Naruto membuka daun pintu rumah Tazuna, kakinya bahkan belum sempat masuk satu langkah ke dalam rumah itu ketika dua sosok tiba-tiba melesat dari dalam dan menubruk perutnya.

"Nii-san!/Onii-chan!"

Naruto terbatuk-batuk sambil terkekeh, tangannya terangkat dan digunakan untuk mengacak-acak rambut kedua bocah yang sedang memeluknya erat-erat. "Oi, sakit nih. Kalau mau ngasih sambutan itu yang normal dikit kenapa?"

"T-tapi, tapi...!" kepala Inari yang sudah tidak bertopi mendongak dengan mata yang basah. "Kau benar tidak apa-apa?! Bukannya tadi kau harus melawan dua samurai sekaligus?"

"Lalu?" tanya Naruto sambil berpura-pura bingung. "Kau pikir hanya dua samurai sudah cukup untuk mengalahkanku? Inari, aku mungkin bukan orang terkuat sedunia tapi itu bukan berarti aku lemah."

"Kalau begitu kenapa kau lama sekali pulangnya?!" kepala kedua yang tadi menempel ke kaos Naruto ikut mendongak. "Aku benar-benar khawatir tahu!"

"Ahh, kalau itu sih karena..." Naruto memejamkan mata sambil memikirkan jawaban yang tepat. Ia memilih untuk mengutip kata-kata favorit salah satu guru yang sempat melatihnya dulu. "Aku tersesat di jalan kehidupan."

"Hah?" dua suara menyahutnya sekaligus dalam nada bingung. Naruto terkekeh saat ia merasakan sensasi deja vu karena dulu ia sendiri juga sering dibuat bingung seperti itu.

"Sudahlah, gak usah dipikirin. Kalian sudah makan?"

Inari dan Negi melepaskan pelukan mereka sambil menggeleng. Melihat Naruto menaikkan satu alisnya, Negi cepat-cepat berkata, "H-habisnya, kami kan khawatir. Masa kami bisa makan dengan tenang kalau Nii-san belum pulang?"

"Oh, oke kalo begitu." Naruto memutar tubuh kedua bocah itu dan mulai mendorong mereka ke arah pintu dapur. "Tapi lain kali, percaya dikit dong sama kakakmu ini."

Inari dan Negi memalingkan wajah mereka, menunjukkan sebuah senyum lebar pada Naruto. "Baik, Nii-san/Onii-chan!"

Ketika pintu dapur terbuka, Naruto lagi-lagi dikejutkan ketika dia dipeluk lagi, kali ini oleh seseorang yang memiliki rambut panjang berwarna biru gelap sampai hampir bisa dikatakan hitam. Isakan pelan terdengar dari bahu Naruto, dan samar-samar pemuda itu bisa mendengar gumaman "Terimakasih." yang datang berulang-ulang orang yang memeluknya. Dengan sebuah senyum lembut, pemuda itu mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk punggung wanita itu dalam usaha menenangkannya.

Satu tangan lain menghampiri bahu Naruto, membuat pemuda itu mendongak dan melihat wajah tua Tazuna yang juga dipenuhi oleh rasa terimakasih. Mengangguk dalam diam, shinobi muda itu melirik meja makan, dimana seorang Tsunayoshi Sawada membalas tatapannya dengan raut wajah lega. Pelan-pelan, Naruto melepaskan pelukan Tsunami dan nyengir lebar. "Jadi, kita mau makan malam apa nih?"

...

Suara dentingan porselen dari piring yang dicuci dan tawa dua anak kecil terdengar dari dapur, mengisi kesunyian yang kini mengambang di antara ketiga laki-laki yang sedang berdiri di lorong di balik pintu ruangan itu. Wajah lelaki pertama, seorang pria tua dengan rambut beruban, menatap tak percaya pada seorang pemuda pirang yang bersandar ke dinding di depannya.

"Jadi..." Tazuna memulai, dan ia harus menelan ludahnya sebelum melanjutkan. "Kaiza merencakan sendiri kematiannya? Untuk menyelamatkan penduduk kota ini dari Gato?"

Si rambut pirang, seorang shinobi dengan usia beranjak 16 tahun, mengangguk.

"Dan si super brengsek itu ingin menculik Inari... karena..."

"Karena dia ingin memaksamu untuk berhenti membangun jembatan itu sebagai tebusan Inari." shinobi dengan nama Naruto itu menjawab singkat. Wajahnya tiba-tiba berubah murka sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "Dan karena dia seorang manusia bejat yang suka 'bermain' dengan anak-anak."

Paras Tazuna pucat pasi ketika ia mengerti apa yang disiratkan oleh kalimat itu. Dan sekarang ia benar-benar tahu betapa besar ia berhutang budi pada ninja di depannya.

Tapi belum sempat bapak tua itu buka suara untuk kembali berterimakasih, dia tiba-tiba disesakkan oleh nafsu membunuh lain yang terpancar dari belakangnya. Pria itu berbalik, dan menemukan bahwa aura mengerikan itu datang dari Tsuna yang bersidekap dan sama sekali belum bersuara semenjak pembicaraan mereka dimulai. Di dahi pemuda itu telah muncul secercah api yang walaupun kecil, namun bersinar dengan tegas dan gamblang.

"Naruto-san." suara Tsuna yang biasanya ceria, kini berubah menjadi dingin. "Ini sudah tak bisa dibiarkan."

Kedua remaja itu saling pandang, bertukar pikiran dalam diam. Tazuna, yang sampai saat ini masih diliputi efek nafsu membunuh yang menguar dari kedua pemuda itu dan tak bisa mengeluarkan suara, hanya bisa menatap dalam diam ketika mereka beriringan pergi ke lantai dua, dan kembali lagi dengan penampilan yang berbeda tapi dengan raut wajah yang sama.

Tazuna tersentak saat sadar bahwa kedua laki-laki itu berniat untuk pergi berperang.

"O-oi!" setelah pada akhirnya berhasil menemukan suaranya kembali, Tazuna segera memanggil kedua pemuda itu sebelum mereka sempat mengambil langkah menuju pintu depan. "Kalian mau pergi ke mana?!"

Kedua pemuda itu menoleh, membuat Tazuna melihat bahwa di mata mereka yang senantiasa hangat dan ramah, kini hanya ada dingin dan keras. "Ke markas Gato."

"Apa kalian sudah super gila?!" Tazuna membelalakkan mata. "Berapa kali harus kuberitahu kalian?! Gato punya pasukan! Kalian pikir kalian bisa menghadapi ratusan bandit dengan hanya dua orang?!"

Kedua pemuda itu tak memberi reaksi selain mengembalikan pandangan mereka ke depan dan mulai melangkahkan kaki. "Kami tak peduli."

Naruto membuka pintu, buku tangannya yang bebas mengepal dan mengeluarkan suara berderak. "Aku tak peduli Gato menyewa ratusan prajurit bayaran. Aku punya jutsu."

Tsuna melangkah di sampingnya, mengencangkan sarung tangan hitamnya sambil berkata dingin, "Dia bisa saja menyewa puluhan Nukenin. Aku punya sarung tanganku."

"Aku tak peduli walau dia membawa pasukan siluman atau setan sekalipun. Aku punya tangan dan kakiku."

Dua pemuda itu melangkah keluar dari rumah Tazuna, bibir mereka mengucapkan satu kalimat yang sama. "Ini bukan soal misi atau kewajiban."

"Ini adalah harga diri seorang kakak."

To be Continued...

A/N: Hamba ingatkan sekali lagi bahwa fic ini dimaksudkan sebagai cerita yang memakai setting manga Naruto sebagai basis tapi dengan plot yang hamba kembangkan sendiri. Drama dan romansa memang ada, tapi hamba sudah bilang kalau hamba tidak berniat bikin sinetron tertulis. Fic ini adalah usaha hamba untuk mencoba menandingi mbah Masashi dalam soal membuat karya bertema shounen!

Next chapter: Naruto and Tsuna go to war with PURE BADASSERY!

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.