Summary: Berlari dan terus menghidar dari penolakan yang selalu di tujukan untuknya, tidak ada yang menerimanya atau memperdulikan keberadaanya. Sampai Naruto bertemu dengan gadis kecil pada musim salju, gadis kecil yang memberinya sebuah nama dan rumah untuknya. Hingga tragedi itu terjadi dan Naruto kehilangan gadis yang sudah dia anggap sebagai majikan./ "Aku memang tidak mengingat wajah ojou-sama tapi..."/"Aku akan menjadi kuat untuk melindungimu ojuo-sama."/...
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kisimoto in High School DxD © Ichiei Ishibumi
Rated :
Beranjak ke rated M (T+)
Genre :
Romance/psycology/Ecchi...
Warning:
OOC/TYPO(s)/...
Story by Kurotsuhi Mangetsu
Boku dake no Ojou
Chapter 7: Tunggu! Aku kenapa?!
"Pedang bermata dua.. apakah itu Kusanagi no Tsurugi, Naruto-san?" rasa penasan membuat Kiba mengalihkan pembicaran.
"Mungkin bentuk pedangku mirip dengan kusanagi, aku tidak tau seperti apa Kusanagi no Tsurugi itu, tapi aku bisa memastikan jika pedangku adalah milikku sendiri dan bukan pedang lainnya.. karena sekali lagi, pedang ini lahir bersama dengan kelahiranku, anggap saja pedang ini adalah bagian dari diriku. Sedangkan kusanagi adalah pedang legendaris yang sudah dikenal jauh sebelum aku lahir."
"Lalu, apa nama pedangmu itu Naruto-san?"
"Humm? Entahlah, aku belum tau kekuatan lainnya selain kekkai.. yang pasti namanya harus sesuai dengan kekuatannya."
"Kamu bisa menggunakan senjutsu? Senpai?" kali ini Koneko bertanya setelah lama diam.
"Tentu saja.. senjutsu adalah basis kekuatan yang paling dikuasai Youkai.. menurutku terlalu arogan jika seorang Youkai tidak menggunakan senjutsu."
Tidak jelas apa yang difikirkan oleh Koneko begitu mendegar jawaban dari Naruto. Hanya ekspresi datar namun menyimpan maksud lain dalam benaknya. "Tapi.. efek samping penggunaan senjutsu sangat buruk.. bahkan senpai sendiri tidak bisa mengatasinya."
"Yare yare neko-chan, setiap kekuatan pasti memiliki resiko. Tentu hal itu bisa diminimalisir dengan penggunaan yang tepat dengan catatan kamu bisa mengendalikan dirimu. Yang perlu aku tegaskan adalah, aku terkena dampak dari senjutsu karena aku tidak bisa mengendaikan emosiku. Selama aku tau diri dengan kemampuanku, seharusnya senjutsu itu tidak akan berdampak buruk padaku."
"Kulihat luka mu sudah sembuh Uzumaki-san, apakah kamu memilki kemampuan regenerasi?" Sona kembali mengalihkan pembicaraan.
Naruto sendiri hanya cengo mendengarkan topik pertanyaan yang berganti dengan cepat, segitu ambigu kah dirinya? Iblis diruangan seakan memilki pertanyaannya sendiri- sendiri, setiap iblis berganti bertanya maka topik pertanyaan juga berbeda. Membuat Naruto lebih memilih berdiri agak jauh dari deretan kursi yang diduduki iblis muda untuk mengurangi rasa tertekannya.
"Aku memang bisa melakukan regenerasi, kecuali saat aku menjadi manusia ketika bulan purnama. Karena itu lah kemarin malam aku menolak disembuhkan, karena luka- luka ku akan sembuh begitu matahari menggantikan bulan. Aku tidak selemah seperti yang kalian kira," Moodnya kembali buruk mengingat kejadian itu, kekalahan dari Kokabiel seolah menghantuinya. Dan itu juga berdampak pada tekanan di dalam ruangan yang terasa berat. Akeno kembali harus menenangkan Naruto.
Sona Side
Sona yang mengamati dari tadi bisa menyimpulkan jika Akeno berperan seperti penenang Naruto, kembali mengingat rincian yang diberikan Naruto dan sifat Naruto saat didekat Akeno. Semua keterangan dari Naruto saling berhubungan dan terkait, sehingga Sona bisa membuat kesimpulan dengan akurasi 60% benar. Tinggal mencari pecahan puzzel lain sebelum Sona menemukan kebenaran dibalik teka- teki Naruto. Sona sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang tidak ingin di jawab Naruto. Dengan hanya melihat dan menilai, Sona tau siapa orangnya. Panggilan Ojou-sama dan sifat Naruto yang mudah luluh pada Akeno sudah cukup memberikan keyakinan pada Sona, yang masih membuatnya bingung adalah apa hubungan mereka berdua? 'Seorang youkai dan akuma, sepertinya dari faksi iblis dan akuma jarang terjadi interaksi.' Keraguannya yang mengasumsikan Naruto sebagai ancaman sudah menemui titik terang, Sona tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi.
Selain itu, dilihat dari segimanapun Naruto bukan makhluk lemah seperti yang dikatakannya. Meskipun sebagai manusia yang sering diremehkan makhluk akhirat, tapi dia bisa melukai salah satu jendral malaikat jatuh yang terkenal karena kekuatannya yang tidak bisa dianggap remeh. Sona berfikiran jika Naruto memiliki potensi untuk dijadikan peerage.
End of Sona Side
"Naruto-kun, kami tidak pernah menganggapmu lemah,. Menolongmu bukan berarti meremehkan mu, kami hanya mencoba membalas kebaikanmu.. Bagaimanapun kamu sudah menyelamatkan hidup kami, " Rias berbicara pada Naruto yang sudah menyembunyikan kepalanya diantara kepala dan bahu Akeno.
"Terimakasih sudah menolong kami,. Ara ara kamu ini sangat emosional Naru-kun," Akeno berkata jujur, sambil membelai helain rambut kuning yang lebih tinggi darinya. Akeno sendiri tidak mempermasalahkan jika Naruto terlihat manja padanya, justru hal itu membuat Akeno tidak kesulitan menjaga rubahnya, Akeno tersenyum misterius.
Sebenarnya Sona maupun Tsubaki sudah jengah dengan adegan didepannya tapi untuk melanjutkan investigasi, mereka harus lebih bersabar. Beda halnya dengan Issei dan Saji yang pundung dipojokan karena merasa iri, Saji sendiri menjadi iri karena tidak bisa sedakat itu dengan Kaichounya, 'Mungkin aku harus mulai memanggil kaichou dengan ojuo atau hime, hikz.. hikz.. kenapa bukan aku dan kaichou saja yang seperti itu'.
"Uzumaki-kun? Pembicaraan kita belum selesai, jadi bisa kita lanjutkan?" Sona kembali membuka pembicaraan.
Sedangkan tubuh yang memunggungi penghuni ruangan tengah menjulurkan lidahnya seolah mengatakan, 'siapa yang peduli denganmu weeekkk!' Naruto benar- benar ingin mempermainkan para iblis disana. "Gomen Sitri-san, tapi aku harus pergi, aku tidak mau dipecat karena sudah berhari- hari aku bolos kerja." Dengan santainya Naruto membalikkan tubuhnya untuk menuju pintu keluar, setidaknya itu yang difikirkannya. Sampai sebuah tangan menarik salah satu ekornya. Dan saat menolehkan kepalanya untuk mengancam, malah dirinya sendiri yang sekarang terancam karena ditatap mata yang menyipit dihiasi sunyuman sadist yang begitu manis .
"Ara ara~ siapa yang mengijinkamu pergi? Naru-kun! Serahkan masalah itu pada Kaichou dan silakan duduk kembali !" Tak perlu menunggu Naruto mejawab, karena Akeno dengan senang hati menyeret Naruto menuju kursi kosong yang ditinggalnya tadi.
Sekarang Naruto hanya bisa duduk sambil memiringkan kepalanya yang lelah (bayangkan ada hantu putih yang melayang di depan mulutnya). Dia tidak tau apa yang Kaichou bicarakan dengan seseorang dibalik androidnya, tapi yang pasti hal itu tidak akan menyenangkan untuknya. Menghilang menuju kamaranya bukan hal yang sulit, tapi merasakan salah satu ekornya yang belum lepas dari tangan Akeno yang seolah ingin dipatahkan membuat nyalinya menciut dan lebih memilih jalan aman dengan menurut.
"Baiklah.. kamu memperoleh izin libur untuk hari ini.." Sona dapat melihat wajah tidak percaya Naruto yang seolah merasa dirinya dibohongi," Kamu bekerja di Cafe Levithan kan?" Naruto mengangguk.
" Itu cafe milik Onee-sama ku, dan aku sudah meminta izin pada manajernya," Sona tidak bisa berbohong jika dirinya tengah malu dengan rona- rona merah di sekitar pipinya. Naruto hanya bisa pundung karena harus meladeni pertanyaan para iblis lagi.
"Jadi.. Naruto-kun? Apa alasanmu memintaku untuk mengidupkan Shuri-san, sebagai syarat merekrutmu menjadi keluargaku?" Rias langung saja bertanya.
"Skip.. pertanyaan yang lain, itu masalah pribadi Gremory-san.." Naruto sendiri kaget dengan pertanyaan terlontar dari Rias, dia tidak menyangka jika hal itu masih diingat oleh Buchou dari club penelitian ilmu gaib.
Sedangkan Rias menatap ke arah Akeno, barharap akan mendapatkan dukungan seperti saat Naruto menunjukan wujud Hanyou nya. Tapi yang di dapatinya hanya Akeno yang menunduk, menyembunyikan matanya masih dengan mengusap- usap pelan bulu ekor Naruto. Sedangkan si pemilik ekor terlihat begitu yakin tidak akan memberikan penjelasan. Akeno sendiri diam bukan karena berpura- pura tidak mendengar, dia meyakinkan pendiriannya untuk membuat Naruto mau menceritakan sendiri kepadanya tanpa unsur paksaan.
" Baiklah, lalu Akeno, siapa itu Kurama? Kenapa memanggil Naruto dengan nama Kurama."
"Itu karena Naru-kun mengingatkanku pada kucing berbulu orange imut, pelihataraanku dulu, kyaaa...!" seketika penghuni ruangan tercengang begitu mendengar Akeno yang menjerit imut sambil memeluk (mencekik) leher Naruto dari samping. Benar- benar diluar kebiasaan Akeno yang selalu tenang dan elegan dengan gestur- gestur sensual.
Jbuk!
Lain halnya dengan Naruto yang menabrakkan kepalanya kesandaran kursi, begitu menyadari dirinya disamakan dengan kucing LAGI! 'KU SUMPAHI KAU! Kucing peseknya Tama-chan.. hikz.. hikz.. boku wa Kitsune! Tebayo!'
"Ara? Sepertinya aku sudah berlebihan nfufufufufu, gomen minna.." Akeno menangkupkan pipinya dengan dua tangan sambil menatap polos ke arah para iblis, "Kamu kenapa Naru-kun?" Akeno bertanya dengan wajah tanpa dosa begitu melihat Naruto yang menangis anime.
"Baiklah pertanyan terakhir dariku.. bagaimana jika kamu menjadi salah satu keluargaku, Naruto-kun?"
Pertanyaan Sona membuat perubahan besar pada atmosfer ruangan, Rias memandang tidak percaya kearah sahabat dari bayinya. Saji merasa tidak suka karena merasa akan ada saingan baru. Dan si tokoh utama yang berkeringat dingin tidak berdaya, karena ekornya sudah diremat kuat oleh Akeno yang memasang ekspresi polosnya. Juga terlihat kilatan kuning yang berasal dari telapak tangan Akeno.
"Go-gomen Sih-Sitri-san.. masih banyak hal yang harus aku selesaikan sebagai bagian dari ras youkai. D-dan aku tidak bisa menjadi iblis sebelum hal itu aku selesaikan. Lagi pula kau mengajukan syarat yang sama dengan yang ku ajukan pada Gremory-san," Naruto mengatur kembali nafasnya yang sempat memburu, bersamaan dengan menghilangnya rasa kejut dari ekornya.
"Baiklah.. kalau begitu selamat bekerja Uzumaki-kun, kamu mendapat shift malam mulai hari ini.." Sone berbicara sambil menaikkan frame kaca matanya yang berkilat terimpa cahaya.
"Eeehhh?! Sitri-san! Lib-"
"Iko minna, kita kembali keruang OSIS.." anggota OSIS berlalu tanpa menghiraukan Naruto yang mulai meraung tidak jelas.
Cekikikan meremehkan terdengar dari anggota club ORC yang memandang Naruto seolah berkata, 'Kena kau kitsune!' Naruto sendiri tidak menyangka jika akan medapat balasan karena sempat mempermainkan para iblis disana. Bahkan Koneko sampai harus menahan tawanya dan terlihat tubuhnya yang sedikit bergetar menahan tawa. Ditertawakan itu menjengkelkan.
Tapi sebelum benar- benar keluar ruangan, Sona berbalik dan berbicara pada Rias," Rias? kurasa lebih aman jika kamu yang melaporkan penyerangan Kokabiel.. Eem? Aku tidak perlu menjelaskannya bukan?" entah kenapa, wajah datar Sona tampak seperti wajah yang ragu- ragu.
Tentu saja Rias tau alasannya dan mengangguk pelan," Hn.. Aku akan ke dunia bawah malam ini.."
Hari- hari setelah introgasi para iblis berlalu, terjadi perubahan pada Buchou club ORC yang menjadi pendiam dan terlihat sering melamun. Selain itu ada anggota baru berambut biru terang yang dia kenali sebagai salah satu dari Exorcist yang membantu saat penyerangan Kokabiel, namun sudah bereingkarnasi menjadi iblis Gremory. Sedangkan dengan Naruto dia merasa WAJIB berterimakasih pada kaichou, karena Naruto memiliki jam kerja ekstra di Cafe untuk mengganti jam kerjanya yang bolong selama beberapa hari. Bahkan hari libur sekolah harus dia manfaatkan untuk menebus jam kerjanya. Dia tidak menyangka masih berurusan dengan iblis meskipun berada di luar lingkungan Akademi.
Entah kenapa, Naruto merasa Rias semakin suram dari hari kehari setelah kepulangannya dari dunia bawah. Ojou-sama yang baru keluar dari dapur sudah menyiapkan halilintar kuningnya saat melihat Naruto memperhatikan ke arah Rias yang menopang dagu melamun. Begitu merasa firasat buruk semakin mendekat, Naruto nyengir ke arah Akeno untuk mencari aman. Halilintar- halilintar kecil saling menyambar di sekitar Akeno yang tengah membawa nampan berisi teh untuk Rias.
"Akeno? Apa kamu sudah memberitahu yang lain untuk segera berkumpul?" Suara Rias menyelamatkan Naruto karena Akeno kehilangan fokus pada halilintarnya yang mulai terurai menghilang.
"Ara ara.. tentu saja Buchou, sesuai perintahmu," Akeno berjalan kearah dapur setelah meletakkan teh untuk Rias, " Naru-kun! Kesini !"
Akeno memanggil Naruto dengan suara biasanya namun tersirat adanya penekanan, yang membuat Naruto mau tidak mau beranjak dari kurisnya. Tidak ada halilintar ditangan Ojou-samanya bahkan dia tersenyum melihat Naruto mendekat, tapi keringat dingin semakin bercucuran dari pelipis Naruto. Tubuhnya tiba- tiba merinding saat tangan Akeno mencapai pundaknya dan sedikit meremas seragamnya.
" Naruto-kun? Bisa tolong tinggalkan ruangan ini?" Naruto mengernyit merasa dirinya diusir, padahal Rias sudah menyetujui permintaan Akeno untuk memperbolehkan Naruto berkeliaran di ruang club.
" Hanya untuk hari ini saja, besok kamu bisa disini lagi.. ini masalah intern keluarga Gremory."
Naruto mengangguk mengerti dan bermaksud melangkah kepintu keluar meninggalkan Akeno dibelakangnya, sebelum sebuah nampan besi menabrak wajahnya. Tentu saja merasa dongkol dengan pelaku yang seenaknya memukulnya dari belakang, tapi perasaan dongkolnya hilang begitu saja karena merasa kaget. Sebuah lengan kiri melingkari lehernya disertai dengan benda lembut yang menabrak punggungnya. Tapi lebih parah di cuping kanannya yang tiba- tiba dihimpit merasakan hangat, lembab dan sesuatu yang berlendir basah bergerak disana. Sensasi asing yang membuatnya kulitnya merinding, Naruto hanya bisa meringis ngeri saat sensasi itu berganti dengan rasa sakit akibat gigitan.
"Jangan macam- macam saat aku sibuk Naru-kun! atau kamu akan kehilangan bekal makan siangmu!" bisikan bersemu desahan yang diakhiri sebuah jilatan, membuatnya hanya mampu mengangguk kaku.
"Hhhhh..." desahan nafas disertai kepalanya yang menunduk, Naruto baru sadar jika tidak memiliki arah tujuan. Berjalan dikoridor sendiri membuatnya tidak nyaman, Naruto merasa ada hal aneh akhir- akhir ini, setelah Akeno mematahkan Frame kaca matanya. Entah kenapa tapi dia merasa banyak mata yang memandang kearahnya, hal itu membuatnya risih. Ditambah dengan penampilannya yang berubah berantakan, tangannya sendiri gatal ingin merapikan rambutnya yang acak- acakan. Tapi ancaman Ojou-samanya masih terngiang ditelinganya, membuat tangannya gemetaran ketika ingin merapikan rambut pendeknya.
Menelungkupkan kepalanya di atas meja, tujuan final Naruto adalah mejanya ruang kelas untuk tidur siang. Tapi tidurnya terasa tidak nyaman dan menegakkan punggungnya di sandaan kersi dengan wajah kusut. Naruto memicingkan mata heran, kenapa tiba- tiba siswi di ruang kelasnya sering melihat kearahnya dan berpura- pura menoleh kearah lain saat Naruto membalas pandangan mereka. Padahal dulu Naruto seolah makhluk transparant yang jarang diperhatikan oleh manusia di sekolah. ' Manusia tidak kalah anehnya.'
"Hm?" Naruto merasakan beberapa aura lain yang tiba- tiba muncul di Akademi. Lalu Naruto bisa merasakan niatan tidak baik dari salah satu pemilik aura disana, perasaan mengintimidasi dan perasaan marah. Tapi Naruto paling kenal dengan perasaan ini, selama beberapa tahun hidup dengan orang mesum menjadikannya bosan merasakan niat buruk yang dirasanya sekarang.
Naruto masih duduk tengan dengan bersendekap, masih memantau keadaan disana. Matanya terbuka begitu merasakan kemarahan yang semakin menjadi- jadi, Naruto tidak bisa membendung rasa penasarannya dan melakukan perpindahan begitu memastikan tidak ada mata yang mengawasinya. Menghilang munuju tempat dengan seseorang yang memiliki niat buruk, Ruang club penelitian ilmu gaib.
Awalnya dia hanya ingin memastikan keadaan. Tapi dengan perpindahanya yang sangat cepat, Naruto sempat melihat Issei yang ditodong senjata oleh seorang gadis bertubuh kecil. Naruto bahkan sempat membuat pemikiran ingin kembali ke kelas, 'Mungkin kemesuman tadi berasal dari Issei dan gadis marah itu ingin membunuh Issei.' Tapi dia mengurungkan niat awalnya setelah melihat kearah lain dan memanggil pedang miliknya saat menyadari asumsinya meleset.
Trakk!
Grap!
Semua iblis hanya terperangah setelah menyadari asal suara pukulan berasal satu eksistensi lain yang memegang katana dan pergelangan tangan kiri salah satu iblis disana.
"RAIZER-SAMAA!" beberapa gadis iblis disana berteriak memanggil tuannya ketika Naruto tiba- tiba muncul di belakang tubuh Akeno dan menyerang Raizer. Naruto memukul pergelangan tangan kanan Raizer yang mengarah ketubuh Rias dengan katananya, dan mencengkram pergelangan kiri lainnya yang mencoba meraih tubuh Akeno yang sedang meletakkan teh. Dia bisa melihat jika laki- laki yang sedang dia cengkram ini memiliki niat yang buruk dan semua keburukan yang dia rasakan berasal darinya. Dari penampilannya saja dia tau, jika laki- laki bernama Rizer ini bukan makhluk dengan tabiat baik.
"Are?! bisakah anda sedikit sopan Akuma-san?! Niat menjijikanmu mencemari udara disini."
Naruto memandang Raizer dengan tatapan tajam, dan mengeratkan cengkraman tangan kanannya sampai Raizer meringis menyembuyikan apa yang dirasakkanya. Sedang kumpulan gadis disana sudah bersiap menyerang Naruto yang mengancam tuan mereka. Seorang wanita dengan pakain Maid yang biasanya tenang masih tampak terkejut dan mencerna kejadian dihadapannya, munculnya makhluk ain yang tiba-tiba muncul dan mengancam iblis kelas atas. Akeno dan Rias sendiri tersenyum tipis, menyaksikan wajah Raizer.
" Berhenti ! apa yang dilakukan Manusia disini?!" Akhirnya wanita Maid membuka suara, Raizer yang menyadari pemuda didepannya adalah manusia mengernyit marah dan memunculkan api di sekitarnya,' Hanya Manusia?!"
Naruto bisa merasakan kakinya yang terasa sangat dingin dan tiba- tiba muncul bongkahan es disekitar Kekkai yang dibuat pedangnya. Jika api dirinya sudah terbiasa mengahadapinya tapi kemunculan es disekitarnya, mau tak mau membuatnya kaget.
"Grayfia! Dia bukan musuh.." Rias berdiri dari kursinya dan membuka suara.
" Tidak sepantasnya ada manusia yang berada disini Ojou-sama!" Grayfia masih mencoba menembus Kekkai yang dibuat katana Naruto.
Naruto mundur dengan menarik perut Akeno. Raizer pun tidak tinggal diam karena merasa diremehkan, dia mengarahkan salah satu apinya menyerang Naruto namun hanya menabrak kekkai transparat yang memercikan listrik. Merasa direndahkan sebagai manusia, Naruto melepaskan aura Youkainya secara perlahan dan memunculkan wisker di kedua pipinya. Tapi sebelum mata kanannya yang tidak tertutup berubah merah, Akeno menekan tubuh Naruto untuk memberi isyarat 'Jangan lakukan.' Tidak ada yang dilakukannya selain menurut.
" Ojou-sama, Raizer-sama, keadaan ini sesuai dengan prediksi dari Lucifer-sama.. Rating game.. ini adalah solusi yang bisa diambil untuk menyelesaikan masalah ini,." Grayfia menghilangkan esnya.
Terlihat wajah tidak senang Raizer, tapi dengan adanya ratu terkuat dunia bawah, dia harus berfikir ulang untuk memusnahkan naruto yang dia anggap sebagai manusia rendahan. Raizer bangkit dan berjalan menuju Peeragenya yang kesemuannya adalah perempuan dengan berbagai keadaan.
" Rating game?! Aku setuju dengan rating game!" tanpa ragu Rias mengambil solusi yang diajukan Grayfia, dari pada harus menerima pernikahan tanpa perlawanan.
"Baiklah jika Rias sayang menyetujuinya,. Aku akan mengalahkanmu di rating game dan kau! tidak akan bisa menolak pernikahan ini lagi," Raizer berkata arogan sambil menerima pelukan dari gadis- gadis peeragenya. Tentu saja masih menatap tajam kearah Naruto. Issei pun sudah terbebas dari senjata yang mengancamnya.
"Rating game sudah disepakati, aku akan melaporkan pada Lucifer-sama dan Gremory-sama , tapi sebelum itu.. sekali lagi aku bertanya, kenapa ada manusia yang bisa kesini?!" Grayfia memandang tak suka pada naruto yang masih berdiri di belakang Akeno dengan wajah datar andalannya.
" Sebenarnya aku tidak tertarik dengan pembicaraan kalian, tapi aku merasa ada ancaman dari sini.. jadi aku kesini dan mendapati laki- laki itu ingin berbuat tidak senonoh."
"Tid-" perkataan Grayfia segera dipotong oleh Rias.
"Aku yang akan menjelaskan.. bisa tolong kalian kembali kedunia bawah, Raizer! Kita sudah sepakat mengadakan rating game, urusanmu sudah selesai bukan?"
Tentu saja dia tidak terima, karen Rias mengusirnya secara halus. Tapi keberadaan Grayfia membatnya sedikit pintar menjaga emosi," 10 hari lagi, sampai ketemu di rating game, Rias sayang,dan jadilah pion yang tidak mempermalukan keluarga Gremory, Sekryuutei!" Raizer beserta peerage nya menghilang dalam lingkaran sihir bertuliskan "Phenex". Sebelum benar- benar menghilang Raizer sempat melemparkan pandangan pada Naruto seolah mengatakan,'Manusia brengsek!'
" Dasar! Aku sudah bilang jangan macam- macam saat aku sibuk kan? Naru-kun?!" Naruto tau jika Ojou-samanya tidak benar- benar marah meskipun dengan nada bicara seolah marah, dan senyuman itu bukan sebuah senyum mengancam.
Para iblis Gremory disana duduk mengisi deretan kursi di tengah ruangan, tentunya bersama dengan Naruto yang duduk diam dengan pandangan bosan. Merasakan niat- niat buruk dari Raizer juga membuatnya moodnya ikut tercemar. Bahkan Naruto terlihat mengabaikan kata- kata ancaman dari Akeno. Berulang kali, dia merenungkan kehidupannya di Kuoh yang seolah tidak lepas dari iblis. Tujuannya untuk tidak menarik perhatian benar- benara gagal, karena nyatanya dia malah semakin terjerumus dengan urusan para iblis. Dari awal memang salahnya sendri karena tidak mencari informasi tentang kebenaran ras iblis. Tunggu?! Tentu, ini salah Ero-Sensei yang tidak memberikan informasi dunia luar.
" Na-ru-kun! aku bicara denganmu," Akeno kembali menjewer cuping Naruto untuk meminta perhatian,"nfufufufu.."
"Sumimasen Ojou-sama.. aku hanya penasaran dan datang kesini lagi gara- gara niat buruk iblis tadi," Naruto bicara dengan mengusap cupingnya yang terasa panas. "Aku kira itu karena Issei-san melakukan sesuatu yang membuat gadis kecil tadi marah, ternyata aku salah. Jadi itu tadi hanya gerak reflek."
Isse Side
Diseberang kursi terlihat Issei yang meringis sedang diobati oleh Asia, karena mendapat serangan dari salah satu Peerage Raizer sebelum Naruto datang. Issei sedikit membenarkan perkataan Naruto karena memang dia sempat berfikir nista tentang Buchounya, yang membuatnya marah dan ingin menyerang Raizer. Tapi malah dia sendir yang kena pukul dari gadis peerage Raizer. Saat dia mencoba bangkit, sebuah senjata tajam sudah mengarah kelehernya.
Issei bisa menangkap keraguan pada Rias, sejak awal memang dia sudah merasakannya dan terbukti dengan kedatangan Raizer. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Buchounya apa pun yang terjadi. Akibat insiden penyerangan Kokabiel, dia sadar jika dirinya terlalu lemah dan mulai berusaha berlatih untuk lebih kuat lagi. Dia merasa terlalu lemah karena Naruto yang menjadi manusia saja bisa melakukan penyerangan kepada Kokabiel, sedangkan dirinya pemegang sacred gear salah satu dari ke-13 Longinus harus pingsan diawal pertarungan.
Kali ini dia bertekat akan melindungi Buchounya dari laki- laki play boy yang memaksakan pernikahan yang tidak diinginkan oleh Buchounya. Itu adalah janjinya sebagai satu- satunya bidak pion milik Rias Gremory, tekat untuk melindungi majikannya.
End of Issei Side
Rias masih terdiam memikirkan sesuatu sambil menatap Peeragenya satu per satu, melihat Issei cukup lama dan berakhir di Naruto.
"Kalian boleh pulang, tidak ada kegiatan club hari ini.. sampai ketemu besok, Akeno ikut aku," Rias mulai berdiri, tapi Akeno masih terduduk sambil menarik kerah belakang Naruto. Menjadikannya seperti anak kuc- eh, rubah yang dibawa- bawa dengan hanya memegang kulit disekitar tengkuk lehernya.
"Hhhhh.. baiklah, asalkan dia bisa berguna.." Rias memutar bola mata bosan, dia paham dengan maksud Akeno. Beberapa hari belakangan Rias memang merasa Akeno semakin dekat dengan Naruto.
Akeno tersenyum senang dan mulai berjalan mengikuti Rias yang berjalan ke bagian dalam ruang club, yang belum diketahui oleh para bidaknya yang lain. Tentunya Akeno masih dengan menarik Naruto agar mengikutinya. Sedangkan anggota lain mulai membubarkan diri.
Lagi – lagi Naruto menempati ruangan asing, masih dengan gaya interior yang sama dengan ruangan lain namun terkesan lebih tertutup lebih tepat terisolasi. Ruangan putih tanpa jendela yang terasa begitu luas karena didalamnya hanya ada dua buh sofa yang berhadapan, bahkan dinding hanya berisi ornamen- ornamen geometris tanpa bingkai foto atapun lukisan. Bahkan hanya ada satu pintu sebagai akses keluar dan masuk ruangan, Naruto menyebut ruangan ini sebagai penjara mewah karena dirinya terbiasa dengan ruang terbuka.
Sedangkan di dalam ruangan hanya tinggal dirinya dan Ojou-samanya, karena Rias keluar ruangan dengan alasan ingin mandi. Duduk bersebelahan dalam satu kursi sofa putih dengan aksen kayu yang diukir melengkung- lengkung.
"Ara ara.. Naru-kun, aku jadi ingat.. bukankah untuk melakukan perpindahan kamu harus menandai tujuan perpindahanmu terlebih dulu?" Naruto mengangguk disertai tawa gugup karena penyataan Akeno, dia tau akan kemana arah pertanyaan tersebut.
"Dan ini bukan pertama kalinya kamu muncul tiba- tiba di dekatku.. Nfufufufu.." Akeno semakin mendekat kearah Naruto yang semakin terpojok di sudut kursi.
Naruto mulai dibanjiri keringatnya sendiri mendengar tawa khas Akeno, dia terpaksa tertawa kikuk. Namun merasa bersyukur karena tidak mengeluarkan ekornya, yang pastinya akan dalam keadaan bahaya pada situasi ini.
" Ara ara, Jadi?"
Semakin terasa debaran jantungnya saat tangan Akeno menekan pemukaan dadanya dengan tangan kirinya, dan merasakan betapa seramnya senyuman sadist milik Akeno. Dia ragu, tapi keadaanya semakin terjepit.
"E etto? Umm? Sebenarnya aku memang membuat kanji fuin untuk menandai tempat keberadaan Ojou-sama, Gomenasai.." Naruto meneguk ludah dengan kasar berkali- kali menyadari Akeno malah semakin mendekat.
"Dimana?" Akeno berkata tanpa kata- kata khasnya, justru terdengar aneh untuk Naruto, apa lagi senyum misterius yang tidak diketahui artinya.
"emm.. se-setelah penyerangan Kokabiel, sa-saat aku me-melingkarkan ta-tanganku.. e eto ketika Gremory-san mulai bertanya, Ojou.." Naruto tidak memungkiri jika dirinya ketakutan dan berbicara terbata- bata. Tubuh Akeno semakin merapat kearahnya yang masih mencoba mundur meskipun sudah tertahan sandaran sofa.
" Ara ara, aku tanya di-ma-na Naru-kun, bukan kapan, nfufufufu.." Akeno semakin mendekatkan wajahnya,
" A ano.. di-di pu-punggung O-ojou-sama.. pi- ping-pinggang ka-kanan," Naruto bisa merasakan pucuk hidungnya bersentuhan dengan hidung Akeno.
Melihat Naruto yang begitu panik, memberikan hiburan tersendiri pada Akeno dan hal itu memunculkan ide Akeno yang lain. Semakin mendekat dan Akeno memandang kedalam satu iris biru Naruto yang tidak berkedip.
Naruto tau jika Akeno semakin mendekatkan wajahnya di setiap detik, dia mengira akan terbebas begitu memberikan jawaban pada Akeno. Sampai Naruto membelalakkan matanya begitu merasakan kelembutan kulit yang menyentuh bibirnya, beberapa detik tidak ada perubahan. Naruto mulai ingin merasakan tekstur bibir Akeno,
"Nfufufufu... " secara tiba- tiba Akeno menegakkan tubuhnya dan menjauh dari Naruto. Kemudian berdiri dari posisi duduknya sambil menatap jahil kearah Naruto yang terlihat, kecewa.
Naruto sendiri hanya menatap datar dengan mata segaris dan bibir tersungging sebelah, namun tidak ada ekspresia apapun yang tertangkap disana. Tentu saja dia merasa kecewa, Akeno menjahilinya dan kali ini Naruto harus mengakui kehebatan Ojou-sama nya ini. 'Ojou-sama lebih berbahaya dari kitsune betina, hhh."
Akeno berdiri dengan kedua tangan yang memegang ujung seragam Akademi Kuoh, dia ingin membuktikan keberadaan kanji fuin yang dikatakan Naruto. Perlahan Akeno menarik keatas seragam bawahnya tanpa memperdulikan Naruto di depannya yang sudah melongo bodoh, kepalanya sedikit berputar kebelakang untuk melihat pinggangnya sendiri. Akeno tidak sadar jika seragamnya sudah tersingkap sampai dibawah bra berwarna putih, karena kesulitan menemukan kanji fuin seperti yang pernah ada di tangannya.
Brakk!
Pintu terbuka kasar disertai dengan figur gadis berambut crimson yang terlihat begitu syok dengan mata yang membulat, menjadikan dua makhluk disana ikut- ikutan berjengit kaget karena suara keras. Akeno masih saja belum menurunkan bajunya yang dia singkap, dan memandang rias dengan wajah polosnya.
"A-Akeno! Apa yang akan kamu lakukan?!" Rias salah paham dengan adegan barusan.
Akeno memiringkan kepalanya dengan senyum polos seperti biasa, melihat wajah Rias yang memerah dan terlihat gugup. Begitu paham Akeno tersenyum menggoda kearah Naruto. "Ara ara .. kamu kembali begitu cepat Buchou," Akeno mendekati Naruto dan membenamkan kepala kuning itu ke asetnya yang over size," Kita lanjutkan lain kali ya? Naru-kunNfufufufufu."
Rias semakin memerah karena salah paham yang semakin menjerumuskan fikirannya. Dia tau jika Akeno memang suka menggoda tapi kali ini, dia merasa Akeno terlihat serius dan berani.
Rias menggelengkan kepalanya, meyesali keputusannya memperbolehkan Naruto mengikutinya dan Akeno. "Kita anggap kejadian tadi tidak pernah terjadi." Rias duduk di hadapan kursi yang berisi Naruto dan Akeno, tentunya Akeno masuk mode serius yang hanya ditunjukan pada orang terdekatnya. Sedangkan Naruto menyandarkan dirinya dan tertidur, membiarkan kedua gadis iblis membicarakan apa yang ingin mereka bicarakan.
"Baiklah.. sudah diputuskan.. tapi aku masih ragu dia akan menerimanya Akeno.."
"Ara ara.. kita sudah membicarakannya tadi Rias,"
"Bisa- bisanya dia tidur, saat orang lain sedang bebicara hal serius.. tukang tidur!"
"Nfufufufu, Kitsune yang kukenal juga pemalas dan tukang tidur.." Akeno memperhatikan Naruto yang tertidur dengan lelap, bahkan ada air liur yang menerobos sela- sela bibirnya. Wajah polos saat tertidur itu tiba- tiba mengernyit, saat Akeno mencoba untuk membangunkannya namun rubah itu tetap tak kunjung bangun. Akhirnya Akeno mengambil cara wajar untuk membangunkan Naruto, dengan menjewar telinga kirinya.
"Ita ta ta,. Ittai desu! Ojou-sama, tega sekali padaku.." Naruto menggerutu pelan di akhir kalimat, tentu saja masih terdengar jelas berkat kelebihan iblis.
"Ara ara,. Kamu susah sekali dibangunkan.. Buchou ingin bicara denganmu Naru-kun.." Akeno mengusap rambut kunignya sebagai permintaan maaf.
"Untuk persiapan rating game, kami akan pergi berlatih selama 10 hari, Naruto-kun.. maukah kamu ikut?"
Naruto menaikkan alis pertanda bingung, jika mereka ingin berlatih tinggal pergi saja kenapa dia juga diajak. Tunggu?! Jika berlatih bersama, maka Ojou-samanya dalam bahaya karena disana ada Issei. Ggrrr... iblis mesum itu layak diwaspadai.
"Kami akan meminta izin untukmu juga.. tapi kamu harus membantu untuk melatih Issei-kun.."
Jderr..
"Tunggu?! Aku kenapa?" Naruto merasa pendengarannya bermasalah, dia adalah Youkai lemah kenapa harus menjadi pelatih?! Melatih iblis mesum itu pula ! Gremory merah ini banyak maunya.
Naruto selalu merasa belum ada peningkatan pada kekuatannya, menganggap dirinya masih lemah , lemah, dan lemah. Bahkan setelah kekalahan dari Kokabiel, Naruto memulai pelatihan ekstremnya. Ditambah dengan mata kirinya tidak kunjung kembali menjadi mata manusia normal.
"Aku memintamu untuk melatih Issei, apa kamu ikut?" Rias menghilangkan keraguannya
"Tidak! Tentu saja tidak.. kenapa juga aku harus ikut melatih Issei,. Aku tidak memiliki alasana untuk membantu latihan kalian.. hhhh.. aku pulang saja.." Rias sudah menduga penolakan Naruto, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja. Rias menyeringai.
"Baiklah.. Akeno, kamu yang harus melaith Issei. Pulanglah.. kita berangkat besok dan beri tahu pada yang lain.." Rias berbicara pada Akeno tanpa memperdulikan Naruto yang sudah menghentikan langkahnya.
"Gremory-san? Kapan kalian berangkat.." Rias dan Akeno menyeringai tanpa Naruto lihat,
"Hum? Kenapa? Apa kamu berubah pikiran Naruto-kun?"
Melihat keyakinan pada wajah Rias menjadikan gengsinya semakin besar," Aku cuma bertanya.."
"Kamu ikut, kanh? Naru-kun?"
Naruto tidak tau jika Akeno sudah muncul dibelakang tubuhnya, dan berbisik penuh keerotisan. Dia lupa jika Ojou-samanya juga tidak jauh beda dari Issei, saat ingin menoleh kedua tangan akeno sudah melingkari lehernya dari belakang. Mau tak mau, dia harus mengangguk sebelum hal buruk lain terjadi.
"Ara ara.. Naru-kun sudah setuju Buchou, nfufufufufu.. kita akan berangkat besok Naru-kun, ayo bersiap!" Akeno menarik lengan Naruto dalam kuasanya, "Buchou, kami pulang dulu, jaa.." Rias menghela nafas, saat Akeno melambaikan tangan dan menarik Naruto pergi.
Naruto lelah dan ingin pergi menggunakan hiraisin agar cepat sampai apartemennya, dia baru ingat jika Senseinya pernah menyebut- nyebut nama Hiraisin untuk kanji fuin yang diagunakan untuk berpindah. Tapi niatnya harus diurungkan karena saat ini tangannya dirangkul erat oleh Akeno, menjadikan mereka sebagai pusat perhatian disepanjang jalan. Naruto sendiri tidak suka menjadi pusat perhatian, kerena selama ini hidupnya hanya diisi oleh latihan dan jarang sekali interaksi dengan orang asing.
Naruto memandang Akeno disampingnya yang berhenti tiba- tiba, begitu mendekati sebuah kuil yang dia yakini adalah tempat tinggal Akeno. Hembusan angin pelan membuat rambut Akeno bergerak bergelombang, rambut hitam yang sudah lebih panjang dari saat terakhir Naruto tinggal bersama Akeno.
" Ara ara.. kenapa kita lewat sini, Naru-kun?" Akeno menghentikan langkah begitu jalan yang mereka lalui sangat dia kenal.
" Hum? Tentu saja pulang.. Ojou-sama bilang ingin pulangkan?"
"Apa apartemenmu ada disekitar sini, Naru-kun?"
"Apartemenku di arah yang berlawanan.. kenapa Ojou? Aku ingin mengantarmu pulang terlebih dulu.."
"Dari mana kamu tau tempat tinggalku Naru-kun? Sedangkan anggota club hanya Rias, Koneko dan Kiba yang tau tempat tinggalku Nfufufufu.."
Nyutt ~ Akeno semakin menekan lengan kiri Naruto ke oppainya, dan mendongakkna kepalanya memandang Naruto.
'Hhhngg, gawat...' Naruto berjengit merinding..
To be Continue. . . . . . . .
A/N: ini ficnya udah lanjut atau next...
Pedang naruto akan mampu mengendalikan elemen angin- kaze no tsurugi, perbandingan dari pedangnya ringo ame yuri yang mengendalikan petir hehehe maaf jika nama atau pedang ini gak cocok menurut readers karena masih minim pengetahuan, aku hanya menggunakan analogi- analogi yang menurutku cocok buat naruto. Aku baca di blog kalo pedang itachi namanya totsuka no tsurugi (pedang sake atu mabuk, kalo gak salah inget), kaze itu angin kan? Spesifikasi kekuatan akan terungkap saat pertarungan, salah satunya mirip dengan pisaunya Ashuma... semoga bisa singkron dengan jawab review kemarin.. Menyesuaikan elemen angin Naruto di canon, biar naruto di fic ini nggak terkesan OC buatan author, dan mengambil beberapa chara dari naruto.
Anime Inuyasha hanya sebagai inspirasai author dan mengambil karakter di miko & hanyou juga kemunculan katana, untuk alasan kemunculan senjataitu murni buatan author aja (^_^) untuk menjaga fic ini tetap di jalur x-overs bukan multi x-overs.
Aku merasa alurnya terlalu lambat,. Alur dxd: kayaknya ada jeda waktu cukup lama antara penyerangan kokabiel dan pertemuan 3 fraksi, jadi aku menyelipkan arc rizer di arc kokabiel. Dan juga, sengaja tidak aku diskripsikan aktivitas raizer di club karena pasti itu udah muncul di kebanyakan fic x-over dxd. juga akan mengambil beberapa alur cerita di canon Naruto.
Penamplan awal naruto bukan untuk menyembunyikan ketampanan atau agar tidak menarik perhatian. Author fikir rubah punya kebiasaan seperti kucing yang sering merapikan bulunya, dari sini terfikirlah penampilan Naruto.
Jawaban review chap 6:
namikazeall-san, Donquixote Tamao-san, juubi no kitsune-senpai : Terimakasih suportnya.. Ganbarimasu..
uciha kimcil-san : Eto... khkhkhkh, harus ngumpet waktu ngetik fic ini... ^_^
Reiji01-san : Terimakasih.. flassback ada kok, udah slesai malah, tinggal masukin ke chapter yang tepat aja... dan aku merasa mulai menyukai menulis, aku usahakan gk discontinue, tapi juga gak bisa intens untuk update kedepannya, gomen untuk yang satu ini.
The Black Water-senpai : mungkin karena fic ini gak action, kayaknya banyak yang review di fic action atau rated MA. He he he sejak jadi author aku suka baca review fic punya author lain,. ^_^ bisa juga karena pairingnya gk cocok ada reviewer di fic lain bilang kalo naruto gk cocok sama akeno, terserahlah ane suka pairing ini, pengalihan dari Hinata RNT.. ^_^ atau summarynya gk mengumbar identitas/ kekuatan Naruto.
Ae Hatake-san: ya.. aku buat seperti proses transformasi kyubi waktu naruto belum temanan sama kurama. Tapi di fic ini naruto gak akan sampai ketahap kyuubi atau ekor 9.
The KidSNo OppAi-san: gak banyak tapi..
Kitsune857-san: khkhkhkh, aku cuma bisa jawab kalo ortunya Naruto tetep canon, aku gk akan merubah point- point penting dari Naruto, selebihnya akan jadi misteri sampai fic ini mendekati akhir.. ha ha ha ha *tawa antagonis ... tapi diperbolehkan berspekulasi.
nawawim451-san: ya.. masih tetep canon, cuma perubahan menyesuaikan fic ini.
mikaze9930-san : jangan senpai.. huuee usiaku baru satu bulan di dunia FFN, terimakasi reviewnya
Keris Empu Gandring-san : Terimakasih pujiannya, kepala author jadi bercabang- cabang... eto, sedikit khawatir mengundang flamers.. XD
Yosh..! Arigatou Minna-san untuk review dan dukungannya, senang jika fic ini bisa sedikit menghibur. Arigatou juga untuk readers yang menyempatkan berkunjung, visitors fic ini semakin banyak, ^_^.. juga untuk yang ngefav dan follow fic ini, sugguh author berterimakasih banyak..
. Eto? Di kyoto bukan hanya ada youkai kitsune aja kan? Aku kesulitan lihat profilnya yasaka, yang mau muncul cuma anaknya si Konou..
. aku berencana ingin menggabungkan chap 1 dan chap 2 .. kira- kira bakal bikin bingung gk ya?, soalanya aku gak terlalu suka kalo terlalu banyak chapter
Author gak bermaksud berkelit, tapi ini.. Huuaa author gak bisa update dalam waktu dekat.. bukan gara- gara UTS kok, author gk terlalu perduli sama ujian.. tapi author harus mengurang waktu ngetik fic, karena harus segera menyelesaikan maket.. GOMENASAI..! Fic ini gak akan discontinue.. karena dikit- dikit aku akan tetep ngetik cerita fic ini, kalo bosen sama maket.. khkhkhk, author harus mengakui jika semakin tertarik dengan dunia menulis.
Eto... sampai ketemu di chapter depan. . . . . .
Sankyuu readers . . . . . ^_^ semoga fic ini masih diminati dan ditunggu . . . .
08 November 2015
