Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance / Angst
Rated: T
Pairing: SasuSaku
Original Story: Mr Endlessly by angel-puppeteer
Endless Memories
Rewritten by: Akina Takahashi
Chapter 7: There's no Way to Go Back
Sakura menatap bayangan dirinya di cermin, ia mengambil sisir yang ada di meja rias yang ada di hadapannya. Perlahan ia menyisir rambut pinknya yang panjangnya hampir mencapai pinggangnya.
"Ino-chan, kudengar Sasuke-kun menyukai gadis berambut panjang." Sosok kecil Sakura yang masih berumur 8 tahunan tersenyum lebar. Saat itu ia masih berambut pendek.
"Ya, kudengar juga begitu. Wah, kalau begitu, aku salah satu tipe gadis kesukaan Sasuke ya?" Ino memamerkan rambut pirangnya yang panjang pada Sakura.
"Hmph, Sasuke-kun tidak mungkin menyukai gadis centil sepertimu. Week!" Sakura menjulurkan lidahnya pada Ino.
"Hei! Kalau begitu kau harus berusaha memanjangkan rambutmu itu! Dan mungkin saat rambutmu panjang, aku sudah menjadi pacarnya Sasuke-kun ya? Hihihi."
"Tentu saja aku akan berusaha. Walaupun harus memakan waktu bertahun-tahun, aku akan berusaha memanjangkan rambutku. Itu sebagai tanda kesetiaanku pada Sasuke-kun."
"Hih, Apanya yang kesetiaan? Kau bahkan belum pernah berbicara dengannya." Ino merendahkan.
"Lihat saja nanti! Suatu saat nanti, aku pasti akan ada di hatinya!" jawab Sakura, lantang.
"Cih, dasar jidat lebar! Jangan-jangan pesawat boeing 737 bisa mendarat di jidatmu itu!" ejek Ino.
"Apa yang kau bilang?! Dasar babi! Kembali ke peternakanmu sana!" balas Sakura.
"Jidat!"
"Babi!"
"Sasuke-kun itu milikku!"
"Bukan! Dia milikku!"
"Milikku!"
"Milikku!"
"Milikku!"
Sakura mengambil kunai, kemudian memotong rambutnya dengan menggunakan kunai itu.
"SRAKK" rambut pinknya berjatuhan ke lantai. Sakura menutup matanya perlahan. Setelah ini, ia akan benar-benar menyerah. Berhenti berusaha untuk menggapai mimpinya selama bertahun-tahun. Mimpi yang hanya akan menjadi angan-angan semata. Mimpi yang terlalu tinggi untuk digapai, terlalu cepat untuk dikejar. Sekeras apapun ia berusaha, ia takkan pernah bisa menggapainya.
"Dengan ini, aku sudah terbebas darimu… Sasuke-kun." Sakura mengamati penampilan barunya di cermin. Kini rambutnya kembali pendek, sama ketika ia masih berusia 8 tahun.
"Selamat tinggal… Sasuke-kun."
"Hei! Sakura! Kau mau pergi kemana?" Ino tersenyum, ia melambaikan tangannya pada Sakura. Ino berjalan keluar tokonya untuk menyapa Sakura.
Cuaca pagi ini cukup cerah, hari ini hari minggu sehingga banyak orang yang berlalu-lalang di jalan-jalan utama Konoha. Ada yang pergi untuk berekreasi dengan keluarga, ada yang hanya sekedar berjogging sembari mendengarkan musik, ada pula yang bekerja bakti membersihkan lingkungan di sekitar rumah mereka.
Sakura menghentikan langkahnya ketika ia melewati toko Yamanaka. "Hei Ino-pig!" sapa Sakura ceria. Tangannya membawa sebuah kotak kayu berwarna coklat.
"Wah, kau potong rambut?" Ino sedikit heran. Sakura biasanya sangat anti untuk memotong rambutnya.
"Ya, begitulah. Bagaimana? Cocok kan?" Sakura memamerkan rambut pendek sebahunya pada Ino.
"Kau terlihat… cantik" puji Ino. Apa dia benar-benar sudah menyerah? Apa dia sudah melupakan Sasuke?
"Terima kasih Ino-chan…"
"Kau mau pergi kemana Sakura?"
"Yah, aku akan menuruti saranmu."
"Eh?" Ino sedikit bingung dengan jawaban Sakura.
"Seperti yang kau bilang, aku harus bangkit. Aku harus melupakan Sasuke-kun." Sakura menghentikannya sesaat. "Sekarang aku akan membuang semua kenanganku dengannya."
"…" Sesaat mata biru Ino melebar.
"Di dalam kotak ini, terdapat semua kenanganku dengannya. Dan aku akan mengembalikannya ke tempat seharusnya." Jelas Sakura. "Jadi, kau jangan lagi mengkhawatirkan aku. Karena aku sudah bertekad untuk melupakannya.
"…" diam sesaat. "Sakura, aku akan selalu mendoakanmu. Semoga kau bahagia." Ino tersenyum. "Nah sekarang pergilah, selesaikan urusanmu itu."
"Sampai jumpa Ino-pig!"
"Ya, berjuanglah Sakura. Tuhan pasti akan menunjukkan jalan yang terbaik bagimu."
.
.
.
Sakura menatap makam yang ada di hadapannya, angin berhembus memainkan rambut pinknya yang baru saja dipotongnya.
"Sasuke-kun yang kucintai dulu, sudah terkubur disini. Begitu pula cintaku." Sakura berjongkok, meletakkan kotak yang ada di dekapannya.
"Semua kenanganku dengan Sasuke sudah terkunci dalam kotak ini. Dan aku akan melupakannya." Sakura bangkit dari jongkoknya kemudian berjalan menjauhi makam, meninggalkan kotak kayu yang berisi kenangan-kenangannya di atas makam.
"Semoga tanpa diriku, kau bisa bahagia. Sasuke-kun."
"Sakura."
"…huh?" Sakura menghentikan langkahnya, memalingkan wajahnya ke arah orang yang memanggilnya. "Shikamaru."
Si pemuda jenius perlahan berjalan ke arahnya.
"Ini… aneh." Sakura tersenyum simpul. "Kau bahkan belum pernah berbicara denganku sejak 3 tahun yang lalu, Shikamaru."
"…"
Sakura merasa heran atas sikap Shikamaru yang sedikit aneh. "Apakah kau punya masalah? Apakah ini ada hubungannya dengan Ino?"
"Tidak."
"Lalu.. apa?"
Shikamaru menelan ludah. Tangannya yang berada di sakunya tanpa sadar berkeringat. Keringat dingin. "Apa kau sudah bertemu dengannya?"
Sakura memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seakan mencari seseorang. "Bertemu dengan siapa?"
Shikamaru akhirnya menatap mata hijau Sakura. "Sasuke."
Sakura menutup matanya sesaat sebelum membukanya kembali. "Oh." Sakura membalas tatapan Shikamaru "Dia." Kemudian tersenyum. "Ya, aku sudah bertemu dengannya." Sakura menambahkan.
"Dan…?"
"Dan…" hampir saja Sakura menyelesaikan kalimatnya. Jika ia tidak segera tersadar. "Memangnya ada apa?"
Shikamaru menghindari tatapan Sakura, ia menundukkan kepalanya. "Aku…"
"Shikamaru." Suaranya terdengar stabil. "Kau seperti bukan Shikamaru yang kukenal. Apa yang membuatmu begitu khawatir?" Sakura menatap Shikamaru serius.
Shikamaru merasa sedikit panik."Aku—"
Sakura tertawa kecil. "Hei, sudah, sudah, jangan dipikirkan. Sepertinya reaksiku terlalu berebihan ya? Aku Cuma sedikit heran, kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang Sasuke. Kupikir kau pasti merasa malas untuk memikirkan hal seperti itu."
Shikamaru mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari mata hijau Sakura. "Dia tidak mengingatmu, benar kan?"
Sakura seakan membeku ketika mendengar pertanyaan Shikamaru.
"Katika aku bertemu dengannya… Dia sama sekali tidak mengenaliku." Lanjut Shikamaru.
"Ketika kau…bertemu dengannya…?" Sakura mengulang perkataan Shikamaru perlahan. "Shikamaru—"
"Kami menemukannya di kumo-gakure."
Mata emerald Sakura melebar. "Kau menemukannya…?"
"Ketika kami sedang melaksanakan misi di kumo-gakure, kami menemukannya."
"…"
"Kenapa harus aku yang menemukannya? Kenapa? Padahal banyak orang lain yang dapat menemukannya. Tapi kenapa harus aku?"Entah kenapa ada sesuatu dari nada bicara Shikamaru yang mengganggu Sakura.
"…kenapa tidak?" tanya Sakura pelan.
"Sakura."
Sakura mengadahkan kepalanya menatap Shikamaru.
"Apakah kau ingat?"
"…apa?" tanya Sakura, ia sedikit kebingungan.
"Tiga tahun yang lalu, Uchiha Sasuke mengirim timnya kembali karena aku."
"…!"
"Mungkin…" Shikamaru menelan ludah. "Keadaannya tidak akan menjadi seperti ini jika ia tidak menyelamatkan aku."
Sakura menatap mata Shikamaru, mata emeraldnya melebar.
"…Seluruh anggota tim-ku terluka, aku yang terluka paling parah." Shikamaru melanjutkan.
Si pemuda jenius memalingkan wajahnya dari Sakura, dari mata emerald yang terluka. "Dia menyuruh Naruto dan Neji untuk pergi. Dia mengumpankan dirinya sendiri ke tangan musuh, dia bahkan memerintahkan semuanya untuk pergi meninggalkannya, itu semua untuk menyelamatkan nyawaku."
…
"Apakah…" Diam sesaat. "…kau mengingatnya?"
"Kau…" Sakura berkata perlahan. Tiba-tiba Shikamaru membungkukkan badannya.
"Maafkan aku."
"Shi…ka—maru…"
"Sakura, maafkan aku."
"…"
"…Seharusnya aku sudah minta maaf sejak dulu, tapi… aku…" Shikamaru menarik napas. "aku…" ia tampak tak bisa melanjutkan kalimatnya, namun pada akhirnya ia dapat berkata-kata. "Maafkan aku. Jika saja saat itu aku lebih kuat untuk menahan serangan musuh, Sasuke tidak akan—"
"Hentikan." Potong Sakura.
"Sakura."
"Hentikan…itu."
Shikamaru berkata pelan, nyaris berbisik "Maafkan aku."
"…jangan minta maaf."
"…"
"Shikamaru."
…
"…jadi inikah alasanmu untuk tidak berbiacara denganku dan Naruto selama tiga tahun terakhir ini?" tanya Sakura.
Shikamaru tidak menjawab.
"Apakah karena kau merasa bersalah pada kami?"
Diam.
"Kau…"
Shikamaru menutup matanya.
"…bodoh."
Shikamaru hanya terdiam.
"Tapi… kau adalah teman yang sangat baik." Sakura tersenyum manis.
"Sakura—"
Wajah Sakura sama sekali tidak menunjukkan penyesalan maupun kekecewaan. "Itu bukan salahmu."
Perlahan Shikamaru menundukkan kepalanya.
Shikamaru menggigit bibir bawahnya. "Kalau saja ia tidak menyelamatkanku, ia tidak akan—"
"Jika dia tidak menyelamatkanmu, mungkin saja kau sudah mati sekarang." Sakura memotong.
"…!" Mata Shikamaru membelalak.
"Dan mungkin saja Ino akan sama sepertiku. "
"…Sakura."
Kunoichi berambut pink itu tersenyum, tapi mata hijaunya dipenuhi air mata. Kemudian sesaat setelah ia menutup matanya air mata berjatuhan di pipi pucatnya mengalir menuju dagunya.
Shikamaru menelan ludah. "Apakah aku membuatmu…menangis?" tanyanya.
"Tidak." Tidak, Sakura menggeleng. "Hanya ada satu orang yang dapat membuatku menangis."
"…"
"Sakura…"
"Maafkan aku… maafkan aku, Shikamaru. Aku tidak bermaksud menangis di hadapanmu seperti ini."
Aku sudah keluar dari kehidupannya.
Aku sudah memutuskan untuk menata ulang hidupku tanpa dirinya.
"Sakura—"
Shikamaru menundukkan kepalanya namun mengangkatnya kembali untuk menatap mata hijau Sakura yang basah.
"Sakura—"
"Huh?" Sakura berusaha mengelap air matanya dengan punggung tangannya. Ia menatap Shikamaru, sedikit penasaran dengan apa yang hendak dikatakannya.
"Ada yang harus kukatakan padamu." Shikamaru menunjukkan rasa bersalah yang amat sangat pada wajahnya. Dan entah kenapa itu membuat Sakura merasa tidak nyaman. "Seharusnya sudah kukatakan sejak dulu."
Sakura hanya terdiam, menunggu Shikamaru menyelesaikan kalimatnya.
"Sasuke…" Shikamaru menarik napas. "Dia…" Shikamaru menatap mata hijau Sakura dengan serius. "Mencintaimu."
Sesaat Sakura merasa dunia di sekelilingnya berputar. Ia merasa pusing, sangat pusing. Kepalanya sakit.
Kumohon jangan buat aku berharap lagi.
Karena aku sudah membuang harapanku jauh-jauh.
Aku sudah memutuskan untuk keluar dari kehidupannya.
Jangan katakan hal itu sekarang.
Kumohon.
Kumohon.
"Sudah. Hentikan Shikamaru." Sakura memegangi kepalanya yang sakit. Pandangannya menjadi lebih kabur akibat air mata yang terus-terusan mengalir memenuhi matanya.
"Saat dia menyelamatkanku. Dia bilang padaku." Jelas Shikamaru
"Hei, Shikamaru. Jika aku tidak kembali, katakan pada Sakura bahwa aku mencintainya." Sasuke berdiri membelakangi Shikamaru. Mata Shikamaru melebar, seakan tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar.
Sasuke berlari menuju ke arah musuh yang membawa pasukan sekitar 500 orang. Ia mengeluarkan kusanagi kemudian tersenyum sinis.
"Kalian pulanglah! Aku yang akan menghadapi mereka semua!"Perintah Sasuke, pada Neji, Naruto dan Shikamaru.
"Tapi, Sasuke!"
"Teme! Jangan bertindak bodoh!"
"Cih! Ini perintah! Cepat pergi!" Sasuke mengalirkan chidori pada kusanaginya. Ia bahkan sama sekali tidak melihat ke arah teman-temannya.
DUAR!
Suara bom, mengejutkan mereka semua.
"Ini berbahaya! Ayo cepat pergi darisini!" Neji menyeret Naruto yang terlihat panik.
"Tapi Sasuke! Sasuke masih ada disana!" Jerit Naruto.
Ia melihat Sasuke tersenyum tipis diantara kepulan asap putih.
"Sampai jumpa lagi… dobe."
"Ne, Shikamaru."
Shikamaru mengangkat kepalanya. Sakura tersenyum tipis, pipinya masih dipenuhi air mata yang mengalir.
"Terima kasih."
Mata Shikamaru melebar.
"Terima kasih karena telah membawanya kembali. Dan terima kasih karena sudah memberitahuku tentang perasaannya"
Entah kenapa Shikamaru merasa ingin menangis ketika mendengar kata-kata Sakura. Betapa gadis ini berusaha untuk terlihat tegar.
"Mungkin semuanya memang tidak berakhir seperti yang kita inginkan, tapi setidaknya…" Sakura menahan suaranya agar tidak bergetar. "karenamu… aku jadi tahu perasaan Sasuke yang sebenarnya" Sakura tersenyum lembut.
"Mungkin kalau kau tidak terluka waktu itu, sampai sekarang aku tidak akan mengetahui perasaannya" Sakura tertawa kecil. "Kupikir dengan egonya yang setinggi gunung itu, ia takkan pernah bilang pada siapapun tentang perasaannya."
Shikamaru merasa hatinya sakit.
"…Yah, setidaknya ia telah kembali kesini."
Seandainya saja aku dapat melawan takdir.
Seandainya saja aku dapat memutar waktu.
Seandainya saja aku mengutarakan perasaanku padanya.
Seandainya saja aku lebih kuat.
Seandainya saja aku tidak mencintainya.
Seandainya saja orang yang kucintai adalah Naruto bukan dia.
Seandainya saja…
Seandainya saja…
Seandainya saja…
-TSUZUKU-
Special thank's to:
kakkoi-chan
hehe
Ritsukika Sakuishi
Nakamura Rumiko
Chiwe-SasuSaku
Uchiha-Rychan
naruchiha
Dan semua yang udah baca tapi ga review...
