.
ooOoo
CASTE HEAVEN
SasuNaru Version
.
SasuNaru
Romance/Psychological/School Life AU
Rated T (only for this chapter; M for overall)
.
Disclaimer: Story inspired by Caste Heaven manga by Ogawa Chise
Characters © Masashi Kishimoto
WARNING: OOC, Typos, SLOW BURN!
.
.
ooOoo
CHAPTER SIX
.
.
Seorang lelaki berusia dua puluh tahunan berjalan keluar dari mobil sport merah mencolok miliknya yang terparkir sembarangan di halaman. Sambil memainkan kunci mobil di tangannya, dia berjalan masuk ke dalam rumah megah di sana. Rumah paling luas di kompleks perumahan elite itu yang lebih kelihatan seperti sebuah mansion, bukti bahwa si empunya memiliki kekayaan yang tak terbayangkan. Ia tersenyum singkat pada beberapa maid yang menyambutnya di pintu masuk dan langsung bergerak menuju ke ruang tengah.
Dia melihat seseorang sudah berada di sana. Adik lelakinya, Sasuke, kini sedang berhadapan dengan laptopnya di ruang tengah. Televisi menyala dengan volume rendah tapi tidak digubris sama sekali. Sasuke tampak lebih terfokus pada layar laptop itu. Kegelisahan terlihat jelas di wajahnya.
Itachi merebahkan tubuhnya di sofa, beberapa meter dari Sasuke. Kepenatan setelah seharian bekerja masih belum hilang juga. Dia melirik adiknya dari sudut mata.
"Tidak berjalan lancar, ya?" tanyanya retorik.
"Begitulah," Sasuke menjawab tanpa mengalihkan pandangan. Kerutan di dahinya bertambah dalam. "Kupikir tidak akan butuh waktu lama untuk membuatnya memihak kita, tapi ternyata dugaanku meleset. Aku mengacaukan semuanya."
"Jarang sekali melihatmu gelisah seperti ini," Itachi berkomentar. "Apa dia susah didekati?"
Sasuke diam sebentar, menimbang-nimbang. "Tidak juga. Sebenarnya mudah saja kalau aku memakai cara yang tepat," katanya. "Tapi aku membuat kesalahan. Aku terlalu membiarkan perasaanku ikut campur hingga akhirnya jadi begini. Aku terlalu emosional."
Itachi menggumam. "Dia tidak mau berteman denganmu?"
"Lebih parah," jawab Sasuke. "Sekarang dia membenciku."
Itachi terkekeh kecil mendengarnya, merasa lucu karena tidak biasanya adiknya bisa berbuat kesalahan separah itu. Biasanya apa pun yang ia kerjakan akan selesai dengan sempurna, tidak peduli sesulit apa pun pekerjaan itu. Apa yang satu ini pengecualian baginya?
Sasuke merasa tersinggung mendengar suara tawa kakaknya. "Itu bukan hal yang pantas ditertawakan, Nii-san."
Itachi masih terkekeh. "Maaf," ujarnya. "Tapi kau memang salah, Sasuke. Seharusnya kau tidak membuatnya menjadi Target. Kau bisa membuat dia menjadi Jack atau semacamnya."
"Posisi Jack itu untuk Neji. Aku butuh dia untuk menjalankan rencana kita," tandas Sasuke. "Kupikir cara terbaik untuk membuat anak itu menurut padaku adalah dengan membuatnya menjadi Target, tapi aku sama sekali tidak menyangka itu akan membuatnya membenciku seperti ini." Ada segelintir kesedihan di wajah Sasuke.
"Apa perlu aku turun tangan untuk membantumu?" Itachi menawarkan.
"Tidak. Aku yang membuat kesalahan ini, jadi aku yang akan menyelesaikannya."
Itachi tersenyum. "Kau sudah semakin dewasa, Sasuke."
Sasuke mendengus. "Bagaimana dengan Nii-san sendiri? Ada perkembangan?"
Senyum Itachi pudar. Ada gurat serius di dahinya. "Tidak ada. Sampai sekarang aku masih belum menemukan orang itu." Dia menghela napas panjang, seolah-olah beban di pundaknya begitu banyak ditambah lagi dengan pencarian orang itu. Entah kenapa kepenatan kembali membebani dirinya.
Sasuke mengetik sesuatu di laptopnya, tapi masih sempat menimpali, "Apa benar-benar tidak ada orang lain yang bisa dimintai petunjuk?"
"Tidak ada." Itachi memandang layar TV tanpa memerhatikan acara yang tayang sama sekali. "Aku curiga kalau-kalau dia sekarang ada di luar Jepang."
"Kenapa bisa begitu?"
"Aku sudah mencari di mana-mana, tapi sama sekali tidak pernah ketemu. Informan yang kubayar pun tidak bisa berbuat banyak."
Sasuke terdiam, berpikir. "Jadi tidak ada pilihan lain."
"Begitulah," Itachi membenarkan. "Satu-satunya pilihan yang adalah dengan mendekati orang yang punya hubungan langsung dengan dia. Dalam hal ini adalah Uzumaki Naruto. Tugasmu adalah yang terberat, Sasuke."
"Hm."
Itachi mulai merileks, mulai bisa menikmati tayangan televisi yang saat ini menayangkan program komedi. Dia kemudian memerhatikan sekeliling. "Kenapa sepi sekali?" tanyanya. "Ke mana Otou-san dan Okaa-san?"
"Oh, Okaa-san sekarang ada di rumah yang di Fukuoka, katanya mau membicarakan sesuatu soal mobil yang baru Nii-san beli itu. Nii-san disuruh segera menyusulnya."
"Shit!" Itachi segera beranjak berdiri, menyambar kunci mobil barunya itu dengan panik. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku pasti akan kena marah lagi."
"Salah sendiri kenapa sering sekali beli mobil baru," gerutu Sasuke, tersenyum kecil sambil tetap memandang layar laptopnya.
Kakaknya tidak punya waktu untuk menanggapi sindiran Sasuke. Yang terpenting sekarang adalah pergi ke Fukuoka untuk menghadap ibunya. Ia juga harus mempersiapkan telinganya untuk dimarahi lagi setelah ini. Sialan.
.
.
Naruto pulang ke rumahnya dengan kedua tangan menenteng belanjaan setelah barusan menyinggahi convenient store dekat rumah. Kartu kredit yang diberikan Sasuke tadi siang mau tidak mau harus dipakai karena Naruto sekarang nyaris tidak punya uang sama sekali. Ibunya juga pasti harus mengurus banyak hal di rumah. Apalagi ini akhir bulan, banyak tagihan yang perlu dibayar.
Tadi sewaktu bertemu Gaara, Naruto diberitahu kalau pindahannya diundur sampai besok. Katanya ada problem dengan barang-barang yang akan dipindah dan masalahnya tidak akan bisa diselesaikan dalam satu hari. Maka dari itu Naruto hari ini langsung pulang ke rumah tanpa pergi ke mana-mana.
Begitu sampai, langit sudah mulai beranjak gelap. Naruto masuk ke rumahnya yang tidak dikunci. Pasti ibunya sudah pulang dari tadi.
"Tadaima!" ucapnya sambil melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumahan biasa. Dia tidak mendengar jawaban apa-apa, tapi ada suara gumaman antusias dari dalam. "Kaa-chan?"
Sewaktu dia masuk, Naruto melihat ibunya sedang bicara di telepon dengan wajah sumringah. Dia berhenti sejenak sewaktu melihat Naruto datang.
"Oh, Naruto, okaeri!" Kemudian beralih kembali ke telepon. "Ini Naruto sudah pulang, mau bicara dengan dia?"
"Siapa?" tanya Naruto sambil menaruh belanjaan di atas meja.
Ibunya menyerahkan gagang telepon ke Naruto, tersenyum lebar. "Telepon dari kakakmu."
"Kyuu Nii-chan?!" seru Naruto, tersenyum gembira sekali. Ia menyambar gagang telepon senang. "Moshi-moshi, Nii-chan?!"
"Naruto? Kau sudah pulang sekolah?"Suara di seberang terdengar begitu familier. Naruto merindukan sosok ini, kakaknya yang sudah lama tidak pulang.
"Ya." Naruto mengangguk walau kakaknya tidak bisa melihat dari seberang sana. "Kyuu Nii-chan bagaimana di sana?"
"Seperti biasa. Pekerjaan sangat banyak jadi aku jarang bisa menelepon kalian dari sini. Apalagi tarif telepon internasional itu mahal sekali. Maafkan aku, Naruto."Kakaknya terdengar merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Nii-chan. Aku dan Kaa-chan mengerti keadaanmu di sana kok," jawab Naruto, tidak suka mendengar kakaknya merasa bersalah seperti itu. Kakaknya sekarang sedang bekerja keras di negeri orang. Biaya hidup di luar sana pasti sangat banyak hingga membuatnya kelimpungan. "Oh, Kaa-chan bilang kontrak kerjamu akan berakhir bulan depan? Jadi kau bisa segera pulang ke Jepang?"
Kakaknya tidak langsung menjawab, membuat Naruto bertanya-tanya apa yang salah.
"Nii-chan?"
"Aku tidak bisa pulang bulan depan, Naruto. Bosku meminta perpanjangan kontrak. Aku tidak bisa menolak..."
Naruto kehilangan kata-kata. Hatinya mengerut kecewa. "… Perpanjangan kontrak lagi?" Ini sudah yang ketiga kalinya.
"Maafkan aku, Naruto. Sampaikan permintaan maafku ke Kaa-chan juga." Kakaknya terdengar sedih sekali. "Aku juga tidak bisa mengirim uang dalam waktu dekat ini karena kurs mata uangnya sedang jelek sekali—"
"Aku tidak mempermasalahkan uang kirimanmu, Nii-chan. Aku hanya ingin kau pulang!" potong Naruto. Ekspresi senang sudah lenyap dari wajahnya. Yang ada sekarang adalah kekecewaan yang menggelayuti pikirannya.
"… Maaf, Naruto."
Ibunya tampak gelisah, meminta gagang telepon dari Naruto. Naruto hanya menurut, menyerahkan gagang telepon ke ibunya dan beranjak duduk di kursi, menunggu.
"Kyuu, tidak bisakah kau meminta cuti selama beberapa minggu?" Kushina berbicara dengan nada kalut, lalu mendengar balasan anak sulungnya yang membuat kerutan sedih di dahinya semakin dalam. "Kaa-chan mengerti. Jaga dirimu baik-baik di sana, Kyuu. Makan yang teratur dan jangan terlalu memaksakan dirimu…"
Naruto hanya mendengarkan ibunya memberi nasehat-nasehat untuk kakaknya, sampai akhirnya ibunya mengembalikan gagang telepon ke tempatnya, duduk di kursi depan Naruto dengan wajah yang masih belum lepas dari kesedihan.
"Kakakmu bilang belum bisa pulang ke Jepang sampai tahun depan," Kushina memberitahu. "Bosnya juga tidak bisa memberikan cuti."
"Kenapa tidak bisa?" Naruto mengepalkan tangannya. "Sudah empat tahun Kyuu Nii-chan tidak pulang. Kenapa dia tidak diperbolehkan pulang?"
"Kaa-chan tidak tahu, Naruto, tapi mengertilah keadaan kakakmu. Dia sedang bekerja keras di luar sana. Gajinya juga tidaklah begitu besar untuk dipakai bolak-balik ke sini."
"Kalau gajinya tidak terlalu besar, kenapa dia tidak bekerja di Jepang saja? Kenapa harus ke luar negeri? Kenapa harus jauh dari kita?"
"Kaa-chan juga tidak tahu, Naruto. Kakakmu pasti punya alasan tersendiri. Kita hanya harus percaya pada keputusannya."
Naruto diam, menunduk memandang tangannya di atas meja.
Ibunya memang benar soal kakaknya yang sedang bekerja keras mencari uang, tapi apa memang harus selama ini? Apa memang harus menelan bertahun-tahun tanpa pulang ke Jepang sama sekali? Yang bisa menyambungkan mereka sekarang ini hanyalah telepon dari kakaknya. Itu pun hanya beberapa minggu sekali. Yang benar-benar ia takutkan adalah suatu saat putus kontak dengan kakaknya. Bagaimana kalau kakaknya tidak pernah menelepon lagi, tidak pernah pulang, dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi?
Pikirannya semrawut. Semenjak kematian ayah dan neneknya, Naruto merasa keadaan menjadi begitu kacau. Ibunya harus bekerja, dan kakaknya juga harus mencari pekerjaan setelah lulus dari SMA, mengubur dalam-dalam impiannya untuk bisa kuliah di universitas ternama meskipun nilai-nilai ujiannya masuk kategori bagus…
Kushina menghentikan pikiran kusut Naruto. "Belanjaan itu kau yang membelinya, Naruto?" tanyanya, memandang bungkusan belanjaan yang tergeletak di atas meja.
"Iya…"
"Kau dapat uang dari mana?" Tatapan ibunya menyelidik. Naruto tidak mungkin punya uang untuk beli belanjaan sebanyak itu.
"Oh… ini dari temanku… ya, temanku… teman yang membantuku belajar...," Naruto berusaha berbohong. Dalam hati merasa mual karena menyebut Sasuke sebagai temannya. "Dia bilang kalau tamagoyaki buatan Kaa-chan enak sekali jadi dia tidak enak kalau tidak ikut membantu membeli bahan-bahannya…"
"Benarkah?" Kushina sepertinya tidak percaya ucapannya. "Sampai sebanyak ini?"
"Iya!" Naruto gelagapan panik. "Kalau Kaa-chan tidak percaya, aku bisa membawa temanku ke sini untuk bilang sendiri!"
Sialan… dia keceplosan…!
Kushina tersenyum. "Baiklah, Kaa-chan percaya," ujarnya. "Tapi sekali-sekali ajaklah temanmu itu ke sini. Kaa-chan ingin berterima kasih padanya karena sudah mengajarimu."
"Uh… iya, Kaa-chan… akan kuberitahu dia…"
Sialan… Bagaimana ini? Naruto salah bicara! Tidak seharusnya dia bilang begitu! Sekarang dia harus memikirkan bagaimana caranya membuat Sasuke ke sini! Apa yang harus dia lakukan sekarang?!
.
.
Keesokan harinya saat jam makan siang di sekolah, seperti biasa Naruto menuju ke lab biologi tak terpakai untuk menemui Sasuke. Walaupun kemarin baru saja dipermalukan oleh anak sombong ini, Naruto tetap tidak bisa meninggalkan "kewajibannya" itu. Dia masih tidak bisa memberitahu Sasuke soal permintaan Kaa-chan untuk mengajak "temannya yang membantu belajar" ke rumah. Harga diri Naruto masih tidak bisa diruntuhkan. Jadi untuk sementara, dia akan diam saja. Toh Kaa-chan juga tidak menyuruhnya datang di waktu tertentu.
Hari ini ada yang berbeda. Sasuke terlihat tersenyum puas begitu melihat isi kotak bekalnya. Senyumannya (atau seringaian?) semakin mengembang saat mencicipi rasanya. Dia menggumamkan kata "enak" tanpa suara, tapi mustahil Naruto melewatkan itu semua. Ada sedikit kebanggaan tersendiri dalam benaknya melihat kepuasan di wajah Sasuke, tapi tentu saja dia tidak akan bilang. Memang benar ibunya pandai sekali masak sekalipun dengan bahan-bahan yang terbatas. Namun Naruto merasa itu bukanlah hal yang perlu digembar-gemborkan. Biarlah mereka mencicipi sendiri masakan ibunya dan menilai sendiri.
Namun, ada saja hal yang membuat Naruto jengkel setengah mati. Sepanjang jam makan siang ini, smartphone Sasuke terus-menerus bergetar dan Sasuke harus bolak-balik menghentikan makan untuk mengeceknya. Sepertinya dia sedang sibuk sekali, bahkan saat sedang makan sekalipun.
Naruto sebenarnya sangat ingin berteriak padanya untuk menyingkirkan smartphone itu dan fokus makan, tapi dia tetap memilih untuk diam sambil menyembunyikan rasa jengkelnya.
.
.
Gaara menungguinya di depan sekolah usai jam pulang berdentang. Naruto dengan sumringah menemuinya, melongok ke belakang untuk memastikan bahwa Sasuke tidak ada di sana. Bisa-bisa jadi masalah kalau Sasuke tahu dia sedang bersama Gaara.
Mereka pergi ke toko baru pamannya Gaara dengan kereta sebentar. Toko itu ada di pusat kota yang cukup ramai. Truk-truk pindahan sudah terparkir di depan toko dengan pintu terbuka. Barang-barang yang akan diangkut kelihatan dari kejauhan. Satu-dua orang terlihat berdiskusi dengan seorang laki-laki paruh baya di sana.
"Ojii-san!" Gaara menyapa, disambut senyum oleh pamannya.
"Gaara! Kau sudah sampai rupanya!" Pandangannya berkelebat ke arah Naruto. "Jadi ini teman yang kauceritakan ingin membantu itu? Boleh juga. Siapa namamu, Nak?"
"Uzumaki Naruto, Jii-chan," jawab Naruto sambil menundukkan kepala sedikit.
"Naruto, huh? Kau bisa panggil aku Tora. Yoroshiku na, Naruto." Paman Tora tersenyum lebar sambil memamerkan deretan giginya yang putih. "Tenaga anak muda seperti kalian sangat dibutuhkan di saat-saat seperti ini."
Naruto nyengir. "Yoroshiku, Tora Jii-chan."
"Baiklah, sepertinya sudah berkumpul semua. Kita langsung mulai saja? Gaara, tolong bukakan pintu tokonya lebar-lebar. Touji, kau dan yang lainnya mulai mengangkut barang-barang dari dalam truk, …" Paman itu mulai memberikan instruksi pada semua orang yang ada.
Toko ini adalah toko elektronik yang cukup besar. Lokasinya sangat strategis di jantung kota hingga bisa dipastikan peruntungannya pasti bagus di sini. Paman Tora yang sudah terlalu tua dan punya sakit pinggang lumayan parah menempatkan diri di dalam toko, menginstruksikan setiap orang yang mengangkut barang di mana lokasi barangnya akan diletakkan. Ada banyak sekali yang diangkut. Tokonya juga cukup luas hingga pasti akan menelan waktu sampai semuanya selesai.
Sekitar pukul setengah tujuh, mereka semua memutuskan untuk beristirahat makan malam. Sisa-sisa barang yang masih ada di truk tidaklah seberapa; mungkin setelah makan malam bisa cepat diselesaikan. Paman Tora membagikan onigiri ke orang-orang, yang langsung disambut dengan sorakan penuh rasa senang dan kelaparan dari mereka.
Naruto duduk berjongkok di samping tangga sambil makan. Gaara mendekatinya, duduk di anak tangga paling bawah. Di tangannya sendiri sudah ada onigiri yang masih belum tersentuh.
"Kau sudah memberitahu ibumu?" tanya Gaara tiba-tiba.
"Soal?"
"Soal membantu pindahan toko pamanku."
Naruto menelan sepotong onigiri. "Aku sudah memberitahu Kaa-chan sejak kemarin. Jangan khawatir."
Gaara mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Bisa susah nantinya kalau kau tidak bilang akan pulang malam."
"Sebentar lagi juga selesai, kan? Tidak banyak barang yang tersisa di truk, kok," ujar Naruto.
"Benar juga," Gaara membenarkan. "Jujur aku terkejut kita bisa selesai hari ini juga. Empat truk dan tenaga sedikit. Kalau bukan karena bantuanmu, aku bisa jadi tidak pulang hari ini. Kau ternyata kuat juga."
Naruto tersenyum miring. "Kau meremehkan kekuatanku," katanya sambil menekuk siku dan menepuk-nepuk otot bisepsnya.
Gaara tertawa ringan, tapi terhenti saat merasakan ponsel di sakunya bergetar. Dia merogoh saku untuk mengeluarkan ponsel dan mengecek pesan yang ia terima. Naruto hanya memandangnya sambil memakan kembali onigiri-nya.
Gaara tampak gusar sewaktu membaca pesannya. Kerutan di dahinya tampak jelas, berbeda sekali dari ekspresi wajah Gaara yang biasa Naruto lihat. Saat ia menaruh kembali ponsel itu, Naruto bisa mendengar Gaara menghela napas panjang.
Naruto jadi penasaran. "Ada masalah?"
"Ya, bisa dibilang begitu," jawab Gaara, menghela napas lagi. "Masalah kelas."
Pasti masalahnya lumayan menjengkelkan karena Gaara bolak-balik menghela napas. Namun Naruto ingat kalau itu dia tidak ada hubungannya dengan masalah itu. Bahkan masalah di kelas Naruto sendiri pun masih belum bisa ia selesaikan sendiri.
Kemudian Naruto teringat sesuatu. "Aku lupa bertanya padamu. Sebenarnya apa posisimu di permainan kasta kelasmu?"
Senyum kecil mendadak muncul di bibir Gaara, menghilangkan kerutan yang ada di dahi itu. "Kau ingin tahu?"
"Um," Naruto mengiyakan.
"Aku tidak mau memberitahu. Kau harus cari tahu sendiri."
"Eeeh? Kenapa begitu?"
"Tanyalah pada teman-temanmu, mungkin ada yang tahu."
"Hmm," Naruto menggumam. "Posisimu pasti tinggi ya?"
"Yah, mungkin saja begitu," ujar Gaara misterius. "Ah, Naruto, selagi masih di sini, tolong beritahu aku nomor ponselmu. Siapa tahu ke depannya aku harus menemuimu lagi?" Tangan Gaara sudah menjangkau ponselnya kembali.
Naruto menggeleng. "Aku tidak punya ponsel."
Gaara terlihat sanksi. "Serius?"
Naruto mengangkat kedua pundaknya. "Ponsel itu benda mahal. Aku tidak punya uang banyak untuk membeli benda semahal itu." Naruto menjawabnya dengan nada ringan, tidak ada rasa malu sama sekali. Memang seperti itu adanya, mau bagaimana lagi. Biarlah orang bilang dia kampungan atau apa, Naruto tidak mau ambil pusing. "Tapi kalau telepon rumah, aku punya sih, walaupun yang model lawas."
Gaara terdiam sejenak. "Aku punya ponsel yang tidak terpakai di rumah. Kalau kau mau, aku bisa meminjamkannya padamu."
Naruto mengerjap. "Uh, tidak usah, Gaara. Tidak perlu repot." Rasa sungkan lagi-lagi mendominasi dirinya.
"Ponsel itu sudah tidak pernah kupakai. Tidak apa-apa kalau kau pinjam sampai dapat punyamu sendiri."
"Aku tidak terlalu memakai benda seperti itu."
"Jangan terlalu meremehkan komunikasi, Naruto. Bagaimana kalau ada keadaan darurat tapi kau tidak bisa dihubungi?"
Benar juga. "Tapi—"
"Rumahku ada di dekat sini. Setelah ini aku akan pulang untuk mengambilnya."
Gaara tidak bisa ditolak. Akhirnya Naruto tidak bisa apa-apa selain menerimanya.
"Karena kau memaksa, baiklah, Gaara. Tapi akan segera kukembalikan kalau aku sudah punya sendiri."
Memang akan butuh waktu, tapi dia tetap akan berusaha. Benar kata Gaara; komunikasi itu penting. Naruto sama sekali tidak pernah menghubungi teman sekelasnya di luar kelas, maka dari itu dia nyaris tidak punya teman. Ternyata sebagian besar penyebab dari keanti-sosialannya itu karena kurangnya komunikasi dengan orang lain.
Setelah jam makan malam, Gaara menghilang. Paman Tora bilang Gaara pulang sebentar ke rumahnya untuk mengambil sesuatu. Naruto pun membiarkannya, melanjutkan pekerjaan yang tinggal sedikit sebelum kelewat larut malam.
Jadi malam itu, Naruto pulang sambil mengantongi amplop berisi uang bayaran dari Paman Tora dan ponsel yang Gaara pinjamkan padanya.
.
.
Besoknya di sekolah, Naruto langsung menemui beberapa teman sekelas yang kiranya dekat dengannya. Kiba yang pertama, kemudian Lee, Shikamaru, Chouji, Shino, dan Tenten. Ekspresi wajah mereka sewaktu tahu Naruto sudah punya ponsel benar-benar tak ternilai. Tentu saja mereka senang karena akhirnya Naruto bisa dihubungi dengan mudah. Kiba pun sedikit menggodanya dengan bilang kalau Naruto sudah bisa mencari pacar kalau begini, karena dia bisa bertukar pesan dengan pacarnya itu setiap saat. Naruto segera menepis anggapan itu dan bilang kalau dia sedang tidak butuh pacar.
Lee menyebutkan soal Sasuke (yang notabene telah blak-blakan mengklaim Naruto sebagai miliknya), dan mood mereka semua langsung beralih masam.
Tentu saja tidak ada yang bisa melupakan kejadian hari itu, saat Sasuke menyelamatkan Naruto yang sedang dikerjai separuh anggota kelas karena sudah berbuat macam-macam sebagai seorang Target. Memang benar dia menyelamatkan bocah pirang itu, tapi… menciumnya? Apalagi di depan orang banyak? Dan bilang kalau Naruto adalah miliknya? Bukankah itu agak janggal? Mereka berdua itu nyaris tidak pernah berkomunikasi … tapi tiba-tiba Sasuke datang dan mengklaim Naruto… Agak sulit rasanya untuk percaya kalau Sasuke ternyata menyukai Naruto. Apalagi si Uchiha itu bertingkah sadis ke Naruto.
Tapi tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, Naruto sedang tidak mau memikirkan soal itu lagi. Biarkan hal itu selamanya berada di kuburan ingatan di belakang kepalanya dan tak akan pernah digali lagi. Biarkan ingatan itu hilang karena kalau tidak, Naruto akan selamanya merasa dipermalukan.
.
.
Saat jam makan siang, semuanya berjalan normal dan biasa. Bahkan Naruto mulai bisa menoleransi keberadaan Sasuke di sekitarnya. Yah, begitulah awalnya sampai Naruto merasakan ponsel pinjamannya itu bergetar. Secara refleks dia merogoh kantong celananya untuk mengambil benda persegi panjang tipis itu. Ternyata ada pesan dari Gaara.
Sasuke agak terkejut melihatnya. Dia berkata, "Aku tidak pernah tahu kalau kau punya ponsel."
Naruto mengetikkan balasan tanpa melihat Sasuke. "Gaara meminjamkannya padaku."
Ah. Keceplosan lagi. Sial.
Sasuke menghentikan makan, meletakkan sumpitnya di kotak bekal dan memandang Naruto lurus. "Gaara lagi?"
Naruto berusaha menekan perasaan kalutnya, memasukkan kembali ponselnya ke saku celana setelah pesan balasannya untuk Gaara sudah terkirim. Dia sengaja tidak membalas perkataan Sasuke dan lebih memilih diam dan melanjutkan makan. Kalau didiamkan mungkin Sasuke akan berhenti sendiri.
Tapi tidak.
"Kau tidak ingat perkataanku beberapa hari yang lalu?" Kelihatan sekali Sasuke berusaha keras menjaga nada bicaranya tetap rendah, berusaha menyembunyikan amarah di balik kata-katanya itu. Tapi Naruto masih bisa merasakannya.
Naruto membalas, "Kurasa tidak ada gunanya aku menuruti perkataanmu yang itu."
"Kau wajib menuruti perkataan seorang Raja. Apa masih perlu kuingatkan lagi?"
Lagi-lagi debat masalah ini…
Naruto menghentikan makannya, bicara serius, "Tidak semua perkataanmu itu harus kuturuti, Sasuke. Ingatlah bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa jadi milikmu, tidak peduli seberapa banyak kekayaan yang kau miliki."
Perkataan Naruto itu membungkam Sasuke, membuatnya diam dan memikirkannya dalam-dalam. Memang benar, tidak semua hal di dunia ini bisa ia miliki. Ada begitu banyak yang Sasuke inginkan, keegoisannya membuat Sasuke susah mendapatkannya.
Sasuke ingat obrolan dengan kakaknya kemarin sore, tentang kesalahan yang dia buat, tentang betapa Sasuke terlalu membiarkan perasaannya ikut campur hingga membuat semuanya berantakan. Tentang bagaimana uang tidak selalu menjadi jalan keluar untuk setiap masalah.
Ia harus memperbaiki semuanya.
"Aku akan membelikanmu ponsel baru, jadi besok kembalikan ponsel itu ke pemilik aslinya," kata Sasuke, akhirnya kembali melanjutkan makannya.
Naruto menatapnya marah. "Dan kenapa aku harus melakukan itu?" semburnya. "Kenapa kau harus mencampuri semua urusanku dan melarangku berbuat ini-itu? Kenapa aku harus menerima semua yang kau beri tanpa sekali pun menghiraukan harga diriku?" Naruto kehabisan kesabarannya.
Lelaki Uchiha itu menatapnya tanpa emosi tersirat sedikit pun di wajahnya. "Aku tidak bisa memberitahumu."
Naruto mendengus. "Jadi sekarang waktu yang tepat untuk main rahasia-rahasiaan?"
Ada kerutan asing di kening Sasuke. "Naruto, aku lelah terus-terusan bertengkar denganmu seperti ini."
"Kau pikir aku tidak?" tukas Naruto. "Kau pikir aku juga tidak lelah terus-menerus kau tindas seperti ini? Membawakanmu makan siang, menuruti apa pun katamu, mendengarkan perkataan pedasmu setiap hari, menerima semua yang kau berikan tanpa mempedulikan harga diriku… Kau pikir aku mau melakukannya hah?"
Sasuke diam saja, tidak berniat sekali pun membalas.
Naruto merogoh saku celananya dan melempar sebuah kartu kecil mengkilat ke arah Sasuke. Sasuke memandangi benda itu, mengertakkan gigi lalu memungutnya. Itu adalah kartu kredit yang ia berikan ke Naruto kemarin.
"Kukembalikan itu padamu. Aku tidak butuh itu sama sekali," Naruto beranjak berdiri.
Sasuke memandangi kartu di tangannya itu dengan perasaan campur aduk. "Aku tidak bisa menerima ini," ujarnya. "Kartu kredit ini sudah jadi milikmu."
"Kau bisa membuangnya kalau tidak mau," sahut Naruto, melangkah ke arah Sasuke lalu menyambar kotak bekal itu tidak peduli masih ada isinya. Lalu ia berjalan cepat tanpa pamit keluar dari lab itu.
Sasuke memandangi pintu yang tertutup, lalu dengan sekuat tenaga meninju meja hingga buku-buku jarinya terluka.
Semuanya jadi semakin berantakan.
.
.
Naruto berusaha mengabaikan perasaan kesal dan marahnya selama sisa jam pelajaran. Saat jam pulang, Naruto buru-buru kabur dari kelas, mengabaikan teriakan Sasuke yang menyuruhnya berhenti. Dia menemui Gaara yang seperti biasa, menunggu di depan sekolah. Mereka pun berjalan pulang bersama karena jalan yang mereka lewati memang searah.
"Ada apa?" tanya Gaara, penasaran melihat wajah temannya yang tertekuk itu.
"Biasa lah, masalah kelas." Naruto tidak mau memberitahu semuanya ke Gaara karena ini cukup personal. "Oh, ngomong-ngomong apa yang mau kau bicarakan?"
"Ah ini soal Tora Ojii-san. Dia mau bertanya padamu apa kau mau bekerja paruh waktu di toko barunya itu."
Naruto kelihatan kaget. "Paruh waktu?"
Gaara mengangguk. "Ya. Paman bilang kau itu pekerja keras sekali, dan kebetulan juga tokonya sedang butuh tambahan karyawan."
"Tapi… Tapi aku masih SMA. Apa tidak masalah?" Sekolah ini sebenarnya melarang siswanya untuk bekerja. Yah walaupun Naruto sudah beberapa kali melanggar peraturan itu.
Gaara tersenyum. "Tidak akan jadi masalah kalau tidak ketahuan, kan?" ujarnya. "Kau bisa mulai bekerja mulai besok. Aku yang akan mengantarmu ke sana."
Naruto balas tersenyum. "Terima kasih, Gaara. Kau benar-benar teman yang baik."
Ya. Walaupun dia baru mengenal Gaara, tapi anak itu sudah berkali-kali berbuat baik padanya. Pertama dia mengembalikan kalung milik Naruto, lalu menawari pekerjaan pindahan toko pamannya, kemudian meminjaminya ponsel. Dan sekarang Naruto mendapat tawaran bekerja paruh waktu di toko pamannya. Sungguh, Naruto sama sekali tidak menyangka ini semua akan terjadi.
Well, mungkin berita ini bisa mengurangi perasaan kesal di hatinya karena kejadian saat makan siang tadi. Bagaimanapun juga, dia tidak mau terus-terusan membawa rasa marahnya ini sampai ke rumah.
.
.
Sampai di pertigaan kota, Naruto dan Gaara berpisah jalan. Gaara naik kereta dan Naruto berjalan kaki sampai rumah untuk menghemat uang saku. Lagipula rumahnya juga tidak seberapa jauh dari sini. Tinggal melewati beberapa jalan dan dia akan sampai rumah dengan lancar.
Tapi ternyata tidak semuanya berjalan mulus.
Di gang kecil yang biasa ia lalui, Naruto melihat beberapa orang berbadan tegap yang kelihatan seperti preman. Begitu melihat mereka, prasaan Naruto langsung tidak enak.
Orang-orang itu melihat Naruto, saling berbisik-bisik seperti sedang memastikan sesuatu. Kemudian mereka mendatangi Naruto, lalu menghajarnya habis-habisan.
.
.
To be continued
.
.
Author note:
Wkwkwk updatenya telat lagi, gomen /\
bagi yang penasaran, yup. Gaara jadi saingannya Sasuke. Tapi main pairing tetep SasuNaru kok ;D
.
Dan bagi yang masih bingung, aku kasih list soal pemegang posisi di kasta kelasnya SasuNaru
Diurutkan dari kasta atas, tengah, dan bawah.
King – The King – Sasuke
Queen – The Queen – Sakura
Jack – Jack (Teman Dekat Raja) – Neji
10 – Wannabe (Pengikut Raja) – Kiba
9 – Pleaser (Pengikut Raja) – Tobi
8 – Messenger (Pembawa Pesan) – Lee
7 – Perps (Si Pintar) – Hinata, Hidan
6 – Slacker (Si Bodoh) – Shikamaru
5 – Geek (Otaku) – Tenten, Chouji
4 – Goth (Si Emo) – Ino
3 – Brain (Si Kutu Buku) – Shino
Joker – The Target (Target Bully) – Naruto
.
2 – Delinquent (Si Murid Bandel) – Deidara (Tidak masuk sistem kasta)
A – Floater (Si Misterius) – Sai (Tidak masuk sistem kasta)
.
Dan masih ada beberapa karakter yang masih belum muncul. Jadi ditungguya.
Makasih udah baca dan maaf kalo chapter ini gk sesuai harapan ;;;
Kritik/saran please?
