Kyumin story
Genderswitch (gs)
Romance
.
.
.
sorry for typo(s)
.
Chapter 6
BEBERAPA hari setelah kepulanganku dari Singapura, hari-hariku dihiasi persiapan-persiapan heboh syukuran kehamilan kakakku yang sudah memasuki usia kandungan tujuh bulan. Jenis kelamin si bayi adalah laki-laki. Nama juga sudah dipilih, Jung Changmin. Nama yang menurutku sangat bagus dan terdengar kuat.
Acara syukuran itu ternyata benar-benar meriah. Cuaca di luar yang sedikit mendung menambah kedramatisan suasana sore itu. Entah kenapa, suasana acara itu membuatku agak sedih, terharu, dan mengingatkanku bahwa semakin hari aku semakin tua. Tambahan lagi, beberapa saudaraku baik dari pihak appa maupun pihak eomma membuatku ingin menangis tersedu-sedu sambil guling-guling di lantai karena pertanyaan-pertanyaan mereka.
"Min, kapan kau akan menyusul kakakmu ?" Pertanyaan yang masih cukup sopan.
"Namjachingumu mana ? Kenapa tidak dibawa ?" Pertanyaan yang sedikit kurang sopan.
"Bagaimana kabar namjachingumu ?" Pertanyaan yang sangat meledekku.
"Sudah memiliki namjachingu belum ? Apa perlu kami bantu mencarinya ?" Pertanyaan yang kurang ajar.
Intinya selama acara itu, aku rasanya ingin menggeret laki-laki tak dikenal untuk berpura-pura menjadi namjachinguku agar semua saudaraku itu berhenti mengolokku.
Setelah pulang dari rumah kakakku malam itu, aku memutuskan untuk tidak menerima telepon dari siapa pun dan berdiam diri di kamar, merenungi nasib. Perenungan nasibku itu berlanjut hingga bulan berikutnya.
Taeyeon yang mencoba menghubungiku melalui ponsel sampai marah-marah karena aku tidak pernah mengangkat telepon dan mailbox-ku penuh sehingga dia tidak bisa meninggalkan pesan untuk memaki-makiku lagi. Sedangkan ketika dia mencoba untuk menghubungiku di rumah, aku selalu keluar rumah atau sudah tidur. Ketiga sobatku yang berusaha keras untuk menghubungiku pun tidak sukses.
Hingga suatu sore di bulan November, aku sedang menikmati hari Sabtu dengan menemani eomma berbelanja ke swalayan terdekat ketika berpapasan dengan Eunhyuk yang memarahiku habis-habisan karena aku tidak meneleponnya balik setelah lebih dari sepuluh pesan yang dia tinggalkan ke semua orang di rumahku, mailbox ponsel-ku, SMS, juga e-mail.
"Astaga Min, kau itu kemana saja sih ?" Aku mencoba menyembunyikan rasa sedihku dengan tersenyum kepada Eunhyuk.
Semenjak kedua sobatku yang lain menikah dan terlalu sibuk dengan keluarga masing-masing, Eunhyuk yang dulunya tidak pernah peduli dengan orang lain, kini jadi lebih jeli dalam urusan mencium masalah.
"Mian Hyukie-ah , seperti biasa tugas kantor sedang deadline," akhirnya aku berkata.
"Setiap kali aku meneleponmu , kau selau tidak ada. Aku dan Luhan sudah berencana ingin ke rumahmu besok jika kau masih tidak mengangkat teleponmu itu. Kami pikir kau itu marah kepada kami, Min-ah." Aku menatap Eunhyuk dengan pandangan memohon.
Eunhyuk langsung tanggap dan bertanya,
"Kau itu kenapa, Min ?" Aku hanya menggelengkan kepala sebelum menjawab.
"Hanya kelelahan Hyuk, Mianhae ne." Eunhyuk mengangguk menandakan bahwa dia mengerti.
Itulah hebatnya Eunhyuk. Dia selalu memahami apabila seseorang membutuhkan waktu atau ruang untuk berpikir sendirian tanpa harus memaksa.
"Ya sudah, nanti hubungi aku ne."
Ketika ingin beranjak pergi, tiba-tiba dia berbalik memandangku.
"Astaga, hampir lupa, Wookie mencoba meneleponmu untuk memberi tahu bahwa bulan depan akan diadakan reuni SMP. Dia ingin bertanya apakah kau ingin datang, karena aku, Wookie dan Luhan sudah mendaftar untuk ikut."
"Oh." Adalah satu-satunya jawaban yang bisa kukeluarkan dari mulutku yang ternganga.
"Jadi bagaimana?" tanya Eunhyuk setelah beberapa saat.
"Nanti aku akan menghubungimu lagi, okay," ucapku cepat, karena eomma sudah memberikan tanda bahwa dia akan jalan-jalan ke area makanan.
Setelah puas dengan penjelasanku, Eunhyuk pun mencium pipiku dan melangkah pergi. Tapi sebelum jauh, dia berkata lagi,
"Min, seminggu yang lalu aku bertemu dengan teman-teman yang lain, mereka memberi tahu padaku bahwa Yoochun sudah bertunangan dengan Junsu. Itu juga alasan kenapa aku selalu meneleponmu. Aku ingin memberitahumu tentang itu." Aku memandang Eunhyuk dengan tatapan kosong. Seperti mengerti sinyalku, Eunhyuk kemudian melambaikan tangan dan berlalu ke kasir.
.
.
.
Malam itu setelah mandi dan akan bersantai di tempat tidurku, aku memutuskan untuk menghubungi Eunhyuk. Aku bangkit dari posisi berbaringku dan mencari ponsel-ku yang tersembunyi di antara kertas-kertas di atas meja kerjaku. Tapi ponsel-ku sepertinya hilang ditelan bumi. Setelah mencoba mencari tanpa hasil selama lima belas menit, akhirnya aku turun ke ruang makan untuk menggunakan telepon rumah.
Aku menekan nomor telepon Eunhyuk sembari menarik salah satu kursi di meja makan dan duduk. Setelah beberapa deringan, akhirnya aku mendengar suara Eunhyuk di ujung kabel telepon.
"Hyuk-ah , ini aku Sungmin."
"Akhirnya kau meneleponku juga, aku berpikir jika kau tidak menghubungiku hingga jam setengah sepuluh, aku yang akan menghubungimu lebih dulu."
"Maaf , tadi aku menyelesaikan urusan kantorku terlebih dulu."
"Oh." Setelah menunggu beberapa saat dan aku diam saja, akhirnya Hyukie menambahkan,
"Kau...kau tidak apa-apa...?"
"Aku sudah mengetahui bahwa Yoochun bertunangan dengan Junsu dari dua bulan yang lalu,"
ucapku memotong kalimatnya.
Apa memang sudah selama itu semenjak aku bertemu dengan Junsu?
"Mwo ? Kenapa kau tidak memberitahu kami Min-ah ?"
"Mianhae, tapi waktu itu aku masih dalam tahap shock. Aku mengira akan membaik setelah beberapa bulan, tetapi bukannya membaik malah semakin parah."
"Kau bilang kau tahu dari dua bulan yang lalu ? Itu berarti sebelum kau pergi ke Singapura kan ?."
"Aku bertemu dengan Junsu di bandara sewaktu aku menjemput appaku, dan aku juga bertemu dengannya Singapura."
"Dengannya itu dengan siapa? Yoochun?"
Aku mengangguk menjawab, setelah beberapa saat aku baru menyadari hal itu ketika Eunhyuk mengulangi pertanyaannya.
"Iya," akhirnya aku menjawab.
"Mwo? Kau bertemu dengan Yoochun lagi ? Ini gila! Lalu bagaimana ? Kau sempat berbicara dengannya ?" Eunhyuk terdengar sangat antusias. Aneh.
"Ya , sedikit." Kemudian aku menceritakan seluruh kejadian pertemuanku dengan Kris dan Junsu, dan Yoochun beberapa bulan yang lalu, plus telepon iseng yang kubuat.
Setelah mendengar ceritaku, Eunhyuk berkata,
"Ternyata perasaanku yang mengatakan bahwa kau masih menyukai Yoochun itu benar."
Dari nadanya aku tahu bahwa Eunhyuk memang tidak kaget atas ceritaku.
"Dia selalu ada di kepalaku, Hyuk-ah."
"Kenapa kau tidak pernah bercerita kepada kami Minnie-ah ?" Suara Eunhyuk terdengar sedikit
menuduh.
"Aku berpikir kalian tidak akan ingin tahu tentang itu," balasku.
"Tentu saja kami ingin tahu, Min. Kami ini sahabatmu, kami ingin tahu segala sesuatunya tentang kehidupanmu," ucap Eunhyuk berapi-api.
"Maaf," ucapku pelan.
"Tapi dia sudah ingin menikah, Min."
"I know," geramku.
Aku sudah tahu tentang hal itu, dan sedang berusaha untuk menerimanya. Tapi mendengar orang lain mengatakannya membuatku merasa putus asa, karena kata-kata itu terdengar lebih final.
Ada keheningan yang tidak mengenakkan. Dalam usahaku untuk mencairkan suasana agar Eunhyuk tidak lagi merasa tersinggung karena rahasiaku, aku bertanya,
"Oh ya, tentang reuni itu siapa yang mengkoordinirnya?" Eunhyuk sempat terdengar menarik napas sebelum menjawab.
"Kau ingat dengan Yonghwa dan teman-temannya ? Mereka itulah yang mengkoordinir reuninya. Mereka bilang rencananya sudah pasti, jadi mereka akan mulai mengirim e-mail dan menghubungi yang lain untuk ini."
"Memangnya hanya angkatan kita saja?"
"Ya tidak, yang jelas semua angkatan sewaktu kita kelas tiga."
"Omoo... aku tidak usah ikut ne, karena nanti pasti aku akan bertemu dengan Yoochun, aku akan bicara apa dengannya ?"
"Astaga kau ini! Bicara saja masalah perang antara negara kita dengan Korea Utara sana atau tentang berapa kekayaan yang dimiliki oleh Choi Siwon, atau..."
Aku memotong usulan-usulan tersebut yang mulai terdengar sedikit random.
"Ya sudah, kau bisa tidak mendaftarkanku ?" aku akhirnya memutuskan.
"Ya, besok aku akan bicara pada Wookie agar dia mendaftarkanmu pada panitia."
"Memangnya tanggal berapa ?"
"Lima belas jika aku tidak salah, yang jelas itu hari Sabtu."
"Well, jika itu hari Sabtu aku tidak bisa menolak."
"Min..."
"Ya ?"
Eunhyuk terdiam selama beberapa detik sebelum berkata, "Aku mengkhawatirkanmu."
Aku tertawa mendengar nadanya yang serius itu.
"Jangan khawatir, Hyuk. Nan gwaenchana."
"Aku sedang berpikir, jika masalah sebesar Yoochun saja kau tidak pernah bercerita, hal-hal lain apa lagi yang kau simpan sendiri?" Aku menarik napas.
Kyuhyun dan keinginanku untuk melakukan in-vitro fertilization, pikirku merasa bersalah. Tapi seperti biasa aku akhirnya terpaksa berbohong.
"Tidak ada apa-apa lagi. Hanya itu satu-satunya rahasiaku," jawabku.
"Kau yakin?" ledek Eunhyuk.
"Ya! Lee Hyuk Jae!," ucapku sambil tertawa.
Akhirnya setelah beberapa menit mencoba membujukku dan tidak berhasil, Eunhyuk pun berpamitan dan menutup telepon. Aku baru bisa bernapas lega. Aku tidak suka berbohong, tapi menurutku menahan suatu informasi tidak bisa digolongkan sebagai kebohongan, kan?
.
.
.
Hari Senin akhirnya aku memutuskan untuk membuka e-mail pribadiku yang aku yakin penuh dengan segala macam pesan dari semua orang yang kubiarkan tak terbaca. Ternyata aku benar, aku menemukan lebih dari empat puluh pesan di emailku. Rata-rata memang dari teman-temanku. Ada satu e-mail dari Jungmo yang memberitahuku bahwa dia dan istrinya berencana akan pindah ke Jepang. Baguslah, itu berarti aku memiliki kontak jika ingin pergi ke Jepang.
Bahagia dengan prospek ini aku mulai membaca e-mail lainnya. Kebanyakan dari Taeyeon dan ketiga sahabatku, kemudian ada dua e-mail lain dengan subjek "Halo lagi, ini aku", dan yang satu lagi "Reuni". Aku hampir saja memutuskan untuk menghapuskan dari inbox-ku karena berpikir itu junk mail, ketika melihat alamat itu. Itu e-mail dari Yoochun. Setelah mengumpulkan cukup keberanian aku memutuskan untuk membuka e-mail pertama dan mulai membaca perlahan-lahan.
Minnie,
Aku hanya ingin bertanya bagaimana kabarmu. Call me.
Yoochun
Selesai membaca e-mail pendek itu aku merasa sedikit kecewa. Kalau dia hanya ingin menanyakan kabar, kenapa tidak telepon saja ? Freaking idiot, omelku sembari membuka e-mail Yoochun yang bertanggalkan sekitar sepuluh hari yang lalu.
Minnie,
Ini Yoochun, aku mengirim email padamu lagi, karena kau belum menghubungiku. Kau ingat kan
kau berjanji akan menghubungiku ? Atau jangan-jangan kartu namaku hilang? Jika mengingat
kebiasaanmu yang suka ceroboh, aku tidak heran. Aku hanya ingin memberitahu bahwa akan diadakan reuni SMP tanggal 15 Desember hari Sabtu nanti. Jika kau sempat, bisa tolong emailaku ?
Yoochun.
Setidak-tidaknya e-mail yang kedua lebih panjang, meskipun tidak sepanjang yang kuharapkan. Nadanya pun tidak menghangat, masih tetap biasa-biasa saja. Aku jadi semakin yakin bahwa Yoochun tidak merasakan sengatan listrik yang kurasakan ketika memeluknya.
Aku berdebat dengan diriku sendiri apakah aku ingin menghapus kedua e-mail yang mengingatkan betapa bodohnya aku ini, atau menyimpannya sebagai tanda mata bahwa aku telah berhubungan dengan Yoochun, atau lebih tepatnya bahwa Yoochun menghubungiku. Ya~~~, sengsara sekali hidupku, ucapku dalam hati.
Kenapa aku masih juga stuck dengan Yoochun? Sedangkan Yoochun sudah melupakanku. Aku bahkan yakin aku memang tidak pernah ada di pikirannya sama sekali.
Rasa resah dan gundah menghantuiku sepanjang hari, aku tidak bisa berkonsentrasi di rapat ataupun saat aku harus memberikan pelatihan mengenai Conflict Resolution. Hahaha... tidak heran karena aku juga tidak bisa menyelesaikan konflik di dalam diriku ini.
Kemudian ketika kembali ke kantorku setelah makan siang, aku salah melakukan beberapa analisis data hingga harus mengulang semuanya dan terpaksa tinggal di kantor hingga jam tujuh malam.
Tom yang melihatku masih ada di mejaku sembari memakan biskuit yang kusimpan di laci, menyapaku,
"Sungmin, masih kerja?"
"Nde. Aku harus menyelesaikan laporan ini malam ini."
"Laporan apa?"
"Ini , evaluasi pekerjaan kita bulan lalu."
"Bukankah ini seharusnya pekerjaan Chanyeol ?"
Aku memang tahu ini pekerjaan seorang asisten, bukan manajer personalia sepertiku. Tapi Chanyeol sedang kutugaskan untuk mengerjakan beberapa penilaian kinerja para pegawai di Divisi Keuangan.
"Memang benar, tetapi dia sedang banyak pekerjaan lain," jawabku singkat.
"Well, oke. Santai saja, itu tidak perlu terburu-buru ."
"Tapi, laporan ini bukannya harus selesai sebelum tenggat besok."
"Memang, tapi terlambat sedikit tidak apa-apa."
Aku tidak berhenti mengetik ketika berbicara dengan Tom, dan alhasil, analisisku keluar dengan bentuk bagan yang agak aneh. Frustrasi, aku menggeram kesal. Tom yang tidak pernah melihatku begitu ganas terlihat kaget.
"Sungmin, kau tidak apa-apa?" Aku mengambil napas sedalam-dalamnya sebelum menjawab pertanyaan ini.
"Ya... Aku baik-baik saja . Hanya sedikit banyak pikiran belakangan ini."
Aku melemparkan senyuman yang pasti tidak terlihat terlalu meyakinkan.
"Ya sudah, kalau itu ceritamu."
Tom kemudian meninggalkan ruanganku setelah menatapku dengan gaya kebapakan yang selalu dilakukannya untuk menandakan bahwa apabila aku perlu teman untuk bicara, ia akan siap mendengarkan. Andaikan Kyuhyun ada di kantornya, mungkin aku bisa berbicara dengannya untuk menghilangkan kegalauan hatiku, tapi aku tahu dia sudah pulang.
Tiba-tiba, panjang umur, Kyuhyun muncul di ruanganku.
"Ming, sedang apa ? Mengapa mukamu ditekuk begitu ?" tanyanya dengan suaranya yang bariton.
Aku hampir loncat dari kursiku karena kaget. "Kyu! Kau mengagetkanku!"
"Mian," tambah Kyuhyun sambil melangkah masuk ke ruanganku dan duduk di sofa putih di sebelah kanan meja kerjaku. Aku memutar kursiku untuk menghadapnya.
"bukankah kau tadi sudah pulang?" tanyaku.
"Belum. Tadi hanya mengantar Seulgi ke Mall terdekat, sekaligus aku mencari makan," jawabnya sambil menyandarkan tubuhnya yang kekar di sofaku.
"Seulgi anak baru itu?" tanyaku.
"Bingo." Kyuhyun sepertinya tidak peduli bahwa Seulgi adalah pegawai baru paling cantik di ELF CORP.
"Hey, kau sibuk tidak hari Sabtu?" tanya Kyuhyun padaku tiba-tiba.
"Eung, ada rencana ingin menonton film sih."
"Kau ingin menonton film?! Kenapa tidak mengajakku ?"
"Kau kan ada yeojachingumu."
Kyuhyun memberikan tampang malas. "Yeojachingu?"
Aku memandang Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya.
"Lalu, itu... itu... astaga aku lupa namanya, Itu yeojachingumu bukan ?"
"Kau seperti tidak mengenalku saja Ming. Date, Ming, date, berbeda."
Aku hanya menggeleng. "Memangnya kau tidak ada rencana dengannya ?"
Kyuhyun terdiam sebentar sebelum menjawab. "Nope."
Aku tahu betul jika Kyuhyun sudah bertingkah laku seperti ini terhadap perempuan, maka perempuan itu pasti sudah membuatnya ilfil dan sebentar lagi hubungan mereka akan history atau mungkin sudah history.
"Mwo, perempuan itu kau tolak lagi?" Aku memutar bola mataku.
"Ada apa lagi dengan yang ini, kurang memiliki otak?" candaku.
Kyuhyun memang tergolong laki-laki langka yang menginginkan kekasihnya pintar dan bisa diajak bicara dibandingkan sekadar cantik.
"Seperti itulah," jawab Kyuhyun dengan nada bercanda.
"Kau itu Kyu, kenapa juga kau ingin pergi date dengannya jika ujung-ujungnya kau tolak juga ?" omelku.
"Karena dia mengajakku untuk selalu pergi ke luar, akhirnya aku tidak bisa mencari alasan untuk menolak lagi," jelasnya polos.
Aku tahu bahwa Kyuhyun tidak akan bertindak kasar atau kurang ajar dengan perempuan mana pun kecuali sangat terpaksa.
"Kau tidak takut dia akan menstalkermu seperti siapa itu, yeojachingumu yang dulu?"
Kyuhyun mengerutkan kening dan memberikan tatapan siap perang padaku.
"Victoria?" tanyanya.
"Oh iya, Victoria. Dia benar-benar gila , bahkan dia menungguku pulang dari kantor karena ingin tahu apakah aku penyebab kau memutuskan dia."
Aku tertawa keras mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu itu. Kyuhyun ikut tertawa. Tanpa kurasa ternyata hatiku sudah terasa sedikit lebih lega.
"Ya sudah, besok-besok hati-hati jika memilih perempuan . Aku tidak ingin sampai eommamu memintaku untuk mencarikanmu perempuan baik-baik lagi."
Ketiga kalinya aku bertemu dengan eommanya Kyuhyun, beliau menanyakan apakah hubunganku dengan Kyuhyun serius. Ketika aku dan Kyuhyun hanya tertawa mendengar pertanyaan itu, beliau meminta agar aku mencarikan perempuan yang baik untuk anak laki-laki satu-satunya itu.
Menurut beliau, selama ini perempuan yang dibawa pulang oleh Kyuhyun bentuknya tidak jelas. Ada yang masih memakai kawat gigi, ada yang memakai rok sampai kelihatan dalamannya karena terlalu
pendek, ada yang hobinya mengibaskan rambutnya yang panjang sampai suatu kali masuk ke sup yang sedang dihidangkan oleh eommanya Kyuhyun, bahkan ada pula yang pulang sambil menangis tersedu-sedu karena digonggong anjingnya Kyuhyun.
"Siapa bilang aku tidak hati-hati?"
"Biasanya tindakan yang lebih berhati-hati datang dengan usia, dan kebanyakan memang perlu kedewasaan," ucapku sengaja dengan nada menggurui untuk mengganggu Kyuhyun.
"Siapa bilang aku tidak dewasa ?" Kyuhyun mengambil umpanku dan langsung terlihat tersinggung.
"Karena, laki-laki yang sudah dewasa itu tidak akan membeli mobil yang hanya memiliki dua pintu, kan sulit jika harus membawa bayi..." Kyuhyun akan memotong omonganku, tapi tidak kupedulikan.
"Tambahan lagi, laki-laki dewasa itu tidak akan tinggal di apartemen yang lebih kelihatan seperti
rumah bordil. Laki-laki dewasa akan membeli rumah. Mengerti?"
"Siapa bilang aku tidak bisa membawa bayi dengan mobilku yang sekarang ? Untuk masalah rumah, kau sendiri mengatakan apartemenku terlihat seksi. Dan soal apartemenku yang seperti rumah bordil, kau pasti berbicara tentang bedcoverku yang berwarna hitam. Itu pemberian dari Yuri, dan aku belum memiliki waktu untuk membeli yang baru," Kyuhyun mencoba membela diri.
"Jika soal perempuan, karena aku masih single, jadi wajar bukan jika aku masih perlu memilih. Aku pun bingung, kenapa juga eommaku meminta tolong padamu dan adikku untuk mencarikan aku perempuan, aku masih bisa mencarinya sendiri," tambahnya menutup argumentasinya.
Aku mengangkat kedua belah tanganku, mengalah.
"Aku tidak peduli dengan kegiatanmu itu, asalkan kau jangan membawa-bawa diriku jika nanti misalnya kau terkena karma karena aktivitasmu ini." Sebelum Kyuhyun membalas perkataanku aku langsung memotong.
"Kenapa kau bertanya tentang hari Sabtu?" Kyuhyun hanya tertawa melihatku mengganti topik.
"Tidak, hanya ingin mengajakmu pergi," balas Kyuhyun sambil menatap langit-langit ruang kerjaku dan tidak memperhatikan ekspresi wajahku yang sedang menggigit bibir wajahku tanda senewen.
"Oh... jadi stok wanitamu sedang habis ? maka dari itu kau kembali kepadaku ?" ledekku.
Sesuai dengan perkiraanku, kata-kataku dapat menarik perhatiannya kembali ke bumi. Tepatnya kepadaku. Satu senyuman muncul di sudut bibirnya.
"Aku merindukanmu," Kyuhyun kemudian berkata.
Wajahnya polos, tidak berdosa. Aku sudah cukup kebal dengan Kyuhyun sehingga kata-kata mesranya sudah hampir tidak memengaruhiku lagi. Aku memandangi Kyuhyun beberapa saat sebelum menjawab.
"Kau ini Kyu, memangnya kau fikir aku adalah date for rent ?" balasku.
Kyuhyun hanya melemparkan senyuman.
"Ya...aku memiliki tiket untuk melihat Jazz Night di Bambina cafe, aku berpikir daripada aku pergi dengan orang lain, lebih baik pergi denganmu. About this date for rent..."
Aku langsung memotong kalimatnya yang mulai tidak karuan.
"Kenapa baru bertanya sekarang, tadinya kau berencana ingin pergi dengan whatever her name is, ya ?" tanyaku dengan nada curiga.
"Tidaklah, Ming."
Aku tahu betul bahwa Kyuhyun berbohong, dan aku memang sudah lama tidak makan enak. Tapi hanya untuk membuat Kyuhyun merasa bersalah aku menambahkan,
"Aku pikirkan dulu okay?."
"Ming, kau tega sekali kepadaku, Ayolah... Maaf jika aku baru bertanya sekarang," Kyuhyun memohon kepadaku.
Aku memberikan senyuman iseng padanya sebelum menjawab.
"Ya baiklah jika kau memaksa, memangnya jam berapa acaranya ?"
"Jam delapan. Nanti aku akan menjemputmu jam empat... Jadi kita bisa makan malam terlebih dulu,
okay?"
Aku sudah tahu kebiasaan Kyuhyun, dia sangat suka mengajakku makan, karena menurutnya seleraku sama dengannya dan ukuran perutku selalu mampu mengakomodasikan porsi yang besar, sehingga tidak ada yang terbuang. Tidak membuatnya rugi, katanya.
Aku mengangguk, menyetujui rencana Kyuhyun. Kyuhyu sudah siap beranjak meninggalkan ruanganku ketika aku berkata,
"Kyu, gomawo." Kyuhyun kembali menghadapku.
"Untuk?"
"Hanya berterima kasih," balasku sambil tersenyum.
Tanpa disangka-sangka kemudian Kyuhyun menghampiriku dan mengecup keningku.
"No problem." Lalu dengan satu senyuman dia melangkah keluar dari ruanganku.
Beberapa detik kemudian dia kembali lagi, "Ming, Taemin minggu depan pulang dari Toronto."
Kyuhyun sedang bertolak pinggang, aku lihat dia menggunakan dasi yang kuberikan padanya tahun lalu sebagai hadiah ulang tahun. Aku tersenyum pada diriku sendiri.
"Dia ingin mengajakmu pergi," tambah Kyuhyun.
Hubungan Kyuhyun dengan keluarganya yang sangat dekat, membuatnya sebisa mungkin meluangkan waktu untuk berkumpul dengan mereka, terutama adiknya yang jarang bertemu. Oleh sebab itu, Kyuhyun sering mengajak Taemin jika dia sedang pergi denganku, membuatku juga dekat dengan adik perempuan Kyuhyun itu.
"Kenapa dia pulang ? Apa kuliahnya sedang libur ?" tanyaku bingung.
"Bukan itu. Kau yang sudah lama tidak pergi denganku, Ming. Taemin itu sudah lulus," jawab Kyuhyun santai.
"Oh, benarkah ?"
"Tadinya aku ingin mengajaknya melihat Jazz Night ini..." Kyuhyun terdiam ketika melihat ekspresiku. Dia tahu bahwa dia sudah tertangkap basah.
"Mwo, jadi dia yang membatalkan pergi denganmu ?" teriakku. Kyuhyun terdiam sesaat sebelum menjawab,
"Nde," dengan nada bersalah.
"Dia bilang ingin pulang minggu lalu, tapi ternyata ditunda hingga minggu depan, aku sangat kesal karena tiket sudah ada di tanganku"
Sebetulnya aku berniat untuk membuat Kyuhyun memohon-mohon dulu padaku, mungkin dengan sedikit sogokan es krim, sebelum kemudian setuju untuk pergi dengannya. Tapi aku sadar bahwa hari sudah semakin malam dan aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku.
"Jadi, jam empat kan Ming ?" Kyuhyun mencoba mengkonfirmasi lagi.
"Arraso, sajangnim," aku menjawab sambil mengangkat tangan ke dahi, memberikan hormat.
Kyuhyun pun tersenyum dan meninggalkan ruanganku.
.
.
.
Malam itu setelah yakin bahwa aku sudah cukup kuat untuk melakukannya tanpa menangis, aku membalas e-mail Yoochun. Aku membuat nada e-mail-ku tidak kalah biasa dengan kedua e-mail-nya.
Annyeong Yoochun-ah,
Mian aku baru membalas emailmu sekarang. Tidak, kartu namamu tidak hilang, tetapi aku yang memang belum sempat untuk menghubungimu. Nde, aku akan datang di acara Reuni nanti. Kau dan Junsu juga akan datang bukan ?
Minnie
E-mail itu cukup bersahabat, tetapi tidak terlalu hangat, hiburku pada diri sendiri sebelum kemudian mengirimkan e-mail itu ke dunia maya dengan satu klik. Aku melipat kakiku di atas tempat tidur sambil memandangi layar laptop-ku. Entah apa yang kutunggu.
Ternyata Yoochun tidak akan langsung membalas e-mail-ku. Dia mungkin sedang keluar dengan Junsu. Aku langsung merinding memikirkan mereka berdua berpelukan dengan mesra. Kudengar eomma memanggilku dari lantai bawah untuk memberitahu bahwa aku harus mengunci pintu sebelum tidur, karena beliau dan appa akan pergi tidur sekarang. Aku memberitahunya bahwa aku akan segera turun untuk mengunci pintu.
Orangtuaku hanya memiliki satu pembantu rumah tangga yang tinggal di daerah dekat rumahku, tetapi dia biasanya sudah pulang jam enam sore.
Setelah kembali ke kamarku lagi sambil membawa secangkir susu panas, aku memandangi layar e-mailku, dan melihat bahwa aku memiliki satu e-mail baru. Aku membuka e-mail itu. Ternyata dari Yoochun! Aku hanya meninggalkan kamarku kurang dari setengah jam, jadi sedikit kaget bahwa dalam jangka waktu sesingkat itu, dia sudah membalas e-mail-ku.
"Lee Sungmin, jangan berlebihan," gumamku mencoba mengingatkan diriku sebelum kemudian mulai membaca e-mail itu.
Dear Minnie,
Sekarang jam 11 malam, sebenarnya aku ingin meneleponmu, tetapi aku tidak mengetahui nomor handphonemu. Kau Sabtu free ? Mungkin kita dapat pergi makan malam. Nomor handphonemu berapa ?
Yoochun
Aku membacakan beberapa kali untuk memastikan bahwa Yoochun benar-benar menuliskan kata "Dear". Aku mencoba membaca pesan-pesan tersembunyi yang mungkin ada di e-mail-nya. Apa maksud dia dengan "makan malam"? Tentunya bukan hanya aku dengan dia, bukan? Pasti dengan Junsu. Apa maksud dia dengan kata-kata "sebenarnya aku ingin meneleponmu"? Apa dia memang ingin meneleponku, atau hanya sekedar basa-basi?
Aku hampir saja menerima tawarannya untuk bertemu hari Sabtu,tapi tiba-tiba aku teringat bahwa aku sudah ada janji dengan Kyuhyun untuk pergi ke Bambina cafe. Meskipun tahu bahwa Kyuhyun akan bisa mengerti apabila aku membatalkan janjiku dengannya, tapi jika Kyuhyun bertanya alasan aku membatalkan janjiku, aku tidak yakin aku bisa menyimpan kebahagiaanku dan tidak menceritakan e-mail dari Yoochun ini.
Setelah berdebat dengan diriku sendiri selama lima belas menit, akhirnya aku memutuskan untuk tidak membalas e-mail dari Yoochun dan pergi tidur. I'll decide it tomorrow, aku berjanji pada diriku sendiri.
.
.
.
Keesokan harinya aku masih belum bisa memutuskan bagaimana aku harus membalas e-mail dari Yoochun. Aku justru bertemu dengan Taemin yang ternyata sudah tiba di Seoul. Hari itu aku sekali lagi menghabiskan waktuku dengan Taeyeon. Aku berharap temanku itu bisa membantuku melupakan Yoochun untuk beberapa jam.
Kami sedang dalam perjalanan menuju bioskop ketika aku mengenali Taemin dari kejauhan.
"Taem," panggilku.
Taemin yang mendengar namanya dipanggil celingukan mencari siapa yang memanggilnya. Sewaktu dia melihatku, dia langsung berteriak dan lari ke arahku dengan tangan terbuka.
"Sungmin eonnie," teriaknya keras, sehingga membuat semua orang di sekitarnya kaget.
Aku yakin beberapa orang menyangka Taemin sedang terkena serangan epilepsi. Taemin memelukku dengan antusias. Taeyeon yang menyaksikan reaksi Taemin sempat terbengong-bengong melihat kedekatan kami.
"Kenapa kita malah dipertemukan disini ya ?" kataku pada Taemin.
"Memangnya Evil itu tidak memberitahu eonnie bahwa aku sudah pulang tadi malam?"
Itulah cara Taemin memanggil Kyuhyun, kakak laki-laki tercintanya itu. Terkadang melihat cara Kyuhyun dan Taemin berinteraksi, mengingatkanku akan kedekatanku dengan kakakku. Mungkin itu sebabnya aku selalu merasa nyaman di sekitar orang-orang ini, yang menurut orang lain mungkin sedikit gila.
"Kyuhyun mengatakan bahwa kau baru akan pulang minggu depan."
"Astaga Evil itu pelupa sekali! Yah mungkin karena dia sangat sibuk."
"Itulah Kyuhyun, jika bukan masalah pekerjaan , dia pasti sibuk urusan perempuan," jawabku enteng.
Taemin tertawa menggelegar. "Benar kan, aku sudah bilang pada Kyuhyun berkali-kali eonnie ini pandai melucu, tapi dia tidak mau percaya."
Aku ikut tertawa mendengar komentar Taemin.
"Hmm chukae untuk kelulusanmu. Welcome to the real world,lady," ujarku sambil menepuk bahu Taemin.
"Jadi kau pulang for good atau ada rencana ingin kembali Toronto lagi?" lanjutku.
"For good."
Ketika dia mengatakan ini aku melihat bahwa Taemin mengatakannya dengan nada sedikit tersipu-sipu, kemudian mukanya mulai memerah.
"Ige mwoya ? kenapa wajahmu menjadi mirip dengan kepiting rebus ?" ledekku.
"Namjachinguku ingin pulang ke Seoul bulan depan dan rencananya ingin melamarku dalam waktu dekat ini," lapor Taemin.
Aku ternganga. "Congratulations," ucapku setelah shock-ku sudah agak berkurang. Satu orang lagi di dalam hidupku yang akan melepaskan masa lajangnya.
"Teman kuliah?" tanyaku.
Taemin mengangguk. Aku kemudian teringat akan Taeyeon yang sedang berdiri disampingku dan mendengarkan dengan sabar percakapanku dengan Taemin. Dengan cepat aku memperkenalkan mereka.
"Eonnie sedang apa disini?" tanya Taemin.
"Sebenarnya kami ingin menonton bioskop, kau ingin ikut ?" tanyaku.
"Mungkin lain kali saja eon, aku masih perlu membeli beberapa barang, karena sebentar lagi dijemput Kyuhyun. Jika aku masih belum selesai berbelanja, dia bisa marah-marah," jelas Taemin.
Aku tertawa, karena tidak bisa membayangkan Kyuhyun memarahi Taemin. Kyuhyun terlalu cinta pada adik satu-satunya ini dan tidak mungkin berani menanggung risiko Taemin marah karena ditegur olehnya.
Kami lalu berpisah dan Taemin berjanji akan meneleponku jika dia sudah selesai unpack barang-barangnya. Kini giliran Taeyeon yang mulai bertanya-tanya mengenai Kyuhyun. Aku hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditembakkan bagaikan oleh bazoka itu dengan cara menghindar.
Taeyeon memang telah memenuhi tugasnya untuk membantuku melupakan Yoochun untuk beberapa jam. Tapi ternyata kebingunganku tentang Yoochun muncul kembali setelah aku pulang ke rumah malam itu hingga tiga hari berikutnya.
Akhirnya hari Sabtu pagi aku memutuskan untuk mengatasi kebingunganku dengan melakukan suatu tindakan. Kalau tindakan itu nantinya salah, well... aku harus menanggung akibatnya. Melalui e-mail aku memberitahu Yoochun bahwa aku tidak bisa menemuinya hari itu.
TBC
Anyeong~~~
Mian updatenya telat , mian juga klo ceritanya (lagi-lagi) membosankan hehe
Ternyata di chapt kemaren banyak yang merindukan Kyuhyun ahjusshi nde ? #dibakar
Tapi sekarang Kyu ahjusshi nya udah nongol kan , biarpun Cuma sedikit sih tapi kan yang penting udah nongol lagi dia #dibakarlagi
Cha, terakhir RnR juseyo~~
