Seven – Shinichi

Story by Titania aka 16choco25

Cast :

Mouri Ran

Hattori Heiji

Kudo Shinichi

Kuroba Kaito

Disclaimer – Detective Conan © Aoyama Gosho

.

.

Ayunan ombak yang mulai pasang, serta desiran angin yang semakin terasa dingin, tidak mengurutkan niatnya untuk memancing. Baginya, memancing merupakan kepuasan yang seketika menguasai dirinya sendiri, ketika berhasil membuktikan siapa yang paling kuat, ikan atau dirinya. Ketika berhasil menyeret ikan yang awalnya menantangnya, hingga ikan itu kehabisan tenaga dan menurut ditarik ke atas perahu nelayan yang biasa dibawanya melaut. Hingga kepuasannya menguap di atas laut. Tangannya turun dari atas pinggiran perahu, melambai mengambang di atas lautan. Ia menyukai arus gelombangnya. Membuatnya terkesan hidup kembali. Baginya lautan seperti ibu umat manusia. Tempat segalanya bermula dan sumber kehidupan selain Tuhan. Ia begitu mencintai lautan, sejak ia kecil.

Dia memandang jauh ke arah lautan yang memantulkan sinar matahari, dan membuatnya seperti cairan emas yang indah. Ketenangannya memang sedikit terusik karena suara motor perahu nelayan yang dibawanya kali ini. Namun dia menikmatinya, mendengar suara bising itu, walau sebenarnya suasana Kamaichi sangat tenang. Sejauh ia memandang, nampak mercusuar yang tinggi menjulan di ujung sana. Saat ia kecil, ia suka menaiki mercusuar itu dan memandangi lautan. Matanya terpejam dan memori-memori itu mulai terukir jelas di benaknya, membangkitkan kenangannya yang sudah dikubur dalam-dalam seperti fosil. Tetapi memori-memori itu terus mendesak di kepalanya, memaksa masuk dan menjejali seluruh isi otaknya, seperti jarum jam yang berputar ke arah berlawanan. Kenangan masa kecilnya.

Lelaki itu merentangkan tangannya. Dia mengirup napasnya dalam-dalam. Hingga lambaian seseorang di ujung sana menarik perhatiannya. Dia meminggirkan perahunya mendekati orang yang memanggilnya. Lelaki itu melambaikan tangannya dari kejauhan.

"Kudo!"

Lelaki itu mendongak, menatap lelaki berkacamata yang memanggilnya dari pinggir pantai. Dia berteriak keras, padahal jarak mereka tidak lebih dari semeter. Kudo Shinichi memiringkan kepalanya. Dia merentangkan ototnya yang kaku, malas.

"Kuroba," desahnya, menarik jaring. "Genki? Kabarmu baik?" Bagaimana pun juga, dia sedikit penasaran akan kabar Kaito. Lelaki di hadapannya itu menggedikkan bahunya.

"Iie. Tidak," jawabnya, dengan nada tertekan, membuat Shinichi muak. Lelaki ini pasti ingin meminta bantuannya lagi. Terkadang Shinichi membencinya, namun Kaito adalah satu-satunya sahabat yang pernah meminjamkan uang untuk biaya operasi leukimianya. Dia merasa memiliki hutang budi pada Kaito, maka itu dia berusaha sangat menghormati Hyuk-Ji. Dan biarkan dia bertaruh, pasti lelaki berkacamata dengan wajah yang nyaris mirip dengannya ini ingin meminta tolong sesuatu padanya. Kalau bukan itu, mustahil orang sepertinya mau datang ke Kamaichi siang hari seperti ini. Apalagi Shinichi tahu, Kaito tipikal orang yang selalu mengandalkan orang lain dan sangat ingin segalanya sempurna. Perfeksionis. Ia memang selalu begitu.

"Bisa membantuku?"

Nah. Shinichi menahan senyum, dugaannya benar seratus persen. Kaito pasti ingin meminta bantuannya akan suatu hal. Alis kanan Shinichi terangkat, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dengan wajah serius. "Apa yang bisa kubantu?" deliknya sambil mengeringkan tangannya yang basah akibat air laut. Mata Kaito langsung berbinar-binar. Shinichi sebenarnya sangat lelah, namun demi sahabat kentalnya ini dia memaksakan telinganya yang berharga untuk mendengar permintaan tolong sahabatnya itu. Shinichi memilin jaring-jaring yang biasa digunakannya untuk melaut, dan Kaito memilih duduk di sebelahnya.

"Tugas tesisku tentang kelautan," jelasnya dengan wajah sedikit memaksa, membuat Shinichi sedikit kesal. "Maka itu aku menyusulmu kesini. Ingin meminta beberapa informasi darimu. Dan aku pun diminta melakukan penelitian di daerah kelautan. Satu-satunya pilihanku hanya Kamaichi."

Dasar perfeksionis, gumam Shinichi dalam hati. Kening Shinichi membentuk kerutan-kerutan yang saling berlawanan dengan cepat, dan dia menaikkan alisnya sedikit, dan mengalikan pandangan dari jaringnya. Sepertinya menarik. "Lalu?" tuntut Shinichi, menuntut penjelasan lebih lanjut dari Kaito. Kaito menggaruk-garuk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal.

"Ngg... aku kemari bersama dua orang temanku. Ditambah kekasihku."

"Oh?" respon Shinichi tidak peduli. Siapa pula teman-temannya itu? Apa mereka sama seperti Kaito atau di luar dugaan... sombong seperti orang kota kebanyakan? "Temanmu?" tukas Shinichi dengan nada menyelidik. Kaito mengangguk membenarkan. Melihat reaksi dingin Shinichi yang seperti itu, Kaito langsung buru-buru memperjelas maksud ucapannya barusan.

"Kau tidak keberatan, bukan?"

"Tidak." Shinichi langsung menggeleng cepat dan mata Hyuk-Ji langsung berbinar senang.

"Tenang saja, mereka tak akan menganggu pekerjaanmu. Mereka datang kesini untuk berlibur selama kira-kira tiga minggu, menghilangkan stres yang berlebihan. Aku mengajak mereka. Aku sibuk dengan urusanku, sementara mereka hanya akan mendampingi atau berlibur di sekitar sini. Satu gadis dan satu lelaki. Kau bisa mengenalnya di rumahmu nanti," bebernya dengan wajah riang. Alis Shinichi kembali terangkat, kaget. Di rumahnya? Berarti mereka sudah ada di rumahnya?

"Mereka sudah ada di rumahku?" Rasa penasaran Shinichi terusik. Ternyata, ada tambahan lagi. Alisnya terangkat ke atas sebelah, dan menopang dagunya dengan tangan kanannya.

Kaito melirik jam tangannya dan mengangguk. "Kekasihku akan datang sekitar seminggu lagi untuk menyusulku."

Shinichi hanya tersenyum dan menertawakan Kaito dalam hati, seakan tak percaya Kaito sudah punya kekasih. "Oh ya, apa gadis yang kau maksud di telepon juga datang?" tanya Shinichi penasaran. Kaito bilang ia mau mengenalkan teman gadisnya pada Shinichi. Barangkali berjodoh, cetus Kaito santai waktu itu. Bagaimanapun ia penasaran akan sosok gadis itu.

Alis Kaito terangkat sebelah, namun akhirnya ia mengangguk, seakan baru menyadari sesuatu dan ia menepuk pundak Shinichi. "Ya. Kau bisa mengenalnya ketika kita sudah tiba di rumahmu. Bisa kita pergi sekarang?"

.

.

Heiji mengerjapkan mata sekilas, malas. Bola di kakinya masih terpental-pental, seperti balon yang dipentalkan ke udara. Dia masih mengusap keringatnya, dan dia merasa sangat lelah. Dia terduduk di halaman rumah berarsitektur khas Jepang yang baru saja didatanginya ini. Dengan kayu sebagai bahan utama bangunan, menjadikan rumah ini semakin terkesan kuno, namun unik. Dilengkapi kolam yang berisi beberapa ikan koi, membuat suasana rumah ini semakin asri. Ia mengusap keringatnya, keringat yang terus menetes keluar dari kelenjar keringatnya yang mengucur deras. Tanpa diduga, sebuah handuk putih menutupi kepalanya. Heiji menggeliat, kaget. Heiji langsung menyingkirkan handuk itu dari kepalanya dengan cepat. Seorang gadis berambut panjang berbaju putih dengan aksen lengan biru tua melambaikan tangannya dengan riang.

"Ran-san?" pekiknya dengan intonasi agak keras, membuat gadis itu membalikkan badannya cepat dan langsung tertawa.

Kamaichi merupakan wilayah Jepang utara, wilayah pantai yang dilengkapi laut yang begitu indah. Ran pernah beberapa kali kemari. Ia begitu bersemangat dan gadis itu menoleh dengan senyum hangatnya, seperti biasanya. Matanya tercenung ke arah pantai, menyipit secara perlahan. Dia memiring-miringkan kepalanya. Memandang salju yang masih turun.

"Aku senang bisa ke Kamaichi," ceritanya tanpa dipinta dengan nada antusias. Ran memulai ceritanya, tanpa peduli Heiji mau mendengarkan atau tidak. Tapi Ran selalu tahu, telinga tajam Heiji selalu mendengarkannya. Ran mendongakkan kepalaku ke atas sinar matahari yang menghajar kulit putihnya. Matanya menyipit. Heiji melirik kelakuan Ran yang sedikit aneh tersebut. Apa dia senang ke Kamaichi karena ada Kaito? Bodoh, hatinya sidah benar-benar sakit, mengapa ia masih saja mencintai lelaki sialan itu?

"Jangan begitu, Ran," ujarnya pelan, merespon dengan nada tegas. Ran menoleh lalu menguap. Gadis berambut panjang itu menutup mulutnya dengan telapak tangan kurusnya. "Aku senang bisa ke Kamaichi," ujarnya terus menerus, berulang-ulang dengan nada riang seperti anak kecil. Heiji menyeringai. Karena ada Kaito, bukan? Dia melirik raut wajah Ran yang benar-benar cerah. Rona merah benar-benar menghiasi pipi putihnya. Hingga Heiji benar-benar sudah tidak tahan lagi.

"Oh," dengusnya dengan napas yang menderu. "Karena bisa ke Kamaichi bersama Kaito?" sindirnya langsung.

Ran langsung melotot, teringat Kaito yang kata Heiji sudah bertunangan dengan orang lain. Itu pun kalau benar. Ran belum berani memastikan pada Kaito tentang hal itu lagi, setelah Kaito mengatakan yang sebenarnya di kampus saat ia mengajak Kaito untuk makan siang bersama. Ia malas mengungkit-ungkit hal itu lagi, dan ia langsung berkacak pinggang dengan wajah memerah. "Ti... tidak ada hubungannya dengan itu..." ujarnya langsung, dengan nada yang terkesan dibuat sewajarnya. "Maksudku, aku senang bisa kesini, bersamamu, bersama Kaito juga." Ran menunduk, memainkan ujung roknya dengan tangan kurusnya.

Belakangan ini Heiji tahu, bahwa Ran selalu memainkan ujung roknya ketika merasa gugup.

Mata Heiji mengerling. Napasnya beradu dengan cepatnya waktu. "Tapi aneh," desisnya tiba-tiba. Wajah dinginnya mengarah pada Ran, dan bola mata itu menatap Ran aneh. Mendadak dia mulai berlagak misterius, bagaikan detektif sok tahu yang menyebalkan.

"Apanya yang aneh?" sambung Ran penuh rasa ingin tahu. Heiji memegang dagunya, dan memejamkan matanya, terdiam tak bersuara sedikitpun, dan mengeluarkan gaya ala detektifnya yang sebenarnya membuat Ran ingin tertawa habis-habisan. Bagi Heiji mungkin terlihat keren, namun baginya terlihat seperti terlalu dibuat-buat.

"Kaito kesini untuk penelitian tesisnya, bukan? Kalau ini tentang tugas kuliahnya, mana mungkin dia mengizinkan sahabatnya ikut. Aku tahu Kaito sangat serius mengenai tesis kelulusannya kali ini," ucap Heiji pelan. Ran membelalakkan mata sipitnya lebar-lebar.

"Benar juga." Ran mulai berpikir, apakah hal ini sebagai bentuk permintaan maaf Kaito karena peristiwa penolakan makan siang bersama di kantin kampusnya itu? Ran tahu lelaki itu memang tidak suka meminta maaf secara terang-terangan padanya. Tak tahulah. Lelaki memang sedikit agak aneh, terutama pada sifat dan perilaku kesehariannya.

"Aku pulang, teman-teman!"

Sapaan dengan suara riang itu membuat Ran langsung bangkit dari duduknya dan langsung tersenyum lebar. Kaito muncul dari arah pagar depan sambil melambaikan tangan, diiringi bersama seseorang di sebelahnya. Heiji langsung melirik Ran dengan pandangan tidak biasanya.

Pangeran datang, sang Putri langsung bangkit dari duduknya... Dasar virus cinta, padahal Ran sudah sangat tersakiti, batinnya dalam hati dan buru-buru bangkit dari duduknya dan menyambut Kaito yang datang bersama seorang lelaki tinggi yang rambutnya sedikit berponi.

Rambutnya rapi. Sedikit poni mencuat dari atas kepalanya. Sedikit kurus, dengan kaus hitam yang terlihat sedikit lusuh. Kulitnya putih pucat, namun masih nyaman untuk dipandang. Dan lumayan tampan. Sorot matanya nyaman dan membuat setiap orang yang memandangnya merasa tenang. Bola mata itu hitam, bagai biji anggur yang nyaman dipandang. Tubuhnya tinggi, kira-kira sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter. Secara keseluruhan―cukup menarik. Ran langsung memberi nilai rata-ratanya, delapan puluh.

"Selamat datang, Kaito. Dan..." Tatapan mata Ran langsung tertuju kepada lelaki bertubuh tegap di sebelah Kaito yang sedang memandanginya dengan tatapan bertanya.

"Dia temanmu?" tunjuk Ran langsung ke arah lelaki itu, yang langsung membungkukkan badannya dengan sopan. Ran tersenyum.

"Ya," sahut Kaito mengiyakan dan dia langsung terduduk di lantai, diikuti lelaki itu untuk melepas lelah. Lelaki tegap itu tidak tersenyum sedikit pun, maka itu Ran tersenyum, mencoba memberikan kesan pertama yang baik.

"Namaku Mouri Ran." Ran mengulurkan tangannya, mengenalkan diri, yang disambut dengan tangan kasar lelaki tinggi itu dan lelaki itu langsung menatap bola matanya lekat. Mulutnya sedikit terbuka, setelah Kaito menyiku pelan perutnya. Dengan nada yang tidak ramah sedikit pun dan tanpa senyum, lelaki itu memperkenalkan dirinya.

"Kudo Shinichi."

.

.

Shinichi agak menyipitkan matanya ketika bersalaman dengan gadis itu. Gadis yang raut wajahnya nampak lelah itu, hanya lebih pendek darinya, kira-kira tinggi gadis itu sejajar dengan pundaknya. Mungkin sekitar seratus enam puluh lima sentimeter. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, dilengkapi topi rajut berwarna hitam, dengan setelan sederhana babydoll hitam putih dengan aksen biru tua pada lengannya. Raut wajahnya seperti orang Jepang kebanyakan, namun warna bola mata itu. Cokelat kenari. Menyenangkan untuk dipandang. Shinichi meremas rambutnya yang masih mencengkram kepalanya, hingga membuatnya seakan menghisap heroin.

Kami-sama, kemana saja aku hingga melewatkan gadis secantik ini?

Dan... siapa dia?

Shinichi terus bertanya-tanya dalam hati.

Jadi ini gadis yang dibicarakan Kaito. Kaito memang sering bicara tentang gadis ini dan sejujurnya Shinichi sudah penasaran sekali karena ia belum pernah melihat sosok Mouri Ran secara langsung. Secara keseluruhan, menurut Shinichi belum ada yang bisa dibilang cukup menarik. Gadis ini manis, namun Shinichi pun belum mendapat kesan pertama yang begitu menarik. Masih datar. Cantik, namun belum ada daya tarik yang mendalam.

"Dan kau?" tanya Shinichi langsung sambil menatap ke arah Heiji yang masih menunggunya. Heiji tersenyum, dan Shinichi langsung menghela napasnya, pupil matanya langsung melebar sekian sentimeter, seakan menyadari sesuatu. "Kau Hattori Heiji. Violinis terkenal berdarah Jepang. Sejujurnya... Aku penggemarmu."

Shinichi langsung menyalami Heiji dengan nada cerah.

Heiji memasang bibirnya, tersenyum. "Terima kasih."

"Eh? Kau tahu banyak tentang Heiji?" Kening gadis itu berkerut, dan Shinichi langsung melihat bahwa itulah daya tarik gadis tersebut selain warna bola matanya. Kerutan keningnya membuat ia terkesan dewasa dan cerdas. Dia mengembuskan napasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.

"Aku punya televisi di rumah," jawab Shinichi pendek.

Ran melongo dengan mulut membentuk huruf O besar, diiringi senyum geli Heiji. "Jawabanmu... sedikit tidak berkaitan dengan pertanyaanku." Tapi tiba-tiba ia tersadar, karir Heiji sebagai violinis memang lumayan sering disorot televisi Jepang. Dan ia ingat bagaimana cara Heiji menyamar itu. Mengesankan sekali bahwa ia begitu sering diekspos oleh media massa.

"Apa pedulimu?' tukas Shinichi dan dia langsung bangkit dari duduknya. "Aku ke dalam dulu. Aku harus mempersiapkan makan malam lebih banyak untuk para gurita penganggu yang datang hari ini." Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang sedikit kuno itu. Dan Ran mengerucutkan bibirnya. Keningnya berkerut setelah mendengar ucapan Shinichi barusan. Ran menyilangkan tangan di dadanya, mengikuti langkah Heiji yang masuk ke dalam rumah.

Ran mencoba mengajukan beberapa pertanyaan pada Shinichim yang pada awalnya menjawabnya dengan dingin dan sikapnya itu langsung membuat Ran paham, bahwa lebih baik diam dan tidak mengajukan pertanyaan apapun. Ran hanya mampu mengerutkan keningnya melihat sikap Shinichi yang aneh seperti itu.

Setelah hampir satu jam tersiksa dengan penantian yang melelahkan, Ran meremas rambut panjangnya dan membanting tubuh kurusnya ke atas sofa beludru di penginapan barunya, tepatnya rumah Shinichi. Kepalanya sangat berat dan ia merasa seluruh tubuhnya seakan-akan lumpuh. Ia merasa sangat lelah, pusing, dan mual hingga ia memejamkan matanya perlahan. Ia masih teringat ucapan Shinichi yang mengatainya 'gurita' itu.

"Gurita? Huh. Dia pikir aku bertangan banyak? Dia pikir aku hidup di laut?" rutuknya sambil menyandarkan kepalanya ke sofa.

Heiji tergelak, membayangkan Ran benar-benar bertangan banyak dan hidup di laut. "Kupikir kau malah seperti menjadi duyung untuk hidup di dalam laut..."

Ran mendengus. "Kau pikir aku duyung yang ada dalam dongeng? Tentang putri cantik yang tinggal dalam laut, bertubuh setengah manusia, setengah ikan, bisa berbicara dalam air... Makan rumput laut? Huh, menggelikan." Ran malah membayangkan kulitnya bersisik. Konyol.

"Bukan putri duyung... Maksudku, kau harus menjadi ikan..." Heiji buru-buru menutup mulutnya. Kelepasan, sialan. Gadis itu akan―marah padanya. Apalagi sejak ia menyadari bahwa ia sedikit bertambah―gemuk.

Mata Ran langsung membesar. "Apa kaubilang? Jadi maksudmu, aku bertubuh gempal seperti... Ikan duyung? Kurang ajar! Coba kau ulangi kembali ucapanmu barusan! Kau akan menanggung akibatnya!"

Benar bukan? Ikuya langsung menutup rapat-rapat mulut besarnya. Dia tahu Ran akan langsung bertingkah tipikal tsundere. Dia bisa menjadi sangat mengerikan. Ran tersenyum santai sambil mengepalkan tinjunya rapat-rapat hingga tangannya memerah. Ia meremas-remas kepalan tinjunya itu sambil tersenyum-senyum ke arah Heiji yang sudah berekspresi kepasrahan yang lucu.

Ah, sedetik kemudian Heiji baru ingat bahwa Ran belajar karate.

Baiklah, lebih baik ia bersikap jujur saja.

"Menurutku kau sudah cukup gem... Hei, Ran, hentikan! Kurang ajar!" Pukulan itu langsung melayang ke arahnya.

Tapi Heiji memang menyadari bahwa Ran memang sedikit gemuk.

Wajah Ran memerah secara spontan, menahan rasa malunya.

"Kau yang kurang ajar, Heiji!"

Lebam merah menghiasi pipi Heiji dengan sukses.

.

.

To be continued.