I will die if im not kissing
Disclaimer: Masashi Kishimoto © Naruto
Mey Hanazaki © Fic I Will Die If Im Not Kissing
Last Chapter
Sakura memasuki rumahnya, Ia berjalan menuju kamarnya. Tetapi matanya membulat sempurna kala melihat seseorang yang begitu menyebalkan baginya. Ia mempercepat langkahnya menuju kamarnya tapi langkahnya terhenti begitu suara yang ia sangat kenal memanggilnya dengan nada yang dibuat sehalus mungkin.
"Sakura, lama tidak berjumpa." Ucap seorang perempuan sebayanya dari ruang tamu. Sakura menatap ke arah orang yang tadi memanggilnya. Sakura tersenyum palsu kemudian berjalan ke arahnya.
"Lama tak bertemu–"
Genre: Romance.
Rate: T+
Pair: SasuSaku slight SakuGaa, NaruHina, SaIno, NejiTen, ShikaTema and other pair.
Inspirated Fic: I will die if im not kissing by Hibiki Ai tapi hanya terinspirasi aja, alur ceritanya akan berbeda.
Warning: AU, Typo(s) pasti, OOC, alur mudah ditebak, ide pasaran, aneh, abal-abal, gak nyambung dan untuk ch ini Sasuke jadi OOC.
Don't Like Don't Read
Chapter 7
Normal Pov
Sakura tersenyum palsu kemudian berjalan ke arahnya.
"Lama tak betemu, Karin." Ucap Sakura sambil tersenyum dipaksakan, sedangkan yang disapanya juga mengeluarkan senyum yang dibuat semanis mungkin.
"Sakura-chan kamu baru pulang? Sini duduk dulu." Hana–Kaa-san Sakura– menepuk tempat kosong di sampingnya mengisyaratkan Sakura untuk duduk.
"Hai, Kaa-san." Sakura duduk di samping Hana. Sakura memandang Karin garang yang di balas seringai Karin.
"Sakura-chan, Karin akan bersekolah di KG juga, jadi kamu harus mengenalkan lingkungan di KG ya?" ucap Kana–Kaa-san Karin – Kana merupakan adik kandung Hana rambutnya berwarna merah sama seperti Karin.
Mata Sakura membulat tatkala mendengar ucapan Kaa-san Karin, Ia hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Ne, Kana Baa-san." Ucap Sakura pasrah. Perbincangan mulai terjadi antara kedua orangtua mereka. Karena Sakura merasa bosan dengan obrolan orangtua itu, Ia memutuskan pergi ke kamarnya.
"Kaa-san, Sakura ke kamar dulu." Pamit Sakura.
"Ajak Karin juga Saku-chan." Sekali lagi Sakura hanya menghela nafas pasrah.
"Ayo Karin kita ke kamarku." Ajak Sakura pada Karin. Sebelum meninggalkan ruang tamu Sakura pamit kepada kedua orangtua Karin. Karin mengekor di belakang Sakura. Begitu sampai di kamar Sakura, Karin langsung merebahkan dirinya di ranjang Sakura yang membuat si empunya mendengus kesal.
"Ck, tidak sopan." Gumam Sakura. Sakura duduk di kursi belajarnya.
"Sudah lama aku tidak masuk ke sini, kamarmu tetap masih sama. Childish." Kata Karin, Sakura lagi-lagi mendengus kesal. Sebenarnya Karin dan kedua orangtuanya tinggal di Oto, tapi karena pekerjaan Tou-sannya yang di tugaskan untuk bekerja di Konoha jadilah sekarang Karin sekeluarga pindah ke Konoha, Tou-sannya membeli apartemen mewah yang ada di pusat kota agar lebih dekat dengan perusahaan tempatnya bekerja.
"Teriam kasih atas pujiannya." Balas Sakura sarkastik. Sakura berdiri kemudian berjalan ke kamar mandi. Ia ingin menyegarkan diri dulu. 30 menit Sakura mandi, akhirnya Ia selesai melakukan ritual mandinya. Ia memakai piama berwarna merah jambu beraksen beruang coklat, Ia keluar dari kamar mandi. Matanya tertuju pada Karin yang sedang mengutak atik phonsel Sakura dengan seenak jidatnya. Sakura berjalan cepat menghampiri Karin dan menyambar phonselnya kasar.
"Jaga sikapmu Karin, jangan mengambil barang orang sembarangan." Bentak Sakura pada Karin, Karin menghendikkan bahunya tidak peduli.
"Siapa Sasuke itu? Apakah dia putra bungsu dari keluarga Uchiha itu? Dan apa hubunganmu dengannya?" Karin memberondong Sakura dengan pertanyaan.
"Bukan urusanmu." Ketus Sakura. Karin tersenyum licik tetapi senyumnya itu tidak di lihat Sakura karena Sakura berdiri membelakangi Karin Ia sedang menyisir mahkota pinknya menghadap cermin besar yang ada di kamarnya.
Tok…tok..tok
"Masuk saja tidak di kunci." Kata Sakura, seorang wanita berambut coklat masuk ke dalam kamar Sakura. Sakura memutar tubuhnya menghadap anita yang baru masuk tadi.
"Ada apa Yakumo-san?" Tanya Sakura.
"Begiti nona, saya di suruh memanggil nona Karin untuk turun ke bawah karena kedua orangtuanya akan pulang." Ucap Yakumo pada Sakura.
"Begitu? Ya sudah Yakumo-san boleh pergi." Kata Sakura, Yakumo pun pergi meninggalkan kamar Sakura.
"Karin ayo turun, orangtuamu sudah menunggu." Sakura dan Karin keluar dari kamar Sakura dan pergi ke pintu depan yang disana sudah ada kedua orangtua mereka.
"Kami pulang dulu ya Hana, Shin –Tou-san Sakura–. Kapan-kapan kami ke sini lagi." Ucap Kana sambil cipika-cipiki dengan Hana.
"Ne, kami tunggu kedatangan kalian lagi ke rumah kami." Sahut Hana. Karin sekeluarga pun masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman Haruno. Hana dan Shin melambaikan tangannya, mereka bertiga kemudian masuk ke dalam.
"Kaa-san, Sasori-nii ke mana?" Tanya Sakura yang sedari tadi nii-san tersayangnya tidak ada keliahatan.
"Oh Saso-kun sedang menginap di rumah Dei-kun." Jawab Hana.
"Begitu. Sakura ke kamar dulu Kaa-san Tou-san." Sakura mengecup kedua pipi Tou-san dan Kaa-sannya. Ia berlari memasuki kamarnya.
"Hah, mudah-mudah Karin tidak mengganggu hari-hariku di KG." Ucap Sakura, Ia memejamkan kedua matanya, menyembunyikan manik emerald di balik kelopak matanya.
)))Mey)))
At KHS 10.15 a.m
Suasana di KG masih sama seperti kemarin karena sekarang masih dalam perayaan festival sekolah KG. Pengunjung yang datang lebih banyak dari pada kemarin. Di kelas 2-1 masih sibuk melayani pengunjung seperti kemarin tapi sekarang jauh lebih banyak, semua maid sampai kewalahan menanganinya.
"Hah, aku capek Sakura." Keluh Ino pada Sakura, mereka berdua sekarang ada di bagian kasir.
"Aku juga Ino, kenapa pengunjungnya banyak banget." Sakura mengamati semua pengunjung bahkan yang belum dapat tempat sekali pun rela menunggu berdiri di luar.
"Apakah kue yang di buat oleh Mia begitu enaknya, sampai pengunjung tak hentinya berdatangan." Di sini, memang Mia sang ketua kelas yang membuat kue.
"Wajar saja kue buatannya enak Ino, dia kan penerus perusahaan kue terbesar di Konoha nantinya. Selain itu Tou-san Mia orang Prancis yang sangat pintar membuat kue, sudah pasti Mia diajar langsung oleh Tou-sannya." Kata Sakura.
"Iya ya, kok aku gak nyadar hehehe."
"Kau ini. Hei Ino apakah Sai-senpai tidak ke sini menemuimu?" Tanya Sakura.
"Emm tidak tau. Memang kenapa?"
"Cuma nanya Pig."
"Bohong, kau ingin ketemu Sasuke-senpai kan?"
Blush… ucapan Ino sukses membuat wajah Sakura memerah.
"Apaan sih, gak kok."
"Jujur saja Jidat, kau menyukainya kan?" Sakura diam sejenak.
"Aku tidak tau Pig." Sakura menunduk.
"Apa kau sudah tidak menyukai Gaara-kun lagi?"
"Mungkin."
"Sudahlah Jidat. Yang mana di antara keduanya yang akan kau pilih, ikuti saja kata hatimu."
"Iya Ino."
.
.
.
Stand caffe maid yang dibuka oleh kelas 1-2 ditutup untuk sementara karena sekarang mereka semua diberikan istirahat selama 2 jam oleh Anko-sensei—wali kelas—. Mereka bersorak gembira karena diberikan waktu istirahat, tidak seperti kemarin mereka semua bekerja tanpa istirahat, mereka semua boleh berkunjung ke stand-stand kelas lain.
"Kita pergi ke stand kelas-kelas lain yuk." Ajak Ino.
"Bagaimana kalau kita ke stand rumah hantu." Usul tenten yang langsung mendapat gelengan dari Hinata dan Sakura.
"Ayolah, kalian penakut sekali sih." Ucap Tenten, Ino dan Temari tertawa.
"Baiklah." Ucap Hinata dan Sakura bersamaan. Mereka berlima pergi ke stand rumah hantu yang dibuka oleh kelas 3-1. Mereka menaiki tangga menuju kelas 3-1 yang letaknya di lantai 3, tapi untuk meluaskan jalur rumah hantunya kelas 3-1 memakai koridor yang menghubungkan semua kelas 3 jadinya arenanya cukup panjang. Sedangkan kelas tiga yang lain membuka stand mereka di lapangan kecuali kelas 3-1. Sakura dkk akhirnya sampai di lantai 3, Sakura langsung merinding begitu melihat tempat rumah hantu itu, padahal Ia belum masuk.
"Sebelum kalian masuk rumah hantu terlebih dahulu kalian membeli tiket di sebelah sana." Kata seorang perempuan cantik menunjuk kelas 3-1.
"Arigatou Senpai." Ucap Sakura dkk, mereka masuk ke dalam kelas 3-1. Sesudah mendapatkan tiket masing-masing mereka semua keluar dari ruangan kemudian melangkah memasuki rumah hantu. Tapi baru Tenten saja yang masuk ke dalam tiba-tiba ada seseorang yang berteriak.
"Hinata-chan tunggu aku." Teriak seorang bocah berkulit tan, Ia berlari menghampiri Hinata.
"Na-naruto-kun sedang apa kau di-di sini?" Tanya Hinata, wajahnya sudah memerah. Tenten yang tadi sudah masuk keluar lagi.
"Aku ke sini ingin bertemu denganmu, Hinata-chan" Naruto memamerkan senyum manisnya kepada Hinata yang sontak membuat wajah Hinata tambah memerah.
"Be-begitu ya."
"Hei, Naruto-senpai apakah Sai-kun tidak ikut ke sini?" Tanya Ino pada Naruto. Sebelum Naruto sempat menjawab, suara baritone milik seseorang di belakang Naruto menjawab pertanyaan Ino. Sai, Sasuke, Neji dan Shikamaru baru saja tiba.
"Aku di sini Ino-chan." Sai tersenyum lembut ke arah Ino yang disambut senyum sumringah dari Ino.
"Kenapa kau tidak bilang mau ke sini?" Tanya Ino pada Sai begitu pemuda itu sampai di depannya.
"Tuh, bocah duren yang mengajak—memaksa— kami ke sini." Jawab Sai sambil menunjuk Naruto dengan dagunya yang dibalas cengiran khas Naruto.
"Oh gitu. Apakah kalian mau ikut masuk ke dalam rumah hantu juga?" Tanya Ino
"Ikut." Jawab Naruto.
"Dobe, kau jangan memutuskan seenaknya." Ucap Sasuke dingin.
"Teme, aku ingin menemani Hinata-chan. Ia kan takut sama yang namanya hantu." Kata Naruto merangkul Hinata, Hinata hanya menunduk malu.
"Kita ikut saja, Sasuke." Timbrug Shikamaru yang sudah berdiri di samping Temari.
"Hn, terserah kalian saja."
"Ayo kita masuk. Hinata-chan tidak boleh jauh-jauh dariku, wakatta?"
"Ne Naruto-kun." Mereka semua masuk ke dalam rumah hantu. Temari melingkarkan lengannya di lengan kanan Shikamaru begitu juga Ino Ia melingkarkan tangannya di lengan Sai. Pasangan HinaNaru bergandengan tangan mesra. NejiTen berjalan berdampingan tanpa ada kontak fisik, begitu juga SasuSaku mereka berdua berjalan paling belakang. Sebenarnya Sakura takut dengan hantu-hantu bohongan yang ada di situ, tapi karena malu berteriak atau pun menjerit seperti yang dilakukan oleh Ino dan juga Hinata, Sakura hanya meremas rok maidnya dan memejamkan kedua matanya.
"Hei Pinky, kalau kau memejamkan matamu seperti itu, kau bisa jatuh karena tidak melihat jalan." Sasuke membuka suara di antara keduanya yang sedari tadi tak mengobrol sama sekali.
"Eh, " Sakura membuka matanya dan memandang Sasuke yang memandang lurus ke depan dan berhenti sejenak yang membuat Sasuke ikut berhenti.
"Kalau kau takut, kenapa masuk ke sini? Dasar bodoh."
"A-aku ti-tidak ta-takut kok."
"Hn. Kalau begitu buka matamu." Sasuke melanjutkan berjalan menyusul para sahabatnya yang diikuti Sakura di belakangnya, mereka tertinggal jauh.
"Hihihihihiiiii." Suara-suara aneh mulai terdengar yang membuat bulu kuduk Sakura berdiri, Ia mencengkram roknya kuat.
Greep… pergelangan kaki kanan Sakura dicengkram oleh sebuah tangan.
"Kyaaaaaa—" jeritan keluar dari bibir mungil Sakura yang sukses membuat Sasuke berhenti kembali. Sasuke memandang seseuatu yang berada di bawah Sakura.
"Se-senpai tolong aku, sepertinya hantu ya-yang mencengram ka-kakiku ingin membawaku ikut dengannya. Bagaimana ini, aku belum mau mati bahkan punya pacar aja belum." Wajah Sakura sudah ingin menangis. Tes… tes… sedetik kemudian cairan bening keluar dari emerald Sakura.
"Hiks…hiks..hiks… aku belum hiks mau mati." Ucap Sakura sesenggukan. Sasuke berjalan mendekati Sakura kemudian langsung menendang boneka yang mencengkram kaki Sakura itu dengan entengnya, nasib si boneka? Ya sudah pasti terlepar dengan tidak elitnya.
"Hei, Pinky berhentilah menangis." Ucap Sasuke memandang datar Sakura yang ada di depannya.
"Tapi a-aku belum mau mati Se-senpai." Kata Sakura.
"Tidak aka nada yang mengajakmu mati. Dasar konyol."
"Tapi tadi ada hantu hiks yang mencengkram kakiku."
"Itu hanya boneka, bodoh."
"Be-benarkah?"
"Hn"
Sakura memandang kakinya yang tadi dicengkram oleh boneka. "Huft, syukurlah." Ia benafas lega.
"Dasar penakut." Wajah Sakura memerah karena malu sebab Ia ketahuan takut hantu dan juga gelap Ia menunduk diam. Gyuut~... Sasuke merangkul bahu Sakura sehingga membuat tubuh keduanya salung menempel.
"Kalau begini, kau tidak akan ketakutan lagi kan?" wajah Sakura merona merah, Ia blushing berat. Sekarang Ia ada dalam rangkulan Sasuke, bau maskulin menyapa hidung mancung Sakura. Mereka berjalan dalam diam, Sakura menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sasuke, sesekali Ia menjerit bila ada hantu—jadi-jadian— yang lewat menakut-nakuti mereka.
"Senpai arigatou." Ucap Sakura malu-malu.
"Hn." Sasuke mengeratkan rangkulannya pada Sakura.
Deg… deg… deg debaran jantung mereka semakin cepat.
"Aku merasakan detak jantung Sasuke-senpai sangat cepat. Apakah Senpai juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?" batin Sakura. "Ahh pasti hanya perasaanku saja." Ucap Sakura di dalam hati.
Setelah satu jam mereka di dalam rumah hantu, akhirnya mereka keluar juga dari situ. Di sana sudah ada Naruto dkk menunggu mereka berdua yang sedari tadi sudah sampai terlebih dahulu. Sasuke dan Sakura menghampiri sahabat-sahabatnya tapi sebelum keluar dari rumah hantu Sasuke melepaskan rangkulannya .
"Teme, kau lama sekali di dalam." Teriak Naruto sambil mencak-mencak gak jelas.
"Hn." Respon Sasuke.
"Ayo kita ke stand yang lain." Ajak Sai yang sudah jalan bersama Ino terlebih dahulu, yang lainnya mengekor di belakang. Mereka semua mengunjungi satu-satu stand yang di buka setiap kelas mulai dari stand jajanan khas Jepang, jajanan khas Indonesia, stand caffe ala Prancis, dan masih banyak stand lainnya.
"Hah, capek juga keliling." Keluh Temari.
"Iya. Nanti malam ada pesta kembang api sebagai penutupan dari festival KG. Aku jadi gak sabar nontonnya." Celoteh Ino dengan wajah yang berbinar-binar.
"Iya, aku juga gak sabar Ino." Kata Sakura dengan riang, Ia jingkrak-jingkrak dengan Ino. Sasuke yang baru melihat tingkah Sakura seperti itu, tersenyum tipis.
"Seperti anak kecil saja. Itu hanya pesta kembang api." Kata Sasuke memandang Sakura dan Ino dengan tatapan mengejek. Sakura dan Ino yang merasa dirinya disindir langsung menghentikan jingkrak-jingkrak mereka.
"Apa Senpai bilang, kami seperti anak kecil?" teriak Ino memandang horror Sasuke. Sekarang Ia sudah tidak takut lagi dengan Sasuke dkk, karena Ino yakin bahwa mereka tidak seseram yang orang bilang.
"Hn." Ino hendak melontarkan caci maki ke pemuda raven di sampingnya, tapi keburu ditahan oleh kekasihnya, Sai.
"Ino-chan, sudahlah. Jangan kau tanggapi omongan Sasuke." Sai memegang tangan Ino.
"Tapi Sai-kun, hah ya sudahlah." Ino pasrah tapi wajahnya merenggut kesal
"Ayo kembali ke kelas." Ajak Tenten.
"Aa, benar katamu Ten. Waktu istirahat kita tinggal 10 menit lagi, harus segera kembali." Ujar Temari.
"Ya, sudah kami pergi dulu ya, jaa Sai-kun." Ino dkk kembali ke kelas mereka. Sesampainya mereka di kelas, teman-temannya yang lain sudah berkumpul di depan meja kasir.
"Maaf kami terlambat." Ucap Sakura pada Mia selaku ketua di sini.
"Cepat masuk barisan." Suruh Mia. Sakura dkk masuk ke barisan yang masih kosong.
"Baik, karena banyaknya pengunjung yang berdatangan ke sini sekarang. Kita akan membatasi pengunjung yang akan ke sini. Apa kalian mengerti?" Tanya Mia pada semua teman-temannnya.
"Kami mengerti." Semua menjawab serentak.
"Dan untuk yang laki-laki, sekarang kalian boleh melepas pakaian maid yang kalian pakai."
"Benarkah?" Tanya Renji, matanya sudah berbinar-binar senang.
"Aa."
"Hooreee." Semua siswa berteriak gembira sedangkan siswi hanya bisa cengo melihat perubahan wajah laki-laki di kelas 1-2 dari cemberut dan gak bergairah berubah jadi senang.
"Oke, kalian sekarang boleh keluar dari sini, tapi jam 9 malam kalian harus sudah ada di sini." Kata Mia.
"Baik." semua siswa 1-2 keluar dari kelas.
Setelah mereka semua kaluar masih menyisakan perempuannya saja, mereka mulai melayani tamu yang berdatangan.
Skip time
At Konoha Gakuen 09.15.p.m.
Semua siswa/i sibuk membereskan kelasnya masing-masing seperti semula sebelum dijadikan stand-stand. Di kelas 1-2 juga nampak sibuk membenahi kelasnya yang tinggal sedikit lagi akan seperti semula.
"Hah, akhirnya selesai juga." Ino menghela nafas lelah, Ia duduk di bangkunya.
"Iya, aku capek banget." Timbrug Tenten.
"Aku lapar." Keluh Ino.
"Aku juga." Ucap Sakura, Temari, Tenten dan Hinata berbarengan.
"Hahahaha, kita memang kompak." Tenten tertawa diikiti oleh Sakura dan yang lainnya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu di kantin sekarang kan kantinnya masih buka, mungpung pesta kembang apinya belum dimulai." Usul Ino. Di KG walau pun sudah membuka stand tapi kantin tetap jalan.
"Iya, ayo kita ke kantin." Mereka pergi meninggalkan kelas menuju kantin. Sesampainya di kantin mereka mencari tempat duduk yang kosong, mereka duduk di dekat jendela yang apabila menengok ke jendela disuguhi oleh taman KG, di taman sangat ramai. Siswa/I banyak yang nongkrong di sana sampai pesta kembang api di mulai.
Sakura Pov
"Kalian mau pesan apa?" Tanya Ayame. Aku mengalihkan pandangan yang sedari tadi memandang keluar sekarang memandang buku menu yang baru saja diberikan oleh Ayame. Ayame sangat cantik malam ini, berbeda dari yang kemarin. Ia menggerai rambutnya. Aku berniat menjahilinya.
"Ayame-san, kamu cantik sekali malam ini." Puji sakura.
"Ah, Sakura-chan kamu bisa saja." Ayame tersenyum malu-malu. Aku mengerling pada teman-temanku sebagai isyarat, dan mereka mengangguk.
"Ya, Ayame-san kamu berbeda dari yang biasanya." Tenten ikut memberi suara.
"Kalian ini, jangan bikin aku tersipu." Kata Ayame.
"Itu betul Ayame, kau sangat cantik malam ini." Seru seseorang dari belakang Ayame. Ayame-san membalikkan badannya, dan terlihat seorang laki-laki bertubuh atletis berdiri di depannya, aku dan yang lain tersenyum simpul memandang mereka berdua.
"Yamato-kun, kau ini." Ayame-san memukul pelan bahu kanan Yamato-sensei. Yamato-sensei salah satu guru yang mengajar di KG tepatnya sebagai guru olahraga selain Gai-sensei.
"Hei jangan memukulku terlalu keras." Yamato-sensei meringis, tapi dia itu hanya berakting agar diperhatikan oleh Ayame-san.
"Benarkah, aku memukulmu terlalu kencang?" Ayame mengusap lengan Yamato-sensei yang tadi dipukulnya. Yamato-sensei tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu, Yamato mengacak pelan rambut coklat Ayame.
"Sudah, sudah. Jangan kau usap lagi. Ayo kita ke taman belakang." Ajak Yamato.
"Aku belum mencatat makanan anak-anak ini." Ucap Ayame-san.
"Kami tidak apa-apa kok Ayame-san, kami dilayani pelayan lain saja." Ucapku disertai senyum dan semua sahabatku mengangguk menyetujui ucapanku.
"Benarkah tidak apa-apa?"
"Iya, jadi Ayame-san dan Yamato-sensei bisa pergi berkencan sekarang."
"Kalau begitu kami pergi dulu." Kata Yamato-sensei yang sudah menyeret Ayame-san dengan tidak sabaran yang sukses mendapatkan satu jitakan sayang dari Ayame-san. Aku dan teman-teman terkikik geli.
End Sakura Pov
"Mereka pasangan yang blak-blakan." Celetuk Ino.
"Seperti kau dan Sai, Pig." Ucap Sakura, Ino mendelik ke Sakura dan yang lainnya kembali tertawa. Pelayan yang lain kemudian datang menghampiri merea berlima. Setelah menyebutkan makanan dan minuman yang dipesan dan sudah dicatat, pelayan itu pergi meninggalkan mereka. Sekitar 20 menit menunggu, akhirnya pesanan mereka datang, mereka pun menyantap makanan mereka. Acara makan mereka diselingi dengan ngobrol-ngobrol supaya tidak sepi pas makan.
"Hah, kenyangnya." Ucap Tenten.
"He eh. Dari tadi siang aku belum makan." Kata Ino sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ya sama, aku juga." Yang lain ikut menimpali.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Ino. Sakura melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Emm jam 10 lebih 5 menit." Jawab Sakura.
"Kita masih punya waktu mengobrol sebelum pesta kembang api" kata Temari sambil menyeruput jus melonnya.
"Gak sabar mau nonton kembang api bersama Sai-kun." Celoteh Ino, teman-temannya memutar bola matanya bosan.
Skip Time
Sakura berjalan mengitari taman KG, Ia mencari sahabatnya yang tiba-tiba menghilang dari kantin pada saat Ia pergi ke toilet.
"Yang lainnya pada kemana sih, awas aja sampai ketemu." Gerutu Sakura, wajahnya cemberut.
"Apa mereka melupakanku yang tadi pergi ke toilet?" Sakura masih ngedumel sendiri, Ia tidak menyadari kalau sedari tadi ada pemuda yang mengikuti di belakangnya. Pemuda bermata onyx itu tersenyum tipis mendengar gerutuan Sajura.
"Hei Pinky, apa kau sudah gila ngomong sendiri." Perempatan muncul di pelipis kanan Sakura karena Ia tadi dia dibilang sudah gila. Sakura berhenti dan otomatis Sasuke ikut berhenti.
"Apa kau bilang aku gi—Se-Senpai?" mata Sakura membulat begitu Ia berbalik kebelakang dan mendapati pemuda raven berada dihadapannya saat ini. Sasuke menyeringai melihat wajah innocent Sakura.
"Ke-kenapa Senpai bi-bisa ada di sini?" Tanya Sakura gugup, Ia masih berusaha mengatur detak jantungnya yang berdetak begitu cepat sejak mendapati Sasuke ada di depannya sekarang.
"Hn."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku Senpai." Ucap Sakura kesal.
"Hn." Lagi-lagi kata andalannya yang keluar dari bibirnya, Sakura mendengus kesal. Gadis berambut buble gum itu sekarang sudah merasa tidak canggung lagi dengan pemuda raven yang ada di depannya. Sakura kembali berjalan dan Sasuke berjalan di sampingnya. Sakura celingak-celinguk mencari para sahabatnya.
"Ke mana perginya mereka?" Sakura bertanya entah pada siapa. Sasuke masih stay cool berjalan di sampingnya, heatsheat bertengger di kedua telinganya. Semua perempuan memandang Sasuke dengan tatapan memuja sedangkan pemuda Uchiha ini tidak menggubrisnya sama sekali. Karena Sakura capek Ia memutuskan duduk di bangku panjang yang terletak di taman sekolah yang di belakangnya ada pohon sakuranya Sasuke juga ikut duduk.
"Hah, capeknya." Keluh Sakura. Ia mengambil phonselnya dan mencoba menghubungi Ino tapi hasilnya nihil, Ino tidak mengangkat panggilan telponnya, Ia pun kembali memasukkan phonselnya ke dalam tas. Sakura memandang kearah Sasuke yang sedang melihat ke langit, Sakura mengalihkan pandangannya, Ia memandang langit seperti yang dilakukan Sasuke.
"Wah, bintangnya banyak sekali." Seru Sakura riang, Sakura mulai menghitung ribuan atau bahkan tidak terhingga jumlah bintang yang bertaburan di langit. Sasuke mengalihkan pandangannya, Ia menatap Sakura yang sedang menghitung bintang.
"Apa yang sedang kau lakukan Pinky?" Tanya Sasuke, Ia mengangkat sebelah alisnya. Sakura memandang Sasuke, Ia menghentikan kegiatannya menghitung bintang.
"Umm, sedang menghitung bintang." Jawab Sakura Innocent. Ia kembali menghitung bintang.
"Bodoh." Sakura yang dikatai bodoh oleh Sasuke langsung memandang Sasuke sebal.
"Apa? Aku tidak bodoh." Ucap Sakura. Hening kembali menyergap mereka berdua, tak lama kemudian Sasuke berdiri, Sakura memandang Sasuke bingung.
"Hei Pinky, kau mau jalan-jalan tidak?" Tanya Sasuke pada Sakura.
"Jalan-jalan ke mana?" Sasuke tidak menjawab pertanyaan Sakura melainkan Ia menarik tangan mungil milik gadis berambut buble gum itu.
"He-hei Senpai, kau mau mengajakku ke mana?"
"Sudahlah, tak usah banyak tanya, cukup ikuti aku saja." Ucap Sasuke.
Sakura hanya bisa mengikuti langkah Sasuke yang lebar-lebar dengan susah payah. Sakura menoleh ke arah tangannya yang bertautan dengan tangan Sasuke, wajah Sakura merona merah melihatnya. Sasuke mengikuti arah pandang Sakura kemudian Ia melihat wajah Sakura yang merona, Ia tersenyum tipis dan semakin mengeratkan tautannya yang membuat Sakura memandang ke arah Sasuke yang menatap ke depan. Sakura juga ikut-ikutan tersenyum tipis. Mereka jalan-jalan di sekitar taman sekolah sambil mencari-cari sahabat-sahabatnya, mereka sudah seperti sepasang kekasih banyak yang membicarakan mereka setiap keduanya lewat, ada pro dan kontra pastinya.
Tap…tap…tap bunyi langkah kaki keduanya, Sakura menghentikan langkahnya yang membuat Sasuke berhenti melangkah seperti tadi. Sasuke menoleh ke Sakura didapatinya Sakura mengerang kesakitan nafasnya terengah-engah, tanpa bertanya lagi Sasuke sudah tau kalau itu efek dari kutukan Sasori Ia langsung menarik tengkuk belakang Sakura dan mulai mencium bibir ranum Sakura. Mereka menjadi pusat perhatian semua yang ada di sana ada yang teriak-teriak gak jelas, ada yang menyalahkan pasangannya karena tidak seromantis Sasuke dan ada juga yang wajahnya memerah melihat adegan kissu SasuSaku.
"Empp…emmpp—" erang mereka berdua, mereka saling melumat dan berciuman panas kerena jika mereka hanya saling mengecup biasa itu tidak akan menghilangkan sesak di antara keduanya, makanya mereka harus melakukan french kiss, pernah dulu mereka hanya melakukan kecupan biasa pertamanya memang rasa sesaknya hilang tapi 5 menit setelah ciuman mereka terlepas, salah satu di antara mereka merasakan sesak lagi. Itulah yang menyebabkan mereka melakukan french kiss seperti saat ini, di samping itu juga karena mereka berdua menikmatinya.
Mereka masih berciuman, Sasuke memiringkan kepalanya ke kanan ke kiri sedangkan Sakura ke arah yang berlawanan, lidah saling membelit mereka tidak menghiraukan keadaan sekitar, sampai seseorang menegur mereka berdua.
"Yaa, apa yang kalian lakukan di sini?" teriak wanita berambut pirang dengan suara cemprengnya, Ino. Sakura dan Sasuke sontak melepaskan ciuman panas mereka, Sakura menghapus jejak saliva yang ada di sudut bibirnya, wajanya menunduk memerah ini kali keduanya Ino dan juga Sai memergoki mereka berdua berciuman. Sasuke memandang sebal ke arah Ino dan Sai tidak seperti Sakura yang menunduk malu.
"Kalian kami cari dari tadi, ternyata kalian asyik berciuman." Ucap Ino kesal.
"Gomen Pig." Ucap Sakura, lalu Ia teringat ada sesuatu yang mengganjal. Is memandang Ino.
"Hei, kenapa kau yang marah Pig? Harusnya aku yang marah." Bentak sakura ke Ino.
"Hah, maksunmu apa Jidat?" Tanya Ino yang tidak mengerti.
"Kau meninggalkanku begitu juga yang lainnya. Kalian meninggalkan aku di kantin."
"Tadi aku sudah menyuruh Sasuke-senpai untuk menjemputmu kok." Kata Ino. Sakura memandang ke arah Sasuke yang langsung mamalingkan wajanya dari Sakura.
"Benarkah itu Pig? Tapi kok emmp—" belum Sakura selesai berbicara Sasuke sudah membekap mulut Sakura.
"Ayo ke atap." Ajak Sasuke sambil menyeret Sakura dan masih membekap mulut Sakura. Ino dan Sai saling menoleh dan menyeringai, mereka kemudian mengikuti Sakura dan Sasuke. Poor Sasuke, kau ketahuan ingin berduaan dengan Sakura. Ckckckckck.
Sakura memukul-mukul tangan Sasuke yang membekap mulutnya karena Ia hampir kehabisan nafas. Sasuke langsung melepaskan bekapannya.
"Fuahh… Ya, Senpai apa yang kau lakukan?" bentak Sakura pada Sasuke yang berjalan di sampingnya. Sasuke menghiraukan bentakan Sakura Ia cuek, memasukkan tangannya ke saku celana dan menatap lurus ke depan. Mereka akhirnya sampai di atap sekolah, di sana sudah ada Naruto, Neji, Shikamaru, Tenten, Hinata, dan juga Temari mereka semua sedang duduk sambil mengobrol di bangku yang sudah ada di sana, entah siapa yang mengangkut bangku itu ke atap, di mana atap itu yang awalnya kosong sekarang sudah ada bangku dan meja di sana.
"Yo Teme, kau lama sekali mencari Sakura-chan." Ucap Naruto pada Sasuke yang baru duduk di bangku yang kosong di sebelah Naruto, Sakura duduk di depan Sasuke, Sai duduk paling pinggir di sebelah Shikamaru dan Ino duduk di depan Sai.
"Kalian tau kenapa Sasuke-senpai lama mencari Sakura?" ucap Ino, semuanya menggeleng kecuali Sai yang senyum-senyum gak jelas, sedangkan SasuSaku harap-harap cemas mendengar perkataan yang akan keluar dari mulut biang gosip itu.
"Mereka berdua berciuman di depan umum." Kata Ino akhirnya, Ia memandang Sakura dengan menyeringai.
"Apa? Benarkah?" teriak semuanya, kecuali NejiHina, SaIno dan SasuSaku yang wajahnya sama-sama merona.
"Hm, kami mencarinya capek-capek eh tidak taunya mereka malah berciuman." Cerocos Ino. Yang lainnya lagi-lagi memandang SasuSaku bergantian.
"Benarkah itu Teme?" Tanya Naruto pada Sasuke di sampingnya. Wajah Sasuke sudah tidak memerah lagi Ia sangat cepat dapat mengendalikan dirinya.
"Hn." Ucap Sasuke.
"Ku anggap jawabanmu itu ya. Jadi apakah kalian sudah pacaran?" Naruto menatap keduanya sili berganti.
"Kami tidak pacaran Dobe." Ucap Sasuke tenang.
"Benarkah? tapi—"
"Itu hanya karena efek kutukan Sasori."
"Ternyata Sasuke-senpai tidak mengnggap ciuman yang kami lakukan berarti." Batin Sakura sedih, wajahnya seketika menjadi murung dan tidak bersemangat menonton pesta kembang api.
"Benarkah?" Tanya Naruto.
"Hn."
"Oh begitu. Emm 5 menit lagi pesta kembang apinya akan di mulai, aku jadi tidak sabar. Kau juga kan Hinata-chan?" Tanya Naruto pada Hinata yang ada di depannya.
"I-iya Na-Naruto-kun." Jawab Hinata.
"Ayo kita semua berdiri di sana." Naruto menunjuk ke pagar pembatas atap, agar mereka semua bisa melihat indahnya kota Konoha dari atap sambil menunggu kembang api di nyalakan. Semuanya berdiri kemudian berjalan menuju pembatas kawat yang di tunjuk oleh Naruto tadi. Paling ujung timur Shikamaru, Temari, Hinata, Naruto, Neji, Tenten, Sai, Ino, Sakura dan yang paling barat Sasuke.
"10 detik lagi kembang apinya akan di luncurkan, ayo kita hitung bersama." Ucap Naruto semangat.
"1… 2… 3… 4… 5… 6… 7… 8… 9… 10 "
JDUARRR JDUARRR… kembang api di luncurkan, semuanya menatap ke arah kembang api yang meletus di langit.
"Wahh indahnya." Kata Ino, yang lainnya mengangguk setuju, satu persatu kembang api di luncurkan semua orang bertepuk tangan meriah. Langit tampak bercahaya dengan adanya cahaya dari letusan kembang api. Sekitar 50 kembang api di luncurkan dan tadi adalah kembang api yang paling terakhir yang merupakan kembang api yang paling besar di antara yang lainnya. Mereka semua kemudian turun ke bawah dan pergi ke areal parkir, ternyata di parkiran sudah banya orang yang sedang mengeluarkan mobil atau punsepeda mereka.
"Hoahem, sudah jam 12 malam lebih 20 menit. Ayo kita pulang." Ajak Shikamaru Ia sudah mengantuk berat, karena dari tadi Temari tidak membiarkan dia tidur sedikit pun.
"Iya, ayo pulang. Neji aku yang mengantar Hinata-chan, kau antar saja gadis bercepol itu." Kata Naruto sambil menunjuk Tenten yang ada di sebelah Neji.
"Hm, baiklah. Tenten ayo masuk mobilku, ku antar kau pulang." ucap Neji.
"Arigatou Neji-senpai." Ujar Tenten malu-malu.
"Hm. Aku duluan." Neji masuk ke mobil ferarri silver miliknya dan duduk di kursi pengemudi, sedangkan Tenten duduk di samping Neji di kursi penumpang depan. Mobil Neji kemudian meninggalkan pelataran parkir.
"Sakura, kamu pulang dengan siapa?" Tanya Ino.
"Emm Sasori-nii yang akan menjemputku." Jawab Sakura dengan senyum di paksakan.
"Benarkah?" Ino memandang Sakura lekat.
"Iya, aku akan menelfon Sasori-nii."
"Kalau begitu aku pulang duluan." Ino memasuki mobil Volvo hitam milik Sai yang di dalamnya sudah ada Sai di kursi pengemudi. Sai mengeluarkan kepalanya dari jendela.
"Shikamaru, Sasuke aku duluan." Ucap Sai, Sai mengemudikan mobilnya meninggalkan areal parkir.
"Ayo Temari kita juga pulang." Ajak Shikamaru. Sebelum ShikaTema pulang, mereka berpamitan dulu ke sahabat-sahabatnya, baru mereka pulang. Kini tinggal Naruto, Sasuke, Hinata dan Sakura di parkiran.
"Aku juga pulang duluan Teme, Hinata-chan sudah mengantuk." Ujar Naruto, Hinata sedari tadi sudah mengantuk matanya juga memerah.
"Hn."
"Kami duluan Sakura-chan." Ucap Hinata dan Naruto. Mereka pun masuk ke mobil ferarri warna orange milik Naruto dan pergi meninggalkan areal parkir.
Sekarang hanya ada Sasuke dan Sakura, Sakura menghubungi Sasori tapi dari tadi panggilannya tidak dijawab oleh kakak tercintanya.
"Aniki, ayo angkat." Sakura masih menempelkan phonselnya di telinga kanannya sambil menggigit jari-jarinya. Ia gugup hanya berdua dengan Sasuke walau pun biasanya juga gugup sih, tapi sekarang Sakura sedang marah pada Sasuke.
"Arrgg, dasar Aniki-baka." Geram Sakura, Sasuke mengalihkan perhatiannya ke Sakura.
"Ayo, ku antar kau pulang." Ucap Sasuke datar.
"Tidak usah." Balas Sakura ketus.
"Kau mau menunggu kakakmu yang gak bakalan datang itu?"
"Terserah aku."
"Cepat masuk mobilku, atau kau ku tinggal." Ancam Sasuke.
"Aku tidak mau pulang bersamamu."
"Sudahlah, cepat masuk ke mobil."
"Aku bilang kan aku tidak mau, kau tuli." Bentak Sakura, sebenarnya Sakura sendiri tidak tau kenapa Ia bisa marah pada Sasuke, mungkin karena Sasuke yang tidak menganggap ciuman mereka berarti.
"Kau, aku bilang cepat masuk mobilku." Sasuke geram, Ia bingung kenapa sikap Sakura sekarang berubah terhadapnya begitu cepat padahal tadi mereka baik-baik saja.
"…" Sakura diam, Ia melipat tangannya di depan dada. Sasuke menarik pergelangan Sakura secara paksa, Sakura berusaha melepaskan cengkraman Sasuke tapi apa daya, kekuatan laki-laki memang lebih kuat daripada perempuan.
"Lapaskan aku Senpai, sakit." Rintih Sakura.
"Tidak, sebelum kau menjawab alasan mengapa kau tiba-tiba berubah terhadapku?" Sasuke mamandang Sakura tajam.
"Aku tidak perlu menjawab apa-apa, Senpai. Aku memang begini, cepat berubah terhadap orang." Sakura mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam sang onyx. Sakura masih berusaha melepas cengkraman Sasuke yang semakin menguat.
"Bohong." Ucap Sasuke dingin.
"Untuk apa aku berbohong kepadamu, Aku bukan siapa-siapamu, dan Senpai juga bukan siapa-siapaku. Jadi sekarang lepaskan tanganku." Sasuke perlahan melepaskan cengkramannya, tapi itu tidak bisa membuat Sakura lepas dari Sasuke karena tangan kekar Sasuke sudah terlebih dahulu menarik pinggangnya dan tangan yang satunya lagi mangangkat dagu Sakura kemudian Ia menempelkan bibirnya ke bibir Sakura. Mata Sakura terbelalak, Ia tidak percaya kalau senpainya ini akan menciumnya, Sasuke mencium Sakura kasar, Sakura meronta-ronta di dalam pelukan pemuda raven itu. Sasuke mencoba untuk membuka bibir Sakura tetapi si empunya menutup rapat bibirnya.
"Emmppp—" sakura terus meronta-ronta, air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya . Dengan sekuat tenaga Sakura mendorong Sasuke dan behasil, ciuman mereka terlepas nafas Sakura terengah-engah.
Plakk… Sakura menampar pipi kiri Sasuke, Sasuke kaget dan Ia memegang pipinya yang sakit akibat tamparan telak Sakura.
"Hiks… hiks… kenapa Senpai melakukan itu? Bukankah Senpai hiks bilang kalau ciuman yang biasa kita lakukan karena hiks kutukan yang Sasori-nii buat, tapi ke-kenapa Senpai menciumku padahal aku atau pun kau tidak merasa sesak, kenapa heh?" Sakura sesenggukan, Sasuke diam tidak menjawab perkataan Sakura tadi.
"Kau membuatku bingung Senpai, sekaligus sakit," teriak Sakura, air mata membasahi wajah cantiknya.
"A-apa maksudmu?"
"Sebenarnya hiks apa arti hiks dari ciumanmu hiks tadi Senpai?"
"…" Sasuke diam menunduk.
"Aku kira Senpai juga merasakan hal yang sama pada saat kita berciuman. Huh, hahaha bodohnya aku, sampai-sampai mengira kau juga menyukaiku sama sepertiku."
"A-apa?"
"Aku menyukaimu Senpai." Teriak Sakura kalap, akhirnya kata-kata yang selama ini dia pendam keluar juga. Sasuke kaget mendengar pengakuan dari Sakura, Ia menatap sakura lebih tepatnya menatap bola mata emerald yang berlinang air mata itu, Ia mencari kebenaran dari kedua manik Sakura dan tidak ada kebohongan. Sasuke tersenyum, tapi senyuman Sasuke salah diartikan oleh Sakura.
"Jadi Senpai menganggap perkataanku tadi lelucon ya? Hahaha harusnya aku sadar tidak seharusnya aku menyukaimu. Anggap saja perkataanku tadi lulucon dan lupakan kalau aku pernah mengatakan menyukaimu. Aku akan menganggapmu sebagai partner ciuman saja." Sakura tersenyum paksa ke arah Sasuke yang terbelalak kaget mendengar ucapan Sakura tadi, Sakura menghapus air matanya. Sakura mulai melangkah meninggalkan Sasuke. Baru satu langkah, Sakura merasakan tangan kekar seseorang memeluknya dari belakang.
"Kau salah Saku, aku tidak menganggap perkataanmu tadi lelucon." Ini kali pertama Sasuke mamanggil nama Sakura, karena biasanya dia memanggil Sakura Pinky.
"Setiap kali aku berdekatan denganmu, jantungku selalu berdetak tidak normal. Aku jadi seperti orang gila karena terus memikirkanmu." Sasuke mambalikkan tubuh Sakura yang sedari tadi dipeluknya dari belakang menghadapkannya ke arahnya, agar wajah Sakura dapat dilihat oleh Sasuke.
"Aishiteru." Sasuke memandang lekat ke mata Sakura, mengatakan bahwa perkataannya barusan tidak bohong. Sakura dibuat tercengang oleh Sasuke, tubuhnya tiba-tiba kaku.
"Be-benarkah?" Tanya Sakura gugup, air matanya mendadak hilang entah kemana, Ia mendongak menatap wajah Sasuke karena Sasuke jauh lebih tinggi daripada dirinya.
"Hn." Jawab Sasuke.
"Kyaaa, Aishiteru mo Sasuke-senpai." Ucap Sakura girang, kemarahannya pada Sasuke jadi hilang dan digantikan rasa senang. Ia memeluk Sasuke erat, Sasuke lagi-lagi dibuat terkejut oleh tindakan Sakura yang tiba-tiba, tapi sedetik kemudian sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, Ia tersenyum tipis kemudian membalas pelukan Sakura. Lama mereka berdua pelukan, hingga Sakura teringat sesuatu, Ia mendorong Sasuke pelan.
"Tu-tunggu dulu Senpai. Emm kenapa tadi senpai tersenyum mengejekku saat aku menyatakan perasaanku?" Tanya Sakura menatap wajah tampan Sasuke.
"Hn? Siapa bilang kalau aku tersenyum mengejek?" Sasuke mengangkat alis kanannya.
"Terus kalau bukan mengejek, apa arti senyummu tadi?"
"Hn." Sasuke mengangkat kedua bahunya. Seringai jahil terpatri di wajahnya.
"Senpai, kau tidak menjawab petanyaanku." Sakura merajuk, Ia menjadi manja.
"Sudahlah, ini sudah malam. Ayo kita pulang."
"Hah? Omo? aku lupa kalau ini sudah larut malam." Sakura melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 1 malam.
"Hn." Sasuke memegang tangan Sakura dan berjalan menuju mobil porche hitam miliknya. Sasuke membukakan pintu penumpang depan, Sakura langsung masuk. Sasuke pun duduk di kursi pengemudi, lalu menyalakan mobilnya dan meninggalkan pelataran parkir.
Skip perjalanan menuju kediaman Haruno
Sakura dan Sasuke sudah sampai di depan gerbang kediaman Haruno, mereka turun dari mobil.
"Masuklah." Suruh Sasuke.
"Ne, arigatou Senpai." Ucap Sakura, Ia membungkuk sopan.
"Berhentilah memanggilku senpai."
"Ba-baiklah Sen- ah Sasuke-kun." Ucap Sakura gugup. Sasuke mengelus puncak kepala Sakura, Sakura tersipu malu.
"Sudah malam. Cepat masuk." Perintah Sasuke.
"Ne ne. Sen- maksudku Sasuke-kun, kita se-sepasang ke-kekasih kan?"
"Menurutmu?" Sasuke balik bertanya, Sakura mengembungkan pipinya.
"Menyebalkan." Ucap Sakura
"Kau kekasihku, gadisku." Sasuke berbisik ditelinga kanan Sakura, memuat Sakura blushing berat mendengar bisikan Sasuke. Sasuke memandang Sakura tegas.
"Jangan pernah berdekatan dengan laki-laki lain selain aku." Ucap Sasuke tajam.
"Ne." Sakura tersenyum sumringah.
"Aku pulang, kau masuklah, Malam." Sasuke mencium bibir Sakura sekilas kemudian Ia masuk ke dalam mobil porche hitamnya. Setelah mobil Sasuke menghilang di tikungan komplek perumahan Sakura, Sakura memasuki rumahnya dengan hati yang berbunga-bunga. Begitu juga Sasuke di mobilnya, ia senyum-senyum sendiri seperti bukan dirinya, mungkin karena ia sedang dimabuk kasmaran.
Tapi ketahuilah, ini bukan akhir dari kisah cinta mereka melainkan ini merupakan awal dari kisah cinta mereka yang akan mendapatkan banyak penghalang kedepannya.
TBC
Author Zone
Hai minna, maaf kalau lama updatenya*ditimpuk pke mangga*, saya lagi terserang WB. Gimana chapie ini? Membosankan karena terlalu panjang? Tapi ku harap masih ada yang mau membaca dan memberikan review di fic abal-abal ini. Dan sekali lagi author yang imut ini#plakk tidak bisa membalas review dari kalian, mohon maaf sebesar-besarnya. Mungkin di Ch depan baru bisa blas riviewnya. Sefitu dulu ya bacot dari saya. Samapi ketemu di chapie selanjutnya*ngibar-ngibarin kolor Sasuke*. Akhir kata Riview pliss
RnR^o^
