MARRIED WITHOUT LOVE
Naruto © Masashi Kishimoto
married without love by Khoi Emiko
Pairing : Gaara dan Ino
Genre : Romance, drama
Happy reading !
Married without love
Malam kian melarut, tetapi Gaara masih belum bisa untuk memejamkan kedua matanya. Sebelah tangannya ia buat sebagai sanggahan kepalanya yang sedang menatap ke atas. Wajahnya tampak merenggut. Disebelahnya, ada seorang wanita yang sama halnya dengan Gaara yang tidak bisa memejamkan kedua matanya untuk tidur. Kedua pasang suami istri itu tampak membisu di kesunyian malam. Mereka berdua hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Apa kau selalu seperti ini setiap harinya?" sang wanita tahu kalau tidak enak saling diam seperti sekarang ini.
"Iya."
Sang wanita yang disebelahnya hanya mengangguk.
"Ino, apakah kau bahagia tinggal bersama ku?" pertanyaan Gaara sukses membuat wanita yang bernama Ino menoleh padanya.
"Tidak." Gaara pun ikut menoleh. Kini kedua mata mereka kian beradu dalam jarak 20 cm.
"Apa kau juga tidak bahagia tidur bersama ku?"
"Bagaiman jika aku layangkan pertanyaan yang sama dengan mu juga, apakah kau bahagia tidur bersama ku?"
Gaara menghembuskan nafasnya sebelum menjawab, "Bagaimana bisa kau mengembalikan pertanyaan seseorang sebelum kau menjawabnya."
"Baiklah, jawabanku adalah tidak."
Gaara kembali menatap ke atas langit-langit kamarnya.
"Bagaimana dengan mu?" tanya Ino.
"Aku juga tidak."
"Kalau tidak, kenapa kau mengajaku untuk tidur bersamamu?"
"Aku mersa kasihan padamu."
"Kasihan?!"
"Iya, karena tindakkan mu yang konyol hari ini hanya karena kau merasa kecewa karena aku telah meninggalkan mu selama 3 bulan."
Ino tertawa.
"Oh jadi seperti itu ya, karena perasaan kasihan kau mengajakku tidur bersama? Apakah aku ini sudah terlihat sangat menyedihkan dimatamu?" ucap Ino yang sudah duduk di atas ranjang.
"Ya, kau sudah terlihat sangat menyedihkan sekarang."
Kedua manik aquamarine Ino berkilat tajam. Gaara bangkit dan duduk berhadapan dengan Ino.
"Apa kau mau tahu alasannya kenapa?" Ino meremas ujung selimutnya.
"Alasannya adalah kau sudah menunggu untuk ku. Dan berbuat hal yang konyol seperti tadi." Gaara mengembuskan nafasnya dan ia kembali melanjutkan perkataanya.
"Ino, aku peringatkan satu hal kepada mu. Kita ini masih dalam perjanjian kontrak. Sifat mu yang sekarang sudah memberikan tanda-tanda kehancuran di antara kita. Semsetinya kau tidak..."
"Ya aku tahu, Gaara. Aku sudah betindak salah hari ini. Aku hanya tidak ingin sendirian di dalam rumah ini. terutama di dalam kamar ini. Apakah aku salah jika aku menunggu mu untuk itu."
"Apa yang sedang kau nantikan dari diriku? Aku tidak bisa memberikan mu sebuah perasaan nyaman! Dan sekarang lihat lah. Apakah kau merasa nyaman tidur bersama ku? Tidak bukan?!"
"Ya memang aku tidak merasa nyaman tidur di dekat mu. Itu karena di antara kita tidak ada yang pernah menginginkan ini benar-benar terjadi kan."
"Nah! Itu kau tahu. Kelak kau tidak perlu berbuat yang aneh-aneh lagi seperti yang kau lakukan hari ini."
Gaara turun dari ranjangnya.
"Sekarang kau tidur lah."
"Gaara, kau mau kemana?" Ino ikut turun dari ranjangnya ketika Gaara hendak ingin berjalan ke daun pintu.
"Mencari udara segar."
'BLAM'
Ino terpaku di tempat menatap daun pintu yang baru saja menjadi saksi kepergian Gaara malam itu. Ino duduk termangu di tepi ranjang. Wajahnya tertunduk dalam dan kedua tangan mungilnya meremas bagian badan seprei.
"Kenapa? Kenapa aku harus melakukan hal yang memalukan seperti ini di depan Gaara. Semestinya aku tidak mendengarkan semua saran dari Sakura hari ini. Aku...Aku benar-benar ceroboh." Ino memukul jidatnya.
"Oh betapa memalukannya diriku ini. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang." Ino menggelengkan kepalanya.
"Kenapa aku harus mengeluarkan air mata di depan Gaara sehingga dia merasa iba dan akhirnya mengajakku untuk tidur bersamanya. Pasti Gaara sudah menganggap ku wanita murahan sekarang."
"Dan hal yang paling memalukan yang pernah aku lakukan selama menikah dengan Gaara adalah menunggu dirinya. What? Apakah benar ini diriku? Aku menunggu seorang pria berwajah panda seperti Gaara? ini semua benar-benar di luar dugaan ku!"
"Ino Ino mulai sekarang kau jangan pedulikan dia lagi. hiraukan semua saran dari Sakura atau dari siapa pun dan tunggulah dengan tenang sampai kontrak pernikahan mu dengan Gaara berakhir." Inner Ino bergejolak di dalam pikirannya.
.
.
Lain di tempat dengan Ino, Gaara sedang berdiri di atas balkon sambil melihat pemandangan malam dari atas rumahnya. Ekspresi wajahnya terlihat datar seperti biasanya. Tetapi ada yang membuat ekspresi wajah Gaara menjadi terlihat berbeda. Keningnya terkadang mengerut seiring ia memejamkan matanya. Bukan karena hawa dingin yang menerpa setiap bagian kulitnya, tetapi jauh dari dalam pikiran Gaara ada sesuatu yang telah mengganjal pikirannya hingga ia harus memejamkan matanya berkali-kali. Malam ini angin memang berhembus cukup kencang sehingga membawa hawa dingin yang sangat menyengat kulit. Bulir-bulir berwarna putih bagaikan kapas mulai berjatuhan. Gaara sontak mendongak menatap langit.
"Ah ternyata sudah musim dingin ya." Pikir Gaara setelah melihat buliran-buliran salju mulai berjatuhan dari atas langit. Gaara kembali merenung, kali ini kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya.
"Aku sudah mengatakan hal yang salah kepada Ino. Tidak semestinya aku mengajaknya untuk tidur bersama ku. Walaupun aku dan dia adalah suami istri yang sah, tetapi tetap saja Ino adalah Ino bukan Shion yang selama ini aku cintai." Gaara menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Bagiku dia hanyalah sebuah boneka yang selalu tergeletak di sudut kamar ku. Dan sekarang aku telah membawa boneka itu untuk menemani ku tidur menggantikan teddy."
"Sebenarnya apa yang sudah merasuki jalan pikiran ku hingga dengan senang hati aku telah berjanji padanya akan menemani dirinya esok hari ke desa Ame."
"Arrrgghhh,,, semestinya aku biarkan saja dia menderita seorang diri disana. Dan juga semestinya dia tidak perlu menunggu untuk ku. Karena aku tak pernah inginkan dia untuk menunggu dan menangis kerena hal sepele seperti tadi." Gaara menjambak rambutnya frustasi
. "Kapan semua ini akan berakhir?! Rasanya aku ingin sekali segera mengembalikan boneka itu kepada orang yang selama ini selalu mencintainya, Yaitu Sai. Aku pasti akan menunggu sampai semua ini berakhir dan jika hari itu tiba, aku akan menyerahkan dia kepada Sai dan aku akan bisa menjalankan kehidupan normal kembali bersama dengan Shion."
tiba-tiba saja ponsel Gaara berdering dari dalam saku celana nya. Dengan sigap, Gaara segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Tumben sekali kau menghubungiku malam-malam begini." Terdengar suara tawa dari seorang pria di sebrang sana.
"Maaf, Gaara-kun. Kau pasti sedang sibuk dengan istri mu ya?" ledek pria itu
"Jangan asal bicara kau, Kiba! Cepat katakan saja apa urusan mu menelpon ku di jam selarut ini." Gaara mulai merasa jengah dengan gurauan sahabatnya yang satu ini.
"Baiklah. Baiklah. Jadi begini, bisakah besok kita bertemu untuk taken kontrak kerjasama antara perusahan Inuzuka dengan Sabaku? Aku memajukannya jadi esok hari karena semua investor ku menginginkan produk dari perusahaan ku segera berkolaborasi dengan produk dari perusahaan mu. Agar pencapaian sales target bulan ini sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Terlebih lagi musim dingin akan segera tiba pasti akan bagus jika produk itu di jual secepatnya."
"Hmm besok ya, kira-kira jam berapa kau akan datang ke kantor ku?"
"Jam 7 pagi, bagaimana?"
"Ya aku akan menunggu mu jam 7 pagi di ruang meeting nanti."
"Ah terimakasih, Gaara. Selamat malam dan sampai bertemu esok pagi."
"Hn." Dan percakapan mereka pun terputus.
Married without love
Gaara sekarang telah berdiri dimana Ino sedang tertidur memunggunginya di sofa bed yang selalu biasa wanita itu pakai untuk tidur. Sepertinya keadaan sudah kembali normal seperti sebelumnya. Dimana Gaara dan Ino juga telah kembali ke posisi normal sebagaimana mereka bersikap seperti biasanya. Mereka seolah-olah tak menganggap kejadian tadi malam pernah terjadi diantara mereka berdua. sepertinya ada sesuatu yang ingin Gaara ucapkan, dia menyentuh pundak Ino agar wanita itu dapat menyadari kehadirannya.
"Gaara? Apakah ada hal yang ingin kau sampaikan kepada ku?" Ino sekarang telah duduk menatap manik turquoise Gaara.
"Aku baru saja di hubungi oleh temanku. Dia berkata jika besok aku harus bertemu dengannya untuk masalah kontrak pekerjaan di kantor ku. Jadi kau harus ikut dengan ku terlebih dahulu ke kantor sebelum kita pergi ke Ame." Gaara langsung melengos pergi.
Ino hanya menghela nafas karena ini bukan pertama kalinya Gaara bersikap seenaknya.
"Ah, jangan lupa kau harus bangun pagi-pagi sekali. Aku tidak ingin terlambat." Gaara menoleh saat mengucapkannya, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ranjangnya.
Ino mengangguk sebagai jawaban. Akhirnya Gaara dan Ino bisa tidur dengan tenang di tempat yang terpisah. Mereka telah menyadari satu hal yaitu walaupun tidur di atas ranjang yang terbuat dari emas dan tembaga sekalipun, jika tidur di atas ranjang yang sama dengan orang yang tidak kita cintai bagai tidur di atas tumpukkan jerami. Itulah yang terjadi di antara Gaara dan Ino di malam ini.
.
.
"Gaara, tunggulah sebentar aku sedang memakai pakaian ku!" Ino berteriak dari dalam kamar mandi.
Gaara mengetuk-ngetukan sebelah kakinya sambil bersidekap tangan dan kedua matanya selalu tertuju pada jam tangannya. Wajahnya tampak kesal, terbukti dari kedua alisnya yang tipis saling bertautan.
"Apakah semua wanita seperti ini? Selalu membuat seorang pria harus menunggu!" umpat Gaara.
"Untung saja semua koper miliknya sudah aku taruh di dalam bagasi mobil."
Gaara memasang wajah yang begitu dingin ketika Ino keluar dari kamar mandi sambil berlari terbirit-birit menghampirinya. Karena hari ini adalah musim dingin, Ino memakai kaus berlengan panjang putih dengan blazer berwarna hitam dan celana jeans yang di padukan dengan sepatu boots berhak 5 cm. Dan tak lupa Ino memakai syal berwarna putih yang ia lilitkan di lehernya. Gaara sendiri berpakaian seperti biasanya yang selalu ia kenakan kalau berangkat pergi kantor, hanya saja sekarang ia memakai mantel hitam dan syal berwarna hitam. Dan tak lupa mereka berdua memakai sarung tangan sebagai pelindung agar terhindar dari hawa dingin di musim dingin ini.
"Kau membuatku terlambat!"
"Maaf Gaara, hari ini aku kesiangan." Ino menundukkan kepalanya berkali-kali. Gaara langsung keluar dari kamar dengan langkah panjangnya. Dengan perasaan bersalah, Ino mengejar langkah kaki Gaara dari belakang.
"Selamat pagi Gaara-sama, selamat pagi Ino-sama." salam nenek Chiyo ketika melihat Gaara dan Ino berjalan menuruni anak tangga.
"Selamat pagi nek." Jawab Ino dengan senyum lima jarinya. Sedangkan Gaara hanya menganggukan kepalanya.
"Saya dengar kalau kalian berdua hari ini akan ke desa Ame. Sebelum kalian berangkat, alangkah baiknya jika kalian sarapan terlebih dahulu." Ucap nenek Chiyo yang diberi anggukan setuju oleh para pelayan.
"Ah benar itu, apalagi aroma masakan nenek yang enak ini sampai tercium ke hidung ku." Jawab Ino yang akan berjalan ke dapur namun, tangannya di tarik oleh Gaara.
"Kita sudah terlambat." Gaara berekspresi dingin saat mengucapkannya. Ino memasang wajah cemberut di depan Gaara.
Gaara tak dapat memungkiri kalau wajah Ino yang lagi cemberut saat itu terlihat sangat lucu di hadapannya.
"Tapi, perut ku lapar." Ucap Ino dengan mengusap perutnya.
"Makannya nanti saja, lagipula ini semua salah mu yang bangun telat." Gaara menunjuk Ino.
"Baiklah nek, kami pergi dulu." Ucap Gaara kembali.
"Ah Gaara, tunggu aku!"
"Ino-sama, saya sudah menyiapkan 2 kotak bento untuk anda dan Gaara-sama. Saya sudah mengira Gaara-sama akan melewatkan sarapannya lagi kali ini." nenek Chiyo memberikan tas serut yang isinya 2 kotak bento kepada Ino.
"Wah terima kasih nek! Sebenarnya ini semua salah saya yang membuat Gaara jadi terlambat."
"Ino-sama, Anda harus lebih terbiasa lagi dengan kehidupan Gaara-sama. Dan di musim dingin ini, saya harap kalian berdua makan dengan cukup baik apalagi sekarang kalian akan pergi ke desa Ame hari ini."
"Baiklah nek, aku dan Gaara pasti akan makan dengan baik."
"Ino-sama, Gaara-sama sedang menunggu anda di depan sekarang." Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri Ino.
"Ah nek, aku harus cepat pergi. Terimakasih ya nek atas semuanya."
"Hati-hati di jalan, saya harap kalian berdua bisa membawa Matsuri kembali." Nenek Chiyo menautkan kedua tangannya seolah sedang berharap sekaligus berdoa untuk Ino dan Gaara. Ino hanya mengacungkan jempolnya lalu ia berlari demi mengahampiri Gaara yang telah berdiri di sisi mobilnya.
.
.
Di sepanjang jalan kota Tokyo pagi itu sebagian besar jalan sudah hampir tertutup oleh salju. Ramalan cuaca di pagi hari ini telah menginformasikan jika salju akan turun hingga 3 hari kedepan dan kemungkinan akan berlanjut sampaihari natal tiba. Mobil sport hitam yang sedang di kendarai oleh Gaara melaju cukup kencang di tengah jalan yang cukup lenggang. Walaupun begitu Gaara tetap memperhatikan kecepatan laju mobilnya bagaimana pun juga ia tahu jika kondisi jalanan sedang licin dan dapat menyebabkan kecelakaan.
"Wah! Sepertinya ini sangat lezat!" Ino membuka kotak bento yang nenek Chiyo berikan padanya.
"Kau tidak boleh memakannya di dalam mobil ku!" Ino tidak jadi memasukan chiken katsu yang sudah hampir mencapai mulutnya karena mendengar ucapan Gaara.
"Huh? Kenapa?" Ino sedikit memiringkan kepalanya melihat Gaara yang masih fokus menyetir.
"Aku tidak mau ada bau di dalam mobil ku."
"Tapi aku sangat lapar sekali. Tidak bisakah kau mengijinkan aku untuk mengisi perut ku?" Ino merapatkan kedua tangannya memohon.
"Nanti saja kau makan itu ketika kita sudah sampai di kantor."
"Emm." Dengan berat hati Ino menutup kembali kotak bentonya. Dan ia bersandar lesu mentap kedepan sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
"Lebih baik kau rapikan dulu rambut mu. Aku tidak mau kalau semua karyawan ku nanti mengira kalau aku sedang membawa seorang nenek sihir ke kantor." Kali ini Gaara menoleh sekilas saja pada Ino.
Ino sontak mengambil kaca dari dalam tasnya. Dan ia pun terkejut dengan rambut nya yang masih kusut disana-sini karena lupa ia sisir sebelumnya.
"Kalau aku nenek sihirnya, lalu dia siapa? Kakek sihir kah?" Ino mengumpat sambil menyisir rambutnya. Sedangkan Gaara tak begitu mempedulikan umpatan itu dan terus melajukan laju mobilnya dalam sikap diamnya.
.
.
Sesampainya di Sabaku corp, kedatangan Gaara di sambut oleh ribuan pasang mata yang tertuju padanya. Ini adalah pertama kalinya bagi Gaara di tatap se intens itu oleh para karyawannya. Gaara tidak tahu jika penyebabnya adalah karena untuk pertama kali di dalam hidup Gaara ia membawa istrinya ke kantor dan mereka bahkan datang bersama-sama. Sebagian besar ada yang berdecak kagum melihat paras cantik bak seorang model dari diri Ino. Namun, ada juga yang sedikit tidak suka melihat kehadiran Ino disana.
"Selamat pagi, Gaara-sama."
"Selamat pagi, Gaara-sama."
"Selamat pagi, Gaara-sama." seluruh karyawan yang melewati Gaara saling memberi salam.
Gaara tak menjawab justru Ino yang selalu menjawab salam dari para karyawan-karyawan Gaara. Ino sedikit berlari untuk menyamai langkah panjang Gaara yang tak pernah ia bisa samai langkahnya dengan pria bersurai merah itu. Sambil membawa tas serut yang berisikan 2 kotak bento, ia terus sedikit berlari mengejar Gaara sambil menjawab semua salam yang terarah padanya dan Gaara. Padahal ini musim dingin, tetapi Ino menyeka keringat di pelipisnya setelah masuk kedalam lift bersama Gaara.
"Wah! Ino-sama, anda datang ke kantor kami juga?" seru salah seorang karyawan di dalam lift dimana Gaara dan Ino sedang berdiri berdampingan.
Ino menoleh dan mengangguk tak lupa dengan senyuman di bibirnya.
"Gaara-sama, anda sangat beruntung memiliki istri yang sangat cantik seperti Ino-sama." ujar salah seorang karyawan lain dan kali ini ucapannya diberi anggukan setuju oleh karyawan-karyawan yang berada di dalam lift itu.
Gaara akhirnya menoleh dan berkata, "Terimakasih." Tanpa ekspresi apapun di mimik wajahnya.
Ino sendiri hanya meringis mendengar semua pujian-pujian itu. Dan sesekali melihat mimik wajah Gaara yang tetap datar merespon semua salam dan pujian dari karyawannya.
"Gaara, pelankan langkahmu! Kaki ku terasa sakit sekali karena daritadi aku terus saja berlari mengejarmu." Keluh Ino yang sudah keluar dari lift dan sekarang ia berjalan mengikuti Gaara di belakang.
"Aku harus buru-buru. Inilah akibatnya jika kau bangun terlalu siang, waktu sudah kau buang dengan sia-sia."
"Walaupun hari ini aku bangun kesiangan, jalan mu memang selalu cepat seperti ini."
"Jika kau sudah tahu, lebih baik kau diam dan ikuti saja aku." Ino merunggut di balik punggung Gaara.
.
.
"Nah, sekarang kau hanya perlu duduk tenang disini dan menunggu ku sampai selesai dengan klien ku." Gaara merapikan dokumen-dokumennya yang berserakan di atas meja.
Ino mengangguk sambil berjalan mengelilingi setiap sudut ruangan kerja Gaara yang cukup besar.
"Wah indahnya!" kedua manik aquamarine Ino tampak berbinar-binar sambil berputar-putar.
"Aku bahkan bisa melihat rumah ku dari sini." Ino menatap kaca besar yang menghadap pemandangan kota Tokyo.
"Gedung ini sungguh luar biasa." Kini Ino memainkan bola dunia yang tergeletak di meja kerja Gaara.
"Jangan sentuh apapun tanpa seijin dariku!" Gaara menepis tangan Ino agar menjauh dari bola dunia miliknya.
"Ish pelit sekali."
Gaara mengernyitkan keningnya heran melihat reaksi Ino pada ruangan kerjanya.
"Dasar kau perempuan aneh. Apakah kau tidak pernah melihat ruangan seperti ini sebelumnya?"
"Belum." Ino menjawab dengan wajah polosnya seperti seorang anak kecil.
"Belum kata mu? Pasti selama ini kau hidup dalam kondisi yang sulit."
"Hei kau sedang mencoba merendahkan ku ya!"
"Tidak. Habisnya kau berlagak seperti wanita kuno saja."
"Tapi gedung mu memang besar. Apalagi ruangan ini. Kalau di kira-kira ya, ruangan ini mungkin sebesar ruang makan di rumah mu."
"Itu terlalu berlebihan."
"Aku mengatakan yang sebenarnya loh. Oh ya!" Ino menjentikan jarinya seolah mengingat sesuatu.
"Gaara, bicara soal ruang makan aku jadi teringat kalau aku belum makan."
"Lalu?"
"Bisakah aku makan disini?"
"Aku akan mengijinkan mu makan disini asalkan kau tidak mengotori sedikitpun dari benda-benda di ruangan ini." ucap Gaara yang sekarang telah selesai merapikan dokumen yang akan ia bawa.
Dengan semangat yang menggebu-gebu, Ino langsung mengeluarkan kotak bento dari dalam tas serut dan langsung mengambil tempat di salah satu kursi dan meja yang ada disana. Gaara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Ino. Selama Ino makan dengan lahap, Gaara seperti melihat adanya keganjilan pada diri Ino.
"Ino, dimana tas mu?" tanya Gaara yang sedari tadi tak melihat tas berwarna hitam yang sebelumnya di bawa Ino.
"Oh aku lupa! Aku meninggalkannya di dalam mobil mu!" Ino menepok jidatnya.
"Ceroboh!" lalu Gaara menelpon seseorang dan Ino mendengar percakapan bahwa Gaara meminta salah satu karyawannya untuk mengambilkan tas miliknya di dalam mobil milik Gaara.
"Lain kali kau tidak boleh meninggalkan tas mu di sembarang tempat."
"Gaara, apa kau sedang peduli padaku?" Ino menunjuk ke arah Gaara dengan sumpit yang di pegangnya.
"Aku tidak peduli, hanya saja jika ada sesuatu barang penting yang hilang. Pasti kau akan merepotkan ku nanti."
"Ya ya baiklah, lain kali aku tidak akan ceroboh."
"Selamat pagi, Gaara-sama." Baki membungkuk hormat pada Gaara.
"Ah ternyata ada Ino-sama juga disini." Baki terkejut karena melihat ada Ino di dalam ruangan kerja Gaara.
"Selamat pagi, Ino-sama." Baki juga membungkuk hormat pada Ino. Ino berdiri membalas salam dari Baki.
"Apakah kabar anda baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan mu, Baki?"
"Kesehatan saya yang sekarang tidak sebagus waktu saya muda dulu." Ino tertawa mendengarnya begitu juga dengan Baki.
"Sejak kapan anda datang kesini?" tanya Baki.
"Saya datang 10 menit yang lalu bersama Gaara." Baki melirik Gaara dengan senyum jahil di bibirnya. Gaara justru membalas senyum menggoda Baki dengan tatapan death glare nya.
"Baki, apa yang membawamu datang kesini?" tanya Gaara mengalihkan percakapan antara Ino dan Baki.
"Inuzuka Kiba telah menunggu anda di ruangan meeting sekarang."
"Ayo kita pergi sekarang."
"Ino-sama, kami pamit pergi dulu." Ucap Baki. Lalu, Gaara berjalan menuju daun pintu di ikuti dengan Baki.
"Gaara, apakah kau tidak mau makan dulu? Nenek sudah membawakan kotak bento untuk mu."
"Nanti saja."
"Tapi nanti makanan ini akan menjadi dingin." Ucapan Ino tak di gubris oleh Gaara. Ino hanya bisa pasrah melihat Gaara yang telah pergi dan sosok nya menghilang dari pandangannya. Tiba-tiba saja, Gaara sedikit melongok pada pintu dan berkata pada Ino, "Jangan buat kekacauan!" Ino mendengus kesal. Lalu Ino kembali melahap makananya dengan perasaan kesal di hatinya.
.
.
Di dalam ruangan meeting, ternyata benar yang di ucapkan Baki kalau Kiba sudah menunggunya disana bahkan dia membawa Hotaru sekertarisnya juga datang bersamanya. Sekarang di ruangan itu hanya di tempati oleh 5 orang, mereka Adalah Gaara, Baki, Guren, Kiba dan Hotaru.
"Sabaku dan Inuzuka corp akan meneken kontrak kerja sama selama 2 tahun. Jika selama 2 tahun tidak memunculkan tanda-tanda kenaikan yang signifikan, aku berhak mencabut kontrak kerja sama ku kembali." Ucap Gaara yang duduk bersebrangan dengan Kiba.
"Baiklah," jawab Kiba. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Gaara dan Kiba langsung menandatangani kontrak kerja sama mereka. Dengan disaksikan oleh sekertaris dari masing-masing mereka, akhirnya mereka berdua telah menyelesaikan kontrak itu tanpa hambatan sedikitpun.
.
.
Gaara dan Kiba sedang berjalan menuju ruangan Gaara dengan Guren, Hotaru dan Baki yang mengikuti mereka berdua dari belakang.
"Akhirnya selesai juga. Satu urusan ku selesai sekarang." Kiba merentankan kedua tangannya dimana salah satu tangannya sedang menggenggam tas jinjingnya. Gaara tak menggubris perkataan sahabatnya yang sifatnya sama persis seperti Naruto dan terus menjaga langkahnya lurus ke depan.
"Oh ya Gaara, aku dengar istrimu datang ke kantor bersama mu ya?" tanya Kiba
"Tahu daru mana kau?"
"Gaara, kabar bagus itu telah menyebar cepat bagaikan api. Ketika aku datang kesini, para karyawan mu sedang membicarakan Ino."
"Ya dia ada disini."
"Dimana dia? Sudah lama sejak pernikahan mu, aku belum sempat melihat istri mu lagi." Gaara memutar matanya bosan dan jas hitamnya sedikit tersibak ke belakang akibat ia memasukan kedua tangannya ke saku.
"Baki, apa kau tahu dimana Ino?" Kiba menoleh pada Baki meminta jawaban darinya karena Gaara bersikap diam layaknya orang bisu yang dengan tampang cool nya.
"Oh dia ada di ruangan Gaara-sama."
"APA?!" Guren reflek berteriak.
"Guren kau kenapa?" tanya Kiba yang diikuti oleh tatapan Hotaru dan Baki kecuali Gaara.
"T-tidak apa-apa." Kiba menganggut mengerti lalu ia berlari kembali menyamai langkah Gaara
. "Kenapa Gaara membawa wanita jalang itu kemari?!" umpat Guren di dalam hatinya.
.
.
"Ino! Ada seseorang yang ingin sekali bertemu dengan mu." ucap Gaara mendorong knop pintu.
Namun, alangkah terkejutnya Gaara ketika ia masuk ke dalam ruang kerjanya, Ino sedang tertidur lelap di salah satu kursi panjang yang tak jauh dengan meja kerjanya. Ke empat makhluk di belakang Gaara pun juga ikut terkejut sama seperti Gaara yang melihat Ino sedang tertidur disana. Rasa keterkejutan Gaara tergantikan dengan rasa kelegaan ketika ia melihat kesekitar ruangannya yang masih tertata rapi sebelum ia tinggalkan. Yang berarti Ino tidak mengacaukan tatanan ruangan kerjanya.
"Untung saja dia tidak membuat kekacauan di ruangan ku." Ucap Gaara dalam hati.
"Apakah semalam kau mengajak istri mu untuk begadang sama seperti mu juga, heh? Kau kejam sekali padahal kan ini musim dingin semstinya kalian berdua tidur lebih awal." tanya Kiba yang telah berdiri tak jauh dengan posisi Ino.
"Jangan berkata sembarangan kau!" Gaara menatap Kiba dengan sinis.
"Jika aku tidur lebih awal, mungkin kita tidak akan bertemu hari ini karena aku tidak menjawab telpon mu tadi malam." Kiba sedikit tertawa.
"Lalu, kenapa ia bisa tidur disini? apakah dia tidak kedingingan tidur di dekat jendela di musim dingin seperti ini?" "Dia tidak akan pernah merasa kedinginan karena ia memiliki jenis kulit yang sama seperti kulit domba." Gaara menatap datar Ino yang tengah terlelap.
Kiba tertawa kembali. "Mana boleh kau berkata seperti itu pada istri mu sendiri." Baki mengagguk mengiyakan perkataan Kiba.
Suara gaduh Kiba sukses membuat Ino sedikit demi sedikit membuka kedua matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dahulu sebelum ia menyadari ada 2 makhluk asing yang tengah berdiri di sampingnya. Sontak Ino pun langsung bangun sambil mengucek-nguek matanya yang terlihat sayu.
"Gaara!" wajah pertama yang Ino benar-benar ia lihat disana adalah Gaara. pria bersurai merah itu hanya diam dengan berpaling muka.
"Rupanya kau sudah bangun, Ino-chan?" Kiba sedikit membungkuk menatap wajah Ino dengan jarak yang cukup dekat. Ino reflek mundur ke belakang dan wajahnya terlihat merah. Tak pernah terfikir olehnya jika ia melihat wajah seorang pria asing yang menatapnya begitu dekat. Gaara tak merespon perlakuan Kiba pada Ino. Gaara bersikap seolah itu hal yang wajar. Ino menyadari ternyata ada Baki dan dua orang wanita yang ia belum kenal juga berada disana.
"Gaara, siapa mereka ini?"
"Ino-chan, apa kau tidak mengingat ku?" Kiba menunjuk dirinya sendiri.
Ino menggeleng.
"Kita pernah bertemu saat hari pernikahan mu."
"Benarkah? Maaf aku tidak terlalu hafal dengan teman-teman Gaara."
"Nama ku Inuzuka Kiba. Kau bisa panggil aku Kiba. Aku dan Gaara sudah lama berteman sejak kami duduk di bangku sekolah menengah atas." Kiba menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Senang bertemu dengan mu," ucap Kiba kembali setelah Ino membalas jabatan tangannya. Ino sempat berfikir kalau ternyata Gaara memiliki teman yang seceria ini. Dan penampilan Kiba juga tidak kalah keren dengan Gaara yang memakai setelan jas hitam formal saat itu. Dan gaya rambut mereka juga terlihat sama hanya saja Gaya rambut Kiba terlihat sedikit berantakan dibanding Gaara.
"Apakah kau sudah selesai memperkenalkan dirimu, heh?!" Gaara menarik pundak Kiba agar berdiri sejajar padanya.
Kiba tersenyum.
"Gaara, kau belum menjawab ku. Siapa yang berdiri di antara Baki?" tanya Ino
"Mereka adalah Hotaru dan Guren. Hotaru adalah sekertaris Kiba sedangkan Guren sendiri adalah sekertaris ku."
"Nama saya Ino Yamanaka. Senang bertemu dengan kalian." Ino berdiri sambil menundukkan kepalanya sedikit. Hotaru menundukkan kepalanya memberi salam pada Ino sambil tersenyum sedangkan Guren enggan menunduk dan memasang wajah yang sinis. Ino jadi berfikir kalau Guren mungkin tidak menyukai dirinya.
"Kiba, bukankah setelah ini kau harus bertemu dengan investor asing dari Amerika?" tanya Gaara.
"Kau mengusirku, heh?"
"Ya tidak sih hanya saja, setelah ini aku akan segera pergi bersama dengan Ino."
"Hei hei kalian berdua ingin berbulan madu di cuaca dingin seperti ini ya? Hmm sepertinya itu bukan ide yang buruk." Kiba merangkul pundak Gaara sambil memainkan alisnya. Ino terkejut mendengarnya, begitu juga dengan dua wanita yang berada di belakang Baki.
"Jangan asal bicara!" Gaara menepis rangkulan Kiba.
"Ayo Ino, sudah waktunya kita untuk pergi."
Ino mengangguk.
"Gaara, kau mau pergi kemana? Bagaimana dengan perusahaan?" Guren mencegah langkah Gaara yang mulai berjalan bersama dengan Ino.
"Ada Baki yang akan menggantikan aku." Guren memberi death glare pada Ino. Dan Ino semakin tahu jika Guren tidak suka jika Gaara harus pergi dengannya.
"Gaara-sama, hati-hati. Bagaimanapun juga kepergian mu ini demi Kankuro-sama. Sayaberharap usaha kalian akan berhasil." bisik Baki.
"Terimakasih, Baki. Oh ya selamaaku tidak ada, tolong kau urus perusahaan ini dengan baik."
"Baik, saya akan menjalankan perintah anda dan saya akan berusaha sebaik mungkin selama saya menggantikan posisi anda." Gaara hanya mengangguk.
"Gaara, Ino-chan. Jika kalian punya waktu senggang, datanglah ke rumahku."
"Aku tidak punya waktu senggang." Sahut Gaara. Ino melirik sinis pada Gaara.
"Tenang saja, aku pasti akan mengunjungi rumahmu bersama Gaara." ucap Ino yang membuat Kiba tersenyum senang.
Di sepanjang perjalanan menuju lobby, Kiba dan Ino saling berbincang-bincang satu sama lain sedangkan Gaara dan Baki berjalan dibelakangnya dengan di ikuti Guren dan Hotaru. Sesampainya di lobby, Kiba dan Hotaru mengucap salam perpisahan pada Ino dan Gaara setelah supir pribadi Kiba telah berdiri di sisi mobil menunggu sang majikan disana. setelah kepergian Kiba, kini saat nya Gaara dan Ino yang harus pergi.
"Kalian berdua hati-hati dijalan, sekarang musim dingin. Banyak salju tebal yang menutupi badan jalan. Jangan mengendarai mobil terlalu kencang bisa bahaya jika roda mobil kalian tergelincir."
"Terimakasih Baki atas perhatianmu. Kami pasti akan kembali dengan selamat." Ucap Gaara.
Ino menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan Gaara.
"Gaara-sama, berhati-hatilah disana. saya harap anda akan segera kembalisecepatnya karena perusahaan sangat membutuhkan mu disini." ucap Guren pada Gaara tetapi kedua matanya sinis melihat Ino.
"Hn." Gaara lalu berlalu pergi menuju basement tempat dimana mobilnya terparkir dengan diikuti Ino dibelakangnya.
.
.
"Gaara, mobil siapa yang hendak akan kau masuki ini? Bukankah tadi kau bawa mobil mu yang berwarna hitam?" Ino mengernyitkan dahinya ketika ia melihat Gaara hendak memasuki sebuah mobil sedan bermerk honda berwarna silver.
"Ini juga termasuk mobil ku."
"Hah? berarti mobil mu yang lainnya juga terparkir disini."
"Hanya beberapa saja."
"tapi kenapa kau mau menggunakan mobil yang seperti ini?"
"Hei Ino, kita akan membawa Matsuri pulang nantinya. Jika aku membawa mobil sport hitam milikku, apa kau mau Matsuri duduk di depan bersama kita."
Ino mengangguk membenarkan perkataan Gaara. Karena mobil yang akan dibawa Gaara sekarang berpintu empat. Tidak seperti mobil sport hitam yang sebelumnya dibawa Gaara yang hanya memiliki dua pintu alias dua tempat duduk.
"Tunggu apalagi. Cepat masuk!" tegur Gaara yang melihat Ino masih berdiri terpaku.
Ino langsung buru-buru masuk kedalam mobil setelah mendengar teguran dari Gaara. Ino langsung berdecak kagum karena kondisi di dalam mobil itu terlihat rapi, bersih dan cukup harum. Ino dapat menarik kesimpulan kalau Gaara memang termasuk kedalam ciri-ciri orang yang higienis dan suka dengan kerapihan. Setelah memuji kerapihan yang ada di dalam mobil Gaara, Ino memandang ke samping kaca jendela mobil. Suasana terasa begitu hening. Gaara menyetir tanpa bersuara sedikit pun. Bagi wanita periang seperti Ino, menjadi diam tanpa bicara bukanlah sifatnya. Tetapi, Ino merasa canggung jika ia adalah orang pertama yang harus mengajak Gaara untuk mengobrol. Terlebih lagi Ino pernah melakukan hal konyol yang paling memalukan di hadapan pria bersurai merah itu. Ino refleks memukul jidatnya berkali-kali ketika kejadian buruk itu kembali berputar-putar di memori otaknya. Jika Ino sedang sibuk memukul jidatnya, lain halnya dengan Gaara. Gaara memang fokus menyetir, tetapi ia terus sibuk merapatkan mantel hitamnya dan juga syalnya. Hal ini membuat Ino berhenti menyiksa jidatnya dan langsung berpaling pada Gaara.
"Kalau kau kedinginan, aku akan matikan ac nya." Ino mematikan ac dengan perasaan lega. Setidaknya ia bisa sedikit bersuara dengan Gaara walaupun pria itu hanya memberi respon dengan mengangguk. Ino kembali menatap Gaara namun sekarang tatapan Ino terlihat canggung.
"Ehm Gaara soal semalam..." kerongkongan Ino tiba-tiba saja terasa kering hingga ia harus menalan ludahnya berkali-kali.
"Lupakan soal semalam." Gaara seolah sudah tahu arah pembicaraan Ino.
"Tapi..." "Tenang saja aku tidak akan pernah mengingatnya. Aku memahami kau sedang dalam kondisi depresi berat kemarin." Ino kembali merubah posisi duduknya kedepan.
Gaara menoleh sekilas dan melihat raut wajah Ino yang terlihat sedikit muram.
"Maaf. Tidak semestinya seorang suami seperti ku meninggalkan istrinya selama 3 bulan tanpa memberi kabar sedikitpun."
"Kenapa kau minta maaf? aku yang salah karena aku terlalu egois dan bahkan aku hampir mengacaukan kontrak pernikahan kita." Ucap Ino.
"Baiklah berhenti menyalahkan diri kita masing-masing. Yang terpenting sekarang kita harus fokus untuk menyelesaikan semua ini. Ino mengangguk. Dan percakapan singkat mereka berakhir dengan keduanya yang terlihat fokus memandang kedepan dimana setiap jalan sudah mulai berkabut dan hampir tertutup salju
Married without love
"Gaara apa kau yakin ini jalannya?" tanya Ino ketika Gaara membelokkan mobilnya ke jalan di mana jalan itu terbilang cukup sepi dan di samping kiri dan kanan jalan itu di penuhi oleh pohon-pohon yang cukup lebat.
"Entahlah."
"Hah? Kau sungguh tidak tahu?"
"Tenanglah aku sudah mengikuti semua arah jalan yang nenek Chiyo tunjukkan."
"Bagaimana kalau kita tersesat."
"Aku sudah memasang gps."
"Itu tidaklah cukup. Apa kau tidak lihat hari sudah semakin senja."
Gaara menghentikan laju mobilnya senjenak. Dan ia langsung melirik angka jarum jam pada jam tangannya. Ternyata sudah 8 jam perjalanan setelah mereka meninggalkan kota Tokyo untuk menuju ke desa Ame. Pantas saja Gaara merasakan perutnya sudah keroncongan menahan lapar. Selain baru menyadari waktu yang berlalu, Gaara juga melihat tanda tangki bensinnya sudah menunjukkan angka merah.
"Hmm bensin mobil ini akan segera habis." Ucap Gaara tanpa rasa khawatir pada ucapannya.
"Percuma kau mencari pom di saat seperti ini. kau tidak lihat eh samping kiri dan kanan mu hutan?" Ino menggelengkan kepalanya sambil bersidekap tangan.
"Yasudah kita cari penginapan saja di sekitar sini."
"Apa? Penginapan?!" Ino terkejut untuk kedua kalinya
"Kita tidak akan mungkin melanjutkan perjalanan ketika hari sudah gelap, bukan? Dan kau tidak lihat salju semakin turun dengan lebat. Dan lagi kita bisa bertanya mengenai arah jalan dengan orang-orang di sekitar sini. Siapa tahu mereka dapat menunjukkan pada kita letak pom yang berada tidak jauh dari sini." Jelas Gaara.
"Benar juga. Tapi kau harus memesan dua kamar. Aku tidak mau satu kamar dengan mu" Ino mengacungkan telunjuknya ke arah Gaara.
"Memangnya siapa yang bilang kalau aku akan memesan satu kamar, hah?!" Gaara mendelik pada Ino.
"Siapa tahu saja." Ino menggedikkan bahunya. "
Ck kau sudah berpikir terlalu jauh." Gaara menggelengkan kepalanya.
Tanpa Gaara bisa hindari, perutnya mengeluarkan suara aneh yang membuat Ino menggelakkan tawanya.
"Gaara harus aku akui kau memang pintar dalam menyembunyikan setiap ekspresi di wajahmu tetapi tidak dengan perutmu."
"Diam kau."
"Kau membuat perutku sakit." Ino tertawa sambil memegangi perutnya.
"Itu tidak lucu."
"Bagaimana bisa kau menahan perutmu yang lapar selama 8 jam dan tadi pagi kau bahkan melewatkan sarapanmu." Ino seperti teringat kembali pada ucapannya dan ia sontak menoleh ke arah Gaara sambil menujuk-nujuk ke arah pria bersurai merah itru.
"Gaara, kau belum makan seharian ini! bagaimana bisa kau menyetir dengan perut kosong, hah!"
"Jangan pedulikan aku."
"Aku tidak peduli dengan mu. Aku hanya peduli pada diriku sendiri. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa kita." Gaara hanya diam dan ia mulai bersiap-siap melanjutkan perjalanan kembali. Selagi Gaara fokus menyetir, Ino sibuk mencari-cari isi dalam tasnya.
"Karena bento dari nenek Chiyo hampir basi, kau makan biskuit coklat ini saja." Ino mengambil satu keping biskuit dan menyodorkannya pada Gaara.
"Aku tidak suka makanan manis."
"Aishh disaat perut mu sedang lapar seperti ini kau masih saja mempertahankan kegengsianmu. Makan ini!" Ino memasukkan biskuit kemulut Gaara dengan paksa membuat Gaara terkejut dan sontak menghentikan mobilnya kembali.
"Kau! Berani-beraninya memasukkan makanan tanpa seijin dariku!" Gaara menunjukkan kepingan biskuit yang baru saja Ino masukkan ke dalam mulutnya.
"Makan itu atau aku tidak akan pernah membantu kakak mu lagi." Gaara terdiam sambil memandang biskuit yang sedang di pegangnya lalu melihat kembali ke arah Ino.
"Cepat makan itu!" Ino melototi Gaara.
"Baiklah." Gaara akhirnya memakan biskuit itu sampai habis membuat hati Ino sedikit merasa lega.
"Ah sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan kembali." Ino menyandarkan kepalanya pada jok mobil. Gaara menatap Ino dengan tatapan datarnya dan ia kemudian mulai menginjak gas mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali.
.
.
Salju semakin turun dengan lebat dan hari pun sudah semakin gelap. Tetapi mereka berdua tak kunjung menemukan tempat penginapan ataupun tanda-tanda kehidupan di sekitar mereka. frustasi, itulah yang mereka berdua rasakan saat ini. Dan sepertinya rasa frustasi mereka tidak bertahan lama ketika mereka berdua akhirnya menemukan sebuah motel di tengah-tengah hutan yang cukup lebat.
"Lihat, sepertinya itu motel."
"Hmm." Gaara menuju tempat yang ditunjukkan Ino.
Gaara kemudian memarkirkan mobilnya tepat di samping motel dan ia langsung keluar sambil memandang motel itu dengan seksama. Tak lama kemudian, Gaara mengetuk kaca mobil untuk memberitahu Ino supaya ia cepat keluar dari dalam mobil. Ino merapatkan mantel ketika hembusan angin musim dingin menerpa setiap pori-pori kulitnya. Ino kemudian melihat motel itu dengan seksama seperti yang dilakukan oleh Gaara sebelumnya. Motel itu terlihat remang-remang dengan pencahayaan yang kurang dan seluruh dindingnya bahkan dilapisi oleh kayu jati. Tiba-tiba bulu kuduk Ino merinding. Gaara melihat ekspresi takut di wajah Ino dan ia tak begitu peduli akan hal itu. Justru Gaara meninggalkan Ino menuju pintu masuk motel sambil membawa koper miliknya.
"Gaara tunggu!"
Gaara menghela nafasnya dan ia menoleh pada Ino dengan malas.
"Cepatlah, aku tidak mau mati kedinginan." Ucap Gaara ketus.
Ino berlari dengan susah payah sambil membawa kopernya dan sekarang ia berdiri sejajar dengan Gaara.
"Gaara apa kau tidak merasa aneh dengan motel ini?"
"Maksudmu apa?"
"Lihat! Ini seperti motel yang sering muncul di film-film horor." Tunjuk Ino sambil bergidik ngeri.
"Ternyata kau sudah terpengaruh dengan film-film yang tak jelas."
"Tapi itu benar. Bagaimana kalau kita menemukan hantu di dalam sana? Seperti hantu muka rata atau sodako."
"Itu tidak mungkin." Jawab Gaara datar
"Kenapa tidak?"
"Karena sebelum hantu itu bisa menggentayangi kita, mereka yang akan lebih dulu takut."
"Hah? mengapa bisa begitu?" Ino menapat Gaara dengan rasa penasaran.
"karena semua hantu itu akan takut setelah melihat rupamu yang tak kalah jelek dari mereka." Gaara melengos pergi sambil bergeleng kepala. Ino sedikit terkejut
"Apa kau bilang?!" Ino sedikit kesal dengan ucapan Gaara dan ia menendang gundukan salju sampai salju itu runtuh.
Dan kemudian Ino berjalan di atas salju yang sedikit menyulitkan langkahnya demi mengejar langkah Gaara yang sudah lebih dulu berjalan. Setelah sampai di dalam, Ino membulatkan kedua manik aquamrine nya ke setiap penjuru ruangan. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Gaara melirik Ino yang sedang terbengong.
"Apa menurutmu sekarang tempat ini seperti rumah hantu?" Gaara sedikit menarik ujung bibirnya.
Ino menggeleng-gelengkan kepalanya menjawab ucapan Gaara. Di dalam motel tepatnya di ruang tunggu terdapat cukup banyak orang yang akan menginap. Di lihat dari penglihatan Ino, kebanyakan diantara mereka adalah pendaki gunung terlihat dari barang bawaan mereka seperti tas ransel besar, tali tambang dan palu. Tetapi yang Ino tak habis pikir mengapa mereka mau mendaki gunung di cuaca ekstrim seperti ini. Ino tak mau ambil pusing dengan semua itu dan lebih memilih menuju meja receptionist dengan Gaara. Gaara dan Ino sedikit terkejut karena mereka di sambut oleh seorang wanita paruh baya dengan kisaran umur 50 tahun di meja recepcionist.
"Selamat datang tuan dan nyonya. Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang wanita paruh baya itu
"Ya. Kami ingin memesan kamar." ucap Gaara.
"Wah kebetulan sekali kami mengadakan promo dengan diskon 20% setiap pemesanan 1 kamar."
"Hm baiklah." respon Gaara tanpa minat
"Dan ini kunci kamar nyonya dan tuan dan kamar anda berdua berada di nomor 5 ." Wanita paruh baya itu memberikan satu kunci kamar dan Ino hampir melotot.
Sebelum Ino memberitahu Gaara, Gaara sudah lebih dulu berkata, "Maaf, tapi kami ingin memesan untuk dua kamar."
Wanita paruh baya itu menaikkan alisnya.
"Loh bukankah kalian berdua adalah sepasang suami istri." Wanita paruh baya itu menunjuk Gaara dan Ino. Ino langsung menelan ludahnya.
"Bukan. Kami berdua adalah partner kerja." Gaara berucap begitu tenang sekali seolah bukan beban baginya jika ia sedang mengatakan kebohongan. Tetapi setidaknya ucapan Gaara ada benarnya sedikit. Bukankah mereka berdua memang bekerja sama demi menyelamatkan Kankuro? Ino sontak menoleh ke arah Gaara yang mana sedang berdiri tepat disebelahnya. Ino bahkan dapat menemukan adanya keseriusan dari manik hijau turquoise Gaara ketika ia mengucapkan kalimat seperti itu. Ino jadi berpikir kembali di dalam hati dan pikirannya. Apakah selama ini Gaara memang benar-benar tak pernah menginginkan kehadiran dirinya di dalam kehidupannya?
Wanita paruh baya itu langsung melihat ke arah Ino seakan hendak memastikan apa yang di ucapkan Gaara adalah benar. Ino mengangguk sambil tersenyum kaku membalas tatapan dari wanita paruh baya.
"Saya pikir tuan dan nyonya adalah sepasang kekasih atau setidaknya kalian adalah sepasang suami istri." Gaara menggeleng dan Ino mau tak mau ikut bergeleng juga.
"Tapi sayang sekali. Kamar disini sudah penuh semua." wanita paruh baya itu seketika terlihat muram.
"Apakah benar-benar sudah penuh? Saya mohon anda mengeceknya sekali lagi." Ino bersikeras di depan wanita paruh baya.
"Maaf nyonya tetapi semua kamar sudah dipesan oleh semua rombongan pendaki gunung."
"Maksud anda semua orang-orang itu?" Ino menunjuk ke arah dimana sekumpulan pendaki gunung sedang berdiri.
Ino menjadi penasaran mengapa di halaman motel terlihat tak ada satupun kendaraan padahal di dalam motel itu sendiri sudah ada sekumpulan para pendaki gunung.
"Tapi mengapa mereka semua datang kesini tanpa membawa kendaraan mereka?" tanya Ino
"Oh itu karena mereka sangat cinta dengan alam maka dari itu mereka hanya menggunakan bis dan untuk melanjutkan perjalanan kesini mereka lebih memilih dengan berjalan kaki."
Ino mengangguk mengerti.
"Baiklah kami akan mengambil kamar nomor 5." Gaara mengalihkan pembicaraan.
"Tapi Gaara!"
"Tidak ada pilihan lain lagi."
Ino langsung merasa lesu.
"Kalau begitu ijinkan saya mencatat data diri tuan dan nyonya."
"Nama saya Sabaku Gaara dan dia Yamanaka Ino. Kami berasal dari Tokyo." Jelas Gaara.
"Baiklah tuan Gaara dan nyonya Ino saya sudah mencatat data diri kalian berdua."
"Tapi bisakah kau berikan kami 1 kasur cadangan?" tanya Gaara yang membuat Ino langsung menagakkan kepalanya plus dengan senyum di bibirnya.
"Mohon maaf sekali tuan Gaara, tetapi semua cadangan kasur disini juga sudah di sewa oleh para rombongan itu."
"Kau dengaritu Ino!" Gaara menyambar kunci kamar dan langsung melengos pergi dengan kopernya.
"Gaara, tunggu!"
"Nyonya Ino jika anda membutuhkan sesuatu tolong jangan sungkan untuk mengatakan kepada saya ataupun mengatakannya dengan petugas di motel ini."
"Ah iya, terimakasih sebelumnya."
"Selamat malam." Wanita paruh baya itu membungkuk di depan Ino dan Ino membalas dengan membungkuk dan tak lupa ia membalas ucapan salam dari wanita paruh baya itu "Selamat malam." Dan setelah itu Ino segera menuju kamar nomor 5 dimana Gaara sudah lebih dulu berada di dalam kamar itu.
Married without love
Ino tiba-tiba saja merasa canggung ketika ia berada di dalam satu kamar dengan Gaara. Padahal selama 4 bulan ini ia sudah sering berada satu kamar dengan Gaara. Dan Ino merasa kamar yang sekarang ia tempati dengan Gaara terasa begitu sempit. Disana hanya ada satu tempat tidur yang ukurannya tidak seluas seperti yang ada di kamar Gaara. Selain ada tempat tidur, disana juga ada lemari dan tv. "Ino apakah kau mau pergi duluan ke tempat pemandian air panas?" pertanyaan Gaara membuat Ino buyar dengan lamunannya.
"Sejak kapan dia melepaskan mantelnya?"
Ino sidikit tersipu melihat Gaara yang sekarang hanya mengenakan kemeja putih dan celana hitamnya. Ino jadi berpikir yang tidak karuan melihat dua buah kancing teratas Gaara terbuka.
"Hei kenapa diam saja?!" benatakkan dari Gaara membuat Ino tersadar kembali.
"Y-ya aku yang akan lebih dulu ketempat pemandian."
Ino langsung buru-buru membuka koper miliknya dan mengambil sehelai pakaian dan juga peralatan mandinya. Dan Ino langsung berlari keluar kamar. Gaara bersidekap tangan dan sebelah tangannya menggaruk jidatnya yang tidak gatal melihat tingkah laku Ino yang aneh. Semenjak Ino pergi ketempat pemandian, Gaara hanya duduk terdiam di tepi ranjang sambil memandang ke arah jendela kamar dimana buliran-buliran salju sedang turun dengan lebatnya. Pria bersurai merah itu seperti sedang memikirkan sesuatu di dalam keheningannya. Dan tiba-tiba saja Gaara meremas ujung seprai dengan sangat kuat.
"Semua ini semakin rumit."
Gaara kemudian mengecek ponsel yang sejak tadi siang tak pernah ia tengok sedikitpun. Tak ada satupun panggilan teleopn dari Shion ataupun sms dari wanita itu. yang ada hanya sms dari semua kliennya.
"Apakah dia sudah lupa padaku, heh?" Gaara menenggelamkan ponselnya di balik bantal.
Gaara kembali memandang ke arah jendela, tetapi ia mendengar pintu kamar yang terbuka. Dan Gaara langsung melihat ke arahnya.
"Kau lama sekali." Gaara menatap Ino dengan ekspresi datar yang mana sekarang Ino sudah memakai gaun tidurnya.
"Maaf, tadi penuh sekali makanya aku agak sedikit lama." Ucap Ino sambil meremas-remas rambutnya yang basah dengan handuk.
Tanpa berbicara lagi dengan Ino, Gaara langsung keluar dengan membawa pakaian dan peralatan mandinya. Ino menghabiskan waktunya selama menunggu Gaara dengan sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer yang ia bawa dari rumah. setelah mengeringkan rambutnya, Ino menyalakan tv dan ia sedikit bosan karena hampir semua chanel tv hampir tidak mendapatkan sinyal. Ino mengerucutkan bibirnya kesal dan langsung mematikan tv itu. tak lama Ino mematikan tv, terdengar pintu yang terbuka dan Ino melihat sosok Gaara yang sudah memakai piyamanya dan surai merahnya terlihat basah. Sehingga juntaian rambutnya sedikit menutupi jidatnya.
"Kau tidak memesan makanan?" tanya Gaara sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kau mau makan apa?"
"Terserah. Asalkan jangan yang manis."
"Ck. Aku tahu." Ino tersenyum masam.
Ino langsung berjalan keluar dan tak lama kemudian ia datang bersama pegawai motel dengan nampan yang berisi makanan ditangannya.
"Gaara sayang sekali hanya ada sup, nasi dan udang goreng." Ucap Ino setelah pegawai motel itu pergi dari kamar mereka.
"Tidak apa." Gaara langsung memakan makananya dengan lahap sekali membuat Ino terkikik geli melihatnya.
"Apa yang sedang kau tertawakan?" Gaara menunjuk wajah Ino dengan sendoknya.
"Baru kali ini aku melihat kau makan seperti orang kesetanan."
"Hei kau juga pernah seperti ini. Apa kau tidak ingat waktu kita mengunjungi ibuku setelah pernikahan kita kau makan semua susi itu seperti orang yang baru pertama kali melihat makanan." Ucapan Gaara membuat Ino mengulang memorinya kembali dimana ia untuk pertama kalinya bertemu dengan Gaara.
"Itu semua karena salah mu karna berjalan terlalu cepat sedangkan pada saat itu aku sedang merasa lelah dan lapar."
Gaara tak menjawab dan lebih memilih fokus pada makanannya. Dan mereka berdua kini makan dalam keheningan malam. .
.
.
.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Gaara terlihat bingung melihat Ino yang sedang sibuk mengatur bantal dan guling di atas kasur.
"Aku sedang membuat batas."
"Batas?" Gaara mengernyitkan alisnya.
"Iya. Aku ingin membuat batas agar kau tidak macam-macam dengan ku."
"Terserah kau saja." Gaara mengambil bantal yang baru saja disusun Ino.
"Hei kenapa kau ambil bantalnya?"
"Aku tidak bisa tidur tanpa alas kepala." Ucap Gaara dengan wajah innocentnya.
"Tapi..."
"Kau tidak lihat? Disisni hanya ada dua bantal dan satu guling."
Ino tertunduk lesu.
"Tenang saja aku tidak akan berbuat macam-macam dengan mu. Mungkin kau yang akan berbuat macam-macam dengan ku."
Ino langsung memberi Gaara tatapan death glare miliknya.
"Sekarang tidurlah. Aku tahu kau pasti sangat lelah." Gaara menarik selimut dan ia tak lupa membenarkan posisi guling yang sekarang menjadi pembatas mereka. Ino terlihat ragu-ragu melihat Gaara yang sedang tidur memunggunginya. Bagaimanapun juga ia sedikit trauma atas kejadian kemarin dimana Gaara merasa tidak nyaman ketika ia tidur dengan dirinya.
"Aku tahu kau belum tidur. Jangan kau pikirkan ucapanku yang kemarin malam. Sekarang kita berada dalam kondisi yang darurat. Percayalah."
Ino sedikit terkejut karena Gaara sudah tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Dengan perasaan ragu-ragu, Ino menarik selimut dan meletakan kepalanya secara perlahan-lahan di atas bantal.
"Selamat malam." ucap Ino sambil mematikan lampu tidur.
"Hm."
Kemudian Ino berbalik memunggungi posisi Gaara. Ino merasakan rasa kantuknya mulai menyerang pada kedua matanya dan ia tidak bisa menhan dirinya lagi untuk tidak jatuh ke dalam alam bawah sadarnya. Lain hal nya dengan Ino yang sudah lebih dulu tertidur, justru Gaara berusaha untuk memejamkan matanya berkali-kali tetapi tidak pernah bisa padahal seluruh raganya sudah sangat lelah. Kemudian ia berbalik badan dan ia melihat Ino yang sudah terlelap. Walaupun tidak bisa melihat wajahnya, Gaara dapat melihat deru nafas Ino yang begitu teratur di dalam tidurnya. Tiba-tiba tatapan Gaara terpaku pada surai pirang Ino yang tergerai bebas yang membuat dirinya sedikit terpesona melihatnya. Harum sampo yang menguar dari rambut Ino membuat Gaara hampir terlena. Terlebih lagi kulit putih yang terekspose dari gaun tidur yang di pakai Ino membuat seluruh aliran darah Gaara berdesir. Dan tanpa Gaara sadari, ia membelai surai pirang Ino secara perlahan. Harus Gaara akui kalau ternyata rambut Ino begitu lembut bahkan lebih lembut dibandingkan rambut milik Shion.
"Tidurlah yang nyenyak." Gaara mengusap pucuk kepala Ino dengan perlahan agar ia tidak membangunkan Ino. kemudian Gaara menarik selimut sampai ke pangkal leher mereka berdua untuk menghindari hawa dingin yang menyengat kulit. Lalu Gaara berusaha untuk memejamkan kedua matanya untuk kedua kalinya. Dan kali ini ia berhasil untuk tidur. Gaara dan Ino saling tidur membelakangi satu sama lain.
.
.
.
Ino merasakan rasa hangat dan nyaman di dalam tidurnya. Membuat ia enggan untuk membukakan kedua matanya. Rasa hangat itu membuat Ino tak ingin bergerak sedikitpun dari posisinya. Hal yang sama juga di alami oleh Gaara. ia tak pernah merasa senyaman dan sehangat ini sebelumnya. Bahkan Gaara berpikir ia tak akan pernah membuka matanya agar peristiwa langka ini tak berlalu dengan begitu cepat. Tetapi mereka berdua merasa ada yang aneh dengan semua itu. 'Rasa hangat' 'Rasa nyaman' Ino dan Gaara mau tak mau rela meninggalkan semua kenyamanannya yang mereka rasakan dan memilih untuk membuka kedua mata mereka. Alangkah terkejutnya Gaara dan Ino ketika mereka beruda membuka kedua mata mereka dan yang mereka lihat untuk pertama kalinya adalah wajah mereka yang hampir berdeketan satu sama lain. Dan hal lainnya yang baru di sadari oleh mereka berdua adalah mereka ternyata saling berpelukan satu sama lain. Jadi selama malam berlangsung mereka telah tidur dengan saling berpelukan. Sontak saja Gaara dan Ino langsung melepaskan diri mereka masing-masing. Gaara langsung berbalik badan dan Ino pun juga ikut berbalik badan. Di pagi hari yang dingin membuat Gaara dan Ino tidak bisa berkutik satu sama lain. Mereka berdua sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
To be continued...
NOTE:
ahhhh saya bingung mau mengucapkan kata-kata kepada kalian semua khususnya untuk para readers setia ffn. Sudah 6 bulan saya tidak pernah mempublish cerita di ffn membuat saya merasa canggung untuk menyapa kalian. baiklah pertama-tama emiko mau ucapkan "Apa kabar?" . mohon maaf yang sebesar-besar nya dari saya pribadi karena sudah membuat kalian menunggu *emangnya ada yang mau nungguin lu thor -_-. bukannya emiko udah lupa dan ga peduli pada cerita yang emiko buat. hanya saja emiko sedang sibuk di dunia nyata. emiko harus ngampus, kerja dan kadang ikut event cosplay *malah curcol. dan saya tersadar kembali ketika buka email dan melihat komentar kalian yang ternyata mengharapkan kelanjutan cerita yang saya buat. dan sejujurnya emiko mulai males melanjutkan cerita ketika folder emiko ke apus T_Tdan emiko mencoba membuat nya ulang tapi malah terbengkalai. oleh sebab itu semangat emiko bangkit ketika membaca komentar kalian dan emiko berusaha dengan sebaik-baikmya melanjutkan kembali kewajiban emiko kepada para readers. sebagai pembuka kehadiran emiko yang sudah 6 bulan menghilang, sementara ini emiko baru publish yang 'married without love' dulu. yang 'my boss is vampire' lagi tahap pembuatan. dan mohon maaf lagi jika tulisannya mulai berantakan dan membosankan. ini di karenakan karena emiko udah ga nulis selama sibuk di dunia nyata jadi kesannyaemiko harus mulai dari nol lagi. baiklah saya menunggu kritik dan sarannya dari kalian semua. see you on next chapter ^^
