Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuma minjam tokoh-tokohnya saja

Story by Morena L

Pairing: Sasusaku dan pairing lainnya

Warning: AU, OOC, typo(s), DLDR

.

.

.

Kesepian ….

Itulah yang sedang dirasakan oleh Uchiha Sakura saat ini. Sudah seminggu Sasuke tidak pulang ke rumah, menurut Tenten, suaminya itu sedang ada urusan ke luar kota.

Perasaan Sakura semakin tidak menentu, ia ingin Sasuke terus berada di dekatnya. Anak dalam kandungannya itu seolah tidak ingin berjauhan dengan ayahnya. Kondisi Sakura semakin lemah karena semua makanan yang masuk ditolak oleh tubuhnya.

"Ini tidak bisa dibiarkan, dia mengalami stress akibat kehamilannya, bocah itu benar-benar keterlaluan," kata Tsunade pada Tenten di luar kamar Sakura.

"Saya sudah menghubungi Kakashi untuk menyampaikannya pada Sasuke-sama, namun sepertinya Kakashi tidak bersama dengan Sasuke-samasekarang."

"Ck, bukankah Kakashi selalu bersama dengannya?" protes dokter senior itu lagi.

"Menurut Kakashi, mereka baru sampai dari Moskow tadi sore dan Sasuke-sama langsung dijemput oleh Tuan Muda Namikaze."

"Bagaimana, sih, bocah itu? Kandungan Sakura memang kuat, tapi kalau dia seperti itu aku takut terjadi sesuatu. Katakan pada Kakashi untuk segera memberitahu keadaan Sakura pada suaminya." Kepanikan terlihat jelas di mata Tsunade. Dia begitu mengkhawatirkan calon ibu muda yang sedang ditanganinya itu.

.

oOo

.

"Hei, Teme, ada apa? Kau sepertinya sedang banyak pikiran? Hari ini kan ulang tahunmu, bersenang-senanglah. Nikmatilah malam ini …," ujar Naruto gembira.

"Hn."

Mereka sekarang sedang berada di sebuah club malam elite yang bernama Akatsuki. Hari ini adalah ulang tahun Sasuke yang ke 21. Naruto menjemputnya saat ia baru sampai di bandara tadi, rupanya pria rubah ini telah menyiapkan pesta kejutan untuk sahabatnya itu.

"Hei Naruto, mana si pemalas?" tanya Lee.

"Tidak bisa datang, katanya Temari sedang mengidam makanan yang aneh-aneh jadinya mau tidak mau dia harus mencari keinginan Temari," jawab Naruto sambil memamerkan cengiran khasnya.

Pikiran Sasuke semakin tertuju pada Sakura, apa Sakura sudah makan yang cukup? Apa wanitanya itu sedang mengidam sesuatu? Apa Sakura sehat? Apa bayi mereka juga baik-baik saja?

"Oh, Teme, ayolah … kau seperti punya istri yang sedang hamil yang menunggumu pulang saja?" ejek Naruto.

"Cih."

Pertanyaan Naruto benar-benar membuat Sasuke tertohok. Pria emo ini semakin tidak tenang.

'Aku memang punya istri yang sedang hamil dobe sialan. Hhhhh... kuharap kau baik-baik saja, Sakura,' ujar Sasuke dalam hati.

.

oOo

.

Seorang wanita berambut soft pink baru keluar dari kamar mandi, ia mengenakan jubah mandi dan tangannya sedang mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk kecil. Sakura memandang bulan sabit yang terlihat dari jendela kaca besar di kamar itu. Akhir-akhir ini ia merasa kondisinya sedikit kurang baik.

"Sasuke-kun, kapan pulang?" dengan murung ia bertanya pada dirinya sendiri.

Setelah berganti pakaian dengan gaun tidur sepanjang mata kaki Sakura berjalan menuju balkon kamarnya. Sekali lagi ia memandang bulan sabit yang sedang merajai langit malam itu.

"Aku berubah menjadi mellow, ya. Aku rindu diriku yang dulu …"

Sakura memejamkan matanya saat dia merasakan ada sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya.

'Ini pasti halusinasi seperti biasanya,' pikir wanita itu.

"Apa yang kaupikirkan?" suara berat menyapa pendengarannya, namun Sakura masih tetap berpikir bahwa itu adalah halusinasinya.

Tidak sabar karena Sakura tak kunjung menanggapi pendengarannya Sasuke segera membalikan tubuh istrinya sehingga mereka berhadapan.

Sakura akhirnya percaya bahwa ini bukan halusinasi saat ia membuka mata dan melihat pria bermata onyx tajam itu sedang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Hm ... kau sudah pulang?" tanya Sakura lembut.

"Kau terlihat lemas, dan agak kurus. Apa kau kurang makan?" Sasuke balik bertanya saat melihat ada yang aneh pada Sakura. Istrinya itu terlihat kurang bertenaga.

Sakura memalingkan wajahnya. "Bagaimana bisnismu? Kau tidak terlambat makan selama di Moskow, kan?"

"Hari ini ulang tahunku."

Sakura segera memandang Sasuke tak percaya. Hari ini ulang tahun pria itu? Dan tak ada seorang pun yang bilang padanya?

"Ma-maaf taku tidak tahu. Apa kau tidak merayakannya dengan teman-temanmu?"

Sasuke menggeleng singkat. "Aku pergi dari pesta itu."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa," jawabnya sambil tersenyum misterius. "Aku mau mandi dulu. Malam ini aku tidur bersamamu."

"Tidak boleh!" Sasuke yang sudah membalikan badannya kini kembali berbalik menghadap Sakura.

"Seenaknya saja. Mengurungku di sini, meninggalkanku selama seminggu, sekarang seenaknya kau bilang mau tidur di sini. Tidur di kamarmu sana!" sambil mengerucutkan bibir dan melipat tangan di depan dadanya Sakura berjalan melewati Sasuke.

Wanita cantik ini berjalan menuju tempat tidurnya dan segera berbaring membelakangi Sasuke. "Tutup pintunya kalau sudah keluar."

Sasuke terkekeh pelan melihat tingkah istrinya itu. Ia berjalan mendekat ke arah Sakura, mencium pelipis wanita itu sekilas.

"Aku akan datang setelah mandi."

.

oOo

.

Sakura mengembuskan nafas dengan kesal, pria emo itu benar-benar datang. Ia memandang tak suka pada Sasuke yang sedang mengunci pintu kamar dengan menyeringai.

"Kau terlihat tidak suka melihatku," katanya sambil berbaring di sebelah Sakura.

"Aku sedang kesal melihatmu saat ini. Menjauhlah, anakku sedang tidak ingin dekat-dekat denganmu!" perintah Sakura kesal.

Bukannya menjauh, Sasuke malah menarik Sakura ke dalam dekapannya dan mengunci gerakan wanita pink itu.

"Bukankah kau bilang anak ini tidak mau jauh-jauh dari ayahnya, hm?" wajah Sakura semakin cemberut, entah kenapa ia benci sekali melihat seringai di wajah Sasuke.

"Sekarang ia sedang tidak ingin dekat denganmu," elaknya.

Sasuke segera memposisikan dirinya sehingga sekarang ia berada tepat di atas Sakura. "Tapi aku sedang ingin dekat dengan anakku di hari spesialku ini."

Sakura memalingkan wajahnya dengan kesal. Ia tidak mengerti, Sasuke seperti punya kepribadian ganda. Kadang pria itu bersikap kejam, dingin, dan acuh tak acuh. Namun tiba-tiba dia bisa berubah 180 derajat menjadi sangat perhatian. Sepertinya yang sedang hamil itu Sasuke, ya? Karena perubahan sikapnya jauh lebih sering terjadi daripada Sakura.

Sakura mendongakkan kepalanya saat ia sudah tidak menemukan sosok Sasuke lagi. Sedikit terkejut karena saat ini Sasuke sedang menciumi perutnya lembut. Setelah puas mencium perut Sakura, Sasuke segera membaringkan kepalanya di perut yang masih rata itu, tangan kirinya mengelus perut sakura dengan penuh sayang.

"Sakura, kalian berdua adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah kuperoleh seumur hidupku."

Sakura akhirnya luluh juga, diulurkan sebelah tangannya dan mengusap helaian raven Sasuke. "Selamat ulang tahun, Sasuke-kun."

Sasuke tersenyum mendengar ucapan Sakura. "Arigatou. Kalau kau tidak mau tidur bersamaku terserah, tapi malam ini aku mau tidur bersama anakku."

Sasuke menuntun Sakura berbaring menyamping, begitu pula dengan Sasuke ia juga berbaring menyamping dengan kepalanya menghadap perut Sakura. Lengan kokohnya memeluk pinggang Sakura dan menyamankan wanitanya itu. Sesekali ia memberikan kecupan kecil pada permukaan perut Sakura, berharap janin yang sedang bertumbuh di dalam sana dapat merasakan perlakuannya itu.

Sakura tersenyum kecil melihat tingkah Sasuke. Hilang sudah kekesalannya tadi, ia mencoba mengerti posisi Sasuke, suaminya pasti kesepian selama ini. Salah satu tangannya diarahkan untuk mengusap lembut rambut mencuat itu.

Sasuke sangat menyukai pergerakan jemari Sakura yang sedang mengusap lembut helaian ravennya. Ia ingin waktu berputar sejuta kali lebih lambat dari biasanya. Ini adalah hari ulang tahun paling membahagiakan selama hidupnya, selain bersama keluarganya saat masih lengkap dulu. Malam ini, adalah malam pertama selama sepuluh tahun terakhir di mana Uchiha Sasuke bisa tidur dengan tenang.

.

oOo

.

Sakura tidak mau membuka matanya, ia takut kejadian semalam hanyalah mimpi dan mimpi indahnya itu lenyap saat ia bangun. Ia takut saat membuka mata nanti, tidak ada Sasuke di sampingnya.

"Kalau kau sudah bangun segera buka matamu." Suara baritone sexy terdengar tepat di telinga Sakura.

"Eeenngg …" Sakura membuka matanya dengan sedikit malas. Wajahnya menjadi cemberut saat tidak melihat Sasuke di depannya.

"Haaaaah … sendiri lagi di pagi hari. Dasar pantat ayam sialan, suka sekali sih meninggalkanku." ia mengerucutkan bibirnya karena kesal.

"Siapa yang kau bilang pantat ayam? " betapa terkejutnya Sakura saat menolehkan kepalanya ke belakang.

"E-eh? Sasuke-kun?"

"Hn?"

Sakura mengambil bantal guling di dekatnya dan menyembunyikan wajahnya. "Kenapa Sasuke-kun belum pergi?"

"Hn. Kenapa menyembunyikan wajahmu begitu? Cepat berbalik," perintahnya.

Dengan terpaksa Sakura membalikan badannya menghadap suaminya itu. "Tumben tidak pergi? Biasanya saat aku bangun kau sudah tidak ada."

"Hn, hari ini mau ke kampus dulu setelah itu ada yang harus kuurus di rumah. Berjanjilah kau tidak akan keluar kamar ini seharian." wajah Sasuke berubah menjadi serius sekarang.

"Kenapa Sasuke-kun?"

"Akan ada yang datang hari ini. Keberadaanmu di sini tidak boleh diketahui oleh siapa pun. Sangat berbahaya jika ada yang tahu kau di sini. Berjanjilah."

"Baiklah Sasuke-kun, seharian ini aku tidak akan keluar."

"Kau ingin makan sesuatu pagi ini?"

Sakura berpikir sejenak, "Apa saja, yang penting ada tomatnya yang banyak."

Sasuke mengerutkan keningnya tak percaya.

"Ada apa, Sasuke-kun?"

"Kau suka tomat?"

"Tidak terlalu, tapi sepertinya dia menginginkan tomat pagi ini," jawab Sakura dengan raut wajah ceria sambil mengusap perutnya perlahan.

Cup.

Sasuke mencium bibir Sakura sekilas. "Akan kuambilkan." Kemudian dia pergi meninggalkan Sakura yang sedang terkejut dengan wajah sedikit merona.

.

oOo

.

Desas-desus mengenai kaburnya Sakura dari rumah seminggu yang lalu sudah beredar di seluruh KIHS. Ino sebagai sahabat baiknya sejak kecil tentu saja menjadi yang paling khawatir. Hampir semua orang di sekolah bertanya tentang Sakura padanya. Ino sendiri bingung pergi kemana Sakura.

Begitu pula dengan Hinata. Selain khawatir pada sahabatnya itu, ia juga mengkhawatirkan Neji. Sejak Sakura hilang, nafsu makan Neji juga menghilang entah kemana. Kalau tidak dipaksa olehnya atau Hanabi, Neji pasti tidak akan memakan apa pun seharian. Polisi juga sudah ikut mencari namun hasilnya tetap nihil. Sakura seolah hilang ditelan bumi.

"Ohayou,Ino-chan."

"Hm. Ohayou ,Hinata."

Sejak Sakura hilang Hinata dan Ino duduk bersebelahan. Mereka berdua saling berbagi tentang kesedihan mereka karena Sakura. Biasanya kemana-mana mereka selalu bertiga baik itu ke kantin, ke perpustakaan, atau ke atap sekolah. Sekarang rasanya aneh saat tidak ada lagi salah satu di antara mereka.

"Hinata-chan, apa kau ada mendengar kabar tentang Sakura-chan?"

"Ti-tidak. Ino-chan se-sendiri?"

"Aku juga tidak, Hinata-chan," jawabnya diiringi ekspresi murung.

Kau dimana Sakura?

.

oOo

.

Sasuke pergi ke kampus setelah menemani Sakura sarapan. Lelaki emo ini memang terlihat sangat santai untuk urusan perkuliahan. Selama ia mengumpulkan tugas tepat waktu, mengikuti ujian dan mempertahankan nilai terbaiknya, maka tidak akan ada yang protes. Tentu saja, siapa yang berani memprotes sang penyandang dana terbesar? Selama puluhan tahun keluarga Uchiha memang telah menjadi penyandang dana terbesar Konoha University.

Sasuke dan Naruto mengambil jurusan bisnis, sedangkan Sai tidak perlu ditanya lagi. Pria dengan senyum palsu itu sudah pasti mengambil jurusan seni lukis. Shikamaru dengan otak jeniusnya mengambil dua jurusan yaitu astrofisika dan teknik elektro.

"Sialan kau teme. Seenaknya saja pulang tanpa pamit tadi malam." Saat masuk Sasuke langsung diberondong pertanyaan-pertanyaan oleh Naruto.

Bagaimana pemuda pirang itu tidak kesal? Sudah mempersiapkan pesta kejutan, eh sasuke malah pulang begitu saja bahkan sebelum lilin ulang tahunnya dinyalakan. Yang paling membuat Naruto kesal adalah Sasuke pergi tanpa memberitahu siapa pun.

"Hn. Aku ada urusan, Dobe." jawab lelaki emo itu tanpa niat.

"Huh sok sibuk! Dasar Teme. Ngomong-ngomong tumben kau ke kampus?"

"Aku mau bertemu Ibiki-sensei. Setelah itu aku harus pergi lagi. Paman Obito akan datang ke rumah hari ini."

Naruto sedikit mengerutkan kening mendengar jawaban sahabatnya. "Mau apa si tua itu datang? Hati-hati teme, dia itu sangat licik."

"Hn. Aku tahu, Dobe."

.

oOo

.

Setelah menyelesaikan semua urusannya di kampus, Sasuke bergegas kembali ke rumahnya. Dugaannya benar, Uchiha Obito sedang berkeliling Mansion Uchiha saat ia datang. Segera ia hampiri pamannya yang sedang berada di taman belakang itu.

"Apa yang kau lakukan, Paman?"

"Oh. Keponakanku yang hebat sudah datang. Aku hanya berjalan-jalan melihat rumah ini."

"…"

"Kenapa kau selalu berekspresi dingin keponakanku?"

"Tidak usah berbasa-basi katakan saja apa maumu," ujar Sasuke tajam.

"Baik-baik. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang di sini saja?"

"Hn."

Sasuke dan Obito kemudian mengambil tempat di teras belakang mansion besar itu.

"Sasuke, akau hampir lupa kalau kemarin adalah ulang tahunmu."

"Sudah kubilang paman berhenti berbasa-basi. Katakan apa maumu dan segeralah pergi."

"Hahahaha … dasar anak muda. Baiklah, aku kemari untuk menawarkan perjodohan dengan Matsuri. Kau sudah cukup usia untuk menikah begitu juga dengan Matsuri. Lagipula kalian berdua sama-sama dari keturunan Uchiha. Kurasa hal ini sangat baik untuk tetap menjaga kemurnian klan kita."

Sasuke menyeringai mendengar rencana Obito itu.

"Ide yang bagus sekali, Paman." senyum kepuasan terbit di wajah Obito saat mendengar jawaban Sasuke. "Sayang sekali aku tidak tertarik."

Senyum di wajah Obito tadi langsung memudar. "Sasuke! Kau tahu kan kalau Fugaku juga sudah berniat menjodohkanmu dengan Matsuri sejak dulu!" kesabaran Obito tampaknya mulai hilang.

"Lalu?" tanya Sasuke dengan senyum palsu a la Sai.

"Keterlaluan kau Sasuke. Klan Uchiha adalah klan terhormat, kau tidak bisa sembarang memilih wanita untuk menduduki posisi pendamping pemimpin klan!"

"Dengar ,ya, Paman, putri Hiashi Hyuuga saja kutolak, apalagi Matsuri," jawabnya sambil menyeringai licik.

"Jika aku menginginkan seseorang untuk menjadi pendampingku maka aku sendirilah yang akan memilihnya. Kalian semua hanya ingin menyingkirkanku tapi aku tidak bodoh paman. Jangan lupa kalian sedang beruurusan dengan orang yang salah jika ingin mencari masalah denganku."

"Sasuke!"

"Hn. Paman kalau kau hanya mau membicarakan hal konyol ini, kau tahu kan dimana pintu keluarnya?"

Obito berdiri dengan emosi. "Fugaku dan Mikoto pasti sedang menyesal di alam sana melihat tingkahmu. Tetua klan akan segera mengadakan rapat untuk memilih pendampingmu, sebaiknya kau segera bersiap-siap."

"Aku selalu siap, Paman. Jadi apa masih ada hal lain yang mau kau bicarakan?"

Menenangkan diri sebentar Obito akhirnya kembali duduk dan menjawab pertanyaan sang keponakan. Karena perdebatan tentang perjodohan ia hampir melupakan tentang tujuan utamanya datang."Hyuuga Group tampaknya tidak begitu menerima jika Meyer Corp. bergabung dengan kita. Mereka sepertinya akan melancarkan protes."

"Hn. Biarkan saja, tidak ada kesepakatan apa pun yang kita langgar. Protes seperti apa pun tidak akan ada pengaruhnya. Meyer Corp. sendiri kan yang menyatakan diri ingin bergabung dengan kita." kata Sasuke sambil menyeringai.

"Tapi kita perlu mewaspadainya Sasuke, ini bisa menjadi boomerang buat kita." kata Obito memperngatkan sang keponakan.

"Aku bisa mengatasinya, Paman. Sejak berumur 16 tahun aku sudah memimpin Uchiha Group dan melewati banyak masa sulit. Yang seperti ini tidak akan bisa menjatuhkanku."

"Kita tetap perlu waspada, Sasuke."

"Hn"

"Pikirkan lagi baik-baik. Hanya ini yang mau kusampaikan."

Sasuke menyeringai sambil melihat Obito berjalan meninggalkan teras belakang.

'Aku tahu, Paman. Aku tahu. Ini semua adalah permainan kalian. James Meyer adalah sahabat baik Shimura Danzo itulah yang aku tahu tapi tidak diketahui pihak Hyuuga. Permainan macam apa yang akan kalian mainkan? Akan kuikuti, kita lihat pion siapa yang akan tumbang terlebih dahulu'

.

oOo

.

Sasuke masuk ke kamar kedua orang tuanya dan melihat Sakura sedang tertidur nyenyak. Wajah Sakura terlihat begitu damai, tidak tersirat sedikit pun ada beban berat yang sedang dipikulnya.

Sasuke mendudukan diri di sebelah wanitanya itu, ia mengambil sebelah tangan Sakura. Diciuminya punggung tangan Sakura beberapa kali kemudian ia membelai lembut wajah cantik yang sedang terlelap itu.

"Aku akan menjagamu untuk selamanya. Itu pasti. Tak akan kubiarkan kau celaka karena aku seperti dulu lagi. Kau dan anak kita tidak akan tersentuh bahaya apa pun." kemudian ia memberikan kecupan kecil di kening Sakura.

.

.

.

Sakura POV

Aku tidak tahu aku sedang berada di mana. Sejauh mataku memandang aku hanya melihat padang rumput yang sangat luas. Suasana di sini sangat menenangkan, aku bisa merasakan angin yang berhembus menerpa wajahku.

"Onii-chaaan… Onii-chan! Ayo, kau lambat sekali."

Aku melihat suara seorang gadis memanggil pria berambut coklat pendek di belakangnya. Tampaknya gadis itu kesal melihat si pria berjalan perlahan-lahan di belakang.

Pria itu akhirnya menghampiri si gadis dan mengacak-ngacak poni gadis itu. "Tidak usah buru-buru, Hime," serunya jahil.

"Jangan acak-acak rambutku. Nanti berantakan!" gadis itu menggerutu kesal.

Aku tersenyum melihat tingkah gadis itu. Gadis berambut pink sebahu itu sepertinya masih kesal dengan si pria berambut coklat.

"Biarkan. Siapa suruh kau pendek, tinggimu saja tidak mencapai bahuku." kembali si pria mengejek gadis di depannya itu.

"Huh!" dengan mengerucutkan bibirnya si gadis membuang muka.

"Ayolah, Hime, jangan ngambek begitu."

Aku seperti mengenal gadis itu, tingkahnya, gayanya berjalan, ekspresinya saat kesal. Aku melihat rambut soft pink sebahunya itu dan melihat rambutku yang sudah mencapai pinggang.

Tiba-tiba aku menyadari, gadis itu aku! Aku sedang melihat diriku sendiri!

"Hime, jangan marah lagi, ya. Aku janji akan membelikanmu ice cream strawberry berukuran jumbo kalau kau tidak ngambek."

"Kau tidak bohong kan, nii-chan?" si gadis berbicara dengan mata berbinar-binar.

"Asalkan kau tidak ngambek lagi."

"Kyaaaaa … Aku sayang sekali padamu, nii-chan." Si gadis segera memeluk leher si pria dengan penuh kegembiraan.

"Ya, aku juga menyayangimu, Hime," balas si pria.

Aku memandang kedua orang itu dengan ekspresi bingung. Apa benar gadis itu aku? Siapa pria berambut coklat pendek itu? Setahuku aku tidak punya kakak laki-laki. Kakakku hanya Karin. Kalau benar gadis itu aku, kenapa aku tidak mengingat apa pun tentang pria itu?

.

oOo

.

Sekarang yang ada di hadapanku bukan lagi padang rumput yang luas, sepertinya ini di pinggir hutan. Suara jangkrik terdengar sangat jelas, aku kembali melihat gadis yang tadi namun kali ini ia tidak bersama dengan si pria berambut coklat.

Raut wajah gadis itu tampak kebingungan, sepertinya ia sedang tersesat. Ia berjalan dengan panik dan matanya terlihat berkaca-kaca.

"Aw!"

Gadis berambut pendek itu tampak terkejut, rupanya ia menginjak kaki seseorang yang sedang tertidur di bawah pohon.

"Kau?" seorang pria dengan topi berwarna biru donker tampaknya sedang kesal karena tidurnya diinterupsi.

"Ma-maaf. Aku tidak sengaja," kata gadis itu terbata.

"Sengaja atau tidak, kau sudah mengganggu ketenanganku!" seru pria itu tajam.

"Aku kan sudah minta maaf." Si gadis malah balik menatang.

"Hn. Dasar gadis menyebalkan."

"Kau yang menyebalkan! Huh!" tidak menunggun lebih lama lagi si gadis pergi dengan wajah cemberut.

"Kyaaaa!" gadis itu kemudian berteriak karena terjatuh. Kakinya tersandung pada akar pohon yang mencuat.

"Hiks ... hiks … kakiku …" Lutut gadis itu terlihat berdarah, saat ia hendak berdiri keseimbangannya kembali hilang dan ia terjatuh lagi. Rupanya pergelangan kakinya yang tersandung tadi terkilir.

"Dasar gadis menyebalkan," pemuda tadi berjalan mendekat ke arah si gadis kemudian berjongkok di depannya.

"Kau mau apa?" tanya si gadis sambil sesenggukan.

"Kakimu pasti terkilir dan kutebak kau sedang tersesat. Naiklah, akan kugendong kau sampai di pos polisi terdekat biar kau bisa menelepon keluargamu."

Gadis itu memandang si pemuda dengan tatapan tidak percaya.

"Hn. Kalau kau tidak mau ya sudah. Aku pergi saja."

"Eh? I- iya."

Pemuda itu kemudian menggendong si gadis dan membawanya pergi dari tepi hutan itu. Wajah pemuda itu tetap kesal karena si gadis tidak berhenti berceloteh sepanjang perjalanan mereka. Kalau tidak mengingat kaki gadis itu sedang terkilir ia pasti sudah pergi membiarkan gadis itu begitu saja.

Sakura memandang keduanya dengan tersenyum. Pertanyaan kemudian hinggap di benaknya, siapa lagi pria bertopi biru donker itu?

.

oOo

.

Sakura membuka matanya perlahan dan mendapati Sasuke sedang tidur di sampingnya. Lelaki itu menjadikan lengannya sebagai bantal Sakura.

"Hn, kau sudah bangun?"

"Eh, Sasuke-kun sejak kapan berada di sini?"

"Siang tadi. Aku tertidur sebentar tadi. Kau tidur sejak jam berapa? Sepertinya nyenyak sekali."

"Aku tidur sejak siang tadi. Memangnya ini jam berapa Sasuke-kun?"

"Ini sudah jam lima sore."

"Eh? Lama sekali aku tidur," kata Sakura tak percaya.

"Hn."

"Apa malam ini Sasuke-kun pergi lagi?"

Pria itu memandang Sakura sebentar. "Ya, Malam ini pesta bujangnya Shikamaru, minggu depan dia menikah dengan Temari."

"Wah, mereka benar-benar menikah, ya?"

"Begitulah. Temari sudah hamil jadi mereka mempercepat rencana pernikahannya."

Mata Sakura membulat, Temari hamil? "Wow. Shikamaru-senpaiyang pemalas itu? Tidak kusangka," ujar Sakura dengan senyum keheranan.

Sasuke tersenyum tipis melihat reaksi sang istri. "Jangankan kau. Kami saja tidak menyangka kalau mereka berdua akan sejauh itu."

"Hmmmm, kasihan Ino-chan kalau begitu." wajah Sakura sedikit murung karena mengingat sahabat baiknya yang berambut pirang itu.

"Hn?"

"Dia sudah lama menyukai Shikamaru-senpai, sepertinya dia akan patah hati," jelas Sakura.

"Hn."

.

oOo

.

Neji tampak gelisah di ruang kerjanya. Sejak diberitahu Sakura hilang, pikirannya menjadi sulit untuk berkonsentrasi. Fokusnya hanya untuk mencari di mana keberadaan Hime-nya itu. Selain Sakura, masalah lainnya adalah mengenai kondisi perusahaan mereka.

Keluarnya Meyer Corp. Benar-benar membuat dewan direksi Hyuuga Group kelabakan. Ayahnya semakin menyudutkannya karena semua hal ini. Fokusnya terpecah antara perusahaan dan Sakura. Mana yang harus diurusnya terlebih dahulu?

"Hah, tidak ada cara lain."

Neji mengambil telepon dan menghubungi seseorang. Pembicaraan mereka berlangsung singkat dan Neji tersenyum saat menutup sambungan teleponnya.

"Pierre, maafkan aku melibatkanmu lagi. Ini benar-benar yang terakhir."

.

oOo

.

Akatsuki. Club tempat mereka merayakan pesta ulang tahun Sasuke kemarin mereka jadikan sebagai tempat pesta bujangnya Shikamaru. Pesta digelar dengan sangat meriah. Banyak teman-teman mereka yang datang, baik teman semasa SMA maupun teman kuliah atau teman sepermainan lainnya.

Shikamaru terlihat malas di pesta ini, sesekali ia menguap menunjukkan rasa bosan.

"Dasar nanas pemalas, ini pestamu. Bersenang-senanglah!" seru Kiba akibat tak tahan lagi melihat tingkah Shikamaru.

"Mendokusei…"

"Temeee …," panggil Naruto saat Sasuke menghampiri meja mereka.

"Hn."

"Hei Sasuke, kemarin kau kemana? Dasar, padahal pesta itu untukmu," keluh Sai.

"Bukan urusanmu, muka palsu," jawab Sasuke pada Sai.

Sasuke lalu mengambil tempat di sebelah Shikamaru. "Kau kenapa, nanas?"

"Dia memang selalu malas teme, tidak usah dipedulikan. Nikmati saja pesta ini!" seru Naruto bersemangat.

"Ada yang rindu padaku?" suara seseorang kemudian menginterupsi kegiatan mereka.

"Chouuuuuujiiiiiii!" mereka semua langsung menghampiri Chouji kecuali Sasuke. Rangkulan, pukulan ringan, dan jabat tangan menghujani tanpa henti. Pria berbadan tambun ini benar-benar dirindukan oleh sahabat-sahabatnya. Chouji memang menepati janjinya untuk datang menghadiri pernikahan Shikamaru nanti.

"Jadi, kau sudah mau jadi ayah, eh?" tanya Chouji setelah mereka kembali ke mejanya. Suasana club yang meriah tidak menghalangi reuni kecil mereka ini.

"Mendokusei, ya!" jawabnya malas.

"Tidak kusangka, bisa juga ya si nanas pemalas ini," kata Naruto sambil menyikut perut Shikamaru.

"Hei, Shika, katakan bagaimana caramu merayu Temari yang galak itu sampai dia bisa hamil?" tanya Lee antusias.

Mereka semua menunjukkan raut wajah yang antusias kecuali Sasuke yang tetap datar. Bahkan Sai pun menunjukkan ekspresi tertarik.

"Itu bukan urusan kalian," jawab Shikamaru malas.

"Ayolah Shika, beritahu kami. Hitung-hitung belajar," rayu Naruto.

"Hn, ini pelajaran yang cukup penting," sambung Sai yang membuat mereka semua sweatdrop.

"Kalian ini, jangan memaksa Shikamaru itu urusan pribadinya dan Temari." Shikamaru langsung memandang Chouji dengan tatapan terima kasih. Chouji memang yang paling mengerti dirinya.

"Tapi Shika, aku juga penasaran," lanjut Chouji lagi.

Astaga! Shikamaru tidak percaya jika Chouji juga bergabung dengan kubu Lee untuk meminta penjelasan bagaimana cara dia sampai bisa merayu Temari.

"Aku tidak mau jawab. Mendokusei."

"Oh, ayolah, Shika," paksa mereka lagi.

Aksi bungkam Shikamaru membuat mereka semua menggerutu kecewa. Bosan hanya duduk saja akhirnya Naruto, Kiba, Lee, dan Sai bergabung ke lantai dansa. Tinggalah Shikamaru, Chouji, dan Sasuke yang masih betah duduk.

"Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu, Shika?" Chouji akhirnya bertanya karena sejak tadi melihat wajah tidak tenang Shikamaru.

"Bagaimana aku bisa tenang Chouji. Pikirkanlah jika wanitamu sedang hamil sekarang dan kau berpesta di sini. Aku hanya memikirkan apa dia sudah makan? Apa dia sedang mengidam sesuatu sekarang? Apa dia bisa tidur dengan nyenyak?"

Chouji memandang tak percaya karena jawaban yang didengarnya dari Shikamaru itu. "Wah, kau sudah berubah, ya. Biasanya kau malas memikirkan hal-hal merepotkan seperti itu."

"Kau akan merasakannya jika wanitamu sudah mengandung, Chouji," jawab Sasuke sambil tersenyum misterius.

Chouji mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban Sasuke. Namun tidak dengan Shikamaru, pria jenius ini memandang Sasuke dengan sedikit heran.

.

oOo

.

Sakura sedang duduk memandang bulan di balkon kamarnya. Dia memang suka sekali memandang bulan akhir-akhir ini. Sesekali ia menyesap jasmine tea yang disediakan oleh Ayame. Sikap manis Sasuke akhir-akhir ini padanya selalu membuatnya tersenyum.

Ia berharap sifat Sasuke yang begitu perhatian padanya tidak berubah lagi. Ia menyukai perhatian dari Sasuke, begitu pula dengan anak dalam kandungannya. Sesekali Sakura mengusap perutnya dengan penuh sayang.

"Anda terlihat sangat bahagia, ya, Sakura-sama."

Sakura memandang Tenten yang berdiri di sebelahnya sambil tersenyum. "Hm, suasana hatiku sedang bagus."

"Tenten-san, apa kau pernah menyukai seseorang?"

"Pernah, Sakura-sama," jawab Tenten.

"Siapa? Apa aku mengenalnya." kata Sakura yang penasaran.

"Tidak, Sakura-sama, dia sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu," jawab Tenten lagi.

"Oh. Maafkan aku, Tenten-san." Sakura merasa bersalah pada pengawal pribadinya itu.

"Tidak apa-apa, Sakura-sama."

"Ng, apa Sasuke-kun bilang ia pulang jam berapa?"

"Maaf saya tidak tahu, Sakura-sama."

Sakura menjadi sedikit cemberut mendengar jawaban Tenten. Kembali ditatapnya bulan yang sedang bersinar di langit yang penuh bintang.

"Suasana malam ini indah, ya? Semoga keindahan seperti ini tetap terjaga."

"Ya, Sakura-sama. Saya juga berharap Sasuke-sama dan Sakura-sama tetap bersama seperti ini, kalian terlihat saling mencintai."

Deg! Saling mencintai? Mencintai? Cinta?

Tidak pernah terpikir sedikit pun pada benak Sakura tentang Cinta. Apa Sasuke mencintainya? Apa dia juga mencintai Sasuke? Entahlah semua masih tidak jelas.

Selama ini dia menikmati semua perhatian yang diberikan Sasuke padanya. Ia merasa nyaman hanya dengan keberadaan Sasuke saja. Ia menjadi tidak tenang saat Sasuke jauh darinya. Yang paling penting, Sakura seperti tidak mengenal dirinya lagi sejak dia mengenal Sasuke dan menyetujui perjanjian aneh mereka.

Apa ada cinta di antara kita, Sasuke-kun?

.

oOo

.

Sasuke baru pulang setelah lewat tengah malam. Sahabat-sahabatnya itu menahannya agar tidak pulang karena kemarin dia sudah seenaknya meinggalkan pesta ulang tahun yang sudah mereka dirancang khusus untuknya.

Sasuke memasuki mansionnya dengan nafas memburu, gejolak panas dalam dirinya semakin membuncah. Ada yang aneh dengan dirinya, seingat Sasuke tadi ia tidak banyak minum. Suasana sudah gelap menunjukkan penghuni mansion mewah ini sudah terlelap.

Deru nafasnya semakin cepat dan tubuhnya semakin panas. Dibukanya sebanyak tiga buah kancing kemeja saat berjalan di tangga. Panas dalam tubuhnya benar-benar membuatnya hilang akal. Sedikit lega karena ia berhasil kembali ke kamarnya.

"Ah, datang juga kau, Sasu-koi~" kata Matsuri saat Sasuke sudah menyalakan lampu kamarnya.

Shit! Sasuke merasakan hormonnya mulai bekerja sekarang. Matsuri sedang berada di atas kasurnya dengan pose yang sangat menggoda iman setiap lelaki. Pose setengah berbaring sambil membusungkan dada dengan menumpu pada siku dan salah satu kakinya ditekuk. Apalagi wanita berambut coklat itu mengenakan lingerie berwarna merah transparan yang sangat sexy.

"Kenapa kau bisa masuk ke sini, Matsuri?" mati-matian ditahannya hasrat buas yang sedang berkobar dalam dirinya.

"Kau tidak perlu tahu, Sasuke-kun. Bagaimana minumanmu di pesta Shikamaru? Sepertinya sukses membangkitkan hasrat terpendammu, ya," jawabnya dengan nada sensual yang sangat menggoda.

Akhirnya Sasuke tahu kenapa tubuhnya terasa panas dan nafasnya semakin memburu. Sial! Seharusnya ia tidak meninggalkan minumannya saat menerima telepon tadi.

Sasuke mati-matian berusaha tidak mengikuti gejolak hasratnya. Melihatnya, Matsuri segera beranjak dan mendekati Sasuke. Ia sengaja berjalan perlahan, berjalan dengan gaya eksotis mendekati pemuda pujaan hatinya itu.

Saat posisinya sudah hampir tidak berjarak lagi dengan Sasuke, ia kemudian menyandarkan kepalanya pada dada bidang Sasuke yang menjadi incarannya, jemarinya bergerak menyentuh dada bidang Sasuke yang telah terekspos dengan pola-pola aneh.

"Jangan ditahan, Sasuke, biarkan saja. Aku sudah lama tidak menghabiskan malam panas denganmu. Biarkan malam ini menjadi milik kita seperti malam-malam kita dulu." dengan nada sensual wanita ini semakin merayu Sasuke.

Damn! Tidak tahan lagi Sasuke segera menarik tubuh Matsuri, diciuminya dengan sangat buas perempuan berambut coklat itu.

Setiap jengkal tubuh Matsuri bersorak-sorai saat Sasuke menciumnya dengan ganas. Akhirnya, rencananya akan berjalan dengan sempurna. Ia harus mendapatkan benih Sasuke malam ini, jika ia sudah mengandung anak Sasuke maka tak ada alasan lagi bagi pria itu untuk menolaknya.

Jemari Matsuri bergerak dengan sangat ahli membuka kemeja Sasuke. Sambil berciuman tangannya bergerak professional membelai setiap sisi tubuh bagian atas Sasuke. Sasuke terus menciumnya seperti orang lupa diri..

'Sasuke-kun... Sasuke-kun... Hihihi... Sasuke-kun… Sasuke-kun, ayo kejar aku'

Suara lembut seorang wanita bermata emerald yang sangat indah bergema di dalam kepalanya. Dalam benak Sasuke menari-nari bayangan Sakura yang sedang tersenyum lembut menatapnya. Senyuman itu membuatnya kembali sadar akan keadaannya sekarang.

Dihempaskannya Matsuri sehingga perempuan itu tersungkur di lantai. Matsuri begitu kaget dengan reaksi tiba-tiba Sasuke, ia menatap pria itu tak percaya.

"Sa-Sasuke?"

"PERGI DARI SINI, MATSURI!"

"Sasuke ... kau tidak ..."

"PERGI! ATAU KUBUNUH KAU! SEKARANG!"

Matsuri begitu terkejut melihat pandangan membunuh Sasuke. Pria ini sedang tidak main-main. Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan kamar Sasuke.

Sasuke menghembuskan nafas lega setelah matsuri pergi. Bayangan Sakura menyadarkannya di saat-saat genting. Jika tidak maka ia akan melakukan sesuatu yang bisa disesalinya seumur hidup. Kebiasaanya tidur dengan wanita lain memang sudah dihentikan sejak Sakura kembali masuk dalam hidupnya. Ia sudah bertekad bahwa mulai saat itu hanya Sakuralah satu-satunya wanita dalam hidupnya. Sekarang ia harus menuntaskan hasratnya yang sudah terlanjur naik, ia mulai melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

"Sasuke-kun? Ada apa? Tadi aku mendengar kau berteriak,"

Oh tidak! Mendengar suara Sakura, hasratnya naik sampai ke puncak tertinggi.

"Sasuke-kun?" panggil Sakura penuh tanya.

"Pergilah, Sakura, aku tidak ingin menyerangmu. Aku tidak ingin menyakitimu dan bayi kita."

Saat Sasuke membalikan badan menghadapnya, Sakura sedikit miris melihat keadaan suaminya itu. Sasuke terlihat menahan sakit karena ada sesuatu yang hampir meledak dalam dirinya.

"Pergilah, minumanku disabotase. Hasratku sedang seperti binatang buas," Sasuke kembali membelakangi Sakura. "Aku tidak ingin menyakitimu. Jadi kumohon pergilah!"

Saat mendengar pintu kamarnya tertutup Sasuke kembali lega. Namun, ia merasakan tangan mungil melingkari pinggangnya, nafasnya kembali memburu.

Saat ia mengangkat kepala Sakura sudah berada di hadapannya. Wanita itu terlihat semakin cantik dengan senyum tulus yang terpatri pada wajahnya.

Ditangkupkan kedua tangannya pada wajah Sasuke. "Tsunade-sensei mengatakan kandunganku sangat kuat dan aku percaya kau tidak akan menyakitiku apalagi bayi kita. Bayimu," bisiknya lembut.

"Grrrrh ... kau sudah kusuruh pergi!" Dengan geraman tertahan digendongnya sakura menuju ke tempat tidurnya.

Dalam keadaan normal saja dia bisa terpancing karena Sakura. Apalagi sekarang di mana minumannya disabotase dengan obat perangsang. Ini harus segera dituntaskan!

.

.

.

.

Tbc

AN:

Saya kembali dengan chapter 7… Hohoho… balas review dulu ah. Sekali lagi yang login cek PM ya nanti.

Dinosaurus: Maaf ya update-nya agak telat keasikan nonton MU vs Liverpool sih #ga ada yang nanya woy! #plaaaaaaak.

Guest: jawabannya ada di atas kan? Hehehehe

Ongkitang: makasih ^^

Twist: wuih, makanya Sasu jang sok kejam sama Saku. Disumpahin kaaaaaaaan

Guest: dia sayang kok sama Saku. ^0^

Salsalala; aku juga dukung sasusaku…. Hiaaaah… ni udah update ^^

Sasusaku kira: sasu ayam emang posesif, tabokin dia rame-rame yok #aura membunuh sasu terdeteksi #ampun bang sasu

Popocorncoklat: hehe, maaf kalau kurang panjang yaaaa…. Ni udah update ^0^

Guest: udah update nih ^^

Novri S: eh sasu. Awas ya kalau kamu buat saku merana! #mangenkyou sharingan terdektesi #kabuuuuuuuuur

Ichikuran: ane pecinta yuuki-kaname ^^ #ga penting…. Danzo sialan itu emang bikin bête. Nejisasu emang sengit persaingannya

Nakaharasunako: kok kamu tahu aku lagi main petak umpet ma Kyouhei? Makasih ya masukannya. Ayo kita jambak rambut si ayam #sasu ga ada di sini kan? #celingak celinguk

Guest: waduh saya bisa OD tuh… hahahhha..

My name is rea: semua fanfic adalah karya yang harus kita hargai ^^

Midnight: sasu mah emang labil! Tapi dia sayang kok sama saku ^0^

Beyonce: nih udah update. Akan saya usahakan untuk terus membalar review. Review dari reader kan sangat penting. Hehehehe…

Guest: namanya juga si ayam yang kepedean.. dia udah pede tuh anaknya cowok… hohohoho

Peculiar charm: nantikan saat Neji menyusup ya… hohohoho #sssst diam2 ya, awas sasu tahu.

Bresies: udah updateee ^^

DEVIL'D: padahal kan Hiruma n senjatanya keren2.. ni udah update 6_6

Picces: nantikan ya flashbacknya… ^^

Ss's: sasu kan labil. Hahahhhahhaa

Zygyt: dia emang labil sih. Dasar sasu ayam!

Uharu: nih udah update 6_6

Chibiusa: tenang aja, prioritas utama sasu itu saku. Hohohoho

Sasusakuforever: 2 kutipan itu emang penuh makna… hohohoho

Guest: tunggu flashbacknya yaaaaaaaaaa

Guest: jangan manyun, senyum doong 6_6

Haruno Yuki-chan; ni udah update.. doakan saya selalu on fire buat ngetik fic ini ya ^^

Mikyo: yuhuuu, mereka pernah ketemu. Ni udah lanjut 6_6

Sekali lagi, mind to review? Thank u ^0^