Title : Stay with him
Main Casts :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Genre : Humor, Romance, fluff (maybe ._.)
Rate : T
Length : Chaptered
A/N : Kyaaaa… suasana hati lagi baik nih. ChanBaek makin mesra aja yah, hahahhaha… Pada percaya gak, aku sampe jatuh dari tempat tidur saking hebohnya waktu nonton Law of the jungle ep 4 yang waktu Chanyeol bilang kalo Baekhyun itu adalah member yang paling dekat sama dia. Baekhyun nyiapin chili paste gitu untuk Chanyeol. Anjirrr…. Pinggang sakit nih gara-gara Chanbaek… Buat yang belum liat, lebih baik liat sekarang, pasti heboh deh wkwkkwkwk XD *sokiya. Belum lagi moment2 mereka yang udah lumayan.. hahahaha… ChanBaek is real. ChanBaek fighting! *curcol semua kan jadinya.
.
.
.
.
WARNING :
THIS IS YAOI, BOY X BOY, MALE X MALE, MAN X MAN
CHANBAEK COUPLE, EXO FANFICTION
NO GENDERSWITCH
SHORT STORYLINE, TYPO EVERYWHERE
OUT OF CHARACTER, DRAMA SCENE, BORING, GARING (?)
STRAIGHT FOR SLIGHT (IT'S NOT THE MAIN)
.
.
.
.
Matahari mulai menyingsing saat Chanyeol pulang kembali ke rumahnya. Ekspresi lelah menggurat di wajahnya yang tampan, ditambah kantung matanya yang semakin terlihat jelas. Karena masalahnya yang terlambat kemarin, Chanyeol terpaksa kerja lebih keras, berusaha ke sana ke mari untuk mengembalikan keadaan seperti semula.
Chanyeol membuka pintu rumahnya pelan lalu berjalan dengan pelan pula melewati ruang tamu dan ruang TV. Setelah bekerja semalaman, Chanyeol bermaksud ingin mengistirahatkan mata dan otaknya dengan cara berhibernasi di hari minggu yang menyenangkan ini, namun kakinya berhenti begitu saja saat melihat gundukan besar di sofa ruang TV.
Ia mengangkat sebelah alis lalu mendekati sofa itu. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu menyingkap selimut cokelat yang menutupi sesuatu di atas sofanya.
Di sana, tergeletak seorang anak laki-laki berusia enam belas tahun dengan hanya memakai bokser sepangkal paha. Itu bukan bokser yang biasa dipakai untuk sehari-hari, itu adalah bokser yang biasa dipakai untuk celana dalam. Chanyeol mengamati anak yang ia kenal itu mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, mengerjap dua kali, lalu buru-buru melemparkan selimut cokelat itu ke tempat semula—menutupi tubuh Baekhyun.
Chanyeol terbatuk. Ia buru-buru berjalan ke dapur untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. Setelah merasa ia sudah bisa mengontrol dirinya sendiri, ia kembali ke ruang TV. Ia mendekat, lalu mengarahkan sebelah tangannya untuk mengguncang pundak Baekhyun—tanpa membuka selimutnya tentu saja.
Baekhyun menggeliat. Ia menyingkap selimutnya hingga mengekspos kepala hingga dada. Mata sipitnya mengerjap-erjap terarah pada Chanyeol.
"Pindah ke kamarmu."
Baekhyun mengucek matanya lalu bangkit duduk. Hal itu membuat semakin banyak bagian tubuhnya yang terekspos karena selimutnya turun sampai ke pinggang. "Ajussi sudah pulang?" tanyanya dengan suara serak. Ia menguap sekali lalu benar-benar menyingkirkan selimut cokelat itu dari tubuhnya.
Baekhyun mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot membuat Chanyeol dapat melihat ketiaknya yang bersih. Chanyeol terbatuk tanpa alasan untuk yang kedua kalinya. "Kenapa kau sangat hobi menelanjangi dirimu eoh?" satu tangan Chanyeol menjitak kepala Baekhyun.
Yang dijitak meringis lalu menatap Chanyeol tajam, "TADI MALAM ITU PANAS AJUSSI! DAN JANGAN PUKUL KEPALAKU SEMBARANGAN!" ia mendengus. "MAKANYA PASANG AC DI KAMARKU! KERAN AIR RUSAK, AC TIDAK ADA, APA KAU TIDAK PUNYA KAMAR YANG LAIN EOH?"
Dan Chanyeol menjitaknya lagi. "Jangan banyak menuntut, sudah syukur kau kuizinkan tinggal di sini."
Bibir Baekhyun maju bersenti-senti. "Jadi ajussi tidak ikhlas ya? Arasseo, aku pulang saja ke China." Baekhyun meraih ponselnya di atas meja, "Halo, eomma?"
Piiip
Baekhyun menatap Chanyeol tidak suka. Barusan, Chanyeol merebut ponselnya dan memutus sambungan. "Apa kau ini bisanya hanya mengadu pada eommamu?"
Baekhyun memicingkan matanya ke arah Chanyeol. Semakin ke mari, semuanya terlihat makin mencurigakan. Kenapa Chanyeol selalu berusaha menghalangi Baekhyun mengadu pada ibunya? Ia mendekati Chanyeol, selangkah demi selangkah dengan mata tetap menyipit segaris. Chanyeol mundur, dan Baekhyun tetap maju, "Ajussi, kau menyembunyikan sesuatu kan? Kenapa kau selalu menghalangiku mengadu pada eomma?" Chanyeol mengernyitkan dahi. "Apa mungkin… ajussi ini semacam kaki tangan ibu yang dibayar untuk menjagaku selama di Korea?"
Dan Chanyeol pun menampakkan wajah mengejek dengan dengusan keras. "Kau gila?! Kenapa aku bisa jadi kaki tangan ibumu sementara aku sendiri punya perusahaan tiga terbesar di Korea?"
"Lalu kenapa ajussi tidak mengizinkanku mengadu pada eomma? Apa mungkin ajussi ini hyungku yang selama ini hilang?"
Chanyeol mendecih, ekspresi jengah kian terlihat di wajahnya yang letih, "Apa menurutmu kita mirip? Aku tinggi, tampan, mata bulat, suara berkarisma, sedangkan kau? Pendek, jelek, sipit, suara cempreng, ckckckckckck…" Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya.
Baekhyun merapatkan gigi atas dan bawahnya menahan emosi. Kemudian ia menghembuskan nafas. Ia melirik Chanyeol tajam, "Aku tidak jelek ajussi!"
"Lalu cantik?"
Baekhyun menarik nafas lagi kemudian menghembuskannya kasar. "Aku tidak cantik!"
"Kalau tidak cantik berarti jelek. Untukmu hanya ada dua pilihan itu. Kalau tidak mau cantik, yasudah, jelek juga cocok." Chanyeol berjalan menjauhi Baekhyun yang wajahnya sudah memerah seperti gunung berapi siap meletus.
"Kau sudah sarapan?" tanya Chanyeol dari arah dapur.
"AKU BARU SAJA BANGUN AJUSSI! BAGAIMANA MUNGKIN AKU SUDAH SARAPAN!"
Baekhyun berjalan ke dapur. Di sana Chanyeol sedang mengerjakan sesuatu dengan bahan makanan. Baekhyun menghampiri, berdiri di samping Chanyeol yang masih lengkap dengan setelan jasnya. "Apa ajussi sempat tidur tadi malam?" tanya Baekhyun seolah-olah bukan dia yang tadi meneriaki Chanyeol.
"Aku tidak tidur sama sekali, makanya cepat bantu aku membuat ini agar setelahnya aku bisa istirahat."
Baekhyun mendongak melihat raut wajah Chanyeol. Ada gembungan di bawah matanya dengan warna agak gelap. "Kalau begitu apa yang bisa kulakukan?"
Pandangan mereka bertemu saat Chanyeol menoleh ke samping. "Siapkan saja peralatan makannya."
"Arasseo." Tak seperti Baekhyun yang biasanya selalu membantah, kali ini ia bergegas melenggang ke lemari piring untuk mengambil peralatan makan yang mereka perlukan. Baekhyun juga bukan orang yang bisa setega itu membiarkan orang lain yang terlihat benar-benar lelah bekerja sendirian sementara dia hanya duduk manis menerima hasil.
Dulu dia membantah karena Chanyeol terlihat baik-baik saja.
Tidak ada kantong berwarna gelap itu di bawah matanya.
Chanyeol menoleh ke belakang, melihati Baekhyun yang sedang menata piring di meja. Tapi kenyataan tentang Baekhyun yang hanya berbalut bokser super pendek mau tak mau membuat satu sudut bibirnya terangkat. Ia mendekati Baekhyun lalu menyampirkan jasnya di tubuh telanjang itu. "Jangan menelanjangi dirimu seperti ini bodoh!"
Baekhyun melihat ke belakang, bibirnya cemberut mendengar kalimat Chanyeol yang tidak ada manis-manisnya sama sekali. Namun ia tetap memaki jas itu karena sesungguhnya pagi di musim panas itu tetap dingin kalau tidak memakai pakaian.
Baekhyun menghampiri Chanyeol yang sedang asyik mengaduk sup. Peralatan makan sudah ia tata di meja, jadi sekarang ia hanya bisa menatapi pekerjaan Chanyeol.
Chanyeol memasukkan daging sapi ke dalam panci sambil berkata, "Daripada kau berdiri seperti orang bodoh begitu, lebih baik kau mandi dulu."
"Tapi aku sudah lapar, aku mau makan dulu."
"Tapi ini masih lama. Mandi saja dulu."
Baekhyun cemberut lalu berbalik. Walau kenyataannya perut kecilnya itu sudah berdengung demo minta diisi, ia tetap menuruti Chanyeol untuk mandi saja terlebih dahulu. Lagipula ini salahnya. Siapa suruh ia tidak makan malam? Bahkan Chanyeol sudah membelikannya banyak makanan.
Tak berapa lama setelah Baekhyun pergi, ponsel Chanyeol berdering. Ia terpaksa berhenti mengaduk supnya untuk mengangkat telepon. "Halo?"
"Halo? Park Chanyeol? Ya! Bagaimana keberangkatanmu ke Jeju?" tanya sebuah suara dari seberang telepon.
"Apa kau sedang menyuruhku?"
Terdengar helaan nafas panjang. "Bukan begitu. Aih.. kau ini kan CEO di sini, tentu saja kau yang harus pergi."
"Kau saja."
Kali ini terdengar suara gerutuan. "Kita berdua Park Chanyeol. Aku sekretarismu. Jika ada perjalanan bisnis, kau dan aku wajib datang bersama, masih tidak mengerti juga?"
"Suruh Minseok saja Kim Jongin. Aku ini atasanmu, jangan membantah."
Terdengar helaan nafas dari seberang telepon sementara Chanyeol menjepit ponsel di antara bahu dan telinga ketika ia menyicipi sup yang dibuatnya. "Kau sudah selesai kan? Kalau begitu kututup teleponnya ya. Bekerja yang giat, fighting~"
Dan chanyeol menutup teleponnya tanpa mempedulikan Jongin yang sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu.
Ia menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana kemudian bergegas memindahkan sup yang dibuatnya ke atas meja. Ia duduk di kursinya yang biasa ia tempati lalu memulai sarapannya.
Belum sesendok pun melewati kerongkongan Chanyeol, dapur sudah berisik saat Baekhyun datang. "Wah, ajussi ini licik sekali, kenapa tidak menungguku eoh?" kaki kursi yang ditarik Baekhyun berderit bergesekan dengan lantai. "Wah, harum sekali. Aku lapar~" katanya sedetik setelah pantatnya bertemu kursi.
"Kenapa kau tidak makan makanan yang kubawa tadi malam?" Baekhyun menaikkan satu alisnya. "Aku melihat semua makanan itu masih utuh di kulkas." Baekhyun mengedikkan bahu. Tangannya bergerak menyendok kuah sup, "Aku tidak suka makan sendirian. Apalagi makanannya banyak, aku kehilangan mood."
"Makan butuh mood? Kalau begitu lebih baik kau tidak mood setiap hari agar aku bisa menghemat makanan." Baekhyun tidak mempedulikan Chanyeol. Ia malah sibuk menyesapi kuah sup yang terasa begitu sedap setelah semalaman ia menahan lapar. "Woah, ini enak sekali." Chanyeol menatapi Baekhyun sambil mendecih kecil.
Suasana tenang sejenak. Yang terdengar hanya suara sesapan Baekhyun pada supnya hingga tiba-tiba Baekhyun merasa risih sendiri mendengar suara makannya yang berisik. Ia berpikir kenapa Chanyeol bisa makan tanpa membuat suara sementara dia tidak bisa. Ia mendongak, menatap Chanyeol yang sedang mengunyah makanannya tenang. Tadinya ia ingin menanyakan sesuatu tentang gaya makan Chanyeol, tapi tidak jadi saat ia melihat kantung mata berwarna gelap di bawah mata bulat Chanyeol.
"Ajussi?"
Chanyeol mendongak dan Baekhyun menyadari mata Chanyeol sedikit cekung. "Apa?"
"Aku yang cuci piring ya?"
"Memang tugasmu kan?"
Seharusnya Baekhyun mencibir, tapi ia malah mengangguk patuh. Ia meneguk air putih lalu segera bangkit membawa peralatan makannya ke arah bak cuci. "Kalau ajussi sudah selesai, tolong antarkan peralatan makan ajussi ya."
Chanyeol berhenti mengunyah makanannya lalu menoleh ke belakang. Ia memiringkan kepala bingung dengan alis bertaut. Ia kemudian meneguk air putih lalu membawa peralatan makannya menyusul Baekhyun.
"Ada apa denganmu eoh? Kau sakit?" tanya Chanyeol setelah meletakkan peralatan makannya di dekat Baekhyun yang sedang sibuk menggosok spons kuning berbusa pada mangkuk nasi. "Tumben bicaramu halus begitu, biasanya kau akan berteriak seperti wanita."
Baekhyun melirik Chanyeol di sampingnya, "Ajussi, kau tidak tau ya aku ini orangnya baik hati. Ajussi terlihat seperti monster dengan kantung mata begitu, makanya lebih baik ajussi istirahat saja biar aku yang menyuci piring."
"Ah, kebetulan sekali. Kenapa tidak sekalian kau bersihkan rumah ini? Maidku bilang dia tidak bisa bekerja hari ini karena anaknya di Busan mendadak sakit parah."
Baekhyun tersenyum sinis, "Baik hati pun bukan maksudnya aku mau menggantikan tugas pembantu ajussi." Ia sengaja menepuk kedua tangannya di bawah kucuran air keran hingga banyak yang terciprat ke arah Chanyeol.
Chanyeol mundur selangkah walau kemejanya sudah terlanjur sedikit basah. Ia menggerutu pelan, mengutuk Baekhyun yang sekarang sedak mematikan keran dengan ekspresi tidak bersalah. "Ajussi mau tidur?"
"Tentu saja, setelah semalaman tidak tidur, sekarang mataku benar-benar butuh untuk tertutup."
"Kalau begitu aku ikut."
Chanyeol menautkan alisnya.
"Kajja." Baekhyun menarik lengan Chanyeol keluar dari dapur, kemudian naik ke lantai dua. Baekhyun menyeret Chanyeol masuk ke kamar pertama lalu mengunci pintunya dari dalam. Seolah-olah kamar itu adalah miliknya sendiri, ia menghamburkan punggungnya ke kasur. Chanyeol hanya berdiri membelakangi pintu, menatap Baekhyun malas.
"Apa yang kau lakukan? Keluar dari kamarku."
Baekhyun menumpukan kepalanya pada telapak tangan. "Jangan banyak bicara ajussi. Ganti saja pakaianmu lalu naik ke sini, tidur bersamaku."
"Mwo?!"
"Asih, orang tua ini tuli sekali." Gumam Baekhyun sebelum mengambil nafas panjang, "GANTI BAJUMU LALU TIDUR BERSAMAKU AJUSSI!"
Chanyeol memejamkan matanya rapat-rapat menahan dengungan di telinga. Setelahnya ia membuka mata lalu menatap Baekhyun tajam, "KENAPA KAU BERTERIAK?!"
Baekhyun bangkit dari tidurnya. Ia berdiri di belakang Chanyeol lalu mendorong punggung namja itu hingga terpaksa bergerak maju ke arah lemari besar di sudut kamar. "Ganti baju saja susahnya seperti ingin menghamili anak laki-laki." Rutuk Baekhyun sambil membuka pintu lemari Chanyeol dan mencari pakaian yang pas.
Chanyeol hanya bisa terbengong-bengong menerima potongan pakaian yang disodorkan Baekhyun padanya. Lelaki yang lebih pendek menautkan alis melihat ekspresi Chanyeol. "Tunggu apa lagi, ganti pakaianmu pak tua!"
Chanyeol tersadar mendengar kata 'pak tua'. Ia memelototi Baekhyun dengan mata cekungnya lalu menjitak ubun-ubun tersangka. "Katakan pak tua sekali lagi, kau tidak boleh makan."
"Pak tua!"
"Tidak ada makan siang!"
"Pak tua!"
"Tidak ada makan malam!"
"Pak tua!"
"Tidak ada sarapan besok!"
"Arasseo. Aku akan pulang ke China kalau begitu."
Tanpa pikir panjang Chanyeol segera menahan pergelangan tangan Baekhyun yang bersiap untuk berjalan. "Dasar! Panggil harabeoji saja biar kau puas pendek!"
"Arasseo harabeoji."
Dan Chanyeol hanya bisa menahan semuanya dengan cara menghembuskan nafas sepanjang mungkin.
"Ganti pakaianmu harabeoji!"
"Kau akan tetap berdiri di situ saat aku berganti pakaian?"
"Tentu saja tidak. Bodoh sekali aku mau berdiri hanya untuk memandangi kakek-kakek ganti baju." Baekhyun berjalan ke sudut lain lalu menghempaskan punggungnya ke ranjang. "Tubuh kakek-kakek itu sudah berkerut, tidak enak dilihat."
Dan Chanyeol hanya bisa menggertakkan giginya menahan emosi.
.
.
.
.
Baekhyun tidur menyamping dengan telapak tangan sebagai tumpuan. Ia memandangi Chanyeol yang sedang berbaring di sampingnya dengan lengan menutupi dahi. "Ajussi?" panggilnya pelan.
Terdengar gumaman dari Chanyeol.
"Apa ajussi merasa wajahku terlihat kusam? Bahkan ada jerawat di sini." Baekhyun mengelus tonjolan kecil di dahinya. "Ajussi?" panggil Baekhyun lagi saat ia tak mendapat respon dari Chanyeol.
Chanyeol menurunkan lengannya lalu menoleh ke samping dengan mata mulai memerah. "Di mana?" tanyanya dengan suara serak. Mungkin Chanyeol baru saja sampai di alam mimpi saat Baekhyun tiba-tiba memanggil dan mengajaknya bicara.
"Di sini." Baekhyun masih mengelus tonjolan di dahinya.
Chanyeol mengangkat tangannya, menyentuh dahi Baekhyun. "Kau tidak memakai apa pun di wajahmu?"
Baekhyun menggeleng. "Memangnya aku perempuan? Maksud ajussi aku harus memakai cream? Bedak? Aigoo.."
Chanyeol mendecak. "Kau pikir wajah laki-laki tidak bisa bermasalah?" kemudian ia bangkit diikuti oleh Baekhyun. "Kau tau, kau ini sedang dalam masa pertumbuhan, kau masih remaja, pasti kau akan lebih mudah mendapatkan masalah di wajahmu apalagi di musim panas seperti ini. Kau seharusnya memakai cream wajah."
Baekhyun mendengus. "Kenapa laki-laki harus pakai yang seperti itu?"
"Kau ini sok laki-laki sekali, wajah cantik begitu."
Baekhyun cemberut namun Chanyeol malah menariknya turun dari tempat tidur. "Kita mau kemana ajussi?" tanpa menjawab, Chanyeol menarik Baekhyun masuk ke kamar mandi.
Mereka berdua berdiri di depan kaca besar. Chanyeol mengambil sebuah botol cream berwarna biru tua lalu membuka tutupnya sementara Baekhyun yang mulai sadar apa yang akan dilakukan Chanyeol langsung membulatkan mata sipitnya. "Ajussi ingin memakaikan itu untukku?" Chanyeol menutup kembali botol itu lalu meletakkannya membuat alis Baekhyun bertaut dan semakin bertaut lagi saat ia melihat Chanyeol mengambil sebuah kuncir kecil lalu menggunakannya untuk mengikat poni Baekhyun.
Chanyeol kembali mengambil botol yang tadi lalu menaruh sedikit cream di telapak tangannya. "Kau tau, ini sabun cair pencuci muka khusus laki-laki." Ia mencolek cream di telapak tangannya lalu mengoleskannya di pipi kiri Baekhyun. "Cream ini akan membantumu menjaga kesehatan kulit wajah." Lalu Chanyeol melakukan hal yang sama dengan pipi kanan, dahi, dagu, dan ujung hidung Baekhyun. "Jadi jangan kira hanya perempuan yang membutuhkan hal-hal seperti ini." Bibir Baekhyun maju beberapa senti namun ia diam saja saat Chanyeol mulai mengusap bagian wajahnya.
Kemudian Chanyeol berdiri di belakang Baekhyun. Ia mengarahkan tangannya ke depan, mengangkup punggung tangan Baekhyun hingga posisinya seperti memeluk dari belakang. Chanyeol menuntun Baekhyun melangkah mendekati wastafel lalu menghidupkan kerannya. Kedua tangannya ia arahkan untuk menuntun tangan Baekhyun menampung air yang mengucur dari keran. "Kau harus membasuh wajahmu." Katanya lalu kembali menuntun tangan Baekhyun untuk mendekati wajahnya sementara tubuh Baekhyun ia tundukkan. Chanyeol mengusap punggung tangan Baekhyun dimana hal itu otomatis membuat telapak tangan Baekhyun mengusap wajahnya sendiri. Chanyeol mengulangi aksi yang sama sampai permukaan kulit wajah Baekhyun benar-benar bersih.
Chanyeol mengambil handuk lalu menyodorkannya pada Baekhyun. Baekhyun menerima lalu segera mengusapkan permukaan handuk yang lembut itu ke wajahnya yang basah oleh air. Setelahnya Baekhyun membuka mata lalu menatap ke arah cermin, memperhatikan wajahnya yang terlihat sedikit lebih cerah. "Woah~"
"Kau harus memakainya secara rutin." Kata Chanyeol sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kalau begitu boleh ini untukku?" Baekhyun menatap Chanyeol penuh harap sambil memeluk botol cream milik Chanyeol.
Chanyeol merampas botol itu membuat binaran di wajah Baekhyun meredup. "Tidak, ini milikku. Kalau kau mau, beli sendiri." Baekhyun merengut. Chanyeol berdeham, "Mungkin nanti sore kita bisa membeli satu untukmu." Ia memandangi langit-langit kamar mandinya lalu berdeham lagi, "Kalau aku tidak sibuk."
Senyum di wajah Baekhyun kembali. "Aku akan menagih janjimu nanti sore ajussi." Ia terkekeh. "Baiklah, kalau begitu ayo kita tidur." Baekhyun menarik tangan Chanyeol keluar dari kamar mandi lalu kembali ke kasur. Baekhyun membuang punggungnya lalu menarik Chanyeol untuk ikut bergabung. Baekhyun tidur menyamping, "Ajussi?"
Chanyeol menoleh.
"Ada sesuatu yang selalu dilakukan ibu untuk membuatku tidur lebih cepat. Ajussi mau mencobanya?"
Chanyeol mengerutkan dahi. Ia juga tidak paham kenapa keheningan beberapa detik yang lalu tiba-tiba terpecahkan dengan pembahasan soal ibunya.
"Tutup matamu ajussi."
"Untuk apa?"
"Tutup saja."
Chanyeol memandang Baekhyun curiga, namun tak lama ia menutup kelopak matanya juga seperti permintaan Baekhyun.
Baekhyun mendekatkan tubuhnya lalu mengarahkan telunjuk kanannya untuk menyentuh bulu mata Chanyeol. "Setiap ibu melakukan ini, aku pasti tertidur hanya dalam waktu satu menit." Ucap Baekhyun dengan nafasnya yang menerpa kulit wajah Chanyeol. Jari telunjuknya mengelus bulu mata Chanyeol dari kanan ke kiri dengan lembut. "Ajussi mengantuk kan?"
Chanyeol tidak menjawab. Ia tetap menutup mata, entah sudah tidur atau tidak sanggup membuka matanya. "Sudah tidur ya?" Baekhyun kembali bertanya, namun sama saja, tidak ada jawaban. "Aish, padahal belum satu menit." Gerutu Baekhyun lalu melepaskan tangannya. Ia mendesau lalu mencibir pada wajah tidur Chanyeol. "Oke, tidur saja sana! Dasar tukang tidur! Siapa suruh begadang semalaman?!" dengan kesal Baekhyun membalik tubuhnya sehingga membelakangi Chanyeol. Ia juga sejujurnya harus tidur mengingat tadi malam ia baru tidur saat dini hari menjelang.
Chanyeol membuka matanya perlahan, menatap sayu pada punggung Baekhyun. Jakunnya naik turun sekali pertanda ia menelan ludah.
.
.
.
.
"OH SEHUN!"
Sehun yang sedang berjalan di trotoar berhenti lalu menoleh ke arah suara yang berasal dari belakang. Matanya membelalak melihat sesosok laki-laki yang begitu ia kenali sedang melambai sambil berlari ke arahnya. Sehun menelan ludahnya kasar. Ia ingin mengambil langkah seribu untuk kabur dari sana, tapi lututnya mendadak terasa seperti jelly yang lembek dan tak dapat digerakkan.
Laki-laki itu kini berdiri tepat di depannya dan Sehun masih dalam dunia shock nya. Lelaki itu melambai di depan wajah Sehun, "Sehun?" ia memiringkan kepalanya, "Oh sehun?"
Sehun tersadar lalu segera mengggelengkan kepalanya. "Lu-Lu-Lu.." Sehun merutuki gagapnya yang mucul begitu saja tanpa diundang. Lelaki di depannya mengerutkan dahi bingung. "Lu-Luhan su-sunbae.." dua kata itu keluar juga. Sehun kembali meneguk ludahnya.
Luhan tersenyum lebar. "Kukira kau tidak mengenaliku."
"Bukan begitu sunbae, aigo, maafkan aku sunbae." Sehun menunduk berkali-kali membuat Luhan terkekeh.
"Kau sedang apa di sini?"
"Aku… Aku… Pulang. Ya, aku ingin pulang, hehe."
Luhan mengangguk, "bersama saja bagaimana?"
"E-eh? N-ne sunbae."
Luhan tersenyum lalu mulai berjalan. Sehun mengikuti di sampingnya. Mereka berdua berjalan beriringan dengan Luhan yang selalu membuka topik pembicaraan terlebih dahulu.
Mereka terus berbincang saat ada segerombolan orang-orang yang berlari ke arah mereka. Baik Sehun maupun Luhan tidak terlalu peduli karena mereka asyik dengan obrolan kecil-kecilan mereka. Segerombolan itu semakin dekat, berlari membelah jalan di antara Sehun dan Luhan hingga mereka bergeser ke samping dengan kasar.
Sehun masih untung dengan posisinya, tapi tidak dengan Luhan. Ia sukes terjatuh ke selokan sedalam 70 centimeter di sampingnya dengan tubuh sampingnya yang mendarat terlebih dahulu.
Sehun membulatkan matanya sementara Luhan merintih sakit. Celana bagian sampingnya kotor, sedangkan telapak tangan serta pinggangnya sakit.
Sehun mendekati Luhan. "Kau tidak apa sunbae?"
Rintihan Luhan terdengar lagi. Wajahnya terlihat menahan sakit. "Kemarikan tanganmu sunbae!" Sehun mengulurkan tangan kanannya.
Luhan mengangkat tangan kanannya ke udara lalu menggapai tangan Sehun yang terulur. Ia bangkit perlahan walau pinggangnya yang terbentur dengan dasar selokan terasa sangat perih. Ia bertumpu pada telapak tangan Sehun lalu menaikkan salah satu kakinya.
"Aish, brengsek-brengsek itu!" Sehun menggeram sambil memandang tajam segerombolan orang yang menabrak mereka tadi yang sudah jauh di ujung jalan sana. Ia kembali beralih pada Luhan. "Kau baik-baik saja sunbae? Apa ada yang sakit?"
"Hanya pinggangku saja. Dan celanaku kotor."
Sehun menatap turun ke celana bagian samping Luhan yang terlihat berlumuran lumpur khas selokan.
"Sunbae harus ganti baju. Ayo ke rumah Baekhyun, rumahnya tidak jauh dari sini."
.
.
.
.
Baekhyun menggeliat dalam tidurnya mendengar suara bel yang tak henti-hentinya berbunyi. Letak kamar Chanyeol yang ada di lantai dua sama sekali tidak membantunya untuk meredam suara bel itu.
"Buka pintunya Baekhyun!" suara serak terdengar dari sebelahnya.
Baekhyun mengerang pertanda tidak mau lalu menarik selimutnya sampai ujung kepala.
"Buka pintunya Baekhyun!"
Baekhyun merengut kesal lalu bangkit dengan kasar. Selimutnya disentakkan lalu kakinya berpijak di lantai dengan keras. Namun itu sama sekali tidak mengganggu Chanyeol yang masih terkapar di atas kasur.
Baekhyun menoleh pada jam dinding.
Pukul 11 siang. Siapa yang bertamu jam segini?
Ia membuka pintu malas lalu menuruni tangga dengan mata setengah tertutup. "Ya, tunggu sebentar!" teriak Baekhyun pada bel yang terus-terus dibunyikan oleh seseorang di luar sana.
Baekhyun meraih handle pintu lalu menariknya ke dalam. Ia menguap lalu membuka matanya perlahan.
"SEHUN?! LUHAN SUNBAE?!"
TBC
Give me review please^^
