"Sakura. Bangun."

"Huh?"

Sakura memiringkan tubuhnya dan melihat Ino berlutut di sebelahnya, mengguncang-guncangkan dirinya agar terbangun dari tidur.

"Ayo kita pergi ke kamar anak cowok."

"…hah? Untuk apa?"

Ino menyeringai jahil di balik sedikit cahaya bulan, "Kau lupa? Kita, kan, mau berkumpul satu kelas untuk 8 cerita hantu."

UNCOMMON CASE OF UZUMAKI NARUTO

Disclaimer: Bukan milik saya, milik mutlak Masashi Kishimoto

Warning: OOC, OC, AU, typos, unscary scene ._.

Chapter 7: 8 Midnight Ghosts Stories

Sakura menghela napas mendengar ucapan sahabatnya. Ia baru saja ingat bahwa sudah menjadi tradisi bagi tiap kelas untuk mengadakan adu nyali dan mengadakan 8 cerita hantu. Dan menurut Sakura itu menjadi hal yang aneh untuknya. Kenapa tradisi sekolahnya selalu berkaitan dengan hantu-hantu?

Ketika Sakura dan Ino sampai di ruang utama penginapan, mereka melihat anak-anak dari kelas lain sudah berkumpul di ruangan masing-masing. Teman-teman sekelasnya sudah duduk di kamar anak cowok, membentuk lingkaran, dengan beberapa perwakilan membawa sebuah lilin yang menyala-nyala dalam kegelapan.

"Kurasa tradisi kita ini, kita adaptasi dari 99 cerita hantu," bisik Ino pada Sakura. "Aku pernah mendengar , kalau kita berhasil menceritakan 99 cerita hantu dan mematikan 99 lilin dengan mematikan sebuah lilin tiap kali sebuah cerita hantu diceritakan, akan muncul 1 lilin yang masih menyala."

Sakura merasa tertarik mendengarnya, "Oh, ya? Lalu?"

"Dan kemudian seorang hantu akan datang dan menceritakan cerita hantu ke 100."

"Ssh!" seorang siswi menyuruh keduanya diam, membuat Ino menjulurkan lidahnya dengan kesal pada siswi itu.

Kiba menjadi yang pertama bercerita. Ia berdeham pelan sebelum memulai ceritanya, "Sebenarnya ini merupakan cerita yang pernah kualami saat aku sedang menginap di sebuah hotel," sebuah lilin didekatkan ke wajahnya, menimbulkan bayang-bayang mengerikan. Semua anak-anak langsung berubah hening mendengarkan ceritanya.

"Saat itu…"

Saat itu aku bersama oneesanku harus menginap di sebuah hotel karena kaasan harus menghadiri sebuah rapat besar di luar kota saat kami liburan di kota yang sama. Hotel yang kami inap tidak memiliki kamar kosong sama sekali, tapi karena saat itu sudah terlalu malam untuk mencari hotel lain, akhirnya manajer hotel merasa kasihan pada kami. Ia memberikan kami sebuah kamar yang terletak bersebelahan dengan sebuah kamar yang pintunya ditempeli dengan banyak sekali kayu dan rantai yang diborgol.

Awalnya manajer hotel sedikit ragu memberikan kami kunci kamar, tapi karena sepertinya ia sudah sangat merasa kasihan melihat kami yang kelelahan mencari hotel hingga malam-malam, ia memberikan oneesan kunci kamar dan berkata, "Kalau kalian mendengar suara aneh atau semacamnya dari kamar sebelah, jangan pernah mencoba untuk melihat ke dalam lubang kunci!"

Aku dan neesan terkekeh sedikit mendengar ucapan manajer hotel dan menganggapnya hanya menakut-nakuti kami, tapi di saat yang sama aku merasa sedikit terpengaruh oleh ceritanya. Meski begitu aku memaksakan diriku untuk tinggal di kamar hotel yang kami dapatkan.

Dan benar saja, begitu kami sampai di sana, aku mendengar suara gesekan, seperti kuku yang dipaksakan untuk mencakar-cakar dinding. Oneesan juga mendengarnya dan hanya berpendapat bahwa ada kucing di kamar sebelah. Awalnya aku berusaha mempercayainya, lalu mulai terdengar suara seperti wanita menjerit dari kamar sebelah.

Aku dan neesan sama-sama tidak bisa tidur, harus mendengarkan suara cakaran dan jeritan wanita di saat yang bersamaan. Suara wanita yang menjerit itu menyerupai suara wanita yang merasakan sakit amat sangat, sampai-sampai harus mencakar-cakar dinding. Aku langsung menjauh dari dinding begitu mendengar suara menyeramkan itu kembali.

Dan sialnya, tiap kali aku pergi meninggalkan kamar, aku harus melewati kamar itu. Aku harus menutup telingaku setiap kali aku mendengar suara jeritan wanita dari sana disertai suara cakaran. Dan entah kenapa, aku merasa begitu penasaran untuk melihat ke lubang kunci pintu, memperhatikan apa yang ada di dalam sana—meski begitu kuatnya keinginanku untuk menahan keingintahuanku.

Akhirnya aku memberanikan diriku melihat ke lubang kunci. Awalnya aku melihat seorang wanita berpakaian putih-putih duduk membelakangiku, menghalangiku melihat wajahnya. Aku langsung menjauh dari lubang kunci ketika mendengar suara langkah kaki mendekatiku, takut kalau manajer hotel menangkapku melihat ke lubang kunci yang sudah dilarangnya.

Di malam terakhir kami menginap di hotel itu, suara tangisan dan cakaran yang kami dengar pada awalnya berubah menjadi suara tawa disertai suara ketukan halus. Hal itu tentu saja membuatku dan oneesan tetap tidak dapat tidur dengan tenang. Paginya, aku menunggui oneesan membereskan barang-barangnya sebelum kami meninggalkan. Rasa penasaran sekali lagi membuatku berniat melihat ke dalam lubang kunci. Aku penasaran apa yang dilakukan wanita itu di dalam sana sehingga ia harus dikurung di sana. Dari mana ia mendapatkan makanan kalau dikurung seperti itu?

Aku mendekatkan mataku ke lubang kunci, dan melihat sesuatu yang berwarna merah menutupi pandanganku. Pasti manajer hotel sudah menutup lubang kuncinya dengan sesuatu setelah aku ketahuan mengintip ke dalam sana. Aku akhirnya pergi ke meja resepsionis untuk melakukan check out, seperti yang diminta oneesan. Aku memberanikan diriku untuk bertanya pada petugas resepsionis hotel, "…kenapa kalian menutup lubang kuncinya?"

Petugas resepsionis dan manajer hotel yang kebetulan sedang bertugas di meja resepsionis, terkesiap mendengar ucapanku.

"Kau pasti melihat ke lubang kunci di sana, kan?" tanya manajer hotel. Ia menghela napas dan berbisik ke telingaku, "Sebenarnya, alasan kami mengunci kamar itu rapat-rapat dan melarang orang melihat atau masuk ke dalamnya karena ada hantu yang tinggal di dalamnya. Hantu itu merupakan anak pemilik hotel sebelumnya dan biasanya selalu muncul kalau ada orang yang menginap di kamar sebelahnya atau memasuki kamar itu. Ciri-ciri yang aneh dari hantu itu adalah…"

Dan hal selanjutnya yang dikatakan oleh manajer hotel membuat kakiku langsung lemas.

"Ia tidak memiliki pupil dan hanya memiliki bola mata yang berwarna merah."

Sakura mendengar anak-anak cewek di sekelilingnya termasuk dirinya berteriak ketakutan.

"Kau, sih, Kiba. Kenapa malah melihat ke dalam sana?" tanya seorang siswa sambil menggeleng heran, Shino—teman dekat Kiba.

"Jangan menyalahkanku! Aku, 'kan hanya merasa penasaran!"

"Sialan, mengerikan sekali. Aku tidak mengira kau akan melihat langsung ke mata hantu itu… Untung saja kau tidak mati karena melihatnya."

"Jangan membuatku ketakutan lagi, baka!" Kiba menendang Shino.

Sebuah lilin dimatikan. Yang bercerita berikutnya adalah Ino. Ia menceritakan soal hantu di tangga yang pernah ia alami saat ingin mencari informasi soal 7 misteri sepulang sekolah. Hasilnya anak-anak cewek kembali menjerit ketakutan, sementara anak-anak cowok hanya tertawa lemas. Cerita hantu berikutnya dibawakan oleh Shikamaru, masih menyangkut 7 misteri sepulang sekolah mengenai hantu di gym.

"Gym sungguhan berhantu?" tanya Chouji polos.

"Hn. Memang," Shikamaru menggaruk tengkuknya.

Dua lilin dipadamkan bersama punya Kiba, sekarang tersisa 5 batang lilin yang masih menyala.

"Kalau begitu, selanjutnya giliranku yang bercerita," kata Shino sambil menaikkan risleting jaketnya. "Ceritaku cukup singkat, sih, tapi kurasa cukup menyeramkan. Ini pengalamanku ketika SMP dulu."

"Iya, cepatlah cerita," seru Shino sedikit kesal.

Sakura melemparkan pandangannya ke segala arah, berusaha mencari-cari Naruto. Ia tidak bisa melihat Naruto di manapun. Ia langsung berhenti mencari-cari cowok blonde itu ketika Shino mulai bercerita.

"Aku pindah ke SMP baru…"

Aku pindah ke SMP baru di dekat pusat kota karena rumah kami pindah, sehingga sekolah lamaku lebih jauh dari rumahku yang baru. SMP lamaku merupakan SMP biasa-biasa saja, jadi aku tidak pernah berpikir bahwa ada sesuatu yang aneh dengan sekolahku.

Hari pertama aku bersekolah, aku duduk di sebelah anak laki-laki aneh. Ia hampir tak pernah berbicara sepanjang jam pelajaran berlangsung maupun bermain dengan anak-anak. Bahkan ketika guru mengabsen, aku tak pernah melihatnya mengangkat tangannya. Anak-anak yang lain mengajakku bermain, sementara anak itu tetap di tempat duduknya. Bahkan anak-anak lain seperti tidak memperhatikan dirinya.

Akhirnya aku memberanikan diri ketika di ruang kelas pada jam istirahat kedua mulai sepi, untuk mengajaknya mengobrol sedikit—kebetulan aku juga sedikit introvert sepertinya, mungkin.

"Namaku Aburame Shino. Kau siapa?"

Aku mengulurkan tangan tapi anak laki-laki itu tidak bergerak sedikit pun. Kesal karena dia tidak memperhatikanku sedikit pun, akhirnya aku kembali ke tempat dudukku. Lalu sepulang sekolah, aku harus kembali ke kelas karena aku meninggalkan buku catatan matematika yang harus kupelajari untuk ulangan besok. Anehnya, aku masih melihat anak aneh itu duduk di tempat yang sama. Tidak bergerak sedikit pun. Aku mengambil catatanku dan menoleh sedikit ke arahnya.

"Kau belum pulang?"

Ia tidak menjawab. Matanya yang kosong terpaku ke depan, wajahnya pucat dan rambutnya yang acak-acakan membuat kesan seram. Ia tidak bergeming ketika aku melihat ke wajahnya lebih dekat. Dan anehnya aku tak merasakan desahan napasnya.

Sedikit ketakutan, aku langsung berjalan keluar kelas. Sekilas aku melihat ke arahnya dan menemukan sesuatu yang mengerikan. Aku tidak dapat melihat bagian bawah kakinya. Yang terlihat hanyalah bagian tubuh atasnya. Begitu aku memalingkan wajahku, aku melihat ia tersenyum menyeringai dari kejauhan.

Keesokannya, aku tidak melihat anak itu. Justru di hari itu aku mendengar kabar bahwa seorang siswa yang kemarin tidak masuk, bunuh diri di rumahnya dengan cara terjun dari apartemennya. Gosipnya ia bunuh diri karena dibully oleh para senpai sehingga tidak mau masuk sekolah selama beberapa hari.

Selama beberapa hari aku melihat fotonya dipajang di atas meja yang pernah ia tempati. Wajahnya sama dengan anak yang duduk di sebelahku kemarin dan kemarinnya lagi.

"Dan sepulang sekolah, jika aku masih berada di ruang kelas saat waktu hampir menjelang petang, aku melihatnya di ruangan kelas. Duduk sendirian di sana."

Seisi ruangan berubah hening mendengar cerita dari Shino.

"Itu Teke-Teke? Kenapa badannya hanya setengah?"

"Entahlah. Kurasa ceritanya lumayan, tapi tidak terlalu mengerikan."

"Oi, oi. Ceritaku sungguhan tahu! Kalau kalian mengalaminya, kalian sendiri pasti akan ketakutan!" Shino memasang wajah kesal.

"Kau ngambek, Shino?" goda Kiba.

"Sudah, sudah! Sekarang siapa yang mau bercerita selanjutnya?" tanya Shikamaru menghentikan teman-temannya, dan di saat yang bersamaan lilin ke 4 padam.

Sakura mengangkat tangannya, "Aku. Aku punya cerita soal Teke-Teke dari saudara sepupuku!" serunya bersemangat, matanya masih melihat ke sekitar. Siapa tahu kalau ia bercerita Naruto akan memunculkan dirinya. "Dan ini bukan cerita Teke-Teke yang pernah kalian dengar."

Ia mendekatkan lilin ke wajahnya. "Tahun 1998…"

Saat itu beredar rumor mengenai makhluk sosok hantu yang tiap kali kemunculannya selalu ditandai dengan suara 'teke-teke', bunyi suara orang yang sedang berusaha menarik tubuhnya dengan kedua tangan agar bisa menggerakkan tubuhnya. Hantu ini katanya merupakan korban bunuh diri, yang semasa hidupnya merupakan gadis cantik dengan rambut panjang sepinggul. Katanya, sebelum ia meninggal, gadis itu sedang berdiri di pinggir jalanan sebelum akhirnya melemparkan dirinya saat sebuah truk angkut melintas kencang di hadapannya. Dan langsung saja kecelakaan itu membuat tubuhnya terbagi dua secara utuh, tanpa ada bagian tubuh lainnya yang terpisah-pisah. Hanya bagian atas tubuh dan bagian bawahnya yang terpisah.

Terjadi beberapa kasus pembunuhan mengerikan yang menyebabkan beberapa anak kecil tewas terbunuh dengan bagian tubuh mereka terpisah. Gosipnya Teke-Teke lah yang melakukannya. Oleh karena itu, di setiap penjuru kota, para orang tua menceritakan kisah Teke-Teke dan menyuruh anak mereka untuk pulang sebelum jam 6, atau Teke-Teke akan datang dan membunuh mereka dengan cara memotong tubuh mereka menjadi 2.

"Hahaue-san, aku mau pergi ke taman. Teman-temanku sedang bermain di sana."

Wanita berambut pucat dan berkacamata itu menatap anaknya dengan singkat, lalu beralih ke jam di dinding. "Kau tahu jam berapa sekarang?"

"Jam 4 lewat 15."

"Baiklah, Kabuto. Kau boleh pergi sekarang, tapi ingat untuk kembali sebelum jam 6."

Tanpa menyahuti ucapan ibunya—anak laki-laki bermbut putih dan berkacamata, yang wajahnya persis dengan ibunya itu langsung bergegas keluar rumah dan berlari ke arah taman. Teman-temannya sudah berada di sana, bermain dengan asyik. Kabuto tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk bersenang-senang bersama temannya. Tak lama kemudian, ia mendapati jam taman sudah menunjukkan pukul setengah 6. Teman-temannya langsung menghentikan permainan mereka dan berpamitan dengannya. Kabuto pun memutuskan untuk pulang.

Di tengah perjalanan pulang, ia melihat sebuah truk es krim berhenti di dekat trotoar.

'Kalau aku beli es krim sebentar, aku tidak akan terlambat pulang, kan?'

Kabuto berjalan menuju truk es krim tersebut dan memesan es krim kesukannya. Saat asyik memakan es krimnya, ia baru menyadari bahwa seisi kompleks perumahan di sekitarnya berubah sunyi. Bahkan ia tidak melihat lagi truk es krim yang barusan melaju meninggalkannya. Kabuto kecil mempercepat langkahnya menuju rumah, mengacuhkan langit yang mulai berubah gelap.

Teke… teke…

Sebuah suara aneh menarik perhatian Kabuto sebentar. Ia berhenti sebentar untuk mendengarkan suara tersebut.

Teke… teke…

Suara itu perlahan semakin dekat dengannya. Kabuto merasakan dirinya diselimuti rasa takut. Ia memaksa melihat ke sekelilingnya sambil berlari, dan tidak menemukan seseorang selain dirinya.

Teke… teke…

Suara seseorang yang sedang berusaha menyeret tubuhnya semakin membuat Kabuto ketakutan. Semakin ia berlari, semakin suara itu dekat dengannya. Dengan cepat, Kabuto menoleh ke belakang dan menemukan seorang anak perempuan dengan tubuh hanya separuh dari perut ke atas, sedang menyeret tubuhnya dengan kedua tangan mengikuti setiap derapan kaki anak laki-laki itu.

Kuku-kukunya yang hitam menancap di atas permukaan aspal, lalu menarik tubuhnya maju ke depan. Kabuto merasakan dirinya mulai kelelahan. Akhirnya ia sampai ke depan rumahnya, menggebrak-gebrak pintunya keras-keras. "HAHAUE-SAN! HAHAUE-SAN! Bukakan pintunya! AH!" Ia memalingkan wajahnya dan melihat wajah pucat dan berambut panjang sedang menungguinya di belakang.

Teke… teke…

Gadis itu semakin mendekat pada Kabuto.

"HAHAUE-SAN!"

Sesuatu menarik kaki Kabuto dan menyeretnya ke dalam gelapnya malam. Sesaat kemudian terdengar suara seperti benda empuk terjatuh dari tempatnya.

Wanita bernama Nono itu terbangun dari tidurnya begitu mendengar suara dengungan sirene mobil polisi bersahut-sahutan tepat di depan rumahnya. Semalam ia juga mendengar suara putranya, Kabuto memanggilnya samar-samar dari luar. Tapi ia ingat bahwa sebelum ia pergi tidur, terdengar suara pintu dibuka dan mengira Kabuto sudah masuk ke dalam rumah mereka. Apalagi Kabuto tidak pernah melanggar peraturan yang dibuat olehnya.

Nono membuka pintu rumahnya dan melihat polisi juga tetangganya mengerubungi halaman depan rumahnya. Beberapa tetangganya memasang muka ketakutan sekaligus ngeri, membuatnya semakin bingung.

"Anda Yakushi-san?"

Nono mengerutkan alisnya, "Ya. Kenapa? Ada apa dengan keributan di sini? Kenapa ada polisi di rumahku?"

"Begini, kami menemukan putra Anda berada di luar rumah. Sudah dalam kondisi seperti ini. Tunggu Yakushi-san—"

Nono sudah berlari ke tempat di mana polisi berkerubung. Wajahnya langsung beruraian air mata dan teriakan menghiasi suaranya.

Di depannya, Kabuto sudah tewas tergeletak dengan tubuh terpisah dan diselimuti oleh banyak darah. Dan yang paling membuatnya lemas adalah tulisan dari darah yang menuliskan: "HAHAUE-SAN KENAPA KAU TIDAK MEMBUKAKAN PINTUNYA?"

Lilin yang ke 5 padam seusai Sakura menceritakan ceritanya. Beberapa anak cewek di sekitarnya, termasuk Ino, terlihat meringis di balik cahaya lilin yang tersisa.

"Lebih benar kalau aku menyebutnya sadis daripada menyeramkan," ujar Ino mengomentari.

Sakura menyikutnya pelan, "Hei, aku, 'kan sudah berusaha menceritakannya padamu!" ia kembali mencari-cari sosok Naruto.

Sesaat ia mendengar suara pintu bergeser dibuka dan menoleh ke asal suara tersebut. Ia melihat sesosok bayangan berambut jabrik dan bertubuh lumayan tinggi melangkah masuk. Hmm. Sakura sudah bisa menebak bahwa anak itu adalah Naruto, meski sosok itu tidak menjawab saat seorang anak memanggil namanya.

"Baiklah. Selanjutnya siapa yang akan bercerita?" tanya Shikamaru.

"Apakah guru boleh ikut bercerita juga?"

Seisi ruangan langsung menoleh kaget ke arah Kakashi-sensei, yang tanpa diduga muncul di antara anak-anak sambil mengangkat tangannya.

"Uh… Kurasa boleh. Ya, kan?" Shikamaru menoleh ke sekelilingnya dan menerima beberapa anggukan dari teman-temannya.

Kakashi berdeham. "Ini pengalamanku ketika masih seusia kalian. Dulu…"

Setiap pulang sekolah, aku selalu terbiasa menaiki mobil ford tua milik otou-sanku yang sudah lama meninggal. Menjelang kelulusan SMA, aku harus pulang lebih malam dari biasanya. Apalagi saat itu aku menjadi panitia prom yang diadakan sekolah.

Suatu malam, aku harus pulang tengah malam karena sibuk menyiapkan perlengkapan prom night di sekolah. Karena sudah terlalu malam dan jalanan umum cukup macet dipenuhi orang-orang yang pulang dari kantor mereka di malam hari, aku memilih untuk mengambil jalan alternatif. Yaitu melewati jalanan yang melalui perbukitan dan hehutanan. Jalanan yang kulalui saat itu memang tidak dilalui oleh pengendara lain selain diriku, sehingga aku berpikir bahwa dengan begini aku bisa sampai ke rumah lebih cepat.

Tapi suasana malam yang begitu gelap dan jalanan yang begitu sepi, apalagi penerangan hanya berasal dari mobil yang kukendarai, menyebabkan aku merasa sedikit ketakutan saat itu. Ditambah lagi aku hampir tidak melihat satu rumah pun yang melintas di pandanganku.

Tiba-tiba, saat aku melintasi sebuah hutan, aku melihat seorang gadis berambut hitam panjang mengenakan gaun tidur putih berdiri di samping jalan. Gadis itu seperti menunggu kedatanganku dan melambaikan tangannya sedikit—menyuruhku berhenti di depannya. Tentu saja aku langsung menghentikan laju mobilku. Tidak mungkin seorang gadis yang terlihat lemah begitu akan menyakitiku, bukan?

Tanpa sepatah kata pun, ia langsung naik ke mobilku, membuatku kaget.

"Jadi, kau mau aku antar pulang?" tebakku.

Gadis itu hanya mengangguk pelan dan kembali terdiam.

"Ngomong-ngomong, rumahmu di mana?"

"Jalan Ashinaka nomor 5," jawab gadis itu singkat.

Aku langsung membawa mobilku melaju ke tempat yang dimaksud. Untung saja aku mengenal baik daerah itu, apalagi daerah itu sangat dekat dengan rumahku. Beberapa kali aku mencoba mengajak gadis itu berbicara dengan bertanya, "Kenapa kau bisa di sana sendirian?" tapi ia tidak menjawab. Aku mengira bahwa dia kedinginan dan terlalu lemah untuk menjawab pertanyaanku. Jadi kuputuskan untuk melepas jaketku dan memakaikannya padanya—tentu saja aku memakaikan jaketku padanya setelah menghentikan mobilku.

Kami berhenti tepat di sebuah rumah mungil yang catnya sudah luntur dan diterangi oleh lampu minyak kecil di teras depan. Begitu aku hendak membalikkan tubuh untuk mengatakan bahwa ia sudah bisa turun, aku mendapati kursi belakang sudah kosong. Tentu saja itu membuatku kaget. Bagaimana mungkin gadis itu bisa menghilang secepat itu? Buru-buru aku membetulkan pikiranku dengan berpikir bahwa mungkin saja gadis itu sudah keluar dari mobilku dan masuk ke rumahnya dengan cepat saat aku sibuk terpesona dengan rumahnya.

Aku langsung melaju pulang. Beberapa meter dari rumah gadis itu, aku langsung menyadari bahwa jaketku masih ada pada gadis itu. Langsung saja tanpa pikir panjang aku memutar balikkan mobilku ke rumah gadis tadi. Lagipula tidak akan makan waktu kalau meminta jaketku kembali.

Aku mengetuk pintu rumah gadis itu. Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya keluar dari sana dan memandangiku dengan bingung.

"Kau siapa? Ada apa malam-malam begini, anak muda?"

"Ehm, aku hanya ingin meminta jaketku kembali… pada gadis yang tinggal di sini. Barusan aku mengantarnya pulang ke sini."

Ekspresi di wajah wanita itu membuatku ikut kebingungan, "Maksudmu? Tidak ada anak perempuan yang tinggal di sini. Aku tinggal berdua dengan putraku. Anak perempuanku sudah lama meninggal."

"A-apa? Tapi aku yakin barusan—"

Wanita itu menunjuk pada sebuah batu nisan yang terletak tidak jauh dari halaman rumahnya. "Jika kau tidak percaya, lihatlah ke sana. Itu makam putriku. Tidak ada gadis lainnya yang tinggal di sini."

Aku melangkah mendekati makam kecil yang ditunjuk wanita itu. Sesaat aku merasakan tenggorokanku kering dan kakiku terasa lemas. Di atas batu nisan itu, jaketku terhampar. Buru-buru aku mengambil jaketku dan membawa mobilku melaju pulang.

"Tapi kadang aku suka merasa masih bisa melihat gadis itu dari kaca mobil setiap aku lewat sana. Terkadang aku melihatnya tersenyum padaku di kursi belakang penumpang. Dan begitu aku berbalik untuk melihatnya, dia sudah menghilang." Kakashi mengakhiri ceritanya dan mematikan sebatang lilin.

Beberapa anak murid berbisik, "Lain kali aku tidak ingin pulang naik mobil Kakashi-sensei."

"Kukira dia akan berbuat sesuatu terhadap hantu itu, ternyata tidak."

Kakashi berdeham keras—menyuruh murid-muridnya untuk diam.

"Lalu, selanjutnya siapa yang akan bercerita?"

"Aku saja!" seru Chouji bersemangat.

Semua mata tertuju padanya, tumben sekali ia memberanikan dirinya untuk berbicara di depan teman-temannya. Padahal biasanya ia lebih memilih untuk bolos pelajaran untuk mendapatkan makanan di kantin saat mendapatkan giliran untuk maju ke depan kelas.

"…baiklah," kata Shikamaru akhirnya, menyerah, sambil menepuk dahinya sendiri.

"Sebenarnya ini merupakan cerita yang kudengar dari tetanggaku, sih," Chouji memulai ceritanya sambil melahap keripik kentang di tangannya, "Jadi, begini…"

Beberapa tahun lalu, saat aku masih SMP, rumah kosong di dekat rumahku ditinggali oleh seorang laki-laki bernama Darui. Dia berasal dari desa bernama Kumo yang bertekad untuk hidup di Tokyo. Karena sikapnya yang senang membantu dan senang bekerja keras—meski sikapnya kadang sedikit tidak ramah, orang-orang di sekitar tempat tinggalku jadi menyukainya.

Pada suatu hari, saat ia sedang berjalan-jalan di taman kota, ia menemukan seorang wanita cantik berambut gelap dan pendek—mengenakan penutup leher berwarna merah yang dikenakannya sebagai pita di leher. Awalnya mereka hanya saling duduk bersebelahan di kursi taman, tapi lama kelamaan keduanya menjadi akrab. Darui pun perlahan jatuh cinta pada sosok wanita yang dikenalnya itu. Akhirnya ia mengetahui nama wanita itu, Kurotsuchi—anak mendiang Kitsuchi-sama, seorang tuan tanah di tempat aku tinggal. Tidak lama mereka saling mengenal satu sama lain, Darui memutuskan untuk melamar Kurotsuchi—yang dengan senang hati diterima oleh wanita itu.

Sebelum mereka resmi menikah, Kurotsuchi memanggil suaminya—pria berkulit gelap dan berambut putih itu—untuk bicara berdua.

"Meski kita sudah menikah nanti, kuharap kau jangan pernah menanyakan alasanku selalu memakai pita ini di leher dan jangan sekalipun kau merasa penasaran karenanya."

Darui tertegun mendengar ucapan calon istrinya. Memang ia selalu melihat wanita itu mengenakan pita berwarna merah di lehernya dan tidak sekali pun berusaha untuk melepaskannya. Bahkan jika ia memakai pakaian yang warnanya mencolok, Kurotsuchi tetap memakai pita berwarna merah itu di lehernya. Tapi karena rasa cintanya pada wanita itu, Darui menyanggupinya. "Baiklah," katanya pada akhirnya.

Mereka pun pada akhirnya resmi menjadi suami istri. Awalnya Darui merasa bahagia sekali dengan pernikahannya bersama Kurotsuchi—bahkan ia terlihat begitu memanjakan istrinya. Tapi setiap kali mereka berhubungan suami istri, Kurotsuchi tak pernah sedetik pun melepaskan pita merah di lehernya atau pun saat wanita itu tidur. Setiap kali rasa penasaran muncul di benak Darui, pria itu selalu menahannya. Apalagi saat ia dan Kurotsuchi menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Begitu anak laki-laki mereka lahir, pertanyaan muncul di pikiran Darui. "Kenapa Kurotsuchi tidak pernah sekali pun melepaskan pita merah itu dari lehernya?"

Dan setiap kali ia melihat istrinya mengenakan pita merah di lehernya saat mereka melakukan hubungan suami istri, Darui selalu bertanya, "Kenapa kau tidak pernah melepaskan pita di lehermu itu?"

Kurotsuchi menatap suaminya, "Aku pernah bilang padamu untuk tidak menanyakan hal itu padaku saat kita menikah, Darui."

"Tapi, kita sudah menikah sekarang. Tak perlu ada rahasia di antara kita!"

Kurotsuchi menghela napas, "Aku akan memberitahumu alasannya suatu saat nanti."

"Kapan?"

Kurotsuchi tidak menjawab. Begitulah seterusnya, Darui terus menanyakan alasan istrinya mengenakan pita merah di lehernya setiap saat. Tetapi setiap kali ia bertanya, pasti dijawab oleh istrinya, 'Belum saatnya aku memberitahumu alasannya.'

Hingga suatu hari, Darui memutuskan untuk mencari sendiri rahasia di balik pita leher istrinya. Pada malam hari, saat istrinya terlelap, Darui diam-diam memperhatikannya. Ia menunggu beberapa saat hingga ia yakin istrinya sudah tertidur, lalu mengarahkan tangannya untuk menarik pita di leher Kurotsuchi. Apakah istrinya itu memiliki sebuah luka mengerikan yang membuatnya selalu menutupi lehernya dengan pita?

Darui menarik pita tersebut dari leher istrinya. Ia melihat sebuah luka menganga di leher istrinya. Matanya terbelalak saat luka tersebut semakin memanjang di sekitar leher Kurotsuchi, sebelum kemudian kepala wanita itu jatuh ke atas lantai, terpisah dari tubuhnya. Darui berteriak kaget sekaligus ketakutan melihat hal tersebut. Tapi hal yang membuatnya semakin ketakutan adalah saat mata dari kepala terputus Kurotsuchi tiba-tiba terbelalak lebar, menatap ke arah Darui dengan tatapan marah.

"Kenapa kau malah mengambil pitanya? Kenapa kau melanggar janjimu padaku?"

"WAH!" Kiba meloncat panik dari tempat ia duduk. "A-aku merasakan sesuatu bergerak di antara kakiku! Ke-kepala, pasti kepala!"

Seisi ruangan langsung menjerit kaget.

"Baka. Itu kakiku," ucap Sakura kesal sambil mendorong tubuh Kiba menjauh darinya. "Kau terlalu dekat denganku. Bisakah kau menjauh sedikit?"

Shikamaru tidak memperhatikan keributan antara Sakura dan Kiba, "Baiklah. Satu cerita lagi."

Seorang anak laki-laki mengangkat tangannya, tapi wajahnya tidak terlihat di balik gelapnya malam. Sekilas Sakura sempat mengenalinya sebagai Naruto, tapi Naruto tidak biasanya hanya diam saat mendengarkan cerita hantu. Meski cowok itu sering melihat hantu, ia tetap akan heboh sendiri saat mendengarkan cerita hantu.

"Aku akan menceritakan mengenai sepupuku, Karin." Kata anak itu di tengah remang-remang cahaya lilin, tapi Sakura tetap tidak bisa melihat wajahnya. Suaranya bahkan menyerupai suara Naruto.

"Saat itu…"

Aku dan sepupuku masih bersekolah di kelas 5 SD, dan kami terpisah di kota yang berbeda. Karin memiliki kemampuan untuk merasakan kehadiran makhluk lain, tapi tidak bisa melihat mereka.

Hingga suatu hari, memasuki musim hujan, muncul kejadian aneh yang hanya dialami oleh anak-anak seusia kami saat itu.

Setiap hujan turun, kalau ada anak-anak melintas di sebuah lapangan kosong saat hujan turun, akan muncul seorang anak perempuan berbaju merah kumuh membawa payung. Jika anak-anak itu beruntung, maka anak perempuan itu hanya akan berjalan melewati mereka. Tapi jika ada seorang anak yang sial, maka anak perempuan itu akan datang menghampiri anak yang sedang sial tersebut dan menawarkan payung mereka kepadanya. Keesokan harinya, anak yang sial tersebut akan ditemukan dengan salah satu dari kaki atau tangan mereka menghilang.

Pada suatu hari, Karin terpaksa harus pulang sendirian karena mendapatkan ulangan susulan sepulang sekolah. Karena ia khawatir mengenai gosip akan kemunculan anak perempuan pembawa payung itu, Karin memutuskan untuk pulang sambil berlari. Saat ia hampir melewati jalan pulang yang biasa dilaluinya, entah kenapa, tiba-tiba saja Karin malah berlari menuju ke sebuah lapangan kosong. Karin menghentikan langkahnya untuk berbelok ke arah lain, sebelum tiba-tiba seorang anak perempuan muncul di hadapannya.

Anak perempuan berambut hitam panjang mengenakan baju terusan berwarna merah, dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Karin menelan ludahnya, merasakan kehadiran sosok lain terasa begitu kuat dari anak itu. Dan baru kali ini Karin melihat kemunculan makhluk lain dengan mata kepalanya sendiri.

Anak perempuan itu berjalan mendekati Karin. Wajahnya sebagian tertutupi oleh rambutnya, hanya menunjukkan seringai mengerikan. Karin menahan napasnya saat anak itu berjalan melewatinya.

"Payung, payung. Aku butuh payung. Payung sebelum hujan," anak perempuan itu bernyanyi dengan suaranya yang parau, seperti tidak pernah meminum air.

Karin nyaris berteriak saat ia melihat payung yang dibawa oleh anak perempuan itu.

Payung yang dibawa oleh anak itu ternyata sebuah potongan kaki. Sebuah jeritan tak dapat ditahan oleh mulut Karin. Anak perempuan itu langsung menoleh ke arahnya dengan cepat sambil menyeringai, "Mau payung?"

Malam harinya Karin ditemukan oleh keluarganya pingsan di dalam sebuah gang kecil yang jauh dari jangkauan orang. Yang mengejutkan saat ia ditemukan, beberapa buah potongan kaki dan tangan bertengger di sebelah tubuhnya yang terbaring lemas.

"Ih," Sakura meringis membayangkan potongan kaki setelah mendengar cerita dari anak laki-laki itu.

"Jangan-jangan yang dijadikan payung oleh anak itu, merupakan kaki dan tangan dari korban-korbannya?" tanya Ino sambil merangkul lengan Sakuradengan ketakutan.

Lilin berikutnya langsung dimatikan oleh Shikamaru. Ia menoleh ke arah teman-temannya—mengira bahwa mereka sudah selesai mengikuti 8 cerita hantu, saat ia melihat sebuah lilin masih menyala. "Sepertinya masih ada satu cerita lagi yang belum diceritakan."

"Biar aku saja yang bercerita," sebuah suara yang dikenali Sakura sebagai suara Naruto langsung menarik perhatian Sakura. Ia mendengar suara itu dari arah Shikamaru duduk. "Cerita ini sudah sering terjadi selama liburan musim panas."

Pada malam terakhir liburan musim panas SMA Konoha, pasti setiap tahunnya diadakan 8 cerita hantu untuk masing-masing kelas. Pada suatu malam, anak-anak berkumpul di kamar anak laki-laki, melakukan kebiasaan itu seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka menyiapkan 8 lilin, untuk masing-masing 8 cerita hantu. Di setiap akhir kisah ke 5, selalu ada anak murid yang ke 33 memasuki ruangan.

Saat orang kelima menceritakan cerita kelimanya, akan terdengar suara pintu dibuka. Tapi saat orang-orang menoleh ke asal suara tersebut, mereka tidak akan menemukan siapa pun yang keluar ataupun masuk ruangan, melainkan sebuah pintu yang terbuka.

"Itu siapa?" maka orang ke 33 itu tidak akan menjawab. Ia akan berbaur bersama 32 orang lainnya termasuk seorang guru di sana, tidak disadari kehadirannya oleh orang-orang yang lain kecuali oleh satu orang.

Saat 8 cerita sudah selesai, maka orang misterius ini akan menceritakan mereka kisah yang sama seperti setiap tahunnya. Dan begitu ia selesai bercerita, orang ini akan menghilang bersamaan dengan padamnya lilin ekstra, yaitu lilin ke 9.

"Tunggu dulu…" ucap Kakashi bingung setelah lama ia tidak bersuara, "Memangnya itu cerita hantu atau cerita apa? Kok rasanya ada yang aneh…"

"Kau seperti menceritakan keadaan kita saat ini, Naruto. Tapi dengan versi yang lebih mencekam," Sakura menambahkan. "Itu kau, kan, yang bercerita, Naruto?"

Tiba-tiba terdengar suara Naruto menyahutnya dengan kaget, "Hah? Sakura-chan, aku bercerita soal anak perempuan berpayung, kok!"

"Hah? Itu tadi bukan kau?" seru Shikamaru bingung. "Tadi bukannya kau baru saja menceritakan tentang orang ke 33 di sebelahku? Kau juga baru datang, kan, sebelum Kakashi-sensei mulai bercerita?"

"Iya. Itu bukannya Naruto?"

"Suaranya mirip Naruto. Tadi Naruto sama sekali tidak berisik sampai Chouji selesai bercerita…"

"Hei! Aku tidak bersuara bukan berarti aku tidak di sini! Aku tidur sampai Chouji selesai bercerita tahu!"

Seisi ruangan berubah tegang.

"Jangan-jangan…" bisik Shino. "Itu sungguhan cerita hantu ke 9?"

Suara teriakan langsung bergema di seisi penginapan malam itu.


a/n: maaf sebelumnya ceritanya tidak seram, karena itu saya memberi genre untuk fic ini Supernatural daripada Horror. Dan karena chapter sebelumnya saya memfokuskan pada hubungan Naruto Sakura, jadinya nuansa horror sedikit berkurang, dan niatnya memang puncak horrornya di chapter 7 misteri sepulang sekolah. Karena sudah pernah membaca chapter 3, maka cerita 7 Misteri sepulang sekolah saya skip di bagian ini ^^

Dan maaf banget di sini Kabuto, Nono, Kurotsuchi dan Darui super OOC =_= mereka kan cuma numpang lewat, jadi maafkan saja ya *stomped*

Review~

thanks to:Mauree-Azure, Rinzu15 The 4th Espada, danDogoier, Lily Purple Lily, Lee Dong Jae,Kaze D'shinigami, deshitiachan, , Dicchan Takaminata-n, rura sun, heryanilinda, mari-chan.41 , Ekha malas Log-in, tiaraahahaha, Namikaze Resta , Namikaze Ex-Black , C. , Namikaze nada, Saqee-chan, Monica Sakura4, gui gui M.I.T, nona fergie, Rara, VhaLiiaRhyaFha , namikaze uchiha, Adelia, ca kun, naruobito2, Trancy Anafeloz, Ai Tanaka , Guest, naruto lover