Gut morning/afternoon/evenening

Ini udah keluar chap baruuu, cepter toejoeh.

Ngomong-omong... gw ga dapet ripiew nih, apa udah pada bosen ya, sama pik gw? Huhuhuhuhuh...

Tapi udahlah, gw kan nulis-nulis supaya bisa menumpahkan imajinasi gue yang sudah bertumpuk-tumpuk. Sesuai motto Fanfiction, unleash your imagination (ceilah)

So...

UNEXPECTED

Disclaimer : pokoke, Narto itu punya mas Masashi, bukan punya saia

Rate : T

Pair : SasoSaku

WARNING : Aneh, abal, gaje, OOC, typo, de es be, de ka ka, de el el

Chapter 7 : The party

Sakura, ayahnya, dan Gaara sekarang berada di ruang tamu apartemen mereka. Sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Gaara sedang menelepon seseorang, ayah Sakura sedang sibuk dengan laptopnya, sementara Sakura nonton TV.

"Sakura," Ayah Sakura memanggil Sakura tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop-nya.

"Ya?"

"Tadi aku ditelepon sama Koyuki (emaknya Sakura), katanya kamu disuruh ngambil baju di laundry," kata ayah Sakura.

"Baju? Baju apa?"

"Tau, mungkin baju buat hari Jumat." Kata Ayah Sakura sambil menyeruput kopinya.

"Jumat? Jumat... oh, ya." Sakura menghela napas berat.

"Kenapa gak semangat gitu? Hari Jumat besok kan hari penting untuk kita!" kata Gaara yang tiba-tiba ikut-ikutan.

"Males ah. Emang gue harus ikut?"

"Iyalah! Lagian acaranya cuman pesta biasa." Kata Gaara yang sedang maenan iPad. Sementara Sakura menghela napas berat, lagi.

Meanwhile...

Ting Tong

Sasori berjalan ke arah pintu setelah mendengar suara bel dibunyikan.

Ting Tong... Ting Tong... Ting Tong...

Sasori berjalan dengan kesal sambil menggerutu. "Sabar kek.."

TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG

"IYA IYA ELAH SABAR DIKIT DO...NG" Sasori membuka pintu dengan kesal, namun terdiam saat melihat sosok yang berdiri di depan pintunya. "To... Tou-san?"

"Apa kamu bilang? Ga sabar? Udah capek-capek ke sini dari Inggris dan malah dibilang gak sabar?"

"Ya tadi kan ga tau tou-san yang dateng. Lagian kok ga bilang-bilang?" kata Sasori sambil nyengir dan mengambil koper ayahnya.

"Kan udah aku bilang, mau datang. Kan Jumat besok ada acara ulang tahun apartemen ini! Pemiliknya kan temenku, dia juga udah bantu-bantu kita pas pembangunan Hotel kita. Lupa?" omelnya panjang lebar.

"Nggak... uhh... kaa-san gak ikut?"

"Nggak, katanya sibuk." Jawab ayah Sasori singkat.

ESOKNYA

Kamis (4.15 p.m.)

"Sakura, sini." Sasori memanggil Sakura yang kebetulan lewat di depan ruang guru. Saat itu koridor sepi. Murid banyak yang sudah pulang, tapi beberapa sedang bermain bola di lapangan, sehingga gedung sepi.

"Kenapa?"

"Umm, emang besok ada acara?" tanya Sasori dengan suara pelan.

"Besok... iya ada. Kenapa?" Tanya Sakura balik sambil mengerutkan alisnya.

"Kira-kira sampai jam berapa?"

"Malem. Emang kenapa sih?" Sakura bertanya lagi, dengan nada penasaran.

"Nggak, gini... selesai acara mau pergi gak?" kata Sasori. Sakura sedikit kaget, jelas, di kepala Sakura, banyak pertanyaan muncul, apa ini ajakan nge-date?

"Ke mana?"

"Iya atau nggak?" tanya Sasori balik.

"Ke mana?"

"Iya atau nggak dulu!"

Sakura menghela napas dan akhirnya mengiyakan tawaran Sasori. "Iya! Iya! Ke mana?"

Sasori mengeluarkan 2 lembar tiket dari sebuah amplop. "Nih, temenku ada yang mau konser sama orkestra-nya. Aku dikasih tiket gratis, soalnya pertunjukan perdana. Jadi? Mau gak?" kata Sasori sambil sesekali melihat ke sekelilingnya, siapa tahu ada yang nguping.

Sakura terdiam, sejak dulu dia memang sangat ingin pergi nonton orkestra. "Mau." Sakura menjawab tanpa pikir panjang.

"Bagus."

BESOKNYA (lagi)

Jumat, 6.00 p.m.

"Sasori! Cepatlah! Kita hampir terlambat!" ayah Sasori meneriaki Sasori dari depan pintu apartemen mereka.

"Iyaaaa..." Sasori menyahut dengan malas. Ia berjalan keluar dari apartemennya, kemudian berhenti berjalan ketika sampai di luar. Sasori melihat ke arah pintu apartemen Sakura. 'Sakura belum berangkat ya?' Batin Sasori. Ayah Sasori kembali ke dalam untuk mengambil handphone-nya yang tertinggal.

2 detik kemudian, pintu yang dari tadi diperhatikan oleh Sasori terbuka. Dan terlihat Gaara keluar dengan setelan jas yang rapi.

"Oh, Sasori. Belum berangkat?" tanya Gaara.

"Baru mau berangkat. Oh, Sakura mana?" tanya Sasori penasaran.

"Sakura? Itu, baru mau keluar. Sakura! Cepatlah!" Gaara meneriaki Sakura.

"Iya, iya, sabar kek... oh... Sasori..." Sakura sedikit kaget dengan kehadiran Sasori yang sudah siap dengan baju yang rapi. Sasori mengenakan setelan jas, dasi, dan rompi hitam, serta kemeja merah darah. Entah kenapa penampilannya membuatnya terlihat... keren. Sakura terdiam. Kapan ya terakhir dia menganggap seseorang terlihat keren?

"Sakura?" Sasori terlihat bingung melihat Sakura yang sepertinya sedikit bengong. Sebenarnya, jantung Sasori sekarang sedang melonjak-lonjak melihat Sakura. Saat ini Sakura memakai dress hitam yang simpel, namun menawan. Sakura hampir tidak mengenakan make up sama sekali. Sasori berusaha mengendalikan diri, agar suaranya tidak terdengar aneh.

"Kenapa ngeliatin aku terus? Aneh ya?" tanya Sakura yang kelihatan malu-malu.

"Enggak, bagus kok. Kamu itu cantik tau." Kata Sasori sambil tersenyum. Wajah Sakura memerah, dia memalingkan muka dan melipat tangannya di depan dada untuk menutupi badannya.

Gaara buru-buru pergi ke arah lift, supaya gak dianggap merusak suasana.

"Hei, hei, Sakura..." Sasori mengangkat dagu Sakura. "Hei,lihat aku,"

Sakura dengan terpaksa melihat ke arah Sasori. Dia yakin wajahnya pasti semerah kepiting rebus ditambah sambel bangkok. "Apa?"

"Dengar, kamu itu cantik. Jangan malu. Hei..." Sasori menatap Sakura yang berusaha melihat ke arah lain selain wajah Sasori yang begitu dekat dengan wajahnya. Tanpa pikir panjang, Sasori mencium bibir Sakura. Sakura kaget dan berusaha menekan dada Sasori. Akhirnya Sasori melepas bibirnya.

Sasori berbisik tepat di di telinga Sakura dengan suara lembut, "Gue, Akasuna Sasori, guru paling most wanted dan paling digilai di Konoha Gakuen, bilang kalau elo, Sakura Haruno, cantik. Dan gue sayang sama elo, Sakura." Sakura merinding mendengar suara Sasori di telinganya, Sasori hanya tersenyum puas.

"Hei, Saso...ri?" kalimat yang diucapkan ayah Sasori terhenti, sebab melihat Sasori yang masih mengangkat dagu Sakura setelah berbisik tadi. Sasori buru-buru melepas tangannya.

"Heey! Arata! Lama tidak bertemu!" kata ayah Sakura yang langsung menarik tangan teman lamanya itu ke arah lift. Kemudian mereka terlibat pembicaraan serius.

Sasori bengong, Sakura melongo.

Terjadi hening panjang, sampai akhirnya Sasori memulai. "Uhh, Sakura, mungkin lebih baik kita Segera turun ke bawah."

"Ungg, iya..."

Sasori merangkul bahu Sakura selagi berjalan. Sentuhan tangan hangat Sasori di bahu Sakura menimbulkan kesan seperti sengatan listrik di bahunya, jantung Sakura berdisko.

'Agh diem kek jantung!' Batin Sakura yang takut bunyi lonjakan jantungnya terdengar oleh Sasori.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan Sakura, jantung Sasori pun sama cepatnya dengan Sasori.

'Shit, kenapa sih ini jantung?! Ayolah, ini kan bukan pertama kalinya gue ngerangkul cewek!"

Ketika mereka keluar dari lift, Sasori melepas tangannya dari Sakura. Sakura menghela napas lega, tapi di dalam lubuk hatinya yang paling curam ia sedikit kecewa karena kehilangan kehangatan tangan Sasori.

"Ayo," ajak Sasori sambil berjalan sedikit lebih cepat dari Sakura. Sakura pun berjalan mengikuti langkah Sasori.

Ternyata sesampainya di sana, pidato ayah Sakura baru saja akan dimulai. Sakura duduk di bangku yang sudah disediakan, begitupun Sasori. Kebetulan meja tempat Sasori duduk bersebelahan dengan meja Sakura dan Gaara.

Seorang pelayan datang ke arah meja Sasori tanpa suara, kemudian menawarkan anggur pada Sasori.

Beberapa menit kemudian, pelayan tersebut datang lagi dengan membawa sebotol red wine yang terlihat mahal. Gaara mengangkat gelasnya untuk bersulang dari jauh, Sasori membalasnya.

Sakura yang dari tadi memperhatikan gerak gerik Sasori, tiba-tiba berdebar melihat Sasori yang terlihat begitu dewasa saat memegang gelas wine dan meminumnya. Dia yakin wajahnya memerah saat ini. Untunglah saat itu tempat duduk penonton dibuat gelap, sehingga Gaara tidak akan sadar akan wajah Sakura yang semerah saus sambel Dua Belibis (gw gak promosi).

Oh, sh*t...

Could it be love?

.

.

Sasori jenuh akan acara ini. Sudah 1 jam sejak dimulai, tapi isinya cuman pidato terima kasih, pelantikan bos baru, pegawai terbaik...

Haah...

Pada akhirnya Sasori memutuskan untuk ke balkon yang tidak mencolok, mencari udara segar. Ternyata memang, Konoha pada malam hari memang segar dan sedikit dingin. Sasori menarik napas untuk merasakan udara segar memasuki paru-parunya.

"Hei," kata sebuah suara di belakang Sasori. Setelah menengok, barulah dia sadar siapa yang datang. Sasori membalas, "Hei, Sakura."

Sakura menyenderkan badannya. "Bosen kan?"

"Emang lo juga bosen?" tanya Sasori balik.

Sakura mengangguk, "Bosen. Acaranya gitu-gitu doang. Gue mah nungguin acara makan-makannya."

Sasori tertawa mendengar kalimat Sakura. "Hahaha, kalo makan gratis, siapa yang bisa nolak?"

Sakura hanya bisa tersenyum melihat Sasori. Diperhatikannya wajah Sasori yang 'katanya' ganteng abis itu. Ternyata...

"Kenapa?" tanya Sasori tiba-tiba.

"Apaan?"

"Dari tadi ngeliatin terus. Ada apaan sih?"

"Oh... Nggak," Sakura memalingkan mukanya. Sasori tersenyum, kemudian memeluk pinggang Sakura dari samping. Jantung Sakura berdisko lagi. "Jangan bilang lo suka sama gue.." bisik Sasori tepat di telinga Sakura.

"Sok ganteng banget sih lo!" Sakura memutar kepalanya untuk melihat ke arah Sasori. Dan berhubung saat ini Sakura dipeluk Sasori dari samping dan mereka berdua dalam posisi yang sangat dekat, begitu Sakura memutar kepala, bibirnya dengan mulus mendarat di bibir Sasori. Untunglah mereka tidak pada tempat yang mencolok. Mereka berada di belakang ruang acara, dan tidak ada orang di sana. Sakura meremas bahu Sasori yang kekar, sementara Sasori semakin menarik Sakura untuk memperdalam ciumannya.

"Saso..ri..." kata Sakura di tengah ciuman mereka.

"Mmmmmmhh?"

"Jangan... di sini..." kata Sakura sambil mendorong dada Sasori sehingga ciuman mereka terhenti. "Nanti diliat orang."

"Di sini gak ada orang Sakura, tapi... ya udah lah.." kata Sasori kemudian.

"Kalo cewek-cewek di sekolah tau kita ngapain..." kata Sakura.

"Wah, fans gue bisa pada ngamuk tuh, trus patah hati. Kemungkinan terburuknya mereka bisa bunuh diri." Kata Sasori sambil tertawa.

"Kepedean amat sih lo! Masa mereka sampe bunuh diri gara-gara patah hati sama elo?!"

"Yaa, mungkin aja kan. Abis hampir semua siswi di Konoha Gakuen tuh nge-fans sama gue." Kata Sasori sambil menunjuk dadanya sambil tersenyum.

"Hampir?"

"Iya. Semua siswi, kecuali elo." Katanya pelan. Terjadi hening panjang.

"Hah, gue kan kebal sama orang yang hobi tebar pesona." Kata Sakura memecah keheningan.

"Heheh, gue harus cari cara nih supaya lo takluk sama gue." Kata Sasori sambil tertawa. Sakura pun ikut tertawa. Rasanya lama sekali dia tidak tertawa lepas.

"Oh iya, Sasori. Kapan jadinya pergi?" kata Sakura mengubah topik pembicaraan. "Umm, mulainya sih jam 8. Mau berangkat sekarang?"

"Jauh gak tempatnya?"

"Lumayan jauh sih."

"Kalau gitu kita berangkat sekarang." Kata Sakura tanpa pikir panjang, lagipula untuk apa berlama-lama di acara seperti ini?

Sasori berjalan menjauh sambil berkata, "Kalau gitu gue minta ijin dulu sama Gaara, entar gue dibunuh kalau ngebawa elo tanpa persetujuan."

"Oh, kalau gitu gue tunggu di sini." Kata Sakura.

"Oh iya, elo ambil gih jaket atau mantel di kamar lo, masa keluar cuman pake dress gitu aja."

Sakura hanya menurut dan berjalan menuju kamarnya di lantai 20, sementara Sasori meminta ijin dari Gaara.

"Boleh gak?"

"Boleh boleh aja sih, asal lo bisa bawa pulang Sakura dalam keadaan utuh, sama seperti sekarang. Sekalipun hanya kukunya yang patah, atau kulitnya kebaret, elo gak bakal bisa ngeliat Sakura lagi. Sanggup?"

"Sanggup."

.

.

2 menit kemudian Sakura dan Sasori sudah bersiap masuk ke mobil Koegnisegg CCXR milik Sasori untuk berangkat ke tempat konser.

"Siap berangkat?" tanya Sasori sambil menyalakan mobilnya setelah duduk di kursi pengemudi.

"Siap."

Perjalanan ke tempat konser memakan waktu selama kurang lebih 30 menit karena tempatnya yang jauh. Selama perjalanan Sakura memperhatikan Sasori yang sedang berkonsentrasi mengemudikan mobil, sehingga Sasori tidak sadar diperhatikan.

.

.

30 menit kemudian mereka sudah sampai di gedung konser. Mereka sekarang sudah duduk di kursi yang sudah dipesan sebelumnya.

Pertunjukkan berlangsung lancar. Permainan para anggota orkestra mampu membius penonton hingga terpana. Sakura sendiri sangat keasyikan menonton hingga lupa ada Sasori di sampingnya.

"Lo mau ke mana Sasori?" tanya Sakura setelah pertunjukkan selesai. Sakura menunjuk koridor menuju tempat parkir dan berusaha mengejar Sasori yang berjalan berkata,"Tempat parkirnya kan di sebelah sana."

"Bentar, gue mau nemuin konduktornya dulu." Kata Sasori sambil menunggu Sakura sampai di sampingnya, kemudian merangkul Sakura. "Dia kan temen lama gue, udah lama gak ketemu."

"Siapa namanya? Tadi gue gak sempet liat namanya di papan pengumuman."

"Itachi Uchiha." Kata Sasori. Mereka berdua sudah sampai di depan ruang konduktor, para penjaga di sana memperbolehkan mereka berdua masuk karena sebelumnya Itachi sudah menitip pesan.

"I... Itachi... Uchiha?" kata Sakura kaget.

"Iya, Itachi. Dia kakaknya Sasuke, kenal gak?" kata Sasori sambil membuka pintu di depannya.

"Ke...kenal.."

Dan setelah Sasori membuka pintu, yang terlihat bukanlah seorang pria konduktor gagah seperti tadi saat pertunjukkan, yang ada hanya seorang pria dengan rambut hitam dikuncir kuda yang tiduran lemas di sofa yang ada di sana. "Woy!" Sasori menyentak badan Itachi.

"Hah... oh elo Sas..." kata Itachi dengan wajah lemas.

"Dasar lo, demam panggung?"

"Iya nih... capek gue..." kata Itachi. "Gue mo istirahat, masih lemes gue. Besok lo ada waktu gak? Biar ngapain kek besok."

"Bisa, bisa. Ntar lo telepon gue ya!" kata Sasori sambil menepuk bahu Itachi. "Gue duluan yak."

.

Sasori dan Sakura tengah berjalan menuju mobil, tapi jalan parkir dipenuhi mobil-mobil yang akan keluar.

Setelah duduk di mobil, Sasori menyalakan mobil. "Sakura, mungkin kita jalannya harus nunggu sampai jalan gak padat dulu kali ya.. tapi kita pulangnya agak telat. Gak apa-apa kan?"

"Iya, gak apa-apa." Kata Sakura.

Sasori memperhatikan jalanan tempat parkir yang dipenuhi mobil yang akan keluar. Sementara Sakura diam-diam memperhatikan Sasori, yang katanya guru paling ganteng dan most wanted. selama ini Sakura tidak terlalu peduli dan menganggap Sasori sebagai guru paling ganteng satu sekolah itu hanya bualan, ternyata, memang sudah sewajarnya seperti itu. Wajah Sasori bersih, tidak ada bekas luka codet maupun sobek di wajahnya, padahal dia atlet karate yang hebat dan sering berpartisipasi dalam lomba. Hidungnya mancung, sorot matanya yang teduh (ceilah), rambutnya yang merah terlihat sangat halus, bibirnya sempurna, belum lagi sifatnya yang lembut dan ramah, jelas saja murid Konoha Gakuen klepek-klepek dan berambisi jadi pacarnya. Kenapa Selama ini Sakura biasa-biasa saja, padahal Sasori tinggal tepat di sebelah apartemennya, kenapa Sakura tidak sadar selama ini ada cowok ganteng, yang suka padanya?

"Sakura?"

Sakura yang merasa dipanggil lamunannya langsung buyar. "Ke... kenapa?"

"Dari tadi ngeliatin mulu. Kenapa sih? Ada yang aneh di mukaku?" tanya Sasori sambil mengangkat sebelah alisnya tanda bingung.

"Nggak... nggak ada apa-apa... uhh.. Boleh nyalain radio?" kata Sakura sambil menunjuk ke arah tape mobil, berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Boleh, nyalain aja."

Begitu Sakura menyalakan tape, mengalun lagu 'Eight Letters' oleh Take That, Sakura yang tadinya berniat menggantinya menjadi radio, mengurungkan niatnya. (pas lagi nulis ini gw juga lagi denger Eight letters, mo nangis rasanya...)

"Kenapa? Gak jadi denger radio?"

"Gak apa-apa, ini aja."

Sasori kembali melihat ke arah jalanan, Sakura memperhatikan Sasori lagi, bibir Sasori bergerak mengikuti lagu, tanpa suara.

Jantung Sakura melonjak ketika melihat Sasori yang sedang mengikuti lagu. Matanya, wajahnya, bibirnya...

"Sakura,"

"I...iya?"

"Kita pulang sekarang, ya. Udah gak penuh lagi tuh." Kata Sasori sambil tersenyum manis.

"Ah, oh... iya..."

.

.

.

SAKURA'S POV

Sasori mulai mengemudikan mobil dengan serius, cahaya lampu jalan membuat wajahnya terlihat... yah mungkin sulit mengakuinya, tapi dia terlihat... keren.

Tapi mungkin, karena sudah kecapekan, atau karena mobil yang berjalan tanpa getaran, entah bagaimana caranya, aku tidur begitu saja di mobil.

Aku mimpi Sasori dan aku sedang nonton di bioskop, kita berdua duduk di barisan paling belakang dan kita lagi nonton film-entah-apa-namanya. Pokoknya film traveling.

Dan beberapa menit kemudian, muncul adegan saat si cewek mau pulang ke negaranya, sementara si cowok harus tinggal, kemudian mereka berciuman di airport. Saat adegan itu masih berlangsung, Sasori mencolek bahuku dan berbisik tepat di telingaku.

"Kita bisa lebih baik dari itu," Sasori berbisik dan membuat seluruh badanku merinding. Dan kemudian, dia mencium bibirku. Rasanya hangat dan nyaman, dan aku merasa ciumanku dengan Sasori lebih baik dari adegan tadi. Namun rasanya ada sesuatu yang menepuk-nepuk pipiku.

"Sakura, bangun, Sakura. Udah nyampe."

Aku terbangun dari mimpi (indah) tadi.

"Ah, iya." Kataku sambil merapikan rambutku dan segera turun dari mobil.

.

.

.

Kami berdua sudah sampai di depan pintu apartemen kami masing-masing, aku siap masuk dengan kunci di tanganku, begitu juga Sasori. Setelah dia membuka pintu apartemennya, dia mendatangiku dan mengecup bibirku sekilas.

"Selamat malam, Sakura."

TEBESE

Yay! Selese dehhh, setelah perjalanan panjang, perjuangan berat melawan nyamuk ga punya otak, dan rebutan komputer, akhirnya selese... *nari poco-poco