Title: LOVE IS RED
Category: Plays/Musicals ยป Screenplays
Author:
Language: Indonesian, Rating: Rated: T
Genre: Crime/Hurt/Comfort
Published: 03-24-15, Updated: 03-31-15
Chapters: 7, Words: 3,192
Chapter : Chapter 7
Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v
Happy Reading dan bertobatlah para siderrss :D
LOVE IS RED-
Genre : Crime, yaoi-shounen ai
Boys x Boys
Cast : Kim Myung Soo,Lee Sungyeol Infinite
R&R
Happy reading,readers ^_^
xXx
.
.
.
"kau berhasil? " Jessica memulai pertanyaan nya setelah Sungyeol menarik nafasnya sesaat.
"seperti yang kau liat nona. .aku takkan ada disini sekarang jika aku gagal. . "
Jessica tersenyum. Pria didepannya sangat hebat memancing rasa ingin taunya.
"apa yang kau lakukan? "
"bercinta. .aku bercinta dengannya. . " jessica mengernyit. Ia belum mendapatkan sisi terang dari jawaban Sungyeol.
"kau tau. .seseorang akan menghabiskan tenaga yang cukup besar ketika tubuhnya melepaskan hormon setelah bercinta. .saat seperti itu. .mungkin adalah keberuntungan yang berpihak padaku. . " ujar Sungyeol menyunggingkan senyumnya.
.
.
"Myungie. . " serunya pelan pada pria dingin didepannya yang sedang sibuk mengaduk aduk sup didalam mangkuk. Pria bernama Myung Soo itu mengangkat kepalanya. Bertatapan langsung dengan Sungyeol.
"ada apa? " tanyanya lembut sambil menyodorkan sesendok sup pada Sungyeol. Sungyeol menerimanya. Ia akui pria didepannya sangat pandai memasak sesuatu. Seandainya saja. .
Sungyeol menepis angan2nya. Ia tidak boleh terbuai lagi.
"aku merasa tidak nyaman. . "
Kalimat Sungyeol sontak membuat gerakan Myung Soo terhenti. Ia menatap Sungyeol tajam. Sungyeol menelan liurnya kasar.
"bu. .bukan tidak nyaman dengan mu. .hanya saja. .aku masih sulit melupakan kejadian kemarin malam. . " akunya sambil menunduk. Ia tak mampu menatap langsung mata tajam pria didepannya. Myung Soo menghela nafas berat.
"katakan. .apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu merasa nyaman. . "
Sungyeol menggigit bibirnya. Ia memberanikan dirinya melihat berlian hitam dimata Myung Soo lekat lekat.
"soju. .beri aku soju. . " ujarnya perlahan. Myung Soo mengerutkan keningnya. Mungkin ia sedang berfikir untuk apa Sungyeol meminta minuman keras itu padanya.
"hanya minuman keras yang bisa membuatku lupa dengan semuanya. .aku akan tidur dengan baik saat mabuk. .aku. .aku tak mau bermimpi buruk malam ini. . " lanjut Sungyeol seolah mampu melihat isi kepala Myung Soo. Myung Soo berfikir sejenak. Beberapa saat kemudian terlihat ia menganggukkan kepalanya.
"aku akan mengambilnya didepan. .kebetulan aku membawa beberapa persediaan. . "
Sungyeol mengangguk senang. Myung Soo mengecup keningnya cepat sebelum bergerak keluar dari ruangan.
Jantung Sungyeol berdetak kuat. Ia tau, Ini adalah kesempatannya yang terakhir.
.
.
Myung Soo memasuki ruangan dengan dua botol soju ditangannya. Ia menyunggingkan senyum manisnya melihat Sungyeol yang menunggunya dengan tenang. Ia melangkah mendekati pria yang hanya menggunakan kemeja putih dan celana pendek itu.
"kau nampak manis sayang. . " pujinya. Sungyeol tersenyum. Wajahnya merona seketika.
"ini untukmu. . " kata Myung Soo sambil mengajukan sebotol soju pada kekasihnnya itu.
Sungyeol memekik girang seperti menemukan sebuah harta karun yang sangat mahal.
"kau tak akan tega membiarkan ku mabuk sendirian bukan? " tanya Sungyeol dengan nada manja. Myung Soo tertegun. Ia merasa aneh dengan sikap Sungyeol yang seolah menggodanya.
Myung Soo menepis rasa herannya. Ia mengambil posisi disamping ranjang dan menganggukkan kepalanya.
"arasseo. .aku akan minum bersama mu. . "
Mendengar itu Sungyeol seolah ingin meloncat dari tempatnya. Ia tak mengerti mengapa semudah ini mempengaruhi pria didepannya.
Sungyeol mendekatkan botol soju kebibirnya. Ia mengambil tegukan besar yang membuat wajahnya memerah seketika. Myung Soo mengikuti tindakan yang dilakukan pria kurus didepannya. Sungyeol mendorongkan tangannya pada botol Myung Soo agar pria itu meminum lebih banyak lagi. Myung Soo tak sanggup menolaknya. Ia meminum soju itu hingga hampir habis.
Sungyeol berteriak girang didalam hati. Sebentar lagi pria didepannya akan mabuk dan dia bisa melarikan dirinya.
Namun kali ini sepertinya keberuntungan masih belum memihak padanya.
"ahhh. .minuman yang nikmat. .kau tau Yeollie. .aku bahkan sanggup meminum 10 botol soju tanpa mabuk sedikitpun. . "
Ujar Myung Soo tenang. Sungyeol nyaris memekik ngeri. Myung Soo menatapnya dingin. Sungyeol bisa memahami kalau pria dingin didepannya sudah mulai membaca apa rencana yang akan dilakukannya.
Sial!
"kau sengaja bukan. .? " tanya Myung Soo dingin. Sungyeol terkesiap. Ia sudah tersudut dalam permainannya sendiri. Ia berusaha setenang mungkin menghadapi Myung Soo. Kepalanya mulai memikirkan sesuatu yang harus dengan cepat ia lakukan.
"ia. .aku sengaja. . " balas Sungyeol.
Myung Soo menatapnya dengan pandangan marah. Amarahnya akan tumpah seketika.
"kenapa. .! " kalimat Myung Soo terputus menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada Sungyeol.
Pria itu sedang menatapnya sayu dengan bibir seolah menantangnya untuk menciumnya kuat kuat.
"apa yang. . " Myung Soo semakin membeliak kaget melihat Sungyeol mulai membuka satu demi satu kancing kemejanya menampakkan tubuhnya yang berkulit putih dengan warna2 lebam yang samar. Myung Soo menelan ludahnya. Tubuhnya spontan memanas. Ia tak pernah melihat Sungyeol semenggoda itu sebelumnya. Efek minuman keras mulai merasuki tubuhnya.
Sungyeol mendekat pada pria didepannya itu. Merengkuh kepala Myung Soo lembut. Wajahnya perlahan mendekat dan mengecup lembut bibir terbuka Myung Soo. Bibirnya mulai bergerak perlahan menuju hidung, mata hingga berakhir dikening Myung Soo.
Nafas mereka memburu. Sungyeol menatap sayu Myung Soo.
"Myungie. .aku merindukan belaian mu. . " Myung Soo menelan liurnya dengan susah payah.
"bolehkah. . " lanjut Sungyeol melihat ekspresi membeku Myung Soo.
Myung Soo tak menjawab pertanyaan itu. Ia dengan cepat meraup bibir Sungyeol dalam kulumannya. Nafsu sudah membuncah dan memenuhi setiap inchi pikirannya. Ia tak peduli apapun, ia menginginkan pria dipelukannya sekarang.
"Myungiieee. . . " desah Sungyeol dengan nada terputus putus menahan rangsangan yang dilakukan Myung Soo pada dada dan perut ratanya. Myung Soo menyeringai. Ia menjilat setiap inchi perut rata kekasihnya itu dengan rakus. Sementara tangannya dengan liar meremas kuat kuat niple putih kemerahan Sungyeol, membuat pria yang diposisi bawah itu mengerang parau.
Myung Soo mulai menuruni perut Sungyeol perlahan. Ia menarik turun celana pendek yang digunakan Sungyeol hingga kelutut. Dengan kasar ia menarik agresif potongan kain terakhir yang menutupi bagian sensitif Sungyeol. Sungyeol menggigit bibirnya. ia bisa merasakan gigi geligi Myung Soo yang sedang menggigit pelan area sensitifnya.
"akhhh! " teriakan pertama mengalir dari bibir Sungyeol saat tangan Myung Soo mencengkram kuat atau tepatnya mencakar dadanya yang terbuka. Terasa nyeri. ia merasa kuku2 itu berhasil menembus kulit tipisnya.
Myung Soo bergerak liar. Ia semakin buas mendengar teriakan Sungyeol.
Ia menaiki tubuh Sungyeol dengan cepat. Hingga mata mereka bertemu satu sama lain. Myung Soo menyeringai. Ia mulai menggigit setiap inchi leher jenjang Sungyeol. memaksa pria itu memekik tertahan ketika merasakan gigi pasangannya menggigit dengan kuat lehernya.
Pukulan demi pukulan melayang menerpa pipi Sungyeol menambah lebam luka lama disana.
Sungyeo menggigit bibirnya semakin kuat. Ia benar benar berusaha untuk rencana terakhir yang ia punya. Tangannya meremas seprei dengan kuat untuk menahan sakit yang terus menderanya. Sedikit lagi. Bertahanlan. Jeritnya dalam hati memotivasi.
Myung Soo memasuki tahap akhir. Ia melakukan gerakan penetrasinya dengan cepat dan kasar seperti biasanya. Meskipun demikian tetap saja membuat Sungyeol memekik menahan nyeri dan sakit yang menerpa area bawahnya. Myung Soo menyeringai. Pria itu memompanya dengan brutal.
Sedikit lagi.
Lima
Empat
Tiga
Dua
Satu
Sungyeol membuka matanya. Ia melihat Myung Soo klimaks sambil memekik berat merasakan kenikmatan yang mengalir dari area sensitifnya. Tubuhnya menegang. Sungyeol berteriak.
Dengan gerakan tak terduga pria kurus itu membalikkan posisinya hingga menindih Myung Soo. Gerakan kaki kanannya yang bebas mengunci tangan Myung Soo yang kelelahan.
Tangan kanan Sungyeol meraih botol soju yang tergeletak dengan cepat. Dengan ayunan kuat Sungyeol memukulkan botol itu kekepala Myung Soo.
Prangg!
Botol soju yang keras seketika hancur ketika bertabrakan dengan kepala myung Soo.
Myung Soo memekik keras. Ia merasakan kesakitan yang sangat pada kepalanya. Tangannya bergerak liar mencoba membebaskan diri dari kuncian Sungyeol namun tenaganya yang melemah tidak dapat membantunya sedikitpun.
Ia menatap tajam Sungyeol yang memandang benci padanya.
"kau pantas untuk ini. . " ucap Sungyeol perlahan. Ia kembali menghantamkan botol kedua pada pria dibawahnya. Myung Soo kehilangan kesadaran.
Sungyeol mengerang parau.
Dengan cepat ia merapikan pakaian nya yang acak acakan. Ia melangkah tertatih keluar dari kamar itu. Kaki kirinya yang patah ia seret sedemikian rupa. Ia mengacuhkan rasa sakit yang teramat sangat dari kaki dan tubuhnya. Dikepalanya hanya satu. Ia harus keluar dari tempat itu dengan segera.
Dengan langkah terpincang Sungyeol menyusuri ruangan yang dipenuhi dengan warna merah itu. Ia mendesah lega ketika melihat sebuah pintu berada tak jauh dari posisinya.
Sungyeol meraih gagang pintu dan membukanya dengan segera. Angin malam yang dingin sontak menghantam nya dengan keras. Giginya bergemeletuk keras dan tubuhnya menggigil hebat. Ia mengabaikan nya. Ia terus melangkah dengan tertatih tatih menyusuri jalan setapak untuk menjauhi rumah yang lebih tepat disebut pondok itu. Disepanjang pinggir jalan ia melihat air laut dengan gelombang yang tinggi.
Sungyeol tercekat. Ia bisa memastika ia berada disalah satu tanjung pantai. Hanya saja ia tak bisa memastikan posisi nya dengan tepat.
Pepohonan rimbun disepanjang jalan juga semakin membuatnya bingung.
"dimana. .dimana ini? Kemana aku harus pergi? " ujarnya takut. Ia sama sekali tak bisa menemukan arah untuk menemukan pemukiman.
Sungyeol menggelengkan kepalanya. Ia tak perduli ia harus kemana. Yang pasti ia harus segera pergi sejauh mungkin dari pondok itu. Sungyeol mulai kembali menyeret kakinya. Hatinya terus berdoa semoga ada seseorang yang lewat dan menolong dirinya.
Telinganya perlahan mendengar suara kaki yang mendekat ke arahnya perlahan. Sungyeol nyaris berteriak lega. Ia melihat sesosok bayangan mendekat kearahnya dari arah depan.
"tolongg. .tolong saya. . " seru Sungyeol memanggil sosok itu. Sosok itu mendekat dengan cepat. Sungyeol membekap mulutnya. Saat itu juga ia langsung menyesali keputusannya memanggil orang tersebut. Matanya membeliak nanar. Ia melihat pria itu berdiri didepannya dengan darah segar yang masih mengalir dikepalanya.
Myung Soo!
Sungyeol terjatuh. Ia menatap Myung Soo dengan Shock.
Ia tak menyangka pria yang dikiranya sudah mati itu sedang berdiri dengan mengerikan didepannya sekarang.
"Myu. .Myung Soo. .bagaimana . .bagaimana bisa. . " desisnya.
Myung Soo menyeringai.
"kau kira aku akan mati semudah itu Yeollie? Kau belum mengenalku dengan baik. . " ucapnya dengan nada dingin yang membekukan. Tangannya tiba2 mengeluarkan sebuah besi sepanjang 30 cm dari balik pakaiannya. Sungyeol terkesiap. Ia berusaha untuk lari tapi kakinya yang patah membuatnya terjatuh.
Sungyeol menjerit keras ketika Myung Soo menghantamkan besi ditangannya pada kaki kanan Sungyeol. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah menahan rasa sakit yang menjalar pada kedua kakinya. Pandangannya mengabur.
Secara samar ia melihat Myung Soo kembali mengayunkan besi ditangannya kearah tubuhnya.
Sungyeol menutup matanya. Ia pasrah sekarang. Kalau ini adalah akhirnya. Maka berakhirlah.
Mian. .
Aku tak bisa menepati janjiku. .
Sung Gyu. .Hoya. .
Bisiknya putus asa dalam hati.
Sesaat lagi besi itu akan menghantam kuat tubuh Sungyeol sebelum sebuah suara berteriak keras dibarengi sebuah suara lain. Suara tembakan senjata.
Hening.
Sungyeol membeku.
Matanya terbuka perlahan dan menemukan Hoya memeluk tubuhnya erat.
Beberapa pria berseragam berlari dengan ribut disekitarnya. Ia mengalihkan pandangannya yang memburam. Myung Soo disana. Pria itu tergeletak tak jauh darinya. Beberapa orang mengerumuni pria itu. Samar2 ia mendengar pria disebelahnya berkata dengan pelan.
"ia sudah meninggal. . "
Hoya memeluknya kuat. Bibirnya membisikkan sebuah kalimat dengan yakin.
"sudah berakhir. .Sungyie. . "
Air mata menuruni kedua mata Sungyeol sebelum akhirnya semua menghitam.
.
.
xXx
.
.
.
Tiga bulan sudah berlalu sejak tragedi itu. Keadaan Sungyeol juga semakin membaik. Kakinya yang patah sudah mendekati kesembuhan total berkat penanganan yang baik dari dokter. Luka luka pada tubuhnya sudah mengering dan menyisakan bekas bekas yang akan hilang jika ia menggunakan salep yang dianjurkan dokter padanya.
Sungyeol menuruni ranjang rawatnya. Ia membuka tirai yang menutupi jendela dan membiarkan cahaya matahari yang hangat menyapa nya lembut. Matanya mengawasi setiap makhluk yang berlalu lalang diseberang sana. Hari ini adalah hari minggu dan semua orang sedang berlibur dengan keluarganya masing2, menambah ramai pergerakan dijalan jalan menuju luar kota. Sungyeol mendesah ringan. Ia ingin sekali segera keluar dari rumah sakit dan menjalani hidupnya kembali dengan normal.
"hei. .apa yang sedang kau lihat? "
Sebuah suara membuyarkan angan2 Sungyeol. ia melihat pemiliki suara yang sedang duduk diranjangnya sambil meletakkan baki sarapan pagi seperti biasanya. Sungyeol menarik nafasnya. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya melihat kondisi diluar.
"aku bosan Gyu. .aku ingin segera keluar. . "
Pria yang ternyata Sung Gyu itu menghentikan kegiatannya. Ia melangkah perlahan kearah sahabat baiknya yang memasang bibir manyun. Ia meraih bahu Sungyeol dan ikut memandangi aktivitas diluar.
"ya. .diluar sangat menyenangkan. .aku bisa membawamu kalau kau mau. . " ujarnya. Sungyeol memandang Sung Gyu tak percaya.
"jinja? " tanyanya berbinar. Sung Gyu mengacak rambut pria kurus itu.
"hmhh. .tapi kau harus ikut denganku menemui seseorang. . "
Sungyeol mengerutkan keningnya. Ia menduga duga siapa agaknya orang yang akan ditemuinya.
"baiklah. . " katanya menyetujui. Sung Gyu tersenyum senang.
"kalau begitu ayo kita bereskan semua barang mu. .aku sudah bertanya pada dokter dan dia sudah mengizinkan kau pulang hari ini. . "
Sungyeol memekik senang mendengar kalimat Sung Gyu. Ia bergerak cepat membereskan semua barangnya hingga akhirnya mengingat sesuatu.
"bagaimana dengan Hoya? " tanyanya.
"sudah jelas ia ikut dengan kita. .dia menunggu di mobil. . "
Sungyeol mengangguk paham. Ia kembali membereskan barang2nya sambil menyenandungkan sebuah lagu dengan ceria.
.
.
xXx
.
.
.
Tiga pria muda itu duduk didepan sebuah meja panjang dan berhadapan dengan seorang pria yang sedang memandang mereka dengan serius.
Sungyeol menahan nafasnya. Suasana hening kembali menyesakkan hatinya. Ia menyenggol Sung Gyu dan Hoya disebelahnya. Sung Gyu memberi tanda untuk menunggu.
Pria paruh baya yang menggunakan seragam kepolisian dengan name tag Park Jung itu menatap Sungyeol serius sebelum memulai kalimatnya.
"tuan Lee. .saya ingin menyampaikan sebuah berita pada anda. . "
Sungyeol mengangkat kepalanya. Ia membalas pandangan pria didepannya.
"sebelum itu. .bolehkah saya bertanya sesuatu. . ? " katanya. Pria didepannya seolah mengerti dan menganggukkan kepalanya.
"saya sudah menyimpan pertanyaan ini sejak tiga bulan lalu. .begitu ingin menanyakannya pada dua pria bodoh ini. . " ujarnya sambil memandang bergantian pada Sung Gyu dan Hoya disebelahnya. Dua pria itu hanya memberikan ekspresi manyun.
"tapi mereka sangat gigih menutup mulutnya. .meskipun begitu. .sangat menyenangkan melihat mereka berdua baik2 saja. .terutama sibodoh ini. .ia bersikap sok keren saat itu. . " ejeknya sambil memukul pundak Sung Gyu. Sung Gyu menyeringai lucu.
"hei. .berterimakasihlah sedikit. .aku sudah merelakan perutku dijahit sebanyak 34 jahitan. .untung kaca itu tidak melukai organ vitalku. . " balas Sung Gyu dengan nada kesalnya yang dibuat buat. Sungyeol tertawa kecil.
"arasseo Sung Gyu-ssi. .khamsamida ne. .semoga kau sehat selalu. .dan juga Hoya. .gomawoyo. . " Hoya menganggukkan kepalanya. " aku hanya melakukan hal yang seharusnya kulakukan Sungyie. . "
Kalimat Hoya membuat Sungyeol terenyuh. Ia begitu beruntung memiliki dua pria itu.
Ia kembali mengalihkan pandangannya pada pria didepannya.
"saya hanya ingin anda menjelaskannya lebih terinci. . " katanya.
Park Jung mengerti apa yang diinginkan pemuda didepannya itu.
"kau harus berterimakasih juga pada pria tua dengan bernama Han itu. .ia tak sengaja berjalan melalui cafe kalian dan melihat kondisi Cafe yang sudah berantakan. .dan melihat tubuh Sung Gyu yang berlumurah darah. . "
Pak Han. Ternyata pria itulah orang yang sangat penting dalam kejadian malam itu. Ia akan berterimakasih pada pria tua itu nanti tekad Sungyeol.
"ia segera menelpon polisi dan ambulance. .beruntung kami belum terlambat, kami membawa dua sahabatmu ke klinik terdekat. Namun pendarahan besar yang dialami Sung Gyu memaksa pihak klinik membawanya ke Seoul. Beruntung mereka bisa diselamatkan dengan luka yang sedemikian parah. Pagi harinya Hoya terbangun dan menjerit dengan keras. Ia mencari dirimu dengan gusar dan kami mencoba menenangkannya. Darinyalah kami mengetahui kau sedang diculik pria bernama Myung Soo itu"
Sungyeol meremas tangan Sung Gyu. Ia merasa takut setiap kali mendengar nama itu.
"kami mencarimu pada sepanjang malam, dan akhirnya melihatmu dalam keadaan bahaya. .hingga terpaksa melakukan tembakan itu. . "
Mata Sungyeol membulat. Ia mengingat kejadian itu dengan jelas sekarang.
"bagaimana. .keadaannya. .? " tanya Sungyeol perlahan.
"ia tewas. .pendarahan dikepala dan peluru yang menembus paru2nya membuatnya tewas seketika. . "
Sungyeol menghempaskan nafasnya berat. Ia merasakan kelegaan sekaligus kehilangan pada hatinya. Ia mempertahankan suasana hening yang tercipta beberapa saat.
"lalu. .apa yang ingin anda sampaikan pada saya? " Sungyeol memulai.
"ini akan sedikit membingungkan kita semua. .termasuk kalian bertiga. . "
Sung Gyu dan Hoya memandang penuh penasaran. Mereka mulai memasang sikap mendengarkan yang baik.
"Kim Myung Soo merupakan anak sulung yang tewas dibantai di busan 10 bulan lalu. . "
Sungyeol mengerutkan keningnya.
"tapi. .aku melihat ia sudah meninggal 3 bulan lalu. . lalu Myung Soo yang bersama ku. .wajahnya benar2 sama persis. ." ujarnya bingung.
Pria didepan mereka menghempaskan nafasnya.
"pria yang diberita itu. .adalah Kim Myung Soo yang sebenarnya. .sementara Myung Soo yang bersama mu selama ini. .polisi juga belum mengetahui identitasnya. . "
Ketiga pria muda itu membeliak.
"lalu. .lalu mengapa mereka sangat mirip? Mengapa? Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah mereka kembar? " cecar Sungyeol. Sung Gyu segera bertindak cepat merengkuh bahu Sungyeol untuk menenangkan sahabatnya itu.
"kami juga masih berusaha menemukan jawabannya Tuan Lee. .hanya saja orang itu, hanya ingin menceritakannya padamu. . "
"orang itu? Siapa? Siapa dia? Apakah ia tau mengenai Myung Soo yang bersama ku? " tanya Sungyeol tak sabar.
"ia mengaku sangat mengenalnya. .dia adalah korban dari pembunuhan itu. . "
Sungyeol sontak membeku. Kepalanya penuh dengan kebingungan yang berkecamuk.
"maksudmu. .ada seorang korban yang selamat? " Sung Gyu mendahului pertanyaan Sungyeol.
"ya. .pihak kepolisian memalsukan kematiannya untuk melindunginya. . "
Kepala Sungyeol berdenyut.
"Kim Myung Soo. .ia masih hidup. "
Sungyeol memekik. Nafasnya memburu. Tubuhnya gemetar dengan hebat. Sung Gyu memeluknya kuat.
"apa maksudnya? Berarti Myung Soo yang asli sama sekali belum meninggal? "
Hoya yang berdiam diri sejak tadi membuka mulutnya.
Park Jung mendesah kasar. Ia melihat Sungyeol yang menggigil bingung.
"ya. .dan ia sangat ingin bertemu dengan mu. .apakah kau bersedia tuan Lee? "
Sungyeol terkesiap. Bertemu Myung Soo lagi? Itu adalah hal terbodoh yang akan dilakukannya. Meskipun pria itu bukan Myung Soo yang menyakitinya selama ini. .tapi tetap saja. .
"tidak bisa. .! " Sung Gyu berteriak tertahan. " ia akan mengingatkan Sungyeol dengan orang itu. .wajah mereka sama persis! Bagaimana bisa kami membiarkan dia menemui orang seperti itu lagi. .? "
"saya juga tak setuju. .dan tolong jangan memaksanya. . " Hoya mendukung keputusan Sung Gyu. Ia tak ingin Sungyeol kembali merasa tersiksa.
Park Jung mengangguk paham.
"baiklah. .saya tidak akan memaksa. .mari kita bawa misteri ini sampai kita mati. .dan kami akan menutup kasusnya dengan segera. "
"tunggu. . " semua orang melihat kearah Sungyeol yang bersuara. Sungyeol melepaskan pelukan Sung Gyu. Ia menatap pria paruh baya didepannya dengan tajam.
"aku tak akan membawa misteri ini. . "
"Sungyie. . " Sung Gyu mengingatkan.
"jangan tahan aku Gyu. .aku akan menyelesaikan masalah ini hingga benar2 berakhir. . "
Sung Gyu mendesah kesal.
"aku tak ingin terus dibayangi masalah ini Gyu. .aku harus menghentikannya. .aku akan menemui orang itu. . "
Sung Gyu memeluk sahabatnya itu erat. Sementara Hoya meremas bahu Sungyeol menguatkan. Mereka tau sekeras apapun mereka menghalangi, Sungyeol akan tetap menemui orang itu. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mendukung dan menjaganya dengan baik.
"arasseo. .apapun yang kau inginkan. .kami akan mendukungnya. . "
Sungyeol menarik nafas lega.
Ia membalas pelukan Sung Gyu dengan kuat.
Ia siap.
Ia siap mengakhiri semuanya.
.
.
Selamat bertemu lagi. .
Kim Myung Soo. .
.
.
TBC-
Maaf kalau chapter ini sangat membosankan dan gak seru.
Author lagi kehilangan feel -_- gak tau kenapa.
Semoga bisa dimaklumi.
