CONNECTED
Wu Yifan – Huang Zitao
Cast : Wu Yi Fan / Kris – Huang Zitao / Tao – Park Chanyeol / Chanyeol – Oh Sehun
Other : Lu Han – Kim Minseok – Henry – Byun Baekhyun
Genre : Drama , Romance, Triangle Love , School Life
.
Warning : YAOI / BL / Boys Love
.
DONT LIKE DONT READ ! ! !
.
.
Chapter 6
.
.
Aku selalu kembali ke masa itu
Masa dimana aku meninggalkanmu
Hanya berputar- putar ditempat yang sama
Seperti tak rela untuk melepas
.
.
Apapun namanya, Luhan lupa bernafas. Ia berlari seperti dikejar oleh ribuan anjing polisi yang siap menerkam dari belakang. Satu tujuan yang ada dikepalanya, Kris. Ia berlari kebeberapa kelas yang mungkin saja Kris masuki pagi ini. Namun ia sama sekali tidak menemukan pemuda tampan itu. Luhan mengutuk dirinya yang lupa bertanya perihal kelas yang akan Kris hadiri. Oh Tuhan, Luhan benar- benar merasa bodoh!
Ia tak sanggup berlari lagi hingga ia terduduk disalah satu bangku besi di koridor. Gila, apakah ia bermaksud mengelilingi kampus ini untuk menemukan Kris yang barangkali sekarang telah belajar disalah satu dari ratusan kelas yang terdapat di McGill? Jangan bodoh!
"Haahhh.. haahhh..." Luhan mengusap keningnya yang berkeringat. "Oh Tuhan, Zi..Tao... mengapa aku tidak sadar saat ia memperkenalkan diri?! Bodoh!"
Luhan melihat sekelilingnya. Tidak ada tanda- tanda keberadaan Kris, apakah Kris mengambil kelas khusus di gedung lain? Shit, Luhan kembali ingat bahwa hari ini adalah jadwal terpadat perkuliahan yang Kris ambil. Kris akan pulang hingga larut malam.
"Aisshh!" Luhan menendang udara. Rasanya ia ingin mengutuk Kris yang enggan memiliki ponsel. Selama ini Kris dan ibunya berkomunikasi melalui skype, itupun menggunakan laptop Luhan. Sudah dikatakan beberapa kali bahwa Kris tidak pernah perduli dengan apapun. Ibunya pernah membelikan ponsel saat masuk McGill, namun tidak sampai seminggu ia memilikinya—barang itu sudah hilang entah kemana. Salah satu teman Kris, Henry, mengatakan bahwa Kris memberikannya pada gelandangan. Jalan pikiran Kris memang sulit ditebak.
"Luhan!"
Panggilan itu membuat Luhan melirikkan mata, Minseok berlari kearahnya. "Minseok, apa yang kau lakukan disini?"
"Oh Tuhan, professor memintaku menyusulmu. Ia bilang kau berlari dari kelas dengan wajah seperti mayat! Lihat, kau pucat sekali!"
Luhan memegang wajahnya sendiri lalu mengeluarkan cermin kecil dari dalam saku celana. "AAAH! Wajah cantikku! That bastard! I'll kill you, Kris Wu ! Ini gara- gara si bodoh Kris maka aku berlari seperti orang gila! Aagh!"
"Kris? Sepupumu yang tampan itu?"
Luhan memutar bola matanya. Selalu saja, jika sudah membicarakan Kris Wu, semua orang pasti mengatakan. Kris Wu yang tampan, Kris Wu yang pintar, Kris Wu yang keren, ataupun Kris Wu yang misterius dan mendebarkan. Semua orang memuja Kris di McGill. Hanya saja, orang yang di puja- puja itu terlalu dingin untuk menanggapi semuanya. Terlalu malas memikirkan kata- kata baik menyangkut dirinya, sedang Kris tenggelam pada pemikiran satu manusia saja.
"Agh! Zi Tao... dia disini, Minseok!" Luhan berteriak kesal.
"Hah? Siapa Zi Tao?" Minseok sama sekali tidak mengerti. Rasaanya ia tidak pernah mendengar nama itu. Apalagi ia sangat dekat dengan Luhan.
Luhan menghela nafas panjang kemudian menatap sahabat baiknya dengan intens. "Jika Kris itu setan, maka Zi Tao adalah air sucinya."
.
.
.
Tao baru saja keluar dari kamar mandi, rasanya tubuh lelah tadi kembali pulih. Tao sudah membersihkan diri. Bahkan sudah berganti dengan baju bersih yang wangi. Ia belum menyusun barang- barangnya, sedangkan Sehun sudah melakukannya sejak masuk kedalam kamar. Kini, pemuda berwajah dingin itu sudah tertidur pulas diatas ranjang. Sehun pasti lelah, ia bahkan langsung tidur tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Tao kemudian berjalan kearah koper miliknya, kemudian membuka koper tersebut. Ia melakukan segalanya perlahan- lahan, agar Sehun tidak terbangun. Tao menyusun pakaiannya masuk kedalam lemari. Beruntung ia dan Sehun memiliki lemari pakaian sendiri- sendiri, sehingga pakaian Tao yang lumayan banyak bisa muat semua didalam lemari. Tao tersenyum ketika ia memegang satu kemeja, kemeja Wufan. Pemuda manis itu lalu meletakkan kemeja itu diatas ranjangnya, tidak menyimpannya didalam lemari. Kemudian ia mengangkat koper kosong tersebut dan meletakkannya diatas lemari. Tao tidak kesulitan karena koper itu kosong dan ringan. Apalagi tubuhnya yang tinggi mempermudah segalanya.
Tao menyusun meja belajarnya agar rapih dan meletakkan barang- barang yang biasa ia pakai disana. Ingat akan sesuatu, Tao mengambil ponselnya didalam tas kemudian menekan nomor telpon yang ia hapal. Senyuman tidak lepas dari bibir tipis Tao.
-"Tao! Akhirnya kau menghubungiku!"-
Teriakan itu yang menyambut pendengaran Tao, "Awww... Chanyeol, Jangan berteriak~"
-"Oh Tuhan! Aku merindukanmu, sungguh! Apakah kau baik- baik saja? Kau sudah makan? Disana kau tidak sendirian, kan? Ingat, kau tidak boleh mempercayai orang dengan mudah! Aku tidak ingin kau terluka! Ah, kau tinggal dimana? Apakah tempatnya aman?"-
Tao memutar bola mata, Chanyeol memang selalu seperti ini. "Chanyeol, tenang. Aku baik- baik saja."
-"Tapi—"-
"Trust me, okay?"
Terdengar desahan nafas diseberang sana. -"Okay."-
"Aku baru sampai sekitar 2 jam yang lalu dan kini sedang berada dikamar asrama." Jelas Tao kemudian duduk diatas ranjang.
-"Asrama? Apakah kau memiliki teman sekamar?"-
"Ya.. aku kira hanya aku sendiri yang terpilih dari Tsinghua, ternyata ada mahasiswa lain yang juga terpilih dan aku sekamar dengannya."
-"Oh, ya? Namanya siapa?"-
"Hmm.. namanya Sehun. Nampaknya ia bukan orang China.."
-"Ya, itu nama korea, princess peach."-
Tao kemudian melirik Sehun yang masih tidur diranjangnya, ranjang mereka berseberangan. "Ternyata aku dikelilingi oleh orang Korea, ya.. haha.. Chanyeol, Baekhyun, Jongin, dan Jongdae...haha... aku... sudah merindukan kalian.."
-"Taoooooo!"- kali ini suara Baekhyun yang terdengar.
"Baekhyun!"
-"Ahh, katakan sesuatu. Chanyeol sekarang sedang menangis~"- Baekhyun berucap sembari tertawa.
-"Baekhyun, kau belum pernah merasakan pitingan mautku, ouh?"- Chanyeol berteriak.
-"Tao! Selamatkan aku! Chanyeol, lepaskan! Kau serius?! AAAAHH!"-
Tao tersenyum, rasa rindu kembali ia rasakan. Ia mungkin terlalu lemah, hanya saja ia sangat merindukan kelakar Baekhyun dan kehangatan Chanyeol.
-"Tao.. Tao... Kau masih disana?"-
"Y—Ya!" Tao menghapus air matanya, ia sudah menangis. Namun ia tahan suara lirih, agar Baekhyun dan Chanyeol tidak tahu bahwa ia sedang menangis. Bodohnya, baru sampai disini saja Tao sudah merasa lemah. Ini kali pertamanya ia sendirian. Tanpa seorangpun yang ia kenal mendampingi.
-"Kau sudah bertemu Wufan?"- pertanyaan Chanyeol membuat Tao sedikit tersentak.
"Aku baru 2 jam berada disini, Chanyeol.. bagaimana mungkin aku sudah bertemu dengan Wufan?"
-"Jika ia menyakitimu, aku akan membunuhnya."-
Tao tidak bisa menahan senyuman, "Kau bercanda ter—"
-"Tidak, Tao. Aku serius."-
Mata Tao mengerjap lalu ia mengerucutkan bibir. Chanyeol nampaknya memang serius ingin membunuh Wufan. "Tidak akan ada yang saling menyakiti lagi, Chanyeol. Bukankah aku menjanjikan kebahagiaanku padamu?"
-"Aku takut kau bertemu dengan Wufan."-
Deg
Chanyeol ternyata belum sepenuhnya berubah. Tao mengerti, Chanyeol pasti sangat mengkhawatirkan dirinya. Tao tidak akan marah. "Lihat? Aku masih menghubungimu begitu sampai di McGill. Chanyeol.. kau sahabatku, aku tidak akan melupakanmu dan aku tidak mau itu terjadi."
Terdengar helaan nafas panjang. -"..Ma-Maaf, aku belum terbiasa— tanpamu."-
Entah reflek apa, Tao mengangguk. Ia juga merasakan hal yang sama. "Aku juga.. tetapi kita akan berusaha, bukan? Kita terpisah bukan karena kita ingin meninggalkan satu sama lain. Kau harus ingat itu."
Chanyeol tidak menjawab, Tao tahu bahwa pemuda tampan itu mungkin kini sedang berusaha untuk menahan emosi. "...Su—Sudah malamkah disana? Mana Baekhyun?" tanya Tao mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya. Baekhyun saat ini bersama Jongin." singkat memang, akan tetapi Tao tahu bahwa Chanyeol sudah sangat berusaha untuk berbicara dengan nada normal.
"Beristirahatlah. Aku akan mencari makanan.. disini masih pukul 12 siang."
-"...Tuhan akan selalu menjagamu, Tao."-
"Begitu juga dengan dirimu, Chanyeol."
-"Hubungi aku apapun yang terjadi."-
"Baik.. sampai nanti."
Tao memutuskan sambungan telponnya. Ia menghela nafas panjang- panjang lalu menghapus air matanya. Ia bukanlah pemuda yang cengeng, ia pasti bisa melewati hal ini seorang diri. Ia sudah berada di Kanada, maka ia harus berusaha! Ia tahu tidak akan mudah mengembalikan perasaan seseorang seperti semula, akan tetapi... tidak ada salahnya untuk dicoba, bukan?
Pemuda manis itu berdiri, lalu meletakkan ponselnya diatas meja. Ia menggapai dompet dan mengambil selembar tissue untuk membersihkan wajah. Ia bermaksud membeli makanan kebawah. Lagipula ia tahu letak kantin di asrama tersebut. Dengan mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaos lengan pendek berwarna merah, Tao keluar dari kamar.
Blam
Bunyi pintu kamar tidak terlalu keras, akan tetapi mata tajam Sehun membuka seketika. Entah ia terbangun karena bunyi dentuman pintu atau... dari tadi ia tidak benar- benar tidur?
Sehun duduk diatas ranjangnya, senyuman licik nampak tersungging dibibir pemuda tampan berkulit putih tersebut. Ia bangkit dari sana dan berjalan menuju meja belajar Tao. Tanpa rasa takut, ia gapai ponsel Tao dan menyentuh layar touchscreen-nya. Sehun semakin yakin bahwa Tao memang bodoh, ia bahkan tidak memiliki pengaman atau password untuk melindungi ponselnya. Sehun membuka beberapa kontak dan email di ponsel Tao, tetapi tidak ada yang menarik. Hingga ia membuka galery photo di ponsel itu.
"Dia punya kekasih rupanya." komentar Sehun saat melihat foto- foto Tao dengan Chanyeol. Tao memang tidak menghapus satupun fotonya bersama Chanyeol, memang tidak terlalu banyak. Akan tetapi, beberapa foto terlihat begitu intim. Bahkan ada salah satu foto mereka berciuman di bibir.
-"Aku baru 2 jam berada disini, Chanyeol.. bagaimana mungkin aku sudah bertemu dengan Wufan?"—
Sehun ingat ucapan Tao saat pemuda manis tadi sedang menelpon, yah—Sehun memang mencuri dengar. Ia hanya pura- pura tertidur.
-"Lihat? Aku masih menghubungimu begitu sampai di McGill. Chanyeol.. kau sahabatku, aku tidak akan melupakanmu dan aku tidak mau itu terjadi."—
Seringai nampak tersungging dari sudut bibir pemuda tampan bermata tajam tersebut. Ia kembali meletakkan ponsel Tao diatas meja. "Well... aku jadi penasaran padanya..."
.
Sehun kembali berbaring diatas ranjang, "..sepertinya kau cukup menarik, Huang Zi Tao."
.
.
.
Kris melihat jam tangannya, masih pukul 12 siang dan kelasnya baru saja usai. Pemuda bertubuh tinggi dengan wajah rupawan itu bangkit dari kursinya. Diikuti oleh Henry yang kebetulan juga sekelas dengan Kris.
"Kau akan kemana setelah ini?" tanya Henry mengikuti Kris.
"Perpustakaan."
"Kau pemuda yang membosankan!"
Kris tidak menjawab, tetap diam dan berjalan dengan tenang. Henry menghela nafas panjang, walau ia mengeluh tetap saja ia mengikuti Kris ke perpustakaan. Mereka akan ada kelas satu jam lagi dan menunggu sendirian akan sangat membosankan. Mau tidak mau, Henry akhirnya mengikuti Kris.
"Hey, kau tahu tentang mahasiswa baru dari Tsinghua?"
Kris mengangguk singkat, "Apakah mereka sebegitu terkenalnya?"
"Hahaha! Bagaimana tidak? Judy sangat ribut tadi pagi, katanya saat ia akan keluar dari asrama, ia melihat dua mahasiswa dari Tsinghua itu. Ia heran karena ia pikir orang asia itu pendek- pendek.. hahahaha!"
Kris memutar bola mata, "Aku contoh nyatanya, bukan?"
"Kau 'kan keturunan Canada! Huh!"
Mereka masuk kedalam perpustakaan, namun Henry nampaknya tidak berniat untuk berhenti bicara. "Judy juga mengatakan bahwa salah satunya terlihat sangat seksi~ wajahnya manis seperti perempuan."
"Aku tidak akan heran karena aku tinggal bersama Luhan."
"Luhan itu wajahnya saja yang cantik, mulutnya tajam sekali."
Kris mengangkat bahu kemudian memilih buku yang akan ia baca. Ia sebenarnya tidak tertarik dengan ucapan Henry tetapi ia terlalu malas untuk menyuruh Henry diam, maka ia membiarkan temannya yang lumayan cerewet ini berbicara. Kris menuju salah satu bangku dan duduk disana.
"Aku tidak tahu pasti, hanya saja Judy menyebut salah satu anak dari Tsinghua itu dengan 'Sexy Panda'. Hahahaha!"
Deg
Gerakan tangan Kris terhenti saat itu juga, itu membuat Henry sedikit tersentak karena Kris kini menatapnya lurus tepat dimata. Henry bahkan meneguk liur paksa karena tatapan mata Kris sungguh tajam.
"Apa kau bilang?"
"Ha?" Henry mengerjapkan mata.
"Panda—kau bilang tadi.. 'Sexy Panda'..."
Henry mengangguk. "Judy yang memberi julukan mesum seperti itu, bukan aku! Hey—tumben sekali kau tertarik..."
Kris kembali mengalihkan pandangan mata menuju buku yang terbentang dihadapannya. Panda—mengingatkan Kris pada satu sosok yang selama ini ia candui. Apakah panda yang dimaksud oleh Judy... adalah—
Tidak mungkin!
Kris menghela nafas panjang, ia menggeleng pelan. Tidak mengacuhkan pertanyaan Henry yang bertanya mengapa Kris tertarik. Pemuda rupawan itu larut dalam pikirannya sendiri. Tidak mungkin yang dimaksud dengan panda itu adalah Zi Tao, kan? Memangnya atas dasar apa ia langsung mengaitkan segalanya dengan Zi Tao. Berhentilah, Kris. Zi Tao tidak akan datang. Ia tidak akan pernah memilihmu selama Chanyeol berada disisinya. Tao tidak akan pernah menempatkannya diposisi tertinggi seperti yang Kris lakukan. Hingga kini, nama Zi Tao adalah nama yang paling ia ingat. Tidak pernah ia lupakan, seperti bernafas.
Deg
Kris mengepalkan tangannya. Ia kembali menahan rasa rindu itu hingga dadanya terasa sesak dan ngilu luar biasa. Semua kenangan tentang Zi Tao menyakitkan, menyakiti dirinya seperti tak berharga. Setiap ia mengingat nama itu, luka baru akan muncul. Rasa tak dianggap dan ditinggalkan akan menguasai Kris.
"A—Aku akan ke toilet sebentar."
Kris bangkit dari tempat duduknya, membuat Henry heran dengan tingkah laku Kris. Ia sempat melihat tangan Kris yang bergetar halus. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kris? Henry hanya mengangkat bahunya dan mulai membaca buku yang ia ambil.
.
.
Jangan usik lagi—
Jika kau memang tidak bisa untukku
Biarkan aku mati sendirian
Aku tidak perlu belas kasihanmu
.
.
Blam
Kris menutup salah satu bilik kamar mandi yang ia masuki. Ia langsung bersandar pada pintu kamar mandi, mendongakkan wajahnya keatas. Sesak yang ia rasakan menekan dadanya. Keringat dingin mengaliri pelipis Kris. Tangannya gemetaran dan kakinya kram. Ia benci—ia benci ini. Ia sempat menduga bahwa ia mungkin saja juga mengidap Anxiety Disorder seperti Chanyeol. Karena rasa takut yang ia rasakan seperti menghantui. Ia tidak bisa tidur dengan tenang, mimpi buruk, dan mudah sekali terhasut emosi jika mengingat Tao.
Mengapa melupakanmu seperti mengambil seluruh hidupku?
Tangannya menggapai sesuatu dari dalam saku celananya, Kris terduduk diatas kloset. Ia langsung menelan beberapa pil sekaligus. Menelan kasar tanpa air. Nafas Kris terdengar berantakan. Ia tidak menyukai ini, ia tidak mau menjadi selemah ini. Padahal ia tidak pernah kambuh jika berada di kampus, gejala itu akan terasa ketika ia bangun dari mimpi buruk ataupun ketika ia tidak bisa tidur.
"..Haahh... haa..." Kris mencoba bernafas normal. Rasa menyiksa ini ingin sekali ia buang jauh. Tetapi ia tidak akan pernah sanggup membuang Tao dari ingatannya. Apakah tubuhnya sudah sampai pada batas sesungguhnya?
"T—Tao.. haahh.. Tao... aku hancur... kehidupanku hancur... haahh..." Kris meremas kasar rambutnya dengan kedua tangan. "Aku membutuhkanmu.. Aku merindukanmu—Aku benci keadaanku yang lemah tanpamu.."
Wajah pucat Kris basah karena keringat.
"Tao—
.
—Dengarkan aku."
.
.
.
"Uhukk!" Tao menepuk dadanya agak keras. Sehun yang berada didepan Tao langsung memberikan segelas air mineral. Tao langsung meminum air mineral itu hingga habis setengahnya. "Te—Uhuk—terima kasih, Sehun-ah."
"Jangan makan sambil melamun." Ujar Sehun kembali menyuap makanannya. Tao mengerucutkan bibir lalu mengusap mulutnya yang basah.
"Aku tidak melamun, tiba- tiba saja aku tersedak."
Sehun mengangkat pundaknya tidak perduli, mereka memang sedang makan siang didalam kamar asrama. Tao membelikan makanan untuk Sehun saat tadi ia turun kekantin. Kini mereka makan bersama dimeja kecil antara tempat tidur mereka. Tao kembali melanjutkan makannya walau pikiran ia melayang. Sehun yang tahu tatapan kosong Tao langsung mengayunkan tangannya didepan wajah Tao.
"Jangan melamun lagi."
Tao mengunyah dengan bibir mengerucut. "Sehun sendiri tidak mengatakan apapun padaku. Kita terlalu diam."
"Memangnya kau mau kita bicara apa? Kau sudah tahu namaku, bukan?"
"Hm.. Kita akan tinggal bersama dalam waktu yang cukup lama. Aku ingin kenal Sehun lebih banyak."
Gerakan tangan Sehun terhenti, matanya yang tadi menatap makanan kini teralih pada Tao yang menyuap makanannya. Pemuda tampan bermata tajam itu kemudian mengamati Tao. Memang, ia merasakan suatu perbedaan pada pemuda manis ini. Sehun sebenarnya tidak menyangka Tao akan sekalian membelikannya makanan bahkan menunggunya hingga bangun untuk makan siang bersama. Entah terlalu baik hati atau seperti apa—tapi nampaknya Sehun benar- benar tertarik pada Zi Tao.
"Kau akan tahu perlahan- lahan, lebih baik kau tahu namaku dulu."
Tao hanya mendesah pelan lalu melanjutkan makannya. Sehun sama sekali belum bergerak, matanya tetap terpaku pada sosok Tao dihadapannya. Pemuda manis itu tidak sadar karena terlalu fokus pada makanannya. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya sosok Sehun tidak sebaik apa yang terlihat.
Karena seorang Oh Sehun tidak akan pernah melepas targetnya jika ia sudah tertarik pada seseorang.
Zi Tao—janganlah terlalu baik.
Jika kau tidak ingin terluka lagi.
"Tao-ya."
"Hmm?" Tao mengangkat wajahnya melihat Sehun sambil mengunyah.
"Bagaimana jika setelah makan kita pergi ke McGill. Tidak ada salahnya melihat- lihat gedung universitas baru kita, bukan?"
Tao mengangguk cepat. Memang itu yang akan ia lakukan. Walau Tao sama sekali belum beristirahat, ia tidak perduli. Ia ingin secepatnya bertemu dengan Wufan! Dia ingin mencari Wufan secepat yang ia bisa. Jadwal perkuliahannya akan dimulai besok dan ia yakin akan sibuk.
"Aku mau!"
.
.
.
"Katanya dia pergi ke toilet." Jawab Henry singkat.
"Ha? Astaga, mengapa sulit sekali menemuinya hari ini!" Luhan berteriak frustasi. Henry langsung menarik tangan Luhan untuk menjaga suaranya. Bagaimanapun mereka berada diperpustakaan. Luhan terkekeh lalu duduk disalah satu kursi.
"Memangnya ada apa? Tumben sekali kau mencari Kris."
Luhan menghela nafas pelan. "Ini rahasia negara! Yang akan kuberitahukan adalah kabar baik!"
"Tapi sepertinya keadaan Kris sedang tidak baik. Sebelum pergi ke toilet aku melihat tangannya bergetar."
Luhan mengerutkan keningnya. "Ha?"
"Apakah dia sakit? Nafasnya tadi juga tidak teratur."
"Kau serius?"
"Terlihat bercanda?"
Luhan langsung berlari dari sana meninggalkan Henry yang hanya bisa menghela nafas panjang. Pemuda berwajah tampan sekaligus manis itu kembali melanjutkan kegiatannya membaca buku.
.
.
Tao dan Sehun keluar dari gedung asrama Halevey, Tao nampak antusias berjalan menuju McGill. Memang sebentar jika ditempuh dengan jalan kaki. Cuaca yang lumayan panas seperti tidak ada pengaruhnya karena Tao nampak begitu ceria.
"Kau mencari seseorang?"
Tao langsung melirik Sehun yang berjalan disampingnya. "Kau tahu darimana?"
"Hanya menebak."
Tao tersenyum tipis lalu mengangguk. "Ya, begitulah."
"Siapa?" Sehun benar- benar tidak tahu basa- basi.
Tao menggigit bibir bawahnya lalu mengangkat bahu. "Kau akan tahu perlahan- lahan, lebih baik kau tahu namaku dulu."
Sehun memutar bola mata, malas. Tao menyontoh kata- katanya tadi. Baiklah, sepertinya Tao memang bukanlah pemuda yang bisa dengan mudah Sehun taklukan. Mereka berjalan tanpa pembicaraan sepatah katapun. Hingga kaki mereka melangkah masuk kedalam gerbang Universitas.
Deg
Dada Tao berdesir, Wufan pasti ada disana. Disuatu tempat pada bagian universitas itu. Mata indah Tao mengelilingi sembari berjalan. Banyak sekali mahasiswa yang berlalu lalang disana. Gedung universitas nampak lumayan tua namun tetap saja megah dan bersahaja.
Akan tetapi, baru beberapa langkah ia berjalan diwilayah universitas—
Deg
"Eh?" langkah Tao terhenti.
Sehun yang berjalan disamping Tao ikut menghentikan langkahnya, mengerutkan kening heran saat melihat wajah Tao yang tiba- tiba menegang. Sehun mendekati pemuda panda yang kini memegang dadanya.
"—Tao, kau baik- baik saja?"
Tao tidak menjawab, mata nanar itu tidak fokus dan terlihat kosong. Nafas Tao tiba- tiba terdengar berantakan. Merasa Tao tidak baik, Sehun membawa pemuda panda itu duduk disalah satu kursi taman dibawah pohon rindang. Sehun melihat tangan Tao bergetar hebat.
"Tao?"
.
.
Luhan berjalan cepat nyaris berlari, masuk kedalam toilet laki- laki. Firasatnya tidak enak, ia membuka beberapa bilik kamar mandi namun semuanya kosong, tinggal satu bilik yang terletak dipaling ujung toilet tersebut. Luhan menghela nafas panjang.
"Kris—" Luhan berdiri tepat didepan pintu bilik itu. "Kau didalam, kan?"
Tidak ada jawaban.
"Kau baik- baik saja?"
Masih tidak ada jawaban.
Luhan lalu memegang ganggang pintu dan mengayunkannya, akan tetapi pintu itu terkunci dari dalam.
.
.
Tao merasakan tubuhnya bergetar, ia sesak nafas. Mengapa semuanya terlalu tiba- tiba. Keringat dingin itu menandakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Jantungnya menggigil.
"Ugh.."
Tao tidak menyangka air matanya jatuh begitu saja, Sehun membulatkan mata melihat Tao yang kini menangis. "Hey—Tao, apa yang terjadi?"
Pemuda manis itu tidak bisa menjawab karena ia tidak tahu. Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, ia tidak mengerti! Mengapa tubuhnya jadi seperti ini? Mengapa ia menangis? Mengapa ia ketakutan?
Deg
Hingga—satu nama ia ingat...
"..Wu..Wufan..."
.
.
Luhan mundur satu langkah, ia menghela nafas panjang. "Aku tahu kau ada disana, hey, Kris buka—"
Ucapan Luhan terhenti.
Mata bulat itu melebar sempurna saat melihat cairan merembes dari celah pintu bilik.
Cairan berwarna merah dengan bau besi.
"K—Kris."
Luhan menggeleng, "Kri—KRIS! OH GOD, NO! KRIS!"
Apa yang terjadi?
Sekuat tenaga Luhan mencoba mendobrak pintu itu, "HELP ME! SOMEBODY HELP ME!"
Bodoh, ini bukan jalan keluar!
.
.
Sehun mulai panik karena Tao tidak berhenti menangis, pemuda tampan itu merasa tidak enak karena beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka.
"Tao.. kumohon berhenti menangis! Hey... mengapa kau seaneh ini!" Sehun mengusap pundak Tao dengan lembut. Tao terisak cukup keras, mau tak mau Sehun merangkul Tao agar pemuda itu tenang. Namun, keanehan yang Sehun lihat—
Tao menggenggam pergelangan tangan kirinya...
"Sakit—"
"Eh?" Sehun mengerutkan keningnya.
"Sakit..." Tao menatap pergelangan tangannya. "Ini sakit—"
.
Sampai—
Perasaanmu sampai—
Namun mengapa kau memilih untuk mengakhiri?
.
Keributan lain menyentak kedua pemuda itu, Tao mendongakkan wajahnya. Melihat kerumunan orang keluar dari sebuah toilet laki- laki yang terdapat beberapa meter cukup jauh dari tempat mereka. Sehun langsung berdiri diposisi, sedangkan Tao masih duduk disana. Kerumunan orang itu, lebih dari 5 orang mahasiswa, membopong seseorang bersama- sama.
"What's that?" gumam Sehun.
Tao ikut berdiri disamping Sehun. Semua orang nampak panik sekali, Tao berjalan mendekat akan tetapi ia terhenti saat kerumunan itu berjalan kearah mereka.
Deg
Seketika, mata Tao menangkap tangan yang terkulai, tangan seseorang yang terkulai. Seseorang yang dibopong oleh mahasiswa- mahasiswa itu. Sayatan terlihat dipergelangannya. Tao memucat.
Deg
Ia tidak bisa melihat orang yang diangkat menuju ambulance itu, ia tidak melihat karena disana terlalu ramai dan panik. Terlalu banyak teriakan panik dan suara. Darah tercecer dan puluhan orang yang berada didekat sana terlihat tegang. Suara ambulance bahkan tidak masuk kedalam pendengaran Tao, ia terpaku.
Hingga—
"..Kris, why.. why.. hiks.."
Luhan berlari melewati Tao begitu saja, tubuh Luhan bersimbah darah. Ia menangis tersedu- sedu dan keadaan Luhan kacau. Pemuda cantik itu berlari kearah ambulance dengan tergopoh- gopoh. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Tao tidak sadar ambulance itu sudah pergi dari sana.
Deg
Tao masih merasakan nafasnya sesak sekali.
Tetapi—
"..Kris?" gumam Tao.
Tao tidak tahu, nama siapa itu. Ia tidak tahu, siapa yang kini sedang meregang nyawanya. Ia tidak tahu—
Mengapa nama itu berputar- putar didalam kepalanya.
"Kris.. siapa?"
.
Sedangkan, pemuda tampan bernama Sehun itu membeku ditempat. Ia ingin mengutuk bumi ketika melihat sosok mungil bersimbah darah itu berlari masuk kedalam ambulance. Sosok yang ia kenal baik dulu dimasa lalu.
Dan bukanlah orang yang menoreh kenangan baik dihati Sehun.
"..dia disini?"
Suara Sehun berubah lirih.
Namun, semua itu hanya sesaat. Wajah tampan Sehun menegas dan mata itu berbahaya. Kebencian tergambar jelas disana. Kepalan tangan Sehun adalah bukti bahwa pemuda itu menahan emosi yang ingin menyeruak.
"..Xiao Lu."
Nampaknya pemuda tampan itu tidak terpaku terlalu lama, ia berjalan kearah Tao yang masih termenung. Memegang pergelangan pemuda manis itu dan berdiri dihadapannya. Mata Tao yang tadinya tidak fokus kini tertaut dengan mata Sehun. Wajah Tao sangat pucat.
"Sepertinya kita harus kembali keasrama. Wajahmu pucat sekali." ajak Sehun.
Tao mengangguk sebagai jawaban. Mereka berdua kembali keasrama. Tao dan Sehun hanya diam sepanjang jalan. Mereka nampaknya tidak memiliki topik untuk dibicarakan. Apalagi Tao yang makin hanyut dalam pemikirannya. Ia tidak bisa lupa dengan apa yang lihat. Sayatan dipergelangan tangan kiri orang tersebut. Apakah di bunuh diri? Apakah orang itu selamat?
Tao mengusap lagi pergelangan tangan kirinya yang tadi sempat sakit luar biasa.
"Tao, sampai kapan kau akan diam disana?"
Suara Sehun menyentak Tao, ia mengerjapkan mata dan sadar bahwa ia berhenti melangkah. Kini ia berada tepat didepan pintu asrama mereka. Sehun mengerutkan keningnya saat melihat Tao seperti orang linglung. Ia tidak fokus pada apapun.
"Kau baik- baik saj—" ucapan Sehun terpotong saat mereka melihat Prof. Zhou Mi keluar dari pintu asrama. Ia nampak sangat terburu- buru hingga tidak menyapa Tao dan Sehun. Sepertinya mahasiswa yang melakukan percobaan bunuh diri tadi adalah salah satu penghuni asrama. Tao menghela nafas panjang lalu berjalan mendekati Sehun, bermaksud melanjutkan langkah menuju kamar asrama.
Tetapi—
"Zi Tao."
Tao mendengar panggilan dari arah belakang, pemuda manis itu berbalik cepat dan melihat Zhou Mi berdiri beberapa meter dihadapannya. Sepertinya professor muda itu menghentikan langkah karena mengingat sesuatu.
"Yes. professor?"
Zhou Mi kemudian berjalan satu langkah mendekati Tao. Wajah Zhou Mi sangat cemas dan pucat. Sehun hanya melipat tangan didada. Sejujurnya iapun sedang jengkel. Ia ingin tidur saja, akan tetapi ia tidak bisa langsung masuk kedalam asrama karena keadaan Tao nampaknya sedang tidak baik. Bukan karena ia mencemaskan Tao, jika terjadi apa- apa pada Tao ia juga akan susah sendiri.
"Kurasa kau harus ikut denganku, Mr. Huang."
"Eh? Kemana?" Tao mengerutkan keningnya.
Zhou Mi tersenyum tipis. "Aku sudah memeriksa nama penghuni asrama dan kau mencari mahasiswa yang bernama Wu Yi Fan, bukan?"
Mata Tao melebar, ia mengangguk cepat- cepat. "Apakah ada, professor?"
Zhou Mi mengangguk. "Maka dari itu—lebih baik kau ikut denganku."
"Ke Universitas, ya?" Tao terlihat riang dan itu membuat Zhou Mi jadi tidak tega.
"Bukan."
"Ha? Memangnya Wufan berada dimana?" Tao memiringkan wajah, tanda bingung.
Sungguh, Zhou Mi tidak tega menjelaskannya pada Tao. Wajah anak itu terlihat sangat bahagia ketika mendengar nama Wu Yifan. Apalagi nampaknya Wu Yifan itu sudah lama ia cari. Namun, takdir tidak pernah mengenal belas kasih.
"Dia tidak memakai nama itu untuk urusan Universitas akan tetapi daftar nama di asrama ini berdasarkan akta kelahiran."
Tao makin tidak mengerti.
"Wu Yi Fan yang kau cari itu adalah...
.
.
...Kris Wu—"
.
DEG
.
Wajah ceria Tao berganti dengan ketegangan dan ketakutan. Pucat seketika, layaknya kertas putih.
Nama itu—nama itu...
"K...Kri..s...?"
.
"Kris Wu—ia melakukan percobaan bunuh diri baru saja."
.
Tao tidak merasakan tubuhnya.
"Bisakah kau ikut, Huang Zi Tao?"
Tao tidak pernah membenci dirinya sendiri lebih dari ini.
.
Mengapa tidak mau menunggu sebentar lagi?
Haruskah kau membuatku membenci diri sendiri?
.
Continue
.
Saya ga tahu mau ngomong apa cuma berharap pembaca sekalian mengerti mengapa saya memberi judul sequel ini CONNECTED. Karena yang saya jadikan inti di sequel ini adalah ikatan batin dan ikatan hati saat kris dan tao tidak sedang bersama.
Tapi tenang aja, chapter depan kris dan tao udah ketemu /YEEEYYYY/
Maaf ya menunggu lama, terima kasih atas dukungan saran dan masukan buat cerita saya yang sangat aneh dan labil ini. setelah membaca berkenan memberi saya masukan agar saya tahu kekurangan cerita ini.
SAYA SEDANG INTERNSHIP JADI NGEDIT CERITANYA TERBATAS BGT KARENA WAKTU SAYA YANG SEDIKIT. Maklumi yah teman- teman ;;A;;
Sekian dulu,
Barbie Huang /FUTURE WIFE OF PARK CHANYEOL/ AMEN
