Daniel menatap jalan raya dari jendela mobil Hyeongseop, melamun. Ia melihat rintik hujan yang mulai turun membasahi jalan, ia melihat beberapa pejalan kaki yang mulai berlari menghindari hujan. Kemudian mata Daniel terpejam, membayangkan kejadian yang baru tadi ia alami.

Hyeongseop yang melihat Daniel, hanya bisa menggeleng-geleng kepala. 'Ada apa lagi dengan anak ini.'

Hyeongseop inisiatif menyalakan radio di mobilnya, lagu I'm In Love milik Narsha baru memulai intro awalnya. Hyeongseop ingin mengganti channel radionya, namun ia kaget melihat Daniel tiba-tiba memegang tangannya.

"Biarkan lagu ini selesai dulu.." Kata Daniel. Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya ke jalan raya.

Hyeongseop menatap Daniel, heran melihat tingkah Daniel. Namun, ia akhirnya membiarkan lagu itu berputar. Hyeongseop juga terbawa oleh lagu Narsha tersebut, ringan dan membuat hati merasa lebih baik. Ia menatap Daniel lagi, kemudian mengalihkan pandangan ke depan.

Daniel memejamkan matanya, meresapi tiap lirik lagu yang di dengarnya.

sashireun cheom bwasseul ttae buteo geudael joha haedago
mara giga naegen cham eoryeo watdeon geojyo
meonjeo yeonrak haji aneunmyeon geudael nochil kkabwa
geuljareul sseugo ddobogo ji ugil banbok haetjyo

gipeo jimyeon sangcheo ppunil georaneun saenggake
duryeo umi apseon geon sashiri jiman
ganjeoran mameuro gido hago baraetdeon sarami
geudae rago nan mideoyo

Ooh~ I'm in love Ooh~ I'm fall in love
duryeobjin andeyo geudaewa hamgge ramyeon
sesangeun neomu areum dabjyo

[Indo-trans]

Sesungguhnya setelah pertemuan pertama kita
Lalu mengatakan aku menyukaimu
Itu bukanlah sesuatu yang mudah bagiku

Jika saja aku tidak mendekatimu duluan
Aku takut akan kehilanganmu
Saat aku menulis pesan, sedikit ragu-ragu lalu aku menghapusnya lagi
Aku mencoba mengulanginya lagi dan lagi

Kalau cintaku untukmu begitu dalam
Itu hanya akan menyakitiku
Karena sebenarnya yang ku fikirkan lebih menakutkan

Aku berdo'a dengan segenap hatiku, bahwa orang yang kuharapkan
Untuk ku percayai adalah dirimu

Woo… aku jatuh cinta
Woo.. aku jatuh cinta
Aku tidak pernah merasa takut
Selama aku bersamamu
Dunia terasa sangat Indah

'Apakah ini benar ?' Daniel berfikir dalam hatinya. Kembali mengembalikan ingatannya tentang beberapa kejadian tadi sore.

Klinik Hewan milik Seongwoo sore tadi.

"Itu.." Daniel menunjuk kearah lorong.

Seongwoo melihat arah yang ditunjukkan Daniel, kemudian tertawa.

"Oh, kucing ya.." Seongwoo melihat deretan rak kaca di ujung lorong.

"Hya, boleh aku melihat mereka. Aku benar-benar, sangat ! menyukai kucing." Daniel tampak antusias.

"Kenapa hanya melihat jika kau bisa memegangnya?" Tanya Seongwoo. "Ayo.." lanjutnya.

Daniel mengikuti Seongwoo antusias, dengan cepat Daniel membuka rak kaca itu kemudian mengambil kucing jenis persia berwarna putih. Daniel kemudian menggendong kucing itu, ia mencium kucing itu. Daniel gemas dengan bulu-bulu kucing yang halus itu.

"Banyak sekali kucing disini.. wah.." Daniel takjub melihat kucing-kucing lucu di klinik Seongwoo.

"ada beberapa milik orang lain, tapi selebihnya mereka milikku." Seongwoo membuka salah satu rak kucing, kemudian mengambil kucing berwarna abu.

"Ini adalah poppo, kucing kesayanganku. Aku sudah memelihara poppo semenjak poppo dilahirkan oleh induknya." Jelas Seongwoo.

Daniel tersenyum, kemudian mengangguk.

Cukup lama mereka bermain dengan kucing-kucing di klinik hewan milik Seongwoo. Hingga akhirnya muncul suara dari perut Daniel yang keroncongan. Mereka kaget, kemudian Seongwoo memandang Daniel.

"Kau belum makan ya?" Tanya Seongwoo.

Daniel hanya mengangguk, malu.

"Aku beli makan dulu ya, makan disini saja." Usul Seongwoo.

"Eh, tidak.. tidak perlu, aku akan kembali ke temanku saja." Daniel menolah, tidak enak dengan Seongwoo.

Daniel menaruh kucing yang ia pegang kembali ke dalam rak. Mengelus kucing itu sebentar, kemudian menutup raknya. Ia menatap Seongwoo.

"Kalau begitu aku balik saja ya.. Mungkin juga temanku sudah selesai dengan urusannya." Kata Daniel kemudian.

Seongwoo menatap Daniel, masih sambil menggendong kucing bernama poppo, "Bagaimana kalau aku memaksa?" Tanya Seongwoo tiba-tiba.

"Hah? Maksudmu?" Daniel balik bertanya.

"hmm.. bagaimana kalo aku memaksamu untuk makan malam bersamaku disini.." Ia menatap Daniel. Sebenarnya Seongwoo tidak percaya dengan kata-kata yang barusah terucap dari bibirnya. 'Kau kenapa Seongwoo, bodohhh..!'

Daniel melihat Seongwoo, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Seongwoo.

Seongwoo menaruh kucingnya ke dalam rak.

"Apa kau tidak keberatan? Sebenarnya, aku sudah lama ingin mencoba dekat denganmu, setidaknya untuk makan bersama saja. Apa kau tidak keberatan?" Seongwoo menatap Daniel.

"Hah? Sudah lama? A-aku.. tidak keberatan sih.." Daniel merasa canggung.

"Sudah lama sejak pertama kali aku melihatmu, sudah lama sejak aku ingin sekali berkenalan dan mencoba dekat denganmu. Aku ingin menjadi teman bukan sebagai senior dan junior di kampus saja." Ungkap Seongwoo. Malu.

"Bagaimana? Kita makan malam bersama?" Ajak Seongwoo kemudian.

Belum sempat Daniel menjawab, hp Daniel tiba-tiba bergetar. Ia melihat nama Hyeongseop di layar hp nya. Daniel menatap Seongwoo, mengucapkan tunggu sebentar tanpa bersuara. Seongwoo hanya menghela nafas, kemudian mengangguk.

Daniel berbicara dengan Hyeongseop di telpon, setelah selesai ia menatap Seongwoo.

"emm.. gimana ya, aku ingin makan denganmu juga Seongwoo. Tapi, temanku menelpon ingin cepat-cepat pergi." Jelas Daniel.

"oh, hahaha. Iya santai saja, kalo memang terburu-buru, lain kali kan masih bisa.." Seongwoo menjawab, canggung. Seongwoo menggaruk belakang kepalanya.

"maafkan aku.." sesal Daniel.

"Tidak.. kenapa minta maaf, mari sini aku antar kau keluar." Jawab Seongwoo.

Mereka berjalan berdampingan, rasa canggung tiba-tiba menyerang mereka saat punggung tangan mereka tidak sengaja bersentuhan. Mereka reflek sedikit menghidar. Tidak ada perbincangan selama Seongwoo mengantar Daniel keluar kliniknya.

Setelah sampai di luar, Daniel menatap Seongwoo. Tidak tau harus berkata apa. Daniel hanya menunduk, kemudian Seongwoo pun menunduk.

Daniel pergi dari klinik Seongwoo. Seongwoo melihat bahu Daniel yang semakin menjauh. 'sayang sekali.. arghh!'

Seongwoo merasa kesempatan awalnya berlalu begitu saja. Rambut pink Daniel masih terlihat di kejauhan. Seongwoo sedikit menyesali kata-kata nya tadi, 'kenapa aku malah membiarkan ia tau isi hatiku yang sebenarnya.. apa yang akan dia pikirkan nantinya..'

Daniel berjalan, tidak berani menatap kebelakang padahal hatinya ingin ia berpaling melihat Seongwoo yang berdiri di depan kliniknya. Ada rasa tidak enak dalam hati Daniel, ia tidak yakin dengan kata-kata Seongwoo tadi. 'apa maksudnya? Apakah dia..?' tebak Daniel.

Lagu Narsha – I'm In Love sudah selesai diputar, diganti dengan lagu lain. Daniel membuka matanya, melihat keluar. Hujan semakin deras turun. Mengaburkan pandangan.

"Daniel, kau kenapa? Aku tidak bisa menebak suasana hatimu.. Tadi saat kau sampai di toko kamera itu, kau tampak tidak senang. Apa kau marah karena aku menyuruhmu cepat datang?" Hyeongseop akhirnya tidak sabaran menanyakannya ke Daniel.

Daniel menatap Hyeongseop, lalu menggeleng. Hanya menggeleng.

"hah, baiklah jika tidak ingin memberitahuku. Bahkan kau menolak untuk pergi makan sekarang. Aku tidak mengerti, ah.. sudahlah, aku antar kau pulang saja." Hyeongseop menyerah.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Daniel, baik Daniel maupun Hyeongseop terdiam, asyik dengan pikiran masing-masing.

Hingga akhirnya mobil yang ditumpangi mereka sampai di depan lobi apartemen Daniel. Daniel menatap Hyeongseop.

"maaf ya, terima kasih sudah mengantarku. Sampai bertemu besok." Daniel tersenyum kemudian keluar dari mobil Hyeongseop.

Belum sempat Hyeongseop menjawab Daniel, Daniel sudah buru-buru keluar dari mobil. Hyeongseop menatap Daniel yang berjalan menuju lobi, ia melihat Daniel berbalik badan, menatap mobil Hyeongseop. Kemudian melambaikan tangan. Tersenyum.

Hyeongseop melambaikan tangan dari dalam mobil, kemudian pergi.

Daniel berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai tempat kompartemennya berada.

Sesampainya di depan itu, ia mengetuk. Tidak ada jawabannya, Daniel kemudian memasukkan kata sandi, lalu membuka pintu. 'Hyung belum pulang..' Daniel melihat apartemennya masih gelap.

Daniel berjalan kearah dapur, ia melihat di rak ada ramen instan. Daniel yang memang lapar dengan cepat menyiapakan perlengkapan masak. Setelah matang, Daniel mengambil acar lobak di dalam kulkas kemudian berjalan menuju ruang tv. Ia makan dengan lahap sambil menonton acara tv, sementara hujan diluar masih tampak belum juga ingin berhenti.

Seongwoo melihat hujan yang sangat deras dari dalam kliniknya, ia memutuskan untuk menutup klinikny, karena menurutnya orang tidak akan datang lagi karena hujan yang sangat lebat.

"Seongwoo oppa, kami pulang duluan ya.." kata gadis yang membantu Seongwoo di kliniknya.

Seongwoo hanya mengangguk kemudian tersenyum, mempersilahkan mereka untuk pulang.

"Hati-hati di jalan, terima kasih untuk hari ini."

Setelah Seongwoo sendiri di klinik, ia berjalan ke arah dapur memutuskan untuk membuat teh hangat, kemudian ia berjalan ke arah rak poppo, mengambil kucing itu. Seongwoo dan poppo duduk di kursi yang berada di lobi, terdapat jendela kaca besar sehingga Seongwoo memiki pandangan yang mengarah keluar.

Sosok Daniel terus ada di pikirannya, semakin lama semakin tak mau hilang.

"Apa kau juga memikirkan dia poppo?" tanya Seongwoo kepada kucingnya, ia mengelus lembut bulu-bulu abu kucing itu.

"Apakah aku terlalu jelas? Apakah dia menyadarinya poppo?" Seongwoo kembali bertanya, matanya memandang keluar, hujan turun sangat lebat, namun ia masih melihat beberapa orang berjalan di depan kliniknya.

'Kang Daniel.. Kang Daniel, i think i'm in love with you..' Seongwoo tersenyum. ' I'm in love ?'

-To be continued

NB :

1. Author memohon maaf bila ada yang salah dalam penulisan cerita

2. Semoga alurnya mudah diterima ya, nantikan chapter2 lainnya ^^

3. Terima kasih untuk review dan dukungannya ya, author akan terus berusaha membuat ceritanya lebih menarik lagi.

4. Author terharu dengan respon dari kalian yang ternyata suka dengan ff ini, menambah kepercayaan diri author untuk terus menulis.

KEEP SUPPORT YAA !