Hola! Ini chap. 7 nya!
Maaf banget kalau Vincy update nya lama. Sebelumnya Vincy bingung mau dijadiin crossover atau nggak. Karena ada tambahan tokoh lain dari Vocaloid. Tapi karena hanya di chapter ini, ya tidak jadi
Happy reading!
Disclaimer Naruto Masashi Kishimoto
My Partner Is My Love Vincy Raviella De Mitchell
Pair : MinaKushi, slight FugaMiko, KagaFemMina (Crack Pair), AraYuki (OC Pair)
Genre : Friendship, Romance, Family
Rate : T (Teen)
"Arashii Uzumaki, bersediakah anda menjadi pendamping hidup Yukino Haruno dalam keadaan senang maupun duka?"
"Ya, saya bersedia"
"Yukino Haruno, bersediakah anda menjadi pendamping hidup Arashii Uzumaki dalam keadaan senang maupun duka?"
"Ya, saya bersedia"
"Dengan ini, kalian diresmikan menjadi sepasang suami-istri. Silahkan mempelai pria mencium mempelai wanita"
Arashii mengecup bibir Yukino. Semua pun bertepuk tangan, Kushina yang melihatnya dari bangku depan pun bertepuk tangan paling keras.
"Kau semangat sekali, Kushina" Minato yang berada di samping Kushina pun tersenyum.
"Ya, akhirnya aniki menikah juga. Tapi sepertinya aniki dan Yukino-nee bakal pisah rumah dengan kaa-san dan tou-san" Kushina menunjukan raut sedih di wajahnya.
Minato tersenyum. Dielusnya kepala Kushina, "Nanti aku dan Minako akan sering mengunjungimu. Biar kau tak kesepian di rumah"
Kushina tersenyum manis. Wajahnya tiba-tiba langsung semangat. "Nanti kalau tou-san dan kaa-san sedang kerja, kita bikin pesta dirumahku dengan teman-teman ya!"
Minato tertawa kecil, "Baiklah, apapun keinginanmu, pasti akan kuturuti"
"Kalau aku meminta kau menjadi pacarku?"
"E-eh" wajah Minato mendadak merah padam. Kushina tertawa terbahak-bahak.
"Aku bercanda, Minato. Aku mau serius sekolah dulu" Kushina tersenyum lebar, pandangannya tertuju pada kakaknya dan Yukino yang sedang berbahagia di depan altar sana.
Minato menghela napas, ia masih memandang wajah gadis yang ada disampingnya. Diam-diam, ia tersenyum miris.
Salahkah?
Salahkah bahwa Minato mencintai Kushina?
Ia tahu Kushina hanya menganggapnya sebagai teman, atau mungkin sahabat. Tak mungkin Kushina mencintainya. Meskipun Kushina sudah tak membencinya seperti dulu, namun ia ingin hubungan nya dengan Kushina lebih dari teman atau sahabat.
"Hei Minato, kau ingat kejadian dimana pertama kali kita bertemu kan?" Kushina tersenyum getir.
Minato mengangguk. "Tentu"
FLASHBACK
"Uzumaki! Apa-apaan kau ini, hah? Mengapa kau terlambat hari ini?"
Kushina menggertakan giginya. Kini dihadapannya adalah seorang senior yang membimbing para siswa-siswi baru Konoha International Senior High School untuk menjalankan kegiatan MOPD. Senior itu bernama Kaito Shion, sesuai yang tertera di nametag nya.
"Emangnya apa urusanmu? Aku tak peduli kalau aku terlambat. Kau juga bukan siapa-siapa aku" jawab Kushina dengan nada dingin.
"Grrrhhh… Kau bisa apa, bocah! Aku ini seniormu!" Kaito menggertakan giginya. Wajahnya memerah karena marah.
"Ho, mau menantangku? Aku ini sudah sabuk hitam lho" Kushina tersenyum miring. Membuat para siswa-siswi baru dan para senior terkejut.
Siswa berambut pirang jabrik yang berbaris dengan para siswa-siswi baru menatap Kushina dengan terperangah. Ia tak menyangka bahwa gadis yang berdiri di tengah lapangan berani melawan senior yang terkenal galak itu.
"Berani juga kau!" Kaito melakukan terdangan ke arah Kushina, dengan mudah Kushina menghindar dari serangan Kaito. Namun tanpa sengaja Kushina menendang kaki kanannya, membuat gadis berambut merah itu tersandung.
'BRUUUK'
"Auch!" Kushina merintih pelan, sikutnya bergesekan dengan tanah lapangan yang panas, membuat sikutnya berdarah.
"Rasakan itu, bocah tomat!" Kaito tersenyum penuh kemenangan. Tangannya melipat di depan dadanya. Mata birunya memandang Kushina remeh.
Kushina bangun dengan susah payah. Napasnya tersengal-sengal. Ia memandang senior di depannya dengan dingin dan penuh amarah.
"Kau!" Kushina menerjang, ia melayangkan sebuah pukulan keras yang tepat mengenai wajah Kaito.
"Arrrghhhh!" Kaito tampak sangat kesakitan. Ia memegang pipinya yang habis ditonjok Kushina.
"Apa hakmu untuk memanggilku tomat, hah?" Kushina meraung. Rambutnya terangkat melayang membentuk sembilan untaian.
"Hentikan!' suara teriakan menghentikan pertarungan seketika. Kushina dan Kaito memandang gadis berambut coklat pendek yang tampak marah besar.
"Apa yang kalian lakukan, hah?" bentak Meiko Sakine, Ketua Murid Konoha International Senior High School. Dibelakangnya terdapat beberapa anggota organisasi murid bawahan Meiko.
"Bocah ini sangat kurang ajar kepadaku, Meiko. Dia berani menantangku dan menonjok ku" Kaito menunjukan wajah nya yang memar karena habis ditonjok oleh Kushina.
"Dia juga terlambat masuk, Meiko" ujar Hatsune Miku membela Kaito.
"Kalau begitu, Uzumaki! Kau lari di lapangan ini 10 kali!" perintah Meiko. Kushina langsung berlari. Kaito tersenyum penuh kemenangan, membuat Kushina tersenyum sinis ke semua senior yang mengumpatinya.
Siswa berambut pirang jabrik tadi memandang kasihan ke arah Kushina. Sebuah tepukan di bahunya pun mengagetkan siswa tersebut.
"Hei, ada apa denganmu, Minato?" Namikaze Len tersenyum lebar. Disebelahnya ada saudari kembarnya, Namikaze Rin.
"Ah, tidak apa-apa senpai" kata Minato memandang kedua kakak sepupunya yang kebetulan senior di sekolahnya.
"Jangan memanggilku dan Rin senpai. Kita ini masih satu keluarga. Panggil saja aku Len dan Rin seperti biasa" Len menunjukan cengiran khasnya. Rin juga tersenyum manis.
"Ba-baiklah" Minato tersenyum kikuk.
"Nanti istirahat, temui aku di taman sekolah" kata Len. Minato mengangguk.
"Nah, selamat menjalankan kegiatan ini. Kalau ada senior yang macam-macam denganmu, laporkan saja ke aku atau Rin" Minato mengangguk. Len dan Rin berjalan ke sudut lapangan, tempat mereka berdua berjaga.
"Kushina! Tahanlah sedikit!"
"Aww… ittai -ttebane!"
Minako menghela napas. Tadi ia disuruh Miku untuk mengobati luka di sikut Kushina di ruang kesehatan. Dan sekarang gadis berambut pirang itu tampak hati-hati mengobati Kushina.
'CEKLEK'
"Mina-chan, kau dipanggil Len dan Rin ke- lho?" mulut Minato menganga lebar melihat Kushina yang duduk di kasur.
"Hie? Aku disuruh Miku-senpai untuk mengobati Kushina" Minako menunjuk sikut Kushina yang baru diolesi alkhohol.
"Biar aku yang mengobatinya" Minako tersentak. Kushina menundukan wajahnya.
"Ba-baiklah" Minako membungkuk kan badannya tanda permisi. Lalu ia pergi dari ruang kesehatan.
Minato duduk berhadapan dengan Kushina. Dibanjirinya sebagian kapas itu dengan alkhohol. Ia memegang tangan Kushina dan diobatinya sikut Kushina yang masih berdarah.
"Kau tahu, aku terkejut melihatmu yang berani melawan Kaito-senpai" Kushina tetap diam. Tak membalas perkataan Minato.
"Dan aku tak menyangka kau pemegang sabuk hitam. Jujur saja, aku juga pemegang sabuk hitam"
Kushina terbelalak. Ia menatap pemuda yang sedang mengobati luka nya itu.
Minato mengeluarkan cengiran nya, "Hehehe"
Kushina menatap Minato datar, "Kupikir kau cowok lemah, karena kalau dilihat-lihat wajahmu juga cantik, beautiful boy"
Diam-diam Minato sweatdrop. Baru kali ini ada gadis yang bilang ia cantik. Padahal waktu SMP banyak sekali siswi memuja-muji nya karena Minato tampan dan jenius.
"Ahahaha…begitu ya?" Minato tertawa garing. Ia melilitkan perban yang mengelilingi sikut Kushina.
"Sudahlah, terima kasih" Kushina beranjak dari kasur hendak meninggalkan Minato sendirian.
"Hei! Kau Kushina kan?" Kushina berbalik, ia memutar bola matanya bosan.
"Kalau kau tahu namaku tak usah bertanya lagi, Minatolol"
Minato terkejut, "Kok kau tahu namaku?"
Kushina menghela napas. "Kau pakai nametag, bodoh. Lagipula nama itu cocok untukmu yang otaknya tolol" Kushina keluar dari ruang kesehatan, meninggalkan Minato yang diam terpaku sendirian.
Minato sweatdrop. "Dasar…"
Minato kini bersama Minako, Len, dan Rin di taman sekolah. Kini mereka duduk di bangku dekat pohon sakura. Mereka yang langsung dikenal 'the four of blondie's' ini tampak sedang bercengkrama ria.
"Hahahahaha…" Minako dan Len tertawa terbahak-bahak membicarakan Miku yang terpeleset hingga membuat roknya tersingkap memperlihatkan celana dalamnya. Rin hanya tersenyum geli.
Minato tetap diam. Tak mendengar pembicaraan ketiga insan di dekatnya itu. Pikirannya sedang melayang kepada gadis bermarga Uzumaki itu. Len mengerutkan keningnya.
"Hoi Minato! Mengapa kau hanya diam, hah?" Len jadi kesal sendiri. Ia tak suka bila ia bercerita si pendengarnya malah tak mendengarkan ceritanya.
"Ng… tidak apa-apa" Minato menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Ceritakan pada kami, Minato" ujar Rin. Minato menghela napas.
"Begini… tadi aku memanggil Mina-chan untuk menghampiri kalian berdua" Minato memberi jeda, "Dan Minako sedang mengobati anak yang bernama Kushina Uzumaki itu"
Minako mengangguk. Len dan Rin tampak tertarik, "Terus?"
"Aku bilang biar aku yang mengobatinya. Minako meninggalkanku dan Kushina berdua di ruang kesehatan. Aku mulai mengobati lukanya itu" Minato menarik napasnya.
"Namun saat aku mengobati lukanya, dia bilang aku ini 'Beautiful Boy'" Len menahan tawa nya.
"Dia juga menjulukiku dengan sebutan 'Minatolol'," Len langsung tertawa terbahak-bahak. Minako dan Rin bengong. Wajah Minato langsung mendadak horror.
"Bwahahahaha… Beautiful Boy? Minatolol? COCOK!" Len tertawa terbahak-bahak. Ia memegang perutnya yang sakit.
Minato memandang Len dengan kesal, "Hei! Ini tidak lucu, Len!"
"Hahahaha…" Len mengusap air mata yang meleleh di mata biru safirnya.
"Kaito keterlaluan" ucap Rin tiba-tiba.
"He?" ketiga pasang mata biru safir itu menatap Rin. Len menghentikan tawanya seketika.
"Bila Kaito sedikit bersabar pasti Kushina dan Kaito tidak terluka kan?" Rin menatap ketiga insan itu serius.
"Benar juga, tapi kau tahu sendiri kan Kaito orangnya seperti apa" wajah Len berubah menjadi garang. Sebagai wakil ketua murid, ia merasa tindakan itu tak bermanusiawi.
"Meiko juga. Sikut Kushina sedang terluka. Dia malah memaksa Kushina berlari mengelilingi lapangan sekolah" Rin menghela napas. Ia tahu betul sifat sahabatnya yang tak bisa ditentang itu.
"Hoi Len! Rin! Ayo kumpul di ruang organisasi!" teriak Miku. Len dan Rin berdiri.
"Baiklah, kami pergi dulu ya. Kupastikan para senior disini tidak menjahilimu" Len dan Rin meninggalkan Minato dan Minako sambil melambaikan tangan.
"Haah… Syukurlah" Minako menghela napas lega.
"Kenapa?" tanya Minato bingung.
"Berkat Len dan Rin, para senior tak berani menjahili kita" Len memang wakil ketua. Meskipun ada Meiko di atasnya, namun Meiko tak akan menolak permintaan Len yang merupakan orang yang disukainya itu.
"Haah… benar juga" Minato menatap langit biru yang sewarna dengan matanya itu. Entah mengapa, ia malah melihat wajah Kushina yang ada di langit.
Menurut Minato, wajah Kushina sangat cantik dan manis di mata Minato. Dan tanpa sadar, jantungnya berdegup kencang ketika membayangkan Kushina. Ia memegang dadanya.
Apa mungkin… Minato menyukai Kushina?
Sesudah MOPD, para siswa-siswi baru langsung dibagi menjadi 6 kelas. 2 kelas yang ecxellent, 3 kelas reguler, dan 1 kelas untuk anak-anak yang mengalami kelainan fisik.
Minato masuk kelas ecxellent. Karena rata-rata nilai di raport nya lebih dari 9. Minako juga sama sepertinya. Mereka duduk berdekatan. Wali kelas mereka adalah Hiruzen Sarutobi, yang tak lain adalah guru fisika di kelas ecxellent.
"Baiklah anak-anak. Sensei akan mengabsen kalian satu-persatu" Hiruzen membuka buku absen nya.
"Aburame Shibi?"
"Hadir"
"Akimichi Choza?"
"Kriuk..kriuk.. Hadir"
"…"
"…"
"…"
"Uzumaki Kushina?" semua murid tersentak. Kushina mengangkat tangannya.
"Hn" jawab Kushina datar.
Minato juga tersentak kaget. Ia tak menyangka Kushina sekelas dengan nya. Meskipun jarak tempat duduknya jauh dengan Kushina (Minato di depan pinggir kiri. Kushina di belakang pojok kanan) namun ia senang Kushina sekelas dengan nya.
Hiruzen memulai pelajaran pertamanya, Fisika. Ia membagi kelompok perbaris. Dan masing-masing kelompok mempunyai ketua.
"Baiklah, saya akan menjalankan kuis. Kuis ini dibagi menjadi 4 kelompok. Kalian sudah menentukan ketua grupnya?" semua murid mengangguk.
"Baiklah, ketua grup silahkan maju ke depan" Minato, Kushina, Shikaku, dan Fugaku maju menghadap Hiruzen-sensei.
"Nah, kerjakan soal ini dengan kelompok kalian beserta rumusnya. Mengerti?" tanya Hiruzen sembari membagikan empat lembar soal dan empat lembar jawaban kepada masing ketua kelompok. Masing-masing ketua kelompok mendapat satu lembar soal + lembar jawaban.
"Baik!" jawab mereka berempat serempak dan kembali duduk di barisan masing-masing.
Suasana kelas menjadi sedikit ribut karena sibuk berdikusi. Satu jam berlalu, Hiruzen menyuruh masing-masing ketua kelompok grup mengumpulkan hasil kerja kelompok mereka.
Hiruzen memeriksa hasil jawaban beserta rumus nya dengan teliti. Dengan senyum lebar, ia menyuruh semua murid duduk.
"Semua. Yang memenangkan kuis ini adalah kelompok Minato!"
Semua anak bertepuk tangan. Anggota baris kelompok Minato saling ber-tos ria. Hanya Kushina yang tidak bertepuk tangan. Ia malah memandang Minato dan anggota kelompoknya dengan dingin.
'KRIIIIING!'
"Nah waktunya istirahat. Kita sudahi pelajaran hari ini" Tsunade-sensei, guru Matematika keluar dari kelas. Fugaku dan Kagami menghampiri bangku Minato.
"Selamat ya! Kau hebat juga pelajaran Fisika" kata Kagami sambil menyalami Minato.
"Terima kasih" jawab Minato.
"Kagami, ayo ke kantin" kata Fugaku. "Kau juga mau ikut?"
"Boleh" kata Minato. Mereka bertiga berjalan ke kantin sambil mengobrol ringan. Sebelumnya Minato dan Fugaku sudah saling mengenal. Maklum, mereka kan teman sewaktu SMP.
"Hei, aku Kagami Uchiha, sepupu si pelit kata ini. Salam kenal" ujar Kagami sambil menjulurkan lidahnya ke arah Fugaku. Fugaku langsung mendelik ke arah sepupunya.
"Salam kenal juga, aku Minato Namikaze" balas Minato sambil tersenyum.
"Eh Minato, kau punya saudara kembar kan?" tanya Kagami. Minato mengangguk. Wajar Kagami bertanya, karena mereka berdua baru saling mengenal.
"Ya, ada apa memangnya?" tanya Minato. Tiba-tiba saja wajah Kagami bersemu merah.
"E-eh, a-ano…" Kagami memainkan jarinya. Fugaku dan Minato tergelak.
"Kau suka dengan Minako?" tanya Minato asal. Padahal jawabannya benar.
"E-eh..iya.." Kagami menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk.
"Haah… Baru masuk sekolah ini sudah ada fans nya" Minato memutar kedua bola matanya.
"Emangnya Minako punya fans sewaktu SMP?" tanya Fugaku.
"Begitulah. Banyak siswa yang menyukainya. Bahkan surat cinta di lokernya menggunung" Minato ingat kegiatan Minako yang membakar seluruh surat cinta dari para fansboy nya di halaman belakang rumah.
"Saingan berat nih" ledek Fugaku. Kagami menggembungkan pipinya.
Mereka sampai di kantin. Mereka memesan sukiyaki. Dan duduk di salah satu bangku kantin sambil menunggu pesanan mereka datang.
Minato terkejut melihat Minako sedang bersama Kushina dan Mikoto, mereka berdua tampak tertawa gembira disela-sela obrolan mereka.
"Fugaku" Minato menunjuk Mikoto, "Itu Mikoto kan?"
Fugaku mengangguk. Tanpa menghiraukan kedua temannya, Fugaku berjalan mendekati ketiga siswi yang asyik bercengkrama itu.
"Mikoto…" Fugaku menepuk pundak Mikoto pelan.
"Fugaku?" Mikoto tersentak. Minako dan Kushina menghentikan acara makan + ngobrolnya.
"Hn. Aku ingin bicara denganmu" Fugaku menyeret Mikoto pelan. Mikoto menggembungkan pipinya tanda ngambek.
Dan kini, hanya ada mereka berempat. Meskipun kantin sedang ramai, namun suasana canggung menyelimuti mereka berempat.
"Ano…" Minato tersenyum kikuk. "Boleh aku dan Kagami…duduk disini?"
"Ya" Minato tersenyum pada sang kakak. Kushina hanya diam. Seketika wajah Minako merona melihat Kagami yang duduk di seberangnya.
"Hei, aku Kagami Uchiha. Salam kenal" ujar Kagami sambil menyeringai lebar. Seketika wajah Minako langsung semerah tomat, membuat mulut Minato dan Kushina menganga.
"Minatolol, ikut aku" Kushina langsung menyeret Minato untuk menghindar dari Kagami dan Minako yang sibuk bercengkrama ria.
"He-hei! Apa-apaan kau ini?" bentak Minato ketika mereka sudah berada di depan pintu toilet yang lumayan sepi.
Kushina langsung mencengkram kerah baju Minato. "Dengar ya" sorot mata Kushina berubah menjadi tajam dan dingin. "Baru kali ini aku mendapati seseorang yang menyaingi kepintaranku"
Minato terdiam, ia merasa hatinya dirujam beribu pisau. Ia merasa sakit mendengar kata-kata yang menurutnya sakit oleh orang yang diam-diam disukainya itu.
"Kau tahu, apa yang akan kulakukan ketika aku mengetahui ada seseorang yang merasa lebih pintar dariku?" Kushina mengeratkan cengkraman nya. Membuat Minato terasa tercekik dan sesak napas.
"Aku…" Kushina berbisik ditelinga Minato. "Akan…menghabisimu"
Mata Minato membulat. Ia tak menyangka bahwa gadis yang membuatnya tercekik berani berkata seperti itu. Di pikiran pemuda jenius itu, Kushina pasti akan langsung membunuhnya dengan sekali pukulan saja.
Kushina tersenyum lebar. "Well…tapi karena kau adalah orang yang baru kukenal dan aku akan merasa terganggu dengan tangisan histeris dari fansgirls mu karena kau hanya tinggal nama". Kushina berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita…bersaing, hm?"
Minato terdiam, seketika senyumnya melebar. "Baiklah. Aku terima"
Kushina tersenyum licik, "Ingat itu. Kau dan aku, bersaing secara sportif. Tidak ada kata mencontek, kerja sama, dan lain-lain." Kushina berbalik, hendak meninggalkan Minato, "Aku melakukan ini karena aku membencimu dan menganggapmu musuh besarku"
Kushina berjalan meninggalkan Minato yang masih berdiri terpaku menatap punggung Kushina yang menjauh darinya.
FLASHBACK END
"Hahaha… kau masih ingat juga ya" Kushina tersenyum geli.
Kini mereka berada di mobil Minato. Pernikahan Arashii dan Yukino sudah selesai. Kini mereka sedang berada di perjalanan menuju rumah Kushina karena Kushina kecapaian dan besok harus sekolah.
"Ya…pertama kali kau menganggapku rival dan…membenciku" Minato tersenyum getir.
"Maafkan aku soal itu" Kushina menundukan wajahnya, tak berani menatap wajah Minato. Ia merasa bersalah karena ia tahu hati Minato pasti sakit.
"Tidak apa-apa. Itu hanya masa lalu." Minato menghela napas panjang. "Jadi… kau masih membenciku?"
"Tentu saja tidak!" Kushina berteriak, Minato tersentak. "Aku tak membencimu seperti dulu"
Minato terdiam. "Tapi tetap saja, aku masih menganggapmu sebagai rivalku" lirih Kushina.
Diam-diam Minato menghela napas lega. Harapannya Kushina tidak membencinya menjadi kenyataan. Tapi diam-diam ia tersenyum simpul ketika Kushina masih menganggapnya sebagai rival.
"Nah sudah sampai" Minato menghentikan mobilnya. Kushina turun dari mobilnya. "Selamat malam" Minato mengecup dahi Kushina singkat.
"He-hei!" wajah Kushina mendadak semerah tomat. "Apa yang kau lakukan, hah?" Kushina mengelap bekas kecupan Minato di dahinya.
"Hanya 'kecupan' selamat malam kok" ujar Minato sambil memasang wajah polos. Padahal ia tertawa di dalam hatinya melihat gelagat Kushina.
"Su-sudahlah! Selamat malam!" Minato tersenyum lembut sebelum melajukan mobilnya. Kushina langsung membuka pintu dengan kunci rumah yang dipegangnya dan langsung berlari ke kamarnya.
"Hah…dasar" Kushina meraba keningnya. Kecupan Minato masih membekas di dahinya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang dan wajahnya memanas.
"Perasaan…apa ini?" tanya Kushina pada dirinya sambil memegang dadanya.
TO BE CONTINUED
Huaahh… akhirnya update juga. Yang review log-in Vincy balas lewat PM. Kalau yang non log-in. Vincy akan membalasnya di fic ini.
And last…
Review please…
Sign,
Vincy Raviella De Mitchell
