"Cium aku, kalau kau serius mau jadi pacarku," tukas Hyesung.

Intonasi bicara Hyesung serius. Tatapannya mendadak tajam terhadap sepasang mata Junghyuk. Yang menerangi keduanya hanyalah lampu jalanan dekat minimarket dan gang tempat mereka berdiri. Hyesung bisa melihat ekspresi keterkejutan dari Junghyuk. Maksudnya, siapa juga yang tiba-tiba meminta cium untuk memastikan keseriusan seseorang.

Tapi Hyesung perlu melakukannya. Ia punya identitas ganda. Memang tidak sekarang Hyesung mengatakan yang sebenarnya, namun apabila ketahuan kalau Junghyuk serius, mungkin tidak akan seburuk itu. Mun Junghyuk harus punya tekad kalau mau berpacaran dengannya. Pria itu terlihat canggung, bingung apa yang harus dilakukannya.

Sesaat ia berpikir, untuk apa? Haruskah ia menciumnya jika mau berpacaran? Melihat keseriusan dari pemuda di hadapannya, Mun Junghyuk akhirnya mengambil tindakan.

Di luar dugaan remaja itu, Mun Junghyuk merapatkan tubuh mereka. Tatapannya menusuk bola mata kecoklatan Hyesung yang membulat. Saat itu, barulah Hyesung sadar bola mata Junghyuk agak abu-abu. Kedua tangan hangat Junghyuk kembali mengatupkan wajah Hyesung. Sembari mendekatkan wajah kedua insan, Junghyuk memiringkan kepalanya untuk mempermudah mencium remaja yang tengah membatu karena kebingungan.

Ketika kedua bibir itu menempel, Hyesung membelalakkan matanya mendapat kepastian bahwa Junghyuk serius. Hatinya berdesir geli karena seseorang yang asing telah memasuki dunianya, termasuk hatinya. Meski hanya sebentar, Hyesung berani bertaruh bibir Junghyuk terasa lembut dan hangat setiap inchinya.

"Aku serius, jadi, kau mau 'kan?" Ekspresi Hyesung yang masih mengangakan mulutnya benar-benar tak berkutik. Ia gelagapan menghadapi pria yang jauh lebih tua darinya ini.

"Hyesung? Kenapa diam saja?"

Junghyuk menjentikkan jarinya untuk menyadarkan Hyesung. "E-Ehm… Sepertinya kau sudah sering melakukannya, Junghyuk-ssi?"

Tawa ringan keluar dari mulut sang pengacara. "Sejujurnya ini bukan yang pertama untukku, tapi melakukannya sebelum berpacaran tentu yang pertama."

Mengetahui bahwa ciuman pertama Junghyuk bukanlah dirinya cukup membuatnya kecewa. Hyesung menaikkan bibirnya. Ia harus lapang dada, mereka belum terlalu mengenal satu sama lain bahkan selisih usia mereka terpaut jauh.

"Selama kau serius, aku mau."

Tentunya Hyesung berusaha tersenyum, menutupi kekecewaan itu.

Mun Junghyuk adalah orang yang simple dan tidak terlalu memikirkan masalah itu. Ia kembali memeluk Hyesung erat dan mengucapkan terima kasih. Hyesung bingung harus bersikap apa, ia dengan canggung balik membalas pelukan singkat itu.

"Bagaimana ya rasanya punya pacar dewasa?" dalam hatinya Hyesung terus berpikir.

-ricsyung-

Simply Loving You From Seoul

Chapter 6

.

.

BRAAK!

Meja dan kursi tempat Hyesung duduk di kelasnya jatuh terbalik karena tendangan oleh tiga anak berandalan yang menghadangnya semalam. Saat itu, Hyesung baru tiba dan berdiri di ambang pintu masuk. Ia melihat mereka bertiga tertawa lepas sambil membasahi meja kursinya dengan air dari ember yang dibawa.

Kemudian, Hyesung teringat bahwa semalam dia dan tiga anak berandalan itu sempat bertikai dan nyaris berkelahi. Baru semalam ia merasa senang karena Junghyuk menjadi pacarnya, di sekolah ia kembali menjadi sosok menyedihkan bagi para teman sekolahnya. Siswa-siswi lainnya menghindar dari sana, berusaha tidak membuat kontak mata dengan ketua geng.

Ketua geng sekolahnya punya banyak pengikut, namun hanya dua yang menjadi tangan kanannya. Mereka memiliki tattoo khas di lengan atas kanan. Hyesung memang hanya diam di sana. Tatapan lirih dari teman sekelasnya seolah merasa kasihan jauh lebih mengganggunya dibandingkan para anak berandalan sekolah yang mengusik tempat duduknya.

Saat mereka berniat keluar dari kelas, salah satu dari mereka menunjuk ke arah Hyesung. Senyum meremehkan menghiasi wajah mereka. Shin Hyesung adalah dirinya sendiri di sekolah. Seorang Jung Pilkyo yang pendiam karena merahasiakan keluarganya. Ia bersikap seolah tidak punya kerabat sama sekali dan tak ada seorang pun dari mereka mengenal sosok Jung Pilkyo yang sebenarnya.

"Hai, Jung Pilkyo. Kau baru datang?" kata ketua geng, penuh dengan nada merendahkan.

Kedua tangannya di dalam saku celana seragam. Kalian tentu tahu kalau para berandalan geng sekolah tidak pernah mematuhi peraturan. Mereka punya tindikan telinga. Bau rokok tercium jelas dari seragam acak-acakkan mereka. Selalu bersikap angkuh.

Reaksi Jung Pilkyo tentu jauh berbeda dari harapan. Ia hanya menghela nafas panjang, menatap datar mereka seperti semalam.

"Kalian membasahi tempat dudukku?"

Hyesung kelewat santai, seperti semalam. Ia bersikap setenang mungkin.

"Kalau ya, kenapa hei anak emas?"

Ketua geng itu mendekat. Ia memperhatikan Hyesung dari atas sampai bawah. "Aku selalu ingin tahu kenapa kau mengecat rambut. Bukankah sekolah melarang, Jung Pilkyo?"

Hyesung menampar lengan ketua geng itu ketika jari-jari ketua geng menyentuh rambutnya. "Jangan sentuh, bajingan."

Ketua geng dan lainnya terkejut atas reaksi Hyesung. Tadinya dia berniat bersikap seolah tidak peduli. Namun ia sangat tidak suka jika orang asing menyentuhnya, Hyesung tidak bisa menutupi sifat aslinya.

Ketua geng itu berdecih. "Hah. Bajingan? Aku punya nama, anak teladan! Kau yang bajingan!" Sebuah pukulan melayang ke wajah Hyesung. Dengan santai, Hyesung bergeser sedikit. Tubuh ketua geng itu terhuyung ke depan lantaran pukulannya meleset.

"Kau…" Geraman darinya dan anggota geng lain mulai menarik perhatian siswa-siswi dari kelas lain ikut melihat.

"Heh, anak teladan. Kau ini sebenarnya bukan murid baik-baik, ya? Mana ada murid berkeliaran di mini market saat tengah malam sudah lewat seorang diri."

Ucapan ketua geng tentu mengejutkan yang lain. Mereka hanya tahu kalau Hyesung suka menyendiri. Bahkan tidak berani untuk menanyakan alasan rambutnya karena guru pun tidak mempermasalahkan. Nilai-nilainya selalu di atas rata-rata dan dia juara umum seangkatan.

"Dan aku punya nama, bajingan Jung Pilkyo." Seolah berusaha mencamkan peringatan, ia menggertakkan gigi, menarik kerah Hyesung kasar. Melihat Hyesung hanya mengerjabkan matanya bingung semakin membuatnya kesal.

"Memang aku harus kenal?" balas Hyesung.

Satu pukulan telak mengenai pipi Hyesung. Tubuh remaja itu tersungkur ke lantai. Para murid yang lain menahan nafas melihatnya. Hyesung merasakan pipinya berdenyut sakit. Memandang kesal kearah ketua geng dan anggotanya.

"Kau tak mengenalku? Kita bahkan satu kelas selama ini! Semua anak di sekolah mengenalku! Dan kau.,. Kau bahkan tak tahu siapa aku?"

Merasa direndahkan, ia menendang perut Hyesung. Suara tertahan dari yang lain membuat ricuh. Masing-masing mulai mengambil ponselnya untuk memotret maupun merekam peristiwa di mana ketua geng mulai berulah lagi. Sebagian memberitahu guru dan teman-teman lain. Sejujurnya, Hyesung tidak pernah mengingat wajah apalagi nama teman sekelasnya. Pengecualian Andy, yang selalu mengusiknya.

Hyesung terbatuk saat kaki ketua geng itu menahan tubuhnya. Ia berniat melawan, namun dirinya teringat bahwa ia sudah janji tidak akan berkelahi lagi di SMA. Biarlah ia menjadi orang yang menyedihkan di masa SMA-nya meski kemampuan bela dirinya jauh di atas mereka.

"Woobin-ssi, hentikan. Kau bisa di skors lagi!", seru teman satu gengnya. Ia berusaha menghentikan ketua gengnya yang terlihat mulai membabi-buta memukul dan menendang tubuh Hyesung. Remaja itu bisa merasakan darah di dalam mulutnya, mengalir keluar saat terbatuk.

Tapi ketua geng bernama Woobin itu tidak berkutik. "Aku yang berkuasa di sekolah ini! Beraninya kau melawan aku! Semalam kubiarkan karena ada orang lain, tapi tidak di sekolah!" Dia menyerang Hyesung tanpa henti. Saat terlihat semakin bahaya, anggota gengnya menarik tubuh Woobin agar berhenti. Ia meronta-ronta agar dilepaskan sementara Hyesung diam di lantai.

Dari jauh, samar-samar ia mendengar suara anak yang selalu bersamanya sejak hari pertamanya. Andy berlarian ke arahnya dengan ekspresi khawatir bukan main. "Pilkyo-ah! Pilkyo, kau sadar!? Pilkyo!" Andy yang baru sampai di sekolah terkejut bukan main melihat Hyesung tergeletak di lantai dengan lebam kebiruan dan darah di sekujur tubuhnya.

Dengan susah payah, Hyesung berusaha berdiri. Andy membantu Hyesung dan memapahnya. "Kau baik-baik saja? Kita ke UKS sekarang, ya."

"Heh, anak pindahan! Aku belum selesai menghajarnya!" teriakan Woobin mengejutkan Andy. Tapi Andy cepat tanggap. "Kau melukai Pilkyo, ya? Apa salahnya sampai kau menghajarnya begini!?"

Andy diam saat Hyesung memberi tanda agar menutup mulutnya meski ia siap membalas. Woobin menggeram sambil meronta dari anggota geng yang menahannya. "Aku memberinya pelajaran karena dia tidak mengenalku, Kim Woobin yang berkuasa! Lepas, hei!"

Andy merengutkan wajahnya. Ia membiarkan Woobin terus memberontak dari cengkeraman teman-temannya sementara ia membantu Hyesung ke UKS.

"Arrgh, lepas kataku!"

Guru-guru mulai berdatangan. Para siswa pun kembali ke kelas masing-masing. Kim Woobin masih marah dan belum puas. Ia terus menatap punggung Hyesung yang pergi ke UKS bersama Andy.

"Kim Woobin, ke ruang BK, sekarang," tutur seorang guru. "Yang lain, kembali ke kelas."

"Bu Guru, kenapa Jung Pilkyo tidak ikut dipanggil?"

"Karena kau yang memulai dan melukainya, Kim Woobin!"

Di UKS, dokter yang bertugas mengobati luka Hyesung. Ia membuka kemeja seragamnya, memperlihatkan badannya yang biru lebam kemerahan. Dokter memberi salep untuk pengobatan sementara. Andy terus memandang khawatir terhadap Hyesung. Ia tak henti-hentinya ikut meringis sakit saat dokter mengobati luka lebam itu. Terutama di wajahnya.

"Kenapa kau seperti itu?" tanya Hyesung. Ia kembali memakai seragamnya.

"Pasti sakit sekali, ya… Dipukul seperti itu oleh Woobin," kata Andy. "Harusnya aku datang lebih pagi."

Hyesung terkekeh. "Tenang, aku sudah terbiasa. Lebam ini cepat, kok hilangnya." Namun Andy tetap khawatir. Wajahnya menunjukkan semuanya. "Pilkyo, kau pulang saja… Tidak usah sekolah hari ini."

Hyesung menaikkan alisnya. "Bolos?"

"Bukan, aku setuju dengan Andy. Akan kuberi surat izinnya jika kau mau pulang. Luka itu takkan membuatmu nyaman belajar." Dokter itu tersenyum meyakinkan. "Banyak yang terluka gara-gara anak itu. Untunglah tulangmu tidak retak atau patah, Pilkyo-ssi."

"Serius, dok? Banyak?" seru Andy.

Sang dokter hanya mengangguk. "Sebelum kau pindah ke sini, Andy-ssi. Jangan membuat masalah dengannya."

Hyesung tertawa geli. Tawa membuat luka di perutnya terasa lebih sakit, tapi dia merasa ini lucu. "Siapa nama yang menyerangku tadi?"

"Kim Woobin. Kau serius tidak mengenalnya, Pilkyo-ssi?" dokter itu terheran-heran dengannya. "Bahkan Andy yang baru pindah mengenalnya. Kalian sekelas, lho."

"Aku tidak mengingat nama yang tak pernah bicara denganku. Sebagian hanya wajah yang kuingat. Itupun guru, kecuali Andy."

Andy terdiam. Ia mengajak Hyesung berteman sejak hari ia pindah karena dia terlihat kesepian. Namun ia tak menyangka masalahnya serius.

"Kau harus mengenal teman-temanmu, Pilkyo-ssi. Aku tahu kau pintar, tapi kau perlu bersosialisasi. Lagipula, kenapa Woobin bisa menghajarmu?" sang dokter menuliskan surat izin di kertas.

"Karena semalam aku melawannya."

"Hah?"

"Sepertinya."

Hyesung memandang Andy sekilas. "Dok, bisa buatkan surat izin untuk Andy juga? Aku mau bolos dengannya."

"Kau izin sakit, bukan bolos. Dan kenapa Andy juga?"

"Menemaniku pulang."

Kini Andy dan Hyesung tengah berjalan bersebelahan di trotoar luar sekolah setelah mendapat izin. Hyesung terlihat sangat nyaman sementara Andy kebingungan karena mendadak bolos dari sekolah. Ia memang diizinkan berkat Hyesung membujuk dokter, namun tetap saja rasanya salah.

"Pilkyo-ah, kurasa aku harus kembali ke sekolah setelah mengantarmu. Aku enggak enak rasanya…" Andy melingkarkan tangannya ke lengan Hyesung. "Aku kan enggak sakit, Pilkyo."

"Sesekali bolos tidak apa, Andy. Lagipula…" Hyesung menatap Andy serius. "Kurasa mereka akan membulimu jika kau kembali. Aku tidak mau itu terjadi."

Remaja itu terpaku di tempat. Bulu kuduknya berdiri sesaat. "Ke-kenapa aku dibuli?"

"Ini salah satu alasan aku menyuruhmu jauh-jauh dariku, Andy. Kalau aku dibuli seperti tadi, aku bisa mengatasinya. Tapi, kalau ada orang yang dekat denganku sepertimu, kau yang jadi sasaran." Hyesung terus berjalan tanpa memperhatikan ekspresi Andy.

"Apa selama ini kau dibuli, Pilkyo?"

"Tidak, ini pertama kalinya."

"Lalu, kenapa sejak dulu kau tidak punya teman?" pertanyaan Andy tepat menusuk. Hyesung berhenti berjalan untuk berpikir. Kemudian dia menjawab, "Karena aku tidak butuh."

Mendengarnya, Andy semakin kehilangan arah akan pikiran Hyesung. Di satu sisi, Hyesung tidak butuh teman sementara di sisi lain dia membiarkan dirinya tetap di sisinya meski Andy sadar itu tidak dilakukan sepenuh hati.

"Aku tidak suka jika ada orang lain yang terluka gara-gara aku, makanya aku berniat menjauh saja kalau kau terus mendekat. Tapi—"

Tiba-tiba saja Andy memeluknya. Sangat erat, sampai-sampai Hyesung bisa merasakan luka lebam di badannya semakin sakit. Berniat mendorong Andy, Hyesung mengurungkan niat itu ketika remaja itu berkata, "Kau pasti kesepian selama ini…"

Tadinya Hyesung tidak paham, namun ia biarkan saja sampai Andy melepaskan pelukan itu. Tatapan Andy sama sendunya seperti ketika ibunya melihat luka di tubuhnya sehabis berlatih bela diri.

Refleks Hyesung melupakan sosok pendiam yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun di hadapan Andy.

"Andy, ayo kita pergi makan."

Hyesung mendadak tersenyum lebar. Ia sudah melupakan bengkak di pipinya. Andy terkejut melihat perubahan mendadak dari temannya. Ingin bertanya, tapi tidak jadi. Ia takut Hyesung akan kembali bersikap acuh terhadapnya.

Hyesung membawa Andy ke salah satu restoran langganannya. Di sana para pelayan sudah sangat hafal pesanan Hyesung. Mereka tinggal menambah daftar pesanan Andy. "Pilkyo, kau serius mau traktir? Aku bisa bayar kok."

"Enggak apa-apa sesekali. Sebagai tanda terima kasih."

Hyesung bersiul. Moodnya membaik dan makan dengan lahap. Andy tidak tanggung-tanggung memesan minuman mahal dan Hyesung tidak mempermasalahkan. "Pilkyo, dari dulu kau tidak pernah mau menjawab pertanyaanku. Kali ini kau mau menjawab?"

Hyesung memandang Andy polos sambil mengunyah makanannya. "Hmm."

"Apa itu artinya ya?"

Hyesung mengangguk.

Andy tersenyum lebar dan kembali bersemangat. "Kalau begitu… ulang tahunmu kapan?"

"27 November." Hyesung benar-benar menjawab dan Andy senang bukan main karena Hyesung akhirnya mau menjawab.

"Punya kakak atau adik?"

"Kakak, laki-laki."

"Hee, enak ya. Aku anak tunggal." Andy ikut makan dengan semangatnya. Sepertinya sudah lupa kalau Hyesung habis dihajar oleh gangster sekolah.

"Punya saudara tidak seenak itu, Andy," tutur Hyesung."

Sesaat Andy memberi jeda untuk pertanyaan berikutnya. "Pilkyo, sebenarnya aku paling penasaran tentang ini… err.. Tapi kumohon jangan tersinggung ya."

Mood Hyesung sedang baik. Ia mengucapkan kata "Tentu saja!" dengan santainya. "Tanyakan saja."

Kemudian remaja itu mengucapkannya gagap. "Kita… hubungan kita… Apa kita teman?"

Hyesung terdiam. Menatap Andy keheranan. "Kenapa?"

Ia menundukkan kepalanya, tidak berani memandang mata Hyesung. "Habis, tadi kau bilang tidak butuh, tapi kau membiarkanku bersikap sesukaku. Sekarang kau mau mentraktirku. Jadi, yah… aku merasa—"

"Ya."

Satu kata yang keluar dari mulut Hyesung berhasil mengembalikan keterkejutan Andy. "Eh? Apa?"

"Kubilang, kita teman." Hyesung makan dengan santai tanpa memperhatikan reaksi Andy. "Sungguh? Aku temanmu!?" Anggukkan yakin dari Hyesung langsung membuat Andy begitu senang. "Yes! Akhirnyaaaa! Pilkyo-ah, aku sayang kamu!"

Hyesung tertawa kecil. "Makan saja, chingu-ya."

Andy yang baru saja diresmikan menjadi satu-satunya teman Jung Pilkyo tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Semangatnya menguar dan siap memeluk Pilkyo kapanpun. Dan Hyesung untuk pertama kalinya tidak menyesal menyatakan Andy sebagai temannya. Toh, ia sudah capek selalu diingatkan untuk bersosialisasi bersama teman sebaya di sekolah. Andy bisa menjadi bukti bahwa dia punya teman.

-ricsyung-

"Aku serius, Bu Guru! Semalam dia siap berkelahi dengan kami!" seru Kim Woobin. Ia dan dua anggota gengnya berada di ruang BK sejak jam pertama dan ini jam ke lima. Menyatakan bahwa Jung Pilkyo berkelahi dengan mereka kemarin.

Guru Konseling mereka, Bu Guru Im Yoon nampak lelah mendengar pernyataan yang sama terus-menerus. "Baik, anggap saja Pilkyo memang berkelahi dengan kalian semalam. Lantas, apa yang membuatmu membasahi tempat duduk serta menghajarnya?"

Kim Woobin semakin panas dan tidak sabaran. Ia memukul meja keras-keras, mengejutkan sang guru dan kedua anggota gengnya. "Aku hanya kesal karena semalam urusan kami belum selesai! Puas!?"

Napas menggebu-gebu dari Woobin sementara Im Yoon, sang guru memberi secarik kertas bagi mereka bertiga. "Pilih, ceramah atau membuat surat penyesalan." Woobin sudah terbiasa akan keduanya dan tidak satupun pernah berjalan baik. Akhirnya ia memilih ceramah ketimbang membuat surat penyesalan diikuti temannya.

"Sepulang sekolah. Di sini, jangan lupa," tutur Im Yoon.

Siapa yang akan menyangka Woobin dan kedua temannya akan mengangakan mulut mereka melihat situasi ruang konseling sepulang sekolah. Guru BK mereka, Im Yoon bersiul ria. Hal ini tidak pernah terjadi sepanjang mereka ke sana untuk mendapat hukuman.

"Oh, kalian sudah datang?"

Woobin dan kedua temannya duduk di kursi, berjejer seperti biasa. "Mulai saja, Bu."

Im Yoon tersenyum melihat Woobin yang sangat jengkel dan siap untuk meledak setiap saat. Kali ini, ketimbang ceramah biasa ia akan bicara dengan cara berbeda. Ia duduk di hadapan mereka kemudian bertanya, "Jadi, kau sebenarnya iri dengan Jung Pilkyo?"

Mata Kim Woobin membelalak terkejut. "Apa maksudnya itu?"

"Sejauh ini, kau sangat sering mengucapkan namanya setiap kali kau kemari. Jadi kupikir ada hubungannya dengan kebiasaan berkelahimu. Tadi, kau menghajarnya atas dasar perasaanmu yang meledak karena selalu membandingkan dirimu dengan Jung Pilkyo. Apa aku benar?"

Woobin mengelak sebisanya. Namun akhirnya ia tak bisa. Ia hanya bisa mengakui bahwa ia selalu membandingkan dirinya dengan Jung Pilkyo. "Darimana Bu Guru tahu?" tanya Woobin.

Im Yoon menopang dagunya. "Hmm… karena teman-teman gengmu yang bercerita?" Segera Woobin menoleh pada mereka yang juga menghindari tatapan ketua geng. "Maaf, Woobin-ssi… Tapi kami terpaksa…"

"Kalian ini…:"

"Sudah, sudah. Berkat itu Bu Guru jadi tahu apa yang sebaiknya menjadi hukumanmu dan sudah kubicarakan pada wali kelasmu. Ia menyetujuinya dengan senang hati."

Senyuman tulus sang guru mendadak horror bagi Woobin, mengakibatkan bulu kuduknya berdiri. "Apa yang kau rencanakan?"

"Setiap kali ada tugas kelompok, kau harus satu kelompok dengannya. Bersikaplah akur, jadi temannya."

Perintah hukuman itu mengejutkan Woobin. Ia berdiri segera, menolak mentah-mentah. "Bagaimana bisa aku menjadi temannya!? Satu kelompok dengannya? Ha! Leebih baik aku dihajar daripada melihat wajah sombongnya!"

Im Yoon tetap tenang. Ia tidak menganggap reaksi itu berlebihan. "Aku serius, Kim Woobin. Ini hukuman temudah yang pernah kuberikan untukmu."

"Mudah darimana!? Aku bahkan siap untuk menghajarnya lagi besok!"

"Karenanya, jangan berkelahi lagi. Cobalah untuk mengenalnya. Mungkin kau bisa mengerti kenapa kami membiarkan rambutnya di cat."

Pernyataan itu mendiamkan sang ketua geng. Ia kembali duduk kaku. Memikirkan bahwa mereka harus terus bersama itu sudah menjadi hukuman, apalagi kalau menjadi temannya? Ditambah murid pindahan yang kelihatan sok itu…

Im Yoon kembali tersenyum cerah. "Ceramahnya kutunda. Yang jelas, kau harus bisa menjadi teman Jung Pilkyo. OK, Kim Woobin?" Sampai jumpa besok."

-ricsyung-

Untuk pertama kalinya, Shin Hyesung merasakan sakitnya jika terluka di wajah. Lebamnya sangat mengganggu, bukan hanya penampilannya tapi membuatnya sulit bicara. Biasanya ia akan menelepon bosnya, Dongwan kalau tidak bisa kerja. Kali ini, ia memilih untuk mengirim pesan saja.

Dongwan tentunya keheranan saat membaca pesan Hyesung tentang wajahnya yang terluka. Ia juga ikut khawatir mengingat Hyesung termasuk sumber keuangannya. Dongwan memutuskan untuk menjenguk, saking persistennya Hyesung tidak bisa menolak kedatangan bosnya malam ini.

Sesudah Andy mengantarnya pulang, ia memberitahu Minwoo untuk segera datang ke apartemennya beserta kotak make up. Lee Minwoo malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah dan badan Hyesung yang biru keunguan ketimbang sibuk bertanya kenapa bisa terluka.

Sial, sesaat Hyesung menyesal memanggil Minwoo. "Adikku sayang, kenapa kau terluka sih? Lucu rasanya melihatmu begini."

"Diam, Minwoo! Astaga, bukannya khawatir malah tertawa."

"Habisnya, kau yang biasa menghabisi mereka malah terluka. Apa alasanmu tidak melawan?" Minwoo mengambil ponselnya, spontan memfoto wajah Hyesung itu tanpa sepengetahuan pemilik wajah.

"Aku tak mungkin berulah di sekolah, kan?" kata Hyesung sambil cemberut.

"Oh, sekolah… pantesan. Jadi menyuruhku bawa make up box itu apa?" Minwoo mengacak rambut Hyesung gemas. Di saat seperti ini, ia senang memainkan Hyesung karena remaja itu tidak bereaksi dalam artian membalas tindakannya.

"Tadinya aku berencana menutupi luka di wajahku ini… jadi, yah… kau tahu lah maksudku." Minwoo mengerutkan keningnya. "Kenapa? Bukannya tadi kau bilang Dongwan akan datang?"

Hyesung mengidikkan bahunya acuh. "Nanti malam sebelum dia buka bar. Sekarang kan masih sore, mau jalan-jalan sebentar."

Kali ini, sahabatnya terdiam sejenak. Tiba-tiba saja Minwoo memukul kepala Hyesung cukup kuat. "Aduuh! Kenapa kau malah memukulku!" Hyesung berteriak dan mengusap kepalanya yang sakit.

"Kau itu… sebenarnya niatmu apa sih? Luka-luka minta ditutupi pakai make up dan jalan-jalan. Gimana kalau ada teman sekolahmu yang lihat!"

"Biarkan saja! Toh itu bukan urusanku!" Hyesung membentak balik.

"Tetap saja mereka akan membicarakanmu, Pilkyo!"

"Haish, tutupi saja lebam biru-biru ini! Temani aku jalan!"

Minwoo mengalah. Mencoba melawan Hyesung yang sedang emosi sama saja mencari mati. Dia akhirnya melakukan apapun yang Hyesung minta. Remaja itu dengan wajah sumringah melihat-lihat di mall dekat apartemennya. Kini Minwoo bertindak sebagai bodyguard dan pembantu Hyesung. Membawakan belanjaan yang kebanyakan sepatu dan baju.

Meski kesal, akhirnya penderitaan Minwoo selesai setelah ia menghapus make up tebal itu. Tadinya ia sudah was-was kalau mendadak ada teman sekolah Hyesung. Untunglah tidak. Remaja itu sudah kembali ke sikap awalnya seusai mandi.

"Minwoo, mau makan apa malam ini?" tanya Hyesung yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Apapun. Asal jangan mie lagi."

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Hyesung memesan makanan untuk mereka berdua. Sambil makan, Minwoo kembali bertanya. "Apa perkembanganmu dengan Mun Junghyuk?"

Remaja itu nyaris tersedak karena Minwoo mendadak mengangkat topik itu. "Kenapa?"

"Bukan apa-apa. Hanya penasaran dengan dewa seks itu."

Sial, Minwoo mulai menggodanya. Hyesung bisa merasakan tubuhnya mulai tidak nyaman. "Bisa tidak selesai makan saja baru membicarakannya?"

Lee Minwoo tersenyum licik. "Apa kau pernah bermimpi sedang melakukan seks dengannya?" Dan Hyesung meletakkan sendoknya serta menatap datar sang sahabat. "Mau berantem, ya?"

"Kau terluka. Aku yakin aku bisa mengalahkanmu kali ini," ujar Minwoo santai. Senyum cerianya sungguh mengganggu Hyesung. Ia cemberut dan tidak membalas seperti biasa.

"Sial, lain kali aku sudah sembuh aku pastikan tulangmu patah."

"Oww… seraamm~"

Dan remaja itu melempar kotak tissue ke arah Minwoo yang ditangkis dengan mudah.

-ricsyung-

Mun Junghyuk menyesap kopinya untuk kesekian kali hari ini. Jam 6 adalah waktunya pulang. Pria itu membereskan berkas-berkas pekerjaannya, mematikan komputer dan siap berpamitan. Tak lupa juga ia mengecek ponselnya. Ekspresi wajahnya sangat cerah ketika melihat nama Shin Hyesung di chat serta missed calls.

Buru-buru Junghyuk menelepon balik sang kekasih barunya itu dengan hati bergelora. Setelah nada dering ketiga, Hyesung menjawab teleponnya. "Halo, Junghyuk-ssi?"

Pria mapan itu tersenyum geli sampai-sampai matanya ikut membentuk bulan sabit. "Sudah kubilang, pakai 'hyung' saja… 'Ssi' terlalu formal, Hyesung."

"Ahh… maaf, aku belum terbiasa… Hyung…" Suara kecil Hyesung yang menciut berhasil menyentuh hati Junghyuk. Pria itu tersenyum lebar membayangkan ekspresi Hyesung yang malu-malu memanggilnya Hyung.

"Hyesung, mau makan malam bareng hari ini?"

Langsung saja Hyesung yang saat itu masih bersama Minwoo melonjak kebingungan. Wajah dan tubuhnya penuh lebam dan dia tidak mau menunjukkan semua itu dihadapan sang pacar. Merasakan memiliki kekasih untuk pertama kalinya cukup membuat Hyesung kewalahan menata emosinya.

Ia melihat Minwoo yang menyuruhnya untuk menolak ajakan. Meski tak tega, Hyesung akhirnya mencoba menolak. "Ehm, Junghyuk hyung, aku tak bisa malam ini… ada acara keluarga," katanya mengikuti perintah Minwoo yang ditulis di notes hpnya.

"Sungguh? Apa itu sangat penting?"

Hyesung langsung teringat pekerjaan Junghyuk adalah pengacara saat mendengar intonasi tajam tersebut. Ia mulai panic, tapi Minwoo mendengar semua itu dan berusaha melanjutkan. "Ya, maaf hyung. Lain kali kuhubungi lagi kalau aku sempat."

Sejenak tak ada balasan. Hyesung mulai keringat dingin saking tegangnya.

"Hyung…?"

"Baiklah, nanti kuhubungi lagi. Bye, Hyesung."

"Bye…"

Setelah telepon itu ditutup, Hyesung merasakan kelegaan luar biasa. "Minwooo~ Dia mengajakku makan! Makan bersamaa!" Hyesung menyerang Minwoo dan memeluknya erat. "Junghyuk benar-benar jadi pacarku! AAHH! Aku bisa gila!"

"Kau yang lepas! Aku kesakitan, Pilkyo! Oi!"

Minwoo berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Hyesung yang masih menggila karena baru menyadari statusnya sebagai 'pacar' benar-benar nyata.

"Minwoo, aku merasa menyesal sudah menolak ajakan itu… harusnya aku minta tolong kamu tutupi lukaku dengan make up lagi, toh kau belum pulang."

"Enggak. Kau barusan menghapus semua make up itu. Aku tidak mau mendandanimu dua kali! Apalagi demi laki-laki yang menjadi pacarmu itu."

"Ehh, kenapa?" Kekecewaan Hyesung tentu nampak, tapi itu tak membuat Minwoo merasa bersalah. "Wajar saja, itu memakan waktu dan susah. Tambah la—"

"Ahh, ahh diamlah. Jangan menasihatiku sekarang!" remaja itu menutup kedua kupingnya.

Minwoo menghela napas berat melihat tindakan Hyesung.

"Hei, Pilkyo, ini cuma pengandaian, ok? Kalau misalnya si Mun Junghyuk itu sudah tahu identitas aslimu, apa menurutmu dia akan menerimanya semudah itu?"

Pertanyaan Minwoo mendiamkan sang remaja dengan penuh tanda tanya. "Kenapa kau tiba-tiba mengandaikan…"

"Dan apa dia akan menerima kenyataan kalau kau anak mafia yang bahkan pernah terlibat dalam kriminalitas meski itu dipaksa ayahmu?"

Shin Hyesung termenung. Ia tidak mau memikirkan itu. Dirinya hanya mau menjadi manusia yang menjalani kehidupan normal tanpa kejahatan seperti ayahnya. Hyesung tidak mau membayangkan dirinya yang dari dunia gelap dihancurkan oleh Junghyuk yang bisa ia katakan "cinta" karena pria itu dari dunia terang dan bekerja sebagai pengacara.

Kalau itu terjadi, maka Hyesung siap untuk menghancurkan dirinya sendiri.

.

.

Tbc

AN: yah… Eric benaran nikah udah yah… padahal masih teringat sama ucapannya kalau larangan mereka di shinhwa ga bole nikah. Berarti usia mereka sudah lewat untuk batas larangan itu… mana cewe nya selisih 12 taunnn. Ga tau dah seneng atau sedih.

Makasih udah membaca ff super rare ini yaa meski ghost readers, wkwk.

Ff lain akan siap dilanjutkan dalam kurun waktu sebulan setelah semua kesibukan dan masalah mental beressss. Huahahaha gamsahamnidaaaa.

Annyeooonggg. Xoxo.