Pastinya readers udah bosen dengan permintaan maaf author, tapi maaf sekali sudah menelantarkan alur yang belum terselesaikan ini, juga udah membuat kekepoan yang terlupan karena apdetnya kelamaan.

Maaf ini gak termasuk alur cerita ff dan bukan buat manjang-manjangin scroll down, tapi ini emang bakal panjang jadi maaf jangan kesel ya...bacot emang authornya.

Sebelumnya aku mau bilang terima kasih sama readers yang masih setia dan mau baca ff ini. Kalo lupa alurnya monggo ya di re-read lagi hehehe ._.V


WARN: SLASH (BL), FANTASY, Gender-Switch (Minseok & Baekhyun)

Soundtrack:
Lee Hi - ν—ˆμˆ˜μ•„λΉ„
Teentop - Remote Control
The Veronicas - You Ruin Me
.

.

.

.

LOVE, PEACE, AND ENJOY!
.

.

.

.

Angin sore berhembus membuai lembut kulit wajahnya, rambutnya menari-nari di tiup angin, air di danau pun sangat tenang ia merasa kedamaian disana. Suasana seperti ini yang selalu mengingatkannya pada seseorang. Kedua matanya masih terpejam merasakan setiap sentuhan lembut dari angin-angin yang mengenai kulit wajahnya, kelembutannya selembut punggung telapak tangan milik Luhan.

Bentuk dari tanda hitam itu tersisa sepertiga lingkaran, entahlah ia dapat bertahan sampai kapan di dunia roh? Satu hal sebelum ia pergi, ia ingin menemui sahabat terbaiknya. Seminggu sejak ia tahu kalau tanda itulah yang dapat mengirimnya ke dunia manusia, Minseok tidak pernah bercerita pada Baekhyun. Ia tidak ingin membuatnya menangis sebelum ia benar-benar akan pergi.

TUTTTTTTT~
TUTTTTTTT~

"Hello! Kau dimana? Aku sudah menunggu 1 jam!" ucap Minseok kesal
"Maaf paopao! Aku masih latihan menyanyi, tapi keliatannya sebentar lagi juga selesai tunggu ya! Aku pasti kesana kok! Nanti akan ku bawakan makanan kesukaan kamu untuk waktumu hihihi"

"Kau sibuk sekali! Karena aku teman yang paling baik sedunia aku akan menunggumu"

"Hah..iya ya baik sekali" kata Baekhyun sedikit meringis di balik telepon

"see you~ bye!" Minseok memutuskan sambungan teleponnya.

Satu jam berlalu Baekhyun tidak kunjung datang, ia khawatir waktunya akan habis. Matanya tidak bisa berpaling dari tanda hitam di bawah telapak tangannya itu yang setiap menit selalu berkurang.

"Byun Baekhyun cepat lah! Palli! Palli!" Minseok bergumam

Minseok ragu kalau Baekhyun akan datang tepat waktu di taman dekat danau itu.

Ia mengambil sebuah bolpoin dan secarik kertas dari dalam tasnya, ia mulai menuliskan rangkaian kata di atas secarik kertas tersebut.

Kata demi kata telah terangkai dengan rapih oleh tinta hitam.

"PAOPAOOOOO!"
Suara teriakan tersebut terdengar tidak asing, tentu si pemilik suara itu adalah Byun Baekhyun.

Senyum bahagia menghiasi wajah putihnya, wajahnya semakin bersinar terkena sinar matahari sore, dari kejauhan ia melambaikan salah satu tangannya dengan membawa sebuah bingkisan berwarna putih di tangan lainnya.

Minseok hanya tersenyum dengan manis pada Baekhyun, syukurlah ia dapat datang sebelum waktunya habis.

"Kau pasti lapar? Ini makan dulu" Baekhyun duduk di samping Minseok sambil membuka bingkisan putih tersebut "JENGJENGJENGGGG~ KAMU SUKA KANNN?!"

"Yeay! Terima kasih Baek-ie!" Minseok langsung menyumpit topokki tersebut dan melahapnya rakus namun masih anggun.

Minseok merasa sangat sedih ketika melihat Baekhyun, karena tak lama lagi ia akan meninggalkannya. Minseok pun tidak tahu siapa yang akan menyemangati dirinya sendiri nanti? Ketika ia merasa sedih, selain Baekhyun dan kekhawatiran mulai berkumpul pada benak Minseok, juga ia takut tidak dapat menemukan Luhan disana.

"Baek-ie~ kau menyayangiku kan?" ucap Minseok sambil meletakan sumpitnya dan menutup box makanan tersebut yang sudah habis

"bahkan aku mencintaimu hehehe" kekeh Baekhyun dan meneguk air di botol mineral

"Aku juga~ jika aku pergi dari sini kau pasti sedih kan? Tapi aku mohon jangan terlalu sering menangis untuk ku" ucap Minseok sambil mendekap Baekhyun.

"UHUUKK..UHUUKKKK..." Baekhyun tersedak, Minseok melepaskan pelukannya.
"yaaaa! Aku lagi minum kenapa kau malah memelukku seperti itu?"

"Maaf~" Minseok pout

"Maksud mu apa berkata seperti itu?" tanya Baekhyun penasaran

Minseok memeluk Baekhyun untuk kedua kalinya, pipinya sudah di banjiri oleh airmata dan suara isak tangisnya terdengar hingga telinga Baekhyun.

"Kau kenapa? Tidak biasanya seperti ini' ucap Baekhyun sambil menepuk-nepuk pelan punggung Minseok.
"PAOOO?"

Hikss...Hiksss...Hikssss...

"Aku..sangat menyayangimu.. dan mencintaimu..." suara Minseok bergetar sambil menahan cairan yang akan keluar dari hidungnya.

Waktu seperti berhenti.
Baekhyun tidak dapat merasakan pelukan Minseok lagi, ia membuka matanya dan sadar Minseok sudah tidak ada disana.

"MINSEOKKKKKK! MINSEOK! DIMANA KAU? MAKSUDMU APA?" Teriak Baekhyun sambil mencari Minseok di setiap sudut taman, airmatanya terus bercucuran.

Ia benar-benar tidak mengerti maksud yang ia bicarakan tadi itu apa? Dan bagaimana bisa ia menghilang seperti itu?

Baekhyun berjalan dengan lesuh kembali ke tempat dimana mereka duduk bersama tadi, ia melihat secarik kertas tergeletak dibawah sebuah bolpoin di atas bangku yang mereka duduki tadi.

To : My soulmate BB
From : Pretty Minseok

Ketika kau membaca surat ini, aku mohon pada mu untuk tidak menangis!
Aku tidak bilang ini salam perpisahan kita, karena aku yakin suatu saat nanti pasti aku akan kembali dan melakukan aktivitas yang biasa kita lakukan bersama-sama lagi.
Maaf aku tidak bercerita pada mu lebih awal soal kepergian ku ke dunia manusia, kau tahu? Tanda lingkaran hitam itulah penyebabnya. *Kau menangis kan! : *
Tolonglah jangan menangis lagi setelah hari ini berlalu!
Aku akan selalu mengingatmu dan tunggu lah kedatangan ku kembali bersama Luhan!
TERIMA KASIH UNTUK SELALU ADA BERSAMAKU~

Baekhyun terduduk lemas di atas bangku taman tersebut, ia mencoba menahan tangisnya. Ia memeluk kertas tersebut dan terus menangis memanggil nama Kim Minseok. Ia merasa sangat kehilangan, tapi di satu sisi ia merasa bahagia Minseok akan bertemu dengan Luhan disana.

.

.

.

.

.

Hidangan makan malam ala Europe telah tersedia di atas meja makan besar dan mewah yang terbuat dari batu konglomerat tersebut.

Terdapat sebuah keluarga yang terdiri dari dua orang anak laki-laki yang duduk di setiap bangku disana. Salah satu dari mereka mengenakan kacamata dengan pakaian yang berantak, berbanding terbalik dengan anak laki-laki yang satunya lagi penampilannya terlihat lebih dewasa, berwibawa dan classy.

"Bagaimana hari pertama adik mu di sekolah tadi?" tanya seorang pria berambut kelimis dengan sedikit rambut putih yang tumbuh di antara rambut-rambut hitamnya.

"Ia masih membawa kebiasaan lamanya" jawab anak laki-laki yang berpakaian formal tersebut dengan tegas

"Kenapa kau tidak berubah-ubah? Jadilah pria yang dewasa dan mandiri seperti kakak mu!" ucap keras pria tua tersebut pada anak laki-laki yang mengenakan kacamata

"Ayah sudahlah jangan terlalu keras padanya~" sang istri yang duduk di sampingnya mencoba meredam amarah sang suami sambil mengusap-ngusap punggungnya.

PRAKKKKK...!

Anak laki-laki berkaca mata tersebut menggeprak meja dengan keras.

"BAIKLAH JIKA ITU YANG AYAH MAU!" suaranya keras dan kasar untunglah mereka berada di private dining room di sebuah restaurant Europe termahal di Korea. Ia meninggalkan ruangan makan tersebut begitu saja.

"Chanyeol! Kamu mau kemana sayang?" teriak sang ibu

"Sudah lah mom! Nanti aku yang bicara padanya, jangan khawatir kan dia!" ucap Kris menenangkan ibunya.

.

.

.

Chanyeol tidak kuasa menahan amarahnya di sebuah lorong sepi, ia berteriak-teriak untuk mengeluarkan rasa kesalnya sambil menendang apapun yang ada di sekitarnya.

Setelah ia rasa lebih baik, Chanyeol pergi ke rumah dengan taksi.

Dua orang bodyguards mengenakan tuxedo berdiri di depan pintu utama dan membukakan pintu untuk Chanyeol ketika ia lewat. Pekerjaan membuka pintu di perlukan dua orang bodyguard karena pintunya sangat besar dan berat.
Keluarga mereka adalah keluarga yang sangat berada, bahkan harta keluarga mereka cukup untuk 12 turunan.

Chanyeol memasukkan beberapa baju ke dalam tas ranselnya, lalu meninggalkan rumah secara diam-diam tanpa diketahui bodyguards di sekitar rumahnya. Pasti ayahnya sudah memberi perintah pada mereka untuk tidak membiarkan Chanyeol pergi keluar rumah.

Tapi ia memiliki jalan rahasia untuk keluar dari dalam rumahnya itu yang ia anggap seperti penjara. Tidak ada satupun yang tahu jalan rahasia tersebut, kecuali seorang tukang bangunan, ia, dan Tuhan.

"Malam ini aku akan menginap di rumah mu" Chanyeol menelpon seseorang tanpa mau mendengar jawaban dari si lawan bicaranya di telepon.

Chanyeol mengenakan jaket hitam dan menutup kepalanya dengan kupluk dari jaket tersebut dan ia mengenakan topi juga, untuk menyamarkan jati dirinya.

TING TONG!
TING TONG!
TING TONG!

Seseorang muncul di layar monitor, beberapa saat kemudian ia membukakan pintu rumahnya

"Yow! Long time not see you bro!" orang itu menyapanya dengan sangat akrab sambil memeluk kilas Chanyeol "Tapi kenapa tiba-tiba kau ingin menginap di rumahku?"

"Aku lelah, nanti aku ceritakan!" Chanyeol tidak menjawab pertanyaan orang itu.

Orang itu mempersilahkannya masuk dan mengantarnya ke kamarnya.

"Berhubung kamar tamunya sedang di jadikan gudang, aku berbagi ranjang dengan mu" ucap orang itu

"Kau selalu berbaik hati pada ku, terima kasih" Chanyeol memeluknya sebentar

Chanyeol membaringkan tubuhnya di atas kasur, kedua tangannya di lipat ke belakang kepalanya, pandangannya ke langit-langit kamar. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Chanyeol kau janji akan bercerita padaku!" ucap pemilik kamar tersebut yang masih penasaran
"biasa lah dari dulu begitu-begitu saja masalahnya, perbedaan antara si angsa dan si bebek" jawabnya sambil memejamkan kedua matanya.

"ah I see, kakak mu dan si bebek itu kau kan? HAHAHAHA" ucapnya meledek
"kau pro dengan mereka? Kalau begitu aku salah tinggal disini" kata Chanyeol sedikit kesal

"Tidak aku hanya rindu untuk meledek mu lagi, 2 tahun tinggal di New York tidak ada perubahan?" tanyanya penasaran
"Bagaimana tidak mereka menempatkan ku di negara bebas" jawab Chanyeol memandangi langit-langit kamar lagi

"kalau begitu kau seharusnya tinggal di asrama kemiliteran" usulnya

"Mungkin akan ku hancurkan negara ini" ucapnya cuek.

.

.

.

Seseorang mencoba membangunkan kerbau kurus dan berkulit hitam, dengan menyipratinya dengan air pada wajahnya.

"Hei kkam bangun!" suaranya sangat berat "kalau tidak aku nyanyi nih.." ucapnya lagi

"Aaa...tidak..tidakkk.." Kim Jongin langsung berdiri dengan cepat dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi, sepertinya matanya masih terpejam saat itu

Kim Jongin adalah sahabat yang paling jujur, sampai-sampai suka melukai hati seorang Park Chanyeol. Waktu itu Chanyeol mencoba untuk ikut ekskul paduan suara saat SMP tapi Jongin memintanya untuk jangan bergabung, Chanyeol terus bertanya kenapa? Sampai membuat Kim Jongin murka karena mendengar suara nyanyiannya itu setiap hari, suaranya benar-benar sangat buruk entah ia tidak bisa menjelaskan seberapa buruk suaranya saat menyanyi.
"Chanyeol, seharusnya kau minta maaf padaku. Kau tahu? Suaramu itu buruk sekali, telingaku sakit sungguh sakit. Kau menyakiti telingaku jadi minta maaflah!" jawab Kim Jongin atas pertanyaan Chanyeol waktu itu.

Jongin dan Chanyeol berjalan bersama ke sekolah, ini pemandangan yang sangat menarik bagi para wanita di sekolah khusus wanita yang letaknya bersebelahan dengan sekolah khusus pria tersebut.
Jongin langsung menarik tangan Chanyeol dan berlari masuk ke dalam sekolah mereka.

"'Hei kau kenapa menarik tanganku dan berlari?" Tanya Chanyeol dengan nafas yang tidak teratur

"Kau tidak tahu ya?" Jongin menghela nafas
"sekolah khusus wanita di sebelah sekolah kita itu banyak yang melakukan operasi kelamin"

"Maksud mu transgender?" Chanyeol menaikan satu alisnya

"Bingo!" Jongin berjalan meninggalkan Chanyeol di belakang

"Jadi...wanita kemarin itu" Chanyeol tidak meneruskan ucapannya, tangannya memegang dadanya dengan pandangan kosong

"Heh Cha-plang cepatlah masuk!" Teriak Jongin yang sudah sampai di balkon depan kelasnya.

((FLASHBACK di chapter 6))

Di hari yang bersamaan saat pertama kali Chanyeol masuk ke dalam sekolah khusus pria tersebut, sepanjang hari di sekolah itu tidak seburuk seperti biasanya. Ia bertemu seseorang pagi itu, ketika ia sedang memanjat pagar belakang sekolah.

"Apa yang kamu lakukan?" Celetuk seseorang

Chanyeol berhasil memanjat keluar sekolah, kaki panjangnya menapak di atas rumput-rumput liar.

"Cabut" jawabnya singkat sembari membersihkan debu-debu yang menempel di baju dan tangannya.

"Aku pikir disini tidak ada yang seperti itu, sama saja ternyata" ucapnya sendiri

Chanyeol hendak melangkah pergi dari sana, tapi ia penasaran dengan wajah seseorang yang memiliki suara selembut itu. Ia mengerakkan bola matanya ke arah lawan bicaranya itu yang berada beberapa meter di hadapan dengan sekilas, tanpa sedetik ia melihat wajahnya sekali lagi dalam jeda yang sangat lama.

Mata Chanyeol tidak bisa berpaling dari wanita yang berada di hadapannya saat ini, ia seperti magnet yang mencoba menarik hatinya masuk kedalam dunia imaginasinya.

Orang itu berjalan maju beberapa langkah mendekati Chanyeol,
"Hei... Ada apa denganmu?" Muka mereka hanya berjarak beberapa cm.

Chanyeol mengedip-ngedipkan kedua matanya dan sedikit berjalan mundur, jantungnya berpacu sangat cepat. Ia khawatir kalau seseorang di hadapannya itu dapat mendengar dentuman jantungnya.

"Aku Minseok" ia menyodorkan tangan kanannya, Chanyeol tidak berani melihat kearahnya lalu ia menjabat tangan lembutnya itu.
"Park Chanyeol, panggil Chan.."

"Ok Chanyeol kau pasti anak nakal yang mencoba kabur dari sekolah mu kan?" Minseok menerobos ucapannya dengan kecepatan bicara yang mencapai 80km/jam "Bagaimana kalau aku bilang pada satpam di depan supaya kau di hukum, kembali ke dalam atau tidak?" Ia mengancam Chanyeol.

"Hei...tidak tidak jangan!" Chanyeol bergerak malas untuk memanjat pagar itu lagi

Minseok melipat kedua tangannya di depan dadanya, sambil tersenyum menyeringai.

Chanyeol kembali masuk ke dalam sekolah,
"Hei... lantas apa yang kamu lakukan disitu? Pasti kau cabut juga kan?" Chanyeol berteriak pada Minseok, tapi ia tidak peduli dan pergi dari sana.

Baru kali ini Chanyeol takut dengan sebuah ancaman dari seseorang, bahkan seseorang itu baru ia kenal beberapa menit yang lalu.

((END OF FLASHBACK))

.

.

.

.

.

Pagi itu, Sehun sudah duduk lebih dulu di bangkunya yang bersebelahan dengan bangku milik Jongin. Matanya menangkap sesuatu yang tidak dapat ia mengerti, Jongin masuk ke dalam kelas sambil merangkul si telinga besar itu.

Suara di headsetnya pun seperti tidak mengeluarkan suara, terasa sunyi dan keadaan menjadi slow motion. Mata amber Sehun, menatapnya dengan sinis dan jawdrop. Ia buru-buru menyadarkan dirinya, sepertinya mereka akan menuju ke arahnya, tentu saja karena Jongin duduk berseberangan dengan bangkunya.

Jongin memetikan jarinya dua kali di depan wajah Sehun.
"Sehun-ah, sadarlah! Kau kenapa?"
Sehun mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, mencoba untuk membangunkan dirinya dari lamunan.

Mata Sehun melirik tajam, ke arah seorang betubuh jangkung yang berdiri tepat di samping Jongin itu, dan keduanya saling terlihat ingin membunuh satu sama lain.

"O..O..Ooo.. Calm down broh!" Jongin mencoba mencairkan suasana sambil menepuk-nepuk sebelah pundak keduanya.

"Jadi kalian sudah pernah berkelahi?" tanya Jongin sambil menengok secara bergantian ke wajah mereka
"Oh salah pertanyaan seharusnya pertanyaannya, apa kalian sudah bertemu lalu berkelahi?"

Kini mata keduanya mengarah ke Jongin dengan tatapan ingin memakan daging hangus ini. Wajahnya terlihat sangat bodoh, bahkan mereka jadi tidak nafsu untuk menyicipnya sedikitpun.

"Sudahlah kalian berdua teman ku, jadi kau dan kau harus berteman juga" Jongin menganggapnya enteng

"gigi lo gendut" celetuk Chanyeol mengeluarkan slang englishnya/?.

Sehun berdiri tiba-tiba sambil tersenyum kecut ke arah Chanyeol, ia meninggalkan mereka keluar kelas. Mood baiknya pagi ini benar-benar telah hancur, seperti biasanya ia pergi ke atap gedung untuk menenangkan diri disana.

Sudah masuk jam istirahat Sehun masih belum kembali ke kelas, Jongin memutuskan untuk pergi menyusul Sehun ke atap gedung. Dengan tiba-tiba Chanyeol mencengkram lengan milik Jongin, ia mendorongnya untuk tetap duduk di bangku.

"Sudah kau tetap disini saja, percuma aku dan dia tidak..."
"JONGINIE!"
Chanyeol belum selesai berkata, suara teriak seseorang dari luar pintu kelas itu mengganggu saja, tubuh orang itu terbiaskan oleh cahaya, hanya bayangan hitam yang terlihat yang sedang melambai-lambaikan tangannya.

Orang itu berjalan mendekati mereka, mata Chanyeol tak henti menatapnya hingga di hadapannya.

"ah bagus lah kamu disini, tolong susul Sehun ya! Dia di atap gedung ini atau mungkin di atap gedung lain" pinta Jongin

"dia ngapain disana?"
tanyanya dengan mata sayu yang telihat penasaran

"dari tadi pagi, dia tidak masuk jam pelajaran sampai sekarang belum kembali" jelas Jongin

"Baiklah aku pergi ya bye"
ia meninggalkan mereka sambil berlari

Nafas Luhan terdengar tidak teratur, ia mencari-cari Sehun di atap gedung kelasnya tapi tidak ada. Ia pergi ke pinggiran untuk mencarinya di atap gedung sebelahnya.

"Heh ngapain disitu? Mencariku?" teriak seseorang dari arah belakangnya

Refleks Luhan melihat ke sumber suara dan benar saja itu suara Sehun. Ia berlari masuk ke pintu dan turun dari atap gedung itu, Luhan berlari menuju atap gedung sebelahnya untuk menyusul Sehun disana.

BRUUKKKKKK

Tubuhnya terjatuh lemas setelah bertabrakan dengan seseorang saat ia ingin menaiki tangga, Luhan bernafas semakin tidak karuan, wajahnya tertunduk kebawah. Orang yang yang membuatnya tejatuh mengulurkan tangannya, tapi ia tidak terburu untuk meraih tangannya, ia melihat sosok orang itu lebih dulu. Luhan menghembuskan nafasnya kencang, lalu meraih tangannya sambil tersenyum.

"Kau kelelahan?" tanya orang itu lalu berjalan meninggalkannya, ia tahu kalau Luhan pasti akan mengikutinya di belakang.

"aku berlari untuk kamu, kenapa bolos jam pelajaran?" tanya Luhan dengan nafas yang masih tidak teratur

Sehun membawanya ke kantin, ia membeli sebotol air mineral, dan memberikannya pada Luhan. Mereka duduk saling berhadapan di bangku di antara sebuah meja dalam kantin tersebut.

"Terima kasih"
Luhan meneguk air mineral tersebut, mata Sehun melihat ke leher Luhan, dan melihat gerakan adam apple-nya yang bergerak naik turun setiap kali ia teguk air itu.

Bibir Luhan basah dan terlihat sangat merah, ia membiarkan bibirnya terbuka untuk membantu hidungnya bernafas agar mendapatkan oksigen lebih banyak. Mata sayunya terlihat kelelahan, juga keringat-keringat yang mengalir dari ujung dahinya ke leher panjang dan putihnya.

Sehun menenguk salivanya, ia hampir mati dehidrasi melihat Luhan saat itu. Ia melumat bibir bawahnya untuk membasahi bibirnya yang kering.

"Jawab pertanyaan ku"

Kini Luhan seperti benar-benar mencoba menariknya ke dunia imajinasi dewasa. Bibir merahnya di buat sedikit manyun dan wajahnya bertumpu dengan sebelah tangannya di hadapan Oh Sehun.

Sehun mencoba bertahan pada situasi seperti ini, ia tidak kuat untuk menahan hasratnya. Jantungnya pun terasa sakit karena detakannya sangat keras, ia memalingkan pandangannya ke arah lain, agar tidak terjerumus pada pikiran kotornya untuk melakukan sesuatu pada bocah laki-laki dihadapannya ini.

RINGGGGGG

RINGGGGGGGGGGG

Kebetulan bel masuk berbunyi, Sehun tidak perlu menjawab untuk menceritakan panjang lebar hal yang terjadi tadi, karena ia tidak memilki kekuatan untuk mengucapkan sepatah kata padanya, ia berdiri dari bangku dan pergi meninggalkannya sendirian.

Sehun menghentikan langkahnya, jaraknya belum terlalu jauh dari bangku dimana Luhan duduk
"Kau dengar bel? Kembali lah ke kelas!" Ia terus berjalan setelah berkata seperti itu.

"Kamu yang kembali ke kelas! Jangan bolos jam pelajaran lagi!" Teriak Luhan dengan lantang, untung kantin sudah sepi saat itu.

Sehun mendelikan matanya, ia mendengar ucapannya, dan tersenyum kecil.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Thanks To:
junia angel, yehetnwl8, theoxgnforme, teleportbabies, ChaHkyeon, CHyeRaa, ada .tiada .73, myhunhanbaby, shasonelfyeonzah, , luluna99, xiuuuu, Oh Zhiyulu Fujoshi, irna .lee .96, justonlykris, EXO love EXO, summerpixxie, official couple, candra, XiuminBaozi, Milky Kim, Geniaaa, luwinaa, GreifannyGS, Achankim, ega. , Kim XiuXiu Hunnie, , xhlm, himekaruLI, frostlightx, GOT7mark93, magnifiken, liapisces, guest~ etc.
[Sorry for wrong writing and missing]

REPLY
/Kwon Ara : soal si papa benben aku baru sadar pas baca review kamu, tapi nanti aku perbaikin di next chapter ;) dan makasih udah ngingetin + sarannya. Keep reading! ^^

Maaf sekali... tanda baca dan diksinya kurang tepat, oon bat maap yak!