TRAP IN KONOHA
A fiction by Arisa Risarisarisa
Naruto©Masashi Kishimoto
Genre : Adventure, action, friendship
Rated : Teen
Warning : Typo, OOC, ide pasaran
Please enjoy reading
.
.
.
.
Shikamaru's House
"Terhubung!" ucap Shikamaru ketika mendengar suara berisik yang menandakan kalau ia terhubung dengan Naruto, sementara mereka yang mendengar pernyataan Shikamaru barusan hanya mampu mengulas senyum bahagia. "Sial! Gagal lagi." Senyum mereka luntur seketika ketika mendengar pernyataan terakhir Shikamaru ketika ia tidak lagi mendengar suara apapun, Sasuke dan Shino dengan jeli menatap layar monitor didepannya dan sesekali memperbaiki kesalahan data atau angka disana
"Coba lagi!" ucap Sasuke tegas, Shikamaru segera mengetik sesuatu dilayar hologram yang ditampilkan oleh smartphone-nya, seketika layar hologram itu memunculkan sebuah struktur geografis dengan sebuah titik berwarna merah disana yang menandakan lokasi orang mereka coba hubungi
'Naruto kumohon…tersambunglah…kumohon…' do'a mereka kompak dengan khusyuk
Shikamaru mendengar suara berisik di handsfree-nya yang menandakan kalau ia terhubung dengan Naruto
"Minna…"
"Terhubung," ucap Shikamaru tidak percaya dengan suara super pelan, Shikamaru lalu melepaskan handsfree-nya dan menggantinya dengan mini microphone yang tersambung ke smartphone-nya
"Naruto?!" panggil mereka serentak
.
.
.
Penjara bawah tanah, Konohagakure
Penjara, sebuah tempat yang pasti akan sangat dijauhi oleh penjahat kalangan apapun, tapi siapa yang menyangka kalau pemuda yang bercita-cita menjadi penegak hukum seperti Naruto Namikaze akan mendekam dipenjara saat ini, di negeri antah berantah pula
Keadaan Naruto saat ini sangatlah menyedihkan, ia hanya bisa duduk dilantai marmer diruang sel yang sempit itu, seluruh tubuhnya dibungkus oleh kain, tentu kecuali kepalanya, ia bahkan sulit merasakan jarinya sendiri, seluruh senjata miliknya disita oleh anbu penjaga penjara, kecuali ponselnya yang saat ini bergetar disaku celananya. Dengan perjuangan penuh Naruto berusaha mengambil ponselnya dan mengeluarkannya dari kain yang membungkus tubuhnya, setelah benda kecil berbentuk persegi itu keluar dari kain yang membungkus Naruto, ia pun segera menekan tombol untuk menerima panggilan dengan hidungnya
"Naruto?!"suara ramai para sahabatnya pun menyapu indera pendengarannya
"Minna~~" lirih Naruto dengan air mata yang sudah menumpuk dan siap untuk jatuh
"Shikamaru! Berikan padaku!" bentak suara perempuan yang sangat Naruto kenali sebagai suara kekasihnya, Hinata. "Naruto-kun? Kau baik-baik saja? Kau ada dimana? Aku khawatir sekali padamu? kenapa kau menghilang tiba-tiba?" suara Hinata melembut ketika berbicara dengan Naruto, sementara Naruto bingung dengan pertanyaan bertubi-tubi kekasihnya itu
"A-aku baik…aku ada di Konoha," ucap Naruto dengan wajah yang murung
Samar-samar Naruto dapat mendengar suara panik Kiba yang bertanya. "Apa yang terjadi?"
"A-apa? Suaramu tidak begitu jelas Naruto!" sahut suara laki-laki yang dapat Naruto kenali sebagai suara Lee
"Konoha! Aku ada di Konoha!" ulang Naruto dengan volume suara yang cukup tinggi hingga membuat seorang anbu meliriknya
Lagi-lagi Naruto mendengar suara panik tapi kali ini berasal dari Sasuke, sahabatnya. "Sinyalnya melemah."
"…" Tak ada jawaban dari Hinata maupun teman-temannya, ia lalu melihat layar ponselnya yang kembali menunjukkan wallpaper Hinata dan dirinya tanda kalau sambungan jarak jauh itu telah terputus
"Sudah terputus," ucap Naruto dengan suara parau, ia kemudian duduk kembali dengan pandangan mata yang kosong, bibirnya yang kering dan pucat terus merapalakan kalimat yang sama. "Mereka mencariku, mereka mencariku, mereka mencariku…"
'benar, mereka mencariku bahkan berhasil menghubungiku yang terlempar kemasa lalu ini, mereka berusaha untukku, lalu apa yang kulakukan? Duduk diam disini? Menunggu eksekusiku? Tidak…tidak…aku harus keluar dari sini, bagaimanapun caranya aku harus keluar dari sini, harus keluar dan kembali kemasaku, itu yang harus kulakukan' batin Naruto
Naruto yang sudah sangat niat untuk membebaskan dirinya segera menggeliatkan tubuhnya agar kain yang mengikatnya setidaknya bisa longgar, tapi usahanya tidak membuahkan hasil apapun, hanya kepenatan yang didapatnya. Iris jade yang sedari tadi menatapnya sedih pun dihiraukannya, pemuda itu sama sekali tidak menyadari kehadiran sosok lain yang sedari tadi menatapya entah berapa lama, sosok itu kemudian manampakkan dirinya dengan berdiri didepan sel penjara Naruto sementara pemuda itu masih sibuk menggeliatkan tubuhnya
"Menggeliatkan tubuhmu terus tak akan mengeluarkanmu dari sini Naruto," ucap sosok itu lembut. Mendengar suara itu membuat Naruto segera menghentikan kegiatannya yang berganti dengan menatap sosok itu dengan mata yang membulat
"Sa…ku…ra-chan?"
"Sepertinya kau tidak pernah menyadari kehadiranku hmm?"
"Su-sudah berapa lama kau disana?"
"Cukup lama untuk memperhatikanmu yang terus mengobrol dengan benda itu, alat itu yang menghubungkanmu dengan teman-temanmu?"
"Y-ya."
"Kau benar-benar bisa menunjukkan lokasi Naruto?"
"Ya, tapi semua alatku ada ditas yang ada pada penjaga disana itu?"
"Maksudmu ini?" tanya Sakura sembari menunjukkan sebuah tas didepan wajahnya
"Benar! Bagaimana kau bisa mendapatkannya Sakura-chan? Ah itu tak penting, sekarang kau keluarkan aku dari sini dan kita akan mencari Naruto bersama."
"Kau tak akan kembali pada teman-temanmu?"
"Tentu saja aku akan kembali pada mereka! Tapi…tapi aku juga harus menyelamatkan Naruto kan? Aku tidak mau dianggap sebagai pemeran antagonis disini."
"Baiklah, aku percaya padamu." Sakura menarik kuat jeruji besi penjara Naruto hingga jeruji besi itu kini terlepas dari dinding-dinding yang menyanggahnya
"W-whoaa…"
"Kau mau terus mengagumi hasil karyaku atau keluar dari sini Naruto?"
"Eh?" gumam Naruto yang tidak sadar kalau kain yang membungkus tubuhnya kini hilang entah kemana. "Ayo pergi!"
.
.
.
.
Shikamaru's House
"Naruto?!" panggil mereka serentak
"Minna~~" Mereka mendengar suara lirih Naruto, suara yang sangat mereka rindukan itu akhirnya kembali mereka dengar, tak tanggung-tanggung mereka kembali mengulas senyum bahagia entah untuk keberapa kalinya, bahkan Sakura dan Ino kini sedang menangis haru, usaha keras mereka akhirnya membuahkan hasil
Hinata hendak merebut mini microphone yang ada ditangan Shikamaru, namun Shikamaru menggenggamnya dengan erat, "Shikamaru! Berikan padaku!" bentak Hinata yang sudah memasuki mode 'evil' nya, sedangkan Shikamaru yang melihatnya hanya menghela nafas pasrah dan segera memberikan mini microphone itu pada Hinata, setelah mini microphone itu berada ditangan Hinata, ia lalu menghujani sang kekasih dengan berbagai macam pertanyaan
"Naruto-kun? Kau baik-baik saja? Kau ada dimana? Aku khawatir sekali padamu, kenapa kau menghilang tiba-tiba?" suara Hinata sedikit melemah ketika bertanya pada Naruto
'yup! Inilah sisi lain Hinata' batin Tenten ketika melihat perubahan Hinata
'aku tidak tahu bagaimana cara Naruto menjinakkan wanita macam Hinata?' tanya Kiba pada dirinya sendiri
"A-aku baik…aku ada di Ko…ha"
Tiba-tiba speaker ponsel Shikamaru dipenuhi dengan suara yang sangat berisik hingga mereka kesulitan mendengar suara Naruto
"Apa yang terjadi?" tanya Kiba dengan raut muka kebingungan
"Sinyalnya melemah," ucap Sasuke yang membuat panik teman-temannya
"Oh shit!" umpat Chouji pelan, ia lalu mengambil ponselnya
"A-apa? Suaramu tidak begitu jelas Naruto," sahut Lee setelah merebut mini microphone itu dari tangan Hinata
"….ha! …ku…da di Ko…ha!" Suara Naruto terendam dengan suara berisik yang berasal dari speaker, tiba-tiba suara berisik itu semakin menjadi-jadi ditambah lagi layar hologram yang tadinya menampilkan struktur geografis kini tiba-tiba menghilang, bukan hanya itu saja dua monitor yang digunakan Sasuke dan Shino mendadak menjadi putih hingga mereka harus mencabut semua kabel yang terdapat pada kedua komputer itu yang tersambung dengan ponsel Shikamaru dan memutuskan hubungan jarak jauh dengan Naruto
"Ah sial! Padahal sudah sejauh ini!" umpat Kiba kesal sambil menendang meja belajar Shikamaru yang letaknya tidak jauh dari meja komputer
"Jangan hancurkan barang-barangku Kiba," tegur Shikamaru tenang
"Tapi jelas tadi Naruto mengatakan sebuah tempat, tempat apa?" Shino memandangi wajah teman-temannya yang tampak sedang berpikir keras
"Ko, ha dengan kata bagian tengah yang hilang," ucap Tenten sambil menulis sesuatu dibuku catatan kecilnya. "Koruha?"
"Tch…tidak ada tempat bernama Koruha di Jepang." Mereka kembali berpikir, berbagai spekulasi mereka ucapkan namun tak ada satupun yang benar, seperti…
"Komuha?"
"Kojiha?"
"Kofuha?"
Hinata menyipitkan matanya dan jari telunjuknya ia ketuk-ketukkan pelan pada dagunya, namun tiba-tiba gerakan itu ia hentikan dan berganti dengan mata yang sedikit membulat, oh ia baru saja mendapat ide
"Shikamaru tampilkan geo-holo tadi!" seru Hinata tiba-tiba, teman-temannya yang mendengar seruannya barusan lantas melihat kearah dirinya dan Shikamaru bergantian
"Kau tidak lihat kalau geo-holo menghilang," ucap Shikamaru dingin, sementara Hinata hanya mendecih
"Jangan khawatir, aku punya ini." Chouji menunjukkan ponselnya, membuka aplikasi dimana ia menyimpan foto, lalu mengktifkan sistem hologramnya hingga gambar yang terlihat di ponsel Chouji kini menjadi tampilan hologram
"Kau jenius Chouji!" seru Tenten sembari memeluk Chouji erat, sementara Chouji yang dipuji seperti itu mengambil kesempatan untuk membanggakan diri. "Aku mengerti maksudmu Hinata-chan, sekarang tampilkan peta Jepang!"
Sasuke mengangguk dan melakukan persis seperti yang diminta Tenten, kini peta Jepang yang juga dalam tampilan hologram berada dibawah geo-holo. Mereka perhatikan baik-baik titik merah yang menjadi tanda lokasi Naruto
"Titik merah ini adalah lokasi Naruto, lalu dimana titik merah ini berada?" Shikamaru menatap satu-persatu teman-temannya, ia lalu membuat gerakan mengangkat geo-holo hingga kini geo-holo berada tepat sejajar dengan matanya, pandangannya lalu beralih pada Sasuke, Sasuke yang mengerti arti tatapan Shikamaru segera menggeser mouse-nya dan membuat garis lurus antara titik merah itu dan peta Jepang, hal yang dilakukan Sasuke ternyata terlihat di tampilan geo-holo danpeta Jepang. Garis lurus itu mengarah pada satu-satunya tempat di Jepang yang memiliki inisial Ko dan Ha, tak ayal mata para remaja itu kini membola
"I-ini…"
"Konoha!" ucap mereka serentak
"Konoha? Jangan bercanda, itu tempat wisata, apa kalian berpikir kalau Naruto sedang berlibur di Konoha?" Kiba melipat tangannya didepan dada ketika mengucapkan kata-katanya barusan
"Satu-satunya tempat di Jepang dengan inisial Ko dan ha hanya Konoha."
"Ayolah Shikamaru…kau tidak berpkiran sama dengan mereka kan? Kalau Naruto memang di Konoha kenapa ia sangat sulit dihubungi? kenapa kita tidak bisa melacaknya huh?"
"Ada penjelasan yang logis."
"Apa?"
"Naruto berada di Konoha yang sebenarnya, maksudku ia terlempar kemasa lalu."
"Itu malah semakin tidak logis Sasuke!" Dan kali ini Kiba benar-benar frustasi, bagaimana bisa teman-temannya yang jenius itu mendadak menjadi sangat bodoh seperti ini?
"Tidak, Naruto menghilang tiba-tiba dan sama sekali tak dapat dihubungi ataupun dilacak, bisa jadi ucapan Sasuke ada benarnya, apa kalian ingat tentang kasus yang menghebohkan seminggu yang lalu?" tanya Ino dengan wajah serius
"Kasus menghebohkan? Hmm…"
"Kabut perjalanan waktu?" ucap Shino tiba-tiba yang langsung dilirik oleh teman-temannya
"Benar, tou-san bilang, perusahaan Namikaze corp sedang membuat sebuah alat yang mampu membuat manusia melintasi waktu, kabut berwarna hitam adalah media perjalanan waktu itu…"
"Aku ingat sekarang! Kabut itu menghilang saat akan dilakukan uji coba," ucap Lee yang memotong penjelasan Ino
"Haah…benar, kabut itu menghilang, dan kalian tahu apa yang mengejutkan? Sejumlah saksi mengatakan kalau mereka melihat kabut hitam yang sangat tebal tiba-tiba muncul didepan mereka, tapi karena takut mereka tidak berani melintasi kabut itu, mereka juga mengatakan kalau sejumlah kendaraan menghilang setelah melintasi kabut itu," jelas Ino
"Seminggu yang lalu, dilaporkan kabut itu muncul sekitar pukul 07.30, waktunya cocok dengan waktu menghilangnya Naruto," ucap Tenten setelah megotak-atik tabletnya
"Jadi begini, kemungkinannya kabut itu muncul saat Naruto melintasi jalan itu, seperti kata saksi, sejumlah kendaraan menghilang saat melintasi kabut itu, jadi mungkin itulah yang terjadi pada Naruto," Jelas Shikamaru yang disambut dengan anggukan kepala dari teman-temannya
"Kalau begitu kita butuh penjelasan lebih mengenai mesin waktu inikan? Bagaimana kalau besok kita ke Namikaze corp?" usul Shino yang lagi-lagi disambut dengan anggukan kepala dari teman-temannya kecuali Sasuke yang sepertinya sedang berpikir dan Hinata yang sepertinya tidak terima karena waktu yang ditentukan untuk menggali informasi tentang alat yang membawa pergi kekasihnya malah besok dan bukannya sekarang
"Kenapa harus besok?"
"Karena ini sudah malam Hinata-chan."
"Berbicara tentang masa lalu…aku jadi ingat sesuatu."
"Apa?"
"Karin, orang pertama yang berhasil menciptakan mesin waktu bersama dengan dua orang timnya, setelah dari Namikaze corp kita akan ketempat Karin"
"Karin? Bukankah dia seorang kriminal? Dia juga sudah dieksekusikan?"
"Hn." Sasuke menyeringai ketika melihat ekspresi bingung teman-temannya. "Pokoknya setelah dari Namikaze corp kita akan ketempat Karin," perintah Sasuke tak bisa dibantah
Setelah itu, para remaja itu kemudian melesat dengan kendaraan masing-masing menuju kediaman masing-masing untuk mengistirahatkan diri
.
.
.
.
Didalam sebuah gua yang jauh dari hiruk pikk penduduk, gua yang menjadi tempat tinggal beberapa manusia. Dibagian gua yang lain, tepatnya dalam sebuah sel tahanan yang terdapat tulang-belulang yang berserakan terlihat sesosok manusia yang meringkuk dengan menenggelamkan kepala bersurai pirang yang kini terlihat kusam diantara kedua lututnya, tak ada gerakan berarti dari pemuda yang sudah menginjak usia 17 tahun itu, ia tetap bertahan pada posisi meringkuknya entah sudah berapa lama
Krieet…
Suara deritan besi berkarat pada sel tahanan itu mengalihkan perhatian si penghuni sel, dengan perlahan ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan, iris matanya yang berwarna blue shappire yang dulu selalu bersinar kini terlihat kosong, seperti tak ada yang hidup disana, ia bagaikan tubuh tanpa jiwa. Perlahan ia berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap sesosok pemuda yang usianya sama dengannya, yang membedakan mereka hanya beberapa saja, seperti warna rambut pemuda itu yang hitam dengan model berdiri kebelakang, lebih mudahnya chicken butt, kulitnya seputih porselen, serta mata onyx- nya yang selalu menatap tajam apa yang ditangkap oleh indera penglihatannya itu
Tanpa disuruh, pemuda blonde itu berjalan keluar dari selnya mendahului orang yang menjemputnya, sementara pemuda yang menjemputnya tadi hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan
"Apa yang akan dilakukannya padaku kali ini?" Si blondie membuka suara, namun tak ada jawaban dari satu-satunya orang yang berjalan bersamanya. "Apa akan lebih sakit dari biasanya?" Kembali si blondie berucap, namun pemuda emo itu tidak juga menjawabnya
Pemuda emo itu melirik orang disampingnya yang terus meracau tidak jelas, sekilas ia dapat melihat pemuda itu tersenyum namun sorot matanya terlihat ketakutan. Kedua pemuda itu berhenti tepat didepan sebuah pintu kayu yang dipenuhi dengan ukiran ular
"Masuklah, dia sudah menunggumu," ucap si emo sambil membukakan salah satu daun pintunya, si blondie pun masuk kedalm ruangan milik 'tuannya,' dalam ruangan besar itu si blondie hanya melihat sebuah kursi yang mirip dengan kursi Frankenstein, dilihatnya tuannya berdiri disamping kursi itu dengan senyum ramahnya, si blondie pun berjalan menuju kursi itu dan duduk disana, wajahnya mengernyit bingung ketika dipasangi sebuah ring silver dikepalanya, ring silver itu terhubung dengan kursi yang didudukinya
"Aku akan memasukkan memori baru padamu," ucap tuan si blondie untuk menjawab kebingungannya
Setelah persiapan selesai, sang tuan kemudian menarik tuas yang berada didinding dekat kursi itu, seketika sambaran listrik yang besar menimpa tubuh si blondie
"A-AAARRRRGGGHHHH….."
Senyum yang kelewat lebar tercetak diwajah sang tuan ketika alat ciptaannya mulai bekerja. Mata si blondie melotot, bahkan terkadang terbalik hingga menyisakan bagian putihnya saja, sementara diluar ruangan, pemuda emo yang mendengar jeritan kesakitan si blondie mengalihkan wajahnya dengan mata yang tertutup rapat, seolah membayangkan raut wajah kesakitan 'teman'nya itu
Berbagai memori baru memenuhi otak si blondie dan manghapus memori yang lama, memori yang dimasukkan sang tuan bukanlah memori yang baik, dalam memori baru itu si blondie melihat seorang anak kecil yang mirip dengannya sewaktu kecil dihajar, dihina, dan diacuhkan oleh penduduk didesa tempatnya tinggal sebelum ia berada di gua itu, memori itu tidak berhenti disana, si blondie kembali melihat percobaan pembunuhan pada anak kecil itu yang membuatnya sekarat, memori kejadian-kejadian mengerikan terus berlanjut dan berakhir pada seorang gadis yang amat dicintainya tengah memeluk 'kembarannya' dan ia menyaksikannya dari dalam hutan tanpa ada seorangpun yang melihat kearahnya, dalam memori itu ia melihat kalau 'kembarannya' tengah menyeringai padanya
"Kau lihat, aku lebih berharga dibanding dirimu yang tidak bisa melakukan apapun, jadi sebaiknya kau enyah saja dari sini , monster," ucap kembarannya dengan seringai kejam yang masih tertera diwajahnya
"Dia lebih tampan dan lebih kuat dibanding dirimu, jadi kau pergi saja ya," ucap gadis yang dicintainya itu sambil bergelayutan manja dilengan kembarannya. Berbagai ucapan kasar untuk mengusirnya pun terus dilontarkan oleh penduduk desa dan orang-orang yang mengaku sebagai sahabatnya
Mereka menghianatinya, lagi-lagi ia dihianati, mereka selalu membandingkan dirinya, mereka selalu menatap hina padanya seolah ia adalah kotoran yang harus disingkirkan, mereka tidak pernah mau menerima dirinya apa adanya, ia sedih, ia benci mereka, sangat membenci mereka hingga rasanya ia ingin menghancurkan mereka satu-persatu dan membuat keturunan mereka merasakan penderitaan lebih dari apa yang ia rasakan, namun dalam memorinya itu yang bisa ia lakukan hanyalah jatuh terduduk dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, lalu berteriak kencang
"Arrrggghhh…."
Memori itu masih belum berhenti, seseorang mengulurkan tangannya ketika ia jatuh terduduk, ia lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang mengulurkan tangan itu padanya, ia sesosok pria berambut hitam panjang yang tergerai, kulitnya sepucat mayat, yang mencolok darinya adalah matanya yang mirip seperti ular, pemuda itu lalu menerima uluran tangan pria itu dan bangkit berdiri
"Kau sepertinya diabaikan oleh mereka," ucap pria itu, namun tak ada respon dari pemuda didepannya. "Jika kau bersamaku, kau pasti akan lebih bahagia dan….lebih kuat, jika bersamaku kau akan mampu membalaskan dendammu ini, kau bahkan bisa menghancurkan mereka hanya dengan jentikan jari seperti ini."
Ctak
Kobaran api membakar orang-orang yang tadi mengusirnya, orang-orang itu bergerak liar mencari apapun yang bisa memadamkan api yang membakar tubuh mereka, namun gerakan liar mereka dinggap tarian yang indah oleh pemuda itu, jeritan sakit mereka bagai melodi yang mengalun merdu, percikan-percikan api itu bagai lampu-lampu terang yang menerangi panggung, semuanya bagaikan pertunjukkan bernyanyi yang indah, pemuda itu menyukainya, sangat suka hingga senyum lebar yang terlihat aneh ia torehkan diwajahnya
"Aku suka! Aku suka ini! AHAHAHAHAHAAA…"
Kembali pada kenyataan, sosok blondie itu terus berteriak kencang yang diselingi dengan tawa yang terdengar aneh, kepalanya benar-benar sakit sekarang hingga rasanya ia ditimpa berton-ton baja, namun dengan tubuh yang terikat itu ia hanya bisa berteriak kencang sebagai penyalur rasa sakitnya
"HAHAHAHAHA….." Tawa sang tuan dan tawa si blondie terus menggema diseluruh ruangan itu
Beberapa saat kemudian pandangan si blondie mengabur, dan yang terakhir dilihatnya adalah kegelapan
Si blondie baru membuka matanya setelah tiga hari sejak memori baru itu dimasukkan ke otaknya berlalu, perlahan ia buka kelopak mata itu, yang pertama kali dilihatnya adalah sesosok pria berambut hitam panjang yang digerainya, kulitnya sepucat mayat, dan matanya yang mirip seperti ular
"Ohayou…Naruto-kun." Si pria menyapa pemuda itu dengan senyum palsunya, cukup lama si blondie atau Naruto terdiam, namun kemudian ia tersenyum tipis pada pria itu
"Orochimaru…sama."
Tbc
Haha… chapter 7 uda end. Bagaimana chapter ini? Kalian nilai sendiri lah
Terakhir silahkan tulis beberapa kalimat penyemangat, kritik, atau saran untuk Risa agar Risa semakin giat menulis ni fic, Ok?!
