Boruto's Time Adventure

.

Naruto © Masashi Kishimoto

~This story is Mine~

Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll

.

~Don't like Don't read~

Happy Reading, Minna-san


"Makanlah yang ini."

"Iya."

"Habiskan juga yang ini."

"Un."

"Jangan menyisakan sayurannya."

"Tentu saja-ttebasa!"

Hyuuga Hinata menatap kedua orang didepannya dengan pandangan heran. Alisnya menukik turun. Gadis itu mencoba menjaga sikap dengan berpura-pura tak perduli dan menyibukan diri meneguk ochanya yang nyaris habis.

Namun pikirannya tak mampu berkhianat. Aneh. Ya, aneh adalah pemilihan kata yang tepat.

Sikap kedua orang didepannya cenderung aneh –apalagi ayahnya, otaknya sama sekali tak memercayai pemandangan didepannya. Oh, ayolah, sejak kapan seorang Hyuuga Hiashi –ayahnya, seperhatian itu kepada orang asing? Tidak pernah.

Baru kali inilah Hinata melihatnya. Ayahnya secara terus menerus menyodorkan berbagai jenis makanan di meja makan kepada Uzumaki Boruto –bocah bersurai pirang- tanpa henti. Boruto sendiri terlihat senang dan dengan senang hati melahap semua makanan yang disodorkan Hyuuga Hiashi dengan lahapnya.

Padahal ketika awal pertemuan Boruto dan Otou-samanya beberapa jam lalu, Ayahnya masih bersikap dingin seperti biasa, Boruto-pun terlihat sungkan dan gugup. Dan lihatlah sekarang, tak sampai setengah hari, kalian mendapati sang pemimpin klan Hyuuga begitu akrab dengan Uzumaki Boruto yang notabenenya adalah orang asing yang baru saja ditemuinya. Bagaimana bisa Hinata tidak berpikir tidak ada yang aneh disini?

"Hinata."

Hinata tersentak kecil, gadis itu menoleh kearah sang ayah yang tengan menatapnya, "Y-Ya, Tou-sama?"

Hyuuga Hiashi menghela nafasnya singkat, ia lantas berujar, "Bisa kau bawakan segelas ocha lagi? Kulihat gelas milik Boruto sudah setengah kosong."

Hinata mengerjap dua kali. Berusaha mencerna perkataan ayahnya, takut-takut gadis itu salah dengar. "M-Maaf?"

"Gelas Boruto sudah kosong. Bawakan ia segelas ocha lagi." Jelas Hyuuga Hiashi sekali lagi. Hinata mengangguk tak mengerti. Benar dugaannya, ada yang tidak beres.

Tak mau memikirkannya lebih lanjut, Hinata lebih memilih untuk berdiri dan melenggang kearah dapur sambil berlari kecil.

Memastikan putrinya benar-benar telah pergi, Hiashi kembali memfokuskan atensinya kepada Boruto. Manik lavendernya menatap lekat personifikasi sang Uzumaki. Dari rambutnya, Wajahnya, nada kulitnya, potongan bajunya yang rapi dan iris biru yang menentramkan siapa saja yang menatapnya.

Siapa dan darimana bocah ini berasal baru saja diketahuinya beberapa saat lalu. Menyesap ocha hangatnya pelan, Pikiran Hiashi kembali melayang kesaat dimana dirinya mengetahui kebenaran yang dikatakan Uzumaki Boruto..

.

"Aku.. Putra Hyuuga Hinata dan Uzumaki Naruto yang datang dari masa depan."

Uzumaki Boruto berseru lantang. Meski terlihat sedikit gemetaran, Hiashi sendiri tak bisa memungkiri bahwa tampak keseriusan yang terpancar dari manik biru milik sang bocah. Namun, ia tetaplah seorang Hyuuga Hiashi. Ia tak mungkin setolol itu dengan langsung memercayai omongan bocah asing yang baru ditemuinya beberapa menit lalu. Tentu tidak. Ia adalah pemimpin klan Hyuuga –klan tertua sekaligus klan yang paling disegani seantero Konoha- mana mungkin ia percaya pada remaja tanggung didepannya tanpa adanya bukti yang jelas.

Hiashi menggeram, "Jangan lancang kau bicara! Kau pikir aku akan begitu saja memercayai omong kosongmu?!"

"Kau bilang Byakuganmu bisa membaca kebohonganku. Apa Byakuganmu tidak bisa membaca kejujuran yang baru saja ku katakan?" Balas Boruto tak terima. Hiashi tersentak, ia masih mengaktifkan Byakugannya. Dan memang benar, Byakugannya tidak mendeteksi kebohongan dari perkataan Uzumaki Boruto sebelumnya.

Tapi mustahil. Masa depan? Yang benar saja.

Mencoba menjaga sikapnya agar tetap terkendali, Hiashi membalas, "Hanya dengan Byakugan saja tidak cukup untuk memastikan omong kosongmu, Bocah."

Boruto berdecih kesal, "Kau meragukan Byakugan? Seorang Hyuuga tak seharusnya meragukan kekuatan Byakugan."

Ayah Hyuuga Hinata itu nyaris terjungkal kebelakang. Sialan, Anak ini benar-benar membalikan perkataannya..

Hyuuga Hiashi menunjuk Boruto geram, "Kau.."

"Aku cucumu!" Potong Boruto keras.

"Kau bukan!"

Si sulung Uzumaki melemparkan pandangan terlukanya. Tidak pernah ia bayangkan kakek yang selalu membanggakannya malah berbalik tidak mengakuinya. Ini mimpi buruk. Ah, tidak. Matanya mulai berkaca-kaca.

Boruto menunduk. Membiarkan poninya menjuntai kebawah mengikuti arah gravitasi bumi. Memejamkan mata sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat. Apa yang harus ia lakukan? Kakeknya justru tak memercayainya meski ia berkata jujur. Apa yang harus dilakukannya? Ia tak ingin kakek yang selalu mencintainya malah berbalik membencinya seperti yang penduduk desa lakukan tempo hari. Bagaimanapun, Hyuuga Hiashi adalah kakek satu-satunya yang ia miliki saat ini.

"Ojii-sama.."

Hiashi terdiam. Ada sensasi aneh yang menggelinjang ditubuhnya kala Boruto menyebutnya dengan sebutan tersebut. Hati dinginnya mengakui Boruto sebagai cucunya, tapi akalnya mengkhinati. Tidak masuk akal. Putrinya.. Putri kecilnya memiliki putra. Dan kini, putra Hinata dari masa depan berdiri didepannya.

Haruskah ia percaya? Atas dasar apa ia harus percaya pada bocah ini?

Boruto mengangkat wajahnya, ia menatap sang pemimpin klan Hyuuga tajam, "Aku cucumu.." jeda sejenak, "..Percayalah, Darah Hyuuga mengalir ditubuhku. Aku adalah bagian dari klan. Aku keluargamu."

Hyuuga Hiashi menon-aktifkan Byakugannya. Kakinya seolah dipaku dilantai. Bibirnya kelu. Ia hendak membalas perkataan Boruto, namun usahanya gagal, tak satupun kata yang berhasil keluar dari mulutnya.

Manik milik Boruto terpejam sedetik. Bocah itu mendesah pasrah, "Apakah Ojii-sama perlu bukti? Haruskan aku melakukan pengorbanan?"

Hiashi masih diam membisu. Bahkan ketika Uzumaki Boruto melepaskan Headbandnya, Hyuuga Hiashi masih diam seribu bahasa. Boruto menyisihkan poni yang menghalangi jidatnya dengan telapak tangan, ia menatap sang kakek mantap. Lantas berseru lantang. "Kau boleh menanamkan Juinjutsu didahiku sekarang juga asal dengan begini kau percaya padaku."

Pria dewasa itu sedikit memundurkan langkahnya. Bocah ini.. Bagaimana bisa bocah ini mengetahui Juinjutsu sedini ini? Terlebih ia meyakini anak didepannya ini bukanlah seorang Hyuuga.

Hanya seorang Hyuuga –Itupun yang telah dewasa dan keluarga Bunke-lah yang mengetahui detail soal Juinjutsu souke. Kalaupun anak ini mengetahuinya, itu berarti anak ini memang...

"Uzumaki Boruto.." Akhirnya Hiashi mendapati dirinya bisa bersuara lagi.

Bocah yang bersangkutan meneguk salivanya ketika sang kakek menyebut namanya, "Y-Ya?"

"Satu pertanyaan.." Hening sejenak, Kakak Hyuuga Hizashi itu berharap bocah dengan ahoge didepannya dapat mengerti maksud dari ucapannya yang ambigu.

"Kau tahu arti Hyūga Sōke no Juinjutsu?"

Boruto mengerjap pelan, berusaha memahami pertanyaan Hyuga Hiashi lamat-lamat. Berterima kasihlah kepada keprodigy-annya tak selang detik berikutnya, Dirinya sudah bisa mengerti apa maksud dari pertanyaan sang pemimpin klan Hyuuga. Ia tersenyum tipis, "...Burung dalam sangkar, bukan?"

Lengkungan itu terbit. Kurva tipis yang sangat dirindukan Boruto. Saat itulah bocah bernama Uzumaki Boruto itu mengerti, Ojii-samanya.. mempercayainya.

.

Hyuuga Hiashi mengakhiri lamunannya. Ia menggeleng lantas kembali menyesap ocha hangatnya.

Menyamankan posisi duduknya, Hiashi kembali memfokuskan pandangannya kearah sang cucu –Uzumaki Boruto. Menilik lekat rupa si sulung Uzumaki.

Boruto tampak sangat mirip dengan ayahnya. Teramat mirip malah. Ah, bahkan dengan rendah hati ia mengakui, segala hal yang ada pada Uzumaki muda ini adalah warisan Uzumaki Naruto. Warisan Hinata –putrinya- mungkin hanya dari bentuk wajah dan bentuk matanya. Ya, itupun tidak akan bisa kau lihat jika kau tidak memperhatikannya dengan jelas. Astaga, ia jadi teringat sebuah kata-kata yang pernah ia dengar dari mendiang istrinya.

Jika seorang anak mewarisi kemiripan dari pihak ayah, berarti cinta sang ibu lebih besar melebihi cinta sang ayah kepada sang ibu. Ini juga berlaku untuk sebaliknya.

Tertawa samar, Hiashi menggeleng pelan, Apa ini berarti putrinya juga teramat mencintai si Jinchuriki Kyuubi?

Ppfftt, yang benar saja.

Kembali kepada cucunya. Boruto.

Bocah ini punya kemampuan menarik. Ia memiliki bakat alami sebagai seorang Shinobi. Uzumaki Boruto pasti akan menjadi shinobi hebat yang bisa dibanggakan. Hiashi tersenyum, ia menyukai gagasan tersebut.

Tentu saja. Boruto adalah cucunya.

Hiashi mengernyitkan alisnya. Hey! Sejak kapan dirinya mulai terbiasa menyebut-nyebut Boruto sebagai 'cucunya'? Entahlah, Menyebut Boruto seperti itu membuatnya nyaman sekaligus geli.

Bagaimana tidak? Cucunya itu adalah putra dari putri sulungnya. Gadisnya. Hinata-nya.

Hiashi merasakan perasaannya bergetar entah karena apa. Sejatinya sebagai ayah, Hiashi tahu jelas Hinata suatu saat nanti akan memiliki seorang anak. Tapi tidak disangka, ia akan bertemu putra Hinata secepat ini. Hinata kecilnya telah menjadi seorang ibu. Menjadi seorang istri. Istri Uzumaki Naruto pula. Sulit dipercaya.

Berbagai pertanyaan mulai bergerilya diotak Hiashi. Apakah Hinata tubuh menjadi wanita yang cantik? Apakah Hinata berhenti menjadi seorang Kunoichi setelah menjadi seorang ibu? Apakah suaminya bisa memenuhi semua kebutuhan Hinata? Tapi yang lebih penting dari itu..

"Apakah Hinata bahagia?"

"Apa?"

Hyuuga Hiashi mengerjap. Mendapati bahwa dirinya baru saja mengucapkan hal yang tengah dipikirkannya secara tidak sadar. Kini sang cucu menatapnya dengan pandangan ingin tahu. Hiashi menghela napas pendek, terlanjur sudah. Sepertinya percuma saja bersikap sok tidak peduli disaat seperti ini.

Hiashi menarik napasnya dalam-dalam. "Apakah –di Masa depan nanti- Hinata bahagia?" Tanya Hiashi akhirnya.

Boruto tak langsung menjawab. Ia diam lantas menatap kakeknya dengan sebelah alis yang terangkat. Ada apa ini? Kenapa kakeknya malah menanyakan kebahagiaan ibunya? Bukankah sedaritadi Ojii-samanya justru selalu terlihat tidak peduli terhadap Kaa-sannya?

Boruto memilih untuk tak memikirkannya lebih jauh. Toh, ia memang mengenal tabiat kakeknya. Kakeknya memang tidak pandai menunjukan ekspresi kepada banyak orang. Cenderung kaku dan suka memasang wajah datar bak tembok, bahkan kepada putri-putrinya.

Si sulung Uzumaki mengusap alisnya. Tersenyum tipis dengan rona merah yang tiba-tiba menjalar dipipinya. Lima detik berikutnya, Boruto mengangkat wajah dengan senyum yang belum urung dari wajah bulat yang ia warisi dari sang ibu.

"Tentu saja. Aku dan keluargaku adalah segala hal yang paling Kaa-san inginkan dalam hidupnya. Bagaimana mungkin dia merasa tidak bahagia?"

.


.

Siang ini begitu terik. Awan-awan yang biasa bergelantungan dilangit nyaris tak tampak siang ini. Orang-orang berlalu-lalang melakoni kegiatan masing-masing seolah tak terpengaruh panasnya siang hari ini.

Uzumaki Boruto mendesah tertahan sambil sesekali mengipas-ngipaskan tangannya dileher. Guna meminimalisir hawa panas yang semakin membuatnya semakin kegerahan. Kakak dari Uzumaki Himawari itu berjalan santai dipinggiran sungai. Berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Ya, Awalnya ia berencana menemui Hokage ketiga di kantor hokage, namun beberapa penjaga berkata bahwa beliau tidak ada ditempat. Ada urusaan desa yang mesti ia tangani sendiri. Boruto bertanya-tanya, kenapa Sandaime tidak menggunakan Kagebunshin seperti yang selalu ayahnya lakukan untuk lebih mempermudah urusan diplomatiknya? Lebih praktis bukan? Kau bisa melakukan segala hal kapan saja, dimana saja dalam waktu yang bersamaan.

Mendengus, Boruto lantas memiringkan bibirnya. Yang benar saja. Hokage ketiga adalah sosok Hokage sesungguhnya. Sandaime mana mungkin mau menggunakan tipuan seperti itu, Beliau adalah orang terhormat yang melakukan segala hal dengan cara terhormat pula. Sandaime Hokage tidak akan membuat orang lain bahagia hanya dengan ilusi kagebunshin seperti yang ayahnya selalu lakukan.

"Boruto!"

Sang empunya nama terlonjak kecil. Aneh mendengar seseorang menyapa dirinya tepat dengan namanya. Biasanya semua orang selalu keliru dan malah menyangka dirinya sang ayah –Uzumaki Naruto.

Dengan gerakan pelan, Boruto membalikan tubuhnya. Ia mendapati seorang gadis yang berlari dan dua orang teman yang mengekor dibelakannya.

"Kau benar Boruto kan?" Tanya si gadis langsung ketika berdiri didepan si Uzumaki muda. Boruto memamerkan gigi putihnya, "Bagaimana kau tahu ini aku?"

"Oh, Astaga tentu saja itu kau. Bagaimana aku tahu? Ummm... Mungkin karena... Cinta?"

"Oi, Ino. Berhentilah menatapnya dengan tatapan yang selalu kau pakai saat melihat Sasuke. Mendokusei."

Gadis yang bernama Ino itupun memberengut sebal kearah teman satu timnya, "Ugh, Karena inilah kau tidak populer dikalangan para gadis, Shikamaru."

"Untuk apa populer diantara para gadis?" Timpal Chouji sambil memasukan beberapa kripik kentang kemulutnya. Ino memutar matanya jengah, ia memilih untuk kembali berbalik menatap Boruto. Tersenyum sambil menyisipkan rambut pirangnya yang mengganggu kebelakang telinga, "Jadi apa yang sedang kau lakukan?"

Boruto mengangkat bahunya singkat, "Entahlah. Jalan-jalan mungkin? Naruto sedang menjalankan misi diluar desa, dan sebenarnya aku sedang ada keperluan dengan Sandaime, tapi sepertinya beliau tidak ada di tempat."

Ino mengembangkan senyumannya, ia mendekat kearah Boruto seraya mencuil ujung bahu Boruto pelan, "Oh sempurna. Kau senggang, aku-pun begitu, jadi kupikir kita bisa menghabiskan waktu bersama, bukan?"

"O-Oi!"

Sang Uzumaki dengan rambut menyerupai daun itu mengangkat jempolnya mantap, "Tentu saja-ttebasa!"

"Hegh? Boruto! yang benar sa-" "-Kyyyyyaaaaaaa~"

Pekikan Ino memotong perkataan Shikamaru dengan sempurna. Gadis itu memang bisa jadi merepotkan kalau sedang menggilai seseorang.

Ino menggandeng pergelangan tangan Boruto sambil berseru lantang, "Kalau begitu, Ayo kita pergiii!"

-dan tanpa tendeng alih, gadis Yamanaka itu menyeret Boruto pergi menjauhi Nara Shikamaru dan Akimichi Couji.

Choji menatap sahabatnya heran, "Apakah Boruto mengerti bahwa tadi Ino mengajaknya kencan?" Shikamaru membalasnya dengan gelengan tak peduli. Lantas bergumam, "Mendokusei."

.


"Jadi begitulah! Kau bisa mampir ke Toko Bunga Yamanaka kapan saja. Asal kau bisa tahan dengan sifat Ayahku yang suka ikut campur. Ah, benar juga, Aku akan memberikanmu sebuah bunga gratis kalau kau datang dengan.."

Boruto memutar matanya bosan, meski senyuman canggung masih belum luntur diwajah manisnya. Daritadi, Ino bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk menyela ataupun menjawab. Oh, tidak heran Ayah Shikadai begitu takut kepada bibi Ino.

Wanita memang menyusahkan dan kadang sulit sekali untuk dimengerti. Ia yakin tak akan pernah bisa menebak perasaan wanita dengan benar, terlalu sulit dipahami, rumit bagai labirin yang entah dimana ujungnya, atau bagai samudra yang tak pernah ia ketahui seberapa dalamnya. Ayahnya pernah menyetujui gagasannya ini. Karena itulah Boruto tak pernah merasa cocok dengan salah satu diantara mereka. Kecuali ibunya dan Himawari –tentu saja.

"Kau bendengarku Boruto? Hey!" Tegur Ino lalu mengayun-ayunkan tangannya didepan Boruto. "Aku mendengarmu, Ino."

Ino terkekeh lalu kembali melanjutkan langkahnya, tanpa melepaskan cengkramannya dilengan Boruto. Semilir angin menerbangkan surai kedua bocah pirang itu mesra, "Kau.. lebih hangat ketimbang Sasuke.." Seru Ino dengan suara yang menyerupai bisikan.

Boruto mengangkat alisnya, "Apa?"

Gadis Yamanaka itu memamerkan senyum lebarnya, ia mencondongkan sedikit tubuhnya kearah Boruto, "Kau lebih hangat ketimbang Sasuke.." Ulang Ino dengan rona merah dikedua pipinya. Boruto tak mengerti, baru saja ia berniat menanggapi, Ino melanjutkan perkataannya, "..Terlebih kau bukan Naruto. Aku bersyukur."

Kening Boruto semakin mengkerut. Ia balik bertanya, "Kenapa dengan Naruto?"

Ino melirik Boruto dari ekor matanya, "Kau tidak tahu? Atau jangan-jangan kau belum sadar?" Tanya Ino. Air muka gadis itu sedikit menegang. Boruto dapat menyadari perubahan wajahnya dengan baik sekali.

"Hal apa yang tidak kuketahui?"

Hah~ Yamanaka Ino melepaskan cengkramannya dilengan Uzumaki muda. Ino melempar pandangannya kesekeliling. Menatap orang-orang yang berlalu lalang dengan wajah datar.

"Apakah kau pernah ditatap dengan cara tidak menyenangkan oleh warga desa?" Ino kembali menatap Boruto, "Ataukah kau pernah mendapat serangan fisik dari mereka?"

Uzumaki Boruto menimbang-nimbang. Otaknya memutar kembali ke saat dirinya mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari warga desa Konohagakure beberapa hari yang lalu. Ia dihakimi atas hal yang tidak dilakukannya. Berawal dari serangan verbal yang terus berlanjut menjadi serangan fisik secara langsung. Saat itu ia berpikir, Apa salahnya? Ia adalah orang baru disini, kenapa justru semua warga desa malah menatapnya dengan pandangan seolah dia adalah pembawa sial yang sudah sedari dulu mengancam keselamatan mereka? Kenapa dirinya dibenci banyak orang tanpa alasan yang jelas?

Boruto tersentak. Tunggu! Kali ini ia menyadari, tatapan itu bukan hanya ditunjukan padanya. Tapi juga pada sang ayah. Tatapan yang tidak mengenakan itu juga mereka berikan pada Uzumaki Naruto. Shinobi sempurna itu. Hokage ketujuh masa depan. Orang yang kelak akan mereka hormati. Ada apa sebenarnya?

Anak dari Nanandaime-sama itupun membalas tatapan Ino yang sedari tadi mengarah padanya. "Ya..." Jawab Boruto lirih, nyaris menyerupai bisikan.

Ino menunduk. Gadis itu masih berdebat dengan pikirannya sendiri. Salahkah ia jika menceritakan ini kepada Boruto?

"uzumaki Naruto.. Dia adalah jelmaan iblis."

Iris Boruto melebar. A-apa?

Gadis dengan surai blonde mengalihkan pandangannya dari Boruto, "Dia dibenci oleh semua warga desa. Dia adalah pembawa sial semenjak dirinya dilahirkan. Dia adalah alasan mengapa ratusan orang mati dua belas tahun lalu. Dia bahkan tidak punya ayah dan ibu. Orang seperti itu seharusnya dibiarkan mati saja sedari dulu. Tapi Sandaime malah menjaganya, menjadikannya seorang Shinobi malah. Meskipun ia adalah bagian dari Konoha, itu tidak akan merubah fakta bahwa Uzumaki Naruto adalah simbol dari kutukan yang ada di Konoha. Karena itulah.. menjauhlah darinya, Boruto."

Boruto mematung ditempat. Apa katanya? Jadi alasan dibalik tindakan warga desa terhadapnya adalah karena Uzumaki Naruto? Ayahnya sendiri?

Uzumaki Naruto-lah yang dimaksud 'Anak Iblis' oleh warga desa hari itu. Saat itu mereka keliru dengan menganggapnya Naruto.

'Aku tak butuh bantuanmu! Dasar pembawa sial! Iblis!'

Boruto menatap Ino dengan pandangan yang ketara sekali tidak percaya. Bagaimana mungkin? Shinobi sehebat Naruto adalah jelmaan iblis? Bagaimana mungkin? Ayahnya..

Apa ini berarti Naruto sudah sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari warga desa semenjak ia kecil? Tapi kenapa ia tidak melawan? Kenapa Ayahnya diam saja diperlakukan bagai sampah? Padahal ia yakin Naruto bisa melawan. Ia yakin. Tapi kenapa? kenapa Ayahnya malah menjadi pecundang yang hanya bisa diam?

Bibir Boruto bergetar. Bagaimana mungkin Boruto –sebagai anaknya- baru mengetahui hal ini? Masa lalu ayahnya yang begitu kelam? Masa lalu yang begitu tidak dihargai oleh semua orang?

Kenapa? Kenapa Ayahnya tidak balas dedam?! Kenapa justru ia memilih untuk menjadi Hokage dan malah melindungi desa yang telah membuatnya menderita?!

Omong kosong macam apa ini?!

"Boruto?"

Boruto tidak menjawab, Ia menundukan kepalanya. Membuat wajah bulat miliknya tertutupi oleh poninya yang menjuntai turun. Ia muak dengan semuanya. Ia muak. Cukup sudah.

Syat!

"Boruto!" Boruto meloncat pergi. Menaiki atap demi atap. Mejauhi Ino yang masih diam ditempat sembari meneriaki namanya.

.


Duk! Duk!

Dua orang yang ditubruknya berbalik sambil mengangkat kepalan tangannya. "Hey! Kau taruh dimana matamu?!"

Namun siapa peduli? Boruto tetap berlari. Tanpa mengindahkan makian banyak orang, Shinobi muda Uzumaki itu terus melesat dengan wajah yang tertunduk.

Hari ini Uzumaki Naruto serta timnya pulang dari misi pertamanya. Karena itulah, ia tidak akan membuang waktu dan lansung melesat kegerbang utama Konohagakure yang megah.

Cih, jangan berharap Boruto berniat menyambut kedatangan ayahnya. Tidak. Jangan berharap hal itu terjadi. Boruto akan langsung menodong Ayahnya dan memaksa Nanandaime Hokage masa depan itu bicara.

"Tsk! Kenapa kau pulang dengan selamat? Kenapa kau tidak mati saja disana?"

Boruto menangkap suara seorang pemuda dewasa. Langkahnya berhenti. Menatap kerumunan orang disana dengan alis yang tertekuk sempurna. Jangan-jangan..

.

Uzumaki Naruto melangkah ceria memasuki gerbang Konohagakure. Akhirnya ia pulang. Ah, betapa ia merindukan desanya ini. Misinya di Nami no Kuni berjalan lancar. Meski nyaris kehilangan nyawa, Naruto berhasil melewati semua itu dengan baik. Pak tua bernama Tazuna yang menjadi Klien Tim tujuh itu berhasil kembali kedesanya dengan selamat. Yosh! Misi Ranking A pertamanya sukses besar!

"Yo! Sampai jumpa nanti, Minna!" teriaknya lantang sembari melambaikan tangannya kepada rekan timnya yang hendak pulang.

"Aa.. Beristirahatlah Naruto." Jawa Kakashi sambil tersenyum dibalik topengnya.

Naruto mengangguk riang. Ia berbalik dan melangkah pulang menuju apartemen tua-nya sambil bersenandung kecil. Ia ingin segera melepas penat dan beristirahat dengan tenang. Ah, soal apartemen dan istirahat, Kenapa ia baru sadar? Boruto kan ada di Apartemennya. Bagaimana keadaan bocah yang mirip dengannya itu setelah ia tinggal beberapa hari? apakah Boruto merindukannya?

Irama langkah Naruto dipercepat. Ia semaki bersemangat pulang ketika menyadari fakta bahwa ada seseorang yang menunggunya dirumah. Akan ada seseorang yang menjawab Okaeri ketika Naruto membuka pitu dan berseru Tadaima.

-Buk!

Langkah Uzumaki Naruto terhenti. Ia tidak sengaja menyenggol wanita paruh baya dengan banyak belanjaan ditangannya. Naruto berbalik dan dengan cepat memunguti belanjaan yang berceceran tanah. "Biar kubantu, Ba-chan."

Wanita itu tersenyum. Ia mengikat surai gelapnya sesaat dan ikut memunguti belanjaannya, "Ah, kau baik sekali, Arig-"

Deja vu.

Wanita paruh baya dengan surai gelap itupun mengangkat wajahnya. Merasa Deja Vu.

Ketika maniknya beertemu pandang dengan manik biru milik Naruto. Seketika wanita itu tercekat.

"KYAA! LAGI-LAGI KAU! BOCAH IBLIS!"

Naruto terlonjak kebelakang. Tangannya reflek menjatuhkan belanjan yang sudah susah payah dikumpulkannya dari tadi. Lagi dan lagi. Astaga, Naruto baru aja pulang dari misi, kenapa hal seperti ini malah tejadi sekarang?

"Ma-Maaf."

Berniat melarikan diri, Naruro berbalik dan mengambil langkah untuk berlari, namun tarikan kasar dikerah belakangnya membuat Bocah Jichuriki Kyuubi itu tersandung kakinya sendiri.

"Itte." "Kau mau melarikan diri?! Kau pikir kau bisa lari begitu saja?! Jangan harap, iblis!" Seorang Pria berperawakan tinggi itu menjatuhkannya kasar ditanah. Membuat pipi Naruto lecet karena bergesekan dengan tanah kasar dengan tidak nyaman.

Naruto mengangkat wajahnya, Blas berteriak, "Apa yang kau lakukan?! Aku hanya ingin–" "Lagi-lagi kau mengatakan itu! Kau pikir pembelaanmu itu akan didengar semua orang?" Potong si Pria tinggi emosi.

"Lagi-lagi?" Gumam Naruto tak mengerti.

Pria Tinggi itu tersenyum sinis, Ia mempertemukan kepalan tangan kanannya ketelapak tangan kiri. Bersiap memukul Uzumaki Naruto.

"Tsk! Kenapa kau pulang dengan selamat? Kenapa kau tidak mati saja disana?" Bentak si Pria. Naruto tak menjawab. Ia memilih diam. Perkataan itu menohok hatinya. Sebegitu inginyakah dirinya mati?

Semakin mendekat, Pria itu melancarkan tinjunya kearah Naruto dengan kekuatan penuh, "Kalau begitu, Biar aku saja yang membunuhmu!"

Naruto menutup matanya rapat-rapat. Bersiap mendapatkan sebuah pukulan di pipinya–

DUAK!

Mata Naruto otomatis terbuka. Bukan karena dirinya mendapatkan pukulan. Tidak. Pipinya masih selamat. Pria itu tidak berhasil melukainya. Yang membuatnya tak percaya adalah sosok seorang Shinobi dengan surai pirang sepertinya yang tiba-tiba meloncat dan menendang pria tinggi itu keras. Membuat pria dengan tubuh tinggi itu tersungkur beberapa meter dengan suara bedebum yang tidak menyenangkan.

"...Boruto.."

Mata milik Uzumaki Boruto menajam. Pandangannya seolah bisa membunuh siapa saja yang berani melawannya.

"Sekali lagi kau menyakitinya, Akan kubunuh kalian semua.."

~À Suivre~

A/N: Setelah diancam banyak orang akhirnya Bieber update! Maaf, bukannya Bieber kejam, tapi kesibukan sebagai kelas 12 merenggut paksa Bieber dari dunia per-fanfictionan :') Gomenne~

Oh ya, Chapter kali ini special untuk Ulang Tahun Dera Shinka ke 17^^ Happy Late Birthday ya~!

Bieber agak ragu sebenernya lanjutin fic ini. Kenapa? Karena banyak yang sekali hal yang tidak sesuai dengan plot asli Boruto The Movie. Semacam, Di fic ini Boruto yang baru 2 hari jadi genin sudah menjadi murid Sasuke, sementara di Movienya sendiri tidak seperti itu. Ah, pokoknya banyak sekali hal yang tidak sesuai. Kenapa bisa demikian? Karena ff ini sendiri Bieber buat sebelum plot Boruto keluar. Jadi wajar saja ya jika ada hal yang tidak sesuai dengan movienya ^^

Sesi tanya jawab dimulai ^^

Q: boruto jurusnya nanti apaan yah waktu ujian chunin kan gak seru kalo cuman taijutsu apa udah punya rasenggan khusus?

A: Ada, Kieru Rasengan ^^

Q: apa?boruto bawah alat katasuke..utk mempermudah jurusnya.

A: Nggak. Dia gak bawa alat itu ko ^^

Q: skali up 2 chap dong thor

A: Impossibruuu :')

Q: Author suka karya I T ya?

A: Ho'oh XD Sukaaaa banngeeeettttt XD

Q: knpa boru ga ikut misi tazuna?

A: Dia bukan bagian Tim Tujuh ^^ jadi gak ikut. Sebenernya gak ada alasan juga buat dia ikut.

Q: Ini cerita habis Naruto pergi ame Jiraya apa blom y?

A: Belum XD Ini jauh sebelum itu ^^

Q: apa nanti boruto tau tentang naruto yg di benci penduduk desa?

A: Udah tau tuh XD

Q: Semangat & sehat selalu :)

A: Aduh, Entah kenapa baru kali ini Bieber didoain biar sehat selalu :'D Terhura deh, Terima kasih ya~

Q: Karena boruto dan Hinata dekat, apakah Hinata akan jadi suka boruto?

A:Hmmmm... #Ditampol#

Q: Author sampah

A: Makasih ya:)

Mungkin cukup sekian yang bisa Bieber jawab. Arigatou untuk kalian yang selalu menunggu fic Bieber. Arigatou untuk Review/Follow/Fav fic ini :')

Bieber akan berjuan untuk kelas 12 ^^ Terima kasih dukungannya Maaf Bieber gak bisa update cepet lagi. Bieber gak mau PHP soalnya :D Oh ya, Ada yang mau Nonton Boruto The Movie? Bieber PASTI bakalan bolos sekolah buat nonton Boruto :''''D Pokoknya Bieber pasti datang ke CGV Blizt di Grand Indonesia Jakarta tanggal 18 November 2015! Kalian semua juga nonton ya ^^ Ayo kita nonton bareng! :D

Akhir kata,

Mind to review?