Pernah kutemui sebuah artikel tentang kebahagiaan yang cukup menarik perhatianku. Artikel yang menyatakan bahwa menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain bukanlah suatu tindakan yang tepat ... karena bahagia adalah keputusan yang harus kauambil dan tentukan seorang diri. Apakah kau akan terus bergantung dan berharap pada seseorang, atau kau akan melangkah maju, dan membuat kebahagiaanmu dengan tanganmu sendiri.

Secara pribadi aku menyetujui pendapat itu. Karena bahagia itu mudah, juga sederhana ... tinggal kau mengizinkan dirimu untuk berbahagia atau tidak.

Tapi tentu saja tak bisa kupungkiri, bahwa jauh di lubuk hatiku aku masih sangat mengharapkan dia. Masih menunggunya untuk membimbingku menuju lentera bahagia.

Kontradiksi ini begitu menyedihkan, bukan?


"Hati, mengapa harus ada rindu yang mendera, selalu ada luka yang terus menjelma? Tak bisakah kucintai dia dengan cara yang lebih sederhana?"


.

.

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

AU, OoC, typo(s). I only own the plot (plus my original chara) and didn't gain any profit from this fiction.

.

.

Pairing:

Akashi x OC, Midorima x OC, with a little bit of Nijimura x OC.

.

.

Azalea Airys presents ...

.

.

Memory

[A Story between Us]

.

.

Enjoy, please~

.

.

"Sayang sekali semuanya harus berakhir di sini, Aomine-san."

Aihara Yuki menghadang pemuda di hadapannya dengan napas memburu. Bulir keringat menetes pelan dari pelipisnya. Gurat kelelahan memang terpeta jelas pada ekspresi gadis itu, tetapi kilat dingin yang terpercik dari kelabunya masih menyiratkan bahwa ia takkan semudah itu dikalahkan.

"Che! Jangan harap kau bisa menghentikanku semudah itu."

Sang pemuda berkulit tan memang tak terlihat selelah sang gadis meski ia telah dikejar dari jam sepuluh sampai matahari berada di atas kepalanya. Staminanya mungkin telah berkurang drastis, tetapi mengingat ia sudah terbiasa berlari melintasi lapangan basket dari ujung ke ujung, hal ini bukanlah masalah besar. Tinggal melewati gadis merepotkan itu, dan ujung labirin ini akan mengantarkannya pada garis finish.

Lagi pula, ia takkan menyia-nyiakan pengorbanan Kise yang berhasil merampas senjata sub machine milik gadis itu sehingga kini keduanya bisa berhadapan dengan tangan kosong.

"Maaf saja. Tapi tanpa senjata, kau hanyalah gadis biasa yang tak bisa apa-apa."

Senyum mengejek dari Aomine sama sekali tak membuat Aihara gentar. Gadis itu hanya menetralkan pernapasannya sebagai jawaban dari tantangan pemuda itu.

Angin musim panas berhembus kencang secara tiba-tiba, mengusik kokohnya dedadunan yang menjadi dinding penghalang keduanya dengan dunia luar. Kabut tebal yang sebelumnya menyelimuti mereka pun sedikit kehilangan intensitas, terbang bersama surai keduanya yang mulai berkibar bebas. Aura tegang makin terasa menyelimuti dua remaja itu.

"Kita lihat saja mana yang lebih dulu terjadi ... aku yang berhasil melewatimu," Aomine tersenyum sinis. "... atau Akashi yang akan datang dan menghentikanku."

Yuki menyeringai kecil. "Ya, kita lihat saja nanti."

.

.

»»««

.

.

Pagi itu kegelisahan tampak menyelimuti seluruh anggota klub, minus Akashi tentunya, yang tengah sibuk berdiskusi dengan Momoi mengenai kelengkapan terakhir menu latihan kali ini. Bisa dibilang, mereka semua tengah fokus mempersiapkan mental, karena siapa sih yang nggak deg-degan kalau mengingat tendensi kapten mereka yang mengarah pada sadis itu? Bahkan sarapan yang biasanya mereka lahap penuh semangat pun kini terasa tak menggairahkan.

"Oke, karena peralatan terakhir sudah dikonfirmasi kedatangannya, kita akan berangkat ke tempat tujuan lima belas menit lagi. Persiapkan diri kalian baik-baik." Akashi beranjak dari ruang makan diikuti anggota tim yang lain. Yuki dan ketiga manajer resmi pun segera beranjak membereskan meja makan.

"Pagi ini tidak seramai hari-hari sebelumnya ya? Bahkan beberapa anggota tim juga terlihat pucat. Apa mereka akan baik-baik saja?" Miki Arai bertanya pada Momoi yang membawa piring terakhir ke bak cuci. Tanggannya sibuk mengelap meja panjang yang telah bersih dari peralatan makan itu.

"Jangan khawatir, mereka hanya gugup karena membayangkan kemungkinan terburuk. Lagi pula, latihan kali ini tidak seberat itu kok. Malah kupikir ini akan sangat menyenangkan!" Momoi menjawab dengan ceria.

"Aku jadi penasaran dengan latihan kali ini. Dengar-dengar persiapannya sampai menghabiskan empat ratus ribu yen(1) ya?" Atsuko ikut menimpali. Mendengar jumlah fantastis yang disebut gadis di sampingnya, Yuki hampir menjatuhkan piring yang tengah ia keringkan. Gila, ini sekolah apaan sih yang mengakomodir siswanya dengan budget sebesar itu?!

"Iya, memang sekitar itu. Sebenarnya yang membuat agak mahal adalah sewa tempat dan alat pengamannya, sedang untuk peralatan tambahan kita bisa meminjam milik Akashi-kun," terang Momoi. "Tapi kalau dibandingkan dengan training camp tahun lalu yang bertempat di Hawaii, ini sih tidak ada apa-apanya!" Senyum menenangkan Momoi justru memberikan efek sebaliknya pada Aihara Yuki. Ia hanya bisa tersenyum kecut sambil menggumam, "dasar sekolah elit."

...

Waktu yang 'tidak' dinantikan pun akhirnya tiba. Sebagai pemanasan, anggota klub basket diperintahkan untuk berlari menuju tempat latihan mereka di pimpin Akashi sebagai penunjuk jalan. Ketiga manajer pun ikut menyertai, namun mereka disediakan sepeda hingga tak perlu melelahkan diri. Lalu bagaimana dengan Yuki sendiri? Seperti yang bisa diduga, gadis itu pun mengikuti rombongan tersebut—di barisan paling akhir —ditemani Kuroko Tetsuya. Entah sudah berapa ratus umpatan yang ia lontarkan—dalam hati—pada kaisar tak berperasaan itu selama mereka menelusuri jalan pegunungan tersebut. Rasanya memang tidak adil diperlakukan berbeda seperti ini. Yuki toh bukan anggota resmi klub basket, jadi kenapa juga ia harus ikutan menderita bersama anggota pria yang lain? Meski rasionalitasnya terus mengingatkan kalau kau mengikuti camp ini sebagai hukuman jadi bersabarlah, Yuki! ... ia tetap saja merasa bahwa ini semua hanya akal-akalan sang Ketua Utama Komite untuk membuatnya sengsara. Tapi ambil sisi baiknya! Setidaknya Yuki bisa memastikan kalau Kuroko-san tidak ketinggalan di suatu tempat karena mendadak pingsan. Ia memang tidak tahu sudah berapa lama mereka berlari seperti ini, tapi wajah pemuda bersurai biru muda yang makin lama makin memucat itu benar-benar mengkhawatirkan!

"Err ... Kuroko-san, mau istirahat sebentar?" Yuki menawarkan ketika mereka sampai di sebuah persimpangan. Kelabunya menilik anggota lain yang tampak berlarian mengikuti jalan menanjak menuju bukit. Karena rute selanjutnya hanya lurus terus—Yuki ingat karena telah 'dijejali' petunjuk jalan oleh Akashi pada malam sebelumnya—ia merasa tidak masalah untuk berhenti sejenak. Ia sendiri pun sudah merasa cukup kelelahan.

"Aku membawa botol air di ransel," tambahnya ketika Kuroko mengangguk menyetujui. Ia pun menyerahkan botol berwarna biru pada Kuroko yang langsung disesapnya. Setelah merasa cukup, Kuroko mengembalikan botol tersebut ke pemiliknya. "Terima kasih, Aihara-san. Maaf merepotkanmu. Staminaku memang tidak terlalu bagus jika dibandingkan dengan anggota lain."

"Ah, tidak apa-apa kok! Lagi pula aku juga butuh istirahat," jawabnya menenangkan. "Meskipun aku mengikuti ekskul yang membutuhkan ketahanan fisik juga, bukan berarti aku memiliki stamina yang kuat, Kuroko-san. Jadi, istirahat kita kali ini bisa dibilang simbiosis mutualisme." Kuroko tersenyum tipis mendengar perumpamaan gadis itu.

"Kalau begitu sebaiknya kita bergegas menyusul yang lainnya supaya simbiosis kita tidak menimbulkan masalah baru, Aihara-san."

Kali ini giliran wajah Yuki yang terlihat pias. Ia menelan ludah gugup. "Kalau kau bilang begitu aku jadi merinding membayangkan reaksi Akashi-san nanti."

Keduanya pun segera meneruskan larinya, mengekor jejak anggota klub lain yang kini semakin jauh di depan mereka.

Di sela-sela mengatur napas, Kuroko memecah keheningan. "Ngomong-ngomong soal Akashi-kun, bagaimana pendapatmu soal dia?"

Yuki melirik pemuda di sampingnya dengan heran, sedikit aneh dengan pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu. "Kenapa kau bertanya begitu, Kuroko-kun?" Lamat-lamat Yuki bersuara.

"Ini bukan sebuah tes jadi kau tidak perlu waspada seperti itu Aihara-san." Pemuda itu tersenyum geli ketika komentar tepat sasarannya membuat Yuki gelagapan. "Aku juga tidak akan melaporkanmu jika pendapatmu bersifat negatif semua. Anggap saja ini cuma pertanyaan basa-basi karena rasa penasaran."

Mendengar pikiran negatifnya diutarakan sebegitu gamblang, apalagi dengan intonasi dan ekspresi datar seperti itu mau tak mau membuat Yuki kelimpungan. "Maaf karena telah meragukan intensi dari pertanyaanmu, Kuroko-san." Ia batuk kecil guna menghilangkan rasa malunya. "Mengenai pendapatku tentang Akashi-san ... aku menghormatinya karena ia adalah sosok pemimpin yang bisa diandalkan. Meski tentu saja sifat sadisnya itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, tapi kharisma dan kemampuan yang ia miliki hingga bisa membawa timnya menuju kesuksesan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng."

Kuroko mengangguk paham. Ia melirik Yuki yang kini tengah menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung tangan. "Lalu bagaimana dengan Midorima-kun?"

Malas memikirkan alasan sesungguhnya dari pertanyaan Kuroko, Yuki memilih memfokuskan pandangannya pada punggung anggota klub di kejauhan. Dikalkulasinya bahwa ia mungkin bisa memperlambat jarak dengan anggota di depannya, jika menambah kecepatan dan memprioritaskan diri untuk mengatur pasokan oksigen di paru-parunya, daripada menghabiskannya sia-sia dengan obrolan tanpa arah ini.

"Aku mengagumi dedikasi tinggi yang dimilikinya. Entah itu pada basket atau pelajaran sekolah, ia selalu memberikan yang terbaik, selalu berusaha dengan seluruh kemampuannya."

"Bagaimana dengan obsesinya tentang horoskop itu?"

Yuki menghembuskan napas panjang melihat kilat sangsi pada iris Kuroko. "Bukankah itu malah menunjukkan kalau ia tidak main-main dengan kehidupannya? Kalau diambil sisi positifnya, itu hanya menunjukkan kalau ia selalu mempersiapkan sesuatu dengan serius agar mendapatkan hasil seratus persen."

"Jadi kau pun berpikir kalau hobi Midorima-kun itu ada sisi negatifnya," tukas Kuroko.

"Tentu saja! Aku tetap berpikir kalau yang seperti itu termasuk pemborosan uang. Tapi mengingat Midorima-san termasuk berasal dari keluarga yang berkecukupan, kupikir uang bukanlah masalah besar untuknya." Yuki mengakhiri jawabannya dengan endikan bahu.

Kelabunya bisa melihat jika beberapa anggota klub telah berhenti di depan pintu masuk sebuah taman, menunggu anggota lainnya sambil melakukan peregangan. Maebashi Koen(2) adalah nama tempat tersebut. Ia memang harus memicingkan mata agar bisa melihat tulisan yang menghubungkan kedua gapura berwarna putih itu, meski ia tak memiliki kesulitan dalam mengidentifikasi surai pelangi milik anggota kisedai yang juga telah sampai di sana.

Yuki kembali mempercepat larinya untuk menyusul anggota yang lain ketika suara Kuroko kembali terdengar. "Aihara-san?"

"Ya?" Yuki menjawab refleks. Sedikit dilambatkan larinya untuk menunggu Kuroko yang ingin mengimbangi ritmenya.

Ketika mereka telah berlari bersisian, Kuroko baru melanjutkan, "bagaimana jika suatu saat nanti kau dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan? Seperti misalnya, ada dua sahabat yang sama-sama menyukaimu. Apa yang akan kaulakukan ketika mengetahuinya?"

Pertanyaan sambil lalu dari pemuda itu membuat Yuki tersenyum geli, "rasanya agak mustahil kalau ada orang yang menyukaiku, terlebih lagi jika ada dua orang yang memperebutkanku," jawabnya sambil lalu. "Tapi karena hari ini kau tiba-tiba jadi banyak bicara dan menanyakannya padaku, aku akan menuntaskan rasa penasaranmu."

Gadis itu menghela napas panjang dan memandang langit luas tanpa batas, "yah, kalau itu aku sih ... mungkin aku akan menghilang dari kehidupan keduanya."

Semilir angin membelai mereka dengan lembut, seakan ingin menentramkan hati keduanya dari segala kecamuk yang ada. Saat itu, Kuroko merasa senyuman gadis di sampingnya terasa lebih pahit dari sebelumnya. "Rasanya ... untuk orang sepertiku, merasakan sakit hati hingga kehilangan sahabat sendiri itu sangat tidak sebanding."

"Meskipun kau menyukai salah satunya?"

"Ya, meskipun aku menyukai salah satu dari mereka." Jawaban tegas dari Yuki membuat senyum melankolis terkembang di bibir Kuroko. Tanpa sadar, ia melambatkan larinya hingga punggung gadis itu terlihat semakin mengecil. Ia ikut menghela napas panjang sambil memandang dua titik di kejauhan. Sepenuh hati berharap jika kisah ini tidak berakhir setragis kelihatannya.

...

Untungnya, Yuki—dan Kuroko—sampai di depan gerbang tanpa disambut komentar pedas dari seseorang berambut merah. Meski begitu, keduanya tidak diberi kesempatan untuk berleha-leha karena tanpa basa-basi, Akashi telah memutuskan supaya mereka langsung ke tempat tujuan. Meski alasan mereka ke sini bukan untuk jalan-jalan, Yuki tidak bisa berhenti mengagumi keindahan taman tersebut. Di kejauhan dapat ia lihat sekelompok tulip kuning, merah, putih dan ungu saling berselang-seling dan membentuk beberapa pola. Pun ia bisa melihat semak bunga azalea berwarna merah muda yang mengelilingi taman dengan bau manisnya. Tanpa sadar, senyum kecil tersemat di bibirnya.

"Nggak pernah lihat bunga ya? Dasar norak." Komentar tak di minta Aomine membuat pelipis Yuki berkedut kesal. Ia lebih memilih mengamati kolam ikan dalam taman bergaya Jepang di sisi kiri pintu masuk, daripada mempermalukan diri dengan melempar sepatunya ke kepala Ahomine. Seberapapun pantas remaja berkulit tan itu mendapatkannya.

Kise melirik gugup Yuki saat merasa aura gelap menguar dari gadis di sampingnya itu. "Ah! Di sana ada kedai es krim! Kau suka makanan manis 'kan, Aiharacchi? Kita bisa mampir ke sana selepas latihan untuk mengisi ulang energi." Kise menunjuk suatu tempat di seberang kolam dengan antusias.

Belum sempat Yuki mengangguk atau menjawab untuk mengiyakan, suara datar Kuroko sudah terdengar menusuk hati. "Kise-kun berhentilah modusin orang."

"Hidoi, Kurokocchi! Padahal niatku baik ingin memperbaiki mood Aiharacchi!" Kise nangis buaya.

"Kalau begitu nanti sekalian traktir aku, Kise-chin," Murasakibara ikut-ikutan.

"Apa?! Kenapa aku harus mentraktirmu, Murasakicchi? Seharusnya kauminta traktiran pada Midorimacchi atau Akashicchi. Uang saku mereka dalam sehari itu bisa dibilang setara dengan gaji modeling-ku selama sebulan, tahu?!" keluh Kise mendaramatisir.

"Jangan mengada-ada, Kise! Dan berhentilah membawa-bawa diriku dalam argumen tak pentingmu itu." Midorima membuang muka sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Kalau seandainya yang minta traktir Aiharacchi, apa jawabanmu akan tetap sama?"

"Hei! Jangan bawa-bawa namaku seenaknya!"

Mengabaikan protes dari Yuki, iris sewarna madu Kise terus mengawasi pemuda bersurai hijau di depannya. Ia cukup penasaran dengan jawaban yang mungkin dilontarkan oleh pemuda tinggi itu.

"Kalian cerewet sekali sih? Hal kecil saja diributkan." Aomine menyela dengan bosan. "Dari tadi kalian itu sudah diawasi Akashi, jadi kalau tidak ingin mendapat hukuman, sebaiknya hentikan obrolan tak penting kalian sekarang juga," tambahnya sambil menguap lebar.

Mendengar kata 'Akashi' dan 'hukuman' dalam satu kalimat sontak membuat mereka tutup mulut. Kise—yang sebelumnya menanti jawaban dari Midorima—kini melirik takut-takut pada Akashi yang berjarak beberapa meter di depan mereka. Dan tentunya, itu membuatnya melewatkan desahan napas lega yang dihembuskan oleh sang pemuda bermata hijau. Namun Aomine melihatnya, karena ia memang menanti ekspresi tersebut muncul di rekan satu timnya itu.

"Sepertinya aku ketularan penyakit gila dramanya Satsuki." Aomine menggelengkan kepala dan bergumam pelan.

...

Setelah setengah jam menyusuri bedeng-bedeng bunga beraneka warna, mereka berjalan melewati sebuah rumah kaca yang cukup besar. Di dalam tempat tersebut bisa terlihat berbagai bunga dari mancanegara, seperti bunga-bunga tropis yang berasal dari Filipina, aneka anggrek dari Indonesia, rumpun begonia dari Brasil, dan kumpulan kaktus dari Meksiko. Sayangnya mereka tak bisa mengunjungi rumah kaca tersebut dalam kesempatan kali ini. Mereka terus melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai pada daerah yang dipenuhi pepohonan hijau. Ketika sebuah taman bermain dengan gua buatan berbentuk mulut singa terlihat, mereka mengarah ke utara di mana taman tersebut telah mencapai ujungnya. Dari sini mereka bisa melihat banner yang telah dipasang untuk menandai tempat latihan mereka. Dan ketika mereka telah sampai di tujuan akhir, tulisan di banner serta peralatan yang sudah berjejer rapi di depan mereka itu cukup mengejutkan hingga mereka tak bisa berkata-kata.

"Airsoft gun(3)? Serius kita latihan dengan benda itu?"Aomine memandang skeptis beberapa senjata hitam yang terletak pada meja berukuran besar di depannya.

"Akashicchi, bukannya aku meragukan keputusanmu ... tapi kita ini klub basket lho, bukan klub airsoft. Kupikir kedua olahraga ini tidak ada hubungannya, jadi tidak ada gunanya kita latihan airsoft." Kise ikut menimpali.

"Untuk saat ini aku setuju dengan pendapat Kise-kun, Akashi-kun," dukung Kuroko. Iris sewarna langitnya ikut memandang sang kapten untuk meminta penjelasan.

"Yah ... kalau aku sih tak masalah soalnya aku selalu memenangkan banyak hadiah di stan menembak." Murasakibara berkomentar sambil ngemil nerunerunerune candy.

Midorima membetulkan letak kacamatanya. "Sayangnya aku juga harus mempertanyakan alasanmu melakukan hal ini, Akashi."

Ruby Akashi pun berkilat tajam ketika anggota klub lain pun ikut 'mempertanyakan' keputusannya. Di sampingnya, Yuki tengah menimbang beberapa pistol yang berbeda jenis untuk mengetahui kecocokannya.

Akashi menyeringai sinis. "Bukankah kau sendiri yang bilang kalau menu latihan kita membosankan hingga menginginkan 'sesuatu' yang baru, Aomine?"

Semua mata langsung tertuju ke arah pemuda bersurai dark blue itu. Merasa disalahkan dengan hujanan tatapan kesal dan gemas, ia memprotes Akashi, "giliran seperti ini saja kau mendengarkan keluhanku!"

"Jadi, apa yang akan kita lakukan dengan airsoft gun itu?" Midorima bertanya sesuai topik awal.

"Sebelum kujelaskan lebih lanjut, Momoi akan membagikan denah pada kalian."

Dengan cekatan gadis bersurai pink itu langsung melaksanakan perintah Akashi. Kini di tangan setiap anggota klub terdapat peta yang menggambarkan lokasi latihan mereka.

"Nantinya permainan ini akan dimulai tepat pukul sepuluh. Jadi setelah mendengarkan penjelasanku, kuharap kalian segera memakai perlengkapan yang telah disediakan di kotak itu." Akashi melirik beberapa kotak di samping meja sebelum melanjutkan. "Seperti yang kalian lihat, garis start dimulai pada mulut labirin di samping kiri kalian dan garis finish-nya berupa sebuah ring basket yang terletak beberapa meter dari pintu keluar labirin."

Pandangannya menyapu seluruh anggota klub, memastikan mereka memperhatikan penjelasannya dengan serius.

"Dan seperti yang diusulkan Aomine," ia berkata penuh penekanan. "Akan ada variasi dalam latihan kali ini. Bukannya mengadakan latih tanding seperti biasa, kita akan melaksanakan survival game yang terdiri dari dua sisi, tim hunter dan tim quarry. Kalian adalah peserta dalam tim quarry ini. Tim quarry sendiri akan dibagi menjadi dua kelompok. Dua kelompok tersebut akan diberi sebuah bola basket untuk saling dioper ke anggota tim masing-masing," jelas Akashi.

"Peraturan di permainan ini hanya ada dua. Pertama, setiap anggota kelompok harus mendapat bagian dalam mengoper bola secara bergiliran. Tidak boleh ada yang memegang bola dua kali selama ada anggota kelompok yang belum mendapat giliran. Monopoli bola juga tidak diperkenankan. Dengan kata lain, kalian tidak boleh berlari sendiri membawa bola tanpa mengoper ke teman satu tim," pada bagian ini Akashi memandang lurus pada Aomine. Pemuda bersurai navy blue itu mendecih kesal. "Intinya, dalam satu putaran operan harus mencakup semua anggota kelompok. Jika semua anggota telah mendapat giliran, kalian bisa mengulanginya lagi dari anggota terakhir yang memegang bola. Sampai di sini ada pertanyaan?"

"Bagaimana jika suatu saat nanti kita terpisah dengan anggota tim yang lain?" Seorang siswa kelas satu di barisan belakang buka suara.

"Dalam situasi seperti itu, tim yang tertinggal harus terus mengoper bolanya ke semua anggota yang tersisa. Untuk anggota yang terpisah, mereka akan tetap diburu hunter meski tidak bersama timnya." Akashi menatap remaja berambut cokelat itu.

"Ada pertanyaan lain?"

Kali ini pertanyaan Akashi mendapat respon gelengan kepala.

"Kalau begitu aku akan menjelaskan peraturan kedua sekaligus yang terakhir. Ketika rekan timmu telah habis dan hanya kaulah anggota yang tersisa, di bagian ini, barulah kalian diperbolehkan men-dribble bola sampai garis finish. Sayangnya, jika anggota terakhir ini—entah karena suatu alasan—kehilangan bolanya sebelum mencapai goal, ia akan didiskualifikasi dari permainan karena kalian harus memasukkan bola itu ke ring untuk menang," tutup Akashi.

"Akashi-kun, di sini kau hanya menjelaskan soal tim quarry saja. Lalu bagaimana dengan anggota tim hunter jika kami semua masuk tim quarry?"

"Pertanyaan yang bagus, Kuroko. Sebagai dispensasi untuk kalian, tim hunter hanya akan terdiri dari dua orang, yaitu aku ... dan Aihara."

Fokus sang penanya—juga semua anggota klub lainnya—langsung terarah pada gadis bersurai hitam yang kini tengah mengawasi mereka juga. Tampaknya ia telah selesai memilih senjata yang akan dipakainya jika menilik sebuah airsoft gun yang terdapat di tangannya.

Tatapan sangsi pun mulai terlihat pada sebagian besar anggota klub.

"Heh! Kau yakin timmu hanya beranggotakan dia, Akashi? Itu sih bukan termasuk keringanan lagi melainkan beban." Senyuman Aomine jelas-jelas tampak merendahkan. "Tapi dengan begini malah makin mudah sih, karena kami bisa lebih memfokuskan diri padamu dan mengabaikan—" Belum sempat Aomine menyelesaikan kalimatnya, peluru BB(4) yang melesat tepat di samping wajahnya telah membungkamnya terlebih dahulu. Kedua irisnya terbuka lebar memandangi peluru yang telah meninggalkan bekasnya di pohon tempatnya bersandar.

Jika ia bergerak satu mili saja, bekas berwarna biru itu akan mengenai pelipisnya.

"Woi! Siapa yang—"

"—aduh ... maaf ya? Terakhir kali aku memegang senapan saat diajak berburu sepupuku musim panas tahun lalu sih." Senyuman manis Yuki entah kenapa membuat anggota klub merinding.

"Tapi kali ini," kelabunya berkilat dingin memandang Aomine, "akan kupastikan kalau tembakanku takkan meleset lagi, Aomine-san," tutupnya penuh penekanan.

"Aomine-kun, akan kupastikan untuk datang di upacara pemakamanmu," Kuroko memandang wajah cahayanya yang kini tampak tak sehitam sebelumnya.

"Mine-chin jangan lupa wasiatkan semua makanan di kulkasmu padaku ya?" tambah Murasakibara.

"Hn! Kau tidak akan dirindukan," tukas Midorima.

Kise hanya bisa tersenyum canggung mendengar komentar sang shooting guard yang terlampau jujur. Meski berkat situasi ini, ia mempunyai solusi yang akan menguntungkan mereka pada permainan kali ini sih.

"Baiklah teman-teman, aku punya rencana." Perhatian semua anggota klub kini terpusat pada Kise. "Di game nanti, yang setuju kalau kita ikat Aominecchi di suatu tempat dan meninggalkannya sebagai umpan untuk Aiharacchi tolong angkat tangan!"

Bisa dibilang semua anggota klub mengangkat tangan mereka, termasuk para manajer yang sempat mendengar perkataan meremehkan Aomine tadi.

Merasa dikhianati bahkan oleh teman masa kecilnya sendiri, Aomine hanya bisa meneriakkan, "o-oi!"

...

Tak lama setelah huru-hara Aomine vs. tim basket Teiko terjadi, pembagian kelompok quarry telah ditentukan. Agar tidak berat sebelah, anggota kisedai minus Akashi dipecah dalam dua kelompok. Kise, Midorima dan Murasakibara berada di 'Tim Quarry A' sedang Aomine dan Kuroko berada di 'Tim Quarry B'.

Mereka telah berganti dengan pakaian pelindung yang disediakan (sebuah baju lengan panjang tebal dan celana panjang berwarna hitam), mengenakan vest, sepatu bot serta kacamata pelindung ketika Murasakibara berbicara, "Aka-chin, kau belum menjelaskan hadiah apa yang akan didapat oleh tim pemenang."

"Ya, aku memang menunggu seseorang menanyakannya." Akashi membetulkan letak earpiece di telinganya. "Pemenang dari game ini akan dibebaskan dari training camp selama sehari penuh. Kalian bisa berwisata di area Gunma sepuasnya dan semua biaya akan ditanggung oleh pihak sekolah. Selain itu, kalian akan mendapatkan voucher senilai dua puluh ribu yen(5) yang bisa kalian gunakan untuk membeli perlengkapan basket di koperasi sekolah."

"Kau belum menyebutkan hukuman untuk tim yang kalah, Akashi-kun." Perkataan Kuroko ini sontak menghentikan gempita sorakan sebelumnya.

Akashi menyeringai kecil, "kalau kalian kalah, menu latihan training camp kali ini akan dilipatgandakan," jawabnya santai.

Semua yang ada di situ berpikiran sama, menu training camp biasa saja sudah tiga kali lebih berat dari latihan rutin, apa jadinya kalau malah dilipatgandakan? Bahkan latihan rutin di Teiko saja sudah cukup melelahkan tanpa penggandaan berlipat tadi.

Optimisme yang sebelumnya sempat memuncak berkat pengumuman hadiah kini mulai terganti dengan aura pesimis. Kise mulai memikirkan cara untuk menghindari kemungkinan terburuk ketika dari sudut matanya bisa ia lihat kalau Aihara Yuki sedang mengisolasi dirinya dari kerumunan. Celingak-celinguk memastikan perhatian Akashi sedang berada di tempat lain, ia berjalan terburu-buru menemui gadis itu.

"Aiharacchi!" Kise menyapa Yuki yang baru saja selesai memakai sepatu bot.

"Ya Kise-san?" Ia mendongak menatap pemuda pirang di depannya.

Kise pun mengeluarkan senyum andalannya. Cuma perasaanku saja atau hawa di sini tiba-tiba menjadi lebih dingin? "Jadi ... mengenai surve game—"

"—survival."

"Iya, seru-vi-veru game ini," Kise berhati-hati mengucapkannya tanpa menghilangkan rasa antusiasme. "Kuharap kita bisa bekerja sama, Aiharacchi!"

"Maksudmu?" Yuki mandang Kise heran, tanggannya terhenti sejenak sebelum memasang earpiece di telinganya.

"Yah ... aku tahu kalau kau menyukai bunga ... dan di wilayah Gunma ini ada taman Ashikaga yang terkenal dengan wisterianya. Jadi ... " Ia melirik Yuki penuh harap.

" ... kau ingin aku sengaja kalah dalam game ini?"

"Betul sekali!" jawab Kise antusias.

Gadis itu menghela napas panjang mendengar konfirmasi Kise. "Seberapapun aku ingin melihat taman itu, aku tidak bisa membiarkan kalian menang dengan sengaja, Kise-san."

"Eh?! Kenapa?"

Yuki tersenyum miris. "Karena Akashi-san sudah memperingatkanku akan hal ini. Dia akan menambah tugas-tugasku jika aku berani macam-macam. Tidak hanya menjadi tukang masak, aku juga akan menjadi tukang suruh bagi para manajer selama pelatihan ini berlangsung. Aku akan membereskan bola, mengepel lantai gedung olahraga, menyiapkan handuk dan minuman untuk kalian, serta melakukan laundry ... dan itu semua harus kulakukan tanpa bantuan manajer lain! Tapi yang paling parah dari semuanya adalah ... dia akan mengajukan proposal untuk mengganti taman bunga mawar di sekolah menjadi sekumpulan tanaman herbal!" Di bagian ini gadis yang biasanya terlihat pendiam itu mulai nampak histeris. Kise hanya bisa tercengang memandangi perubahan total pada karakter Yuki. Aku tahu dia suka bunga sih, tapi kupikir tidak separah ini.

"I-intinya," Yuki mencoba menenangkan diri. "Maaf karena aku tidak bisa membantumu, Kise-san." Ia pun berlalu meninggalkan pemuda beriris madu itu.

"Apa yang sedang kaulakukan, Kise-kun?"

Kise memegangi jantungnya yang terasa hampir copot. Irisnya langsung terarah pada pemuda yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya itu. "Kurokocchi?! Sejak kapan kau ada di sini?"

"Baru saja," jawabnya singkat. "Ngomong-ngomong," Kuroko melirik sang small forward Teiko itu, "dari tadi gerak-gerikmu sudah diawasi oleh dua orang. Jadi ... kalau kau tidak ingin mengalami cedera karena dianggap saingan, lebih baik berhentilah cari kesempatan dalam kesempitan, Kise-kun."

Saran dari Kuroko tadi langsung membuat Kise pucat pasi, apalagi ia baru sadar kalau hawa dingin yang ia rasakan selama mengobrol dengan Yuki tadi berasal dari dua pasang mata yang mengawasinya bak rajawali.

Kise menelan ludah gugup. "A-aku melakukannya juga demi kepentingan tim, Kurokocchi~"

"Tidak ada yang memintamu menjadi playboy, Kise-kun." Jawaban menohok Kuroko otomatis membuat air mata membanjiri pipi pemuda itu.

Dan Kise pun hanya bisa sesenggukan sambil meratap, "hidoi~"

...

Entah Dewi Fortuna masih berada di pihaknya atau apa, untungnya Kise bisa melalui menit-menit pertama game ini tanpa kendala yang berarti—minus sesekali mendengar komentar sadis yang dilontarkan Midorima tentang caranya mengoper bola, cara berlarinya yang boros napas sehingga staminanya takkan bertahan lama, juga komentarnya tentang rengekan Kise yang menyakitkan telinga.

Karena Kise orangnya baik hati dan tidak sombong, ia mendiamkan saja ocehan wortel berkacamata itu. Yah, masih mending daripada gunting atau misil lain melayang padanya 'kan?

Kise mendengar alarm peringatan dibunyikan, pertanda keringanan waktu lima menit telah berakhir dan tim hunter mulai memasuki labirin untuk mengejar mereka. Irisnya melirik ke kanan dan ke kiri, mencoba menentukan arah yang tepat untuk mencapai garis finish ketika suara Momoi Satsuki terdengar melalui speaker yang dipasang dalam labirin.

"Demi menambah sensasi survival dan memacu adrenalin, tidak lama lagi kami akan memberikan sebuah kejutan untuk minna-san. Selamat bersenang-senang!"

Ketika suara itu berhenti sepenuhnya, Kise bisa merasakan sesuatu yang aneh pada penglihatannya. Ia melirik pemuda yang berlari di sampingnya. "Midorimacchi, apa kau—"

"—ya. Tampaknya kejutan yang mereka maksud adalah membatasi penglihatan kita dengan kabut buatan."

Seperti di turnamen Triwizard saja. Kise bahkan takkan merasa heran jika nanti akan muncul tanaman merambat yang mengejar mereka. Tidak ada kata mustahil jika seorang Akashi Seijuurou telah bersabda.

Lagi pula di dekatnya toh sudah ada Harry Potter KW ... tinggal buat tanda petir dengan make-up, beri tongkat dan pakaikan jubah hitam, jadi deh.

"Anoo ... Kise-senpai, Midorima-senpai." Salah satu murid kelas satu berlari sejajar dengan keduanya.

"Ada apa?" Midorima memandang adik kelas yang terlihat gugup itu.

"Murasakibara-senpai ... menghilang dari barisan paling akhir setelah mengoper bola pada rekan di depannya."

"Eeeh?!" Kise berteriak tak percaya.

...

Murasakibara tidak lagi peduli dengan game merepotkan ini. Setelah menemukan maiubo yang berjajar tanpa daya di suatu tikungan, tentunya ia tidak mungkin membiarkan camilan itu mubazir begitu saja 'kan?

Remaja tinggi bersurai ungu itu pun memunguti snack tersebut satu demi satu sambil memakan beberapa yang sudah terkumpul di pelukannya. Ia terus mengikuti jejak kudapan tersebut, melewati beberapa belokan hingga sampai pada jalan buntu tempat maiubo terakhir berada.

Sayangnya sebelum ia sempat menyentuh jajanan tersebut, sebuah suara sudah terdengar di belakangnya bersamaan dengan sesuatu yang ditempelkan pada punggungnya.

"Murasakibara-san, ketemu."

...

Jujur saja, pengumuman dari Momoi yang menyatakan Murasakibara telah menjadi korban hunter itu cukup mengejutkan Aomine. Ia pikir, anggota kisedai akan termasuk peserta yang bisa bertahan sampai akhir di permainan ini. Tapi jika mengingat sifat sang center yang ogah-ogahan itu ... rasanya bukan hal yang mustahil jika ia yang tumbang pertama kali. Atau mungkin memang Akashi dan Aihara saja yang terlalu mematikan jika mereka digabungkan. Cih, tampaknya aku terlalu meremehkan duo oni itu.

Navy blue-nya melirik malas pada barisan di belakangnya, memastikan kalau anggota timnya masih lengkap meskipun kabut mulai menebal dan memperpendek jarak penglihatan. Satu, dua, tiga, empat ... tunggu dulu! Tampaknya ia telah melupakan sesuatu. Tapi apa?

...

Kuroko Tetsuya mendengar sebuah teriakan kesakitan saat ia melintasi sebuah belokan. Dan karena ia termasuk tipe bertanggung jawab yang tak mungkin meninggalkan orang kesusahan begitu saja, ia memutuskan untuk menyelidiki sendiri asal suara tersebut, tanpa memberi tahu rekan timnya.

Kuroko Tetsuya dididik dengan baik oleh orang tuanya sehingga ia memiliki budi pekerti yang bagus. Karena ia juga tinggal dengan neneknya, sudah menjadi nalurinya untuk cekatan dan selalu sigap membantu jika diperlukan. Hal ini pun berlaku di situasi kali ini, ketika ia melihat Aihara-san tersungkur sambil memegangi kaki kirinya. Di dekat gadis itu jatuh memang terdapat sulur tebal yang menyembul keluar dari dinding pagar. Dan menurutnya, jatuh di lantai labirin yang bersemen pasti akan terasa sangat sakit. Biru langitnya pun telah menangkap ringisan kecil dari teman sekolahnya itu, jadi dengan sigap Kuroko segera memperpendek jarak.

"Aihara-san, apa kau baik-baik saja?"

Kuroko berjongkok di depan gadis itu sambil memperhatikan kaki kirinya. Pikirannya terbagi antara pilihan mencari Aomine-kun—dan meninggalkan Aihara-san beberapa saat—untuk membantunya membawa gadis itu ke paramedis, atau memapahnya sendiri—yang mungkin saja akan berakibat cedera Aihara-san makin parah atau ia sendiri yang malah ikutan cedera.

Ia begitu serius memikirkan kedua opsi tersebut, sampai-sampai tidak melihat seringai kecil di bibir gadis di depannya.

"Kuroko-san, ketemu."

Sayangnya, ia lupa kalau gadis di depannya itu adalah musuh untuk saat ini.

...

"Nani?! Kurokocchi juga sudah menjadi korban tim hunter?!" Kise merasa setengah takjub-setengah tak percaya ketika mendengar pengumuman dari speaker. Ia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu sejak Murasakicchi tereliminasi, tapi tetap saja, rasanya tak selama itu hingga gugurnya Kurokocchi ini bisa dianggap wajar.

Ada yang aneh dengan semua ini, terutama menyangkut identitas para korban yang berjatuhan pertama kali.

Pemikiran Kise ini terhenti ketika menerima operan bola dari Midorima. Ia segera melanjutkannya pada kouhai di belakangnya.

"Midorimacchi kau sedang apa?" Ia baru sadar jika Midorima telah bertingkah aneh semenjak beberapa saat yang lalu. Ia jadi makin khawatir ketika rekan setimnya itu kini terlihat pucat sambil mengorek-ngorek kedua saku celananya.

"Apa kau harus minum obat tapi lupa membawanya di kantong, Midorimacchi? Kalau kau merasa tak enak badan sebaiknya kembali ke pintu masuk saja."

"Jangan bodoh. Mana mungkin aku melupakan obatku jika aku memang membutuhkannya?"

Kise memandang skeptis pemuda yang berlari di sampingnya itu. "Lalu kenapa kau terlihat panik begitu?"

"Kupikir ... aku menjatuhkan lucky item-ku."

"Oh, hanya lucky item," Kise mendesah lega. "Kupikir kau tiba-tiba sakit dan membutuhkan obat."

"Justru lebih gawat kalau kehilangan lucky item-ku!" bantah Midorima. "Misal obat toh aku bisa memintanya pada manajer atau beli di apotek terdekat. Kalau lucky item-ku sampai hilang, bisa lebih repot karena aku tidak tahu di mana toko yang menjual jam saku dengan lambang Big Ben di kota ini!"

Kise memandang Midorima dengan tatapan ganjil. Entah kenapa, logika dan obsesi anehnya ini mengingatkanku akan seseorang.

Emerald Midorima membalas tatapan Kise dengan mantap. "Aku akan menelusuri rute yang telah kita ambil untuk menemukan lucky item-ku," putusnya tegas.

Belum sempat Kise mencerna perkataan Midorima, remaja bersurai hijau itu telah berbalik arah dengan kecepatan penuh.

"Tunggu dulu Midorimacchi! Jangan seenaknya pergi begitu saja!"

Larangan Kise tak bisa mencegah Midorima untuk melenyapkan diri di balik kabut.

Sekarang, ia sedikit menyesal kemampuan perfect copy-nya tidak bisa meng-copy peta labirin ini ke dalam ingatannya seperti kemampuan memori fotografi, terlebih setelah navigator andalannya menghilang pergi.

...

Midorima bersyukur telah mempelajari denah yang diberikan Momoi dengan saksama. Ia cukup percaya diri akan dapat menelusuri jejaknya hingga bersua kembali dengan pujaan ha—ehem—lucky item-nya. Pun ia yakin bisa kembali pada timnya setelah berhasil menemukan jam sakunya.

Mungkin banyak orang berpikir keputusan yang diambil Midorima kurang rasional, mengingat mereka tengah berada dalam sebuah game yang menentukan masa depan latihan mereka. Tapi bagi Midorima, masalah lucky item-nya adalah persoalan hidup-mati. Ini menyangkut bagaimana harinya berlangsung, mempengaruhi kinerjanya dan ia tidak pernah pergi tanpa lucky item sehari pun. Lagi pula, kalau mereka kalah toh masih ada manfaatnya. Dengan menu training camp yang ditingkatkan intensitasnya, tak menutup kemungkinan jika kemampuan mereka nantinya akan ikut berkembang. Biar bagaimanapun, ia percaya pada Akashi. Menu latihan baru yang ia racik tentunya sudah dipikirkan masak-masak demi kepentingan klub, dan seberapa pun sparta pelatih Shirogane dalam mendidik timnya, ia tak mungkin menyetujui menu latihan tersebut jika membahayakan anak didiknya.

Jadi ia tak masalah kalau harus kalah dalam permainan kali ini. Dan ini—sama sekali—tak ada hubungannya dengan percakapan Kise dan Aihara yang 'tak sengaja' ia dengar sebelumnya. Mau Aihara dihukum Akashi karena kalah—meski ia akui hukuman tersebut sangat tidak masuk akal dan jauh dari perikemanusiaan—pun ia tak peduli.

Midorima menghela napas sambil menengok kanan-kiri. Ia sudah melewati tiga tikungan tanpa hambatan berarti, tapi tetap saja benda berwarna perak itu sama sekali belum ia temukan. Aku yakin sudah memasukkan jam itu di kantong saat ganti baju tadi. Tapi di mana?

Ia melihat sesuatu berkilau dari sudut matanya. Penuh harap, ia ambil belokan di sisi kirinya untuk menyelidiki benda tersebut. Ia sebenarnya agak ragu dengan rute ini, tak terlalu ingat jika timnya melewati jalan setapak tersebut saat berlari menjelajah labirin. Tapi di saat seperti ini ia tak ingin pilih-pilih. Selama lucky item-nya bisa ditemukan, apa salahnya sengaja tersasar di satu atau dua tempat?

Ketika jaraknya hanya beberapa meter dari benda tersebut, ia segera mempercepat langkahnya untuk memastikan jenis benda yang tergeletak di tanah itu. Tidak mungkin! Ini 'kan ...

Midorima mengambil benda itu dengan tangan kirinya. Sedikit heran kenapa sebuah gunting berwarna merah bisa berada di tempat seperti ini.

"Berbahaya sekali. Bagaimana kalau ada yang menginjaknya dan terluka?" sungutnya kesal.

Demi keselamatan, ia putuskan untuk membawa benda tersebut dan kembali ke jalur awal. Ia akan menyerahkan gunting ini pada tempat penitipan barang hilang setelah keluar dari labirin.

Ya, itu sih rencana awalnya sebelum sebuah suara terdengar dari balik punggungnya.

"Satu-satunya yang akan terluka adalah kau, Midorima."

Entah kenapa, Midorima merasa yakin ada makna tersembunyi dalam ucapan itu.

...

"Mido-chin, kau juga sudah tertangkap rupanya." Murasakibara menyapanya dengan mulut penuh makanan.

"Halo Midorima-kun," Kuroko mengangguk sopan. "Ah iya, ada titipan untukmu dari Akashi-kun."

Mendengar nama Akashi disebut membuat Midorima mengernyit heran. "Apa?"

"Ini." Kuroko menyodorkan jam saku berlambang Big Ben pada Midorima. "Katanya ketinggalan di ruang ganti. Maaf baru mengembalikannya sekarang."

Midorima amat sangat yakin lucky item-nya tidak ketinggalan di ruang ganti. Meski begitu ia tetap menerimanya dengan anggukan kecil.

Saat ini, mereka bertiga telah berada di menara pengawas yang terletak di sisi kanan labirin bersama Momoi Satsuki. Sedang kedua manajer lain—menurut Momoi—tengah mengawasi jalannya permainan dari menara lain di sisi satunya.

Sebelum permainan dimulai Akashi memang sempat menjelaskan jika pemain yang gugur bisa menonton jalannya pertandingan dari menara pengawas bersama para manajer, dan hal itulah yang dilakukan oleh ketiganya saat ini.

"Siapa yang membuat kalian berada di sini?" Midorima memandangi kedua remaja itu bergantian.

"Ai-chin."

"Aku juga berada di sini karena Aihara-san," jawab Kuroko. "Lalu kau sendiri bagaimana, Midorima-kun? Siapa yang berhasil memburumu?"

Biru langit Kuroko kini bertatapan langsung dengan emerald Midorima.

"Menurutmu siapa?" Midorima membuang muka. Kejengkelan masih terdengar jelas di suaranya.

Ya, Kuroko pun sudah bisa menduganya.

...

Midorimacchi menghilang amat sangat lama dan sayangnya, apa yang ditakutkan Kise pun akhirnya menjadi nyata. Entah berapa saat yang lalu ia telah mendengar Momocchi mengumumkan nama pemuda bersurai hijau itu lewat speaker. Kise ingin menjerit frustrasi. Ia mungkin akan betul-betul melakukannya, jika saja ia tak ingat ada dua orang hunter mengerikan yang tengah membaui jejaknya.

Selama ini pun bukan berarti mereka aman saja. Terhitung sudah dua kali ia lolos dari maut—tak sengaja berpapasan dengan Aiharacchi—yang tentu saja membuat formasinya kocar-kacir. Terhitung setengah dari timnya telah menghilang di 'pertemuan' pertama, memilih menjadi pengalih perhatian dengan berpencar ke segala arah demi membiarkan ia dan anggota yang lain melaju ke garis finish. Sayangnya setelah mereka melewati sepuluh tikungan, nama terakhir anggota yang berpencar itu telah disebut ... yang artinya, kelompok Kise hanya tersisa enam orang termasuk dirinya.

Rasa aman mereka pun tak berlangsung lama, karena lewat beberapa waktu dari nama itu diumumkan, Aiharacchi kembali muncul di sisi kanan mereka dengan senapan di tangan. Seakan ia sudah tahu mereka akan melewati jalan ini dan menyergap timnya. Meski ia tak heran sih jika memang begitulah kenyataannya. Permainan tentu saja akan menjadi lebih sulit karena kemampuan Akashi yang seakan bisa melihat masa depan itu.

Dan ya, setengah anggota tim Kise yang tersisa pun menjadi korban di kesempatan kali ini.

Untuk saat ini ia akan terus berlari bersama kedua anggota timnya yang lain. Meski garis finish terasa amat jauh, bahkan untuk menemukan inti labirin saja ia masih kesulitan, tapi tak masalah. Ia akan berjuang sekuat tenaga untuk memimpin timnya yang tersisa menuju kemenangan.

Berjarak beberapa meter di depannya terdapat sebuah perempatan, dan ia tengah menimbang jalur mana yang akan dia pilih ketika sebuah peluru melesat melewati kepalanya. Tanpa pikir panjang ia langsung berhenti diikuti kedua orang di belakangnya.

Iris sewarna madunya membulat horor ketika sebuah siluet muncul dari balik kabut di depannya. Ia bisa merasakan adrenalin dalam tubuhnya makin terpacu, membuat detak konstan di dadanya mulai berdentum makin cepat. Kise nyaris menjatuhkan bola basket di tangannya karena kaget ketika sosok di depannya menyeringai sadis. Dan ketika sosok itu mulai mengangkat senjatanya, hanya ada satu kata yang terbersit di pikiran Kise. "LARI!"

Bak kesetanan, Kise terus men-dribble bola tanpa memedulikan sekitar. Ia tak tahu apa anggota timnya yang lain mengikutinya atau tidak ... yang jelas, ia terus berlari melewati belokan demi belokan. Ia sendiri cukup panik karena situasi ini benar-benar mengingatkannya pada horror thriller murahan yang ia tonton dengan kakak pertamanya—karena dipaksa. Masih segar diingatannya betapa minggu lalu ia datang ke sekolah dengan mata panda—meski telah ia samarkan dengan concealer—karena film itu sempat memberinya mimpi buruk. Dan demi Tuhan! Rasanya ia bisa mendengar teriakan salah satu rekan timnya serta tawa jahat penuh kepuasan di kejauhan. Kise bergidik ngeri.

...

"Kupikir Yuki-onna itu benar-benar bersenang-senang." Aomine berkomentar setelah mendengar teriakan dan tawa feminin di suatu tempat.

Navy blue-nya awas mengamati sekeliling. Ia memang belum melewati inti labirin dan sayangnya—atau untungnya?—yang tersisa dari timnya hanyalah dirinya seorang. Fakta ini membuat perasaannya bercampur-aduk. Di satu sisi tim hunter akan lebih fokus mengejarnya karena tidak ada mangsa lain di timnya yang bisa diburu ... sedang di sisi satunya ia merasa bersyukur, bahwa meski ia menjadi satu-satunya target buruan di timnya, ia tak perlu lagi membatasi kecepatannya untuk mengimbangi yang lain. Memang sedikit disesalkan karena setelah Tetsu menghilang dan dinyatakan gugur, anggota timnya yang lain pun ikut berjatuhan satu demi satu. Yah ... tak mengherankan sih kalau yang memburu kami adalah sang Akai-oni.

Ia tidak tahu apa yang direncanakan Akashi, meski ia sedikit curiga karena sampai sekarang belum ada tanda-tanda kemunculan remaja itu lagi. Tapi Aomine tahu bahwa ia takkan bisa dikalahkan semudah itu. Karena biar bagaimanapun, kontrol kecepatan Aomine yang nyaris sempurna di lapangan basket itu tak bisa dianggap remeh.

Lagi pula ia ingin buru-buru keluar dari labirin berkabut yang membuatnya tak nyaman ini. Apalagi mengingat kini tak ada satu orang pun yang berlari di belakangnya, ia tak ingin membayangkan makhluk apa yang mungkin menunjukkan rupanya secara tiba-tiba. Masih mending berpapasan dengan dua oni itu. Daripada yang muncul malah ... Aomine menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran buruk itu jauh-jauh.

Yang terpenting saat ini adalah menemukan inti labirin supaya ia bisa sampai di garis finish secepatnya.

...

Kise memang telah kehilangan seluruh anggota timnya, dan itu tak hanya berlaku dalam artian 'berpencar—hilang' tapi juga 'hilang' yang bermakna 'gugur'. Ya, beberapa saat—yang cukup lama—memang telah berlalu ketika mimpi buruknya menjadi nyata. Dan sayangnya, nama anggota terakhir timnya baru saja diumumkan oleh Miki Arai. Ia tak tahu berapa banyak anggota yang tersisa di tim Aominecchi. Yang ia tahu, nama pemuda berkulit tan itu belum pernah disebutkan baik oleh Momocchi ataupun Miki.

Sejujurnya ia berharap bisa berpapasan dengan Aominecchi dan bekerja sama, karena ia yakin mereka berdua akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk menang dari tim hunter daripada melakukannya sendiri-sendiri. Lagi pula, ia telah menyadari satu fakta krusial tentang permainan ini yang akan menguntungkan mereka berdua.

Entah sudah berapa tikungan, belokan dan perempatan yang ia lewati semenjak membebaskan diri dari Aiharacchi tadi. Ia juga tidak tahu sudah berapa lama waktu terbuang semenjak permainan ini dimulai. Kabut dry ice ini memang bukan suatu hal yang menguntungkan bagi tim quarry. Benda ini menyamarkan sekeliling dan membuat mereka takkan tahu apa saja yang 'menunggu' di luar sana sampai sang hunter menunjukkan taringnya.

Tanpa ia duga Kise melihat kelebatan berwarna biru tua di kejauhan. Ia pun bisa mendengar suara khas bola beradu dengan lantai dari arah tersebut. Dan jika dugaannya benar, sosok itu adalah orang yang sangat ingin ditemuinya saat ini. Kise mempercepat dribble-nya dan mengikuti bayangan tadi.

Pada akhirnya Kise berhasil menyusul Aomine saat mereka mencapai inti labirin. Tempat itu berbentuk bulat, cukup lapang dengan sebuah air mancur berpatung ikan mas sebagai pusatnya.

"Aominecchi!" Kise memanggil pemuda yang berlari di depannya.

"Kise?" Aomine menghentikan lajunya dan menengok ke arah Kise. Pemuda pirang itu baru berhenti ketika ia telah ada di dekat Aomine.

"Ternyata yang tersisa hanya kita berdua ya?"

"Kalau kau hanya ingin basa-basi, aku duluan." Aomine kembali men-drabble bolanya melewati air mancur.

"Tunggu Aominecchi!" Kise segera berlari menyamai pemuda itu.

Aomine hanya melirik bosan Kise. "Apa maumu?"

Mereka telah melewati inti labirin dan kini kembali diapit oleh dinding tanaman.

"Aku ingin kita bekerja sama," jawabnya tanpa malu-malu.

"Hah?!"

"Jangan buru-buru menolak dulu, Aominecchi!" Kise menyahut panik saat muka Aomine terlihat semakin ogah. "Ini adalah kesempatan terbaik kita untuk memenangkan permainan. Lagi pula, aku sudah menyadari hint yang bisa kita manfaatkan untuk mengalahkan tim hunter."

Aomine menatapnya skeptis. "Tumben kau bisa mikir."

"Hidoi, Aominecchi!" Kise merengek tak terima. "Begini-begini aku pandai mencari celah yang bisa memudahkan kita, tahu!"

"Maksudmu kau itu licik?"

Kise menghentikan rengekannya dan akhirnya mengeluarkan seringaian. "Asal itu bisa membuat kita menang, tak masalah 'kan?"

Melihat perubahan ekspresi tak biasa dari sang small forward, Aomine mulai tergugah rasa penasarannya. Ia memang tak seputus asa itu hingga ingin mencari bantuan, tapi jika ada kemudahan yang ditawarkan padanya dan kelihatannya cukup menarik, untuk apa menolaknya?

"Heh." Ia menyeringai sinis. "Oke, mari kita dengarkan apa rencanamu itu," putusnya setelah terdiam beberapa saat.

...

"Akashi-san aku kehilangan visual target A1."

Yuki bisa merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya ketika laporannya tak jua mendapat balasan. Ia sudah mencari Kise ke segala arah, tapi si pirang itu tetap saja tak kelihatan batang hidungnya. Kalau saja aku tak meleng.

"Tak apa." Yuki menghela napas lega ketika suara Akashi terdengar di telinganya. "Saat ini A1 dan B1 sedang menuju wilayah J4, bergegaslah ke sana."

Area J4 adalah sebuah wilayah yang berada di sisi timur labirin, dan sekitar lima belas blok dari wilayah itu adalah pintu keluar dari labirin ini. Jika tidak mau keduanya mencapai goal terlebih dahulu, ia harus berusaha lebih keras untuk menghentikan keduanya.

"Baik." Ia menjawab melalui mikrofon yang tersemat di kerah bajunya dan segera berlari menuju tempat kedua targetnya berada.

Jika dalam situasi normal mungkin ia akan melupakan letak J4 dan tidak tahu di mana posisinya saat itu, apalagi rute terdekat untuk mencapai tujuannya tadi. Tapi berkat sesi belajar dengan Akashi sebelum sarapan kemarin, yang juga terus berlanjut selepas makan malam ... ia tak yakin akan bisa melupakan semua denah ini dalam waktu dekat. Yuki bergidik ngeri ketika mengingat cara mengajar Akashi yang bisa dibilang amat sangat sparta itu. Meskipun ... ia sedikit penasaran sih bagaimana pemuda itu bisa tahu semua posisi tim quarry dengan tepat. Padahal setahunya, Akashi sama sekali tak memasang alat pelacak pada mereka.

Tapi ya sudahlah ... Anggap saja itu sebagai salah satu misteri dunia yang mungkin takkan pernah terpecahkan.

...

Yuki sudah berada di area yang dimaksud Akashi beberapa saat kemudian. Gadis itu pun berlari-lari kecil sambil mendengarkan dengan saksama suara-suara di sekitarnya. Menunggu kehadiran Kise dan Aomine dengan siaga.

Penantiannya pun tak memakan waktu lama, karena setelah itu mulai terdengar suara keras bola beradu dengan lantai—seperti saat dribble—di balik dinding labirin di kirinya. Suara langkah kaki pun terdengar mengikuti tak lama kemudian. Tanpa buang waktu, gadis itu segera melaju untuk memotong jalan kedua targetnya.

...

Kise merasa cukup senang karena rencananya disetujui oleh Aomine. Ia pikir semua akan berjalan lancar selama mereka bekerja sama. Maka dari itu, ketika Aiharacchi menghadang keduanya, Kise hanya tersenyum dan berkata, "kau duluan saja, Aominecchi. Aku akan mengulur waktu."

Aomine memutar bola matanya bosan, "jangan sok keren," lalu menggangguk sebagai salam perpisahan. "Sampai jumpa di luar labirin, Kise."

Aihara memandang kepergian Aomine dengan tatapan heran. Kelabunya pun memicing curiga ketika melihat Kise masih tersenyum di depannya.

Tanpa pikir panjang lagi ia pun mengejar pemuda pirang itu—yang tentu saja berlari berlawanan arah dengan Aomine tadi.

"B1 lepas dari visual, Akashi-san. Saat ini tengah memburu A1 yang lari ke area J5."

"Selesaikan A1 secepat mungkin."

"Dimengerti." Yuki menutup laporannya. Membidik target yang bergerak apalagi ia pun sedang dalam posisi berlari memang cukup menyusahkan. Setelah mendapat jarak yang cukup pas, ia pun bersiap untuk mengambil kuda-kuda dan membidik sasarannya. Namun, belum sempat Yuki membawa senjatanya pada posisi menembak, senjata itu sudah terlepas—dengan paksa—dari tangan kanannya.

Ia tak menyangka jika sasarannya itu akan melempar bola ke senjatanya sekeras mungkin hingga benda itu hancur berantakan membentur lantai.

Yuki memandang Kise dengan tatapan tak percaya. Ia memang jarang menonton tim basket sekolahnya, tapi ia tak setak acuh itu hingga gagal mengenali salah satu jurus terkenal milik Kuroko Tetsuya. Ia benar-benar tak habis pikir pemuda di hadapannya itu meng -copy salah satu jurus legendaris Kuroko hanya untuk merampas senjatanya!

"Kau sadar 'kan kalau dengan ini kau didiskualifikasi dari pertandingan?"

Kise mengendikkan bahunya. "Tak masalah, toh tujuanku sudah terpenuhi." Ia tersenyum riang.

Aihara menggelengkan kepalanya. Senyum kecil pun terulas di bibirnya. "Tampaknya kau sudah sadar dengan celah dari peraturan di game ini."

"Ya." Kise mengaku.

"Karena Akashicchi menyebutkan hanya ada dua peraturan yang berlaku, itu artinya kita bisa menggunakan segala cara untuk memenangkan pertandingan ini. Dan jika dugaanku benar," iris madunya bersitatap dengan kelabu Yuki, "hal inilah yang membuat Murasakicchi, Kurokocchi dan Midorimacchi gugur dengan sangat cepat 'kan?"

"Begitulah." Yuki membenarkan spekulasi Kise. "Kalau begitu, apa aku boleh minta tolong?"

"Tentu saja, Aiharacchi!"

"Tolong bawa senjata ini bersamamu ya? Kalau kau sudah sampai di menara pengawas, benda itu bisa kauberikan pada Momoi-san."

Kise mengangguk penuh semangat.

"Terima kasih, Kise-san!" Aihara berlari pergi meninggalkan Kise sebelum memegang earpiece di telinganya. Ia pun menoleh ke belakang. "Oh iya, ada pesan dari Akashi-san. Katanya kau harus mengganti senjata yang kau rusakkan, Kise-san! Sampai jumpa!"

"EEEH?!" Teriakan Kise tak dihiraukan Yuki yang telah berlari menjauhinya.

.

.

»»««

.

.

Rencana Kise untuk melucuti gadis itu dari senjatanya memang telah berhasil. Meski, rencana Kise yang berlari ke arah berlawanan untuk mengulur waktu sepertinya tidak bekerja pada gadis itu. Ia tidak tahu bagaimana gadis berkecepatan biasa seperti Aihara bisa mendahuluinya untuk menghadangnya. Tapi kesempatan adalah kesempatan, dan Aomine akan melaksanakan bagian yang telah dipercayakan padanya sebaik mungkin.

Pintu keluar labirin pun hanya berjarak beberapa meter darinya ... dan hanya gadis itu yang menjadi penghalang antara dirinya dengan sepatu basket keluaran terbaru impiannya.

Sebuah seringai terkembang di wajahnya ketika membayangkan Akashi tengah berlari sekuat tenaga untuk sampai ke sini dan menghentikannya. Sudah jelas perbuatannya itu sia-sia belaka.

Aomine men-dribble bola di tangannya dengan santai dan melaju dengan kekuatan penuh menerjang Aihara.

Gadis itu pun telah mempersiapkan diri memasang kuda-kuda. Heh! Mungkin Aihara akan menjegalnya dan membekuknya sampai bantuan datang.

Tapi hal itu hanya akan terjadi di mimpinya!

Sayangnya apa yang terjadi setelahnya adalah kenyataan pahit yang tidak hanya terjadi di mimpi Aihara.

Sedetik Aomine masih berdiri tegak bersiap melewati gadis itu, dan di detik berikutnya ia sudah tertelungkup di tanah dengan tangan yang dicengkram erat ke belakang.

Huh? Apa yang baru saja terjadi?

...

"Aku tidak mau melihatnya." Momoi berkata sambil menutup matanya dengan tangan, meski ia tetap saja mengintip dari celah jari-jarinya.

"Tingkah mereka itu apa tidak terlalu dramatis ya?" Kise—yang akhirnya telah sampai di menara pengawas—ikut berkomentar setelah mengamati adegan showdown Aomine dan Aihara. Mereka berdua mengingatkanku akan film koboi yang digandrungi kakak keduaku.

Kuroko mengamati raut wajah pemuda di sampingnya dengan saksama. "Kau tidak perlu khawatir, Midorima-kun. Dia pasti akan baik-baik saja."

"Aku tidak mengkhawatirkan Aihara," sangkalnya cepat.

"Mido-chin," Murasakibara berkata malas, "Kuro-chin tidak menyebut nama Ai-chin lho," tambahnya setelah membuka bungkus maiubo.

Belum sempat Midorima menegur Murasakibara untuk tidak ikut campur, keduanya sudah dikejutkan oleh teriakan keras Momoi.

"Kyaaa!"

"Momoi-san ada apa?"

Keduanya segera mendekati Momoi seperti yang sudah dilakukan Kuroko. Kise yang memandang jendela yang mengarah ke labirin dengan tatapan tak percaya pun tak luput dari perhatian Midorima.

"Ada apa si—"

Midorima tak bisa melanjutkan pertanyaannya saat memandang ke satu titik di kejauhan.

...

Aihara telah membanting Aomine menggunakan kotegaeshi, salah satu teknik bantingan di Aikido dengan cara memutar pergelangan tangan lawan ke arah luar. Ia memiliki beberapa detik—sebelum Aomine bangkit dan membalikkan keadaan dengan tenaganya—yang ia manfaatkan untuk melakukan kuncian secara duduk. Dan tanpa pikir panjang lagi, ia keluarkan senjata lain dari balik pinggangnya untuk menodong leher belakang Aomine. Ya, gadis itu memang telah menyiapkan pisau mainan—yang telah diberi warna pada bilahnya—sebagai senjata cadangan untuk situasi darurat.

Tersadar dari syoknya, Aomine menelan udara dan melirik tak percaya pada gadis di sisi kanannya.

"Check mate, Aomine-san."

Aomine memang tak bisa melihat ekspresi Aihara dengan jelas, namun ia bisa merasakan seringaian dalam perkataan gadis itu.

Aihara pun menghabisi Aomine dengan torehan biru di lehernya.

...

Semua anggota tim basket kini telah berkumpul di dekat pintu masuk labirin, tempat di mana Akashi sebelumnya memberi penjelasan tentang survival game ini. Dan karena satu-satunya tim quarry yang tersisa berhasil ditaklukkan, pemenang dari game ini sudah jelas adalah tim hunter.

Akashi memandangi para remaja yang tertunduk lesu di depannya dengan tatapan puas.

"Sayang sekali Aomine tidak bisa sampai di garis finish padahal tinggal beberapa langkah lagi."

Sayang apanya?! Ini semua termasuk dalam rencanamu 'kan?! Dari awal memang tak ada kesempatan menang untuk tim quarry!

Kise tersenyum skeptis.

"Aku tidak menyangka kau bisa menghentikan Aominecchi, Aiharacchi." Iris madunya mengarah pada gadis yang berdiri agak jauh dari kerumunan.

"Kalau dalam basket tentu aku takkan bisa mengalahkannya," Yuki mengedikkan bahu. "Tapi kalau di game bebas seperti ini, aku bisa mempraktekkan teknik Aikido yang kupelajari untuk melumpuhkannya." Ia pun tersenyum sadis pada Aomine.

"Dengan kata lain kau tidak pernah berniat mengulur waktu sampai Akashi datang. Kau memang berniat untuk menghentikanku!" tuduh Aomine.

"Ya, itu memang sudah direncanakan dari awal." Yuki mengaku.

"Aku memang sengaja memerintahkan Aihara untuk menyisakan kau dan Kise untuk babak akhir, karena aku tahu Kise akan menyadari celah peraturan yang kujelaskan," tambah Akashi.

"Jadi kau memang sengaja menyingkirkan kami terlebih dahulu, Akashi-kun."

"Tepat sekali." Ruby-nya kini mengarah pada Kuroko. "Kau dan teknik operanmu akan sangat berbahaya pada tahap akhir. Murasakibara juga takkan bisa ditumbangkan semudah itu jika berada di posisi Aomine."

"Dan Mido-chin?"

Akashi melirik remaja tinggi bersurai ungu itu sebelum memandang pemuda yang dibicarakan. "Tentunya teknik menembak jarak jauhnya akan membuat kalian menang—dengan mudah—jika ring basket sudah ada dalam jangkauan tembakannya."

"Ternyata dari awal kami memang tak punya kesempatan untuk menang, huh?" Seringai Akashi dan senyum puas Aihara menjadi jawaban tak langsung dari pertanyaan Midorima.


To be Continue


Author's Note:

Hallooo~ Saya kembali dengan 8k+ untuk chapter terbaru~ *dilempar sampah karena ngilang lama*

Sebelumnya maaf banget karena alasanku pun kayak lagu lama (sibuk kuliah&nyari kerja, acara nikahan kakak sampai—uhuk—OTP 4 tahun yang karam dengan nistanya).

Tapi setelah kelar UAS dan lagi libur semester, nggak tahu kenapa mood ngetik dapet lagi hingga akhirnya tiga-empat harian ini aku ngebut ngetik sampai jam dua pagi.

Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan pada reader yang masih setia dan masih mau membaca fic ini, termasuk yang sudah follow dan fave. Semoga chapter baru yang minim romens ini bisa sedikit memuaskan dahaga kalian! /halah/

Dan pastinya, terima kasih banyak—pake banget—buat Kuroshi Len, KurosakI2241, Silent Reader, Phantom Klein, Usagi Mugi-desu, Yuiko Narahashi, Vryheid, Tanaka-kun, Yuka Akimura, dan silentreader yang sudah mereview fic ini. Thanks a lot guys! *peluk satu-satu*

Di bawah ini adalah balasan review non-login, bagi yang memakai akun, balasan review akan dikirim lewat PM! :"D

KurosakI2241: Terima kasih sudah membaca dan review! Maaf banget harapanmu yang terakhir g terjadi dan aku malah hiatus agak lama. #plak Semoga chapter ini cukup panjang buatmu ya? Dan maaf juga scene AkaAi juga masih sedikit, maklum belum saatnya full romens. :"))

Silent Reader: Namanya juga Emperor Merah, kalau nggak bisa manfaatin suasana ya bukan dia. *slaps* Ini sudah lanjut, terima kasih atas review-nya ya? :"))

Phantom Klein: Holla~ Maaf banget ya, untuk sekarang MidoAi-nya masih harus samar-samar, mereka malu sih kalau diumbar mulu. *plak* Ini sudah dilanjut, terima kasih atas review-nya! :"))

Vryheid: Salam kenal juga Vryheid-san! Maaf ya kalau chapter-chapter sebelumnya kurang panjang, maklum, imajinasi author-nya kadang suka ilang sih. :"D Siapa ya kira-kira yang bermonolog di awal-awal? Author-nya juga ikutan kepo nih. Mungkin suatu saat nanti mas atau mbaknya bakal memperkenalkan diri. :"3 Dan untuk yang bilang "menarik" di chapter 1 memang si Bang Aka. Soal Nijimura, kemungkinan bakal muncul di chapter depan atau mungkin dua-tiga chapter lagi ... atau mungkin tidak muncul sama sekali? Mas Niji-nya susah dipanggil buat syuting sih, jadi belum muncul-muncul deh. Ho ho ho ... muncul lagi deh satu penyuka AkaAi. Terima kasih atas review-nya ya? :"))

Tanaka-kun: Nggak papa kok, makasih banyak sudah membaca cerita ini ya Tanaka-kun! Ceritanya sudah dilanjut, dan sayangnya belum ada scene berarti untuk AkaAi. Terima kasih sudah me-review! :"))

Yuka Akimura: Hahaha ... bagian sedihnya memang belum muncul kok, nanti kalau kukeluarin semua bakal sedikit scene hepi-hepinya, jadi untuk sekarang mau fokus ke yang senang-senang dulu. Kapan Yuki jadian sama Akashi? Jawabannya akan ada di ending. Dan apakah endingnya bakalan sad? Sayangnya untuk dua pair utama memang ada satu yang mau nggak mau harus dikorbankan. Terima kasih atas semangat dan review-nya! :"))

silentreader: Sudah dilanjut! Terima kasih atas review-nya ya! :"))

Sampai jumpa di chapter berikutnya, minna!

Sign,

A. Airys


Catatan Kecil:

1. Sekitar empat puluh enam juta tujuh ratus ribu rupiah.

2. Maebashi Koen atau Taman Maebashi adalah sebuah taman tertua di wilayah Gunma yang terletak di dekat Gunung Akagi. Atraksi terkenal di taman ini adalah kolam yang menyerupai bentuk geografi wilayah Gunma dan bunga sakura yang di tanam di area sebelumnya Kastil Maebashi berada.

3. Senjata mainan yang menyerupai pistol atau revolver yang juga berukuran hampir sama dengan aslinya. Senjata ini biasa digunakan dalam permainan airsoft (olahraga yang mensimulasikan kegiatan militer).

4. Singkatan dari Ball Bearing, yaitu peluru bulat berbahan plastik yang berdiameter 6 mm dengan berat bervariasi. Aslinya, peluru ini tidak meninggalkan bekas biru seperti dalam cerita. Tapi untuk kepentingan plot, anggap saja Akashi memesan peluru khusus yang bisa meninggalkan bekas biru pada target (sebagai pencegah anggota yang tertembak untuk berbuat curang).

5. Sekitar dua juta tiga ratus tiga puluh ribu rupiah.