Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre: Family, Drama, Hurt/comfort, Slice of Life, Romance
Pairing: Naruto & Hinata
Warning: Typo(s), Banyak kesalahan, Penuh kekurangan, Kamu bisa memilih untuk 'kembali' dari pada harus terjerumus pada lubang bernama kisah ini.
Liekichi-chan
Proudly Presents
*つないだ手*
"Kenapa kau bisa sampai salah mengatur jadwal?"
"Maafkan saya pak. Saya tidak mengecek email beberapa hari terakhir. Saya tidak tahu informasi kalau pertemuan diundur untuk seminggu kedepan. Tolong Maafkan saya."
"Benar-benar membuang waktu. Harusnya kau tahu kalau pertemuan itu sangat penting untuk perusahaan! Berhenti memberikan alasan klasik dengan kelalaianmu yang tidak mengecek email! Aku tidak ingin kalau sampai kesalahan seperti ini sampai terulang lagi!" Tubuh tegapnya ia jatuhkan pada kursi kerja. Padahal ia sudah mempersiapkan segala keperluan untuk hari ini, bahkan sampai harus memaksakan diri datang ke kantor padahal kondisinya sedang tidak stabil.
"Tolong maafkan saya pak." Seseorang dihadapannya menunduk dalam, menyesali kinerjanya yang tidak baik.
"Tidak ada kata maaf untuk kedua kalinya. Ini kesalahan pertama dan pastikan juga menjadi yang terakhir." Pijatan kecil pria itu arahkan pada dahinya. Matanya terpejam untuk beberapa saat.
"Iya pak. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."
"Lalu, apa lagi yang perlu kau laporkan?"
"Mengenai penandatanganan untuk persetujuan kontrak dan berkas revisi inventarisasi kelengkapan kantor dari masing-masing sektor harus selesai hari ini juga pak."
"Aku sudah selesaikan semuanya."
"Baik pak."
"Ada lagi?"
"Saya rasa itu saja."
"Kalau begitu kau boleh pergi. Dan tolong beritahu pegawai untuk membawakan tiga gelas kopi untukku."
*つないだ手*
Hanabi memperhatikan gerakan lambat kakaknya yang tengah mengoleskan mentega diatas roti tawar. Tangannya boleh bekerja, tapi tatapannya terlihat sangat kosong.
"Kak?"
Yang dipanggil sama sekali tak menoleh. Kali ini ia mengambil butiran coklat lalu menaburkannya dengan agak berantakan diatas roti miliknya.
"Kak, apa kau baik-baik saja?" Sentuhan lembut pada lengannya membuat wanita itu kembali tersadar. Sedikit terkejut, ia sampai menjatuhkan sebuah sendok dari atas meja.
"A-Ah, maafkan aku Hanabi. Ada apa tadi?" Gerakannya kikuk dan tak jelas. Senyum yang mengembang diwajahnya justru membuat ia terlihat menyedihkan. Hanabi hanya bisa memberi tatapan lemah.
"Apa kakak baik-baik saja?" Tanyanya hati-hati sambil mengelus pelan punggung tangan Hinata.
"Yah, aku baik saja."
Bohong!
Hanabi tahu bahwa kakaknya sedang berbohong dan dia yang terburuk kalau sudah melakukan hal tersebut. Diam menjadi pilihan gadis itu ketika mendapat jawaban sang kakak. Dia harus merangkai kata-kata untuk berbicara dengan normal setidaknya apapun yang yang akan keluar dari mulutnya nanti tidak akan menyakitkan hati.
Masih mengunyah roti dalam mulutnya secara perlahan dan lantas mengambil segelas teh untuk ia teguk, dokter cantik itu kembali angkat suara.
"Kemarin aku bertemu dengan Naruto." Bukanya pelan dan santai. Ia sadar ada perubahan pada mimik wajah Hinata ketika nama itu terucap.
"Dia membawa beberapa kantung plastik saat keluar dari apotek. Tanpa perlu aku jelaskan, kakak pasti sudah tahu apa saja yang mungkin bisa dibeli seseorang saat di apotek." Hanabi melirik sesaat lalu mulai mengambil selembar tissue untuk membersihkan sudut bibirnya.
"Hahaha aku ini memang adik yang kurang ajar ya. Sesuka hati memanggil kakak iparku dengan nama depannya begitu tanpa ada embel-embel apapun. Maaf ya kak."
Hinata hanya diam. Tidak ingin candaan, karena jauh dilubuk hatinya ia ingin tahu kabar mengenai suaminya.
"Seperti biasa, Naruto tetap tampan dan berkharisma. Hanya saja dia terlihat lebih kurus dan…"
"Dan?"
"Kelelahan." Setelah sekian lama diam akhirnya Hinata mengeluarkan suara.
"Kelelahan itu bisa membuat seseorang terus berfikir negatif, putus asa, mood menjadi kacau, emosi tidak terkendali, dan merupakan cikal bakal untuk bisa dihinggapi oleh penyakit. Cobalah untuk berbicara dengan kepala dingin." Seraya melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam dinding, gadis itu berdiri dari kursi yang sempat ia duduki.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya atau tidak. Hatiku masih terasa sangat sakit tiap kali mengingatnya. Tapi disatu sisi aku sangat khawatir. Kau tidak akan menger-"
"Aku mengerti! Aku juga ingin membunuhnya! Aku adikmu dan aku tahu. Aku menangis saat melihatmu penuh darah waktu itu. Mungkin itu adalah titik dimana kakak menjadi sangat membencinya." Hanabi mencoba mengontrol perasaannya kembali. Dia bukan bocah kecil lagi dan harusnya Hinata sadar akan hal itu.
Dia cukup mengerti dengan gemuruh hati yang Hinata rasakan terlebih dengan rasa rindu yang juga harus diredam mati-matian.
"Jika aku ada diposisi kakak, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Sangat wajar jika kakak ingin hidup sebagai single parent setelah apa yang terjadi sejauh ini." Hinata menatap lekat pada wajah adiknya. Benar, itu adalah sesuatu yang selalu berkecamuk di dalam kepalanya.
"Tapi tolong, lihatlah Bolt dan Himawari. Mereka bisa trauma kalau hal yang tidak diinginkan sampai terjadi. Satu hal buruk nantinya akan diikuti oleh hal buruk lainnya. Kakak pasti tahu apa maksudku."
Hinata menggigit bibirnya sendiri.
"Ibu pernah bilang padaku, mempertahankan sebuah ikatan memang sangat sulit. Bahkan dia bercerita kalau dulu hubungannya dengan ayah pernah nyaris berakhir juga. Tapi yang menjadikannya kuat adalah kita. Aku dan kakak. Aku selalu ingat nasihat yang diberikan ibu 'Jangan kalah dengan masalah. Pasti akan selalu ada jalan keluar. Yang terpenting, hadapi – lalu jadilah semakin kuat seiring dengan penyelesaiannya."
"Kenapa kau bisa mendapat nasihat dari ibu sementara aku tidak?"
"Itu karena aku cerewet ingin tahu tentang kisah ayah dan Ibu dulu. Dan lihatlah hasil dari keteguhan mereka, kita bisa merasakan kasih sayang keduanya hingga akhir. Mereka akan selalu ada dalam hati kita walau sudah tidak bisa menemani kita hingga detik ini, benar kan kak?" Gadis itu memberikan tatapan yang sangat tulus untuk kakaknya.
"Ya."
"Itulah yang aku maksud. Jika Ayah dan Ibu saja bisa bertahan dan tidak meninggalkan kenangan pahit untuk kita, lalu mengapa kau harus memberikan trauma untuk anakmu? Jadikan Bolt dan Himawari sebagai kekuatanmu. Lalu bentuklah ikatan yang lebih kuat dari sebelumnya."
Hinata terpukau. Hanabi membuat hatinya menghangat ketika mengingat semua kenangan bersama kedua orang tuanya saat mereka masih kecil dulu. Ada ayah dan ibu yang selalu menemani.
Lengkap.
"Temuilah dia kak. Tapi, seandainya kakak tidak ingin bertemu dengannya, setidaknya berikan dia akses untuk melihat Bolt dan Himawari. Dan perlahan, berikan dia kesempatan untuk berbicara. Kakak masih belum mendengar penjelasan darinya. Terkadang apa yang kita lihat belum tentu sama dengan kebenarannya."
*つないだ手*
Himawari membuka bekal miliknya dan hanya memandangi makanan tersebut tanpa rasa selera. Walau Ibu selalu mengingatkan agar makan teratur, tapi penyakit malas makannya kerap kali datang.
"Kenapa diam saja? Ayo makan bekalnya." Bolt memandang sadis wajah sang adik.
Yang disuruh justru menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan.
"Jangan manja begitu, Hima. Kalau kau sakit Ayah dan Ibu yang akan repot."
Gadis kecil itu masih belum boleh terlalu lelah. Jadi selama ruang gerak adiknya terbatas, Bolt harus selalu berada disampingnya. Saat jam istirahat makan siang, dia harus datang ke kelas sang adik untuk makan bersama dan memastikan kalau adiknya baik-baik saja.
"Apa kakak membenci Hima?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Bolt menelan nasi dalam mulutnya dengan agak terpaksa. Memang, sejak Himawari lahir, perhatian kedua orangtuanya menjadi sedikit terbagi. Sebagai seorang kakak dia juga harus lebih banyak mengalah dan bersabar. Tapi tidak pernah terbesit sedikitpun untuk membenci adiknya.
"Untuk apa aku membencimu?"
"Soalnya Ayah dan Ibu jadi lebih sering memperhatikan Hima. Dan juga, kakak harus menjaga Hima disekolah sampai Hima sembuh total. Jadi tidak bisa bermain sepak bola seperti mereka." Ia menggunakan bibir mungil yang dikerucutkan untuk menunjukkan sekumpulan teman kakaknya yang sedang asyik bermain diluar jendela.
"Makanya kalau tidak ingin aku membencimu, habiskan bekalnya. Supaya Hima cepat sehat dan kakakmu ini bisa bermain seperti mereka."
"Ah, curang! Mana boleh mengancam begitu."
"Ini bukan ancaman, tapi perintah! Ayo cepat habiskan bekalnya. Kalau tidak, akan kakak beritahu Ibu nanti."
"Baiklah, tapi suapi ya~"
"Tidak mau! Makan saja sendiri!"
"Kakaaak~ suapi."
Tangan kecilya menarik- narik lengan baju sang kakak sambil terus merengek manja. Suara berisik Himawari harus membuat Bolt lagi-lagi mengalah.
"Mau sampai kapan kau manja begini?"
"Selamanya. Hima akan terus manja dengan Ayah, Ibu, dan kakak."
Bolt mengambil karage dengan saus manis lalu mengarahkan makanan tersebut kearah Himawari. Tangan kirinya ia lekukkan seperti sedang menampung agar makanan itu tidak terjatuh.
"Baiklah, ayo buka mulutmu…"
"Aaa~"
*つないだ手*
Naruto menginjak pedal gas mobil sekuat yang ia bisa dan beberapa kali menerobos lampu merah serta menyalip mobil-mobil didepannya. Klakson ia tekan sekeras mungkin dan itu sukses membuat suasana bising diiringi dengan cacimaki pengendara lain. Pria itu begitu beringas ketika membanting setir mobil.
Kepalanya masih terlalu nyeri untuk bisa berpikir jernih. Belum lagi dengan masalah kantor dan masalah rumah tangganya – itu lebih dari cukup untuk membuatnya menjadi orang gila seperti sekarang.
"SIAL!" Makinya dengan nafas yang memburu.
Tiiit
Tiiit
Klakson mobilnya kembali menjadi pelampiasan.
"Minggir, bodoh! Jangan halangi jalanku!"
"Kau yang bodoh! Jangan sesuka hatimu saja!"
"Minggir kataku!"
"Kau kira jalan ini milik nenek moyangmu?"
"Diam kau!" Entah setan apa yang merasuki dirinya.
Mobilnya kembali melaju kencang. Pria itu berdebar tak karuan saking sulitnya mengontrol amarahnya. Bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi dia juga sedang membahayakan nyawa orang lain.
Tiiit
Naruto mengambil jalan memotong untuk bisa sampai pada tempat tujuannya. Berbelok ke kanan dan terus lurus kedepan dengan kecepatan yang tak terkendali. Mobil itu sampai nyaris terbang karena kecepatan menggila yang dibuat oleh pengendara didalamnya. Dan ketika tempat itu sudah terjangkau olehnya, ia menginjak rem dengan tajam hingga tubuhnya terpental hebat.
Sabuk pengaman ia buka kasar, kemudian turun dari mobil dan membanting pintu sekuat tenaga. Langkah lebarnya memasuki rumah besar tersebut tanpa izin sedikitpun.
"HINATA!" Teriaknya lantang. Tangannya terkepal sangat erat, tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi setelah ini.
"HINATA! DIMANA KAU?" Dia berubah menjadi sangat kalut ketika tidak menemukan sosok yang tengah dicarinya. Satu persatu ruangan ia jelajahi dengan tidak sopannya sambil terus meneriaki nama sang istri.
Matanya bergerak liar mencari siluet wanita itu. Dia tahu kalau Hinata pasti ada dirumah saat ini.
"HINATA!'
"Apa yang kau lakukan?" Sebuah suara mengintimidasi dirinya dari belakang. Naruto membalikkan tubuhnya dan mendekat dengan tergesa.
"PULANG BERSAMAKU SEKARANG JUGA!" Emosinya tidak terkendali. Dia menarik pergelangan tangan Hinata secara paksa. Setidaknya satu-satu hal yang terdoktrin dikepalanya adalah membawa Hinata kembali secepat mungkin.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku! Sangat sakit. Hey!"
"Kau harus pulang sekarang juga." Ucapnya penuh dengan penekanan. Untuk kali pertama dirinya harus melihat Naruto menjadi sekeras kepala ini.
"Aku tidak mau."
"Dan aku tidak peduli kau mau atau tidak!"
"Kau tidak berhak memperlakukanku seperti ini! Aku bukan bocah kecil, Naruto-kun!"
"Bukan disini rumahmu! Kau hidup bersamaku dan ini bukanlah rumah yang aku tinggali! Pulang sekarang juga!"
"Jangan memaksaku. Kau sudah berlaku tidak sopan dengan masuk kerumah orang lain tanpa izin lalu menarikku seperti ini. Kau bertingkah seperti orang yang tidak punya harga diri." Balasnya sengit.
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Hinata sukses membuat Naruto menghentikan tindakannya. Nyeri dikepalanya masih belum hilang, dan sekarang harus bertambah nyeri yang berasal dari dadanya. Melepaskan genggamannya pada tangan sang istri, kemudian ia tatapi Hinata dengan begitu sedih.
Naruto bahkan tidak mengerti bagaimana harus mendeskripsikan perasaannya sendiri. Dia terlalu kalut dan tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Sudah berbulan-bulan mereka menjalani hari seperti orang yang tidak kenal satu sama lain padahal keduanya masih berstatus sebagai suami istri.
"Iya, kau benar. Aku tidak punya harga diri dan tidak tahu malu. Aku pengemis, posesif, protektif, dan sudah kehilangan akal sehat. Untuk apa aku harus mendewakan status diri dan keegoisanku kalau pada akhirnya aku kehilangan keluargaku? Tidak ada artinya sama sekali! Kau pikir apalagi yang ingin aku dapatkan? Aku sudah dapatkan semuanya. Istri, anak, pekerjaan, rumah, semuanya~ aku sudah ada semuanya. Kalian adalah harga diriku, hidupku dan masa depanku. Aku pertaruhkan semuanya untukmu dan untuk anak anak."
Hinata bungkam seribu bahasa mendengar penuturan suaminya. Apa yang diucapkan oleh Naruto adalah benar. Pria itu mengeluarkan emosinya dengan sangat jelas.
"Jangan berpikir kalau aku tidak berjuang dan tidak mencoba mempertahankan ini. Aku melakukannya, Uzumaki Hinata. Bahkan nyawaku pun akan kurelakan demi keluarga ini."
Ada cairan hangat yang mengaliri pipinya. Selalu saja berakhir dengan airmata setiap kali berhadapan dengan Naruto. Hinata tidak mengerti kenapa tiba tiba suaminya datang dan menjadi sangat tidak terkendali.
Wanita itu memilih diam. Tidak ingin melawan api dengan api.
"SEKARANG TOLONG KATAKAN DENGAN JELAS! KAU INGIN KITA BAGAIMANA?" Naruto berteriak keras. Amarahnya bekerja lebih cepat dari pada akal sehatnya.
Badan Hinata gemetaran hebat – tidak berani menatap Naruto yang sekarang. Menundukkan wajah pun tidak ada artinya, karena setiap kalimat yang terlontar dari bibir suaminya cukup untuk membuat tubuh gemetar itu terkejut berkali kali. Bahu kecil miliknya begitu ketakutan, terbukti dengan bahasa tubuh yang tercipta disana.
"INGIN BERPISAH?" Tangan besarnya mencengkram dan mengguncang tubuh sang istri terus menerus. Ia menjadi tuli dengan rintihan rasa sakit yang Hinata isyaratkan.
"MANA? BERIKAN BERKASNYA PADAKU! AKU AKAN TANDA TANGANI SEMUANYA! SEMUA YANG KAU INGINKAN AKAN AKU PENUHI!" Pria itu kehilangan kendali. Ini sudah melewati batas maksimum dari seluruh rasa lelah yang ia miliki.
"Sudah cukup!"
"TAPI JANGAN MENANGISIKU JIKA SETELAHNYA AKU MENJADI BANGKAI!"
"Sudah!"
"APA AKU TERLIHAT BEGITU MAIN-MAIN DENGAN SEMUA IKATAN INI?"
"HENTIKAN, KAU MENYAKITIKU NARUTO-KUN!"
"APA LAGI YANG HARUS AKU LAKUKAN, HAH?"
"S-sakit."
"APA SEMUA HUKUMAN YANG KAU BERIKAN MASIH BELUM CUKUP?" Matanya menyalak tajam. Hinata merasa bahwa Naruto akan meremukkan tulang tulangnya jika ia tidak segera dihentikan.
"S-sakit sekaliii. Ini bukan kau, sudah hentikan."
Dasi yang terombang ambing didepan dada bidang suaminya lantas ia tarik paksa dengan kekuatan yang masih tersisa. Semuanya terasa sangat cepat sebelum ia menyadari bahwa dirinya kini memeluk Naruto begitu erat dan menggigit lengan atas pria itu.
Hinata ketakutan parah dan bodohnya hanya dengan cara itu ia berharap Naruto bisa menyadari perbuatannya yang sudah diluar kendali.
Detik berikutnya pria itu bungkam, melemah dan tak tahu harus berbuat apa. Hinata menggigit lengan atasnya dengan sangat kuat sampai ia gemetaran sempurna. Terasa nyeri disana, tapi terselip kehangatan lain yang sudah sangat ia rindukan. Sebelah tangan Hinata melingkari pinggang miliknya sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menahan agar lengan atas Naruto bisa tetap berada pada sanggahan gigitannya.
Nafas keduanya memburu hebat.
Wanita itu bersyukur karena masih bisa menenangkan suaminya walau dengan cara yang sedikit kasar dan kekanakan seperti sekarang. Merasa cukup, gigitan tersebut dilepasnya dengan perlahan dan yakin pasti akan menjadi berwarna kebiruan disana.
Suasana bising yang terjadi beberapa waktu lalu kini menyisakan kesunyian. Naruto menjatuhkan sebelah lengan yang sudah menjadi pelampiasan penenang amarahnya tepat disamping tubuh miliknya. Lepas kendali mengindikasikannya telah berada pada titik frustasi. Dan yah, dia memang hampir gila. Kewarasannya tertelan sesuatu yang bahkan sangat ia benci.
Matanya menutup rapat. Mencoba rileks dengan menarik nafas sedalam mungkin lalu membuangnya dengan perlahan. Hinata tetap bertahan pada posisi awalnya. Sebelah lengan yang melingkari pinggang sang suami juga masih bertengger lemah disana.
Keduanya masih bungkam – mencoba menata perasaan masing masing.
*つないだ手*
Dada bidang Naruto adalah benteng untuk dirinya dan Hinata sadar benar dengan hal itu. Mencari cari kesalahan siapa dan apa bentuk kesalahannya juga tidak akan berguna, karena pada kenyataannya mereka masih saling menyayangi dan saling membutuhkan. Menjadikan amarah sesaat sebagai keputusan final hanya akan berujung pada penyesalan.
Egois, merasa paling benar dan membenci seseorang hanya karena sebuah kesalahan adalah sisi manusiawi setiap orang. Hanya tinggal mengetuk hati dan menghandle perasaan itu saja, lalu lihatlah realita, ingatlah kebaikannya, dan jangan terfokus pada setitik noda kecil diatas kertas putih mengkilap.
Wanita itu melepaskan pelukannya seraya mundur satu langkah. Belum puas, ia kembali mengambil langkah mundur, dua dan tiga langkah ia sisakan jarak diantara mereka. Keduanya sudah lebih tenang dari sebelumnya, hanya saja tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak akan ada kemajuan jika mereka tetap bungkam.
"Pernah terbesit untuk berpisah. Bahkan aku sudah mengambil formnya. Tapi aku mengubah pikiran itu mengingat ada begitu banyak orang yang ingin agar kita tetap bersama." Hinata yang pertama kali memecah kesunyian. Tidak dengan adu urat – sama seperti Naruto, dia juga lelah. Berbicara dengan perlahan mungkin cukup.
"Tapi hari ini yang aku hadapi justru suamiku yang datang, lalu bertanya tentang apa yang kuinginkan. Dan fatalnya, perpisahan." Sebisa mungkin mengontrol suaranya yang terasa berat dan tersendat. Helaan nafasnya terdengar sangat jelas.
Naruto masih mematung.
"Sudah sembilan tahun dan kita baik baik saja sebelum ini. Setiap hari selalu dilalui dengan kata terimakasih dan maaf. Aku bisa merasakan ketulusan suamiku. Naruto-kun ku yang lembut dan rela bekerja keras untuk kami. Aku mencintainya dengan sangat."
Wajah Bolt dan Himawari terlintas jelas dimata wanita itu. Bagaikan ada batu besar yang menyumpal baru-parunya hingga bernafas pun terasa sangat susah.
"Dia tidak pernah berkata kasar padaku. Bahkan ketika aku yang salah sekalipun, dia akan tetap menjadi orang pertama yang mengajukan diri lalu meminta maaf." Usapan lemah ia arahkan pada cincin pernikahan yang masih bertengger pada jari manis miliknya.
"Kita sudah melewati masa sulit bersama-sama. Saat aku sakit, kau harus bekerja ekstra antara menjalankan tanggung jawab untuk bekerja dan untuk mengurusiku. Saat aku berubah sangat manja, kau bahkan dengan sabar menjadi badut untuk semua keinginanku. Saat aku kesal kau akan melakukan hal konyol yang bisa membuatku kembali tersenyum, dan saat aku sedih kau selalu ada disampingku dan menjadi tempatku untuk bersandar. Mungkin bisa dibilang, disini aku adalah yang paling membutuhkanmu."
Hinata membiarkan airmatanya mengalir.
"Aku tidak pernah menyangka hanya karena ulah satu orang saja, kita bisa menjadi seporak poranda ini. Yang lebih parahnya aku melarikan diri, melupakan semua kebaikan begitu juga dengan kasih sayangmu. Aku lebih memilih percaya kepada orang lain daripada suamiku sendiri. Tapi aku bisa apa? Aku juga melihatnya didepan mataku. Coba jelaskan apa yang harus aku lakukan dengan perang batin ini?"
Suaranya semakin terdengar lemah. Ingin penjelasan, tapi tidak menuntut banyak. Pasrah lebih tepatnya.
"Hanya karena satu kesalahan aku terus-terusan memojokkanmu. Yang membuatku kecewa adalah, kenapa aku harus mendengar cerita yang tidak aku ketahui tentang suamiku justru dari mulut orang lain? Apa yang terjadi dengan kita? Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Matanya menatap lurus pada Naruto yang masih menunduk. Setiap kalimat yang terlontar adalah isi hatinya yang ingin berdamai.
"Semua kejutan yang datang beberapa waktu terakhir seperti kepingan puzzle untukku, Naruto-kun. Aku tidak bisa menyelesaikannya karena potongan terakhir dan kunci seluruh kebenaran ada pada dirimu."
"Ya, aku memang membiarkannya memeluk dan menciumku. Apa yang kau lihat adalah benar, Hinata." Ucapan yang lebih terdengar bagai bisikan itu mampu membuat rasa nyeri didadanya datang kembali.
Lagi, hanya aliran air dipipi yang bisa mewakili apa yang tengah ia rasakan. Hinata membekap bibirnya sendiri. Sekuat apapun mental yang sudah dirinya bangun, pada akhirnya tetap kalah dengan sisi lemahnya.
"Aku juga pernah sangat mencintainya."
Jari kakinya ia lekukkan begitu kuat. Matanya terpejam rapat.
Cemburu.
"Dan soal taruhan itu juga benar. Aku memang pernah menerima taruhan dari Sasuke untuk menebus kekalahanku. Hubungan kilat dua bulan waktu itu adalah atas dasar taruhan. Maaf karena aku tidak pernah memberitahumu."
Semua pengakuan sang suami mengiris hatinya tanpa ampun. Rasanya benar-benar tidak sanggup untuk berdiri lebih lama karena kakinya yang kian melemah. Entah ekspresi macam apa yang terbentuk diwajah cantiknya pun, dia sudah tidak peduli lagi. Cemburu, sakit hati, semua perasaan menumpuk lalu bersama-sama ingin menjatuhkannya.
"Kalau aku boleh jujur, hari pertama saat bersamamu adalah tekanan berat untukku. Aku harus berpura-pura mencintaimu, sementara hatiku terus menjerit ingin berada disamping Shion. Tidak peduli bagaimana aku menolak semua kebaikanmu, bahkan berkali-kali membohongimu dengan perasaan ini, kau tetap menjadi orang yang sangat baik."
Hinata mengambil jarak lagi dari Naruto. Ingin mendengar, tapi takut hatinya tak kuat. Dia sudah remuk berkali-kali dan jika harus ditampar dengan rasa sakit lagi, dia akan jatuh sampai kedasarnya.
"Kau tidak pernah menuntut apapun, tidak penah menyusahkanku, dan tidak pernah membuatku sakit hati. Kau ada dengan semua ketulusan dan sifat lemah lembutmu. Tanpa aku sadari aku jatuh cinta dan perasaan itu tumbuh semakin cepat. Aku ingin menjadi pelindungmu, aku ingin disampingmu, ingin bersama denganmu terus. Semua tentang Shion lenyap dan kau menggantikannya dengan segera. Aku menyembunyikan kebenaran karena terlalu takut kehilanganmu."
Matanya kembali terpejam bersamaan dengan aliran air yang kembali turun. Bibirnya menggumamkan sesuatu seperti mantra untuk berdamai dengan Hatinya. Hinata masih mendengar semua penuturan Naruto walau seluruh tubuhnya menolak untuk bertahan.
"Itu artinya kau tidak pernah mencintaiku. Kau hanya terbiasa dengan kebaikanku."
"Aku mencintaimu."
"Kau terpaksa melanjutkan hubungan ini karena sudah terlanjur de-"
"Aku mencintaimu." Potongnya sengit. Tidak ada keraguan pada kalimat dan tatapannya.
"Aku pernah sangat bahagia menjalani hari-hariku dengan Shion, tapi tidak bisa menandingi kebahagiaanku saat bersamamu."
"Kau masih mencintainya kan?"
"Aku rasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu." Biru lautnya menatap lekat wajah sang istri.
"-tolong jangan menangis. Maafkan aku karena membiarkannya masuk diantara kita."
Ingin sekali rasanya memeluk istrinya.
"Dia datang dengan ancaman untuk menghancurkan keluarga kita. Masalah taruhan itu sudah selesai sejak lama. Aku juga tidak mengerti apa yang membuatnya datang lagi. Kalau pada akhirnya dia tetap menemuimu dan menghasut dengan semua ucapannya, lebih baik aku yang memberitahumu tentang segalanya. Tapi aku begitu pengecut dan tubuhku gemetar hebat saat dia mengancam akan memberitahumu. Jadi aku hanya membiarkan semua itu terjadi dengan tololnya. Ada begitu banyak hal yang harus aku pertimbangkan."
"Dan kau mendapat kentungan dari pelukan dan ciumannya?"
Naruto melangkah maju. Menarik tangan Hinata lalu ia letakkan diatas perut miliknya.
"Semua yang dia lakukan tidak ada artinya untukku. Bekas ini adalah bukti kalau aku selalu mencintaimu. Ini adalah luka yang kudapat ketika dengan tegas aku mendeklarasikan untuk memilih Hyuuga Hinata. Tiga anak panah tertancap disini, perdarahan hebat, muntah darah, dan kalau bukan karena Kiba yang membawaku kerumah sakit mungkin aku sudah mati."
Hinata membelalakkan matanya. Selama ini setiap kali ia bertanya darimana luka itu bisa ada disana, Naruto hanya menjawab kalau itu adalah bekas jahitan operasi. Dia tidak pernah tahu detail pastinya.
"Sudah aku katakan, nyawaku pun akan kupertaruhkan untukmu. Aku terpaksa ikut dalam skenario yang Shion ciptakan. Aku takut kehilanganmu. Sangat takut sekali." Wajah tampan itu mengemis sedih. Dia sudah terlalu lama memendam rasa sakitnya sendiri.
"Biar bagaimanapun keputusanmu itu salah, Naruto-kun. Kau menyembunyikan banyak hal. Pada akhirnya kau tetap menyakitiku dan calon anak kita~" Bisiknya lemah. Shock yang dirinya rasakan jelas berdampak langsung untuk bayi yang berada didalam kandungannya saat itu.
Satu tarikan kuat dan Naruto kembali mendapatkan Hinata. Dia memeluk wanita itu dengan begitu posesif, lantas menciumi puncak bahu istrinya berkali-kali sambil terus mengemis maaf. Dia harus membebaskan rasa rindunya.
"Maaf membuatmu menderita sampai seperti ini." Tangan besar pria itu juga gemetaran hebat. Wajah kecil dihadapannya ia tangkup sempurna. Sesekali ibu jarinya akan membersihkan aliran air yang menjatuhi pipi sang istri. Gerakan Naruto terbata-bata.
"Maaf sudah berbicara keras seperti tadi. Tolong jangan pergi lagi, tolong jangan meninggalkanku. Aku berantakan tanpamu." Rambut Hinata pun tak luput dari remasan sayang pria itu.
Tangannya kembali bergerak cepat. Kali ini pinggang kecil Hinata menjadi sasaran dekapannya. Naruto merendahkan tubuhnya sejajar dengan perut Hinata, kemudian menyesap dan menciumi perut itu tanpa henti. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam sambil merutuki kebodohan yang sudah dirinya lakukan.
"Maafkan ayahmu ini, nak. Kau sampai harus pergi dari sini."
Satu yang ia tahu bahwa Hinata hanya miliknya seorang. Tidak ada Shion atau wanita manapun yang bisa dibandingkan dengan istrinya. Dia hanya memilih Hinata sejak dulu dan tidak akan peduli dengan omong kosong orang lain yang meragukan cintanya. Dia yang menjalani dan dia yang paling tahu dengan apa yang diinginkan oleh hatinya.
Naruto kembali berdiri tegak. Wajahnya terlihat pucat dan beberapa bulir keringat turun dari pori-pori dahinya.
"Aku mencintaimu." Ciuman lembut kembali mendarat di dagu lancip sang istri. Naruto membingkai sempurna wajah kecil Hinata dan mengklaim bahwa pahatan cantik itu hanya miliknya seorang. Ibu jarinya mengelus pipi istrinya tanpa henti sambil memberikan tatapan rindu yang begitu dalam.
Hinata masih belum sepenuhnya mengerti dengan yang terjadi, tapi suaminya sudah berubah menjadi seposesif ini.
"Apa bahumu sakit? Atau lengan bagian ini?"
"Dimana? Apa terasa sangat sakit disini?"
"Hinata-chan, jawab aku. Lengan atas ini sakit?"
"Kenapa diam saja? Aku mencengkrammu sangat kuat tadi." Telapak tangannya mengusap sayang lengan kecil yang sudah merasakan cengkraman emosinya.
Hinata memandangi wajah itu lekat-lekat. Hanabi benar, dia semakin bertambah kurus. Setidaknya mungkin kehilangan delapan kilo dari berat badan sebelumnya. Lingkar matanya berwarna hitam, rambutnya semakin bertambah panjang, kulit dan bibirnya terlihat kering. Bahkan dia tidak mengambil rasa dengan demam yang tengah dideranya sekarang.
Suaminya sedang sakit tapi masih berpura-pura kuat padahal seluruh tubuhnya sudah terasa sangat panas.
"Tidak seharusnya Naruto-kun menciumi ku seperti tadi. Aku masih belum memberikanmu izin untuk melakukannya."
"Tapi kau istriku dan aku ber-"
"Sekarang katakan padaku sudah berapa malam kau tidak tidur? Lalu jelaskan apa saja yang ada didalam kulkas? Apa yang kau konsumsi?" Potongnya tajam dan tegas.
Senyum Naruto terukir lemah. Tiba-tiba seluruh rasa kantuknya datang tanpa dikomando.
"Aku membeli banyak suplemen, makan ramen, dan melakukan pola hidup tidak sehat. Apa kau tidak ingin memarahiku?" Tantangnya ingin diperhatikan.
"-terkadang waktu tidurku hanya tiga jam saja, dan sejak lusa aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku masih sakit, demam dan menggigil ditengah malam. Apa tidak ingin memelukku sampai aku bisa tidur nyenyak?" Pandangannya mulai mengabur, tapi masih bertingkah seolah dia punya segudang tenaga untuk bisa menopang tubuhnya sendiri.
"Dasar! Naruto-kun bukan anak kecil lagi. Apa tidak malu mengemis seperti itu?"
"Tidak sama sekali. Mengemis dengan istriku sendiri apa salahnya?"
Dahinya jatuh diatas pundak Hinata dan lengannya kembali memeluk erat pinggang wanita itu agar tidak bisa pergi kemanapun. Seluruh beban dipundaknya luruh tanpa sisa.
"Kalau tidak boleh dipeluk, elus saja kepalaku setidaknya sampai aku tertidur."
"Jangan terlalu percaya diri. Aku masih belum memaafkanmu sepenuhnya."
"Kalau begitu aku akan lakukan apapun agar bisa dimaafkan. Dan, aku pastikan untuk membuatmu jatuh cinta padaku sekali lagi."
.
.
.
TBC
Terimakasih banyak buat yang udah baca, review, fav dan ngefollow :"3 Saya sayang kalian :D
Btw, Pro dan kontra itu sudah biasa. Jika ada yang menyukai cerita ini, maka sudah pasti akan ada pihak yang juga tidak menyukainya. Saya menerima itu sebagai nano-nano kehidupan yang harus dihargai Hihi
Salam kenal untuk yang baru kenal ya
-Lichan-
4/6/2016-12:13
POST YOUR REACTION HERE~ :p
