Sanctuary Punya Cerita
.
.
.
Disclaimer: Saint Seiya © Masami Kurumada
Saint Seiya The Lost Canvas © Shiori Teshirogi
GS abad 20 milik Athena Saori. GS abad 18 milik Athena Sasha. Atla milik saya :'3 #plak milik Hakurei maksudnya.
Genre: Family, Friendship, Humor dengan sedikit bumbu Romance kacangan
.
.
.
Asap
.
.
.
Bayangan tubuh topless Defteros di antara kepulan asap kawah gunung Kanon disertai keringat juga kulit kecoklatan terbakar matahari benar-benar sangat memanjakan mata. Apalagi dengan semilir angin yang menerbangkan rambut model iklan shamponya, seolah pulau Kanon adalah surga tropis alih-alih penuh kawah mendidih hanya karena penampakan penjaganya yang eksotis.
Sementara dari kejauhan, anak didik Defteros yang bernama sama dengan pulau ini hanya memandang sang guru dari belakang sambil bersimbah peluh. Sesekali mengeluhkan kelakuan eksebisionis Defteros yang hobi buka baju sembarangan. Iya sih, di sini hanya ada mereka berdua, tapi jangan sering-seringlah. Mentang-mentang punya badan bagus.
"Kanon, jalannya jangan lambat!" teriakan membahana sang guru terdengar.
"Di sini panas, Kak." Kanon menjawab setengah mengeluh. Bajunya sekarang memang telah lumayan basah oleh keringat.
"Buka baju sana biar gak kepanasan."
"GAK MAU!" dengan gelengan kuat juga tangan mendekap erat tubuhnya sendiri, Kanon menjawab dengan tampang horor seolah akan diapa-apakan. Pikiranmu terlalu jauh, Nak.
Defteros memandang muridnya itu datar kemudian meneruskan berjalan lagi. "Cepat makanya. Gimana bisa jadi penjaga pulau Kanon kalau kamu lambat begitu?!"
Kanon hanya manyun. Dia ingin merajuk supaya Defteros luluh dan beristirahat sebentar (atau menghentikan pendakian mereka kalau perlu), tapi baru sadar kalau wajah memelasnya tidak akan mungkin mempan. Anehnya jika Shaka yang meminta (bahkan tanpa wajah memohon pun) gurunya itu pasti akan melaksanakan apapun keinginan anak didik Asmita itu mentah-mentah. Bagus Kanon, bahkan gurumu sendiri telah melakukan praktik pilih kasih padamu.
Melangkahkan kakinya berat, adik dari Saga itu mengikuti Defteros dari belakang. Sesekali memandangi kepulan asap yang keluar dari salah satu kawah. Bedanya, asap ini berwarna hitam, bukan putih seperti asap kebanyakan.
"Kak! Itu kenapa?" Kanon buru-buru mengejar Defteros kemudian menarik-narik ujung baju gurunya itu meminta perhatian.
Mengikuti arah pandang Kanon, Defteros menatap asap hitam yang mengepul jauh tertiup angin. "Itu asap hitam. Memangnya kenapa?"
"Beda dari yang lain."
"Ya tentu saja," Defteros melanjutkan penjelasannya. "Asap hitam terbentuk karena adanya pembakaran yang tidak sempurna. Paham? Sekarang cepat jalan!"
Meninggalkan muridnya, pria berkulit kecoklatan itu berjalan kembali dengan langkah kakinya yang panjang-panjang. Bukannya mengejar ketertinggalan, Kanon malah terbengong di tempatnya berdiri. Berpikir keras, seolah baru mendapat wahyu nyasar.
"Itu artinya Kak Defteros dari pembakaran tidak sempurna, dong!"
"APA?!"
Belum sadar dari keterkejutan, Kanon buru-buru melanjutkan, "Kan Kak Aspros putih, sementara Kak Defteros—"
"APA!" Gemini adik itu mengepalkan tinjunya tepat di depan hidung sang murid. Tatapannya berapi-api, siap melepaskan kepalannya kapan saja. "Aku kenapa!"
"Ti-tidak kenapa-kenapa ..." bocah itu bungkam segera. Dia masih sayang wajahnya tentu saja.
Mendengus keras, Defteros lalu berjongkok tepat di hadapan kembaran Saga itu. "Aku cuma bilang sekali jadi dengar baik-baik ..." Deferos memandang langit, agak sedikit bernostalgia, "Dulu, kulitku tidak seperti ini. Bahkan lebih putih dari milik Aspros—"
"Pppfffftt ... gak mungkin!"
"Mau kulempar ke kawah atau kutendang saja?"
"Iya, Kak. Iya, aku percaya, aku percaya."
Menghela napas berkali-kali, Penjaga Pulau Kanon tersebut kembali membuka mulut. Lengkap dengan ekspresi membunuh jika berani diinterupsi lagi. "Hanya saja, karena terlalu sering terpapar sinar matahari dan panas gunung Kanon, kulitku berubah coklat. Paham?" dia kembali berdiri, membelakangi sang murid. "Jadi, apa yang bisa kamu simpulkan dari kisah tadi?"
"Jangan sering nongkrong di tempat panas kalau gak mau jadi hitam!" seru bocah berambut biru itu bangga.
"Benar, jangan melihat orang dari luarnya sa—HEH?!" dia merasa harus membersihkan telinganya segera. "Apa tadi?"
"Sa-salah ya?" Kanon menggaruk kepalanya tidak mengerti, sepaket dengan kekehan menjengkelkan di telinga coklat Defteros.
Oh Pope, izinkan Saint Gemini abal-abalmu yang seksi ini menggetok kepala sang murid dengan panci. Karena sumpah demi Dewa-Dewi, dia sudah tidak tahan lagi.
"Ke laut saja sana!" tidak mau peduli lagi, Defteros berjalan cepat-cepat dari sana. Meneruskan pendakiannya, masa bodoh Kanon mau ikut atau tidak.
"Laut?" sebentar, sebentar, entah saat tidur tadi malam kepalanya pernah terbentur apa karena sepertinya bocah itu merasa seperti sedang kejatuhan wahyu part dua. "Benar! Aku mau jadi penjaga laut saja supaya tidak hitam kayak Kak Defteros."
"HEH?!"
.
.
.
Perang 2
.
.
.
"Saya tidak akan mengejar Leo Regulus lagi, Paman."
Sisyphus merasa harus membersihkan kedua lubang telinganya sekarang juga begitu mendengar pengakuan dari pria beralis membahana di depannya ini. Tidak, bahkan dia merasa harus meminta Degel memeriksanya. Harus. Lebay memang, bukan karena apa, agaknya apa yang baru saja ia dengar memang benar-benar patut ditanyakan kesungguhannya.
"Paman?" Rhadamantys memanggil begitu lawan bicaranya hanya tercengang tanpa suara.
"Berhenti memanggil saya begitu. Kamu itu lebih tua dari saya!"
Menghela napas, Saint Sagittarius berikat kepala itu meminum kembali teh hijau yang telah tersedia di atas meja bobrok buatan Mu, tepatnya di ruang tamu kuil ke satu. Siang tadi seusai mengantar Pope Sage pulang kampung, pemandangan seorang Judge Underworld yang mengobrol hangat dengan Shion segera mengalihkan dunianya. Rasa-rasanya matanya selalu tidak nyaman entah mengapa begitu melihat armor gelap bersayap, pria itu lupa saja bahwa armor miliknya juga memiliki benda yang sama.
Sementara Shion telah mengungsikan Mu duluan karena perang bagian kedua sepertinya akan dimulai. Tapi dasar didikan Jamir, tukang reparasi nomor satu Sanctuary itu masih sempat-sempatnya membuatkan teh juga menyediakan setoples nastar pada tamunya itu sebelum pergi. Seolah polos dengan apa yang akan diterima kuilnya jika perang benar-benar terjadi.
"Kamu serius dengan ucapanmu, Wyvern?" memastikan kembali, Sisyphus takut ia dijebak. Apalagi El Cid dan Hasgard sedang tidak dapat diminta kesediannya menggertak sang Hakim.
El Cid jelas karena bukan sifatnya mengurusi hubungan asmara orang lain. Miliknya sendiri saja belum jelas. Di sisi lain, Hasgard ... yah, sebaiknya jangan dibahas.
"Ya!" Rhadamantys menjawab mantap tanpa keraguan. "Saya yakin."
"Baiklah ..." Sisyphus menyesap kembali tehnya. Nampak tenang meski dalam hati ingin loncat saat ini juga. "Akhirnya kamu mengerti posisimu. Kamu dan Regulus memang tidak akan pernah bisa bersatu. Kisah kalian berakhir di sini."
Sekarang giliran sulung dari tiga hakim itu yang terdiam. Datar dan tenang, layaknya sungai yang dalam. Dia berdiri dan beranjak pergi, sama sekali tidak acuh pada teh yang mulai mendingin juga toples penuh nastar isi selai nanas-coklat.
"Ini akan menjadi akhir yang menggantung ..." gumamnya, meski Sisyphus masih dapat mendengar walau samar. "Paman tahu kenapa akhir yang menggantung itu menarik?"
Pemilik konstelasi centaurus itu menahan diri untuk melempari kepala pirang di depannya dengan busur panah begitu kata 'paman' terucap lagi.
"... karena di setiap akhir yang menggantung, akan selalu ada 'sequel' yang mengikutinya ..." sambung Rhadamantys tanpa ditanya.
Aura-aura gelap mendadak melingkupi surplice sang Specter. Tipis, tapi cukup mengancam. Tidak tebal, tapi membahayakan. Sagittarius kita bahkan merespon dengan bersiaga menggenggam busurnya. Hanya saja Rhadamantys diam, tidak tampak ingin menyerang.
Pria itu menoleh sebentar sebelum beranjak pergi, lengkap dengan kilatan aneh pada kedua mata beralis tebalnya. "Tunggu tanggal mainnya."
Sisyphus terhenyak begitu prosa miliknya dahulu dikembalikan. Tidak menunjukkan apa-apa kecuali, PERNYATAAN PERANG YANG SESUNGGUHNYA.
.
.
.
Bujang
.
.
.
Berdasarkan pengalaman ratusan tahun kehidupannya, Hakurei merasa dirinya adalah seorang kakak yang baik dan bijaksana juga tampan tentu saja. Buktinya saat sang adik yang menjabat sebagai Grand Pope Sanctuary mengiriminya telepati dengan nada suara yang menyedihkan sekali (setidaknya itu yang didengarnya) pria itu buru-buru menghampiri, meninggalkan Atla yang baru saja ingin mengajaknya ngeteh pagi-pagi.
Dia pikir Sanctuary diserang entah oleh Specter atau Marina atau Dark Wiz Company-oke, salah universe-dia bahkan hampir menyiapkan sebaris pasukan saking paniknya. Ini semua demi Sage, adik kembarnya tercinta.
Nyatanya ...
"... saya mau pulang kampung ..."
"..." tunggu dulu.
"Seorang Saint Taurus ingin menikah, saya rasa itu hanya kedok demi menyinggung saya."
"..." tunggu sebentar.
"Dia sudah tidak percaya lagi pada saya. Ini tentu mengguncang kredibilitas saya sebagai pemimpin Sanctuary."
"..." diam di situ!
"Sanctuary akan hancur jika para Saint tidak memercayai Pope-nya sendi-Hakurei! Apa-apaan cahaya di telunjukmu itu? Kamu tidak akan mengirim saya ke Meikai 'kan?!"
"Saya mencoba ..." menghela napas, pria dua ratusan tahun itu melenyapkan sinar putih kebiruan pada jarinya. Lagipula Sekishiki Meikai Ha miliknya juga akan dilawan dengan jurus yang sama pula. "Mengapa jujur pada diri sendiri susah sekali, Sage?"
Diam tanpa jawaban, Sage tidak merespon pertanyaan sang kakak. Ekspresi di balik helm pope kebesarannya sama sekali tidak terbaca. Tapi bagi Hakurei yang telah berbagi pahit, asam, manisnya kehidupan bersama selama lebih dari ratusan tahun, bahkan satu kerutan di wajah awet muda Sage pun memiliki arti tersendiri. Ya, Hakurei tahu adik mantan saint kepitingnya ini sedang gugup.
"Saya sudah jujur. Saya perlu waktu beberapa lama menyepi di Jamir untuk mengambil langkah yang tepat. Ini tidak akan menyusahkan siapa-siapa, Athena-sama bahkan mengiyakan saja. Selama saya pergi, Sisyphus dan Aspros yang akan mengurusi semuanya. Mereka memang cocok dijadikan calon pope masa depan-"
Salah satu ciri orang yang sedang berbohong adalah, alibi yang mereka miliki amat sangat lengkap bahkan detail pada masing-masing kalimat begitu tersusun rapi. Mengapa kemudian menjadi tanda kebohongan? Karena sesuatu yang tanpa kekeliruan patut dipertanyakan kebenarannya.
Hakurei berekspresi datar. Tetua Jamir itu merasa ubannya semakin banyak saja jika sudah berurusan dengan adik kembarnya ini, "Kamu ingin pulang kampung karena takut dikatai bujang lapuk 'kan?"
Skakmat-kah?
Seperti biasa, Sage masih diam dengan wajah berhias poker face. Bedanya dua kerutan bertambah lagi pada masing-masing sudut matanya. Tanda bahwa kalimat tadi benar-benar JLEB di hatinya yang paling dalam. Ah, Hakurei terlalu mengerti dirinya. Faktor twin connection-kah? Bisa ia setidaknya protes mengapa dirinya tidak dapat berlaku sama meski sama-sama kembar?
"Santai, Sage," pria tua dengan rambut panjang diikat kebelakang itu menggeleng geli. "Kamu tidak sendiri ..."
Oh, benar. Pope Sage akhirnya dapat merilekskan otot-otot wajahnya kembali. "Ada bujang lapuk lain di sini, eh Kakak."
"Saya menunggumu menikah duluan, Kepiting alot."
"Seharusnya saya yang bilang begitu, Altar berkarat."
Karena lajang itu pilihan. Meski kadang takdirlah yang berkuasa memilihkannya.
.
.
.
Catur
.
.
.
Buku bukanlah hal yang dapat diidentikkan dengan seorang Gold Saint Cancer Manigoldo. Karena memang tidak ada emulgator manapun yang dapat menyatukan mereka. Angelo sendiri telah mengakuinya, bahkan Degel yang kutu buku pun mungkin persentase keberhasilannya tidak akan lebih dari dua puluh lima koma tiga empat.
Yang patut dipertanyakan sekarang adalah ... mengapa benda segi empat itu dapat berada dalam genggaman sang Saint Kepiting Emas selama hampir lebih dari dua jam?
Bahkan anak didik berambut jabriknya sedang manyun semanyun-manyunnya memandangi sang guru yang sedang membaca buku dari balik sofa. Baru juga dua hari sifat kepiting buku (Angelo: karena kutu buku sudah terlalu mainstream) Manigoldo muncul, bocah itu sudah tidak tahan duluan. Pasalnya, dia benci dicueki. Shura sedang latihan intensif dengan El Cid, dan kentara sekali kambing kecil itu sangat antusias sehabis mendapat sarung tangan baru. Sementara Aphrodite masih dikurung dalam sangkar akibat kejadian salah paham Albafica tentang threesome-sudahlah, jangan dibahas. Walhasil dia hanya dapat mengandalkan Manigoldo guna menyembuhkan kebosanannya.
Hanya saja begitu melihat sang guru berkutat penuh dengan buku di tangan, juga tidak peduli dengan panggilan yang ia berikan, bocah itu merasa punya alasan baru penambah kebenciannya pada buku. Dan dia mengerti pangkal masalahnya, ini semua salah pacar Manigoldo. Kembaran Hypnos. Dewa Kematian. Thanatos.
Dewa bernuansa gothic itu memang jarang ngapel ke Sanctuary (entah gengsi atau menunggu Manigoldo ngapel duluan), tapi sekalinya muncul, akses kiri-kanan-depan-belakang guru kepiting tercintanya itu seolah di putus. Tidak boleh diganggu. Pokoknya harus minta izin dulu kalau ada perlu. Angelo paham tentu saja, begini-begini dia mengerti pentingnya privasi, meski waktu kencan sang guru dan pacarnya hanya dihabiskan untuk bermain permainan bikin ngantuk macam catur.
Awalnya wajar, Manigoldo selalu kalah karena memang tidak paham bagaimana salah satu cabang permainan asah otak itu berjalan. Seiring berjalan waktu, pria Italia itu berambisi sekali menguasai permainan catur, bahkan memesan buku tutorialnya pada Hasgard saat Taurus Saint itu sedang berbelanja ke kota. Dan beginilah hasilnya, Manigoldo berbaring menguasai sofa dengan buku di tangan sedang menghapal nama-nama bidak catur seolah menjadikannya mantra yang diulang-ulang.
"Pion, kuda, menteri, raja, ratu. Pion, kuda, menteri, raja, ratu. Pion, kuda ..."
"Kak Manigoldo." Angelo memunculkan kepalanya di balik sandaran sofa.
"... menteri, raja, ratu. Pion, kuda, raja, ratu menteri. Kuda, menteri, raja, ratu, pion ..."
"Kak Manigoldo!"
"... ratu, menteri, pion, raja, kuda. Raja, menteri, ratu, kuda, pion ..."
"KAK MANIGOLDO!"
"DIAM KELOMANG!" berteriak tak kalah keras dari Angelo, buku dalam genggamannya segera ia layangkan pada kepala sang murid. Marah diganggu terus menerus. "Gak lihat aku lagi sibuk?"
Angelo cemberut minta ampun. "Main yuk, Kak. Atau latihan, atau apa kek, yang penting tidak bikin bosan!"
"Main sendiri sana!" cuek, kepiting senior itu melanjutkan mengulang mantra caturnya.
"Main sendiri tidak enak..!" demi apa, calon Gold Saint Cancer Angelo a.k.a Deathmask merajuk manja.
"Ke Yomotsu Hirasaka sana! Kagak bakalan kesepian."
Empat siku-siku eksis di pelipis kiri bocah itu. Cukup cuek-cueknya, dia benci tidak dianggap. "Jadi Kak Manigoldo lebih pilih Kak Thana daripada aku?!" jurus kepiting ngambek mulai ia lancarkan.
"Jelaslah." sayang itu tidak mempan sama sekali pada Manigoldo.
Oh my Athena. Sakit hati ini.
"Jahat! Guru durhaka!" Angelo memasang tampang anak-polos-tersakiti yang bocah itu punya kemudian berlari dramatis ke luar kuil. Diiringi sound efek bernada menyedihkan. Lengkap sudah. "Aku mau cari guru lain saja!"
Manigoldo hanya bengong di tempatnya, sepertinya muridnya ini mulai ketularan melankolisnya Kanon. Mengangkat bahu, sang kepiting kembali melanjutkan kegiatannya membaca buku. Seolah tidak terganggu dengan adegan lebay muridnya tadi.
"Palingan kalau lapar pulang juga itu anak."
Ya, mentang-mentang Pope tidak ada. Malah berbuat seenaknya.
.
.
.
Salah Sangka
.
.
.
Kuil berlambang neraca emas itu jarang sekali terlihat ramai. Paling-paling kerumunan bocah-bocah kurang kerjaan sehabis latihanlah yang sering nongkrong di sana menghabiskan waktu. Juga karena faktor sang penjaga yang lebih suka keluyuran entah ke mana. Tapi sekarang lain, Dohko tidak melancong ke mana-mana dan sedang menunggu air panasnya mendidih di dapur sementara dirinya menyiapkan teh untuk kedua tamunya juga anak didik mereka masing-masing yang tengah menyamankan diri di teras depan.
Beberapa menit lalu dia panik melihat Shion serta Hasgard yang menggendong Aldebaran juga Mu datang ke kuilnya siang-siang dengan alasan mengungsi. Meski bingung mengapa bukan di kuil Cancer atau Leo (Virgo tidak termasuk, penjaganya tidak akan menerima tamu jika itu benar-benar perlu) yang jaraknya lebih dekat, wajah penuh bekas luka milik Hasgard yang sedang tertekuk menjelaskan semuanya. Pria besar dengan tinggi di atas rata-rata itu sedang galau dan butuh teman curhat.
Seusai menyeduh teh, tuan kuil berambut coklat tersebut segera menghampiri dua teman akrab miliknya dengan cengiran seperti biasa. Dia tidak melihat Mu dan Aldebaran, mungkin mereka dibiarkan bermain di teras belakang. "Spectre itu main api dengan Sisyphus lagi, Shion?" kekehnya.
Shion menghela napas sebagai jawaban, sambil mengambil dua cangkir teh kemudian menyerahkan salah satunya pada Hasgard, sementara Dohko duduk tepat di antara mereka berdua. "Ya begitulah. Pantang menyerah seperti biasa," berhenti sebentar untuk menyesap tehnya, "Spectre-mu malah jarang terlihat sekarang, Dohko."
Sang pemilik nama menyemburkan tehnya entah kepanasan atau terkejut mendengar ucapan Aries hijau di sampingnya. "Ayolah, jangan dibahas!" Dohko memang jarang bicara tentang Kagaho, sekali pun pada Shion. Selain itu, dia melirik Hasgard dan menyadari teman besarnya tersebut hanya diam sedari tadi. "Hei, Hasgard. Kucing apa yang mencuri bibirmu? Kenapa diam terus?"
Hasgard memandangi asap tipis yang keluar dari teh dalam cangkir dengan tampang galau setengah mati. "Saya hanya berpikir, Pope yang tiba-tiba pulang kampung tanpa kabar sebelumnya adalah kesalahan saya."
Dohko menyikut lengan kekar Hasgard dengan lengannya yang lebih kecil. "Santai saja. Itu kan hanya perkiraanmu. Ya 'kan, Shion?"
"Benar," Shion mengangguk. "Lagipula kamu tidak benar-benar ingin menyinggung beliau 'kan?"
"Memang. Saya bilang ingin menikah saat acara makan malam waktu itu hanya untuk menyinggung satu orang. Sisyphus. Dia yang paling tua di antara kita, seharusnya merasa minder menyadari orang yang lebih muda darinya telah berpikir untuk berkeluarga. Malah Pope yang tersinggung. Sementara yang disinggung ..." dia memandangi atap kuil Aries tempat Sisyphus sedang beradu argumen dengan mantan pacar ponakannya itu, dari kejauhan. "Tidak berpengaruh apa-apa dan semakin gencar merecoki urusan cinta Regulus."
Ini nih yang namanya lain yang disinggung, lain yang tersinggung.
"Tahu 'kan, Sisyphus seperti apa." Dohko malah tertawa.
Pemilik konstelasi banteng itu semakin tertekuk saja. "Kemarin dia malah menawarkan diri menyebarkan undangan pernikahan kalau sudah siap. Dia benar-benar tidak punya prasangka apa-apa. Saya heran."
Shion ikut tersenyum di samping Dohko. Setidakpekanya Libra bertato harimau bertinju naga pujaan hatinya, centaurus berbusur panah lebih tidak peka ternyata. Bahkan setelah diberi rangsangan sekali pun. Sekarang dia mengerti mengapa Aspros mulai membatasi interaksi antara Saga dan Aiolos, takut muridnya tertular ketidakpekaan karena agaknya Aiolos sudah terlanjur terinfeksi duluan. Sagittarius kecil itu bahkan belum sadar bahwa adiknya sendiri sedang kasmaran dengan salah satu calon Silver Saint.
Eh, sebentar, sebentar. Sepertinya memang tidak usah tahu saja, takut sejarah terulang lagi. Sagittarius yang mengepoi percintaan Leo, dan mengapa Leo selalu tertarik pada sesuatu yang bersayap macam Wyvern dan Eagle? Masih menjadi sebuah misteri.
"Kira-kira apa yang bisa kita lakukan?" Dohko membuka suara. "Saya memang tidak terlalu senang pada Hakim beralis tebal itu, tapi kalau Regulus sudah cinta, sepertinya Sisyphus memang agak di luar batas."
Shion setuju tentu saja. "Hanya khawatir dengan reaksi Sisyphus jika melihat kita ikut campur. Saya takut dia merasa terkhianati. Bagaimanapun juga dia hanya ingin melindungi anak dari kakaknya."
"Coba saja Ilias ada di sini ..." Hasgard meminum teh miliknya, mencoba menghilangkan kepenatan.
"ILIAS!" sayangnya seruan Dohko membuatnya tersedak dengan tidak nyamannya.
"Kita bisa minta bantuan beliau," Shion yang menjelaskan teriakan membahana Dohko tadi. "Sayangnya ... beliau sudah tidak ada."
Pemuda peranakan Asia dengan rambut coklat berpikir keras. Jika operasi ini berhasil, setidaknya mereka bisa menyadarkan Sisyphus untuk sedikit memikirkan dirinya sendiri dan bukan orang lain. "Mungkin bisa kalau kita punya akses dengan Underworld. Siapa di sini yang punya kenalan dekat Spectre Hades?" dia melirik Hasgard dan Shion.
Sementara dua Saint tersebut hanya termangu memandangi Dohko yang muncul tidak pekanya. "Pacarmu sendiri, Dohko!"
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Maaf, maaf, update-nya ngaret lagi T^T
Banyak yang suka kopi-susu DeftMita ternyata ;3 nanti saya coba di chapt depan, KarGel juga sekalian. Doakan tidak ada halangan.
Terima kasih buat yang telah memberi semangat dan juga sabar menunggu, tiada kesan tanpa kehadiran kalian teman-teman ;D #berasakayakkartuundanganulangtahun #elah #tagarnyakepanjangan
Juga buat Hase yang bikin mood saya naik. Makasih, Nak. Oleh-olehnya ditunggu :'3
Sekali lagi terima kasih untuk yang telah meluangkan waktu dan mengapresiasi fict ini dalam bentuk apapun *peluk satu-satu* kesalahan juga typo yang masih banyak akan saya perbaiki lagi demi kenyamanan bersama. Jaga senyum semua~
.
.
.
Bonus (untuk yang katanya penasaran si Cid ngapain aja selama hilang)
.
.
.
Tinggi semampai, juga kekar dengan garis wajah tegas, El Cid melintasi hutan demi hutan dengan jas hitam panjang menutupi kemeja putihnya, sementara box cloth miliknya ia jinjing di belakang punggung. Sudah sehari perjalanan ia meninggalkan Sanctuary demi mencari hadiah untuk muridnya yang telah berhasil menguasai Excalibur tingkat pertama, dan tidak menemukan apa-apa. Beruntung Oneiros datang (atau hanya bayangannya, anak Hypnos berambut uban itu hanya sekedar mengunjunginya dalam mimpi) dan berbaik hati membuatkan hadiah yang katanya 'kualitas para dewa'.
Mereka janji bertemu di tengah hutan terhindar dari dunia luar. El Cid tetap waspada meski Oneiros punya hubungan khusus dengannya, walau dirinya tidak terbiasa meminta tolong, Oneiros tetaplah anak buah Hades yang merupakan musuh Athena meski vessel dewa-dewi junjungan mereka bersahabat kental. Dan sudah seperti yang ia duga, ini benar-benar di luar rencana. Bukannya surplice membahana pacarnya yang menyambutnya, melainkan tiga kepala kuning yang telah menunggu sepaket dengan tawa yang dirancang untuk mengejek siapapun yang mendengarnya. Setidaknya Morpheus hanya memberikan senyum miring.
Tidak ada tanda-tanda penampakan Oneiros. El Cid mulai curiga ia dipermainkan. Apalagi tawa nyaring dari mulut bergigi tajam Icelus yang tepat di depannya amat sangat mengganggu suasana hatinya. Jika bukan karena hadiah untuk anak didiknya, mungkin pria Capricorn itu sudah beranjak pergi duluan dari sana.
"Di mana Oneiros?" tanyanya langsung pada intinya, dengan mata menatap pada Morpheus. Satu-satunya yang masih ia anggap waras selain sang pacar dalam lingkup kwartet anak Hypnos.
"Santai. Onei nanti datang, kok. Dia suruh kita menjaga pacarnya saja." Phantasos dalam female version tertawa menjawabnya.
"..." El Cid diam, tapi matanya masih menatap si pria tinggi berambut pirang panjang tersebut menagih jawaban. "Di mana Oneiros?"
"Hei! Hei! Dia sudah menjawabnya!" Icelus menegur dengan ibu jari menuding Phantasos yang sedang cemberut.
"Aku tidak bertanya padanya."
"Sombong sekali! Apa bedanya aku dengan Morphe?!" Phantasos jelas tidak terima. Semakin emosi menyadari seruannya hanya dianggap angin lalu oleh El Cid yang masih anteng menunggu jawaban Morpheus.
"Dia akan datang. Tunggu saja." Morpheus menjawab akhirnya.
"Hei, hei. Ada yang bingung kenapa dia tidak memakai clothnya?" Phantasos berbisik kepada kedua saudaranya. Biar dikata berbisik pun, El Cid masih bisa mendengarnya.
"Aku juga penasaran." Icelus ikut 'berbisik'.
"Ini karena Oneiros. Oneiros menyuruhnya untuk tidak memakai cloth saat bertemu." Morpheus menjelaskan, kali ini benar-benar berbisik.
"Akan lebih seru kalau Oneiros menyuruhnya datang tidak pakai baju!" Icelus terkekeh setan, diikuti Phantasos yang sepertinya setuju sekali.
"Aku mendengarnya!" El Cid menginterupsi. Agak kesal dipelototi dari atas ke bawah.
"Suka-suka kita dong, mau bicara apa!" Icelus sewot.
El Cid tidak menjawab. Bukan derajatnya menimpali omongan kosong Dewa Mimpi Buruk satu ini. Sayangnya lawan bicaranya sama sekali tidak berpikir demikian.
"Kenapa diam?! Tidak tahu cara membalas ya, Kambing?"
"Aku hanya akan membalas dengan tebasan."
"Oh, begitu ya?" Icelus maju mendekat hingga tubuh bertulang bengkoknya tepat berada di depan sang Saint Capricorn. Mencengkram bahu berlapis jas El Cid. Di belakang ada Phantasos yang ikut mengompori juga Morpheus yang mencoba menyadarkan Icelus bahwa ayah mereka tidak ingin ada pertumpahan darah. "Mau duel denganku, Kambing? Kuterima. Pakai cloth sialanmu, kita bertarung sampai—"
"—Jauhkan tanganmu dari pacarku, Icelus." Oneiros muncul dan tanpa basa basi menarik pelindung punggung Icelus ke belakang. Menjauhkannya dari El Cid.
"Hei! Hei! Jangan ganggu pertarungan kami!" personifikasi mimpi buruk itu protes.
Cuek, seluruh perhatian Oneiros sekarang hanya tertuju pada El Cid. "Maaf lama. Mereka mengganggumu?"
"Sedikit."
"Kita cari tempat yang lain." anak Hypnos berambut putih itu mengajak El Cid pergi dari sana. "Kalian jangan ikut!" serunya pada saudaranya yang lain.
"Onei! Kulapor ayah nanti, kamu kerjanya kencan mulu!" Phantasos masih belum menyerah.
Oneiros hanya mengangkat bahu, ia tidak peduli. Toh ayah mereka sibuk mengurusi kembarannya dan sedang main catur bersama. Pergi menjauh, menyepi membahas hadiah spesial untuk Shura dengan motif kencan terselubung, dua pria beda naungan itu meninggalkan ketiga dewa mimpi lain yang terdiam di tempat mereka berdiri.
"Sudah kubilang untuk tidak mengganggu Saint Capricorn itu. Cari orang lain untuk diganggu, dia sudah ada yang punya."
Kata bijak dari Morpheus yang JLEB di hati dua saudaranya.
