Author Note:

Halo semua!

Bagaimana valentinenya kemarin? Menyenangkankah? Hehehehe

Okei, kita kembali membahas fanfic. Oh ya, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih banyak banyak banyak buat reviewnya! ^^ Ternyata yang memberi saya masukkan bukan hanya satu orang saja, saya senang sekali! Terima kasih atas bantuannya, saya akan berusaha untuk jauh lebih baik ke depannya!

Baiklah, ini dia lanjutan dari chapter sebelumnya! Memang, sepertinya untuk beberapa chapter ke depan, unsur dramanya nambah. Maklum, Author lagi ketagihan nonton drama, jadi beginilah jadinya~ *curhat*

Dan... Mohon maaf kalau masih ada banyak typo, karena Author ngetiknya pakai handphone, hehehe *nyengir kuda*. Dan mohon dimaklumi juga kalau masih ada salah kata, Author masih belajar, hehehe. Maaf juga kalau gaje, garing, galau, dsb. (bawel nih Authornya)

Mohon kritik dan sarannya! Selamat membaca! Semoga menghibur! ^^

-Lutanima-


...

DUK!

...

DUK!

"... C-Claire?"

Mary mulai panik melihat temannya yang saat ini, sedang sibuk membenturkan kepalanya ke salah satu rak buku yang ada di pojok ruangan. Mary pun memutuskan untuk medekatinya, lalu menepuk pundaknya perlahan.

"K-kamu ti-tidak apa-apa kan...?"

SET!

Claire membalikkan badannya. Menunjukkan muka histeris penuh air mata di sana-sini. Poninya basah dan terurai ke mana-mana. Dia pun memelototi Mary dengan penuh perasaan.

"... Apa tidak cukup bagimu, hanya dengan melihat perilakuku dan penampilanku...? Lihatlah. Dapatkah kau menyimpulkan bahwa aku... BAIK-BAIK SAJA?!" Claire mengguncang-guncangkan tubuh Mary dengan kencang. Sempat beberapa kali Mary memperbaiki posisi kacamata-nya, yang hampir terlempar berkat guncangan Claire itu.

"E-eh?! M-maaf!"

"HAH! HUWAAAA! AKU HARUS BAGAIMANA?!" Ya, Claire... Mulai kehilangan kewarasannya.

"M-memangnya apa yang terjadi...?"

"..."

Claire mulai menghapus air matanya. Panik, Mary segera berlari dan memberikan tissue, di saat air mata Claire sepenuhnya telah terhapus. Claire hanya menatap teman di depannya ini dengan tatapan penuh kepasrahan. Marah pun percuma. Energi Claire telah habis untuk menangis.

"Elli... Tampaknya marah padaku..." Ujar Claire sambil memalingkan pandangannya. Sementara Mary, hanya menatapnya khawatir.

"E-eh?! Ke-kenapa? Apa kalian bertengkar?"

"TIDAK! DAN AKU TIDAK TAU! Selama enam tahun bersahabat, baru kali ini hal ini terjadi! Kami memang pernah berdebat, dulu saat aku memanjat pagar sekolah, tapi... Baru kali ini Elli mengacuhkanku! Aku tidak berbuat apa-apa! Aku tidak tau! APA YANG HARUS KULAKUKAN?!" Claire mulai mengguncang-guncangkan tubuh Mary lagi. Mary berpikir, sambil memegangi kacamata-nya.

"M-mungkin... Kau menyakiti perasaannya tanpa sadar?"

...

Claire terdiam. Dia berpikir keras.

"Ti... TIDAK MUNGKIN! AKU SELALU MEMUJI ELLI! AKU TIDAK PERNAH MENYAKITI PERASAANNYA!" Claire mengguncang-guncangkan tubuh Mary lagi.

"T-tapi... Mungkin saja bukan dari perkataan... B-bisa saja kau telah melakukan sesuatu yang menyakiti hati Elli...?"

Claire terdiam. Dia berpikir keras lagi.

"Hah? Memangnya aku melakukan apa?" Claire melepaskan cengkraman tangannya di pundak Mary. Mary pun bernapas lega.

"A-aku tidak tau... C-coba kau ingat-ingat sejak kapan Elli marah padamu...?"

"ELLI TIDAK MARAH PADAKUUU!" Claire mengguncang-guncangkan tubuh Mary lagi. Tapi kemudian Claire terdiam.

"C-Claire?" Mary mulai panik melihat temannya yang tiba-tiba terdiam ini.

"T-Tapi... AKU TIDAK TAU ELLI MARAH PADAKU ATAU TIDAK! HUWEEEE!" Claire kembali mengguncang-guncangkan Mary lagi. Dan begitulah, kira-kira selama dua jam lamanya, tubuh Mary terus terguncang-guncang tanpa jeda lebih dari tiga detik.

-oOo-

"Hiks..."

Claire termenung di pinggir air terjun dewi. Dia benar-benar kehilangan akalnya. Dia tidak tau, apa yang membuat Elli marah padanya? Terlebih kejadian ini baru terjadi sekali seumur hidupnya.

Elli...

Yang terkenal baik hati, ramah, penyayang, tidak sombong, dan penyabar ini... Ternyata bisa marah juga terhadap seseorang. Terlebih buruknya... Orang itu adalah Claire.

"TIDAK! MEMANGNYA APA SALAHKU!?" Claire berguling-guling di atas tanah.

"Kesalahanmu? Kurang niat bekerja."

Claire terdiam.

Sial. Dia tidak suka suara ini. Sama sekali tidak suka. Dia mendecak, lalu menolehkan kepalanya ke atas.

Eng ing eng~

Tebak siapa disana?

"... Mau apa kau kesini?" Ujar Claire ketus, sambil memalingkan wajahnya. Dia masih tetap berguling-guling, tanpa memedulikan kehadiran orang yang sedang menatapnya itu.

"Memastikan bahwa pesuruhku sudah bekerja dengan baik, setelah dia telah merusak pakaian milik majikannya. Tetapi, coba dengar apa yang kulihat? ... Ternyata dia hanyalah seorang bocah tidak bertanggung jawab, yang sibuk mengotori tubuhnya yang sudah kotor."

Pik

Urat Claire mulai keluar. Tapi dia tidak peduli. Dia tetap terdiam di dalam posisi meringkuknya.

"... Terima kasih, pak tua. Sungguh baik sekali anda meluangkan waktu luang anda yang saya tau sangat sedikit itu, untuk melihat pesuruh anda yang tidak bertanggung jawab ini!" Claire menekankan suaranya pada kata 'pak tua' dan 'pesuruh'.

"... Ya, sama-sama." Jawab Dokter santai.

Grep!

Dengan segenap kekuatannya yang tersisa, Claire berusaha menahan tangannya yang sudah gatal untuk mencakar, mencubit, memukul, serta memeloroti celana manusia muka datar yang satu ini.

...

Oke, mungkin pilihan yang terakhir tadi agak sedikit 'ekstrim'.

Claire mencoba menarik nafasnya. Lalu menghembuskannya. Dia berpikir. Ya, dalam posisinya yang sungguh-sangat-tidak-enak-dilihat ini, dia berusaha berpikir keras. Awal mula Elli bersikap aneh adalah sejak tadi pagi. Atau semalam? Mm... Elli sudah terlelap lebih dulu, sehingga Claire tidak tau apakah Elli sudah marah padanya atau belum pada saat itu.

"..."

Suasana pun hening. Claire tidak tau apa yang sedang Dokter lakukan saat ini, masih menatap dirinya atau sudah pergi. Karena saat ini Claire masih membelakangi Dokter. Untuk apa sih, si muka aspal itu datang kesini? Meminta pertanggung-jawaban atas rusaknya pakaiannya? Cih, dasar berlebihan.

...

...

Heh?

Tunggu sebentar.

Kalau dipikir-pikir... Saat dimana Claire menempelkan aplikasi pada jas Dokter, adalah saat yang sama, dimana Elli juga marah padanya. Masa sih, Elli marah padanya karena dia merusak jas Dokter? Tapi... Memang benar sih Elli suka pada Dokter...

Claire mengintip ke arah belakang, dan ya... Dia bisa melihat Dokter sedang berdiri, melihat ikan di pinggir sungai.

... Atau jangan-jangan...

Set!

Glinding-glinding-glinding!

Claire berguling ke arah Dokter, dan segera menarik jasnya. Dokter pun terhentak karena kaget. Dia segera menarik kembali jasnya, yang masih terus ditarik oleh Claire.

"Apa yang kau lakukan?! Kau mau merobeknya lagi?" Bentak Dokter. Tapi Claire masih terdiam, menatap jas Dokter. Perlahan ia pun berdiri, dan menarik jas itu lagi.

"... Katakan padaku... DARI MANA JAS INI KAU DAPAT, HAH?!" Claire mulai mengganas. Tetapi jangan salah, Dokter tidak semudah itu mengalah.

"Untuk apa kau tau? Itu bukan urusanmu!" Dokter berusaha melepaskan tangan Claire, yang masih terus mengenggam jas Dokter, dengan tangan penuh tanahnya itu.

"AKU PERLU TAU! KATAKAN, APA KAU MENDAPATNYA DARI ELLI?!" Claire terus menarik jas Dokter.

"Hah? Apa yang kau katakan?" Dokter terus berusaha melepaskan tangan Claire.

"JANGAN BANYAK TANYA! JAWAB SAJA!"

"Dari siapapun jas ini, bukan urusanmu. Lepaskan."

"TIDAK! JAWAB DULU PERTANYAANKU!"

"Lepas!"

"TIDAK!"

"Lepas!"

"TIDAAAKKK!"

Syuut

Claire merasa kakinya licin. Tanpa sadar tubuhnya pun terdorong ke depan, menabrak tubuh Dokter, dan...

BYUUUUUURRRRR

"..."

Dokter menghela nafas.

Dia pun mengangkat rambutnya yang telah basah ke atas, sambil menatap Claire yang ada di depannya, yang juga telah basah kuyup, dan masih terus menggengam jas milik Dokter.

"... Puas kau membuatku jatuh berkali-kali ke dalam sungai ini?"

"..." Claire hanya terdiam, menundukkan kepalanya, sambil terus mengenggam jas Dokter.

"Lepaska.."

"Elli marah padaku."

Belum selesai Dokter protes, Claire sudah mendahuluinya. Dia pun lanjut berbicara, sambil mempererat genggamannya pada jas Dokter.

"Ini pertama kalinya, dalam enam tahun... Elli mengacuhkanku. Setiap aku menyapanya, Elli pasti selalu tersenyum, lalu menyapaku balik. Tapi... Kali ini... Kali ini..."

Terbayang di benak Claire bagaimana Elli mengacuhkannya begitu saja, tanpa melihat matanya.

Perlahan, air mata mulai menetes dari kelopak mata Claire. Dia pun melepaskan tangannya dari jas Dokter, dan sibuk menghapus air matanya.

"Aku... Aku tidak tau kenapa Elli tiba-tiba berlaku seperti itu... Aku bingung... Hik... Hik..." Claire berhenti berbicara sesaat untuk mengatur napasnya. Kemudian, dia mulai berbicara lagi.

"Dia adalah orang yang telah menolongku, dia lebih dari sekedar berhaga bagiku... Dia adalah penyelamatku... Dan sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri... Kalau sampai dia membenciku... Aku... Aku..."

PLAAKKKK!

...

Dingin.

Basah.

Berat.

Gelap.

Itulah yang Claire rasakan saat ini.

Sedangkal inikah hatimu, Dokter?

Ada orang yang sedang putus asa di depanmu, sedang menangis, sedang mencurahkan hatinya... Dan yang kau lakukan... Adalah melemparkannya sebuah benda basah, berat, yang entah apa ini, tepat di depan wajahnya?

... Ternyata bukan hanya mukamu saja yang datar, Dok. Hatimu juga.

Claire pun mengangkat benda yang tiba-tiba terlempar ke wajahnya tadi, yang ternyata adalah jas milik Dokter yang sudah basah dan berat karena menyerap air. Kemudian, dia menatap Dokter yang kini, sudah berada di pinggir sungai, sedang memeras bagian bawah celananya yang basah.

"Jas itu hadiah dari ibuku." Ujarnya singkat, lalu memalingkan wajahnya. Kembali sibuk dengan kegiatannya yang belum dia tuntaskan.

"I-ibu...?" Claire terdiam sambil melihat jas milik Dokter. Berarti bukan Elli yang memberikannya. Jadi, bukan ini penyebab Elli marah padanya. Lalu apa?

"AHHH PUSINGGG!"

Cpyuk! Pyuk! Pyuk!

Claire berjalan menuju pinggir sungai, untuk segera kembali ke daratan.

"... Kadang aku bingung dengan perempuan."

"Heh?" Claire menoleh ke arah Dokter, yang saat ini sedang menatap air terjun dewi.

"Untuk apa memikirkannya terlalu jauh? Kalau bertengkar, ya tinggal tanyakan saja kenapa dia marah, dan minta maaf. Bukankah anak TK juga mempelajarinya?"

Kali ini kaki Claire yang gatal untuk menendang bokong orang yang satu ini. Betapa mudahnya dia bicara dengan nada 'songong' ala-nya, yang Claire sangat benci itu.

"Heh, om bermuka aspal. Mudah sekali kau bica..."

"Kau sendiri yang bilang kan? Sudah enam tahun kau menjalin hubungan dengan penyelamatmu itu. Apa enam tahun itu kurang cukup bagi kalian, untuk saling memaafkan satu sama lain?"

Claire terdiam. Dia tidak berniat melanjutkan perkataannya yang telah terpotong tadi. Dan kalau boleh jujur, dia terpana pada perkataan Dokter barusan.

... Sial, ternyata om satu ini bisa bijak juga.

"... Kau benar." Claire menundukkan kepalanya. Dia masih menggenggam jas Dokter, yang kini sudah basah dan sedikit kotor berkat tanah di tangannya. Dia mulai merasa bersalah. Pasti jas ini berharga bagi Dokter. Sejak awal, dialah orang yang sudah menghancurkan barang berharga ini. Setelah beberapa menit terdiam, Claire pun mulai mengangkat kepalanya.

"Mmm... Maaf ya... Soal jasmu. Pasti jas ini berharga ba... Gi... Mu...?"

Claire plengo.

Plengo.

Plengo.

Saat ini di depan matanya, Dokter sudah bertelanjang dada, sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Ternyata dugaan Claire tentang Dokter selama ini salah besar. Tubuh Dokter sama sekali tidak terlihat lemah, malah bisa dibilang... Gagah. Claire bisa melihat ada sedikit otot terbentuk di kedua lengan Dokter. Rambut Dokter yang selama ini Claire sangka 'pasti-tidak-pernah-dikeramas-selama-seminggu' itu terlihat begitu halus dan bercahaya di mata Claire, didukung oleh sinar matahari siang yang sangat cerah ini. Tanpa sadar Claire sudah cukup lama menatapnya, hingga, kedua mata mereka pun bertatapan.

Deg!

Tidak.

Deg!

Gawat.

Ada sesuatu yang aneh di dalam diri Claire.

Deg!

Wajah Dokter yang saat ini dia lihat, bukanlah wajah muka aspal super datar ala Dokter yang selama ini dia kenal.

Deg!

Kali ini, Dokter terlihat begitu bercahaya.

Deg! Deg!

Tidak.

Deg! Deg! Deg! Deg!

Tidak.

Kalau begini terus...

Claire... Claire...

Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!

CLAIRE TIDAK SANGGUP MELIHATNYA!

"GAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!"

PLAAAAKKKK!

Dengan tangan bergetar, dan penuh kekuatan, Claire melempar jas yang ada di tangannya, tepat ke arah wajah Dokter.

...

Pluk.

Jas itu pun mendarat ke tanah, untuk kesekian kalinya.

Kini, wajah Dokter telah kembali ke 'semula'. Alisnya kembali menyatu dan berkerut, matanya kembali menyipit, dan cahaya matahari yang sebelumnya membuatnya terlihat berkilau, kini hanya membuat mukanya yang telah 'ber-cap merah' akibat lemparan jas tadi, semakin ter-ekspos jelas.

... Melihat hal itu, Claire bernapas lega.

"Syukurlah..."

Nyeeekkk!

Dokter mencubit Claire dengan sangat keras.

"Apanya yang syukurlah, hah...? Padahal barusan kau sendiri yang bilang jas ini berharga... Lihat apa yang kau lakukan." Ujar Dokter dengan nada penuh amarah, yang tidak bisa Claire deskripsikan.

"Ma-hab khan akhu!" Ujar Claire, berusaha bicara sementara Dokter masih terus mencubitnya. Claire pun melepaskan tangan Dokter dari pipinya.

"H-habis! Kau tiba-tiba buka baju begitu... K-kan aku... A-aku... AKU KAGET!" Teriak Claire. Dia bisa merasakan mukanya memerah. Dokter hanya menatapnya datar.

"... Bocah mesum."

Tanpa membuang-buang waktu, Claire segera mengambil jas Dokter yang masih terkapar di tanah, lalu melemparkannya lagi ke arah Dokter dengan menggunakan tenaga maksimal. Tentu saja tujuannya untuk membuat cap kedua di wajah Dokter.

"APA MAKSUDMU MESUM HAH!? Kau yang mesum, om! Sana! Urus pasien di klinik!" Sayangnya, Dokter dengan mudahnya menangkap jas itu dengan satu tangan.

"Di klinik sudah tidak ada pasien yang akan datang lagi." Tidak puas, Claire pun mendecak dan berusaha merebut jas itu kembali dari Dokter.

"Darimana kau tau?! Memangnya kau manusia apa bisa seenaknya memutuskan seperti itu!?"

"Aku tau, karena aku sudah lama bekerja disini. Sekarang, ada hal yang lebih penting. Aku membutuhkan banyak rumput obat, karena persediaanku sudah habis. Dan karena pesuruhku tidak juga datang membawa rumput obat yang seharusnya dia bawa ke klinik siang ini, akhirnya aku memutuskan untuk pergi melihatnya. Tapi ternyata..." Dokter menatap Claire.

"A-apa?" Claire terdiam. Entah kenapa dia tiba-tiba merasakan firasat buruk.

"Pesuruhku sama sekali tidak bekerja dengan baik. Ikut aku. Tugasmu masih banyak."

"Ha-ah?! Kau menyuruhku mencari rumput obat dengan pakaian basah begini?"

"Salahmu sendiri kan pakaianmu basah? Atau kau lebih memilih untuk melepasnya seperti yang kulakukan?" Muka Claire langsung memerah seketika.

"Mesum! Om-om mesum!"

"Hei, bocah. Yang mesum itu bukan aku, tapi otakmu." Ujar Dokter sambil berjalan melewatinya, ke arah gunung. Sementara Claire, mau tidak mau pun mengikutinya, sambil cemberut.

"Memangnya kenapa sih kita harus terburu-buru? Setidaknya kita bisa berganti pakaian dulu..." Gumam Claire.

"... Jeff sudah menunggu obatnya."

"Heh?" Claire mempercepat langkahnya, agar dia bisa lebih dekat dengan Dokter dan mendengar suaranya lebih jelas.

"Seorang Dokter yang baik, tidak boleh membiarkan pasiennya menunggu terlalu lama."

Lagi-lagi Claire terdiam dan terpana mendengar ucapan om satu ini. Entah perasaannya saja atau tidak, tapi akhir-akhir ini Dokter mulai terlihat berbeda di mata Claire. Manusia yang awalnya Claire pandang kejam, tidak berperasaan, dan bermuka datar ini, perlahan terlihat memiliki sosok yang lembut di mata Claire. Entah kenapa sosok seorang 'dokter' milik Dokter, baru terlihat di mata Claire saat ini. Mungkinkah Dokter memang berubah? Atau... Mungkinkah... Claire yang baru mengenal karakter Dokter yang sebenarnya?

"... Walau kau 'tukang ngutang', tapi kau ini punya sisi baik juga ya..." Gumam Claire, sambil tertawa kecil, meledek.

"... Setelah ini kau boleh melakukan apa pun yang kau mau." Dokter tampaknya tidak mempedulikan tanggapan Claire.

"Eh? Benarkah?" Claire nampak tidak percaya. Manusia yang selalu menguras habis tenaganya ini, ternyata bisa juga memberikan kebebasan padanya? Wow. Ini bukan mimpi kan?

"Ya, termasuk mengurusi urusanmu yang belum selesai itu." Mendengarnya, Claire terdiam dan menghentikan langkahnya.

"Tapi, itu tergantung hasil yang kau dapatkan hari ini. Kalau kau memang serius, buktikan dan selesaikan pekerjaanmu hari ini dengan baik. Baru kau selesaikan urusanmu itu." Ujar Dokter, sambil terus melangkah, meninggalkan Claire dibelakangnya yang sedang terdiam, menatap punggungnya.

Sambil tersenyum, Claire pun bersuara dengan lantang,

"Kau pikir aku ini siapa? Aku ini Claire. Jangan kaget kalau aku menyelesaikan pekerjaanku dengan sempurna hari ini ya, Pak Dokter!"

Kemudian, Claire pun berlari menyusul Dokter, sambil mengepalkan tangannya erat-erat.

-oOo-

Tap tap tap tap

"..."

Tap tap tap tap

"... Bagaimana ini...?"

Sudah sejak lima belas menit yang lalu, Elli terus berjalan mengitari ruangan di klinik, sambil menggigit jarinya. Saat ini dia menyesal. Sangat-sangat menyesal.

"Bodohnya aku... Sekarang aku harus bagaimana jika nanti berhadapan dengan Claire? Bertingkah seakan-akan tidak terjadi apa-apa? Atau... Ahhh!"

Bugh!

Elli duduk di kursi meja resepsionis. Dia menghela nafasnya.

...

Sekarang dia harus apa?

"Hah... Bodohnya aku..."

Elli termenung. Dia kesal pada Claire, hanya karena dia cemburu. Claire pasti kaget sekali. Dia dan Claire memang pernah bertengkar sebelumnya, namun itu lebih dikategorikan berdebat. Bukan bertengkar. Baru kali inilah, Elli benar-benar mengacuhkan Claire seperti itu.

"..."

Creekkk!

Elli dikagetkan oleh suara pintu yang tiba-tiba terbuka. Tak lama, masuklah dua sosok yang Elli sangat kenal, dengan tubuh basah kuyup, sambil membawa banyak tanaman obat. Pakaian mereka berdua sangat kotor. Terutama Dokter, karena pakaiannya berwarna serba putih.

"K-kalian kenapa?!"

Khawatir, Elli segera berlari mengambil handuk, lalu menyerahkannya pada Dokter terlebih dahulu.

"A-anda tidak apa-apa, Dokter?"

"... Lebih baik kau urus dia dulu saja." Dokter mengarahkan telunjuknya pada sosok dibaliknya, lalu dia pergi ke lantai dua klinik. Meninggalkan mereka berdua, dalam keheningan.

...

"K-kamu tidak apa-apa Claire?" Elli sebisa mungkin berusaha bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa. Lalu dia membuka handuk yang dia bawa, dan meletakkan handuk itu di atas kepala Claire. Claire pun menundukkan kepalanya, dan mulai bergumam dengan suara yang sangat kecil, sampai Elli tidak terlalu jelas mendengarnya.

"... Maaf..."

"Eh?"

Grep!

Claire segera mencengkram tangan Elli, kemudian dia menatap Elli tajam-tajam.

"ELLI MAAFKAN AKU! AKU TIDAK TAU DOSA APA YANG SUDAH KUPERBUAT TAPI... TAPI... AKU MINTA MAAF! AKU TIDAK MENYADARI SAMA SEKALI KALAU AKU BERBUAT SALAH SEHINGGA MEMBUATMU MARAH! TAPI AKU SUDAH MEMIKIRKANNYA TADI! AKU BARU INGAT KESALAHANKU! AKU... AKU... AKU LUPA MEMBERESKAN KASURKU TADI PAGI, LUPA MENYETRIKA BAJUKU SEJAK TIGA HARI YANG LALU, TIDAK MEMAKAN SARAPANKU TADI PAGI, BAHKAN TIDAK MEMBANTUMU MEMBERESKAN PIRINGKU! MAAF!"

...

Elli plengo.

Pikirannya kosong.

Dia pun mengedip-ngedipkan matanya.

"Pfht... Ahahahahaha!"

Ajaib.

Elli tidak bisa berhenti tertawa.

Semua kekhawatirannya hilang seketika, saat dia melihat wajah polos penuh rasa bersalah milik Claire. Entah kenapa, dia merasa sangat lega saat ini. Benar-benar lega. Sampai dia hampir kehilangan akalnya. Apa yang membuatnya bisa cemburu dan menyalahkan semuanya kepada Claire? Kepada adik perempuan super lucu-nya ini?

"E-Elli?" Claire yang panik, hanya terdiam saja menunggu respon Elli.

"Ma-maaf... Hahaha... Hah..." Elli menarik napasnya. Bersiap untuk melanjutkan perkataannya barusan.

"... Tidak. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Claire. Dan aku tidak marah padamu." Kini, gantian Claire yang plengo. Dia mengedip-ngedipkan matanya. Elli jadi ingin tertawa lagi melihat ekspresi Claire saat ini.

"Ta-tapi... Ta-tadi pagi..."

"Ah... Itu ya..."

Aku cemburu padamu!

Tidak mungkin kan, Elli akan berkata begitu?

Elli pun menarik napasnya, dan menatap Claire lekat-lekat.

"Maaf ya, aku terlalu asik memikirkan sesuatu, hingga aku tidak memperhatikan sekelilingku."

"Eh? Memikirkan apa?" Tanya Claire bingung.

"Aku terlalu asik memikirkan adik perempuanku yang lucu ini. Saking asiknya, aku tidak sadar dia ada di depanku." Ujar Elli sambil mencubit pelan, ujung hidung Claire yang penuh tanah.

"E-eh...?" Claire menatap Elli tidak percaya. Tapi, Elli hanya membalasnya dengan senyuman.

"Sudah. Sekarang kamu mandi dulu, sana! Bau nih!" Ledek Elli. Claire pun mencibir, sambil tersenyum senang. Elli bisa melihat rona kemerahan di pipi Claire.

"Dasar... Kakak bawel. Hehe."

Kemudian Claire segera berlari menuju lantai dua, untuk mengambil pakaian gantinya. Elli menghela napasnya. Dia puas dengan tindakan yang barusan dia telah lakukan. Ya, begini lebih baik. Kau telah memilih pilihan yang tepat, Elli.

Elli pun memejamkan matanya sesaat. Termenung di dalam pikirannya.

"..."

Kreek.

"Mmm? Dokter? Anda mau pergi kemana?"

"Ah, aku... Ingin keluar sebentar."

"Eh? Tapi Jeff bilang dia akan ke klinik sebentar lagi, kan? Apa tidak apa-apa?"

"Oh, dia hanya ingin membeli obat kok. Katakan padanya untuk menunggu sebentar."

"... Dokter... Ingin pergi ke gunung?"

"Ya... Kurasa."

"... Ingin mencari tanaman obat?"

"Mmm? Bagaimana kau tau?"

"Tentu saja aku tau, untuk obat Jeff kan?"

"Ya, begitulah. Aku kehabisan beberapa rumput obat."

"... Apa Dokter perlu bantuan? Aku... Bisa membantu... Jika Dokter mau..."

"Ah... Tidak usah. Lagipula aku sudah terbiasa melakukannya sendiri."

"Tapi... Aku..."

"Tenang saja. Aku titip klinik ya, Elli."

Cklek.

...

Sendiri... Ya?

Tetapi kenyataannya bukan begitu kan, Dokter?

Elli pun membuka matanya perlahan. Tak lama, Claire dan Dokter turun bersamaan dan bertengkar di tangga. Kelihatannya mereka sedang memperebutkan kamar mandi. Kemudian Elli pun menatap mereka, bergantian. Claire yang menyadari tatapan Elli, langsung berlari ke arahnya.

"Elli, Elli! Coba dengar! Bisa-bisanya si muka aspal ini, mengelapkan rempah-rempah rotinya ke kepalaku tadi pagi! Dan alasannya, hanya karena kepalaku pas untuk digunakan olehnya! Keterlaluan kan?!" Claire berteriak sambil menunjuk ke arah kepalanya. Sementara Elli, hanya mengedipkan matanya, berusaha mencerna perkataan Claire.

"... Aku mandi duluan." Dokter dengan santainya, berjalan masuk menuju kamar mandi.

Cklek.

Lalu mengunci kamar mandinya.

"AAH! HEI! PERNAHKAH KAU BELAJAR TATA KRAMA?! Ladies first!"

DOK DOK DOK!

Claire menggedor pintu kamar mandi dengan sangat keras, tetapi pintu itu sama sekali tidak terbuka.

Elli hanya menatap mereka. Dia tidak tau apakah dia harus merasa lega, senang, atau khawatir. Dia hanya terdiam, di tempat dia berdiri.

"Elli..." Claire yang sudah kehilangan tenaga pun, kemudian berlutut sambil menatap Elli dengan pasrah.

"Jangan khawatir, Dokter mandinya tidak lama, kok."

"Uh... Tapi kan... Tetap saja... Aku kesal!"

Elli hanya tersenyum kecil dan mendekatinya. Lalu menatapnya dan tertegun sesaat.

Mungkinkah... Claire... Akan...?

"Oh iya, Elli!" Teriakan Claire membuyarkan lamunan Elli. Claire pun mengambil salah satu tangan Elli, menggenggamnya, lalu meletakkan sesuatu di atasnya, sambil tertawa kecil.

"Mmm? Apa ini?" Elli membuka telapak tangannya, dan melihat sebuah semanggi berdaun empat, ada disana. Elli pun mengangkat kepalanya, dan menatap Claire yang sudah tersenyum bangga.

"Jimat. Buat kamu, Elli!"

Elli menatap kembali semanggi berdaun empat itu. Sejak kecil, neneknya sudah berpuluh-puluh kali menceritakan tentang bermacam-macam mitos mengenai tumbuhan. Mulai dari bunga yang hanya muncul di musim dingin, hingga yang satu ini. Semanggi berdaun empat. Pembawa kebahagiaan. Tidak mudah untuk menemukannya begitu saja, karena yang berdaun empat sangatlah jarang. Tapi... Kini benda itu berada di telapak tangan Elli. Tanpa sadar, Elli pun tersenyum dengan sendirinya.

"Hehe..."

Claire menatap Elli heran.

"Elli?"

Dokter, adalah orang yang bersikap dingin, dan terlihat kaku.

Claire, adalah orang yang selalu bersemangat dan ceria.

Elli sangat menyayangi mereka berdua.

Tidak peduli apapun yang terjadi,

Rasa sayang Elli kepada mereka tidak akan pernah berubah.

"... Terima kasih. Aku benar-benar gembira." Ujar Elli, dari lubuk hatinya yang paling dalam, sambil mencium semanggi itu. Claire pun tersenyum mendengarnya.

"Syukurlah! Hehehe!"

"Hei... Claire."

"Hmm?"

"... Apa kau..."

Ckrek!

"Aku sudah selesai."

"CEPATNYA! Kau... Benar-benar mandi kan? Sudah pakai sabun?" Tanya Claire dengan tatapan meragukan. Dokter pun mendecak, dan menurunkan salah satu alisnya.

"... Kurang ajar." Jawab Dokter singkat, sambil menyentil dahi Claire dengan sangat kencang.

Jtuk!

"AW! Hei!"

Dokter pun langsung berjalan begitu saja, meninggalkan Elli yang masih terdiam, dan Claire yang masih sibuk ber-protes ria.

"PAYAH, TIDAK JANTAN, KEJAM, KASAR, DASAR OM MUKA ASPAL, NYEBELIN! SEMOGA KAU BOTAK SAAT TUA NANTI! ... Ah! Oh iya. Tadi kau mau bicara apa, Elli?" Tanya Claire, sambil menyudahi sumpah serapahnya kepada Dokter, karena tenggorokannya mulai kering.

"Oh?" Elli tersadar dari lamunannya. Dia memejamkan matanya sebentar, kemudian membuka matanya dan tersenyum.

"Apa kau..." Elli terdiam sebentar."... Keberatan kalau malam ini membantuku menyiapkan makan malam?"

"SANGAT TIDAK KEBERATAN!" Claire langsung menggenggam tangan Elli, lalu mengayun-ayunkannya ke atas dan ke bawah. Membuat tubuh Elli sedikit terjungkal ke depan.

"Kalau begitu aku mandi dulu ya!"

Cklek.

Baru saja Claire menutup pintu kamar mandinya,

"Ah, Claire!"

...

Cklek.

"Ya?" Claire mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.

"... Aku..." Elli menggenggam semanggi berdaun empatnya, lalu menatap Claire lekat-lekat.

"Aku tidak akan menyerah."

...

Claire mengedip-ngedipkan matanya. Dia tampak kebingungan, tetapi tak lama, dia pun tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

"Oke! Semangat!" Melihat tindakan Claire, Elli pun tertawa kecil.

"... Pfht! Terima kasih. Aku sayang kamu, Claire."

...

Ya,

Apapun yang akan terjadi nantinya

Kau tetaplah sahabatku

Kau tetaplah adik perempuanku yang lucu dan periang

Kau tetaplah orang yang sangat aku sayangi

Selamanya,

Dan tidak akan pernah berubah

...

Tetapi

Maafkan aku

Hal-hal itu tidak akan pernah menjadi pengecualian

Untuk membuatku mengalah padamu,

Claire.

"... Ya. Aku tidak akan menyerah... Claire."

-bersambung- (^o^)/