CIC FANFIC SHARE

.

.

.

-oOo-

.

.

"The Greatest Spirit"

A fanfic by Salasika16

.
.

-oOo-

.
.

Main Cast : Chanyeol x Baekhyun

Category : Boys Love

Genre : Romance, Fantasy, Crime

Length : Chaptered

Rate : M

Summary: Baekhyun berjanji akan membayar berapapun yang Chanyeol minta.

Asalkan laki-laki itu mampu membuatnya hidup kembali.

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

"Tangkap target saja, jika ada orang lain yang menghambat, kau tahu apa yang harus kau lakukan."

"Baik Tuan, eksekusi akan dilakukan pagi ini."

"Terserah, tapi pastikan tidak ada yang melihat."

.

.

.

Ada bau pancake saat Chanyeol keluar dari kamar mandi. Tempat tidurnya juga sudah kosong jadi pasti Baekhyun adalah dalang di balik semua aroma manis ini. Ia menuruni tangga dengan tergesa dan mendapati lelaki kecil itu sedang menuangkan madu. Pemandangan yang indah dan menyejukan mata, betapa Baekhyun dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang berharga di dalam hidupnya.

"Selamat pagi." Sapa Chanyeol.

Beningnya embun di pagi hari mungkin akan kalah dengan kilau dari mata kekasih kecilnya. Baekhyun memberikan senyuman 'selamat pagi, dan mengatakan bahwa ini adalah pertama kali seumur hidupnya, ia memasak panecake. Dia juga menyuruh Chanyeol untuk maklum jika rasanya tidak terlalu enak.

"Mulai jam berapa mata kuliahmu hari ini, Baek?"

"Emm jam sembilan. Masih satu jam lagi."

Ini hari Senin, itu berarti kegiatan di universitas akan berakhir pukul tiga sore. Mereka merencanakan untuk mulai melakukan segala hal bersama-sama. Dimulai dari berangkat sampai pulang. Chanyeol berubah sangat protektive dan merinci apa saja yang harus Baekhyun lakukan jika dia tidak ada di sampingnya.

Semua bukan tanpa alasan. Semalam, saat Baekhyun masih terlelap di pukul empat subuh, Chanyeol terbangun dengan roh Popy yang menggonggong di samping tempat tidurnya. Chanyeol menempatkan anjing kecil itu di pangkuannya dan berusaha menenangkan arwah manis itu tanpa harus membangunkan Baekhyun.

Anjing pudle kecil itu mengajak Chanyeol untuk melihat sesuatu yang ada di balik tirai kamarnya, dan sang pemilik menurut. Tirai itu sedikit disibak dan Chanyeol mengintip menuju pekarangan rumahnya. Di sana terparkir sebuah mobil sedan tua yang entah milik siapa, dan Chanyeol yakin ada seseorang di dalamnya. Perasaannya bertambah buruk karena Popy menggonggong dengan cara yang aneh.

Sedetik kemudian, ia tersadar bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Sebelumnya, tidak pernah ada mobil asing yang parkir di sekitar rumahnya dan bisa jadi, mobil itu ada di sana karena Baekhyun ada di dalam rumahnya.

"Mungkin aku bisa ke minimarket sebentar setelah sarapan karena bahan makanan di kulkas sudah habis."

"Kita lakukan itu bersama setelah kuliah selesai."

"Tidak tidak, aku selalu merasa lelah di hari Senin karena ada kelas berenang di sore hari. Aku bisa belanja sendiri jika kau-"

"Jika aku bilang tidak itu berarti tidak."

Baekhyun meletakan sendok dan garpunya, menatap Chanyeol dengan sorot mata yang sarat akan kemarahan. Ia tidak suka sikap Chanyeol karena dia terbiasa untuk mengatur dan bukannya diatur. Baekhyun si anak kaya yang tidak terlatih untuk menjadi si manis yang penurut.

"Kenapa kau mulai mengaturku?"

Chanyeol adalah tipe kekasih yang peka jika kalian belum tahu. Dia memiliki kekasih yang benar-benar mudah dibaca karena Baekhyun adalah tipe yang akan mengatakan perasaannya dengan jelas lewat ekspresi wajah. Semua akan sangat mudah terbaca jika yang ada di hadapanmu adalah Byun Baekhyun.

"Itu demi kebaikanmu, Baek."

"Aku pikir aku tidak akan baik dengan semua hal yang berbau batasan."

"Jangan merusak suasana pagi, lanjutkan sarapanmu dan mari bersiap. Kita harus berangkat sekitar empat puluh menit lagi."

"Jangan memerintahku seenak kepalamu."

"Baekhyun-"

"Beberapa jam yang lalu kau begitu manis dan tiba-tiba kau berubah. Apa panecake buatanku terasa sangat buruk untukmu? Aku memang tidak menambahkan perasa vanila, itu karena kita tidak punya. Aku hanya ingin pergi belanja agar masakanku lebih enak jadi aku bisa membuatmu senang tapi kenapa kau, berubah sangat menyebalkan!"

Melihat kekasihnya menjadi kacau hanya dengan larangan untuk belanja sendirian membuatnya pusing. Ia memiliki sebuah alasan yang masuk akal namun itu hanya akan membebani pacarnya dengan ketakutan. Chanyeol beranjak duduk di samping Baekhyun dan menarik dagu itu agar sudi menatapnya.

"Hey Sweety Pie, dengarkan aku dulu. Semalam aku melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumah. Aku melihat seseorang di dalamnya dan itu pukul empat subuh. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya, Baek. Mungkin seseorang telah mengetahui keberadaanmu di sini."

"Aku hanya ingin melindungimu."

.

.

.

Beruntung pertengkaran sepele tadi pagi bisa Chanyeol redam dengan cepat. Baekhyun mulai menerima kenyataan kalau hidupnya sedang dipenuhi dengan ancaman jadi menuruti apa kata kekasihnya adalah jalan terbaik. Mereka berlari memasuki mobil Baekhyun dengan tergesa karena si mungil masih dirundung ketakutan oleh bayang-bayang penembak jitu.

Chanyeol berkata bahwa dia akan menyewa beberapa anggota keamanan untuk mengawasi lingkungan rumahnya, jadi Baekhyun bisa bernafas sedikit lebih lega. Mereka dalam perjalanan menuju Sunkyunkwan saat tiba-tiba ponsel Chanyeol berdering. Ada nama ayahnya di layar.

"Ya ayah?"

"Ini tentang perusahaan keamanan yang kau minta. Ayah sudah menghubungi pihak Seolshin Secure dan mereka akan mengirimkan lima orang petugas ke rumah nanti siang."

"Terimakasih banyak. Aku berhutang beberapa ronde mahjong."

"Hahaha itu tidak perlu. Yang terpenting adalah keselamatanmu, nak. Tapi sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kau membuat ayah takut."

"Aah jadi begini, anak ayah ini sangat tampan dan populer, aku memiliki banyak sasaeng fans jika ayah belum tahu."

"Ya! anak ini benar-benar!"

"Sudah dulu ayah! Aku sedang menyetir."

"Ya, hati-hati."

Sambungan diputus lalu tangan besar itu meraih tengan yang lebih kecil, meremasnya dalam rasa senang dan Baekhyun langsung tenggelam rasa takjub. Chanyeol baru saja memperlihatkan tentang sesuatu yang tidak pernah Baekhyun rasakan menyangkut tentang hubungan antara anak dan ayah. Keluarga Park mungkin memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh keluarganya karena seingatnya, Tuan Byun tidak pernah melakukan sesuatu demi keselamatan Baekhyun.

"Ayahmu keren."

"Yeah, dia orang yang menyenangkan."

"Ya, aku harap aku punya satu yang seperti ayahmu."

"Aku beritahu, ayahku juga ayahmu, Baekhyun. Aku akan mempertemukan kalian dalam waktu dekat. Dia pasti menyukaimu dalam sekali pandang."

"Itu pasti akan sangat menyenangkan."

Tiba-tiba jalanan berubah sempit. Ada dua mobil yang melaju di sebelah kanan dan kiri mobil mereka dengan kecepatan yang cukup tinggi. Mobil itu menggiring mobil Chanyeol menuju sebuah jalan yang lebih sepi dan jauh dari keramaian kota. Mereka melaju dalam rasa panik dan perasaan takut. Tiba-tiba Chanyeol menemukan sebuah jalan memotong menuju jalan tol, jadi dia menginjak gas dengan dalam. Berteriak agar Baekhyun berpegangan dan lengan Chanyeol-lah yang dia raih.

Dua mobil yang lain terus mengejar dan Chanyeol membanting setir ke kanan, menuju jalan pintas yang hanya bisa dilalui satu mobil saja. Naas, mobil mereka dihantam dengan sengaja oleh mobil asing yang ada di sebelah kanan dan itu menimbulkan benturan yang sangat keras. Mobil yang dikendari Chanyeol berguling dan berhenti saat menabrak sebuah pohon.

Baekhyun merasakan ada aliran darah dari kepalanya saat ia berusaha membuka mata. Lelaki mungil itu mendapati Chanyeol sudah tidak sadarkan diri di depan kemudi, dengan wajah yang dilumuri darah. Matanya berpendar melihat keadaan sekitar, menangkap firasat buruk karena beberapa orang berjas keluar dari salah satu mobil dan menghampiri mereka.

"Chanyeol bangun! Chanyeol!"

Ini tidak akan berhasil. Kekasihnya mendapat luka yang hebat dan dia harus segera mendapatkan pertolongan. Orang-orang itu berdatangan dengan begitu angkuh, salah satu dari mereka membuka pintu dengan paksa dan menyeret Baekhyun keluar.

"Lepaskan aku, brengsek gila!"

"Kami tidak akan menyakitimu jika kau bisa bersikap baik."

Baekhyun hampir kehilangan kesadarannya saat tiba-tiba dia melihat tubuh Chanyeol keluar dari mobil dengan sempoyongan. Kekasihnya berjalan seperti zombie menuju ke arahnya dengan darah yang terus mengalir dari pelipis. Orang-orang itu dengan sigap memasukan Baekhyun ke dalam mobil dan melesat pergi. Meninggalkan Chanyeol yang terlihat sudah sangat sekarat.

Ada rasa takut yang membuncah saat mobil berjalan semakin jauh dan rasa nekat memenuhi kepala Baekhyun. Dia bergerak sekenanya, memukuli semua orang yang ada di dalam mobil dan mencekik sang supir sambil menggigit daun telinganya. Mobil itu bergerak dengan sembarangan dan berhenti dengan keras saat menabrak trotoar pembatas jalan.

Ini belum terlalu jauh dari tempat dimana Chanyeol berada, jadi Baekhyun dengan susah payah meraih pintu mobil dan berguling keluar. Orang-orang berjas yang menculiknya dalam keadaan pingsan jadi itu memberinya sedikit waktu untuk melarikan diri.

Kaki-kaki kecil itu berjalan dengan susah payah. Mengabaikan rasa sakit yang menggigiti seluruh tubuh seraya berdoa dalam hati agar Chanyeol segera datang menyusulnya. Beberapa langkah terlampaui dan dari kejauhan mata kecil berbalut darah itu melihat mobil yang dia kenal berjalan menuju ke arahnya. Chanyeol ada di belakang kursi kemudi dan itu meledakkan rasa lega yang luar biasa.

Tinggal beberapa saat lagi sampai Chanyeol tiba, namun Baekhyun tidak pernah menyadari bahwa bahaya bisa datang dari mana saja. Kapan saja. Dan dari siapa saja. Tubuhnya diterjang oleh sebuah mobil van putih dengan cukup keras dan hal terakhir yang bisa dia lihat adalah wajah Chanyeol yang hancur oleh tangis.

.

.

.

Rumah sakit Myungsei adalah yang paling dekat dan mereka memiliki unit gawat darurat yang mumpuni. Beberapa petugas lalu lalang memasuki ruangan dimana Baekhyun dirawat dan Chanyeol hanya bisa melihatnya dari balik kaca yang terpasang di pintu. Luka di kepalanya sudah mendapat pertolongan dan dia bersikeras untuk pergi ke ruangan dimana kekasihnya sedang ditangani.

Memasuki satu jam pertama dan masih belum ada tanda-tanda kabar yang jelas mengenai kondisi Baekhyun. Dokter yang sedang menanganinya terlihat masih kelabakan dari luar dan itu semakin membuat Chanyeol putus asa. Saat suasana hatinya berada di ujung kekacauan, Sehun datang dan merangkulnya penuh simpati. Dia menuntun Chanyeol untuk duduk di tempat yang lebih layak daripada di lantai lalu bertanya tentang hal apa yang telah menimpa mereka.

Semua alur kejadian diceritakan tanpa ada kurang dan satu-satunya dalang yang patut mereka curigai saat ini adalah Kris. Sebuah keputusan yang tepat karena Chanyeol belum menghubungi pihak keluarga Byun.

"Mereka bisa melacak dimana Baekhyun dirawat, Park."

"Aku mengakui Baekhyun sebagai korban tabrak lari dan tidak mengenalinya sama sekali. Mereka akan menghubungi keluarga korban saat dia sudah sadar, jadi untuk saat ini aku adalah penjaminnya."

"Kalau begitu dia aman."

"Ya, hanya sampai beberapa jam kedepan."

"Apa maksutmu?"

"Ayah Baekhyun adalah pemilik BY Technocom, seluruh produknya tersebar di Korea. Kris pasti mendapat laporan dari anak buahnya tentang apa yang telah terjadi dan dengan semua aset perusahaan besar Byun, dia bisa menemukan Baekhyun dengan sangat mudah."

Dunia terasa berputar dengan titik rotasinya berada di kepala. Chanyeol terus memaksa otaknya untuk menemukan bagaimana cara agar dia bisa menyembunyikan Baekhyun dari Kris. Lelaki itu memiliki kekuatan dan fasilitas yang besar. Meskipun secara tekhnis seharusnya Baekhyun yang berada di posisi itu, tapi Kris memiliki sesuatu yang mampu membuat Tuan Byun lebih memilihnya.

Ambisi

"Siapa kerabat pasien?" Seorang dokter keluar dari unit gawat darurat. Chanyeol bangkit dan menyerbunya seperti semut mengerubungi gula.

"Saya penjamin pasien, dokter. Bagaimana keadaannya?"

"Penjamin? Kalau begitu kita harus segera menghubungi kerabat pasien agar mereka segera tahu tentang kondisinya."

Suatu kesalahan saat Chanyeol mengaku bahwa dia tidak mengenali Baekhyun dan berakhir menjadi penjaminnya, karena itu berarti dia tidak berhak mengetahui kondisi pasien. Prosedur sialan.

"Saya kerabatnya, Dokter."

Sehun bangkit dan menunjukan layar ponsel yang menampilkan fotonya, Baekhyun dan Luhan yang sedang merayakan thanks giving semalam. Dokter itu mengangguk dan mengajaknya untuk mengambil sebuah ruang kosong yang berada agak jauh dari Chanyeol.

Mereka berdua berbincang dalam suasana yang serius. Sehun mengusap wajahnya dan beberapa kali mengangguk lemah, Chanyeol berhasil dibuat putus asa hanya dengan melihat setiap gerak-gerik temannya itu. Sepuluh menit yang menguras tenaga sudah lewat, Sehun kembali dengan wajah yang terlihat begitu berat untuk diperlihatkan dan itu sudah cukup menggambarkan tentang apa yang akan dia sampaikan.

"Baekhyun dalam masa kritis dan akan berada dalam kondisi tidak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama."

Semua tiba-tiba terasa seperti de javu...

.

.

.

Lima orang anggota keamanan dari Seolshin Secure datang ke rumah sakit Myungsei dan mendapat perintah bahwa apa yang harus mereka jaga ada di dalam ruang ICU di hadapan mereka. Chanyeol mengganti tempat tujuan dari kediaman Park menjadi ruang rawat Baekhyun tanpa sepengetahuan ayahnya.

Chanyeol memberi mandat bahwa orang yang boleh memasuki ruangan Baekhyun hanya dia dan Sehun, juga Luhan yang mungkin beberapa jam lagi akan datang.

Mereka beruda pergi dengan menggunakan mobil Sehun yang melaju dengan kecepatan tinggi lagi berantakan. Sang pemilik yang duduk di kursi penumpang beberapa kali mengumpat karena Chanyeol mengendarai mobilnya layaknya gorila kesetanan.

Ada garis pembatas polisi saat Chanyeol memarkir mobilnya sembarangan dan beberapa pagar pembatas jalan yang rusak. Mereka telah sampai di tempat kejadian dimana Baekhyun ditabrak.

"Kenapa kita kemari?" tanya Sehun.

"Aku harus mencari Baekhyun."

"Baekhyun tidak di sini!"

"Aku yakin dia di sini."

"Baekhyun ada di rumah sakit! Tidakkah tadi kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri?"

"Dia koma! Seperti dulu saat dia terjatuh dari tebing! Mungkin dia mengalami hal yang sama jadi aku harus mencarinya! Dia pasti ada di sekitar sini, aku yakin karena dia-"

"APA? APA YANG MEMBUATMU YAKIN?" Kau bisa menghitung dengan jarimu, berapa kali dalam setahun Sehun membentak seseorang.

Chanyeol kehabisan kata-kata. Dia membuang air mata yang selama ini mati-matian dia simpan dan menangis di hadapan Sehun, dengan sangat hancur.

"Ayo pulang, kau butuh istirahat."

"Pergilah, jika kau tidak mau membantuku. Itu tidak masalah."

"Aku tidak mungkin pergi jika kunci mobilku ada padamu."

"Ambil ini, aku bisa pulang dengan taksi."

Mereka berdua sudah berteman sejak di usia yang sangat muda jadi Sehun mengenal Chanyeol dengan baik begitu pula sebaliknya. Mengatur lelaki bermarga Park itu adalah hal yang paling sulit setahu Sehun, apalagi kalau sudah berhubungan dengan perasaannya. Mustahil adalah kata tepat untuk menggambarkan seberapa besar kemungkinan Chanyeol akan menuruti perintahnya, seperti sekarang.

"Ok! Kau menang! Aku akan membantumu mencarinya tapi hanya sampai pukul delapan malam!" Chanyeol mengenal Sehun sudah sangat lama dan satu hal yang selalu dia hafal dari karakter Sehun adalah hatinya yang sangat lembut.

Mereka berpencar ke segala arah dan Sehun lebih memilih berjalan menuju ke bawah jembatan. Ada beberapa roh dengan rupa yang cukup mengerikan di sana jadi dia berpindah ke sebuah pos polisi yang sudah tidak dipakai. Sehun membuka pintu yang sudah agak lapuk dan mendapati tubuh kecil Baekhyun meringkuk di pojok ruangan.

"Baekhyun!"

Chanyeol mendengar Sehun berteriak dan berlari mencari dimana sosoknya. Seperti prediksi Chanyeol, roh Baekhyun masih ada di sekitar tempat kejadian. Tubuh mungil itu meringkuk dan gemetaran di pojok ruangan, jadi Chanyeol segara membungkusnya dalam sebuah pelukan yang hangat dan menenangkan.

"Aku menemukanmu. Aku ada di sini, Baek. Jangan takut, aku ada di sampingmu, semua akan baik-baik saja."

Tubuh kecil itu gemetaran di dalam pelukan Chanyeol dan apa yang saat ini terdengar hanyalah suara tangis.

"Tidak apa-apa, aku sudah menemukanmu. Semua akan baik-baik saja."

"Chanyeol?"

"Ya?"

"Apa aku sudah mati?"

Chanyeol menciptakan jarak diantara tubuhnya dan Baekhyun, menatap wajah mungil itu dengan hikmat. Tidak ada rona darah di kulit pucat Baekhyun, warna matanya juga meredup meskipun dilumuri dengan airmata.

Seperti de javu, waktu seolah kembali di saat mereka pertama kali bertemu di villa keluarga Sehun dengan Baekhyun yang berupa roh.

"Aku tidak akan membiarkan hal buruk itu menimpamu."

.

.

.

Terhitung sudah kali ke tujuh Chanyeol mencoba mengembalikan roh Baekhyun kembali ke tubuhnya, dan semua berakhir gagal. Luhan yang paling menampakkan keputus asaannya dengan menempelkan dahi ke tembok.

"Aku pusing, kenapa Baekhyun tidak bisa kembali? Apa bedanya kondisi sekarang dengan yang dulu? Maksutku dia koma dan kita membawa kembali roh-nya ke sini. Lalu dimana masalahnya?"

"Mungkin kita harus melakukan ritual?"

"Babe, ritual hanya dilakukan untuk roh jahat." Luhan melempar tatapan mengejek kepada kekasihnya.

"Apa aku tidak terselamatkan?" Ada sekian banyak kata di dunia, namun Chanyeol sama sekali tak menemukan satupun untuk dia utarakan. Baekhyun menatap tubuhnya yang terbaring dengan tatapan ngeri.

"Itu-"

"BIARKAN AKU MASUK!"

Seseorang berteriak dari luar. Sehun berubah panik karena Baekhyun bilang suara bentakan yang tadi mereka dengar adalah satu-satunya di dunia dan itu milik Kris.

"PARK CHANYEOL AKU TAHU KAU ADA DI DALAM!"

Luhan menyelip dari celah pintu yang sengaja dia buka dengan tidak terlalu lebar. Menatap lelaki tinggi di hadapannya dengan cara yang sangat buruk.

"Maaf, kau berteriak di depan kamar adikku yang sedang tidur. Dimana etikamu?"

"Seingatku Baekhyun tidak memiliki kakak sepertimu."

Oh wow, tipikal laki-laki yang mustahil untuk ditipu.

"Seingatku dia juga tidak memelihara seekor gorila sepertimu."

Beberapa anggota keamanan yang disewa Chanyeol bergerak merapat. Membentuk sebuah tembok dengan Luhan sebagai yang ditengah. Lelaki manis itu mempertahankan wajah angkuh yang menurut penilaian Kris, itu sangat gagal jadi dia memilih jalan damai dan mengusahakan sebuah negosiasi.

"Bukankah kita berada di pihak yang sama? Baekhyun juga penting untukku, kenapa kita tidak saling bekerja sama saja?"

"Aku bukan pembunuh bayaran atau penembak jitu. Kita tidak bisa bekerja sama, Tuan Bermulut Besar."

"Namaku Kris."

"Dan Aku Angelina Jollie."

Kris memijat di bagian pelipis karena kepalanya dihinggapi gejala frustasi yang meletup-meletup. Pria kecil dihadapanya memiliki jiwa ganas yang sangat imut dan itu semakin mengingatkannya kepada si galak Baekhyun.

"Bisakah kita berbicara dengan lebih pantas di dalam? Toh ini semua demi keselamatan Baekhyun."

"Ya. Berbicaralah kepada bokongku yang bagus. Bye!"

Dia berbalik dengan sangat anggun dan itu membuat bokongnya benar-benar terlihat menarik. Setidaknya empat dari lima anggota keamanan di sana menelan ludahnya diam-diam.

Setelah obrolan aneh itu, Luhan berubah menjadi sangat cerewet, lebih cerewet dari biasanya. Dia berkata bahwa Kris pria yang tampan namun kepribadiannya sangat lemah. Lelaki itu tidak pantas jika disebut memiliki otak psikopat karena menurut insting Luhan yang terhormat, membunuh kucing dengan tangannya sendiri-pun dia tidak akan mampu.

"Itu sebabnya kenapa dia menyewa pembunuh bayaran."

"Chanyeol benar." Sehun menjadi sangat berpihak pada Chanyeol entah karena apa.

"Dia sangat ahli dalam berakting. Jangan terkecoh, Lu."

Jujur saja, Luhan sangat suka saat Baekhyun memanggilnya seperti itu. Imut dan terasa sangat akrab.

"Hey, aku ini sangat peka. Buktinya saja aku langsung menyukai Baekhyun karena tahu dia itu menggemaskan. Lihat? Bukankah dia memang sangat imut?"

"Dia galak."

Hanya dua kata yang Chanyeol ucapkan dan itu melemparnya ke posisi yang disudutkan. Baekhyun terang-terangan tersinggung jadi dia memilih untuk melayang dan pergi menembus tembok. Lelaki bertelinga peri itu bergegas mengejar kekasihnya karena Luhan berteriak bahwa dia memiliki mulut yang tidak ada bedanya dengan kepala udang.

"Hey hey! Baekhyun berhenti!" Lengan kurus Baekhyun digenggam dengan erat.

"Sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan sesuatu yang galak!"

"Hey Ding Dong, aku mengaku salah. Aku minta maaf, Ok? Jangan marah, please."

"Aku tidak. Kenapa aku harus marah?"

"Kau marah dan itu sangat jelas."

"Kau berkata seolah kau sudah sangat mengenalku."

"Setidaknya aku mengenali tubuhmu dengan sangat baik." Kalimat laknat yang mampu membuat mulut tipis itu bungkam.

"Aku minta maaf, aku mengaku salah. Ayo kembali ke kamarmu, di sini terlalu banyak roh-roh yang mengerikan."

Koridor rumah sakit adalah yang paling ramai dengan lalu lintas baik itu oleh manusia maupun para roh. Baekhyun berkata bahwa dia melihat semua orang dengan wujud serupa manusia jadi dia tidak merasakan ketakutan sedikitpun. Mungkin sudah menjadi hukum alam jika roh satu melihat roh yang lain wujud mereka hanya akan seperti manusia biasa. Beda cerita jika manusia yang melihat roh, itu bisa menjadi sangat mengerikan.

Mereka berbalik, hendak kembali ke ruang rawat Baekhyun namun sesuatu menghadang keduanya. Seorang anak laki-laki bertubuh kecil, dengan rambut jamur yang begitu imut berdiri menatap Baekhyun. Mata kelereng itu menatap si rambut coklat tanpa berkedip dan tiba-tiba melangkah mendekat.

"Hey little man, kenapa kau jalan-jalan sendirian? Dimana orangtuamu?" Chanyeol mencubit pipinya. Merasakan bahwa ada rona hangat dari kulit itu jadi dia bisa memastikan bahwa anak ini juga manusia.

Tangan kecil itu menunjuk ke arah meja resepsionis di ujung lorong yang agak jauh.

"Aah disana. Ayo, biar hyung antar kau kembali ke orangtuamu. Lain kali jangan-"

"Chanyeol?" suara Baekhyun terdengar gemetar saat menyela pembicaraannya dengan anak kecil itu.

"Dia menatapku."

Arah pandang laki-laki kecil itu tertuju kepada Baekhyun dan itu membuat kedua orang dewasa disana merasa takjub. Bukan halusinasi jika Baekhyun merasa bahwa retina mata anak kecil itu terus menatapnya karena sekarang wajahnya terpantuk di mata bening itu.

"Hyung tidak punya kaki?"

Ada rasa takjub dan bingung yang bersamaan, menghampiri kedua orang dewasa itu karena mungkin yang saat ini sedang mereka hadapi adalah seorang indigo junior.

"Kau bisa melihat ku? Kau bisa melihat hyung?"

"Hyung bisa terbang!" anak kecil itu melompat-lompat di gendongan Chanyeol.

Baekhyun berkedip dua kali dan anak kecil itu juga melakukan hal yang sama. Baekhyun menjulurkan lidahnya dan anak kecil itu juga. Baekhyun tersenyum bergigi dan tentu saja, anak itu juga melakukannya. Dengan sangat manis dan imut.

"Aah manisnya! Siapa namamu hm?"

Dia menggeleng. Anak kecil itu menggeleng dan berkata bahwa dia lupa siapa namanya.

"Bagaimana kau bisa lupa dengan nama mu sendiri?"

Chanyeol menggendongnya di depan, berjalan pelan menuju ke arah dua orang yang tadi ditunjuk sebagai orang tua oleh si anak kecil.

"Kata dokter aku amelia."

"Ame- apa?"

"Amelia."

"Maksutmu amnesia?" Anak kecil di gendongannya mengangguk antusias. Berterima kasihlah kepada Chanyeol yang berpikir dengan cepat.

"Kalau begitu, hyung akan memberimu nama!" Baekhyun berpikir seraya melayang memutari tubuh Chanyeol.

"Wang Eun!"

Chanyeol tertawa dengan sangat keras lalu berkata bahwa nama itu terdengar sangat kuno. Baekhyun mencibir dan beralasan bahwa Wang Eun adalah nama tokoh favoritnya di sebuah drama yang sangat populer belakangan ini. Mereka berhenti berdebat saat Chanyeol memberikan 'Wang Eun' kepada orangtuanya dan berkata bahwa anak kecil itu tersesat.

.

.

.

Di sebuah ruangan yang entah ada dimana, dua manusia tengah berbicara dalam kegelapan malam. Hanya ada mereka berdua di sana, seorang pria dan seorang wanita.

"Park Chanyeol membuat penjagaan yang sangat ketat." Pria itu membenarkan topinya, menurunkannya hingga pantulan cahaya lampu itu menutupi sampai hidung.

"Bocah-bocah nakal. Ada berapa orang?"

"Lima petugas keamanan dari Seolshin dan dua temannya yang lain."

Wanita itu tersenyum negative di bawah keremangan lampu.

"Aku bisa urus lima petugas itu, dan kau urus sisanya."

"Hahaha kau menakjubkan!" Pria itu tertawa dengan keras, mengundang senyuman wanita itu untuk mengembang lebih lebar.

"Kau pikir apa yang mampu membuatku bertahan selama ini? Jangan remehkan aku."

Satu-satunya pria di dalam ruangan itu meredam tawa.

"Jadi, mari bersulang untuk kematian bocah kecil Byun Baekhyun dan harta Tuan Byun yang terhormat!"

"Bersulang."

Mereka bersulang. Meneguk minuman berwarna kemerahan itu sekali telan dan tersenyum. Kalian tidak akan tahu bagaimana deretan angka nol dalam nominal uang bisa mengendalikan sesuatu yang disebut ambisi.

.

.

.

Ada yang mengganjal di tenggorokannya saat Baekhyun merengek untuk ikut. Luhan berkali-kali melarang roh kecil itu untuk bepergian jauh dari tubuhnya karena mereka tidak akan tahu kapan Baekhyun bisa mendapatkan kesempatannya untuk kembali. Chanyeol berkata bahwa dia ingin pergi menemui seseorang dari Perusahaan Seolshin Secure dan Baekhyun pikir itu adalah sesuatu yang keren.

"Please please, aku janji aku akan jadi anak baik!"

"Jika kau mau jadi anak baik, tetaplah di sini, Baek. Seolshin lumayan jauh dan mungkin aku akan ada di sana sampai sore. Jadilah anak baik untukku, kali ini saja. Ok?"

Chanyeol memberi tatapan yang bermakna bahwa si mungil harus menurut karena itu juga untuk kebaikannya. Setelah menuntaskan drama di pagi hari ini, Chanyeol meninggalkan rumah sakit dan berkata kepada anggota keamanan bahwa keamanan harus lebih diperketat selama dia pergi.

Alasan mengapa dia berangkat menuju Seolshin adalah karena perusahaan itu memiliki akses penuh untuk seluruh saluran jalan tol di seluruh Seoul, terkhusus kepada rekaman cctv. Maka dari itu, Chanyeol rela menyambangi perusahaan milik teman dekat ayahnya itu walau hanya untuk mendapatkan plat nomor van putih yang telah menabrak kekasihnya.

Ada seorang dengan setelah jas, menyambutnya tanpa banyak bicara dan mengantarnya menuju ruang kendali. Chanyeol menceritakan detail kejadian, mulai dari tempat, waktu hingga detik ke berapa dia mengalami kecelakaan itu.

"Cari dari timur, dia berjalan ke arah barat dengan sebuah van putih. Aku ingin mendapatkan plat kendaraan dan wajahnya jika itu memungkinkan."

Beberapa petugas mulai melakukan beberapa hal yang mungkin bisa memenuhi permintaan Chanyeol. Mereka mengakses sesuatu serupa monitor cctv yang juga ada di rumahnya, namun yang ini berbeda. Mereka memiliki akses legal untuk seluruh cctv jalan tol di Seoul tapi Chanyeol hanya sekitar rumahnya saja.

"Ketemu, Pak!"

Kepala keamanan dan Chanyeol berjalan mendekat ke layar besar yang ada di depan ruangan. Monitor itu tersambung dengan seluruh komputer di dalam ruangan, jadi tak menunggu lama di layar besar itu kini terpampang gambar plat van putih yang menabrak Baekhyun.

"Apakah benar, ini van yang anda cari?"

"Ya. Benar yang ini. Apakah kau bisa memperbesar wajah si pengendara?"

Teriakan Chanyeol adalah komando yang mutlak. Monitor itu mulai berganti dari satu spot ke beberapa spot lain untuk menangkap wajah si pengendara. Ada sisi yang sangat pas saat sopir itu mengangakat wajahnya untuk melihat spion tengah dan monitor kini menampakan wajah blur sang sopir.

Meskipun wajah itu terlihat samar karena resolusi gambar yang rendah, tapi Chanyeol tidak pernah lupa dengan senyuman itu.

Senyuman yang memiliki aura tersendiri.

"Brengsek sialan!"

.

.

.

Besok END T.T