"Beraninya kau berlaku seperti ini pada Ayahmu!" teriak Hiashi.
Neji mendesis dan berkata tanpa menghentikan langkah kakinya. "Ah… sepertinya Hyuuga telah gagal mengajarimu etika, karena kau benar-benar tidak tahu saat untuk menutup mulutmu itu. Aku sungguh merasa kasihan pada diriku sendiri karena harus menjadi anak dari seseorang sepertimu."
Neji terus berjalan tanpa sedikitpun menghiraukan Ayah dan Ibu Tirinya yang sedari tadi terus menerus meneriakkan namanya.
Pikirannya kini terpusat hanya pada Adiknya tercinta; Hinata.
Neji mengetuk pelan pintu kamar Hinata, seolah meminta izin sebelum akhirnya ia menerobos masuk.
Ia dapati Adiknya tersayang duduk di ujung tempat tidurnya dengan kedua telapak tangan menutupi hampir seluruh bagian wajah cantiknya. Rambut panjangnya terurai bebas, menciptakan tirai di sekeliling wajahnya yang tertunduk. Pundaknya bergerak tak karuan, ke atas ke bawah disertai dengan isakkan tangis yang samar-samar terdengar di dalam kamarnya yang sunyi, menyajikan irama kesedihan.
Neji tahu bahwa Hinata bukanlah gadis yang akan menangis tanpa sebab dan melihat Adiknya dalam keadaan seperti itu membuat dada Neji sesak dipenuhi oleh rasa bersalah. Penyesalan kini mulai menggerogoti hati dan pikirannya.
Sejak kapan Adiknya telah menangis sendirian di dalam kamar tanpa ada seorangpun yang peduli? Bagaimana bisa, ia—Kakaknya—begitu egois hingga ia tak menyadari kesedihan dan beban yang gadis di hapannya ini rasakan.
Sebagai seorang Kakak yang seharusnya melindungi Adiknya, Neji telah gagal.
Mungkin...
Mungkin, jika ia datang lebih awal maka ia tidak akan melihat Adiknya menangis seperti ini. Adiknya yang sejak dulu selalu ceria, wajah cantiknya yang selalu penuh dengan senyuman manis, matanya yang selalu hangat dan penuh dengan kebahagiaan kini dihiasi oleh air mata dan kesedihan.
Tidak.
Mungkin, jika seandainya sejak awal ia tidak egois dan hanya memikirkan perasaannya sendiri, maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Jika saja ia selalu berada di sisi Adiknya sejak awal, maka Adiknya tidak akan terluka, karena ada Kakaknya yang akan melindunginya dari apapun.
Neji mengepalkan jemarinya. Giginya saling beradu.
Semua yang terjadi adalah salahnya. Jika saja ia selalu ada di samping keluarganya, di samping Ibunya dulu, maka Hinata tidak akan pernah terluka. Bahkan dirinya sendiri, sekarang pun, tidak akan pernah merasa tak berdaya seperti yang sekarang tengah ia rasakan.
Perlahan. Neji melangkahkan kakinya mendekati gadis yang sedang menangis di hadapnnya.
Setiap langkah yang ia ambil terasa berat. Ia berusaha keras untuk tetap tersenyum di hadapan Adiknya. Pandangannya tak pernah berpaling dari Adiknya, hingga akirnya Neji berdiri tepat di hadapannya.
Dengan lembut, ia belai rambut Adiknya dan menenggelamkan wajah Adiknya ke dalam dekapan hangatnya. "Maafkan aku, Hinata. Aku gagal. Aku bukan Kakak yang baik. Aku tak bisa menjagamu. Aku teralu seombong dan pada akhirnya keegoisankulah yang membuatmu terluka. Akulah yang telah membuatmu seperti ini."
Suara Neji terdengar tenang, tidak menampakkan sedikitpun emosi. Namun di matanya terkumpul air mata yang kini mulai menetes dan membasahi pipinya selagi kata maaf terus menerus terucap dari bibirnya.
-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..
Hari itu, Neji meninggalkan kamar Hinata pada malam hari sehabis Adiknya tertidur lelap.
Ia meninggalkan kamar Adiknya tanpa ekspresi sedih sedikitpun. Namun, dibaik ekspresi dingin di wajahnya, hatinya menangis dan menjerit, karena hal terakhir yang ia saksikan sebelum meninggalkan kamar Hinata terus menerus hinggap dan memenuhi pikirannya.
Apa yang ia saksikan terus terbayang dengan jelas di benaknya.
Wajah Adiknya yang terlihat tenang saat tertidur dihiasi oleh bekas air mata di wajahnya dan bibir mungilnya yang mengigau, memanggil-manggil 'Ibu' dan 'Ayah' yang disertai butiran air mata yang menitih dari matanya yang terpejam.
Setiap tetes air mata itu bagaikan duri-duri kecil yang berselimutkan racun yang ditusukkan ke dalam hatinya dan setiap kali ia memanggil 'Ibu' dalam tidurnya, hal itu terasa seperti garam yang ditaburkan pada hatinya yang tengah teruka. Menambahkan rasa perih di lukanya yang masih segar.
Neji memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri. Lalu ia meraih telepon genggamnya dan menelpon seseorang dari contact listnya.
"Kau ada di mana?" Neji bertanya sembari melangkah pergi. "Mari kita bertemu."
-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-
Di sebuah Cafe yang terletak jauh dari Kediaman Hyuuga dan juga jauh dari endusan wartawan pencari berita atau hanya sekedar gossip, terlihat dua orang lelaki tampan yang sedang menikmati kopi mereka, duduk saling berhadapan.
"Ada apa?" tanya seorang pria bermata hitam pekat pada pria yang duduk di hadapannya. "Tak biasanya kau mengajak bertemu selarut ini." Jelasnya.
Lelaki di hadapannya hanya diam dengan matanya yang terus memandang ke dinding cafe yang terletak jauh di hadapnnya.
"Apa... sesuatu terjadi padanya?" pertanyaan yang pria itu lontarkan sangatlah singkat dan sederhana, namun nada bicaranya berkata lain. "Neji!"
"Kau sudah tahu jawabannya. Kenapa kau bersusah payah bertanya padaku? Sudah jelas sesuatu telah terjadi padanya," Neji memberikan penekanan pada kata 'telah'. "karena ia terus menangis tanpa mengatakan sebabnya, bahkan ketika aku telah bertanya, dia tetap membisu dan terus menangis."
Bola mata hitam pekat yang tajam, memberikan Neji tatapan maut dan ia berkata dengan nada serius, "Seharusnya kau melindunginya di dalam rumah itu. Dan aku akan melindunginya dari dunia luar."
"Kenapa masih banyak media di sekeliling rumah kami? Bukankah kalian—Uchiha—memiliki kekuatan untuk mengontrol media. Tapi, kenapa?"
"Aku bisa menghentikan semua pemberitaan tentang Keluargamu dalam sekejap." Jawab pria bermata hitam pekat itu dengan enteng. "Tapi, yang kuinginkan bukan itu. Aku ingin media mengetahui tentang wanita itu, maka nama baiknya akan hancur. Bahkan ketika ia hendak memulai karirnya lagi di laur negeri pun semua akan percuma, karena besok, seluruh dunia akan tahu. Jadi, jangan upa untuk menonton infotainment, membaca majalah atau koran pagimu, karena aku telah menyiapkan makanan penutup untuk sarapanmu esok pagi."
Ujung bibir Neji tertarik ke atas menampilkan senyuman yang lebih menyerupai seringai.
"Sudah kuduga. Kau pasti memiliki rencana dibalik semua tingkahmu yang seolah tidak peduli itu." Ucap Neji membuat pria Uchiha yang berada di hadapannya mengernyitkan alis kirinya dan membalas senyumannya dengan hal yang sama.
"Sudah kubilang, aku tidak peduli dengan Hyuuga, tapi aku pedui padanya." Jawab pria Uchiha sehabis ia meminum kopinya. "Tapi, yang membuatku penasaran adalah kau, Neji. Pertanyaannya adalah, kapan kau akan mengambi tindakan? Karena kau terlihat terlalu santai."
"Aku sudah memulainya." Jawab Neji singkat. "Tapi, aku butuh bantuanmu, Itachi."
Itachi kembali mengangkat alis kirinya, seolah bertanya.
-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-
Hinata sejak pagi-pagi sekali sudah pergi meninggalkan Kediaman Hyuuga menuju tempat kerjanya yang terletak agak jauh dari rumah. Hari itu, ia diantar oleh Kakaknya. Dan tak lupa mereka pun sarapan bersama. Walaupun rasanya sarapan itu sepi karena hanya ada mereka berdua, namun bagi keduanya, tetap saja itu jauh lebih baik daripada harus sarapan sendiri.
Setelah sarapan Neji mengantar Hinata ke Rumah Sakit, namun sebelum itu, mereka mampir terlebih dahulu ke kuburan Ibu mereka. Di perjalanan menuju Rumah Sakit,
Pagi itu Hinata nampak jauh lebih baik daripada terakhir kali Neji melihatnya. Pipinya tidak berlumuran air mata dan bibirnya menyajikan senyuman, bukan isakkan tangis, bahkan matanya pun memberikan kehangatan yang biasa ia dapatkan dari sepasang mata lavender itu.
Ia tampak senang.
Namun, justru itu yang membuat Neji semakin khawatir. Bagaimana mungkin Adiknya itu tidak kenapa-kenapa. Tapi, itulah Hinata, Adiknya, selalu mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri. Kali ini, untuk pertama kalinya, Neji menginginkan air mata di kedua pipi mungil itu.
"Aku akan menghapus semua airmat dan kesedihanmu, Adikku tersayang. Jadi, berhentilah memberiku senyuman itu. Karena itu hanya akan membuatku semakin terluka, kau tahu." Batin Neji bergumam.
Akan tetapi, Neji hanya memberikan Hinata sebuah senyuman lemah dan menggenggam lengan Adikknya itu selama perjalanannya mengantar Hinata ke Rumah Sakit Senju. Neji pun tersenyum dan memperlihatkan giginya yang putih ketika ia sudah tidak melihat satupun media di sekitar rumahnya.
"Itachi." Batin Neji mengingat percakapan mereka semalam dan sebuah senyuman kini tampak jelas di wajah tampannya.
-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-
Neji terus menatapi punggung Adiknya yang sedang berjalan memasuki Rumah Sakit. Sesekali, Hinata akan berhenti dan berbincang dengan salah satu suster atau dokter lain yang ia jumpai dan menawarkan senyumannya pada semua orang. Dia bahkan masih sempat bercanda dengan salah satu pasien di perjalanannya menuju lift.
Baru setelah Adiknya menaiki lift dan tak terlihat lagi olehnya, ia meninggalkan Rumah Sakit dan pulang ke rumah.
Sesampainya di Kediaman Hyuuga. Hal pertama yang dilakukan oleh Neji adalah menerobs masuk ke ruang makan yang ia yakini berisikan Ayahnya.
Benar saja, di sana ia menemukan Momoka, Hiashi dan anak haram mereka sedang menyantap sarapan bersama layaknya keluarga kecil yang bahagia. Menyaksikan kedekatan dan perhatian Ayahnya pada keluarga barunya itu, membuat darah Neji mendidih.
"Bagaimana bisa mereka tampak begitu bahagia?!" amarah Neji dalam hati.
Sebelum Ayahnya memakinya, Neji membanting koran yang ada di cengkramannya ke meja makan. "Kalian tahu apa itu?"
"Tentu saja itu koran. Dasar bodoh!" sahut seorang gadis kecil perempuan yang kebetulan berada tak jauh darinya Neji.
Dengan penuh kepercayaan diri, Neji melangkahkan kakinya hingga ia tepat berada di samping anak.
Melihat kedatangan Neji, putri Momoka itu menengadahkan wajahnya. "Apa? Kau tidak terima? Aku saja yang masih SMP tahu itu adalah koran. Ah! Bagaimana bisa aku meiliki Kakak sebodoh kau!"
Tanpa ragu, Neji tampar pipi gadis itu dengan bagian belakang telapak tangannya lalu ia jambak rambut panjang gadis itu hingga wajahnya kini berhadapan dengan Neji yang mendongakkan kepala agar dapat melihat anak itu lebih dekat.
"Jaga mulutmu! Dasar anak tak tahu sopan santun!" Pekik Neji. "Tapi... walau bagaimanapun, anjing yang sudah diberi makan tulang pun, akan selalu memakan kotoran ketika ia melihatnya."
Hiashi meletakkan peralatan makannya ke meja makan dengan keras hingga menimbulkan suara yang memekikkan telinga.
"HYUUGA NEJI!" bentak Ayahnya tak mau kalah dengan suara nyaring Neji.
Di smaping lain, Momoka yang menyaksikan putrinya ditampar oleh Neji bangkit dari kursinya yang berada di sebelah kanan Hiashi, tepat berhadapn dengan putrinya, Hanabi. Ia mengambil langkah cepat dan hendak membalas pukulan Neji.
Namun, Neji sangatlah sigap karena ia sudah mengantisipasi reaksi itu darinya.
Dengan tangkas, ia tangkis lengan Momoka yang melayang menuju pipinya dan dipegangnya dengan erat. Lalu ia melepaskan cengkramannya dari rambut Hanabi dan kembali melakukan hal yang sama pada Ibu anak itu, namun, perbedaannya adalah, kali ini Neji menamparnya berulang kali. Setelah ia pukul pipi kanan wanita itu dengan bagian belakang telapak tangannya, ia balik memukul pipi kiri wanita itu dengan bagian depan telapan tangannya. Setelah itu, didorongnya wanita itu sampai ia tersungkur ke lantai.
Sebuah senyuman lebar terpatri di wajah Neji. Ia menyeringai dan berkata, "Aku sengaja. Dan aku sama sekali tidak menyesal sedikitpun telah melakukannya padamu dan anak harammu itu."
"HYUUGA NEJI! KAU SUDAH KETERLALUAN!" pekik Ayahnya yang kini naik pitam.
"Aku sudah tidak peduli dengan apa yang kau katakan." Ujar Neji. "Tapi, sebaiknya kau tenangkan pikiranmu dan baca surat kabar hari ini. Maka kau pasti akan sangat peduli dengan apa yang hendak kukatakan." Senyuman Neji semakin lebar. "Ayah." Neji memberikan penekanan pada kata terakhirnya dan ia mengucapkannya dengan nada yang sangat tidak bersahabat
-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-..-
To be Continue...
