Desclaimer : Masashi Kishimoto
Thx so much bwt yg uda nyempetin review, here's the Reply Review :
#Maehime: ahahahah ane waktu pertama bikin akun jg begitu non XD tp kalo dibiasain lama-lama bisa kok :-D ohoho, mungkin aja XD ane suka fantasi soalnya XD yaaa, mau gimana lagi, ntu pan kebiasannya Itachi-sayang-sama (hoeekkk), daripada dicipok tiap saat? 8D #maunya sebenernya gitu# btw, makasih banyak read reviwnya
#Uchiha enji : wkwkwkwkwk liang jarum XD keinget spongebob entah kenapa. ahahaha anda ngomng apa yak? XP #gak ngarti bahasa sunda XP ohoho rahasia itachi dibahas full mulai chapter ini sampai chapter belakang XD terus ikuti ya…btw, makasih banyak read reviewnya :-D
#AkaTetsuya : Iya, makasih semangatnya ya :-D makasih juga read reviewnya …
Makasih juga bwt yg nyempetin log in, reply via PM : Yuu-kio, and ,
Makasih banyak read reviewnya…
.
.
Chapter 7 : Three Years Ago
.
.
.
Namaku Sasuke Uchiha.
Dan aku sedang bengong menatap pria bersurai jingga yang kini tengah melahap segala sesuatu yang ada di meja makan itu.
"Ohaiyo, Sasuke," sapa Itachi-nii, ia tampak sedang memasak. "Duduklah, aku sedang buatkan bagianmu."
Aku masih tak bergerak. Nyaris tak bernafas. Untunglah jantungku masih berdetak untuk menandakan kalau sekarang aku sedang menjadi manusia.
"Sasuke..." panggil Itachi-nii sekali lagi.
"Aku tidak butuh makanan manusia, aku seorang vam—..." dan ucapanku terhenti saat perutku berbunyi.
"Ya, tadi malam," ucap aniki seraya menaruh masakannya di piring. "Sekarang duduk."
Aku menuruti ucapannya tanpa melepas pandanganku dari Pain, pria bersurai jingga di hadapanku. Aku kembali mengingat obrolanku dengan aniki semalam.
"Akatsuki? Half Mortal?" tanyaku tidak percaya. Aniki mengangguk. "Tapi, ini malam hari kan? Kenapa dia tidak menjadi vampire? Maksudku, warna matanya..."
"Mereka manusia dengan kekuatan vampire. Yeah, memang sedikit berbeda darimu. Karena mereka tidak sepertimu yang hanya meminum beberapa teguk darah dari clan Namikaze," terang aniki.
"Clan Namika—...tunggu, jangan bilang, pembantaian tiga tahun yang lalu?"
"Ya. Clan Namikaze memiliki darah special yang mengalir di nadi mereka. Jika vampire meminum darah mereka pada saat Half Moon, mereka akan mendapatkan kekuatan luar biasa seperti yang dimiliki Akatsuki, dan tubuh mereka menjadi setengah mortal. Hal itu karena setelah meminum darah dari clan Namikaze, mereka harus terus mengonsumsi darah yang sama untuk tetap hidup. Jadi mereka bisa mengonsumsi darah mereka sendiri kalau mereka tidak berhasil menemukan anggota clan Namikaze untuk diminum darahnya," aniki mencondongkan badannya ke arahku. "Sayangnya kau meminum darah Naruto bukan saat Half Moon, jadi kau hanya bisa menjadi Half Mortal tanpa kekuatan khusus. Dan batas antara mortal dan immortalmu juga sangat jelas sehingga terbagi antara siang dan malam. Well, sepertinya Naruto tahu hal itu dan memang sengaja memberikan darahnya padamu bukan saat Half Moon."
"Khhh..." aku hanya bisa mendesis tak jelas.
"Yeah, whatever. Tapi aku bersukur atas itu. Kalau kau sampai punya kekuatan special juga, aku yang repot untuk mengendalikanmu," kerling aniki seraya bangkit dan melangkah menuju pintu.
"Oi, bicara soal Akatsuki," panggilku, membuat langkahnya terhenti. "... satu kursi kosong itu, apa itu milikmu? Apa kau anggota Akatsuki? Dan...kau memiliki kekuatan khusus seperti Amaterasu kan? Apa dulu kau juga ikut membantai clan Namikaze? Tapi kenapa kau tidak menjadi Half Mortal seperti mereka? Kenapa—..."
"Sasuke," potong Itachi-nii. Terdiam sesaat. "Aku memang bukan Half Mortal. Tapi seperti yang kau lihat, aku memiliki kekuatan khusus. Jadi memang benar, tiga tahun lalu aku pernah bermandikan darah clan Namikaze..." ujarnya untuk kemudian meninggalkan kamar. Meninggalkanku yang hanya bisa terdiam dan tak bisa bereaksi apa-apa.
Kalau memang benar dia ikut membantai clan Namikaze, kenapa ia tak berani menatap mataku saat mengatakannya?
Kembali pada dunia nyata. Aku masih menatap tidak suka pada Pain. Tapi aku jadi penasaran dia orang yang seperti apa. Apa kira-kira aku bisa mendapatkan info baru darinya?
"Aku akan mencuci ini duluan," ucap Itachi-nii seraya menumpuk piring-piring yang makanannya sudah masuk ke mulut Pain. "Kalau kalian sudah selesai, tolong bawa piring kotornya ke dapur," lanjut Itachi-nii dan membawa piring-piring kotor tadi untuk dicuci.
Aku makan bersama Pain, dan saat aku ingin mulai mengorek informasi, ia menyelesaikan makannya dan membawa piring kotornya ke dapur. Kuso!
Aku hanya bisa melanjutkan makanku secepatnya. Makan sendirian ternyata menyebalkan. Dan beberapa menit kemudian aku sudah menghabiskan makananku, lalu membawa piring kotorku ke dapur. Tapi langkahku terhenti di depan pintu dapur saat mendengar ucapan Pain. Sedikit menyembunyikan diri, aku melongok ke dalam untuk melihat apa yang terjadi. Well, menjadi orang yang hawa keberadaannya tak terdeteksi ternyata tidak buruk juga, eh?
"Doushite?! Bukankah Otouto-mu juga menginginkan kau menjadi manusia!" tegas Pain.
"Dengar Pain," tegas aniki seraya berbalik menatap Pain dengan tatapan marah. "Kau sudah tahu alasannya, dan sebaiknya kau tak membuatku mengulang penjelasan yang sama!"
"Atau setidaknya jadilah Half Mortal sepertiku. Atau seperti Otouto-mu."
"Aku-tidak-mau!" tegas aniki di setiap suku katanya dan kembali membelakangi Pain untuk menyelesaikan cucian piringnya.
"Apa masalahnya! Kau cukup meminum beberapa teguk darah dari clan Namikaze seperti Otouto-mu, kau tidak perlu membunuhnya atau menca—..."
"PAINN!"
'menca' apa? Kata apa yang tadi terpotong oleh aniki itu? Apa itu cara untuk mengembalikannya menjadi manusia?
Itachi-nii kembali berbalik, kali ini tatapannya benar-benar penuh amarah, dan bahkan matanya berubah menjadi warna crimson dengan tiga koma dan lingkaran hitam di tengahnya. Ia menjulurkan lengannya dan mencengkeram leher Pain.
"Dengar, brengsek!" ucap Itachi-nii dengan suara rendah tapi penuh penekanan. "Kalau kau sampai memberikan info baru pada Sasuke, aku benar-benar akan memenggal kepalamu! Lagi pula untuk apa kau menginginkanku menjadi Half Mortal? Tidak ada untungnya buat—..."
Memotong ucapan Itachi-nii, Pain melepas cengkeraman aniki seolah melepaskannnya dengan satu gerakan lembut, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Dan aku terpaksa membelalakkan mata saat kulihat Pain membungkam bibir aniki dengan bibirnya.
"Ngh...!" aniki tampak memberontak, tapi kedua tangannya langsung dikunci di kedua sisi tubuhnya. Beberapa saat kemudian, Pain melepas ciumannya.
"Apa harus begini supaya kau mengerti kenapa aku ingin kau menjadi mortal atau sekedar Half Mortal?" ucap Pain, mendekatkan wajahnya ke telinga aniki. "Aku ingin, bibir yang kukecup terasa hangat," Pain menarik wajahnya, tapi lalu ia menjulurkan tangannya untuk menapak di tembok belakang aniki, masih mengunci ruang geraknya. "...dan aku ingin melihat semburat merah di pipimu saat aku melakukannya," ia membelai pipi aniki dengan sisi telunjuknya.
Aniki tertunduk dengan gigi saling beradu.
"Ja-jangan bercanda!" bentaknya dan menyibakkan lengan Pain. Pain mundur beberapa jengkal, menatap aniki yang masih tertunduk dengan gigi beradu, Pain lalu memutar langkahnya dan meninggalkan dapur. Ia yang meihatku di pintu dapur, sempat berhenti dan menatapku tajam, tapi lalu melanjutkan langkahnya.
Aku kembali mengintip ke dapur. Dan aku hanya bisa diam saat melihat aniki menutup bibirnya sendiri dengan punggung tangan dan dengan kedua alis bertaut.
~OoooOoooO~
"Kalian semuaaaaaa! Kenapa terlambat huh?!" omel sensei berpakaian serba hijau itu.
Bukan kami yang terlambat, bodoh! Tapi kau yang datang terlalu awal. Begitu pelajaran biologi selesai kami langsung ke lapangan olahraga dan dia sudah ada disana untuk mengatakan kami terambat!
"Sebagai hukuman, lari keliling lapangan sebanyak 50x!"
"Eeeeeeehhhhhh?" protes semuanya. Tapi tetap saja kami harus lari.
Awalnya aku berlari seperti yang lainnya, tak merasakan perbedaan. Tapi saat mulai pertengahan lap, aku baru mengetahuinya. Aku sama sekali tida merasa lelah, sedangkan teman-temanku yang lain mulai kehabisan nafas. Saat itu aku melihat kelas Dobe lewat, dan dengan sok tahunya seolah ia memang tahu aku bakal bisa membaca pergerakan mulutnya, si Dobe Naruto berbicara padaku tanpa suara dan dengan kalimat yang panjaaaaanng.
"Jangan berlebihan, Teme. Setidaknya berpura-puralah kau kelelahan, atau setidaknya nafasmu harus dibuat seperti anjing kelaparan. Kau memang saat ini sebagai manusia, tapi kenyataan bahwa kau memiliki tubuh vampire juga memengaruhi tubuh manusiamu dan membuatnya lebih tangguh dari tubuh manusia lain. Aho, Teme, baka, stupid, idiot, moron, je—..."
"Urusaaaiiiii Dobe!" bentakku. Dan kali ini malah aku yang terlihat aneh karena mengomel sendirian. Kuso! Dan si Dobe dengan puasnya menertawaiku. Ah, ngomong-ngomong soal Naruto...
"Oi, dobe," teriakku sambil terus berlari. Karena aku tahu dia tidak akan bisa membaca mulutku. "Aku harus berbicara denganmu sepulang sekolah nanti. Kutunggu di tempat 'itu'."
Naruto hanya melingkarkan ibu jari dan telunjuknya sebagai tanda ok! Sedangkan aku...
"Sasuke Uchiha! Jangan berbicara dengan orang saat sedang latihan! Kau tambah 25 putaran!"
~OoooOoooO~
"Tch! Mendokusai," gerutuku saat berjalan pulang dengan Naruto.
"Ha? Apanya? Bukankah bukan masalah lari keliling lapangan 75x bagi sorang Sasuke Uchiha si setengah...setengah nyamuk!" cengir Naruto.
"Urusai Dobe," kesalku.
Kami berjalan menuju taman yang dulu, dimana Naruto memberikan darahnya padaku. Taman itu memang terbengkalai karena tidak ada pemukiman di sekitar situ, jadi tempatnya selalu sepi.
"Ne~ ada apa Teme? Kau ingin minum lagi, eh?" tanyanya seraya duduk di bangku taman.
"Tidak," jawabku dan ikut duduk.
"Hah? Uso?" ucapnya tak percaya sambil mencondongkan badan ke arahku. "Mereka bilang kalau vampire yang sudah pernah minum darah dari clanku mereka harus minum darah yang sama untuk bertahan hidup," ucapnya dengan begitu Pe-De.
"Ne, jadi maksudmu kau sendirilah yang ingin aku meminum darahmu lagi huh?" ucapku sweatdrop.
"H-hah? Ma-mana mungkin aku ingin diminum lagi darahnya, da-dasar bodoh!" bantahnya dengan nada yang amat sangat meyakinkan -_- "La-lalu untuk apa kau membawamu kesini, Teme?" tanyanya tanpa menatapku.
Aku terdiam, menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Etto...bisa dibilang...ingin minta bantuan,"ujarku.
Dia juga terdiam, melirikku.
"Bantuan apa?" tanyanya kemudian.
"Ng...ss-soal..."
Jiiiiiitttt...
Ia menatapku aneh.
"Kau betulan Sasuke atau bukan huh?" ucapnya.
"Huh? Apa maksudmu Dobe!" kesalku.
"Sasuke yang kukenal itu super bodoh dan selalu mengatakan apapun yang ada di otaknya tanpa berpikir lebih dulu. Bukan seperti ini."
"Argh...! Baiklah baiklah. Bisakah kau berikan darahmu pada Itachi-nii?"
...
...
...
"Ha?"
"'Ha' janai! Dobe!"
"..."
"Kenapa, Dobe?"
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
Gigi Naruto tampak beradu.
"Kenapa katamu?"
Tanganku bergerak untuk menyentuh pundaknya."Do—..."
"Setelah bermandikan darah clanku apa dia masih ingin meminumnya lagi, huh? Teme!" bentak Naruto seraya menyibakkan tanganku kuat. "Aku masih mengingat betul...bagaimana taringnya...merobek leher Karin-neesan!"
"Dobe, kau bilang kau tidak sadar-..."
"Aku bohong padamu, Sasuke. Aku masih ingin menjaga perasaanmu! Tapi sekarang kau mengingatkanku pada kejadian itu lagi! Kau...brengsek..." bisa kulihat mata sapphire nya yang jernih mulai berair.
Aku tak berani menjawab apapun lagi.
"Aku...ingat semuanya...Teme..." suaranya bergetar. "Itachi-nii...dia...yang membunuh...Karin-neesan..." dan kini ia terisak. "Ne~ mungkin kau tak menyadarinya eh, tapi aku sangat kaget dan nyaris memukulnya saat aku pertama kali ke rumahmu dan melihat kalau ternyata Itachi-nii adalah anikimu," mencoba tersenyum...
Dan aku hanya bisa mencengkeram telapak tanganku sendiri. Jadi selama ini Itachi-nii menyembunyikannya dariku? Dan menipuku dengan drama murahannya yang seolah-olah baru mengenal Naruto saat itu?
Tapi lagi-lagi pertanyaan itu muncul. Kalau aniki memang melakukannya, kenapa ia tak menjadi Half Mortal seperti Akatsuki? Kenapa ia tak berani menatapku saat mengatakan kalau ia juga ikut membantai clan Namikaze? Yeah, meskipun fakta kalau dia memiliki kekuatan special seperti Akatsuki...
"Jadi...kenapa kau ingin aku memberikan darahku pada Itachi-nii, Sasuke?" ucap Naruto dengan suara serak. Ia mencoba tenang dan mengusap air matanya, lalu tersenyum ke arahku.
"Tch, dasar Dobe," lirihku dan menatap lurus ke depan, merilexkan tubuhku di sandaran bangku.
"Heeeeh, apanya yang Dobe, Teme! Mumpung aku baik nih!" omelnya.
"Kenapa kau baik padaku, Dobe. Bukankah kau membenci vampire, terutama aniki, mengingat apa yang terjadi pada keluargamu. Seharusnya kau membenciku juga," ujarku.
"Yeah, seharusnya memang begitu, tapi apa boleh buat, sudah terlanjur..."
"Terlanjur apa Dobe?"
"Huaaaah..." ia mendesah lelah. "Kau ini benar-benar tidak peka ya, pantas saja kau cocok dengan sebutan Teme."
Twitch!
"Urusai Dobe!" aku mencondongkan tubuh ke arahnya. "Hentikan dengan kata 'tidak peka' mu sepanjang waktu. Aku sama se—..." dan mulutku terpaksa berhenti bicara saat Naruto membungkamnya dengan sebuah ciuman. Sementara aku hanya bisa terbelalak karena itu, hingga ia melepas ciumannya beberapa saat kemudian.
"Apa harus dengan begini, supaya kau tahu perasaanku?" ucap Naruto, kulihat wajahnya memerah. Pandangannya yang sayu kini tertunduk. Sementara aku?
Aku membatu.
Hell, apa-apaan ini?! Apa yang dipikirkannya? Kami...sama-sama lelaki kan? Atau diam-diam ternyata dia seorang perempuan? Atau dia kira aku ini perempuan? Atau...tunggu, dia memang menyukai laki-laki?! Hah! Tu-tunggu, ta-tadi pagi bukannya Pain mencium Itachi-nii? Apa dia juga...menyukai laki-laki? Atau sekedar menganggap aniki itu perempuan? Y-yeah, kalau dilihat dari rambutnya yang panjang dan kulitnya yang seputih salju dan mulus memang ada kemungkinan ada yang menganggapnya perempuan. Tapi...tapi aku? Apanya dariku yang...
"...Sasuke teba!" dan omelan Naruto membawaku ke dunia nyata. "Apa itu sikapmu pada orang yang baru menyatakan cinta padamu?!" wajahnya masih memerah.
Oke, ada yang salah dengan ini. Dia bukannya mengoreksi kalau ini salah, malah menegaskan kalau dia memang mengatakan cinta? Ini gila, benar-benar gila.
"Kau gila," ucapku dengan nada dinginku yang biasa. Dan dia malah tersenyum.
"Ya, aku tahu," ucapnya. "Aku sangat tahu."
~OoooOoooO~
"Pain, aku sudah siapkan kamar untukmu. Sebaiknya kau pergi dari kamar Sasuke," omel Itachi-nii malam itu.
"Aku sudah betah disini. Kalau mau pergi, suruh bocah itu saja yang pergi," balas Pain dan berbaring santai di ranjangku.
Dalam keadaan normal, aku seharusnya mengomel juga. Aku paling benci kalau keberadaanku di kamar diganggu oleh orang lain. Tapi sepertinya aku akan memanfaatkan kekeraskepalaan Pain.
"Aku ada tugas yang harus kukerjakan. Dan semua barang-barangku ada di kamar ini," alasanku dan pura-pura mengetik tugas yang padahal deadline nya masih dua minggu lagi. Aku sok-sok an mengotak-atik rak buku ku untuk mencari referensi, supaya lebih meyakinkan.
"Oi aniki, bukankah kau ada meeting malam ini?" ucapku. "Nanti kau terlambat, pergilah," aku menatapnya, menyampingkan bukuku.
Ia menatap...entahlah, sulit kudeskripsikan.
"Ayolah, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa mengurus diriku dan bahkan dia, dan kami juga tidak akan bertengkar atau apa," tambahku.
"Justru itu yang kutakutkan," gerutu aniki yang masih bisa didengar telinga vampire ku. Ya, ini kan malam. Jadi aku sedang menjadi vampire.
Akhirnya Itachi-nii menyerah juga. Ia menggeleng pelan dan mendesah lelah sebelum melayangkan tatapan tajamnya pada Pain. Seolah memperingatkan sesuatu. Setelah itu barulah ia pergi.
Cukup lama. Sampai aku yakin aniki sudah berada jauh dan tak mendengarku lagi meski dengan telinga vampirenya.
"Jadi..." aku menutup bukuku, memutar kursiku menghadap ranjang dimana Pain...sudah duduk menatapku? Sejak kapan? "Apa yang terjadi tiga tahun yang lalu?" tanyaku.
"Apa yang sudah kau ketahui?" tanyanya datar seperti biasa.
"Pembantaian kalian terhadap clan Namikaze."
"Lalu?"
"Dan Itachi-nii salah satu dari kalian."
"..." Pain terdiam, lalu mengalihkan pandangannya dariku. "Apa Cuma sampai situ kepercayaanmu pada aniki-mu itu?"
Deg!
Aku terbelalak.
"I-itu..." aku bangkit, tapi tak jadi melangkah dan hanya terdiam di tempat. "Aku...aku juga tidak percaya. Hanya saja Naruto bilang...dia...melihat semuanya."
"Heh, tidak ada kebohongan yang lebih jelas dari kenyataan yang terlihat oleh mata kan?"
Aku terbelalak. "Apa...maksudmu..."
Dan Pain menatapku tajam. Lalu detik selanjutnya yang kulihat adalah tangan Pain yang mencengkeram kepalaku, dan setelah itu yang kulihat hanyalah kegelapan.
~OoooOoooO~
Hah!
Aku membuka mataku. Dan terheran-heran saat melihat sekeliling. Ini bukan tempat yang biasa kukunjungi, dan ini bukan lingkungan yang kukenali. Lalu aku mendengar suara. Aku menoleh kearahnya, dan terlihat beberapa siluet orang di dalam gua.
"Haa? Vampire baru?" ucap seseorang dengan sabit shinigami di punggungnya.
"Mendokusai. Tidak untuk malam ini," suara yang kukenal, suara Sasori.
"Yeah, soalnya kita sudah menyiapkan banyak untuk malam ini," suara Deidara.
Dari suara-suara itu dapat kusimpulkan kalau orang-orang itu adalah Akatsuki. Aku mendongak ke langit, dan melihat Half Moon menggantung di atas sana. Jangan-jangan malam ini adalah...
"Hng...Bagaimana kalau vampire baru itu kita bawa sekalian ke tempat berburu kita?"
"Untuk apa?"
"Kalau benar clan itu kuat, vampire baru bisa jadi lawan yang setara untuk mereka. Bukan berarti kita lemah sih, hanya saja...bukankah akan lebih efektif kalau vampire baru yang sangat aggressive menangani mereka sementara kita bisa bergerak dengan santainya?"
"Hmm...boleh juga. Bagaimana pendapatmu, Pain-sama?"
Kulihat siluet bermata merah itu menunduk, menatap sosok yang tergeletak di bawahnya. Tunggu? Tadi dia panggil Pain kan? Tapi kenapa matanya—...dan setelah kuperhatikan, ternyata mata para Akatsuki disana memang berwarna merah, dan bukannya berwarna aneh seperti yang pernah kulihat. Aku beralih menatap sosok yang tergeletak tak berdaya di lantai goa, sosok itu terdengar merintih pelan, namun tertahan.
"Yare yare, masih mencoba melawan, eh?" ucap siluet dengan pedang bergerigi di tangannya. Ia lalu menginjak sosok itu, membuatnya terlentang dengan kakinya. "Percuma saja melawan. Kau akan jadi vampire juga nantinya, tidak ada jalan kembali."
"Tapi dia menarik juga," ucap siluet seperti tanaman. "Sudah berapa lama sejak Deidara membawanya kesini? Tapi dia masih bisa melawan. Mungkin ini jenis langka."
"Sudahlah, hentikan omong kosong ini. Ayo pergi," orang yang membawa pedang bergerigi itu kali ini menendang sosok tak berdaya tadi dan meletakkannya di atas pedang yang ia panggul di pundak.
"Oi Kisame, apa tidak masalah kau meletakkannya di atas Samehada-mu? Tubuhnya belum menjadi vampire, bisa-bisa dia mati."
"Heh? Kalau dia mati apa masalahnya buat kita? Ayo pergi...
ke kediaman Namikaze."
Dan mereka melangkah keluar goa, dan kini dengan cahaya bulan, aku bisa mengenali sosok mereka dengan jelas. Dan sosok tak berdaya yang Kisame—vampire setengah hiu itu—bawa adalah...
Itachi-nii.
.
.
.
.
~To be Continue~
