(!) Tidak diterjemahkan secara harfiah...
Lesson 4
Being Too Nice Gets You Nowhere (part one)
Troye Sivan – Fools
.
Belum pernah sebelumnya dalam hidupku aku merasakan dorongan kuat untuk mencekik seseorang, terutama seseorang yang tampan seperti ini... Prof. Oh melingkarkan lengannya di bahuku sementara dia tersenyum palsu pada Kris yang duduk canggung di depan kami dengan matanya melihat bergantian pada wajah cemasku kemudian wajah arogan Prof. Oh. Aku memberinya tatapan minta maaf, berharap dia tidak merasa terintimidasi oleh sikap Prof. Oh.
Alisku berkerut, bertanya-tanya mengapa Prof. Oh bersikap membingungkan seperti ini... Dia tidak butuh aku, dan dia sudah membuat itu jelas kemarin malam di mansion, lalu apa yang sebenarnya dia rencanakan dengan menakut-nakuti Kris seperti ini? Aku sudah mulai merasa agak optimis dan tidak lagi terlalu kesal dengan hidupku, namun mengapa dia harus datang dan menghancurkan waktu damaiku.
"Apakah aku mengintrupsi sesuatu di sini?" Prof. Oh bertanya, memberi lirikan mengancam pada Kris. "Apakah ini kencan?"
"K-kencan ganda sebenarnya," jawab Kris, mengejutkanku. Itu menjelaskan mengapa Baekhyun terus tersenyum menakutkan tadi. Aku tidak tahu jika dia sedang berusaha mencomblangkan aku dengan Kris. Itu menjengkelkan, namun aku tidak bisa segera menunjukan kemarahanku pada Baekhyun saat ini, karena fokusku sekarang adalah pada si Profesor arogan yang kini duduk terlalu dekat denganku.
"Oh, bagus," kata Prof. Oh dengan tatapan menusuk yang tampak siap mengiris keberadaan Kris. "Namun tidakkah kau berpikir ini agak menyedihkan, Kris?"
"Menyedihkan?"
"Ya." Prof. Oh menyeringai. "Jika ini kencan pertamaku dengan Luhan, aku mungkin akan membawanya ke tempat yang lebih baik dan membuatnya senang. Kafe murahan seperti ini bahkan tidak akan ada dalam daftarku."
Kris tergagap tidak bisa membalas ucapan Prof. Oh sementara senyum berbisa Prof. Oh semakin melebar.
"Aku akan membawa dia ke tempat di mana dia bisa bersenang-senang." Prof. Oh memiringkan kepalanya. "Bukan tempat kencan membosankan seperti ini,"
"W-well, aku—"
"Maaf jika aku kurang sopan." Prof. Oh memotong dengan kejam. "Tapi menurutku Luhan layak untuk mendapat seorang yang lebih baik. Aku tidak bisa membayangkan jika dia pergi denganmu..."
"A-aku permisi..." kata Kris, gelisah dan gemetar. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju Baekhyun dan Chanyeol di konter. Aku melihat Kris gugup saat dia bicara dengan Baekyeol dan menjelaskan apa yang dikatakan Prof. Oh padanya. Aku memejamkan mata sebelum merasa semakin malu. Aku bahkan tidak berani menghadapi orang jahat di sampingku yang kini aku tahu tengah menatapku dan berharap aku akan bereaksi.
"Serius Luhan?" Prof. Oh berbisik. "Dia?"
Urus urusanmu sendiri, Profesor...
"Apa pedulimu?" bentakku, menyingkirkan lengannya dari bahuku. Nampaknya dia tidak senang dengan itu, dilihat dari bagaimana lobang hidungnya yang seperti tengah mengeluarkan asap...
"Well, aku hanya tidak menyangka kau memiliki ketertarikan pada para pecundang." Prof. Oh menggertakkan giginya.
Aku mengejek. "Harusnya kau sudah bisa menebaknya berdasarkan sejarah yang kita milikki bersama," jawabku sementara melotot padanya.
Dia menyeringai menanggapi. "Wow, lihat dirimu." Prof. Oh mendengus. "Dengan mudahnya kau membalikkan ucapan Profesormu seperti itu. Sepertinya aku tidak memberimu cukup tugas sehingga kau punya terlalu banyak waktu untuk berkencan..."
Aku menatapnya tidak percaya. Namun sebelum aku bisa membalas ucapannya kembali, Baekyeol datang. Hanya berdua.
"D-di mana Kris?" tanyaku, melihat ekspresi gugup Baekhyun.
"Dia bilang dia harus mengerjakan tugas," kata Baekhyun menempatkan diri di samping Chanyeol yang duduk di kursi di depan kami. Kedua temanku melihat Profesor tersenyum yang duduk di sampingku.
"Halo," kata Prof. Oh dengan suara memikatnya. Aku bersumpah dia berubah warna lebih cepat dari bunglon.
"Kris benar-benar pergi?" tanyaku, merasa tidak enak hati. Pria malang itu pasti merasa sangat dipermalukan.
"Ya, maaf Luhan," kata Chanyeol dan aku mengangguk. Prof. Oh nampaknya cukup senang dengan kepergian Kris. Dia tersenyum lebar, kemudian berdehem keras. Aku mengangkat alis, memberinya tatapan bertanya.
"Tidakkah harusnya kau mengenalkanku pada temanmu, Luhan?" Dia bertanya dengan senyum mempesona dan aku bertanya-tanya bagaimana bisa dia menjadi orang semunafik ini.
"Kurasa tidak perlu," kataku sementara menggertakkan gigiku. Namun sayangnya Baekhyun memutuskan untuk berinisiatif sendiri dengan memperkenalkan diri mereka sendiri.
"Hai, aku Baekhyun." Baek tersenyum, membungkuk pada Profesor. "Dan ini Chanyeol, pacarku."
Chanyeol membungkuk sedikit dan Prof. Oh membalasnya sementara tersenyum tampan.
"Oh Sehun," katanya. "Profesor Kimia. Dan kukira sepertinya aku mengenalmu Chanyeol... Bukankah kau di kelas tahun kedua yang aku ajarkan?"
"Ya Pak," sahut Chanyeol sopan. Aku tahu dia marah, mungkin karena Prof. Oh sudah mengusir sahabatnya.
"Aku mendengar banyak tentangmu." Baekhyun bertepuk tangan. "Luhan sering membicarakanmu!"
"Begitukah?" Suara Prof. Oh tiba-tiba terdengar begitu gembira.
Aku melotot pada Baekhyun dan menempatkan tangan di leherku, membuat gestur seperti sedang menggorok leher, bermaksud menyuruhnya untuk diam atau dia akan ditemukan tewas di sebuah lorong gelap malam ini. Namun tentu saja, Baekhyun tidak takut dengan ancamanku dan menjawab pertanyaan Prof. Oh. "Oh ya, dia tidak mau berhenti bicara tentangmu. Itu sangat lucu!"
"Baiklah aku pergi!" kataku sementara bangkit dari kursiku.
"T-tapi Hannie..."
"Aku merasa tidak enak badan, jadi aku akan kembali." Aku memakai jaketku. "Selamat tinggal,"
"Luhan—"
Aku melangkah keluar kafe dengan lengan terlipat di depan dada. Itu adalah bencana. Seluruh hidupku adalah bencana. Keberadaan Prof. Oh sudah cukup buruk, dan Baekhyun membuat situasinya menjadi semakin buruk. Aku berlari kembali ke asrama dan membenturkan kepalaku ke dinding saking frustrasinya. Kenapa semuanya begitu rumit?
Baekhyun masuk beberapa saat kemudian dan menatapku dengan marah.
"Kenapa kau kabur?" tanyanya bingung.
"Aku tidak mau duduk dengannya," jawabku, berusaha terdengar setenang mungkin.
"Dengan Chanyeol?"
"AKU MEMBICARAKAN OH SEHUN!" teriakku, tidak bisa menahan diri pada akhirnya. "ASTAGA BAEKHYUN BAGAIMANA MUNGKIN KAU TIDAK PAHAM HAL SEDERHANA SEPERTI INI! BAGAIMANA BISA KAU MASUK UNIVERSITAS PADAHAL KAU SEBEGINI BODOHNYA?!"
"Luhan, komohon berhenti." Baekhyun tampak terluka. "Kau belum pernah berteriak seperti ini padaku sebelumnya...kau tidak pernah menghinaku..."
Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku?
"Maafkan aku, maafkan aku." Aku bergegas ke arahnya dan memeluknya. "Aku...sepertinya aku masih marah pada Ayahku sehingga aku menanggapi seluruh situasi dengan cara yang berlebihan. Kumohon jangan marah."
Aku tidak punya pilihan lain selain berbohong.
"Aku mengerti." Baekhyun menepuk punggungku dan aku merasa lega mengetahui dia tidak apa-apa. Aku sungguh tidak pernah memiliki pemikiran negatif seperti itu tentang sahabatku sebelumnya, dan aku merasa begitu bersalah karena telah bersikap menyebalkan seperti ini.
"Haruskah kita menonton film favoritmu malam ini?" tanyaku tersenyum.
"Ide yang bagus." Dia menyeringai. Setidaknya aku bisa menghabiskan malam yang damai dengan Baek sebelum terpaksa harus menghadap Prof. Oh besok pagi di kelas.
.
Sebagaimana yang aku takutkan, Prof. Oh mulai memberi lebih banyak pekerjaan rumah di kelas daripada sebelumnya. Jika itu tidak cukup banyak, menjadi asistennya, aku akan mendapat lebih banyak tugas yang dilimpahkan padaku. Dia memberiku tumpukan tugas dari semua kelas yang dia ajar, dan menyuruhku untuk menilainya sampai tenggat waktu yang begitu singkat. Aku terkubur oleh banyak PR dan tugas, semakin dan semakin kurang tidur setiap harinya karena berusaha menyelesaikan semua tugas dari semua mata kuliah beserta tugas asisten pada saat bersamaan. Aku yakin aku telah kehilangan banyak berat badan sekitar dua minggu terakhir ini.
Jika itu tidak cukup buruk, maka yang lebih buruk lagi, mahasiswa kelas kimia telah men-'shipping' aku dan Prof. Oh bersama (entah apa maksudnya)
"Shipping? Apakah itu seperti mereka ingin kami melakukan perjalanan ke suatu tempat bersama?" tanyaku pada Yixing, yang kemudian menepuk dahinya.
Rupanya, itu berarti mereka membayangkan kami sebagai pasangan romantis. Aku memerah dan bertanya-tanya mengapa mereka berpikir begitu. Yixing menjelaskan bahwa mereka menyukai bagaimana aku duduk di bangku paling depan dan menjadi seorang mahasiswa sejati yang mengajukan banyak pertanyaan tentang materi pelajaran. Prof. Oh sepertinya lebih memperhatikanku daripada mahasiswanya yang lain, selalu bertanya padaku apakah aku mengerti apa yang dia ajarkan atau tidak. Mereka entah bagaimana mengetahui tentang aku menjadi asisten Prof. Oh dan kemudian, itulah yang mengundang terjadinya skandal tersebut. Mereka menyukai bagaimana kami menghabiskan waktu bersama di luar kelas, di mana tidak ada yang mengganggu privasi kami.
Aku menceritakan hal ini pada Prof. Oh setelah kelas pada hari Jumat dan dia tertawa di atas pantatnya, sementara aku hanya berdiri di depannya dengan wajah jengkel.
"Ini sangat—" Dia tersedak tawanya sendiri dan mulai terbatuk.
Aku menatapnya jijik dan berkata. "Siapa pun orang yang membuatmu menjadi Dosen di sini, aku akan menemukannya dan—"
"Ayahmu yang mewawancaraiku." Dia mengedipkan mata padaku dan aku tersentak.
Kemudian dia kembali tertawa sementara aku mulai merasa cukup akan obsesinya menggodaku.
Melihat kemarahanku, dia menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Aku merasa ini benar-benar lucu, Luhan." Dia berkata, dengan tampannya. "Dan akui saja, dipasangkan denganku adalah suatu kehormatan bagimu, benar?"
"Aku pergi," kataku, mengabaikan komentarnya.
"Hei, tunggu!" Dia memanggil.
"Hmm?"
"Jangan lupa menyelesaikan penilaian paper ini pada hari Sabtu," katanya, menyerahkan serangkaian tugas baru.
Mataku siap melompat dari soketnya. Aku baru saja menyerahkan sekitar 50 paper tugas padanya dan dia ingin membebaniku lagi.
"T-tapi ini akhir pekan..." Aku protes dengan lemah, melihat tumpukan sekitar 50-60 paper tugas lagi.
"Aku tahu." Dia menyeringi. "Maaf, tapi aku benar-benar membutukannya pada hari sabtu, kumohon?"
"Tentu saja kau membutuhkannya," gumamku. Dia sengaja. Kalau tidak, kenapa pula dia butuh ini selesai pada hari Sabtu? Kami tidak memiliki kelas selama akhir pekan. Dia hanya ingin memastikan bahwa aku tidak akan pergi dengan pria mana pun di akhir pekan sebagaimana yang dia inginkan.
"Selamat mengerjakan." Dia menyeringai sementara aku berusaha menyeimbangkan tumpukan kertas di tanganku dan pergi tanpa sepatah kata pun.
Ini sangat tidak adil...
.
"Kau tampak mengerikan," komentar Baekhyun saat aku kembali ke kamar. Aku meletakkan tumpukkan kertas di meja belajar dan melemparkan tasku.
"Aku tahu," erangku dan jatuh tengkurap di tempat tidur. "Aku hanya ingin berbaring dan mati sekarang juga,"
"Aww..." Baekhyun berdecak, duduk di sampingku di tempat tidur dan mengusap rambutku dengan lembut. "Kau harus ikut ke pesta asrama malam ini. Channie dan Kris akan ada di sana juga. Minum sedikit alkohol dan bersantai sejenak,"
"Aku tidak bisa." Aku mengeluh. "Aku masih harus mengerjakan tugasku,"
"Datanglah hanya untuk satu jam." Baekhyun tersenyum hangat. "Ini akan membantu menghilangkan stresmu."
Aku setuju untuk pergi dengan Baekhyun pada akhirnya, bertemu dengan teman sekelasku yang sedang bersantai juga di sana. Ada begitu banyak alkohol dan aku hanya memilih untuk mencampur sedikit rum dengan coke, berusaha menekan jumlah alkohol yang aku minum sehingga aku tidak akan terlalu mabuk. Aku harus tetap sadar karena aku masih memiliki banyak tugas yang harus dielesaikan.
"Hei, Luhan!" Suara gembira seseorang memanggilku dan aku berbalik melihatnya.
Kris tersenyum padaku, menggaruk belakang lehernya dengan canggung sementara kemudian berkata. "Apa kabar?"
"Aku baik," jawabku tersenyum. "Aku sangat minta maaf untuk yang waktu itu omong-omong,"
"Oh tidak, tidak apa." Dia berkata, tidak masalah. "Prof. Oh benar. Itu menyedihkan untukku membawamu pada kencan membosankan dan murah seperti itu. Mulanya kupikir itu tidak akan terlalu canggung jika Baekyeol ikut juga."
Aku memerah. "Ummm...aku bahkan tidak tahu jika itu kencan..."
Kami mengobrol cukup lama. Aku masih belum bisa tertarik pada Kris dengan cara seperti itu, namun kukira itu tidak apa-apa jika aku pergi dengannya kapan-kapan. Dia adalah pria baik dan aku merasa nyaman saat bersamanya. Baekyeol bergabung dengan kami setelah beberapa saat dan segera, tingkat kebisingan meningkat. Chanyeol dan Kris berdebat tentang siapa yang bisa minum lebih banyak dan Baekhyun menimpali bahwa kapasitas alkoholnya juga tinggi, jangan menilai dari ukuran tubuhnya yang mungil. Satu hal mengarah pada hal lain sampai kemudian...
"Minum minum minum minum!" Baekhyun berteriak ketika Chanyeol menuangkan alkohol yang menyengat ke dalam gelas kecil untuk kami berempat.
"Aku tidak ikut!" kataku, menatap takut ke arah cairan bening dalam gelas. Namun tentu saja tidak ada yang mendengarku.
"Hanya segelas tequila." Kris menyeringai. Aku menghela napas, mengambil gelas dari tangannya.
Cairan mengerikan bergemuruh di tenggorokanku saat aku menenggaknya, dan aku merasa seperti aku akan berhenti bernapas. Rasanya sangat tidak nyaman. Aku mencengkram tenggorokanku dan terbatuk, tidak senang dengan rasa minuman keras itu.
Baekhyun membantuku minum air sehingga membuatku merasa lebih baik, namun mataku tetap tidak berhenti berair.
"Aku akan membuat minuman yang nikmat untukmu." Chanyeol menjentikkan jarinya. "Sebagai kompensasi karena sudah membuatmu menangis."
Itu terdengar seperti bencana. Aku menatap Baekhyun untuk meminta bantuannya dan dia mengangguk padaku, memberitahu jika dia akan menggantikan aku untuk meminumnya jika aku tidak suka.
Chanyeol berhasil meracik minuman dengan mencampurkan sejumlah alkohol dan air jeruk nipis. Aku mendengus, menatap minuman itu curiga, namun sebenarnya aromanya cukup menyenangkan. Aku meminumnya dengan hati-hati, dan aku terkejut. Rupanya rasanya luar bisa, jadi aku segera meminumnya dalam sekali tenggak.
"Whoa! Enak sekali!" seruku dan yang lain tertawa untuk reaksiku.
Aku merasakan kebahagiaan mengguncang duniaku perlahan. Aku menari dengan gembira sementara mendengar teman-temanku berkali-kali menjerit 'dia begitu imut'.
"Hannie, apa kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun, merangkul bahuku.
"Mmmmmm." Aku tersenyum dalam lamunan.
"Apa kau akan menyelesaikan tugasmu malam ini?" Dia bertanya, menatapku cemas.
"Syooot! Lupa..." gerutuku.
Baekhyun menawarkan untuk mengantarku kembali ke asrama, namun aku menolaknya karena merasa itu tidak terlalu jauh. Aku melambaikan tangan pada semua orang dan pergi menuju kamarku.
Harusnya aku tidak menenggak minuman terakhir itu. Kakiku saling bertaut saat aku terhuyung kembali ke kamar asramaku. Aku merasa begitu bodoh, berpegangan pada dinding koridor sepanjang perjalanan menuju tempat tujuanku. Aku memegang kusen pintu erat-erat sementara berusaha membuka pintu kamarku dengan paksa.
"Fuck my life!" Aku menggosok dahiku. Andai saja aku tidak harus mengerjakan tugas terkutuk itu, mungkin aku sudah bisa tidur sekarang. Aku terhuyung nyaris tersandung di lantai menuju meja belajar yang aku bagi dengan Baekhyun. Duduk di kursi, aku menarik tumpukan kertas dan berusaha untuk membacanya. Namun sayangnya, tidak peduli berapa kali aku mengedipkan mataku, huruf-huruf itu seperti melompat-lompat dan menari-nari di atas kertas, dan aku berusaha menangkapnya dengan pensilku. Aku menusuk seluruh permukaan kertas, berusaha memahami kata-kata sialan itu yang tidak mau diam untuk bisa aku baca.
"Aaarrgghhh!" Aku menjerit dan mulai menulis 'gigit aku, Prof. Oh' pada setiap lembaran kertas. Semua ini salahnya! Aku melempar pensilku dengan marah dan merogoh sakuku untuk mengeluarkan ponsel.
"Kau!" Aku bicara pada ponsel. "Bertemu aku sekarang juga!"
"Luhan?" Suara berat dan sialan seksinya itu membuatku bingung.
"Aku bilang aku inginh bertemu kau!"
"Kau mabuk," katanya serius.
"Wow, b-begitu jeniusssssss." Aku tertawa, kemudian bersandar di kursiku. Namun menyedihkan, aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku sehingga aku terjengkang jatuh ke lantai.
"Owww!" Aku memekik dan dia tersentak di seberang sana.
"Luhan, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" tanyanya cemas.
"Aku akan memberitahumu," bisikku pelan. "Jika kau kemari dan menemuiku sekarang juga... Offesor Poh.."
"Di mana kau? Aku akan datang menjemputmu," katanya serius.
"Nuh-uh! Kau yang katakan di mana kau!"
"Baiklah, aku masih di kelasku." Dia mendesah. "Kemari."
Bagaimana aku bahkan masih bisa mengingat di mana kelasnya berada di bawah kabut tebal alkohol masih menjadi misteri. Aku pasti memiliki ingatan yang sangat brilian karena aku sampai di tempat itu tanpa tersesat. Aku membuka pintu dan melihat Prof. Oh berada di mejanya, masih bekerja.
Dia tercengang saat melihatku bergoyang-goyang di ambang pintu dengan senyum lebar sementara melambai padanya.
"Hai, Profesor..." Aku terkekeh.
"Luhan." Rahang Prof. Oh mengeras. "Kau sangat mabuk,"
"Kenapa? Kau ingin memanfaatkannya?" tanyaku, terhuyung berjalan ke arahnya. Dia bangkit dari kursinya dan menutup jarak diantara kami.
"Kau butuh minum air," katanya, meraih tanganku dan mencoba membuatku duduk di kursinya.
"TIDAK!" Aku berteriak, mendorongnya kembali ke tempat duduknya. "Aku butruh minum dari bibirmu..."
"Luhan..." Dia berbisik sementara aku menggigit bibirku.
"Katakan namaku sekali lagi..." Aku memohon dan melihatnya menelan ludah. Namun dia tidak bicara dan matanya hanya terpaku, terus menatapku.
"Pofessor Oh Seun..." Aku bergumam. "Katakan namaku...terdengar begitu seksi saat kau yang mengatakannya..."
Aku mencondongkan tubuh lebih dekat ke wajahnya sementara dia memegang erat pegangan kursi yang kini ia duduki.
"L-Luhan, dengarkan aku..."
"Apa aku begitu jelek sehingga kau tidak mau menciumku bahkan sekali?" tanyaku polos. "Apa aku membuatmu jijik?"
"Tidak, tidak!" Dia menyangkal. "K-kau cantik..."
"Mmmm..." Aku tersenyum melindur. "Kau pikir aku cantik?"
"Sangat."
"Tapi kau tidak mau menciumku." Aku cemberut.
"Aku tidak bisa."
"Omong kosong!" jeritku. "Kau bilang aku pencium yang baik..."
"Luhan, tidak..." katanya lemah. "Aku gurumu..."
"Kalau begitu kenapa kau selalu melihatku seperti kau ingin menerkamku?" Aku bertanya dalam kesedihan. "Kenapa kau menatap bibirku saat aku bicara? Kenapa kau selalu menggodaku sampai aku merasa hampir gila tapi kau TIDAK PERNAH...tidak pernah memuaskanku...tidak pernah membuatku bahagia..."
"A-aku tidak..."
"Jangan menyangkal," bisikku, mendekat pada bibirnya perlahan. "Jangan menyangkal bahwa kau begitu ingin menciumku dengan keras sampai bibirku mati rasa... Karena aku tahu kau ingin...dan aku menginginkanmu juga..."
"Kau anak nakal." Dia berbisik sementara tangannya menangkup wajahku. "Apa kau benar-benar harus menggodaku seperti ini?"
Dia menunduk mencium leherku dengan lembut dan aku mengerang tertahan. Sialan, bibirnya begitu lembut! Itu terasa seperti surga saat bersentuhan dengan kulitku...
"Oh Sehun." Aku mendesah. "Berhentilah bersikap begitu kaku dan cium aku sepuasmu..."
Dia bergumam, menempelkan dahinya di dahiku. "Begitu seksi Luhan..." katanya, membuatku kesal.
"Sehun..." Aku merengek dalam keinginan. Rasanya menyenangkan menyebut nama aslinya. Terdengar begitu indah dan seksi seperti bagaimana sosoknya.
"Tutup matamu." Dia mencium hidungku.
"Aku tidak mau," kataku, melawan. "Ingin...cium..."
"Tentu. Tutup matamu selama beberapa menit dan rileks. Oke?"
"Hmmm..." Aku melindur. "Jangan tinggalkan aku, Sehun..."
"Tidak akan Baby." Dia terkekeh pelan. "Aku akan di sini,"
"O-oke..." gumamku. Suaranya begitu menghipnotis dan aku merasakan kepalaku beristirahat pada pundaknya yang kuat, wajahku berada di lekuk lehernya dan mataku perlahan tertutup saat jiwaku dipenuhi aroma menawannya yang indah...
Aku merasakan dia menarik kakiku dan mendudukkanku di pangkuannya dengan kedua lengannya melingkari tubuhku dengan pas. Aku mendesah dalam kegembiraan, merasakan kehangatan surga menyelimuti diriku.
Bibirku bergerak perlahan saat aku berkata. "Malam malam, pangeranku..."
"Mimpi indah, baby," bisiknya. Ciuman lembut di dahiku adalah hal terakhir yang kuingat sebelum kesadaranku sepenuhnya hilang.
.
Malam itu aku mengalami mimpi yang menakutkan. Aku kembali ke klub yang sama yang aku kunjungi bulan lalu di mana aku mendapat ciuman pertamaku dan bertemu Dosenku untuk pertama kalinya. Namun kali ini, tidak ada siapa pun di lantai dansa. Musik keras terdengar dan lampu menyala di sekitarku, namun aku sendirian.
"Luhan?" Sebuah suara bergema dan aku berbalik untuk menemukan Profesorku, memakai pakaian yang sama seperti malam membahagiakan itu. Ekspresinya tidak terbaca saat dia berjalan mendekat padaku.
"Profesor?" Suaraku bergetar sementara dia berbisik di telingaku.
"Aku sangat membencimu!" Dia berkata dengan marah.
"Luhan!" Suara Ayahku menggema kemudian dan aku menggigil. Aku berbalik untuk menemukannya berdiri di belakangku dengan tatapan yang menusuk.
"Kau mengecewakan," desisnya dan aku mersakan hatiku hancur berkeping-keping.
Kesedihan menyelimutiku ketika setiap adegan berputar disekitarku, kemudian aku terjatuh dengan cepat ke dalam lubang tanpa dasar. Tatapan kemarahan Profesor dan Ayah adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum aku sepenuhnya diselimuti kegelapan, terisolasi dan dikelilingi keputusasaan yang dingin.
Aku menangis dan terus menangis, memohon seseorang untuk menolongku, menyelamatkanku dari terjatuh lebih dalam... Jurang yang suram menelanku dan aku takut jika aku tidak akan pernah bisa keluar dari sana...
"Hei, tidak apa-apa." Sebuah suara berbisik. "Itu hanya mimpi buruk..."
Tiba-tiba tidak terasa dingin lagi. Seseorang memelukku, mencium keningku dan membisikkan kata-kata manis di telingaku...
"Luhan, bangunlah sayang..." Suaranya memanggilku dan aku keluar dari mimpi menyedihkan yang menghancurkanku sedikit demi sedikit itu. Aku membuka mataku perlahan, pipiku basah karena air mata. Ada sesuatu yang sangat lembut di bawah tubuhku, seperti tempat tidur nyaman yang terasa asing. Namun begitu, lengan yang kini memelukku tidak terasa asing karena aku pernah merasakannya beberapa kali...
Itu membuatku merasa yakin untuk mencengkeram lengannya yang kuat, wajahku tenggelam di dadanya dan aroma menenangkannya membungkusku.
"Merasa lebih baik?" Dia bertanya dan aku mengangguk. Aku takut dia akan mendorongku menjauh, namun rupanya tidak. Aku semakin mencengkeram lengannya dan dia mendekapku semakin erat sementara berbisik. "Aku menangkapmu. Kembali tidur..."
Kepalaku beristirahat pada sesuatu yang lembut dan aku segera tertarik ke dalam tidur nyenyak tanpa mimpi.
.
Publish: Rabu, 10 Mei 2017
Revisi: Kamis, 22 Juni 2017
.
520!
