Rasanya Hinata ingin menghilang saja. Ia malu, sungguh-sungguh malu. Andai saja ia punya jurus ninja untuk menghilang, Hinata akan segera menghilangkan dirinya, kalau perlu ia ingin menghilang dari seluruh pelosok Jepang. Lihat saja, Hinata yang tengah menangkup pipinya yang merona sambil terus mengeleng-gelengkan kepalanya. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan piyamanya yang kusut.
Manik lavendernya menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin kamar mandi. Tak ada yang berubah. Semua masih di tempatnya, dan tak ada sesuatu pun yang aneh di badannya. Hinata menyalakan kran dan mulai membasuh mukanya. Segarnya air membasuh wajah kusut Hinata. Tetesan-tetesan air menuruni hidung Hinata dan berakhir di lantai kamar mandi. Gadis itu menyisir rambutnya dengan jari-jari lentiknya. Di dekatkannya wajah cantiknya ke cermin. Jemari kanannya terangkat, menyentuh bibirnya. Pipinya kembali memerah.
"Aku sudah bertekad membantunya. Ya, aku akan membantunya."
Hinata mulai menanggalkan pakaiannya dan langsung berendam di bathub. Di kepalanya berkeliaran bayangan-bayangan tadi malam. Bagaimana ia dan Sasuke tidur di ranjang yang sama, saling melemparkan pertanyaan yang membuat suasana menjadi sedikit tegang. Bagaimana pria itu menyentuh daerah pribadinya sampai ciuman dadakan yang dilayangkan Hinata.
Hinata menatap dadanya. Masih bisa ia rasakan bagaimana sentuhan tangan Sasuke pada dadanya. Tangannya terasa sangat besar saat menangkup dadanya. Remasannya tak terlalu kuat, namun Hinata suka.
Eh? Suka?
Hinata cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Ini masih sangat pagi, masih pukul setengah lima pagi. Tapi Hinata tak dapat melanjutkan tidurnya. Hinata menyandarkan punggungnya ke sandaran bathub. Gadis itu memejamkan matanya.
Flashback
Sasuke terbelalak dengan ciuman singkat Hinata yang mendadak. Pria itu hanya bisa mematung sambil membulatkan matanya. Sedangkan Hinata, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. Suaminya itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia terlalu terkejut akan tindakan istrinya itu. Manik hitamnya memandang Hinata tak percaya. Ya, Hinata yang pemalu dan tidak cukup mengenalnya baru saja menciumnya. Di bibir. Dan, ucapan wanita itu membuatnya tertegun sejenak. Membantu katanya? Apa gay bisa disembuhkan? Sasuke termenung cukup lama. Tatapannya kosong. Pikirannya berkelana. Hinata yang sudah bisa menguasai suasana hatinya memberanikan diri untuk melihat wajah Sasuke. Gadis itu termenung. Memandang bingung Sasuke yang tampak aneh. Sebegitu hebatnyakah ciuman dadakannya? Semburat merah menghiasi pipi putih Hinata.
"Ma-maafkan a-aku... Su-sungguh, Sasuke-san." Sesal Hinata. Gadis itu memang benar-benar menyesal atas tindakannya yang tanpa pikir panjang. Mencium Sasuke hanya karena terbawa suasana saja tanpa memikirkan akibatnya. Entah kenapa Hinata berani menempelkan bibirnya ke bibir Sasuke meskipun sangat singkat.
Ucapan maaf dari Hinata membawa Sasuke kembali pada dunianya. Sasuke yang kini kembali berwajah datar, tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Ia hanya menatap tajam manik lavender Hinata. Sasuke sempat berpikir, bahwa gadis yang kini menyandang status sebagai istrinya itu hanya mencari-cari kesempatan untuk bisa menyentuhnya. Seperti wanita-wanita jalang di luaran sana yang rela menyerahkan segalanya untuknya. Sasuke ingat. Ada seorang gadis yang berprofesi sebagai seorang model yang sangat ingin menghabiskan malam bersamanya. Gadis itu bahkan rela menanggalkan semua pakaiannya minus pakaian dalamnya di hadapan Sasuke. Di kantornya. Saat jam kerja.
Sasuke membenamkan tubuhnya dibalik selimut tebal yang membungkus tubuhnya dan Hinata. Tanpa mempedulikan tatapan menyesal dan ungkapan maaf Hinata, Sasuke mengambil posisi membelakangi Hinata dan segera memejamkan matanya. Ia sangat lelah. Sangat lelah dengan kehidupannya yang tidak normal ini.
oOoOo
Hinata keluar dari kamar mandi menggunakan kimono mandinya. Rambutnya ia bungkus menggunakan handuk berukuran sedang. Kedua bola matanya kembali menatap Sasuke yang masih terpejam. Tanpa sadar, kedua tungkai kakinya melangkah mendekati sosok suaminya itu.
Hinata berhenti tepat di depan wajah Sasuke. Hinata perhatikan wajah damai Sasuke yang tertidur. Alis matanya terbentuk dengan sempurna alami. Tak terlalu tipis ataupun tebal. Bulu matanya tak terlalu panjang. Lalu, hidungnya mancung dan kecil. Tulang rahangnya begitu tegas. Bibirnya yang tipis dengan hiasan tahi lalat berbentuk sangat kecil di sudut kanan atas. Wajahnya putih bersih tanpa bekas noda jerawat ataupun jerawat. Hidungnya juga bebas komedo. Pasti pria ini melakukan perawatan mahal di salon terkenal, batin Hinata.
"Sayang sekali, kamu tidak menyukai wanita. Padahal kau sangat tampan. Aku prihatin." Hinata berlalu kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah bunyi pintu terkunci terdengar, sosok yang tadi Hinata amati membuka kelopak matanya. Menatap langit-langit kamar perempuan Hyuuga yang kini ia diami. Kalaupun boleh memilih, Sasuke juga ingin hidup normal layaknya pria normal lainnya. Menikah dengan seorang perempuan yang ia cintai. Membangun keluarga kecil yang hangat. Ditemani sang istri berserta dua orang anak. Pergi piknik setiap akhir pekan. Mengajak istri dan anak-anaknya berlibur ke Eropa, mencicipi makanan khasnya dan berpoto bersama.
Sekitar tiga hari yang lalu, ia melihat sebuah keluarga kecil yang tampak bahagia. Seorang pria yang tidak cukup tampan yang sepertinya seumuran dengannya tengah memotret istri beserta anaknya yang masih bayi. Istrinya lumayan cantik. Setelah itu, giliran sang istri yang memotret suami dan anaknya. Setelah selesai, pasangan suami istri itu duduk bersama di taman yang tak cukup ramai itu. Anak mereka diletakkan di box bayi. Mereka terlihat bahagia. Menatap satu sama lain kemudian beralih menatap buah hati mereka. Si suami terlihat mengupaskan apel dan menyuapi istrinya. Entah kenapa hal sepele seperti itu membuat Sasuke menarik kedua sudut bibirnya sedikit. Ya, memang hanya sedikit.
Melihat pasangan suami istri tersebut, entah mengapa membuat Sasuke cemburu. Seorang lelaki yang tidak bisa dibilang tampan pun memiliki seorang istri yang terbilang cukup menawan. Sedangkan dirinya. Dilihat dari mana pun, ia memiliki wajah yang tampan. Postur tubuh yang atletis, hidupnya mapan, dan kelilingi banyak wanita cantik. Sayangnya, hatinya malah tertambat oleh seorang pria blasteran. Entah sejak kapan ia menjadi seperti ini. Seingatnya, dulu ia pernah memiliki seorang kekasih perempuan. Cukup cantik, namanya Akari. Tapi, entahlah Sasuke sendiri tidak mengerti dengan semua ini.
Yang ia tahu, beberapa tahun yang lalu. Saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas, ia belum merasakan sebuah ketertarikan terhadap sesama jenis. Ia juga pernah berciuman dengan seorang perempuan seperti yang tadi malam ia bilang pada Hinata. Ah, bukan seorang melainkan dua orang. Ya, Hinata masuk hitungan meskipun itu adalah sebuah paksaan. Paksaan? Ah, tidak juga. wanita Hyuuga itu juga menciumnya terlebih dahulu. Jadi, Sasuke semakin bingung dengan keadaan dirinya sekarang. Apakah ia seorang pria normal atau jangan-jangan ia seorang biseks?
Sasuke menegakkan tubuhya dan menggelengkan kepalanya. Ia bukan seorang biseks. Ya, karena nyatanya, ia tidak tertarik sama sekali pada seorang perempuan sekarang. Memorinya memutar kembali kenangan pahit yang pernah ia alami semasa sekolah menengah atas.
Saat itu...
Ini adalah hari Sabtu, sekolah bubar lebih awal. Sasuke berniat untuk menunggu kekasihnya Akari untuk pulang bersama jadi ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sejenak. Akari megikuti klub memasak. Setiap hari Sabtu, klub memasak melakukan kegiatannya. Tanpa memberitahu Akari, Sasuke berniat menunggunya. Ya, hitung-hitung memberikan kejutan kecil.
Tungkai kaki Sasuke yang jenjang menyusuri koridor kelas yang sedikit sepi karena sebagian siswa sudah pulang ke rumahnya. Tak jarang Sasuke berpapasan dengan beberapa orang adik kelas yang memandangnya kagum dan menyebut-nyebut namanya. Sasuke muak dengan kelakukan mereka. Apa semua gadis memang seperti itu saat bertemu dengan seorang pemuda tampan? Pikrnya narsis.
Selain berisik ternyata mereka juga murahan. Rela membanting harga diri mereka hanya demi mendapat perhatian pujaannya. Cih, mana mau seorang Uchiha dengan gadis seperti itu.
Sasuke menggerutu kesal saat tempat yang ditujunya tutup. Tak biasanya tutup. Apa penjaganya sedang sakit? Ah, tapi Sasuke tak terlalu memikirkannya. Ia punya tempat tujuan yang baru. Atap.
Baru saja kakinya akan menaapaki anak tangga pertama, telinganya mendengar suara desahan seorang perempuan dari gudang yang sudah tidak terpakai. Sasuke membalikkan badannya. Ia harus menyelidiki asal suara itu. Sungguh memalukan jika ada pasangan mesum di sekolahnya dan melakukan tindakan asusila di lingkungan sekolah. Ia berjanji akan segera melaporkannya pada kepala sekolah jika tebakannya tebukti benar.
Sebenarnya Sasuke sedkit was-was. Tentu saja ia was-was. Was-was melihat adegan pornografi di depan matanya sendiri.
Sasuke berdiri di depan pintu tanpa suara. Suaran desahan seorang lelaki kini terdengar teinganya. Tebakannya ternyata tepat. Ada pasangan mesum di sekolahnya. Pintunya tidak terkunci. Sasuke mendorong pelan pintunya dan berhasil emmbuat akses untuknya melihat kejadian seperti apa yang terngah terjadi di dalam. Ada dua orang siswa yang Sasuke tidak tahu namanya dan seorang gadis? Sedang apa mereka? Jangan-jangan gadis itu hendak diperkosa?
Diperkosa?
Seorang gadis yang akan diperkosa mendesah sperti itu? Jangan bercanda. Yang ada si gadis akan berontak menolak semua sentuhannya. Memukul tubuh mereka atau menjerit histeris meminta bantuan seseorang. Yah, seperti itulah yang biasa ia lihat di dorama-dorama yang ibunya tonton. Sungguh tidak mendidik tontonan semacam itu.
Onyx-nya ia fokuskan pada sosok gadis yang entah ada di mana. Tapi Sasuke mendengar suaranya.
"A-Akito-kun..."
Deg
Sasuke kenal suara gadis itu. Meskipun tak dapat melihat wajah gadis itu, tapi Sasuke yakin dengan suaranya. Seorang gadis yang mendiami hatinya. Tapi, sebelum dapat melihat wajah gadis itu, Sasuke tak yakin dengan pendengarannya. Barangkali saja itu gadis lain yang suaranya hampir dengan Akari.
"Hm? Ada apa sayang?"
Sasuke melihat pemuda berambut cepak hitam itu mengeluarkan suara. Mungkin itu si Akito yang disebut gadis itu.
Onyx Sasuke membelalak saat seorang pemuda lain mengangkat gadis itu berdiri. Itu Akari-nya.
Pemuda berambut perak jabrik itu melingkarkan kedua lengan Akari ke lehernya. Sementara si Akito berdiri di belakang tubuh Akari. Mereka menghimpit tubuh gadisnya. Sasuke mengepalkan tangannya kuat. Kenapa Akari tidak berontak tau berteriak? Gadis itu malah mengeratkan pegangannya pada leher si jabrik yang belum Sasuke ketahui namanya.
"Ka-kaito..." Akari menyebut pemuda berambut perak itu dengan sebutan Kaito.
Rahang Sasuke semakin mengeras saat tangan kotor pemuda bernama Kaito itu membuka satu per satu kancing seragam gadisnya. Cih, ada apa dengan gadis itu? Kenapa tidak melawan sama sekali hah? Sungut Sasuke dalam hati. Ia kesal bercampur marah. Wajah Sasuke memerah menahan amarah. Hatinya sakit. Ia sakit melihat gadisnya dengan sukarela menyerahkan tubuhnya. Cih, ia saja belum pernah melakukan hal semacam itu padanya.
Rahang Sasuke semakin mengeras saat Akito yang berada di belakangnya melepas pengait bra Akari dan meremas dada gadisnya. Apalagi Kaito dan Akari yang saling memagut. Sasuke muak melihatnya, tapi ia ingin melihat sampai sejauh mana mereka kan berbuat.
Pemuda bernama Akito itu mengecupi setiap inci punggung Akari tanpa menghentikan atifitas tangannya. Sasuke semakin muak dengan gadis jalang itu yang semakin merapatkan tubuhnya pada pemuda yang memagut bibirnya.
"Kau cantik sayang, apa Uchiha itu pernah mencicipi tubuh mu, hm?" Kaito menangkup wajah Akari. Lidah hangatnya menjilati permukaan bibir Akari yang basah dan memerah.
"Ma-mana mau dia melakukan ha-hal itu. U-untuk apa a-aku melakukan ini semua dengan kalian, jika aku dan Sasuke pernah melakukannyaahh..." Akari mendesah. Ia memejamkan matanya meresapi setiap sentuhan kedua pemuda itu di tubuhnya.
"Kini giliranku, sayang." Akito membalik tubuh Akari.
Sementara Sasuke, onyx-nya berkilat marah. Tanpa ragu, ia mengeluarkan ponselnya dan merekam kejadian yang terjadi di depannya. Sudut kanan bibirnya terangkat tinggi.
"Kalian akan mendapatkan balasannya, segera."
Klik...
Perekam video ponsel Sasuke pun mulai menyimpan semuanya.
Sementara tiga orang yang tengah asyik dengan kegiatannya itu tak menyadari sedikitpun keberadaan Sasuke. Sekolah telah bubar satu setengah jam yang lalu. Mereka meyakini tak ada seorangpun siswa yang tersisa. Semua klub diliburkan minggu ini. Bahkan mereka yakin, semua guru dan staff-nya telah meninggalkan tempat yang bernama sekolah ini.
Hati Sasuke seakan diiris ribuan pisau tajam menyaksikan pemandangan di depannya. Akito melahap kedua dada gadis sialan itu. Benar-benar sial saat telinganya mendengar racauan Akari ketika Kaito melepas rok dan celana dalamnya.
Dan benar-benar seakan ditembak mati di tempat. Tubuh Sasuke tak dapat bergerak seinci pun begitu kedua pemuda bajingan itu menyatukan tubuh mereka dengan Akari. Benar-benar gadis murahan yang sangat menjijikan dibandingkn seorang gay.
Dengan langkah lunglai, Sasuke beranjak dari tempat nista itu denga tangan yang terkepal erat. Pandangan matanya yang sendu tertuju pada ponselnya. Ia berjanji akan membuat gadis itu menderita bagai di neraka.
"Dasar murahan." Geramnya.
Ia menyesal memberikan sebagian hatinya untuk gadis semacam dia. Sasuke ingat, Akari begitu baik dan berbeda dengan gadis lainnya. Meskipun Akari bagian dari penggemarnya, tapi Akari tak mengganggunya. Akari tidak pernah meneriakkan namanya atau menguntitnya. Akari juga tak pernah menerornya.
Beberapa bulan yang lalu, Akari memang pernah mengajaknya 'tidur'. Tapi ditolak secara halus oleh dirinya. Ia tak ingin merusak masa depan seorang gadis dengan hal semacam itu.
"Aku ingin melakukannya saat kita sudah menikah kelak."
oOoOo
Hinata nyaris menutup pintu kamar kembali saat matanya bertemu pandang denga onyx Sasuke. Ia gugup. Ya, sangat malahan. Ia sangat gugup karena kejadian tadi malam. Hinata bergeming di tempatnya. Pipinya merona. Bahkan saat Sasuke berjalan mendekatinya Hinata tetap mematung. Pipinya semakin merona saat kedua tangan Sasuke memagang bahunya lembut. Pria itu mencondongkan tubuhnya. Bibirnya ia dekatkan ke telinga Hinata.
"Apa kau yakin akan membantuku, hm?" bisikan Sasuke membuatnya berdebar.
Hinata menganggukan kepalanya pelan.
"Apa kau tahu rahasia seorang gay?" hembusan napas Sasuke semakin membuat tubuh gadis itu merinding.
Hinata melan ludahnya gugp. Rahasia? Rahasia seorang gay?
"Seorang gay tidak bisa ereksi jika berhubungan dengan seorang wanita."
Hinata membelalakkan matanya. Tubuhnya menegang seketika. Bahkan tubuhnya tetap mematung sampai pintu kamar mandi tertutup. Sasuke sudah tak ada di hadapannya.
"Tidak bisa ereksi?"
"Su-sulit sekali."
oOoOo
Mikoto tersenyum bahagia begitu mendapati putra dan menantunya berada di tempat yang sama. Dapur.
Hinata yang bergerak ke sana ke mari menjadi pemandangan tersendri untuk Sasuke. Sementara Sasuke adalah pemandangan tersendiri untuk Mikoto. Ternyata kehidupan keluarga putranya baik-bai saja. Mereka terlihat romatis kalau seperti ini. Menantunya yang menyiapkan sarapan pagi nampak merona saat bertatapan langsung dengan putranya.
Mikoto jadi ingat Fugaku. Suaminya itu pasti kesepian karena ia tinggal kemari. Mikoto pun mengetikan sebuah pesan singkat untuk seseorang.
"Putra dan menantuku memang sangat serasi sekali..." Mikoto duduk memerhatikan wajah Sasuke yang entah kenapa sangat manis di mata Mikoto. Bagaimana tidak, ia sangat jarang mendapati putra bungsunya iu merona. Yah meskipun sangat tipis.
"Apa yang membuat mu merona seperti itu, Sasuke?" Dengan nada yang sedikit menggoda, Mikoto bertanya pada putra bungsunya. Mikoto terkikik saat mendapati Hinata juga merona sama seperti putranya.
"Menantuku yang manis juga merona?" Mikoto seolah terkejut dengan keadaan pengantin baru ini. Pagi ini penuh dengan rona merah, pikirnya.
"Aaah... Ibu tahu. Kalian malu telah melakukan 'itu', ya?" Mikoto menatap Sasuke jahil. Tangannya bergerak-gerak membuat simbol bulatan kecil.
"..."
"Aaah, Sasuke enggak asik ah."
Hinata merasakan firasat buruk. Sebentar lagi, ibu mertuanya pasti akan beralih menatapnya dengan tatapan yang sama, yang Sasuke dapatkan. Dan benar saja, belum ada 30 detik, wanita Uchiha itu menatapnya penuh harap. Mata hitamnya berkilat menggoda Hinata.
"A ha ha ha.. Ti-tidak ada yang terjadi O-Okaa-san." Hinata gugup di tatap seperti itu. Ia memainkan kedua telunjuknya.
"Sasuke!"
"Apa?" Sasuke menatap malas ibunya. mengangkat wajah ibunya pun tidak. Bungsu Uchiha itu terus berkutat dengan sarapannya.
Lama-lama ditatap seperti itu oleh ibunya membuat Sasuke risih. Mau tidak mau, ia menghentikan aktifitas sarapannya. Mengelap bibirnya dan meminum susu full cream-nya.
"Kami hanya berciuman."
Tik
Tok
Tik
Tok
Tik
Tok
"Hanya itu?" Mikoto dongkol seketika. Ia kira mereka melakukan 'itu' setiap hari dan setiap saat. Pengantin baru pasti sangat bersemangat setiap malam.
Sementara Hinata, ia blushing berat. Wajah malunya ia tundukkan dalam-dalam. Memang tidak sepenuhnya bohong. Tapi, bisa dibilang Sasuke mengucapkannya dengan sangat jujur. Iya sih, mereka berciuman tadi malam. Tapi, tapi, setidaknya jangan dibicarakan. Itu membuat Hinata malu. Hinata itu terkenal sebagai aktris yang menolak adegan panas. Menurutnya berciuman merupakan adegan panas, meskipun hanya menempelkan bibir saja. Hinata selalu menolaknya. Jadi yah... Hinata terkenal karena itu dan beberapa iklan yang ia bintangi. Tapi, aktingnya patut diacungi jempol. Meskipun menolak adegan-adegan yang cukup panas, Hinata tak kehabisan job. Ia sering diundang untuk menjadi model di majalah-majalah.
Hinata jadi ingat, ia mendapatkan tawaran berpoto gravure dari sebuah majalah terkenal pria dewasa. Tapi, ia belum memberikan jawabannya. Pihak manajemen juga tidak terlalu memaksanya. Ia diberi kesempatan untuk berpikir selama sebulan. Mungkin ia harus memberitahu Sasuke terlebih dahulu. Bagaimana pun kini ia memiliki suami.
Tersadar dari lamunannya, Hinata memberanikan diri untuk membuka suaranya. Ia canggung dengan topik pembicaraan yang seperti ini.
"Su-sudahlah, Okaa-san."
"Hinata-chan, lain kali kita pergi belanja, ya. Membeli beberapa lingerie-lingerie manis yang super sexy. Ibu yakin, Sasuke tak akan tahan dengan penampilan mu yang sangaaaat sexy." Mikoto memandang tajam Sasuke lewat ekor matanya, sementara dirinya menghadap Hinata. Melihat Sasuke yang tenang-tenang saja, dahi Mikoto berkedut kesal. Setidaknya, ia ingin melihat Sasuke merona sedikiiit saja.
Sedangkan Hinata memandang tak percaya ibu mertuanya. Bagaimana bisa, seorang wanita paruh baya menggoda putra bungsunya dengan kata-kata seperti itu yang mungkin sangat memalukan.
"Haaah... Jangan-jangan kau homo, Sasuke. Kau tidak pernah terlihat tertarik pada seorang perempuan. Seorang perempuan cantik dan sexy pun tak pernah kau lirik." Mikoto mendesah.
Perubahan raut wajah Sasuke dapat Hinata tangkap. Pemuda itu sedikit membolakan onyx-nya. Meskipun hanya beberapa detik, Hinata yakin, Sasuke cukup terkejut. Pemuda itu sempat menhentikan aktifitas sarapannya sebentar, lalu berdiri.
"Aku selesai."
Belum sempat beranjak dari kursinya, suara Mikoto mengiterupsinya.
"Bahkan sarapan mu belum habis, Sasuke."
Tanpa mengindahkan ucapan ibunya, Sasuke tetap meninggalkan ruang makan. Mikoto mengedikkan bahunya tidak peduli atas sikap aneh putranya.
"Hinata-chan ingat ya, jangan lupa beli beberapa lingerie manis yang super sexy." Mikoto mengedipkan sebelah matanya membuat Hinata kembali merona.
oOoOo
Hari ini hari Minggu. Sasuke memutuskan untuk berdiam diri saja di rumah. Merenungkan semua tindakan-tindakannya. Pemuda itu menyandarkan punggung lebarnya. Poni panjangnya melambai tertiup AC. Ada segelas jus jeruk dan setoples keripik kentang di hadapannya.
Pikirannya terus mencari jawaban atas keanehan yang terjadi pada dirinya. Pertanyaan-pertanyaan seputar sejak kapan ia tertarik pada seorang laki-laki mulai memenuhi benaknya. Ia sungguh tidak mengerti. Padahal dulu ia normal-normal saja. Namun, setelah kejadian itu entah kenapa, hasratnya pada seorang perempuan mati begitu saja.
Sasuke merogoh ponsel di kantong celananya. Membuka browser dan mulai mengetikkan beberapa patah kata di mesin pencari, Google. Ia klik pilihan image.
Begitu proses loading selesai. Beberapa poto wanita yang memakai bikini yang terlihat sangat sexy terpampang di layar ponselnya. Dengan tatapan tak berminat Sasuke menelusuri satu per satu gambar tersebut.
Matanya menangkap sebuah gambar wanita muda mengenakan bikini berwarna peach yang hanya menutupi bagian tengah dadanya dan selangkangannya. Kulitnya putih mulus. Tubuhnya terlihat basah akibat guyuran air shower. Sasuke bisa melihat bagian puting dadanya. Tapi, ia tak merasakan apapun saat melihat gambar yang bisa dibilang sangat panas itu. Ia melihat ke arah celananya. Ia tidak merasakan adanya perubahan pada benda di dalamnya. Tetap tertidur lemas.
Teman satu kantornya, Suigetsu. Selalu merasa sesak di bagian celananya jika melihat gambar-gambar panas seperti ini. Tapi, kenapa ia tidak merasakannya?
Ck, Sasuke menutup browser-nya dan membaringkan tubuhnya di sofa.
"Sa-Sasuke-san."
Suara pelan Hinata membuat matanya kembali terbuka. Wanita itu berdiri di samping sofa yang ia tiduri.
"A-ada yang ingin ku bicarakan."
"Hm?"
"A-ano.. I-ini te-tentang pekerjaan... ku." Suaranya semakin mecicit.
Alis kanan Sasuke terangkat sedikit. Ia mendudukkan tubuhnya. Menatap Hinata seolah menyuruhnya untuk duduk juga.
"Apa?" Tanyanya datar tanpa minat. Lagian, kenapa harus membicarakan pekerjaan Hinata? Apa istrinya itu akan pergi ke luar negri untuk melakukan syuting yang cukup lama?
"Be-begini.. Umm."
"Cepatlah."
"A-aku mendapatkan tawaran dari sebuah majalah. Ma-majalah pria de-dewasa."
"Lalu? Apa urusannya denganku?"
"A-aku akan berpoto gravure, Sasuke-san. A-apa boleh?"
"Gravure?"
"Hm, ya. Me-memakai bi-bikini."
"..."
"Mu-mungkin juga me-mereka menyuruhku u-untuk berpoto se-setengah telanjang." Cicit Hinata. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ah... sungguh malu rasanya. Bagaimana mungkin seorang Uchiha menjadi bodoh dadakan seperti ini.
Sasuke menatap ke satu titik di kejauhan. Ia membayangkan Hinata yang polos ini memaka bikini seperti dambar wanita tadi. Memakai bikini, memamerkan asetnya. Dan apa tadi katanya? Setengah telanjang? Maksudnya? Ia akan toples? Memamerkan dadanya yang indah itu dan terpampang di majalah pria dewasa.
Majalah?
Pria dewasa?
Jadi, maksudnya. Tubuh indah Hinata akan menjadi konsumsi mata-mata pria mesum di luaran sana?
.
.
.
TBC
An: hallo ^^
Saya datang lagi hohoho. Coba tebak kira-kira Sasuke bakal ngijinin enggak muehehehe. Dan umm... di sini saya nyeritain sedikit masa lalunya Sasuke. Dia pernah punya pacar. ayo tebak jua, Akari bakal muncul lagi engga ya? Huehehehee.
Dan soal kata-kata Sasuke yang "seorang gay tidak bisa ereksi sama perempuan," itu saya temukan saat saya nyari di Google. Katanya Gay gak bisa ereksi sama wanita.
Hahaha, maaf ya masih belum ada lemon. Habisnya aku gak mau mereka ngelakuin itu tanpa dasar cinta dan kesadaran. Jadi yah, tunggu aja ya. Lemonnya mungkin di chapter-chapter yang akan datang. So, pantengin terus Scandal yaaaa...
Terima kasih buat yang udah baca dan review chapter kemarin. Aku senang mendapatkan respon baik dari teman-teman semua ^^
Review lagi yaa...
Salam unyuuu :*
