Kebetulan ingin membuat one shot. Jadilah ini.

Souless eyes, Darkest Blood

Side story

.

Premonition?

.

Mata pria itu mengerjap, sepertinya dia baru tersadar dari tidur yang panjang. Sai tak tahu di mana dirinya, Tubuhnya terbaring di lantai yang kotor dan dingin. Dia merangkak dan mencoba berdiri, tubuhnya nyeri dan terluka tapi dia bersikeras menyeret dirinya keluar dari tempat ini. Pria berambut hitam itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tak ada tanda-tanda seseorang. Hanya terdapat perabotan tua dan usang seolah tempat ini sudah lama ditinggalkan. Mengapa dia ada di sini, dia sama sekali tak tahu?. Dia tak menemukan ponsel mau pun dompetnya tapi Ia juga tak ingat diserang oleh seseorang.

Sai berjalan dengan tertatih-tatih menyeret langkahnya. Tiba-tiba saja dia kehilangan keseimbangan akibat terantuk sesuatu. Pria berkulit pucat itu menemukan sosok tubuh tengkurap dengan luka tembak di punggung. Sebuah pistol tergeletak tak jauh dari situ. Merasa penasaran Sai berjongkok untuk memeriksa mayat itu. Sang bos mafia terkejut dan nyaris terjengkang ketika melihat wajah yang dia kenal balas menatapnya dalam pandangan kosong dan mati.

Pria itu mengusap dahinya. Tangannya menyentuh cairan lengket yang kental dan mulai mengering, sepertinya ia terluka tapi ia tak merasakan sakitnya. Mungkin seseorang memukul kepalanya dan membuatnya pingsan. Ke mana Ino dan Inojin? Sai mulai panik dengan kemungkinan mereka diculik lagi. Bila ia tak salah ingat Sai meninggalkan mereka berdua di rumah tanpa penjagaan. Pria itu memungut pistol yang tergeletak dan terburu-buru mencari jalan keluar.

Apa yang terjadi dengan dirinya? Mengapa dia kehilangan ingatan?. Pikirannya begitu berkabut dan samar. Sai berhasil keluar dari gedung apartemen yang hendak di hancurkan itu dan berakhir di pinggir jalan yang sepi. Dengan kesal pria itu berdiri di tengah jalan mencoba menghentikan seorang pengendara mobil yang kebetulan melintas.

"Hey apa kau sudah gila?" Pengendara mobil itu terpaksa berhenti dan memaki-maki Sai dengan bahasa mandarin. Sekarang dia yakin dia masih di Hongkong, tapi entah di daerah mana dia tak tahu.

Sai mendekati sang pengemudi dan menodongkan pistolnya, "Turun atau aku akan membunuhmu."

Sang pengemudi menuruti permintaan Sai. Dengan gemetar dia turun dari mobil. Dengan kasar ia mendorong pria itu jatuh dan tergesa-gesa menginjak pedal gas, mengemudi dengan kencang ke apartemennya. Dalam hatinya Sai berdoa semoga Ino dan anaknya tak apa-apa. Dia punya terlalu banyak musuh dan setiap hari dia selalu khawatir salah satu dari mereka akan menghancurkannya dengan memanfaatkan Ino dan Inojin. Dua orang yang berarti penting baginya. Sai rela mati asal mereka berdua selamat.

Pria itu melangkah ke dalam gedung dengan tubuh lebam dan penuh luka. Banyak orang memperhatikannya tapi ia tak peduli. Hanya ada satu hal dalam pikirannya memastikan Ino dan Inojin baik-baik saja. Sai membuka pintu apartemennya dan menemukan bocah berambut pirang itu duduk di lantai bermain mobil-mobilan. tapi mengapa Inojin mengacuhkannya?

"Inojin, Kau baik-baik saja?" Sai berjongkok untuk memeluk anak itu. Tapi sang bocah menepis tangannya.

Mata aqua-marinenya menatap Sai dengan rasa kecewa, "Kau pembohong, Kau penipu, Kau penjahat dan pembunuh, Kau bukan papaku."

Sai terdiam. Bagaimana Inojin tahu semua itu. Dunia Sai terasa runtuh, "Siapa yang mengatakannya padamu?"

"Mama yang bilang."

Sai merasa geram mengapa Ino mengkhianatinya ketika ia mulai mempercayai wanita itu dengan sepenuh hati, "Inojin aku menyayangimu"

"Tapi mengapa kau berbohong padaku" Bocah itu menangis dan berteriak.

Hati Sai hancur melihat Inojin terluka dan kecewa. Anak itu tak akan pernah mempercayainya lagi. Mengapa Ino tega melakukan ini pada mereka berdua. Tidakkah Ino berpikir mengungkapkan kebenaran hanya akan menyakiti Inojin dan dirinya?

"Karena aku ingin kau benar-benar menjadi anakku." Ucap pria itu jujur. Sai selalu menganggap Inojin sebagai anak kandungnya meski ayah anak itu adalah musuhnya. Inojin bayi yang tak berdosa.

"Dengan membunuh papa kadungku? Aku membencimu. Sangat membencimu".

Sai tak kuasa lagi menghadapi Inojin yang kini memandangnya sebagai orang asing, Seorang penjahat. Pria itu mencari-cari Ino meminta penjelasan. Mengapa wanita itu tega melakukan ini padanya. Bukankah dia sudah berusaha bertahun-tahun meyakinkan Ino dia tidak selalu jahat. Bahkan dia memberikan cinta dan kesetiaannya pada wanita yang dulunya bermarga Shimura itu.

Sai menemukan wanita itu di kamar mereka. Ino sedang menatap bayangannya di kaca sambil menyisir rambutnya yang pajang. Wanita itu melihat Sai masuk ke dalam dengan ekspresi yang hancur. Ino tersenyum. Ia mengambil pistol dari laci meja riasnya, senjata yang Sai hadiahkan pada dirinya. Sungguh Ironis. Dia memberikan Ino senjata itu untuk melindungi diri. tapi sepertinya Sai lupa dia adalah musuh wanita itu.

"Ino apa yang kau lakukan?"

"Menuntut keadilan Sai."

"Aku pikir kau mencintaiku Ino." Ucapnya tak percaya.

"Apa kau waras, Pria macam dirimu tak pantas dicintai. Kau menculikku, membunuh suamiku, merengut kebebasanku dengan menyandera dan mencuci otak putraku lalu kau berharap aku mencintaimu?. Ini semua tipuanku untuk membebaskan diri. Bagaimana rasanya dibohongi Sai?"

"Aku berusaha Ino untuk menghapus dosa-dosaku, Aku menyayanggi kalian berdua."

"Dosamu tak terampuni Sai"

Sai menoleh karena mendengar pintu terbuka. Wajah pucatnya memucat seolah melihat hantu.

"Untuk apa dia bersamamu bila Ino memiliki diriku." Sosok pria muncul dari pintu, melangkah melewatinya dan memeluk Ino dari belakang.

"Sasuke Uchiha, Kau masih hidup?"

" Tentu saja, Aku terus menghantuimu. Menunggu waktu untuk balas dendam. Aku menginginkan istri dan anakku kembali."

Sai tahu dia sudah kalah, segala hal yang dia anggap berharga kini terangut darinya. Tapi ia menatap Ino dengan sisa harga dirinya dan masih bertanya, "Kau memilih Sasuke?"

Pasangan itu tersenyum mengejek padanya, "Tentu saja, Kau monster Sai. Kau tak pantas dicintai dan kau tak akan pernah dicintai. Bahkan Inojin pun kini membencimu."

Sai tak pernah menunjukkan emosi tapi kali ini topeng besinya pecah. Dia merasakan sakitnya pengkhianatan. Penyesalan. Semua penderitaannya menyeruak ke permukaan. Ino membuatnya merasa menjadi manusia yang tak berharga. Tapi mungkin dia memang tak berharga.

Pria itu mendengar suara letusan pistol. Peluru menembus jantungnya.

Sai terlonjak kaget, nafasnya pendek-pendek tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ia menoleh ke samping menemukan Ino masih tertidur dengan lelap.

Pria itu bernafas lega, ternyata ia hanya mimpi buruk. Besok mereka bertiga akan pergi ke jepang dan ia yakin semua akan baik-baik saja.

Tak seorang pun akan merenggut kebahagiaan ini darinya.