7
.
Pada saat itu Hermione bangun terengah-engah. Menatap langit-langit dengan keterkejutan yang memacu adrenaline. Dengan kekuatan yang dimiliki, Hermione duduk. Menatap lurus kedepan. Lalu bergeser menuruni tempat tidur. Memijakkan kakinya pada lantai yang terlapiskan karpet hijau beludru yang halus dan hangat.
Dia tidak melihat Malfoy dimanapun. Tidak setelah lewat tengah malam lalu cowok itu menyuruhnya untuk diam dan tenang—berkata semuanya bakal baik-baik saja. Mungkin itu adalah salah satu caranya untuk membuat Hermione tutup mulut, dan jika memang begitu, maka dia berhasil.
Hermione tak pernah merasa sehancur ini sebelumnya. Mungkin dia pernah merasakan remuk dibadan seperti ini—atau mungkin lebih—tetapi dia tak pernah merasa sekalah dan sepencundang ini. Bukan hanya kesakitan tubuh yang dirasakan, namun hatinya hancur-lebur ketika mengingat bagaimana dua perempuan jalang Slytherin itu melumpuhkannya tadi malam. Dan ketika Hermione berjalan ke kamar mandi, berhenti tepat di depan cermin, dia memandang bayangannya sendiri.
Tak ada satu murid Hogwarts pun yang berani memperlakukannya seperti itu. Tak ada satu murid Hogwarts pun yang berani mengeroyoknya tepat ditengah kesadarannya seperti tadi malam. Dan sampai saat itu, tidak ada yang berani membuat keputusan seburuk yang Pansy lakukan tadi malam padanya. Hermione mencengkram erat sisi wastafel. Siapa dia, berani-beraninya menghakiminya, seolah dia lebih mempunyai derajat yang tinggi darinya? Brengsek. Hermione akan balas semuanya nanti, setelah dia benar-benar pulih. Setelah dia benar-benar mampu lancarkan kutukan Cruciatus pada jalang itu—lihat saja.
"Aku membicarakanmu dan betapa kotornya dirimu, jalang."
Sebuah kalimat terngiang diotaknya. Hermione seketika menatap cermin lagi setelah tanpa sadar sedari tadi menunduk memejamkan matanya. Dia membuka mulutnya, menatap bergantian kedua bola matanya. Wajahnya begitu pucat, rambutnya yang dipaksa untuk tetap pada satu ikatan mulai keluar dari jalur penataan. Ada lingkaran hitam di sisi kedua matanya. Dia rusak parah.
Hermione perlahan-lahan mengangkat tangannya untuk menyentuh salah satu pipinya. Jemarinya bergetar kala itu, namun betapa terkejutnya dia ketika mendengar pintu bergeser tiba-tiba.
"…jangan bohong lagi padaku, Draco!"
Saat itu Hermione langsung bersembunyi di balik pintu toilet, betapa leganya tahu bahwa bukan pintu tersebutlah yang terbuka. Menahan napas, menajamkan pendengarannya untuk mendengar lebih jauh.
"Aku tahu kau menyembunyikannya dia suatu tempat, dimanapun, karena, betapa rasanya aku menyesal tidak membunuhnya tadi malam ketika melihat Potter yang berjalan hanya berdua dengan si darah-Pengkhianat Weasley. Apa yang ada dibenakmu ketika pagi ini kau tidak mendengar kabar tentangnya yang ditemukan hancur-lebur di ruang sapu oleh salah satu murid, hah?"
"Aku sama sekali tidak tahu maksutmu, Pans. Seperti yang kautahu…" saat itu Hermione mendengar suara benda dibanting. "—aku sama sekali tidak terlibat!"
"Lantas bagaimana caranya membawa diri dengan lumpuh sana-sini ditubuhnya? Apakah dia menyihir diri sendiri?" Suara Pansy mencemooh.
"Mana kutahu, Pans. Aku tidak—hei, kau tak akan menemukan apapun—"
"Aku ingin dia di depan hidungku saat ini juga. Tak peduli hidup atau mati!"
Tiba-tiba Hermione mendengar seperti suatu yang keras berdebum menghantam tembok. Terjadi keheningan aneh beberapa saat. Hermione pikir salah seorang dari mereka melakukan mantra kedap suara. Namun dia salah ketika mendengar Draco bicara, dengan suara yang lebih pelan namun paten.
"Dengar, Pans, kautahu kedudukan kita masing-masing. Walaupun kau muak, aku punya sebuah tanggung jawab di tempat sialan ini. Dan jangan pernah berpikir—" Pansy mengerang. "—jangan pernah berpikir sedikitpun olehmu, bahwa aku akan menoleransi sebuah kejahatan yang membuat popularitasku menurun bahkan terdepak. Jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehmu sebelumnya, karena aku telah memperingatkanmu, Parkinson."
Hermione merapatkan diri kedinding. Memejamkan matanya ketika keheningan terjadi kembali. Lalu, suara pintu bergeser terdengar. Hermione tahu bahwa saat itu dia kembali sendirian.
Setelah beberapa saat membeku memastikan bahwa keadaan sudah benar-benar aman—sekaligus merenung tanpa disadari—Hermione keluar dari balik pintu, dan melangkah menuju lubang pintu yang diyakininya sepenuh hati bahwa dua orang itu telah keluar dari lubang tersebut. Hermione berdiri lama, menimbang-nimbang seandainya semalam Draco tidak menemukan dan membawanya. Seandainya saja pagi ini dia masih terpekur di penyimpanan sapu dengan darah dan memar sana-sini. Tidakkah itu akan menjadi sebuah masalah besar?
Hermione memejamkan matanya sesaat. Dia melakukan mantra non-verbal, dan saat itu juga lubang pintu bergeser terbuka. Hermione melangkah keluar menuju kamarnya.
.
"Menurutmu apa yang terjadi jika Ollivander benar-benar jatuh ketangan—oh, ya ampun Hermione! Dari mana saja kau? Kami mencarimu kemana-mana tahu! Bahkan Harry hampir menghabiskan seluruh siangnya di depan pintu Asrama Ketua Murid… "
Malam itu Hermione menempatkan dirinya di kursi Aula Besar, Ron masih keheranan menatapnya. Ginny yang tadinya ngobrol asik dengan salah satu anak yang seangkatan dengannya, melongo penasaran padanya. Beberapa sisa anak menghentikan makan dan meluangkan waktu untuk sekedar menoleh atau melirik padanya. Setelah beberapa saat terjadi keheningan, Hermione menatap sekeliling. Tidak tahu harus memulai dari mana.
"Well," kata pertama keluar. Menarik nafas gugup, menatap meja dan memasukan helaian rambutnya yang tergerai kebelakang daun telinganya.
"Well?" Ron mengulang, seolah baru saja Hermione melemparkan lelucon basi kepadanya. "Dari sekian penjelasan yang harus kaujabarkan, kenapa kata sialan 'well' yang keluar dari mulutmu?"
"Aku tidak—"
"Kau kemana saja tadi malam, Hermione?"
Kali itu tanpa menoleh Hermione sudah tahu siapa yang bertanya, namun Hermione bergeser dan membalikan tubuhnya. Benar saja, sudah terdapat Harry di seberang meja. Cowok itu terduduk kaku. Siaga menunggunya bicara. Pertengkaran mereka semalam adalah masalah besar baginya sekarang. Karena ketika mengingat hal itu, panas merambat di wajah Hermione. "Ada beberapa hal yang harus kukerjakan."
"Seperti menyelinap keluar kastil?"
"Ap—"
"Kenapa? Apa yang kau kerjakan? Melindungi pondok Hagrid? Mengejar sesuatu di Hutan Terlarang? Atau kau kabur melihat Tanda Kegelapan?"
"Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Aku tidak—"
"Jangan pernah menyangkal dari kosakataku, Hermione. Karena aku sangat menghargainya."
"Oh, kausebut itu kosakata?" Hermione menatap Harry tidak percaya. Wajahnya langsung berubah sudah dipenuhi amarah. "Kalau begitu kukatakan padamu, kosakatamu adalah tuduhan-tuduhan tolol yang pernah kudengar!"
Harry membanting garpu di tangan kanannya ke meja. "Jangan pernah menggertakku!" Hermione langsung kaku ditempat. Harry sudah bangkit dari duduknya, kedua tangannya yang terkepal, gemetar saat itu. "Jangan kau berani menggertakku ketika kau menyangkal semua kata-kataku. Aku tanyakan yang sebenarnya, untuk apa kau menyelinap keluar kastil tadi malam, hah?"
Hermione tergagap, kerongkongannya seolah tersendat batu besar ketika dia ingin menjelaskan semuanya. Dia menoleh kesekeliling dengan bingung. Air mata—lagi-lagi telah bergerumul di pelupuk matanya. Rasanya seperti ditelanjangi bulat-bulat ketika semua orang mulai berkumpul mengelilingi mejanya. Oh Merlin, please, please.
Please jangan menangis…
Namun saat itu air mata Hermione menetes. Tidak sanggup mengatakan suatu apapun ketika cowok itu menambahkan dengan lebih pahit. "Kau tidak seharusnya pergi. Karena tidak terjadi sesuatu apapun tadi malam. Kenapa? Kau kaget? Jangan takut, lencanamu akan tetap pada tempatnya, Hermione. Karena kau bisa tanyakan Slytherin kenapa semuanya bisa terjadi."
Saat itu Harry keluar dari kursi. Dia menyibak kerumunan dengan lebih tenang. Rasanya dia benar-benar dipermalukan sampai tak tersisa lagi harga dirinya. Hermione menatap kosong ke kerumunan di mana tempat Harry menghilang. Tak pernah seburuk itu rasanya diseumur hidup Hermione. Perlahan-lahan kerumunan memudar. Bisik-bisik mulai terdengar. Seperti ada tusukan-tusukan kecil di telinganya, dan tak bisa lagi dibendung air matanya yang ingin keluar lebih banyak. Ron bergeser perlahan-lahan disisinya. Hermione kira cowok itu bakal ikut meninggalkannya lagi seperti tadi malam. Namun dia salah besar ketika tangan Ron dengan perlahan melingkari bahunya, menepuk-nepuknya dengan penuh keprihatinan yang sanggup diungkapkan. Hermione menunduk dalam-dalam. Air mata telah jatuh tanpa suara, segera saja Hermione mengusapnya dengan jari-jarinya yang pucat pasi.
"Jangan dipermasalahkan lagi, Mione." Ron bicara disampingnya, suaranya ragu-ragu. "Dia akan menyadari kesalahannya beberapa saat setelah ini. Kau tahu Harry sering berlebihan jika sedang khawatir."
Hermione tidak menjawab, air mata terus mendesak keluar dari kelopak matanya yang dipaksa tertutup. Dia menyandarkan dirinya pada bahu Ron. Sahabatnya itu memberinya pelukan lama. Terlihat bingung untuk bicara apa, dan sepertinya lebih memilih diam daripada hal-hal yang tak diinginkan terdengar dari mulutnya. Dihatinya sendiri terasa berat oleh beban yang tak pernah diketahui apa. Hermione menutup matanya lama, tersedu-sedu lagi beberapa saat. Tidak peduli dengan sekitarnya, tidak peduli berapa lama dia dan Ron duduk disana. Tidak peduli pula ketika dia merasakan dagu Ron yang lama-kelamaan menyandar pada pucuk kepalanya. Dia tak lagi mendengar ada seorang pun di Aula. Dia tak mendengar bunyi piring yang digesek lagi, tak mendengar suara bisik-bisik sana-sini, atau bahkan derap kaki kesana-kemari.
Rasanya menyakitkan mengingat perlakuan Harry. Dia tahu semuanya adalah sebuah kesalah pahaman, namun bukankah ini begitu tidak adil? Setidaknya Hermione selalu sepenuh hati menjaga perasaan cowok itu. Tapi tidakkah begitu brengsek ketika dia seenaknya memakinya di depan seluruh manusia yang dipimpinnya? Jadi apa lagi yang diinginkannya?
Perlahan-lahan semua rasa sakit itu seperti beranjak dari dalam dirinya seusainya dia menangis. Dan entah telah berapa lama, sampai seseorang mengahampiri meja mereka. Tak ada yang bereaksi beberapa saat. Tidak juga Ron, walaupun Hermione merasakan tangan cowok terkepal dipangkuannya dan menguatnya cengkeraman pada bahunya. Setelah mencuri pandang yang tak membuahkan hasil apa-apa, Hermione mengangkat wajahnya. Dia menghela nafas.
Malfoy.
.
"Aku butuh Granger denganku untuk membuat laporan pada Profesor McGonagall." Saat itu Malfoy berdiri tegap tinggi menjulang dihadapan mereka. Setelan serba hitamnya beradu dengan kulit pucatnya. Hermione merasakan pergerakan Ron. Cowok itu bangkit berdiri.
"Beraninya kau berdiri disini setelah apa yang kalian lakukan. Pergi dari hadapanku atau aku akan memantraimu, Malfoy," Ron bersiap mengeluarkan tongkatnya, namun Hermione segera mencegah tangan cowok itu.
"Ron, please. Ini cuma laporan biasa! Apa yang kaulakukan?"
"Minggir, Hermione. Biar dia tahu—" terjadi saling tarik dan tahan antara Hermione dan Ron. "Aku tahu semua ini karenanya, Hemione. Karena perbutannya-lah semua murid Hogwarts kena imbas, dan—Hermione! Apa yang kaulakukan?"
Hermione merampas tongkatnya. "Aku harusnya bertanya, kenapa kau ini, Ron? Ini cuma Malfoy! Kenapa kaupikir kau bisa mantrai dia seenaknya?"
"Aku…" Ron terdiam sesaat, wajahnya tiba-tiba berubah seperti habis ditampar. "ah, harusnya aku tau, harusnya aku percaya. Jadi berita itu benar kan, Hermione?"
"Berita—berita sialan apa—"
"Kau dengannya." Saat mengatakan itu raut wajah Ron terlihat seperti ingin meludah. "Apa yang sedang terjadi sebenarnya, Hermione? Katakan padaku sekarang."
Hermione menatap tidak percaya sahabatnya itu. Mereka berdua saling bertatapan. Mulut Hermione tergagap untuk menjelaskan yang dia sendiri tahu hasilnya akan sia-sia. Ron mendelik penuh amarah, seperti siap untuk menerkam siapa saja. Tak mendengar sepatah katapun penjelasan dari Hermione, Ron mengangguk-angguk. Dia menatap Malfoy dan Hermione bergantian.
"Oh, seharusnya memang aku tahu. Aku memang sudah tahu. Tapi aku hanya butuh mendengar semuanya darimu." Tatapannya mencerminkan sakit hati. "Salahku yang selama ini selalu menentang Harry. Dan sekarang semua kenyataan malah terpampang jelas dimataku. Kau sangat brilian—" saat mengatakan itu dia melirik Malfoy penuh kebencian. "—dalam menyembunyikan semuanya."
Setelah itu Ron menghentakan tangannya dari Hermione. Dia melangkah melewati kursi, dan berbalik menuju pintu Aula Besar. Meninggalkan Hermione yang terpaku menatap punggungnya yang akhirnya hilang sampai tangga. Keheningan terjadi beberapa saat. Hermione ikut melangkahkan kakinya dari kursi, dan berjalan perlahan. Tak tahu lagi harus berbuat apa. Dia sudah telalu lelah untuk menangis lagi tersedu-sedu. Jadi dia menunduk lesu, memikirkan kembali apa yang salah di dalam dirinya.
.
"Kau benar-benar tidak serius tidak tahu kan, Granger?" saat itu Hermione dan Malfoy melangkah menyusuri koridor yang gelap dan sepi. Cahaya temaram membuat bayang-bayang yang akan menyamarkan wajah keduanya jika seseorang memergoki mereka.
Setelah menghadap Profesor McGonagall dan diinterogasi habis-habisan, akhirnya kedua Ketua Murid tersebut keluar dengan selamat saat jam menunjukan hampir pukul satu pagi. McGonagall menanyakan beberapa hal yang agak rumit dari yang seharusnya, jika Hermione pikirkan, wanita itu telah tahu apa yang mereka semua lalukan ketika semua Profesor angkat kaki dari Hogwarts. Namun dengan berusaha profesional, McGonagall tetap menanyai pertanyaan yang seharusnya.
Hermione sempat terbata-bata ketika ditanyai soal Tanda Kegelapan yang muncul diatas Menara. Karena pada kenyataannya, dia sendiri tidak tahu siapa dan apa yang terjadi setelah semua itu. Dia pun mengingat betapa mudahnya Pansy dihukum jika dia mengadukan perbuatannya, namun diurungkan karena pasti akan terbongkar semua rahasia-rahasia tentang Pesta. Malfoy sendiri-lah yang menjawab dengan yakin dan lugas.
Untungnya saja, Profesor mau tak mau harus percaya. Karena tak ada banyak bukti yang mengarahkan bersalahnya para murid. Setelah pengumuman tentang majunya Pertandingan Piala Asrama Quidditch, mereka segera keluar dari Kantor tersebut.
"Apa yang kauharapkan aku untuk tahu?"
Malfoy menyusulnya. Suara derap sepatunya berirama di koridor yang kosong dan sepi. "Kaupikir kenapa Weasley ingin terlihat membunuhku malam ini?"
"Entahlah. Karena aku tidur denganmu?"
Malfoy menyeringai. Hermione terus melangkah hingga mereka mencapai balkon di Menara. Tempat yang mereka setujui untuk di datangi tanpa secara sah. "Kaupikir begitu?"
Hermione meletakan kedua jemarinya diatas balkon. Menatap hamparan pepohonan yang berderu bersamaan diterpa angin. Bisa saja dia berbelok ke kanan untuk menuruni tangga. Bisa saja dia kembali ke asrama untuk tujuan yang lebih baik—tidur lebih awal, dan mengemis permohonan maaf pada Harry besok. Lagi. Dan lagi. "Kenapa mereka bicara soal…aku yang kabur dari kastil?"
"Mereka pikir kau menyelinap pergi denganku tadi malam—" Hermione mendelik tak percaya. "Yeah, pemikiran tolol Potter pastinya, sudah terbiasa dengan itu kan?"
"Tapi—oh, Merlin, darimana dia bisa…" Hermione menghentikan kata-katanya, putus asa.
"Mungkin Pansy membuat gosib sampah. Hanya untuk menghancurkanmu, entahlah."
"Dan bagaimana dengan Tandanya?" Hermione tiba-tiba saja merubah halauan topik mereka. "Tidak mungkin tanda itu juga bukan lelucon sampah Pansy. Kau tak mungkin tak tahu, Malfoy. Aku berada di koridor untuk itu."
Malfoy terdiam, menatap hamparan hitam pepohonan yang bergemerisik di hadapannya. Hermione—yang notabene adalah salah satu dari mereka yang anti-dekat-Malfoy, dulu—merasa takjub dengan sikap tenang bukan mainnya. Dia tidak lagi melemparkan cemoohan tak berguna, atau kata-kata dengki yang menyakiti hati. Namun cowok itu terlihat lebih banyak mengumbar kata-kata yang menampar, berpikir sebelum bertindak, bahkan tak pernah begitu saja mencari gara-gara lagi dengan Harry maupun Ron. Bahkan, Hermione berbulan lalu sempat mendengar Ron yang gusar karena melihat perubahan sikap anak manja yang selalu bilang "Akan kuadukan Ayah." itu. Malfoy sekalipun—semenjak Lucius Malfoy mendekam di Azkaban—tak pernah lagi membawa-bawa nama ayahnya ke dalam sebuah pertengkaran atau ketika dia mendapat masalah yang mengancam. Malah terlebih, cowok itu mengatasi semuanya sendiri, tanpa bantuan dua algojo bego-nya pula.
"Dia dimantrai apa sih?" Ron sering bertanya frustasi ketika mereka bertiga mulai mengambil tempat duduk di Aula Besar. "Aneh benar tingkahnya."
Jika ada orang yang sama gusarnya dengan Ron melihat perubahan diri Malfoy yang menguntungkan semua pihak-lemah-tertindas, itu adalah Harry. Bukan bersyukur karena setidaknya Malfoy tak lagi menyusahkan mereka, Harry malah lagi-lagi diam-diam sering mengikuti dan membututi kepergian Malfoy yang selalu mendadak dari Aula Besar. Hermione juga sebenarnya curiga, namun dia lebih memandang sisi baiknya ketimbang Harry dan Ron. Walaupun nyanyian nyaring 'Weasley Raja Kami' masih tetap membahana di stadion setiap Gryffindor berlaga, setidaknya bukanlah Malfoy lagi yang berdiri di barisan depan memimpin antek-anteknya. Dan yang paling mengherankan—dan sekaligus yang paling ditakutkan Hermione—cowok itu lebih banyak mendapat kepercayaan Dumbledore. Apakah Malfoy telah benar-benar berhasil mengambil hati orang tua yang sangat menyayangi Harry Potter itu? Atau ini benar-benar sebuah ketulusan?
Mereka semua mengira—bahkan para Slytherin—bahwa Harry-lah yang akan menyabet lencana Ketua Murid Putra di tahun terakhir mereka. Mereka sudah yakin benar begitu, sehingga hari dekat-dekat liburan musim panas di akhir tahun keenam mereka, banyak anak Slytherin yang meneriakan 'buu, ini dia raja yang baru tahun depan.' Atau 'sudah masukan bajumu, protty?' bahkan 'wah, kayaknya aku harus mulai menjilatnya dari sekarang deh.'
Semuanya mencela. Semuanya sudah sangat yakin. Namun betapa herannya Hermione ketika tak burung hantu satupun di musim panas menuju The Burrow yang mengantar lencana Ketua Murid pada Harry, sementara dia sudah mendapatkannya…
Dan dia sudah tahu jawabnya ketika tanggal satu September, ketika mereka menaiki Hogwarts Express, dia melihat Malfoy—dengan segerombolan orang dibelakangnya, yang ternyata Prefek—mengacungkan tongkat sihirnya bagi siapa saja yang masih mengeluarkan baju (mendadak baju itu dimasukan dengan sendirinya secara sihir), dan belum memakai jubah mereka (dan jubah anak yang belum terpakai tiba-tiba saja melayang menghimpit pemiliknya sendiri). Ketika Malfoy tepat berdiri di hadapannya, dengan senyum menyebalkan itu, Hermione tahu bahwa semuanya telah berubah. Sangat berubah sampai dia tak mengenali lagi siapa yang pernah bersalah atau yang dulunya benar.
"Bagaimana dengan lukamu?" Dia tersadar, menggelengkan kepalanya seperti tak mempercayai diri sendiri yang baru saja melamun sementara Malfoy mengamatinya.
"Aku? Ah, baik sekali." dia agak gugup, mengusap keningnya disana. Lalu menambahkan, "Ini semua berkatmu, terima kasih, Malfoy. Kau benar-benar partner yang baik."
"Oh, benarkah?" Malfoy mulai menggunakan nada yang menyebalkan lagi, meledek. "Aku benar-benar merasa tak dapat perlakuan yang baik dengan cewek yang kuangkat dari lemari sapu, kuselamatkan dan kuobati, kutempatkan diatas tempat tidurku, kuberi sarapanku, dan tiba-tiba dia menghilang begitu saja keesokan paginya."
"Itu karena ada Pansy di kamarmu, keparat." Oh, sialan. Dia tak bisa menahan selip lidah yang mendesak-desak itu. "Mana mungkin aku berbaring manis ketika akhirnya cewek itu menarik paksaku pada rambut dan menendangku keluar—"
"Seharusnya kau diam saja, biar kita lihat apakah dia bisa melakukannya, aku mau tahu." Kata Malfoy menantang.
"Oh, persetan dengannya!" Hermione tiba-tiba merasa wajahnya panas lagi, panas yang familiar ketika mendengar atau merasakan keberadaan cewek terak itu di kehidupannya. "Kau bisa saja menyuruhnya pergi sebelum dia memasuki pintu Asrama, kan? Tendang dia keluar."
"Kenapa aku harus?"
"Kenapa aku harus!" lengking Hermione, dia berjalan menuruni tangga tiba-tiba. Dia merasakan Malfoy mengekorinya dibelakang. "Kenapa aku harus? Mungkin harus ada peringatan tertulis bahwa sebaiknya mulai sekarang, kita benar-benar menaati peraturan kalau tak seorang pun kecuali Ketua Murid yang boleh masuk ke Asrama Ketua Murid yang tak berkepentingan mendesak! Kau harusnya paham ketika kau menerima surat pengangkatanmu, Malfoy—"
"Kau tak mempermasalahkannya dulu—"
"Yeah, dan sekarang aku sangat mempersalahkannya!"
"Tapi Potter pernah masuk kesana." Kata Malfoy, tetap berusaha mengejar Hermione. Mereka seperti maling yang menyelinap dari koridor ke koridor. Tetap waspada kalau-kalau saja Filch memergoki mereka dan membuat keributan.
"Aku memang pernah mengajaknya," suaranya agak merendah dari nada sebelumnya. "Tapi sekali, dan itu karena aku membutuhkannya membantuku mencari buku—"
"Tapi pernah, kan?" sekarang mereka menaiki tangga dengan sangat cepat menuju ruang Ketua Asrama Ketua Murid. Hermione mengucapkan "Daffodil" dengan geraman. Dan lukisan terbuka tanpa sempat Aldus Cornus—lukisan penjaga pintu—mengucapkan "Passwordnya?"
Ketika mereka berdua melewati pintunya, Hermione sempat mendengar orang tua yang sering pikun itu menggerutu tentang "Anak muda dan urusan cengeng sialan mereka." Namun Hermione mengabaikannya dan segera menuju ruang yang berlawanan dengan ruangan Malfoy.
"Granger," saat itu Malfoy menggapai tangannya. Langsung saja Hermione meronta-ronta berusaha melepaskan tangannya. Cowok itu mengernyit, sama sekali tak kesulitan dalam usaha Hermione membebaskan diri. "Diam—" dia sekarang mencengkram kedua tangan Hermione, menjauhkan wajahnya dari amukan jari-jari cewek itu. "Aku cuma mau bicara denganmu, apa sih yang salah, hah?"
"Lepaskan—"
"Bisa tidak sih kau tidak bertingkah maniak ketika kita sedang membicarakan Pansy atau Potter?" tanya Malfoy, berang akhirnya. "Kaupikir menyenangkan melihatmu meronta-ronta seolah gila, seolah aku siap kapan saja memerkosamu, hah?"
Hermione terdiam seketika. Wajahnya memerah, merasa malu sendiri ketika menyadari perbuatannya. Benar, Malfoy cuma ingin bicara, apa yang membuatnya bertingkah seolah tahanan Azkaban yang lepas. Lalu ia jadi ingat Bellatrix Lestrange. Merasakan pikiran itu mendadak menggumpal di otaknya, dia membuang semua bayangannya jauh-jauh.
"Sudah bisa diam sekarang, kan? Obat sudah mulai bekerja atau apa?"
"Aku bukan orang gila." Kata Hermione, yang kali ini melepaskan tangannya dengan lebih tenang, Malfoy tak lagi menahannya. Dia mengusap pergelangan tangannya, meringis ketika melihat ada bekas tangan yang mencengkram disana. "Aku cuma tak ingin—aku muak—mendengar semua itu. Aku sudah dipukuli, ditindas, dimaki, dan dibuang oleh semua orang. Apalagi yang mau kau bahas?"
"Aku bukan mau membahas si Pretty Potty." Kali ini Hermione masa bodo dengan cemoohan itu."Aku cuma ingin tahu apakah kau benar-benar ingin melupakan perbuatan Pansy atau apa—"
"Oh, jadi maksudmu," kali ini wajah Hermione berubah murka lagi. "Apakah aku sedang menyusun rencana untuk balas dendam pada terak itu, membuatnya terluka, dan kau menerima aduan lagi untuk mengulitiku hidup-hidup?"
Malfoy mengernyit, dia terdiam sesaat. "Kau bicara ngelantur."
"Yeah, bilang saja kau mau putuskan bahwa aku resmi gila, terbuang dan tak punya kubu lagi." Kali ini suaranya serak. Dia tak mengerti kenapa perubahan itu tiba-tiba saja terjadi. Ini bukan sikap yang dia inginkan ketika dia berhadapan dengan orang seperti Malfoy—yang mampu menertawainya dari kepala hingga kaki melihat penderitaannya. "Kau bisa panggil pacarmu kesini lagi kalau mau, aku tak peduli. Lagipula apa yang kupunya, mau mengadu pada siapa…" Hermione bergumam seperti pada diri sendiri. Lalu matanya berair, berkaca-kaca seolah bisa pecah kapan saja. Dia berjalan menuju kamarnya dengan lesu, tidak memerdulikan Malfoy yang masih mengekorinya dari belakang. Tidak mengerti kenapa cowok itu masih belum berteriak "Aha, aku mengabadikan momenmu yang merengek-rengek, akan kusebarkan kepenjuru sekolah bahwa Hermione Granger tak punya teman lagi…" Namun sadar bahwa Malfoy tak akan lagi bertingkah tolol seperti itu, Hermione menjatuhkan dirinya pada tempat tidurnya, merebahkan diri disana. Memunggungi Malfoy yang entah mengapa berdiri dekat ambang pintu, sama sekali tak kaku, tak ada kecanggungan. Cowok itu hanya berdiri mengamatinya disana.
Masih tak ada lampu di kamarnya, dan dia tahu hanya cahaya luar ruangan yang menyelinap dari pintu dan bayangan Malfoy. Namun selebihnya, dia tak lagi bertekad melihat apapun. Berdiam diri, berbaring miring masih membelakangi, Hermione mengabaikan apapun yang akan dilakukan Malfoy nanti akhirnya. Namun dengan kemarahan yang meluap-luap, sakit hati yang mendadak membludak, semuanya tersumbat ketika Malfoy bicara dengan suara yang tak pernah Hermione dengar sebelumnya di seumur hidupnya.
"Jika memang kau lebih baik dengan keadaanmu sekarang, mengurung diri disini, menyalahi segalanya—karena kuyakin kau begitu—baiklah, itu maumu. Aku tak bisa menghentikan Potter yang terus menerus memerhatikanmu dari sudut matanya, Granger. Aku juga tak bisa terus-menerus membawamu pergi ketika Weasley mulai menyudutkanmu, karena tak selamanya aku dapat menemukan alasan, dan pula berada terus menerus di sampingmu. Namun aku telah melakukan apa yang sebisaku lakukan. Setidaknya aku telah mendetensi siapa saja yang mencoba membicarakanmu di koridor, atau bahkan memberi potongan poin bertubi-tubi pada teman-teman asramamu yang berbisik-bisik buruk tentang dirimu—yang kumengerti kenapa mereka berbuat seperti itu. Tapi aku sungguh tak mengerti kenapa kau lebih memilih diam dan marah kepada yang tak bersalah…"
Malfoy berheti bicara, seolah dia bingung dengan kata-katanya. "Aku akan ada dimanapun ketika kau membutuhkanku. Jangan membuat dirimu resah, Granger. Percayalah bahwa pilihan tidur saat ini adalah yang terbaik."
Dan pintu bergeser tertutup.
Hermione termangu. Masih mencerna baik-baik semua yang terekam ke dalam otaknya, masih ingin mengulangnya lebih jelas. Dia pikir melampiaskan semuanya pada Malfoy akan mengurangi beban berat di kepalanya—setidaknya melihat cowok itu bersalah karena semua penderitaan ini karenanya—dan Hermione kira dia akan puas.
Namun entah mengapa, sesuai dengan gelap sempurnanya ruang kamarnya, dia tak melihat secercah kelegaan yang dia inginkan. Malah semuanya makin menggelayut berat, menggandulinya, dan menjadi siksaan yang lebih berat bagi Hermione. Benarkah dia harus sepenuhnya menyalahkan Malfoy setelah apa yang dilakukan cowok itu padanya? Benarkah Hermione harus terus menganggapnya musuh demi Harry, yang kini entah berantah, tak memperdulikannya?
Seperti ada gondam yang mengantamnya tepat di otak, Hermione memejamkan matanya. Dia mulai berpikir. Mulai membayangkan wajah-wajah Malfoy di dalam kepalanya. Seandainya dia tak berteriak pada cowok itu, seandainya dia tak berniat melimpahkan semua kekecewaannya pada semua orang padanya, seandainya Malfoy disini, saat ini…
Hermione meringkuk. Mencengkram bantalnya yang sudah mulai basah.
Dia ingin mendapat kesempatan sekali lagi.
.
Besok paginya, setelah berlama-lama di dalam kamar demi maksud melewatkan sarapan di Aula Besar, Hermione berjalan menyusuri koridor yang ramai dipenuhi anak-anak yang berebut memasuki kelas masing-masing. Sengaja mengambil jalan memutar yang agak jauh, dia melewati beberapa koridor yang hanya diisi oleh anak kelas satu dan dua—sehingga dia tak harus berpapasan dengan teman seangkatannya, dari asrama manapun—dan memasuki kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam dengan buru-buru.
Kelas itu sudah penuh. Semua meja hampir terisi—namun sayangnya, matanya tak sanggup dibohongi ketika dia melihat empat meja kosong yang masing-masing memiliki jarak satu meja terisi di tengah-tengah. Dua tepat di depan meja Snape, dan dua lainnya berjarak semeja dari meja paling belakang. Agak menimbang-nimbang sebenarnya ketika dia lebih memilih untuk menempati meja belakang.
Saat Hermione duduk dan meletakan buku Panduan Sihir Tingkat Atas-nya, dia merasakan lirikan diam-diam yang memerhatikannya. Dia tahu semua itu berasal dari penjuru ruangan—mengingat apa yang telah terjadi semalam—dan berusaha tak peduli, dia mengambil pena bulunya, mengeluarkan perkamen, disana tertulis Satu Lambaian Penuh Bara. Membaca ulang, sedikit mendesak. Baiklah, dia sudah dengan susah payah menjabarkan tentang salah satu Kutukan-Tak-Termaafkan, Cruciatus. Meneliti ulang, dan hampir tertawa sendiri ketika mengingat betapa konyolnya buku di Hogwarts memperhalus bahasanya. Penuh Bara? Oh, jangan pikir dia akan melemparkan batu-batu bak gunung api pada musuh.
Tiba-tiba pintu menjelebak terbuka. Snape—dengan wajah datar penuh keangkuhan—berjalan menyusuri ruang kelas dan melambaikan tongkat sihirnya pada papan hitam di hadapannya, membuat sebuah gambar dimana perempuan yang mengerikan dengan baju compang-camping dan rambut yang menggelung tak karuan terlihat penuh penderitaan. Dia masih belum bicara ketika tiba dimejanya. Memandang berkeliling, dan menyentuh ujung tongkat sihirnya dengan perlahan. Matanya berhenti ketika melihat Harry—yang Hermione sendiri baru menyadari tepat dimana keberadaannya setelah bermenit-menit lalu berusaha tidak peduli—lalu menyipit penuh kedengkian.
"Sedari awal tahun lalu…" Snape memulai. "aku sudah sering mengingatkan dan bahkan tata cara dalam pemakaian terhadap Ilmu Hitam pada kalian, anak didik NEWT-ku. Diantaranya, mungkin ada beberapa anak yang menyelinap masuk secara ilegal, dengan kata lain tak benar-benar memiliki kemampuan khusus yang murni dalam penyerapan Ilmu Hitam masuk kesini."
Saat setelah menyelesaikan kalimatnya yang panjang tanpa terputus, Snape memberi satu tembakan seringai puas pada Harry dan mengalihkan pandangannya. Bergeser dan memperlihatkan gambar tersebut pada seluruh anak dikelasnya.
"Namun bukan itu yang akan kita bahas hari ini. Tapi—"
Pintu lagi-lagi terbuka di dalam keheningan yang mencekam. Malfoy diiringi dua kroninya masuk sehingga membuat kegaduhan bagi seluruh isi kelas. Cowok itu memandang Snape, tak ada kesan bahwa dia menyesal karena telah menghancurkan momennya. Namun dengan tertahan, dia berkata. "Maafkan atas keterlambatan kami…Profesor."
Snape tak langsung menjawab, dia menatap Malfoy beberapa detik sebelum benar-benar merespon. "Yah, kau sudah menyita waktu. Sekarang kau bisa cari tempat dudukmu, Mr. Malfoy."
Crabbe dan Goyle segera mengendap-endap menuju meja paling depan dengan tampang tolol. Tak mau ambil resiko lebih jauh, mereka langsung membanting buku Panduan Sihir Tingkat Atas mereka, berlaga di depan Snape. Sedangkan, entah mengapa, Hermione sendiri tak terkejut ketika Malfoy mengambil tempat di sisinya. Mereka terdiam lama, memerhatikan Snape yang sudah kembali memegang kendali pada kata-katanya. Dan Hermione sebenarnya juga ingin melakukan hal yang sama, bersikap seolah tak ada satu interupsi pun, tak ada yang mengganggu pikirannya, sehingga dia tak perlu diam-diam melirik dari sudut matanya pada Malfoy.
"…dan untuk itu, tak bisa dihiraukan lagi bahwa Inferius—" Apa? Kenapa Snape jadi membahas Inferius sialan? "pernah dimantrai sebelum mereka benar-benar meninggalkan jasadnya dengan kedamaian yang takan pernah mereka dapatkan. Ada beberapa kemungkinan yang tak bisa hanya ditebak-tebak…"
"Kau melewatkan sarapanmu." Dia mendengar Malfoy bicara, Hermione meliriknya. Cowok itu masih memandang lurus Snape. Tampangnya tenang. Apa-apaan dia? Setelah kejadian tolol semalam, dia bersikap bahwa tak pernah ada susuatu keributan apapun diantara mereka?
Hermione berusaha mengabaikannya. Ikut lurus memandang Snape yang mulai memberikan sentuhan-sentuhan sihir pada papan tulis hitamnya. Tubuhnya kaku seolah Hermione benar-benar memerhatikan setiap kata yang disampaikan guru dengan rambut berminyak itu. Dia melihat Snape membuka mulut dan menatap berkeliling, seolah mengintimidasi wajah-wajah yang dungu, menuntut harus mengerti setiap semua detil penjelasannya. Namun, Merlin, sama sekali tak ada pengertian dari semua penjelasan Snape yang masuk kedalam otaknya.
"Aku melihat Potter di depan pintu tadi pagi sekali, kau tahu." Hermione langsung menoleh. Namun Malfoy masih tetap tenang, seolah dia tidak pernah bicara beberapa detik barusan.
"Kau bertemu dengannya?"
"Ketika aku ingin keluar dan dia berusaha masuk, bagaimana kau pikir kami tak bertemu?" kali ini Malfoy memandangnya, tak menyembunyikan sarkasme dalam kata-katanya. Mereka saling menatap beberapa saat. Sebelum akhirnya Malfoy memutuskan untuk menatap kedepan lagi. Bersikap seolah tak peduli.
Hermione tak bisa begitu saja memercayainya. Dia menatap sekeliling dengan gugup, lalu mencondongkan tubuh pada Malfoy. "Apa yang dia lakukan?" bisiknya, tidak percaya. "Apakah dia—"
"Aku tak menghiraukannya. Dan dia tak berusaha mencari masalah denganku, bagiku itu sudah cukup untuk meninggalkannya dengan tampang seperti habis tertampar." Malfoy mendengus, menatap Harry dengan pandangan menghina. Kedua tangannya terkepal diatas meja. Hermione kembali duduk tegak, menatap tengkuk Harry sekilas. Cowok itu bertingkah seolah-olah dia tak ada di kelas itu. Badannya membungkuk, membaca—atau menulis—entah apa di perkamennya. Agak sedikit takjub mengapa Snape belum benar-benar menjadikannya sebagai sasaran empuk.
"Dia menanyaimu, kau tau." Malfoy berkata lagi. Memandang buku-buku jarinya diatas meja. "Bajingan sialan." Hermione tak dapat berkata apa-apa ketika akhirnya Malfoy benar-benar menatapnya. "Aku bisa saja menendang rohnya keluar dari badannya, karena berkat ketidak tahu-diriannya yang berlebihan. Tapi aku masih memikirkan apa reaksimu kalau saja aku menggores kulitnya—jadi tak kulakukan."
"Oh, kau begitu penuh pengertian. Terima kasih, brengsek."
"Yeah, kembali." Dan dalam satu pagi itu, Hermione baru melihat Malfoy menyeringai puas. Mereka kembali menatap kedepan, memerhatikan Snape yang terus-menerus mengawasi Harry. Seolah siaga membidiknya kapan saja. Mereka tak lagi saling lirik-lirik melihat reaksi satu sama lain. Terkadang Hermione mengintip secara terang-terangan apa yang tengah Malfoy tulis di atas perkamennya—karena dia yakin seratus persen bahwa dia tak mungkin menyalin gambar-gambar menyeramkan yang di persembahkan Snape, dan tak ada satupun anak yang berusaha menyalinnya—melihat sebuah gambar bergerak dari pena bulunya, tentang dia dan Harry yang sedang berkencan di The Three Broomstick, menyentuh gelas masing-masing, dan ada sebuah Troll yang menghampiri mereka, mencengkram kerah baju Harry, lalu menggulingkan meja diantara mereka.
"Apa-apaan kau—"
Suaranya sempat membuat beberapa perhatian tersita, apalagi dengan Harry, seolah-olah cowok itu benar-benar telah siaga memergokinya, menatapnya dengan tampang marah. Hermione kembali duduk tegak, namun Harry tak sekalipun berkedip ketika memandangnya.
"Lima poin dari Gryffindor karena ketidak sopanan yang dilakukan oleh Potter." Suara Snape yang berat dan puas memenuhi ruangan. Harry langsung menatap profesor yang paling dibencinya sampai ke pembulu darah itu.
"Tapi aku hanya bertindak refleks, sama seperti yang lainnya!" katanya berang.
"Lima poin lagi untuk teriakan yang menggaduhkan itu."
"Ap—" Harry seperti membuat gerakan yang bersiap menghancurkan meja saat itu juga, dia mengepalkan tangannya, mendengus ketika guru itu menyeringai penuh kemenangan padanya. "kau juga harus beri potongan poin padanya!"
Harry menunjuk dimana Goyle sedang bermain-main dengan tongkat sihirnya, menciptakan bentuk-bentuk aneh pada salah satu botol di ruangan itu, dan saat semua perhatian tertuju padanya, anak bego itu terdiam. Menaruh dibawah meja tongkat sihirnya.
"Aku tak melihat sesuatu hal yang menggangguku darinya, Mr. Potter."
"Tapi setidaknya aku tak tertawa-tawa saat kau menjelaskan tentang efek Melantur Seumur Hidup!"
Crabbe membuat suara seperti tersedak.
"Apa kau ingat aku memberi tahu kalian bahwa semua kegaduhan di kelasku akan mendapat potongan poin?"
"Ya!" sahut Harry marah.
"Ya, Sir."
"Tak perlu panggil aku Sir, Profesor."
Hermione tak tahu apa yang telah merasuki Harry, karena kata-kata itu keluar begitu saja. Beberapa anak terkesiap, dan dia sendiri tak memungkiri keterkejutan itu di dalam dirinya. Namun Hermione melihat Ron, yang memberikan pandangan puas pada Seamus dan Dean. Mereka nyengir mendukung.
"Detensi. Besok malam, kantorku." Kata Snape. "tak ada toleransi bagi siapapun yang berbuat lancang padaku, bahkan dari Sang Terpilih pun tidak."
Snape memandang Harry dari dua sisi hidungnya yang melengkung. Tatapannya puas. Tepat sekali ketika detik berikutnya bel berbunyi.
"Kelas bubar, kalau begitu."
Snape berjalan, meninggalkan Harry yang masih duduk tegang, seolah siap menerkamnya kapan saja. Namun seiring itu juga, Harry mengejarnya. Berteriak-teriak tentang "Kau tak bisa tahan aku tepat pada saat latihan Quidditch! Profesor!"
.
Seminggu berikutnya, Hermione melewati hari-hari dan jam-jam yang sangat menyebalkan berkat semua teman-teman asramanya yang terus-terusan berbisik-bisik untuknya. Apalagi ketika mereka semua melihatnya berdua dengan Malfoy di koridor, seperti ada sebuah roket yang melesat dan meledak begitu saja, kabar langsung tersebar ke setiap penujuru telinga.
Hermione tak bicara lagi dengan Harry. Dan bahkan dia pura-pura tak menyadari keberadaan Ron, Ginny, atau salah satu yang dikenalnya, jika mereka semua sedang terang-terangan menatapinya. Seumur hidupnya, Hermione tak pernah merasa semenderita itu. Harus memasukan makanan yang tersisa saat semua orang sudah meninggalkan Aula Besar. Duduk sendirian seperti tolol di pinggir danau setiap sore. Bahkan setiap menunggu kelas berikutnya, dia akan senang bersembunyi di balik rak-rak buku Perpustakaan daripada harus benar-benar duduk di salah satu kursi untuk membaca.
Dia sebenarnya merasa bersalah karena telah berlaku seperti itu. Tapi rasa percaya bahwa semua penjelasan dan usahanya akan sia-sianya lebih besar, maka mulai sekarang Hermione memutuskan untuk tidak lagi peduli. Terkadang Malfoy yang dengan skenario tanpa-sengaja-aku-lewat-nya, lebih sering menemaninya di pinggir danau. Malfoy lebih sering mendatanginya di sela-sela waktu latihan Quidditch. Dengan alasan "Blaise sedang ajari beater goblok itu, jadi aku tak mau buang-buang waktu di sana hanya sebagai pajangan." Lalu mereka akan membual satu sama lain. Menghina orang-orang tolol menurut pandangan Malfoy di Hogwarts. Mengomentari betapa konyolnya Dumbledore. Atau bahkan mereka akan diam berjam-jam, cukup hanya dengan duduk bersebelahan. Malfoy akan merebahkan diri disisinya, lengkap dengan pakaian Quidditch-nya, dan memejamkan mata melipat kedua tangannya sebagai bantalan dikepalanya.
Hermione tadinya merasa sangat keberatan dengan keberadaannya. Namun jauh di dalam hatinya sendiri, dia benar-benar membutuhkan teman. Dan Malfoy datang sebagai sukarelawan.
Dan Minggu hari ini adalah pentandingan Quidditch pertama tahun ini. Tak bisa dimengerti kenapa para Prefek tiba-tiba mendapatkan tugas patroli oleh Profesor McGonagall, dan termasuk juga Hermione. Yang berkali-kali selalu mendapat panggilan dadakan oleh pengeras suara diatas stadion yang dulu sering menjadi tempat persinggahan Lee Jordan.
"Panggilan untuk Ketua Murid, harap menemui Profesor McGonagall di ruang ganti!" teriak seseorang dengan nyaringnya, tak terkejut ketika melihat Zacharias Smith yang sudah bersiap di atas podiumnya. Hermione melihat cowok itu tertawa-tawa. Dengan marah dia berjalan ke ruang ganti, tak menyangka akan menuruti kata-kata cowok yang paling menyebalkan di muka bumi.
Dia baru saja mendapat tugas harus menyisir lapangan—kalau-kalau saja ada benda gawat yang mengganggu keamanan—dan sekarang tugas sialan apalagi yang diingini?
Tanpa ba-bi-bu lagi, saat sampai di ruang ganti, Hermione langsung disambut muka panik Profesor McGonagall.
"Ah, Granger!" lalu Profesor McGonagall menatap kebalik punggungnya. "Dan Malfoy." Betapa kagetnya Hermione ketika benar saja, Malfoy kini sudah berdiri di sampingnya. "Kuharap kita tepat pada waktunya, karena pagi ini ada sebuah berita di Daily Prophet tentang beberapa tahanan yang kabur dari Azkaban—" saat mengatakan itu McGonagall memelankan suaranya, dan menatap sekeliling dengan takut-takut. "aku ditugaskan oleh Dumbledore untuk menjaga ketat seluruh penjuru sekolah. Kementrian sudah kirim Auror—sepertinya. Dan aku sangat membutuhkan bantuanmu untuk mengumpulkan Prefek di lapangan untuk kembali ke sekolah, melihat sesuatu apa ada yang tidak beres…"
"Ah, maaf, Profesor. Tapi kenapa jika semua murid berada di lapangan, sekolah harus dijaga? Bukankah lebih baik jika keamanan ekstra di lapangan—"
"Tolong jangan membantah, Miss Granger. Ini hanya sebuah perintah. Kalian akan disana sampai Auror datang—hanya sampai Auror datang. Kupikir itu jelas?"
Hermione agak malu, mukanya memerah. "Ah, ya, Profesor."
"Baik, kau dan Malfoy bisa membagi kelompok dan kumpulkan Prefek."
Memang Daily Prophet baru tesebar ketika semua murid telah berada di lapangan, dan bahkan sebagian diantara mereka tak peduli dengan koran harian itu, mengingat tahu bahwa pertandingan yang lebih penting di depan mata sekarang. Hermione manatap punggung Profesor McGonagall, tangannya mencengkram kuat Daily Prophet, dan menghela napas ketika Malfoy bergerak di sampingnya.
"Kau mau aku temani atau bagaimana?"
Hermione tak menyangka cowok itu akan berkata seperti itu. "Aku akan lebih tenang jika Pelahap Maut di dekatku daripada kau."
"Jangan bodoh," Malfoy mengambil koran itu dari tangannya. Melemparnya asal kesudut lemari sapu. "Kita tak tahu di mana mereka kan?"
"Aku akan kumpulkan Prefek ke sisi kanan lapangan, kau ke kiri. Pertandingan belum di mulai, jadi suasana masih kisruh. Murid-murid masih berlalu lalang—"
"Kita memutari lapangan dari sisi kiri terdahulu."
Dan cowok itu membawanya keluar ruang ganti. Harry, yang tanpa di sangkanya tengah bergaya terbang menukik di dekat pintu ruang ganti, menatapnya dan Malfoy sesaat, sebelum benar-benar terbang melesat bagai roket ke awan dengan wajah bersengut penuh amarah. Hermione sudah kebal dengan hal itu. Maka, dengan lelucon basi Malfoy tentang Potty-Si-Atlet-Sapu terbang, mereka mengitari lapangan. Beberapa Prefek telah ditemui dan diberi tahu. Beberapa masih ada yang membutuhkan sentakan sinis Malfoy, untuk tidak usah banyak bicara dan turuti saja perintahnya.
Hermione mendengar tepuk tangan riuh tiba-tiba saat Pertandingan Gryffindor melawan Ravenclaw dimulai. Tidak terlalu antusias—karena sudah tahu hasilnya—Hermione tetap berkeliling. Malfoy sibuk menghina anak-anak yang bertebaran di bawah stadion. Hermione baru tahu bahwa sisi bawah stadion sering dijadikan tempat transaksi jual-beli barang ilegal yang bisa dimasukan ke Hogwarts. Dan itu menjadi sasaran empuk Malfoy.
Salah seorang anak kelas lima tengah memperdagangkan Frisbe Bertaring pada anak-anak kelas satu dan dua. Langsung saja Malfoy menarik kerah cowok itu dari belakang dengan satu tangan. Bukan wajah ketakutan si pedagang ilegal anak kelas lima, melainkan perhatian Hermione tersita pada jari-jari Malfoy. Persis seperti seseorang, jari telunjuk dan ibu jarinya ditempati oleh cincin perak berlambang keluarga paling murni, Hermione tahu betul hal seperti itu pernah ada pada seorang Lucius Malfoy.
"Kau tahu kenapa aku tarik kerahmu, anak muda?"
"M—maafkan aku—"
"M—maafkan aku." Malfoy menirukan, menghina. Wajahnya penuh kepuasan saat melihat kantong penuh Frisbe Bertaring. "Potong lima puluh poin dari kau, Hufflepuff. Satu detensi menunggumu nanti sore."
Secara sihir semua kata-kata Malfoy telah tercatat. Dan dengan sentakan, Malfoy melepaskan lelaki Hufflepuff itu. Dia lari terbirit-birit, sesekali menengok kebelakang untuk mengawasi apakah Malfoy mengejarnya atau tidak. Malfoy, dengan kantong penuh Frisbe Bertaring, memanggil salah satu Prefek kelas lima yang lewat dan melemparkan kantong itu padanya.
"Berikan pada Filch. Kau pergi ke Hogwarts sekarang." Si Prefek langsung ngacir dengan kantong di pelukannya setelah mendengar perintah itu. Dan melihat Hermione mematung, Malfoy mendatanginya. "Kau kerasukan atau apa?"
Sungguh. Hermione tak pernah melihat sisi Malfoy yang seperti itu. Pelanggar peraturan paling banyak seperti dia menyita barang-barang ilegal di Hogwarts? Mungkin dia mimpi...
Mereka berdua kembali mengelilingi stadion dari bawah. Malfoy sibuk melemparkan potongan-potongan poin bagi murid-murid yang ditemui mencoba mengendap-endap mencurigakan. Hermione mengeratkan syalnya. Merasakan tangannya telah kebas oleh udara yang semakin dingin. Dia menatap langit yang kelabu. Dimanapun Harry, dia sedang mencari Snitch diatas sana. Dan bagaimana pun keadaannya sekarang, cowok itu juga pasti tengah memikirkannya. Mengingat Harry memergokinya untuk kesekian kali berduaan dengan Malfoy. Dan apa yang akan dilakukan cowok itu pada akhirnya? Jika hubungan mereka masih pantas disebut pacaran, apakah Harry akan segera memutuskannya? Atau bahkan cowok itu tak mau repot-repot bicara dengannya lagi untuk selama-lamanya?
"…sepuluh poin bagi Hufflepuff! Sepertinya Weasley telah kembali kehilangan otak…"
Oh, Smith bajingan. Tunggu sampai apa yang akan mereka lakukan padamu, brengsek. Sungut Hermione dalam hati. Dia kembali berjalan. Setelah beberapa menit, mereka berpapasan dengan segerombolan Slytherin. Sebagian Prefek, sebagian hanya anak-anak biasa. Hermione berhenti, Malfoy yang telah berhasil menyusulnya, juga berhenti di sampingnya.
"Tamasya, Blaise?"
"Oh, fuck. Kenapa nenek tua itu terus berteriak di pengeras suara? Apa sih yang dia ingin kita lakukan?"
Hermione tak bergerak. Malfoy maju selangkah. "Pergilah ke Hogwarts. Dan sisanya selain Prefek, kembali pada kursi kalian."
"Aku ikut denganmu kalau begitu, Draco." Suara perempuan menyeruak. Hermione mengawasi Pansy yang melangkah maju, mendekati Draco. Tanpa di duga pegangan pada tongkatnya menguat. Tak pernah lagi dilihatnya Pansy setelah malam itu. Bahkan dia tak mengikuti satu rapat akhir pekan Jumat kemarin, dan baru sekarang Hermione melihat wajahnya lagi. Betapa dia muak.
"Kau ikut Blaise, Pans. Aku masih ada urusan." Malfoy menjauhi wajahnya dari sentuhan Pansy seperti menghindari lalat yang ingin menghinggapinya. Lalu Pansy menurunkan tangannya, kesal. Dia melirik di balik punggung Malfoy. Mendengus menatap Hermione.
"Aku tunggu kau di Menara."
Blaise, Pansy dan Bulstrode pergi memisah dari rombongan, berjalan menuju Hogwarts. Hermione tak bisa percaya cewek itu dapat begitu saja melepaskannya. Beberapa anak Slytherin berbalik dan bergumam-gumam menuju stadion. Malfoy menatapnya.
"Kita ke Hogwarts?"
"Apakah kelihatannya aku punya pilihan?"
"Oh, berhentilah bertingkah seolah kau kotoran busuk." Malfoy mengerutkan dahinya. "Kau menyebalkan, tahu."
"Oh, terima kasih. Aku baru menyadarinya. Kau baik sekali." kata Hermione dibuat-buat. Namun Malfoy tidak menghiraukannya. Dia menatap langit. Raut wajahnya berpikir. Hermione mengikuti arah pandangnya. Samar-samar ditelinganya terdengar suara Smith lagi.
"…melayang bagus sekali, seandainya saja Si Loyo Coote tak menghadang, mungkin Ravenclaw sudah menang 150 poin dan—aw!"
Keinginan untuk melihat pertandingan bangkit. Hermione belum pernah sekalipun melewati pertandingan Quidditch dari Tim Asramanya. Dan Hermione juga tak pernah berpikir akan melewatkannya dengan musuh bebuyutan di lapangan maupun diluar lapangan Harry. Jadi dia menunduk, menggelengkan kepala. Menghilangkan pikiran itu dari kepalanya. Karena awan-awan gelap mulai menjatuhkan hujan rintik-rintik yang kecil dan halus. Harry—bagaiamapun—diatas sana sedang kesulitan melihat akibat kacamatanya yang terhantam air dan angin, pastinya. Dan Hermione tidak seperti biasanya, membantunya.
Dia menyesali ketika suara pekikan di stadion bergemuruh. Dia tahu Snitch sudah di temukan. Dan Hermione menebak pasti sekarang kedua kapten masing-masing asrama tengah berlomba menggapainya. Bayangannya, seandainya saja dia disana, dia bisa tahu bagaimana kesulitan yang dihadapi Harry. Namun gemuruh petir dan kilat telah menyambar-nyambar. Tak mampu lagi mengandai-andai, Malfoy telah menggapai tangannya.
Membawanya menuju kastil.
Ini dia bab7-nya. Saya rasa ini agak lebih cepet dari biasanya. Dan saya pengen menjawab atau menjelaskan komentar para readers. Memang agaknya kalo kita lihat film, Harry disini OOC. But, hey, do you want to reading the book, honey? Jujur, saya lebih suka karakter Harry di buku. Di buku dia agak-agak konyol, berani ngeledek, dan tempramen gimanaaa gitu. He is so dope, dan kalo mau tau, Hermione sangat amat banget menyebalkan di buku. Tapi kucoba ambil karakter-karakter enaknya aja. Dan maaf soal alur yang sering kuloncat jauh-jauh tanpa kubuat detil. Ini demi kenyaman aja, cuz Nyonya JK Rowling juga sering membuat alur dibuku like a wind. Cepet banget. Oh iya, aku memuja cara penulisan dia, btw. Dia keren banget! Walaupun akhirnya cerita Harry Potter itu nyebelin, tapi kalian harus coba baca salah satu bukunya. Enchated deh! K, see you soon ya. Don't know how long but, I love you guys! Thanks for review. It's inspired me...
