Immortal Life (Sekuel My Mortal Mate)

Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto. But This Story is Mine!

Pair : Uchiha Sasuke x Haruno Sakura (Slight YahikoSaku)

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Mistery

Rated : T+

Warning! : Typo, Gaje, OOC, dan Sebangsanya! Diharapkan membaca fic saya yang berjudul 'My Mortal Mate' terlebih dahulu!

-Happy Reading! Dilarang mengcopas tanpa seijin author-

.

.

Chapter 7

.

.

"Sakura.."

Sakura terbelalak mendengar suara ini. Suara seseorang yang begitu ia rindukan akhirnya kembali memasuki indra pendengarannya. Suara seseorang yang ia pikir takkan lagi terdengar untuk selamanya.

"Nii-san.."

Bruk

Sakura segera menghambur kedalam pelukan kakak yang begitu ia rindukan itu. Perlahan, air mata mengalir membasahi pipinya. Dan akhirnya, isakan mulai terdengar.

"Hiks.. Nii-san. Ini benar kau kan.. hiks." Sakura mendongak menatap sosok kakaknya itu. Sementara sang kakak tersenyum lembut balas menatap Sakura.

"Iya Imouto-chan.. ini aku kakakmu. Haruno Yahiko." Yahiko berucap begitu lembut. Tangannya tak henti-hentinya mengelus surai merah jambu Sakura. Pandangannya tak terlepas dari sepasang emerald yang kini menatapnya sayang.

"Bagaimana.. bagaimana kau bisa-" Yahiko menenggelamkan kepala Sakura pada dada bidangnya. Berusaha meredam pertanyaan sang adik yang begitu dicintainya itu. Sakura bungkam. Memilih untuk menikmati momen ini. Menikmati pelukan kakaknya yang begitu ia sukai walau tak sehangat dulu. Mengesampingkan emosinya yang membuncah saat mendengar pengakuan Itachi beberapa saat lalu.

"Nanti kuceritakan Imouto-chan." Netra ungu Yahiko memandang seluruh penjuru ruangan dengan tatapan tajamnya. Mencoba menganalisa segala sesuatu yang terdapat di ruangan ini.

"Hime-chan." Suara baritone itu mengalihkan sepasang netra ungu Yahiko. Tanpa mengurangi ketajaman pandangannya, Yahiko menatap Itachi yang kini balas menatapnya tajam.

"Nii-san, lepaskan pelukanmu." Sakura mencicit pelan dalam pelukan kakaknya yang semakin mengerat ini. Dekapan tangan kakaknya pada kepalanya seolah mencegahnya untuk berbalik sekadar untuk melihat Itachi.

"Siapa kau?" bukannya melepaskan dekapan eratnya, Yahiko malah bertanya dengan nada dingin kepada Itachi. Bukannya ia tak tahu siapa Itachi, hanya saja ia perlu sedikit berbasa-basi disini.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Dan bagaimana kau mengetahui tempat ini?" Yahiko memutuskan kontak matanya pada Itachi saat dirasanya Sakura sedikit memberontak dalam pelukannya. Dengan enggan, ia melonggarkan sedikit pelukannya.

"Itachi-nii, dia kakak kandungku Haruno Yahiko. Nii-san, dia Itachi-nii. Dia.. um dia temanku." Sakura mencoba mencairkan suasana yang entah mengapa terasa mencekam. Kedua lelaki itu seakan tak terpengaruh oleh ucapan Sakura.

"Kakak?" Itachi mengernyitkan alisnya mendengar pernyataan Sakura. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan dalam pikirannya. Lelaki itu adalah kakak Sakura? Dan.. Itachi bisa merasakan aura yang dipancarkan Yahiko bukanlah aura manusia, melainkan aura mahkluk sebangsanya. Vampire.

'Bagaimana bisa? Apa Sasuke juga mengubah kakak Sakura? Aku rasa itu tak mungkin.'

"Ya. Aku kakak kandungnya. Dan aku kesini untuk menjemput adikku." Yahiko berucap tegas. Seolah ia tak menerima penolakan sedikitpun. Sakura hanya diam. Ia terlalu senang karena bisa bertemu dengan kakaknya lagi. Ia tak menghiraukan semua keganjilan yang Itachi rasakan. Fokusnya hanya satu. Kakak kandungnya yang entah bagaimana bisa berada disini.

"Hime-chan kau ingin pergi dengannya?" Itachi berusaha mencegah Sakura untuk pergi bersama Yahiko. Ia masih belum percaya sepenuhnya pada pemuda itu. Bagaimanapun juga, asal usul orang yang mengaku sebagai kakak Sakura itu masih belum jelas. Sangat tidak jelas. Ia tak bisa begitu saja membiarkan Sakura pergi dengannya. Apalagi ia tahu, bahwa 'orang itu' mengincar Sakura. Lagipula, ia belum selesai menceritakan kejadian di masa lalunya pada Sakura.

Sakura yang masih terlarut dalam euforianya kini memandang Itachi dengan senyum di wajahnya. Mencoba meyakinkan Itachi bahwa ia akan pergi bersama kakaknya dan semua akan baik-baik saja. Ia seakan melupakan berbagai kenyataan mengenai masa lalu Uchiha yang Itachi beberkan tadi. Ia terlihat tak memikirkannya lagi. Pikirannya kini terpusat sepenuhnya pada kakak yang begitu dirindukannya.

"Tak apa Itachi-nii. Lagipula aku ingin mendengar cerita Nii-san. Aku akan baik-baik saja." Sakura berucap dengan mantap. Senyum masih tak luntur dari wajahnya.

Itachi berusaha untuk mempercayai perkataan Sakura. Bagaimanapun juga, ini adalah keinginan Sakura sendiri. Ia merasa tak tega untuk melunturkan senyum di wajah gadis itu. Sakura tampak begitu senang atas kehadiran kakaknya.

"Baiklah." Itachi mendesah pasrah. Yahiko menyeringai licik mendengarnya. Tanpa buang waktu lagi, ia segera menuntun Sakura untuk pergi meninggalkan markas Itachi.

"Aku pamit Itachi-nii. Terimakasih untuk semuanya. Dan.. maaf." Itachi tersenyum terpaksa. Dengan langkah berat, ia mengantar kepergian Sakura.

"Hime-chan, hati-hati. Kau selalu bisa mengandalkanku." Sakura mengangguk mendengar pesan Itachi. Dengan mengenggam erat tangan Yahiko, ia segera melesat pergi meninggalkan Itachi.

Whushhh

Itachi mengernyit. Ia merasakan aura yang terasa sedikit familiar.

'Hyuuga?'

.

.

.

.

Kedua sosok berbeda gender itu menapakkan kakinya didepan gerbang sebuah kastil tua yang terlihat menyeramkan, apalagi dimalam hari seperti ini.

"Nii-san, ini tempat tinggalmu?" Salah seorang dari kedua sosok itu memandang ngeri keseluruh penjuru halaman kastil tua didepannya. Pagar-pagar yang tampak berkarat, tumbuhan liar yang tak terurus, dan ah jangan lupakan lumut yang menutupi dinding batu kastil ini. Benar-benar berbeda dengan kastil Uchiha yang terawat.

"Iya Sakura-chan. Ayo masuk." Yahiko menggenggam lembut tangan adiknya. Menuntun langkahnya memasuki kastil Akatsuki.

Krekkkk

Pintu besar kastil itu terbuka, menampakkan ruangan didalamnya. Meski masih terlihat menyeramkan, tapi ruangan ini benar-benar luas dan megah.

"Ah kau sudah kembali Yahiko?"

Suara ramah seorang pria mengalihkan pandangan Sakura. Ia memandang aneh sesosok pria yang menggunakan topeng spiral yang kini melangkah mendekatinya itu.

"Oh kau pasti Sakura hm? Selamat datang di kastil kami.. Sakura-chan." Sakura bergidik saat pria bertopeng itu membisikkan namanya dengan nada yang terdengar agak ganjil ditelinga Sakura. Gadis bersurai merah jambu itu sama sekali tak dapat menerka ekspresi wajah pria bertopeng itu.

"Jangan ganggu dia Tobi. Ayo Sakura-chan, aku akan menunjukkan kamarmu." Yahiko memandang tak suka pada Tobi. Ia segera menarik lengan Sakura, menjauhkannya dari Tobi.

"Tunggu, apa maksudmu dengan 'kamarmu'?" Yahiko mengernyit mendengar pertanyaan adiknya. Sakura melepaskan genggaman tangan Yahiko pada lengannya.

"Tentu saja kamar yang akan kau tempati selama di kastil ini Imouto." Sakura menggeleng pelan. Tobi menyeringai dibalik topengnya seolah mengerti maksud dari gelengan pelan Sakura tadi. 'Sepertinya ini akan sesuai dengan rencanaku'

"Tidak Nii-san. Sekarang aku tinggal di kastil Uchiha bersama –Ah! Aku harus kembali Nii-san! Sasuke-kun akan marah padaku. Aku harus segera kembali ke kastil Uchiha." Sakura membalikkan badannya, melangkah tergesa ketika mengingat pesan Sasuke padanya. Tak menyadari aura hitam yang menguar dari tubuh kakaknya.

Grepp

Sakura tersentak. Ia melirikkan matanya. Yahiko tengah memeluknya erat dari belakang. Kepala pria itu menyandar pada bahu mungilnya.

"Jangan pergi." Yahiko berucap lirih memaksa Sakura untuk tetap tinggal.

"Baiklah Nii-san aku akan diam disini sedikit lebih lama." Sakura membalikkan badannya balas memeluk Yahiko. Ia tak tega juga meninggalkan kakaknya yang baru saja ia temui itu. Apalagi mendengar suara lirih sang kakak yang terdengar sungguh memelas ditelinganya. Tanpa tahu bahwa seringai licik Tobi semakin mengembang melihat adegan kakak beradik didepannya.

'Teruslah seperti ini'

.

.

.

.

Suara langkah tergesa memecah kesunyian hutan dimalam sunyi ini. Terlihat sesosok rubah yang tampak mengendus sesuatu diantara bebatuan disalah satu sudut hutan itu . dibelakangnya seorang pemuda tampan memandang cemas rubah itu.

"Disini. Aku melihatnya disini Sasuke. Dan aku mencium bau darah seseorang yang membawa Sakura." Perlahan sosok rubah itu mengubah wujudnya menjadi pemuda bersurai merah darah. Ia melangkah mendekati sebuah batu menonjol yang ternodai oleh bercak darah.

Sasuke mendekati Gaara –pemuda rubah itu. Hidungnya yang tak setajam milik Gaara sedikit mengendus bau darah diatas batu lonjong tersebut.

Deg

Mata Sasuke terbelalak. Matanya berubah menjadi merah dengan 3 tomoe hitam yang mengelilinginya.

"Uchiha.. Itachi." Gaara yang mendengar nama asing itu memicingkan matanya memandang Sasuke yang tampak terkejut itu.

"Uchiha katamu? Siapa dia?" Gaara melangkah mendekati Sasuke yang kini tertunduk. Mata jadenya memandang kepalan tangan Sasuke yang mengerat di kedua sisi tubuhnya.

"Arghhh! Kuso!" Sasuke menggeram marah. Ia memandang tajam Gaara.

"Kita harus mencari Itachi sekarang juga, Gaara ikuti bau darah ini." Gaara mengangguk. Ia kembali dalam wujud rubahnya. Tanpa basa-basi lagi, mereka melesat cepat membelah kesunyian hutan sekali lagi.

.

.

.

.

"Nii-san kau berhutang cerita padaku." Malam hari di kastil tua itu tak membuat Sakura ketakutan lagi. Disampingnya sosok sang kakak menemaninya.

"Hm." Sakura mendengus melihat kakaknya yang sejak tadi tak juga melepaskan pelukannya. Dengan kesal, ia melepas pelukan itu.

"Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu Nii-san." Suara tegas Sakura membuat Yahiko memandang Sakura intens.

"Kau tahu apa yang terjadi padaku Imouto." Sakura menunduk, ia paham maksud kakaknya. Tentu saja ia mengetahuinya, karena yang menyebabkan itu semua adalah dirinya sendiri. Ia yang telah menggigit kakaknya dan membuat pemuda itu menjadi vampire sepertinya.

"Gomen.." Yahiko tersenyum memandang Sakura yang kini menunduk dalam. Dengan lembut, ia kembali memeluk Sakura. Mengusap pelan punggung mungil gadis itu yang sedikit bergetar.

"Tak apa, berkatmu kita bisa bersama lagi kan." Sakura hanya diam. Tak merespon perkataan maupun pelukan Yahiko. Emeraldnya memandang langit yang semakin gelap. Mengingatkannya akan sepasang onyx yang selalu menatapnya penuh cinta.

"Sasuke-kun.." Yahiko melepaskan pelukannya pada tubuh Sakura. Ia memandang tajam Sakura. Di saat-saat seperti ini gadis itu masih saja memikirkan Sasuke. 'Apa kau tak merindukanku eh Imouto?'

"Jangan menyebutkan namanya didepanku." Sakura memandang bingung Yahiko yang kini menatapnya tak suka. Netra ungu lelaki itu memancarkan suatu emosi yang sulit untuk Sakura artikan.

"Kau tak boleh menemuinya." Sakura membulatkan matanya terkejut. Ia memandang penuh tanya pada Yahiko.

"Kenapa? Aku.. aku mencintainya Nii-san." Yahiko menggeram marah. Dengan kasar, ia memegang kedua pundak Sakura. Memaksa gadis itu untuk menatap kedua matanya.

"Aku tak suka. Kau tak menyayangiku lagi eh? Pokoknya kau tak boleh menemuinya lagi." Sakura memandang Yahiko dengan tatapan memelasnya. Ia menjadi dilema sekarang. Ia benar-benar ingin kembali ke kastil Uchiha, tapi kakaknya.. ia tak sanggup meninggalkannya.

Yahiko meremas pelan bahu kedua adiknya. Memaksanya untuk memahami perasaannya kini. Emerald Sakura tampak bergerak gelisah.

"Bukannya aku tak menyayangimu lagi Nii-san, tapi Sasuke adalah.. hidupku. Aku bagian hidupnya dan diapun begitu. Percayalah padaku Nii-san, aku selalu menyayangimu. Ah, bagaimana kalau kau tinggal bersamaku dikastil Uchiha, Nii-san? Aku yakin Sasuke-kun tak keberatan." Sakura tersenyum mencoba untuk meyakinkan Yahiko. Ia memandang harap-harap cemas pada kakaknya yang tengah menunduk itu. Gadis itu tak bisa melihat ekspresi dingin kakaknya.

"Dan kau ingin membiarkanku melihat kemesraanmu dengan Uchiha itu? Cih jangan mimpi Sakura." Sakura terpaku melihat aura kakaknya. Pria itu tampak begitu dingin. Nada bicaranya juga terdengar seperti itu.

"Apa –apa yang salah dengan itu Nii-san? Kau kakakku kan? Bukankah kau selalu mendukung kemauanku? Dari dulu kau selalu mengatakannya." Yahiko mengangkat wajahnya. Matanya berkilat marah.

"Aku takkan membiarkan Uchiha itu mengambilmu dariku."

Deg

Sakura terbelalak. Kesadarannya seakan tersedot kala netra ungu itu berkilat aneh. Dengan sisa kesadarannya, samar-samar Sakura bisa melihat raut hampa diwajah kakaknya.

"Gomen Imouto. Tapi aku mencintaimu."

Bruk

.

.

.

.

-TBC-