La Florist, Los Angeles. United States.

Ting.

Setelah menutup pintu kaca toko bunga yang barusan ia kunjungi, Yamanaka Ino berjalan melewati orang-orang yang sengaja berkeliaran di pusat kota saat itu. Dengan langkahnya yang pelan, Ino menyentuh ujung bunga lily yang sudah terbungkus rapi di tangannya. Gadis itu tertawa pelan dan kembali menghadap depan, dirinya berpikir akan menyerahkan bunga ini sebagai hadiah untuk Sakura nantinya.

Ino berbelok ke arah barat, dimana distrik itu dihiasi oleh rumah-rumah yang membuka kios kecil yang menjual berbagai makanan ringan. Ia tampak tidak memperdulikan siulan aneh yang berasal dari para remaja pria yang kebetulan melewati dirinya.

Ino sudah terbiasa.

Manik birunya terus terpaku di jalanan trotoar yang ia pijak. Dalam pikirannya, Ino akan mengatur jadwal pekerjaannya hari itu. Setelah selesai mengajar anak didikannya nanti, gadis itu berencana akan mengunjungi kantor Tsunade dan mendiskusikan sesuatu. Entahlah, neneknya kok yang menyuruhnya kesana. Lalu setelah itu, ia akan mengunjungi Sakura yang masih terbaring hingga sekarang, dan Ino akan—

Tap.

—langkahnya terhenti.

Angin musim semi berhembus pelan, namun bukan fakta itulah yang mampu membuat mata Ino membulat sempurna. Gadis itu berhenti melangkah dan sontak berjalan mundur beberapa langkah. Bibirnya terkatup rapat. Raut keterkejutan jelas-jelas telah hadir di wajahnya.

Keadaan memang masih normal sebenarnya. Beberapa anak yang berlarian tak mampu menjadi pusat perhatian Ino. Gadis itu hanya mematung dengan tubuh tegap serta genggaman pada buket bunga yang menguat. Rambut pirangnya yang sengaja ia ikat rendah itu bergerak pelan. Hanya saja, jantung yang awalnya berdetak normal kini telah memacu cepat.

Keringat dingin mulai mengalir. Saliva ia telan dengan cepat untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba kering.

Ino hanya terdiam ketika manik birunya melihat seseorang yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan dengan dirinya. Tubuh tegap pemuda itu tak mampu membuat Ino terpesona, hanya saja gadis itu tampak mengenali kedua irisnya. Orang itu mengenakan mantel hitam dengan wajah meraut datar. Seolah-olah tidak ada yang ia pikirkan di dalam otaknya.

Sekelebat merah itu bergoyang, bergerak mengikuti arah angin yang lewat. Lelaki itu hanya menatap lurus ke depan dan tidak memperhatikan Ino yang masih terdiam. Dia tampak tidak peduli. Iris hijau itu hanya berfokus di jalanan dan melewati seorang perempuan berambut pirang dengan cepat.

Itu Sabaku Gaara.

Iris biru milik Ino perlahan mengecil. Tubuh gadis itu langsung menegang ketika menyadari bahwa sekarang Gaara telah melewati dirinya—namun tidak melakukan apa-apa. Jantung memacu cepat. Keringat membasahi wajah. Dan bahu yang menegang mampu membuat tubuh Ino lemas.

Dia takut.

Aroma maskulin itu entah kenapa langsung tercium dan menusuk indera penciuman Ino. Membuat gadis itu sadar betapa dekatnya jarak mereka ketika berlewatan tadi. Detak jantungnya sekarang mampu ia rasakan. Aura gelap yang begitu kental mampu membuat Ino menahan nafas.

Bahkan gadis itu benar-benar tidak menyadari bahwa buket bunga yang sudah dirangkai sedemikian rupa telah terjatuh di pijakan trotoar, hingga tepi-tepinya menjadi kotor akibat beberapa butiran pasir yang sedikit menempel di kelopak bunga lily-nya.

Tapi sungguh—

"B-Bagaimana bisa...?"

—pertanda apa ini?

.

.

.

GANGSTER SQUAD

Naruto by Masashi Kishimoto

Tales of Gangster Squad by Paul Lieberman

Gangster Squad by stillewolfie

Rated M

[ Uchiha Sasuke & Haruno Sakura ]

Crime, Drama, Friendship

OOC, AU, typo(s), etc.

( No Lemon, Lime, or something like that )

.

.

When one truth has been revealed...

.

.

Sakura terus berjalan tanpa arah. Kakinya ia gerakkan dengan sedikit keraguan. Di matanya, ia hanya mendapati sebuah kegelapan yang tidak ada ujungnya, dimana dirinya hanya terdiam di tengah-tengahnya. Sakura mengerjap pelan. Dirinya sekarang hanya dibaluti oleh ketakutan dengan sedikit kebingungan.

Tanpa berucap, ia kembali berjalan. Mencoba untuk mencari celah agar keluar. Langkahnya yang pelan perlahan mulai dipercepat. Sakura sudah berniat untuk keluar dari sana. Sungguh, ini tidak lucu. Kenapa dia bisa ada di tempat seperti ini?

Kegelapan itu masih ada. Hanya hal itulah yang sekarang menjadi teman Sakura. Gadis itu terus melangkah, melangkah, dan melangkah. Iris emerald yang diselipi oleh keberanian namun didominasi oleh ketakutan itulah yang sekarang ia rasakan. Sakura takut—dia benar-benar takut.

Hal gila apa ini?

Apa ini mimpi? Apa ini ilusi? Apa ini hanyalah sebuah eksistensi yang dimunculkan oleh imajinasinya? Kenapa harus Sakura yang mengalaminya!?

Tep.

Sakura berhenti berjalan. Ia terus membuka matanya lebar-lebar dan berharap gadis itu bisa secepatnya keluar dari permainan ini. Instingnya mengatakan bahwa ini merupakan hal yang tidak logis.

Menelan ludah sebagai awalan, Sakura pun berniat berjalan kembali. Hanya saja—

Trank!

"—!?"

—dia tidak bisa.

Trank! Trank! Trank!

Sakura mencoba untuk menggerakkan kakinya dan berjalan keluar. Namun ia kembali dikejutkan ketika merasakan sesuatu telah mengunci pergelangan kakinya, hingga membuat gadis itu jadi susah bergerak. Sakura melirikkan mata ke bawah, dan ia hanya terdiam saat menyadari bahwa sudah ada sepasang rantai besi yang telah mengunci kakinya.

Ia tidak bisa berjalan.

Trank! Trank!

A-Apa ini!?

"—Gh!" Sakura meringis pelan ketika merasakan goresan besi rantai yang bekarat telah bergesekan dengan kulitnya. Gadis itu merasakan pergelangan kakinya telah memerah.

"B-Bagaimana bisa—" Sakura menelan ludah. "—sejak kapan ada rantai disini!?"

Tanpa menyadari kebrutalannya dalam bergerak, Sakura dengan sekuat tenaga mencoba untuk melepaskan diri dari kuncian rantai tersebut. Gadis itu berteriak, menendang-nendang, dan menarik kakinya dengan kuat agar rantai itu bisa terlepas.

Tapi tidak ada sesuatu yang dihasilkan, hanya engahan nafas dan wajah lelah yang tampak pada dirinya.

Gadis itu jatuh terduduk. Sakura menyerah. Ia lelah. Sekarang dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada yang bisa menolongnya sekarang. Yang ada hanyalah kegelapan yang tak berujung, bahkan tidak ada hawa kehidupan yang terasa disana. Sakura bahkan tidak bisa merasakan adanya atmosfer, udara, bahkan tanah—tidak seperti tempat lainnya.

Ia seperti melayang, namun masih sanggup untuk berjalan.

Lucu sekali.

Sakura menundukkan kepala. Tubuhnya bergetar. Ia ingin berteriak untuk meminta pertolongan. Tapi ia rasa dirinya tak bisa, karena pita suaranya seakan telah terputus. Suara gemeletuk gigi yang dihasilkan olehnya sama sekali tidak membuahkan hasil.

"T-Tolong—" Kenapa air mata sialan ini harus keluar? "—siapapun, tolong aku!"

Setelah teriakan pertolongan Sakura itu terdengar, sedetik kemudian semua hal yang ada telah berubah. Tidak ada kegelapan, tidak ada kesunyian, bahkan sekarang yang ada hanyalah sebuah jalanan yang dihiasi oleh bangunan di setiap pinggirnya.

"Apa y-yang—?"

Brukh!

Sakura terdiam. Mulutnya terbuka. Iris matanya mengecil.

Cairan kental berwarna merah itu langsung menghiasi wajahnya ketika tubuh manusia yang tak Sakura kenal tiba-tiba terjatuh tepat di sampingnya. Entah angin darimana, helaian merah muda miliknya terayun pelan. Membuat gadis itu sadar bahwa itu bukanlah ilusi biasa.

Tubuh Sakura bergetar hebat dan menegang seketika. Ia tahu bahwa tubuh asing itu tak lagi bernyawa akibat tembakan timah yang tertancap tepat di kepalanya. Sakura menelan ludah ketika langkah kaki itu telah terdengar di telinganya. Dan—

—ia menahan nafas.

"Eh—"

Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya memburu cepat. Dan tubuhnya benar-benar tidak bisa bergerak. Sakura hanya terdiam dengan posisi terduduk. Matanya berfokus pada seseorang yang berjalan di depannya dengan sebuah shotgun yang telah orang itu pegang. Mata Sakura beradu dengan mata sosok itu. Sakura terdiam, orang itu terus melangkah. Hingga sampai tepat di hadapannya, Sakura benar-benar tidak bisa bergerak dibuatnya.

Orang itu berjongkok, ia menyamakan tinggi dengan Sakura yang terduduk. Gadis itu menahan nafas saat tangan sosok itu menyentuh ujung rambutnya, kemudian memainkannya dengan pelan. Setelah puas dengan helaian merah mudanya, orang itu lagi-lagi menyentuh pipi Sakura dan mengelusnya perlahan.

Lembut dan… mematikan.

"Hai, Sakura. Bagaimana kabarmu?" Ia tersenyum manis. Sakura mengernyitkan alis. "Kau mengenalku, 'kan?"

Sakura tak menjawab. Sosok yang disebut dengan perempuan itu memainkan pistol kecil yang ada di tangannya, dan ia menyipitkan matanya senang ketika melihat Sakura yang telah menelan ludah.

Orang itu hanya bisa mendengus pelan saat ketika Sakura menyentak kepala untuk melepas sentuhannya. Sosok itu melemparkan senyum tipis dan terus menatap kedua emerald milik sang gadis bersurai merah muda.

Dua pasang emerald itu telah berhadapan.

"K-Kau—" Suaranya tercekat. Sungguh, ia benar-benar tidak bisa mempercayainya. "S-Siapa kau sebenarnya!?"

"Ah. Kau galak sekali, Sakura." Manusia berupa perempuan itu memajukan kepalanya, membuat kepala Sakura jadi termundur pelan. "Kau benar-benar… tidak tahu siapa aku?"

Sakura mengenalnya. Ia sangat tahu siapa dia.

Tapi—

"Heh, dasar konyol." Tangan kosong yang sebelumnya dipakai untuk elusan pipi, perlahan mulai menyentuh dada Sakura yang hanya ditutupi oleh pakaian panjang berwarna putih. "Bagaimana bisa orang-orang menyebutmu hebat kalau kau tidak tahu siapa dirimu?"

Mata Sakura membulat.

Si 'Haruno Sakura' menyeringai lebar.

"Aku Sakura—"

Hal gila apa lagi ini?

"—tapi mungkin kau sadar…" Ia tersenyum. "Aku adalah bagian dari dirimu yang ada di masa lalu."

.

.

~ gangster squad ~

.

.

Pavilions Signature Cafe. Los Angeles, United States.

Suara deru musik jazz yang menggema di ruangan kedap suara itu tak menjadi gangguan bagi seseorang yang duduk di salah satu meja yang disediakan. Segelas latte yang mengepul tak menjadi pusat perhatiannya. Orang itu hanya memandangi pantulan dirinya yang diperlihatkan di kaca bening yang ada di sampingnya. Kedua iris hitam itu terus memandangi orang-orang yang berlalu-lalang melewati mini-café itu.

Sekotak cat minyak serta beberapa kuas dengan berbagai ukuran telah tergeletak begitu saja di meja tersebut. Kanvas berukuran sedang itu masih ada di pelukannya. Shimura Sai tersenyum tipis, ia langsung mengambil salah satu kuas yang ada dan melanjutkan lukisannya yang belum selesai.

Perjalanan dari Manhattan ke LA memang cukup melelahkan. Sebenarnya pemuda paruh baya itu tidak memiliki tujuan mengapa dirinya datang kesini. Padahal ia tidak memiliki kenalan ataupun keluarga, tapi entah kenapa Sai menginginkan sedikit hiburan.

Bagi orang yang melihat, tentu saja di mata masyarakat Sai merupakan pria yang baik dan tidak suka mencari masalah. Dengan wajah mendukung seperti itu, siapa yang tidak berpikir demikian? Semuanya pasti memandang Sai dengan pandangan kagum serta mengidolakannya. Bagi mereka, Sai adalah pemuda yang baik, sopan, dan ramah—tipe ideal setiap wanita.

Tangannya mulai berhenti ketika televisi yang ada di kafe itu mulai menyiarkan sesuatu yang membuat dirinya terdiam. Dengan gerakan pelan, ia mengadahkan kepala dan melihat berita yang baru saja disiarkan. Sai mengerjap, bibirnya hanya membentuk garis datar ketika seseorang yang tidak asing di matanya telah muncul di berita media.

Disana, tampak seorang Uchiha Sasuke telah keluar dengan pakaian formal di suatu tempat yang entah Sai tak tahu dimana letaknya. Selanjutnya, tampak pemuda yang sekilas mirip dengannya itu telah menunggu seseorang di depan mobil. Sai langsung mengerjap lagi ketika ia melihat Sasuke telah menggaet seorang wanita yang Sai tak tahu namanya.

Hanya saja, ia sama sekali tidak terkejut.

Mungkin itu adalah kesekian wanita yang telah menghangatkan hari Uchiha Sasuke di ranjang dan hanya untuk kepuasan nafsu belaka. Jadi Sai tak heran ketika dirinya melihat kabar bahwa Sasuke sering bersama wanita yang berbeda. Jujur saja, ia tidak peduli bagaimana kehidupan orang itu sekarang. Sasuke sudah menjadi penguasa, memiliki banyak wanita, dan uang akan muncul tanpa dirinya harus bekerja keras. Kini Sasuke menjadi orang tersukses sekaligus terbrengsek yang pernah Sai kenal.

Kehidupannya sekarang sudah tidak buruk lagi. Dan Sai hanya bisa memaklumi hal tersebut.

Kanvas yang sempat dilupakan itu sekarang telah menjadi pusat Sai sekarang. Kuas putihnya terus bergerak, menggoresinya dengan belahan warna yang dipadu dengan eksistensi manis yang sedemikian rupa. Dengan senyum menawan, Sai terus melanjutkan hasil karyanya yang ke-109.

Meski isi otaknya memikirkan strategi tentang bagaimana rupa hasil karyanya ini nanti, sebenarnya lelaki berambut klimis itu berpusat ke hal yang lain.

Setelah pertemuannya dengan Gaara sore itu, entah kenapa akhir-akhir ini orang itu tak lagi mengujunginya. Setelah mengucapkan salam, Gaara tak lagi mengunjungi apartemennya untuk kesekian kali. Awalnya Sai sempat heran, apa yang dilakukan oleh Gaara sehingga pria itu tak berkunjung lagi ke rumahnya? Apa ada sesuatu yang berbahaya hingga Gaara tak sempat mengabarinya?

Satu kesimpulan telah ia buat.

Gaara pasti sedang mencari alasan mengapa Sakura datang menemuinya.

Meski objek yang sekarang dicari telah terbaring koma, Gaara tak kehilangan akal. Pemuda itu akan terus mencari siapapun yang memiliki hubungan dengan Sakura selain Shikamaru dan Naruto. Dan Gaara tahu tidak banyak orang yang mengenal Sakura di Amerika selain keluarga dan anggota kepolisian milik Senju Tsunade. Hanya saja, ini Gaara yang dibicarakan. Dan pemikiran pria berambut merah itu bisa terbilang cukup luas.

Sai mendengus pelan.

.

.

~ gangster squad ~

.

.

Furnished Apartment, California. United States.

Naruto bergelanyut manja di guling kusam yang ada di pelukannya. Lelaki itu bergerak gelisah dan berputar-putar di kasur yang ada di apartemen itu. Iris birunya tampak mengantuk, namun Naruto sama sekali tidak ada niat untuk tidur. Pemikirannya terus saja berpusat pada segala hal yang akhir-akhir ini menjadi tugasnya sekarang.

Dua hari yang lalu, Tsunade meminta—atau bisa dibilang memerintah—dirinya untuk mencari Sabaku Gaara. Dan sekarang masalahnya, Naruto sama sekali tidak mengetahui tempat tinggal, alamat, teman, ataupun kerabat dari orang itu. Naruto menghela nafas. Ia terus berpikir bagaimana dirinya untuk menyelesaikan masalah ini dan segera pergi dari campur tangan mengenai Uchiha Sasuke.

"Aaarggh…"

Naruto menjedukkan kepalanya di tepi kasur. Wajahnya tampak mengerikan karena amarah dan kekesalan yang membuncah di dadanya. Sakura belum saja sadar, Tsunade terus menghubungi ponselnya, dan Shikamaru sekarang entah ada dimana. Semua hal itu membuat Naruto pusing tak karuan.

Jujur saja, sejak dulu hubungan dirinya dengan Gaara tidak bisa dibilang baik. Mereka terus saja bertengkar karena hal sepele serta pemikiran yang berbeda.

Terkesan anak-anak memang, tapi itulah kenyataan.

Meski Naruto adalah mantan buronan, ia sama sekali tidak pernah memiliki niat untuk membunuh orang yang tidak berdosa. Setidaknya, Naruto bisa dibilang lebih baik dibandingkan Gaara. Jika Naruto memiliki hati nurani, Gaara adalah orang yang sebaliknya. Ia kejam—Gaara kejam. Dan baginya, membunuh orang merupakan makanan sehari-harinya.

Itu adalah salah satu hal yang paling dibenci Naruto dari Gaara.

Sejak Naruto memisahkan diri dengan Sasuke dan memutuskan untuk menjadi buronan jalanan, ia merasa bersyukur ketika sadar bahwa lelaki itu telah benar-benar memisahkan diri dari orang bernama Sabaku Gaara. Ya, Naruto bahagia. Dan dirinya cukup bersyukur akan keadaan tersebut.

Namun sejak semuanya terjadi, entah ikatan apa yang membuat mereka bertemu kembali. Sejak pertemuan mereka dua tahun pertama di taman beberapa minggu yang lalu, Naruto sadar bahwa tidak banyak hal yang berubah dari diri Gaara. Orang itu masih memiliki wajah stoic yang menyebalkan. Aura membunuhnya pun masih sama—atau lebih parah? Sungguh, Naruto benar-benar tidak bisa membedakannya.

Dengan malas, Naruto mengambil sebuah bingkai foto yang ada di meja ranjangnya. Manik birunya seketika menghangat kala ia menatap sesosok wanita yang telah tersenyum sambil memeluk sebuah boneka beruang berwarna cokelat. Wanita itu tersenyum tanpa beban dan hal itu mampu membuat senyum Naruto berkembang. Dan disebelahnya terdapat sosok pria dewasa berambut pirang telah merangkulnya dengan sukacita.

Itu Hinata dan dirinya.

"…"

Alasan Naruto sudah berada di sejauh ini tentu saja adalah karena Hinata. Ya, Hinata. Sekarang wanita itu sedang berada di kediaman Uchiha Sasuke. Lelaki itu sudah memiliki motivasi untuk membawa Hinata pulang. Dan saat dirinya bingung untuk melakukan apa untuk menyelamatkannya, tiba-tiba Sakura datang kepadanya—menawarkan bantuan dan meminta dirinya untuk membantu gadis itu.

Demi Hinata.

Semuanya sekarang terlihat jelas. Antara Sasuke, Gaara, Hinata, dan Naruto. Mereka memang pernah memiliki hubungan di masa lalu. Dan Naruto pun tahu, bahwa sebelumnya Sasuke pernah memiliki sebuah perasaan khusus terhadap Hinata. Hanya saja, malang sekali pemuda itu—Sasuke sadar bahwa Hinata akan memilih Naruto dibandingkan dirinya tanpa harus menyelidikinya.

Mungkin hanya itulah satu-satunya faktor mengapa Sasuke membawa kabur Hyuuga Hinata, kekasihnya.

Cengkraman pada guling mulai mengerat. Wajahnya kembali murka. Dengan sentakan hingga membuat ranjang itu bergoyang, Naruto berdiri dan segera mengambil jaket hitam yang tergantung dibelakang pintu. Manik biru itu berkilat. Ia sudah membulatkan tekad untuk membawa Hinata pulang dan menghancurkan Sasuke.

Maka dari itulah, lelaki itu segera pergi dari apartemen dan berniat pergi ke tempat seseorang.

.

.

~ gangster squad ~

.

.

Kelopak matanya terus terbuka lebar. Ia masih tidak percaya dengan penglihatannya sekarang. Katakanlah Sakura sudah gila. Tidak mungkin gadis itu melihat dirinya sendiri, 'kan? Sosok, jiwa, dan raganya tentu saja masih ada di dalam dirinya. Ia yakin kalau dirinya masih waras dan matanya masih normal. Hanya saja, tempat macam apa yang mampu menciptakan 'Sakura' lain selain dirinya!?

"Coba lihat wajahmu. Kau kira aku berbohong?" 'Sakura' masih menampakkan senyum, kepalanya sengaja ia miringkan sedikit. "Kau seperti melihat hantu saja, Sakura."

'Sakura' tertawa pelan. Namun di telinga Sakura, tentu saja tawa itu begitu mengganjal. Apa benar ini dirinya? Kenapa di mata gadis itu... dirinya yang 'lain' tampak begitu mengerikan?

Sakura terus saja terdiam. Ia memerhatikan seluk-beluk wajah dan struktur tubuh milik 'Sakura'. Ya, benar. Itu dirinya. Dengan wajah putih serta sepasang emerald hijau itu, dan rambut merah muda yang tidak asing di matanya. Bagaimana ia tidak bisa mengenal dirinya sendiri?

Tapi, di sisi lain Sakura berontak kalau wanita ini memang benar-benar jelmaan dirinya di masa lalu.

Tunggu sebentar—masa… lalu?

"K-Kau—" Sakura menatap 'Sakura' dengan pandangan tajam. "—apa yang kau inginkan dariku?"

Awalnya, 'Sakura' hanya terdiam ketika melihat tekad baja yang dilemparkan oleh Sakura kepadanya. Namun tak lama, wajahnya dihiasi oleh senyum tak tertebak. Tangannya yang sedari tadi memegang shotgun pun sedikit mengerat. Jujur saja, 'Sakura' sama sekali tidak menyangka kalau dirinya di masa depan merupakan wanita yang sudah dewasa.

"Aku tidak menginginkan apapun darimu, Sakura-chan." Tubuh Sakura sedikit berjengit ketika mendengar panggilan itu. Kenapa orang ini memanggilnya dengan suffiks tersebut? "Tapi aku memanggilmu kesini tentu ada alasan, 'kan? Karena itu, jawab pertanyaanku dengan jujur, okay?"

Dengan berat hati, Sakura mengangguk pelan. Membuat 'Sakura' yang melihatnya tersenyum lebar.

"Kau mengenal Sabaku Gaara?"

"A-Apa?"

"Jawab pertanyaanku, Sakura-chan. Jangan menampakkan wajah seperti itu." 'Sakura' terkekeh. "Apa kau mengenal pria berambut merah dengan tato di dahinya?"

Itu ciri-ciri Gaara. Bagaimana bisa—

"Tidak. Aku tidak mengenalnya."

Fix.

"Bagus," 'Sakura' memperlihatkan shotgun kecil yang daritadi sudah ia bawa. Ia menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri tepat di hadapan wajah Sakura. "Kalau begitu, apa kau mengenal benda ini?"

Alis Sakura berkedut sedikit. Apa orang ini ingin bermain dengannya?

"Itu pistol."

"Tepat," Kikikan menyebalkan mulai terdengar di telinga Sakura. "Nah sekarang, apa kau tahu hubungan pistol ini dengan Sabaku Gaara?"

Jika saja Sakura bisa menghajarnya, maka tentu ia akan segera melakukan hal itu bila keadaannya tidak seperti sekarang. Wajah gadis bersurai merah muda sudah mulai murka, namun si gadis satunya malah tampak semakin senang ketika melihat berbagai ekspresi yang dilancarkan oleh Sakura. Dua pasang emerald yang begitu menawan, namun melemparkan arti yang sangat berbeda.

"Tidak. Aku tidak tahu apa-apa bila menyangkut hal itu."

"Benarkah?" Kikikan 'Sakura' kembali terdengar, tangannya yang bebas mengelus pipi Sakura. "Kau sama sekali tidak tahu apa-apa, ya?"

Sentuhan wanita itu mampu membuat Sakura kembali terpaku. Entah kenapa, hati dan batinnya kembali diselimuti oleh rasa takut. Keringat dingin mulai bercucuran, disertai dengan telanan ludah yang begitu terasa. Sakura menutup kedua matanya. Ia hendak ingin menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya, namun jawaban selanjutnya mampu membuat Sakura kembali terdiam.

"Well, kalau memang seperti itu, aku tidak akan menyalahkanmu—" 'Sakura' mendengus pelan. Ia mendekatkan wajah—menatap sepasang emerald yang mulai membesar. "—karena yang harus disalahkan adalah Tsunade sialan itu, bukan?"

Ketika mendengar perkataan itu, Sakura tahu bahwa semua keadaan yang ada akan berubah.

.

~ gangster squad ~

.

.

County-USC Medical Center. Los Angeles, United States.

Ino meletakkan keranjang buah yang barusan ia beli di depan rumah sakit beberapa waktu lalu. Rambut pirangnya bergoyang seiring dengan pergerakannya ketika ia membalikkan badan. Iris aquamarine yang tampak pucat itu menatap tubuh yang terbaring di ranjang yang ada disana.

Ino menghela nafas.

Pertemuannya tadi pagi dengan Gaara selalu mengganggu pikirannya. Gadis itu terus bertanya-tanya apa yang terjadi sehingga lelaki itu muncul dihadapannya secara tiba-tiba. Apa ini ada kaitannya dengan peristiwa sore itu? Ada urusan apa hingga Gaara menunjukkan eksistensinya kepada Ino?

Ino sudah sering pergi ke kota untuk membeli bunga, namun ini baru pertama kalinya dirinya melihat Gaara berjalan-jalan disana. Ia masih menyangkal bahwa pertemuannya pagi itu bukanlah kebetulan. Gadis itu tahu bahwa ada hal terselubung yang tak tahu apa itu.

Semilir angin yang masuk dari jendela yang terbuka tak mampu memecahkan lamunan Ino. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sudah ada keberadaan baru yang muncul disana selain dirinya. Sampai ada sentuhan halus yang hinggap di tubuhnya, barulah Ino tersentak dan menoleh ke belakang, dimana sudah ada Senju Tsunade yang telah menatapnya dengan pandangan tak biasa.

"Tsunade-sama—"

"Ada apa?" Setelah meletakkan tas kerja di meja, Tsunade menatap Ino yang telah menundukkan kepala. "Kau terlihat lelah, Ino. Apa—"

"Tidak apa, Tsunade-sama. Aku hanya… banyak pikiran."

"Kalau begitu, ceritakan padaku."

Seketika, Ino terlihat resah. Ia hanya mengelus telapak tangannya dan menatap sepasang kakinya. Ia tidak berani dan belum siap untuk menceritakan hal ini pada Tsunade. Gadis itu melirik Sakura yang masih terbaring, sebelum dirinya menarik nafas perlahan dan menatap Tsunade dengan pandangan takut.

Tsunade tidak bisa melakukan apa-apa ketika melihat salah satu cucunya telah gelisah. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang Ino sembunyikan darinya. Dan dirinya pun tahu bahwa hal tersebut berhubungan dengan Sakura. Namun Tsunade hanya bisa diam dan melipat kedua tangan, ia akan setia menunggu sampai Ino berani berbicara.

"T-Tsunade-sama, sebenarnya—"

"Kalau kau belum mau membicarakannya denganku, tidak apa, Ino." Tsunade melewati Ino yang tersentak dan berjalan menuju ranjang milik Sakura. Wanita itu dengan lembut menyentuh surai merah muda yang terlihat berantakan. Wajahnya yang dihiasi oleh tali oksigen itu tampak pucat. Matanya telah tertutup rapat. Tidak bergerak, namun jantungnya masih berdetak.

Tsunade menghela nafas.

Sedangkan Ino hanya bisa memeluk dirinya sendiri dan menutup kedua mata. Entah kenapa, hatinya terasa berat untuk mengatakan hal ini. Ino tahu bahwa rasa sayang Tsunade pada Sakura melebihi rasa sayangnya pada Ino. Karena itulah, gadis itu tidak memiliki niat untuk membuat Tsunade semakin sedih ketika mendengar berita bahwa Gaara telah berkeliaran di kota.

Kedua tangannya bergetar.

Apa yang harus ia lakukan?

.

.

~ gangster squad ~

.

.

Cairan vodka kembali dituangkan. Minuman beralkohol tingkat tinggi itu kembali diteguk ketika seorang pria berjas hitam telah masuk ke ruangan pribadinya, mengatakan bahwa ada seseorang yang mau bertemu dengan sang pemimpin. Uchiha Sasuke hanya mengulas senyum tipis dan mengizinkan orang itu untuk masuk. Dan kehadiran pria yang dikenal sebagai penjaga gerbang itu digantikan oleh seorang pemuda dewasa berambut merah dengan tato unik di dahinya.

Sabaku Gaara telah berhadapan dengan Uchiha Sasuke. Iris hijaunya tampak tidak mengatakan apa-apa dan bibirnya hanya membentuk garis datar, berbanding terbalik dengan sang Uchiha yang telah memasang ekspresi senang dengan seringai menyebalkan. Pemuda berambut raven itu tahu bahwa cepat atau lambat Gaara akan datang ke kediamannya, dan ia sama sekali tidak terkejut ketika menyadari bahwa si mantan mafia telah mengetahui keberadaannya yang disembunyikan.

"Kapan terakhir kau mengunjungiku, Gaara?" Sasuke mengambil inisiatif untuk menyapa. "Kurasa dua tahun yang lalu, bukan?"

Gaara tidak menjawab. Ia memang tidak minat menjawab pertanyaan konyol tersebut. Ia bahkan tidak ingat apakah dirinya pernah mengunjungi mansion Sasuke atau tidak. Tapi ia tidak peduli. Ia datang jauh-jauh bukan untuk menanyakan hal itu. Gaara datang untuk membereskan sesuatu dengan Uchiha Sasuke.

"Jangan menatapku seperti itu, Uchiha. Kau membuatku muak." Gaara terkadang heran, mengapa orang ini begitu mirip dengan Shimura Sai yang menjadi teman partner-nya? "Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"Haruno Sakura?" Sasuke mendengus. Ia menawarkan botol vodka pada Gaara, namun lelaki itu menolak dengan tatapan tajam. "Kau ingin membahas wanita itu?"

Gaara terdiam. Dan Sasuke menganggap hal itu sebagai jawaban.

"Kau ingin kepastian, bukan?" Sasuke menopang wajahnya dengan telapak tangan. Senyum kemenangan telah terpatri di wajahnya. "Wanita itu sudah kembali."

"Dia kembali atau bukan, itu sama sekali bukan urusanmu."

"Tentu sekarang itu sudah menjadi urusanku." Sasuke membalasnya dengan cepat. Ia menggoyangkan cangkir vodka yang ia pegang. "Haruno mengincarku, Gaara. Bukan mengincarmu."

"Lalu? Apa hubungannya dengan itu?" Gaara tidak mau kalah. Sungguh, ia tidak peduli dengan siapa Sakura berurusan, yang ia inginkan hanyalah sebuah jawaban dari pertanyaan yang ada dibenaknya. "Aku tahu kau mengetahui sesuatu, Uchiha—" Mata Gaara berkilat tajam. "—jangan membodohiku."

Di sebuah ruangan berkelas dengan kaca bening yang mengelilinginya, tampak sepasang pria sudah saling berhadapan dengan ekspresi wajah yang sangat berbeda. Gaara dengan tampang datarnya dan Sasuke dengan tatapan cerdiknya. Mereka memang sama-sama tipikal pria yang tidak banyak bicara, namun bila saling dipertemukan, maka ada sesuatu hal yang tidak akan terpikirkan.

Semua orang yang mengenal mereka pasti memikirkan fakta tersebut.

Gaara hanya terdiam, kemudian ia berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat di depan meja kaca ruang tamu Sasuke. Pemuda itu menatap sebotol vodka yang ditaruh disana. Gaara melirik Sasuke sebentar, setelah itu ia segera mengangkat kakinya dan—

BRAKH! PRANK!

—menendangnya.

Gaara memang orang yang tenang.

"Heh, lancang sekali…"

Ia memikirkan segala sesuatu dengan matang.

"Apa kau tahu apa yang baru saja kau perbuat, Gaara?"

Namun ada beberapa hal di dunia ini yang bisa membuat seorang Sabaku Gaara marah.

"Kau mengotori rumahku."

Dan salah satunya adalah pria bernama Uchiha Sasuke.

Sekarang yang terdapat di lantai marmer itu adalah cairan vodka yang tumpah dan beling-beling kaca yang pecah dari meja dan botol kaca yang telah dihancurkan oleh Gaara. Mata pemuda itu memang masih menyiratkan pandangan tenang dan tak tertebak, namun Sasuke tahu bahwa dirinya sudah memancing emosi dari pemuda berambut merah darah itu.

Dan juga, Sasuke benar-benar tidak terkejut ketika sudah ada pistol kecil yang menyembul di saku mantel Gaara.

Sebenarnya, Gaara bisa membunuh Sasuke sekarang jika ia mau. Ia tidak peduli dengan ratusan anak buah yang orang itu miliki. Gaara juga tidak peduli seberapa besar pengaruh Uchiha itu pada negara hingga kematiannya bisa mengakibatkan sedikit guncangan. Dan dirinya benar-benar tidak peduli bila ia yang menjadi tersangka. Benar saja, Gaara tidak peduli dengan itu semua—yang ia inginkan hanyalah sebuah kematian yang tersebar luas.

Sasuke pun beranjak berdiri. Ia memasukkan kedua tangannya di saku dan menatap Gaara dengan pandangan intens. Sepasang jade yang berkilat marah itu mampu mengingatkannya pada sepasang emerald yang ia lihat di dokumen rahasianya. Haruno Sakura dan Sabaku Gaara—hampir memiliki sepasang mata yang serupa.

"Aku akan memberikan satu penawaran lagi padamu, Gaara." Uchiha tersenyum dengan mata yang sedikit menyipit, membuat si lawan bicara mengernyitkan alis. "—bergabunglah denganku. Dan aku akan memberitahumu semua apa yang kutahu."

Tawaran untuk yang kedua kalinya. Gaara tahu bahwa ini merupakan permintaan yang menggiurkan dan sama-sama menguntungkan untuk dirinya dan juga Sasuke. Tentu saja, pemuda berambut raven itu tahu apa tujuan Gaara datang kemari. Mereka sama-sama memiliki tujuan yang sama. Membunuh Haruno Sakura merupakan prioritas utama mereka.

Namun, Gaara tak yakin bahwa bila semuanya akan berjalan dengan lancar. Si Sabaku merasa ia bisa mencapai tujuan itu tanpa dibantu oleh siapapun. Dan hal itu berlaku juga untuk orang setinggi Uchiha Sasuke. Gaara tidak peduli mengapa Sasuke begitu bernafsu untuk membunuh gadis itu. Yang jelas Sasuke pasti akan membutuhkan jasanya bila orang itu akan bertindak.

"Aku menolak."

Sasuke mendengus. "Ini sudah kedua kalinya kau menolakku."

Gaara terdiam. Ia menghela nafas sejenak dan berjalan menuju kaca besar yang terbuka dibelakang Sasuke. Ia melewati orang itu dan menaiki kaca tersebut sembari menatap halaman depan mansion Uchiha. Banyak penjaga tidak berguna yang sedang mengobrol di depan sana. Dan hal itu mampu membuat Gaara memutar bola mata sejenak.

Ia benci mereka semua—orang yang tidak memanfaatkan pekerjaannya dengan baik.

"Kematian Saara tentu sangat mengubah sifatmu, Gaara."

Ketika Sabaku Gaara ingin melompat dan segera pergi dari sana, Uchiha Sasuke segera mengatakan hal yang sensitif di telinganya. Pemuda itu langsung terdiam dengan posisi yang sama. Gaara memang masih membelakanginya, namun Sasuke yakin bahwa dirinya telah mengambil topik yang tidak ingin Gaara bahas.

Sasuke menyeringai dalam hati.

"Gadis itu sepupu kesayanganmu, bukan?" Sasuke mulai bermonolog. "Kau sangat menyayanginya. Kau sudah menganggap bocah itu seperti adikmu sendiri. Dan, oh—" Sasuke terkekeh. "—aku bahkan masih ingat bagaimana cara dia mati, Gaara."

Gaara masih terdiam.

"Tragis sekali, ya?"

Itulah ucapan penutup dari Uchiha Sasuke. Ia tak lagi menyinggung gadis bernama Saara tadi. Sekarang matanya hanya menatap pintu ruangannya yang ada di depannya sekarang. Sasuke tahu bahwa Gaara masih tak bergeming dibelakangnya, namun pria itu tahu—bahwa keturunan Sabaku itu telah terkena sebuah gejolak yang cukup hebat.

Sasuke merasa bahwa keinginan Gaara untuk membunuhnya sekarang semakin membesar.

Tapi tak apalah, Sasuke sekarang tidak peduli apa yang akan Gaara rencanakan ke depannya. Sekarang yang harus ia rencanakan adalah mengetahui seluk-beluk antara Haruno Sakura dan Sabaku Gaara. Kira-kira, apa yang wanita itu pikirkan ketika bertemu dengan pembunuh berdarah dingin seperti Gaara? Apa gadis itu tahu apa yang ia lakukan dua tahun lalu?

Ah, entahlah.

"Lakukan sesukamu, Gaara—" Sasuke melangkahkan kaki dan membuka pintu dan berjalan keluar. "—tapi kalau kau memang benar-benar ingin membunuhnya, bawa kepala gadis itu ke hadapanku."

Blam.

Pintu pun tertutup.

.

.

~ gangster squad ~

.

.

"A-Apa katamu?"

Sakura menatap wanita berpakaian tentara itu dengan pandangan tak percaya. Tangannya yang bebas segera meraih kerah 'Sakura' dan menatapnya nyalang. "Apa maksudmu berkata seperti itu!?"

"Itu memang kenyataan." Berbeda dengan Sakura yang terlihat emosional, 'Sakura' masih saja berwajah kalem dan tenang. "Kau tidak bisa mengubahnya, itulah fakta."

"Tidak. Ms. Tsunade tidak mungkin melakukan hal itu—" 'Sakura' mendengus pelan, ia menatap Sakura yang masih memelototinya. "—katakan kalau itu bohong, sialan!"

"Tidak ada untung bagiku kalau aku berbohong, Sakura." 'Sakura' melepaskan tangan Sakura dari kerah pakaiannya dengan perlahan. "Kau tidak ingat apa-apa. Kau percaya atau tidak, itu urusanmu. Aku hanya menyampaikan hal yang seharusnya kau tahu."

Sakura menahan nafas ketika melihat wajah 'Sakura' yang masih tersenyum sendu kepadanya. Wanita cerminan dirinya itu tampaknya tidak berbohong. Iris emerald-nya tidak menyembunyikan apapun. 'Sakura' mengatakan hal yang sebenarnya, dan sekarang tergantung pada Sakura—ia mau percaya atau tidak?

"Karena itulah, sampai sekarang kau masih gagal mendapatkan Sabaku Gaara."

Sakura tersentak. Apa lagi ini?

"Pria itu masih mengingatnya dengan jelas. Aku jamin itu." 'Sakura' menepuk bahu Sakura pelan. "Sekarang itu bergantung pada usahamu untuk mendapatkan kepercayaannya, Sakura."

"A-Apa—Apa hubungan semua ini dengan Gaara!?" Sakura menatap 'Sakura' tajam. Ia masih tak percaya dengan fakta yang dikatakan dari mulut perempuan itu. Lagipula, dunia yang ia tempati sekarang hanyalah ilusi. Jadi, ada kemungkinan bahwa 'Sakura' yang ini hanyalah imajinasi belaka. "Apa hubunganku dengan Gaara? Apa ini ada kaitannya dengan kebenciannya padaku!? Hey, jawab—"

"Ya."

Mata Sakura membulat.

"Dia sangat membencimu—"

Oh, God…

"—dan itu disebabkan oleh Senju Tsunade, nenek kita."

.

.

~ gangster squad ~

.

.

Los Angeles Police Department. Los Angeles, United States.

Cahaya mentari yang terlindung dari gedung pencakar langit itu semakin menyusup ketika Senju Tsunade berdiri di depan kaca beningnya guna untuk melihat kota dari jaraknya berdiri. Wanita itu hanya memandang datar cakrawala yang sebentar lagi akan menghilang. Waktu sudah menunjukkan pukul enam petang, dan sudah seharusnya malam akan mulai menjelang.

"Ino."

Merasa dipanggil, Ino mengalihkan pandangan dari vas bunga yang ada di sudut ruangan kantor Tsunade. Sekitar sejam yang lalu, Tsunade memintanya untuk pergi bersama ke kantor pusat ini. Wanita berusia muda itu mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus dibicarakan dengannya. Maka dari itulah, setelah menyelesaikan kunjungan rutinnya di rumah sakit, Ino langsung ikut bersama Tsunade dengan mobil pribadinya tadi.

"Ya?"

Tsunade berbalik, membelakangi kaca dan menatap gadis muda yang sekarang sudah berdiri tegap dihadapannya. Ia menatap seluk-beluk tubuh Ino dari bawah hingga atas. Kemudian setelah selesai, Tsunade kembali menatap sepasang aquamarine tersebut. Mereka saling bertatapan, sampai dengusan pelan Tsunade kembali terdengar.

"Boleh aku menanyakan sesuatu?"

Ino mengerjap. Entah kenapa, hawa di ruangan ini mulai terasa berat. "Tentu saja boleh, Tsunade-sama."

Tsunade tersenyum. Wanita itu kembali duduk dan melipat tangan. Matanya dengan setia menatap Ino yang memasang wajah bertanya-tanya. Dan dengan senyuman tipis tak tertebak, ia pun mulai membuka suaranya.

"Kenapa kau mengenalkan identitas Sabaku Gaara pada Sakura?"

"Eh?"

Ino menatap wajah Tsunade dengan pandangan tak mengerti. Sedangkan wanita yang bersangkutan pun sama sekali tidak bergeming. Tsunade dengan setia menunggu jawaban dari bibir Ino.

"A-Apa maksud Anda?"

"Ketika Sakura baru datang kesini, ia meminta tolong padamu, 'kan?"

"B-Benar."

"Lalu, ia mulai menceritakan rencananya itu—" Iris cokelat Tsunade sedikit berkilat. "—mengenai permasalahan anggota dan penangkapan Uchiha Sasuke—benar?"

"Y-Ya." Kenapa? Apa Ino salah?

"Dan sekarang aku bertanya padamu—" Ino menahan nafas ketika merasakan nada bicara Tsunade yang berubah. "—kenapa dari sekian banyak orang… kau harus mengenalkan Gaara?"

Ino sempat terdiam. Ia memikirkan jawaban sopan namun tepat untuk dilontarkan pada Tsunade. Dan setelah merasa dirinya sudah siap, ia mulai menceritakannya. Dari kunjungan Sakura ke rumahnya, pembahasan mengenai Uchiha Sasuke, serta permintaan Sakura untuk mencari anggota. Ino memilih Gaara karena skill serta kekuatan lelaki itu sesuai dengan permintaan Sakura. Dari situlah semuanya berawal—Sakura mencari masing-masing orang yang dipilihkan oleh Ino, hingga mereka bertemu dengan mantan pembunuh itu.

"Begitu saja?"

"Ya, Tsunade-sama."

Tsunade menghela nafas panjang dan mengambil sebuah dokumen yang baru-baru ini semakin banyak. Wanita itu kembali mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu dan kembali menatap Ino dengan senyuman.

"Kau boleh pergi. Terima kasih atas waktumu, Ino."

Ino mengangguk dan membungkukkan tubuh. Setelah berpamitan dan menutup pintu, Tsunade segera menaruh dokumen rahasia itu di meja dan memutar kursinya ke kaca bening yang menjadi latar belakangnya ketika dirinya sedang bekerja. Langit sudah menghitam dan dihiasi oleh kerlap-kerlip lampu gedung-gedung pencakar langit yang lain. Semuanya tampak baik-baik saja, namun Tsunade rasa sekarang semuanya tak lagi aman.

Kemunculan Uchiha Sasuke dan pembentukan operasinya yang besar cukup membuat kepolisian negara sedikit kewalahan. Namun, Tsunade tetap menjalankan tugasnya meski merepotkan. Ia memiliki tanggung jawab besar sekarang. Dan wanita itu sudah bersumpah akan melakukan yang terbaik untuk dirinya dan penduduk kota.

Sekarang, belum selesai masalah mengenai Sasuke, masalah lain muncul. Sabaku Gaara yang ia kira menghilang telah kembali, dan sekarang Tsunade tahu apa tujuan Gaara datang kesini. Lelaki itu ingin balas dendam, dan Tsunade sama sekali tidak tahu balas dendam kepada siapa.

Sakura atau dirinya?

Tsunade berpendapat bahwa Gaara telah mengetahui bagaimana kondisi Sakura sekarang. Mengingat mereka telah bertemu beberapa minggu yang lalu—mungkin Gaara sudah bercerita banyak pada gadis itu.

Wanita itu kembali bersandar pada sandaran kursinya. Ia menutup matanya dengan lengan.

Wajahnya yang anggun sekarang tampak stress. Ia lelah. Tsunade butuh istirahat. Namun, wanita itu tahu bahwa pekerjaannya saat ini tak bisa ditinggalkan. Ia harus menyelesaikannya dengan cepat. Tsunade ingin semuanya segera selesai. Siapapun pihak yang menang, Tsunade harus siap dengan segala kemungkinan.

Tapi mengingat Gaara, entah kenapa perasannya jadi tidak enak. Tsunade tak mau kebenaran akan terbongkar sedemikian cepat. Ia tidak mau cucu kesayangannya itu mengetahui semuanya. Ada kemungkinan bahwa Sakura akan marah kepadanya, namun Tsunade tahu bahwa itulah resikonya. Wanita itu yang memulai, dan sekarang dialah yang harus mengakhirinya.

Hanya saja—

Tes.

"..."

—apa perbuatannya dahulu merupakan keputusan yang tepat?

.

.

~ gangster squad ~

.

.

Sai berjalan tanpa arah. Langit sudah mulai malam, namun dirinya sama sekali tidak ada niat untuk kembali ke rumah. Orang-orang yang berlalu-lalang sembari memakai pakaian hangat pun sama sekali tidak digubrisnya. Sekarang, penampilannya sederhana—kaos hitam serta tas ransel yang ada di pundaknya itu membuatnya terkesan simpel dan biasa saja.

Ia terus melangkah, berbelok ke barat, menghampiri jajaran cemilan, dan membeli beberapa snack untuk makan malamnya. Sai terus berjalan dan melangkah, melewati anak-anak berambut pirang serta para wanita yang mengerling nakal kepadanya. Pria itu terus berjalan dan berharap ada sesuatu yang menarik akan terjadi padanya. Dan ia tahu bahwa sekarang adalah waktu yang tepat.

Ketika ia sampai di depan sebuah restoran kecil dekat stasiun kota, ia mendapati sesosok pria berpakaian mencurigakan. Sai mengerjap pelan saat orang itu berdiri dari duduknya. Sosok yang dikatakan pria dewasa itu berpakaian tertutup—memakai mantel dengan topi bundar, dilengkapi dengan kacamata hitam di matanya.

Mereka terdiam. Saling berhadapan, dan melempar pandangan yang sulit ditebak.

"Ada yang bisa saya bantu, sir?" Namun meski begitu, Sai tetaplah orang baik, ia masih menyapa dengan senyum palsu andalannya. "Anda menghalangi jalan saya."

Orang itu masih terdiam. Namun tak lama, ia mulai melepaskan kacamatanya. Sai langsung bertemu dengan sepasang onyx yang menyalang tajam kepadanya. Nara Shikamaru telah muncul di hadapan lelaki itu. Sambil memasang seringai merepotkan, Shikamaru pun mulai berkata—

"Aku menemukanmu, Shimura Sai."

—dan ketika Sai mendengar bahwa nama lengkapnya dipanggil, dirinya tahu bahwa Shikamaru merupakan pria yang harus diwaspadai.

.

.

~ gangster squad ~

.

.

Drap Drap Drap.

Suara sepatu skets yang menghantam kayu pun terdengar menggema di tempat itu. Uzumaki Naruto terus berlari dan melewati tangga memutar. Ia tahu bahwa orang itu ada disana—di tempat itu. Dengan geraman serta langkah yang semakin cepat, Naruto segera menendang pintu usang yang sekarang telah ada di hadapannya.

BRAKH!

Angin malam langsung menghantam wajahnya ketika Naruto sudah ada di puncak. Dengan nafas yang terengah, ia menatap garang lelaki yang duduk di tanah yang mereka pijak. Pria keturunan Uzumaki itu mengepalkan tangannya, melihat punggung lelaki itu saja sudah membuat dirinya muak.

"Gaara!"

Naruto memanggil namanya, namun tidak ada pergerakan yang berarti dari Gaara. Lelaki bertato unik itu terus saja memandangi langit yang kini telah dihiasi oleh berbagai rasi bintang yang menarik. Karena merasa dicueki, Naruto pun kembali menggeram dalam hati.

Dengan perasaan tak sabar, Naruto berjalan kearah Gaara dan menarik kerahnya paksa. Mereka saling bertatapan. Biru bertemu hijau. Panas bertemu dingin. Kilatan marah Naruto sama sekali tidak membuat Gaara tersedak ngeri.

Justru sebaliknya.

Naruto-lah yang seharusnya terkejut sekarang.

Gaara memang masih baik-baik saja. Lelaki itu masih menggunakan pakaian dan wajahnya pun begitu-begitu saja. Namun iris hijau itulah yang mampu membuat Naruto menahan nafas.

Iris jade yang dulunya dihiasi oleh pandangan datar dan ngeri itu sekarang telah berubah dengan tatapan kosong. Tidak terbaca. Dan Naruto dapat melihatnya dengan jelas. Ada yang berbeda dari diri Gaara; namun Naruto tak tahu apa penyebabnya.

"Lepaskan tanganmu, brengsek."

Satu perintah, Naruto pun melakukannya. Ia terus berdiri dan menatap Gaara yang mengalihkan pandangan. Naruto akhirnya memutuskan untuk tidak peduli. Ia berdiri dan melipat tangan, membiarkan angin malam kembali menerbangkan surai pirangnya.

Gaara pun sama. Ia membiarkan Naruto berdiri angkuh di sampingnya. Pria itu tak ada niat untuk berkelahi untuk sekarang. Ia lebih memutuskan untuk duduk disini dan menatap bintang serta jalanan kota yang sekarang dihiasi oleh kendaraan yang dipenuhi oleh cahaya.

"..."

Gaara dan Naruto.

Dua orang yang sudah mengenal dari dulu. Memiliki masalah dengan orang yang sama, dan mempunyai rasa dendam pada orang yang sama pula. Mereka sama-sama memilih jalan yang salah. Namun mempunyai tujuan yang berbeda.

"Hey, Gaara."

Panggilan untuknya, namun Gaara sama sekali tak peduli.

Naruto pun menghela nafas perlahan. Ia tahu ini sangat menyebalkan. Namun janji tetaplah janji. Naruto harus meminta Gaara ikut bersamanya dan bergabung dengan kelompok Haruno Sakura. Meski muak, tapi inilah jalan yang harus ia lakukan agar semuanya cepat selesai.

Ini demi mereka semua juga, 'kan?

"Aku tahu ini konyol, tapi—" Naruto menaikkan kepala, menatap para bintang yang membentuk sebuah tanda. "—bergabunglah denganku."

Tidak ada namanya kebetulan. Dan pasti setiap orang memiliki tujuan.

Karena itulah Naruto menghampirinya.

Dan Gaara tahu apa semua maksud dari perkataan Naruto yang sebenarnya.

Takdir itu ada—

"Kematian Saara tentu sangat mengubah sifatmu, Gaara."

—dan Gaara mempercayainya.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Notes

Aku minta maaf kalau apdetannya semakin lambat ya teman-teman. Tapi kehidupan di sekolah benar-benar mengerikan sejak menteri pendidikan yang baru mengadakan kurikulum 2013. AHAHHHAHAAAA. :')

Ah ya, kalo teman-teman ada yang berminat nonton Gangster Squad yang asli, nonton aja di youtube, wkwk. Yang suka action pasti sukaaa (kaya aku aahaaha *nak*) Itu movie barat kok. Ceritanya mantav! (y)

Oiya, SELAMAT YA PARA SSAVER! AKHIRNYA PAIRING TERCINTAH KITA SASUSAKU AKHIRNYA CANON! WOHOOO! OIYA OTEPE SAYAH NARUHINA JUGA CANON LOOOOOOHHH! WAHAHAAHAHAHAA! *tebar confetti* /telat woi/

.

.

SPECIAL THANKS TO

Yuiyan, hh, momomya, kazuran, SyifaCute, yamaneko achil, Guest, Zuki, nyakoi-chan, cchery tomato, Fitri-Chan, ryugasaki, henilusiana39, Haruka smile, mantika mochi, tuteja hikari, Febri Feven, SpindleTree, o.O rambu no baka, Uchiwa, nadyauchiha23, Ai

.

.

Quest's

Kenapa kamu masukin pair SasuSaku kalo ceritanya bukan tentang mereka? Plis lah, memang kalo aku bikin nama mereka di summary memang kenapa? Ini kisah mereka kok, cuma dalam segi yang berbeda. Sekali lagi, ini bukan romance. Ini criminal. Sakura gapapa, 'kan? Iyaaa gapapa. Sakura sadar kapan? Chapter depan. Perekrutan Gaara memang susah, ya? Iya. Tapi kayaknya ini udah tanda-tanda deh, ahahaa. Request Sakura pake AK-47 dong. Oke. Kalo ada romance, itu berarti bonus. Betul banget. Hubungan Gaara sama Sai apa? Sebatas partner doang kok. Ternyata Sakura lemah. Iyaa itu pendapat reader sih wks. Apdetnya jangan lama lagi. Tanyakan pada menteri yang bergoyang (?) Tambahin action-nya. Okee. Gaara dan Sai kok bisa kenal? Itu ada lagi ceritanya, sabar ya. Penasaran SasuSaku mau kemana. Kemana-manaaa. /plak/ Kamu pasti bikin alur ceritanya beda dari Gangster Squad yang asli, 'kan? Iyaaa. SasuSaku pacarannya kapan? Uuuh ._.

.

.

Terima kasih sudah membaca!

Mind to Review? :)